Little Persit

Little Persit
Rumahku adalah istanaku



Nadia membawa langkahnya berat keluar dari rumah hijau. Hari ini dia dan Gibran sudah harus meninggalkan asrama karena dua hari lagi merupakan jadwal keberangkatan mereka ke tempat tugas yang baru. Sebelum berangkat Nadia dan Gibran ke rumah besar terlebih dulu untuk memastikan disana baik-baik saja sekaligus berpamitan dengan bibik dan semua orang yang sudah merawat rumah besar dengan baik.


"Ayo." Gibran merangkul bahu Nadia, menepuknya untuk menguatkan langkah sang istri. Bulir bening menetes dari sudut mata Nadia. Kilasan kali pertama ia datang di rumah sederhana yang dianggapnya sebagai penjara tanpa teralis itu bermain di ingatannya. Bagaimana dulu ia sangat membenci rumah hijau karena tak semegah rumahnya, bagaimana dulu ia selalu merencanakan melarikan diri dari rumah itu, dan akhirnya setiap sudut rumah yang dipenuhi oleh cinta bersama Gibran. Masih banyak lagi hal yang akhirnya membuatnya tak memiliki pilihan selain menyebut rumah hijau itu sebagai istananya. Home sweet home.


"Disana rumahnya hijau juga kan Om? Ada lapangannya juga kan? Trus nanti ada kebun belakang lagi kan Om?" Nadia mendongak hanya untuk melihat senyum manis tersungging di bibir Gibran


"Ada kolam asramanya juga." Lanjut Gibran sembari menjawir hidung kecil Nadia, "Om tidak tau Nad sesayang ini sama rumah hijau."


Nadia menghapus airmata di sudut matanya," Karena rumah hijau tidak seburuk yang Nad bayangkan." ujarnya menahan isakan. Hidung dan pipinya memerah karena kebanyakan menangis.


Cup.


Nadia mengerjap. Ciuman yang tiba-tiba seperti sentuhan lembut bulu si puppy.


"Disana kita akan punya rumah hijau lagi." ucap Gibran lembut. Dirangkulnya sang istri dengan erat, sembari memberikan kecupan-kecupan lembut di rambutnya "Semua akan baik-baik saja."


Nadia mengangguk. Ia tidak pernah ragu dengan ucapan Gibran. Tapi hati kecilnya tetap saja merasa berat untuk meninggalkan kota kelahirannya yang sudah berbagi suka dan duka dengannya.


"Nad masuk mobil. Om mau kunci pintu dulu."


"Ya." Nadia mengangguk. Baru saja langkahnya menginjak anak tangga pertama, sumber tangisannya beberapa hari ini muncul tepat di depannya dengan wajah kuyu dan minta di kasihani. Nadia mendengus sadis. Si player sudah datang.


"Ya Tante?" Sapa Nadia dengan suara tak dibuat beramah-ramah seperti biasa.


Gibran menoleh, dan cukup terkejut dengan kemunculan Elsa di depannya dengan penampilan yang baru, Well, gaya jilbab hijabers kekinian yang kata ustadz lilit sana lilit sini seperti tali pocong.


"Assalamualaikum Bang Gi."


"Waalaikumsalam." Nadia menjawab cepat suara lembut Elsa yang membuat telinganya panas. Setan memang ada dimana-mana sekarang. Elsa tersenyum lembut seperti biasa tapi sayang sekali Nadia tak lagi terpesona dengan senyum palsu itu.


"Ada keperluan apa, Dok?" Tanya Gibran ramah membuat Nadia mengernyit tak suka. Manusia munafik kayak Elsa ini bagusnya di jorokin ke kolam asrama biar sekalian berkumpul dengan komunitasnya disana.


"Mau say goodbye kalik Om." Sindir Nadia tak menutup-nutupi ketidaksukaannya pada Elsa. Halo, Nadia memang manusia jahat tapi setidaknya dia tidak munafik seperti seseorang itu.


"Nad tunggu Om di mobil." Pinta Gibran, mengusap lembut rambut belakang Nadia.


Nadia mengelak, ia tidak mau Omnya dekat-dekat sama orang munafik nanti ikutan keciprat munafiknya.


"Gak mau." Tolak Nadia tegas. Matanya menatap nyalang Elsa yang berdiri salah tingkah tak jauh dari mereka.


"Please." Ujar Gibran sungguh-sungguh. Nadia berdecak sebal.


"Buru!" Ucapnya lalu meninggalkan dua orang itu dengan langkah dihentak-hentak kesal. Saat melewati Elsa, ia dengan sengaja menyenggol bahu dokter muda itu yang seperti biasa bertindak seperti malaikat. Setiba di rumah nanti dirinya harus mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan energi negatif yang disebarkan Elsa.


BAMM!!!


Pintu mobil ditutup dengan kasar oleh Nadia. Baru kali ini Nadia benar-benar ingin mencekik seseorang dan itu adalah Elsa yang telah menghancurkan rencananya untuk bahagia bersama Gibran, membina keluarga sakinah mawaddah warahmah di kota kelahiran. Belum lagi impiannya untuk memakai Jas Kuning harus kandas karena kuliahnya sudah pasti akan dilanjutkan di Papua. Semoga saja dia tidak khilaf dan mengirimkan rudal untuk menghancurkan rumah Elsa. Haduuuh, membayangkan dirinya harus jauh-jauh dari Monas membuat kepalanya kembali pusing. Nadia menyandarkan kepalanya di kaca mobil, memasang telingannya baik-baik untuk mendengar apa yang di obrolkan Gibran dan Elsa.


"Abang pindah?" Elsa membuka obrolan dengan pertanyaan yang jika di dengar oleh Nadia sudah pasti calon ibu muda itu membalasnya dengan sarkas, NGGAK!


"Iya. Dokter belum dengar dari Komandan?" Gibran balik bertanya. Sudah pasti dokter di depannya ini sudah lama tahu tentang kabar ini.


"U-udah. T-tapi Elsa bisa kok minta papa buat ngurus pembatalan mutasi." Ucapnya yakin.


Gibran tersenyum sinis yang super tipis. Gampang sekali sebuah kekuasaan dipermainkan untuk urusan pribadi. Gibran benar-benar tak habis pikir bisa mengalami langsung situasi semacam ini.


"Surat tugas bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, Dok. Ada amanah yang harus ditunaikan disana. Kami pun sebagai prajurit bangga jika bisa memenuhi tugas itu dengan baik." Ujar Gibran mengulas senyum tipis diakhir kalimatnya.


"Tapi bukankah Papua terlalu jauh, Bang? Kalau abang mau, abang bisa bilang sama Elsa. Elsa akan sampaikan sama papa biar mengurus semuanya untuk abang."


Gibran menghela nafas pendek. Elsa lagi-lagi tidak menangkap maksudnya.


"Tidak usah, Dok, terima kasih. Bagi saya, setiap jengkal dari bumi pertiwi adalah rumah. Jadi tidak ada yang namanya jauh."


Elsa menunduk, memilin ujung blousenya menahan tangisnya untuk tidak keluar sekarang. Pengorbannya tak akan pernah dianggap oleh Gibran meskin itu nyawanya.


"Ada lagi, Dok?" Gibran melirik jam di pergelangannya, bukan maksud untuk mengusir tapi Nadia sudah pasti sedang mencakar-cakar kaca mobil sekarang menunggunya.


Elsa mendongak, satu tetes airmatanya jatuh "Abang mau meninggalkan Elsa?" Tanyanya lirih. Ia menyusut airmata yang berderai.


Hah! Gibran lelah menghadapi situasi seperti ini. Ia paling malas direpotkan dengan urusan hati yang tak pernah ada habisnya.


"Saya tidak meninggalkan siapapun, Dok karena satu-satunya orang yang saya miliki ikut bersama saya." Jawan Gibran lugas. Ia tak akan lagi menggunakan bahasa halus karena Dokter di depannya ini terbukti memiliki kelemahan dalam memahami maksudnya.


"Kenapa harus Nadia, Bang? Apa yang kurang dari Elsa? Elsa sudah melakukan apapun untuk abang tapi kenapa abang tidak bisa melihat Elsa, hiks." Elsa mengusap pipinya dengan kedua punggung tangannya. Airmatanya mengalir dengan deras. Perasaan sakit yang lagi-lagi karena cintanya yang tak terbalas.


Gibran menatap Elsa datar. Ini yang ia tidak suka dari seorang wanita, mengandalkan airmatanya. Jika Nadia yang melakukannya, ia hanya perlu memeluknya dan membujuknya dengan susu pisang dan sejenisnya tapi kalau Elsa, apa yang harus dilakukannya pada anak Komandannya ini.


"Tidak ada yang kurang dari Dokter. Hanya saja seperti halnya dokter yang hanya melihat saya, saya pun hanya melihat Nadia. Mohon mengerti. Jangan simpan perasaan apapun untuk saya. Kalau perlu, anggap saya tidak pernah hidup di dunia ini jika itu bisa meringankan perasaan Dokter."


"Tapi Els---"


Biiiiiiiiip Biiiiiiip Biiiiiip!!!


"Lama bangat sih! Nad udah lapar nih." Nadia bersungut menatap Elsa penuh permusuhan. Elsapun tak menutupi kekesalannya pada Nadia yang selalu saja menjadi pengacau diantara dirinya dan Gibran. Jika tidak ada anak kecil itu, ia sudah pasti akan berbahagia dengan Gibran.


"Maaf, Dok. Kami harus pergi." Gibran mengangguk samar. Lelaki itu bergegas meninggalkan halaman rumah mengabaikam Elsa yang memanggil namanya.


"Drama!" Semprot Nadia sebelum menaikan kaca jendela. Ia bisa melihat jelas Elsa menangis, menyorot padanya penuh kebencian. Tapi apa pedulinya, orang seperti Elsa butuh disadarkan bahwa tidak semua yang diinginkan bisa di dapatkan. Bahkan dirinya saja meskipun berat mengikhlaskan mimpinya menjadi seorang mahasiswa almamater kuning demi mengikuti suaminya ke tempat tugas, mengemban tugas negara.


***


Sesampainya di rumah besar Nadia langsung menemui dua asisten rumah yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk menyambut Tuan dan nona mereka.


"Bibiiiiik" Nadia menghambur memeluk Bibik yang tengah mengulek sambal.


"Masya Allah Non, jangan grasak grusuk. Bahaya." Bibik mengelus punggung Nona kecilnya khawatir.


Nadia menyengir lebar "Iya, Bik. Nad lupa."


"Lagi-lagi lupa." Celetuk Mbak yang sedang menyiapkan piring untuk makan malam.


Nadia manyun, "Si Mbaaak, Nad kan lupa."


Mbak terkekeh, "Non emang suka lupa lho. Udah jadi hobi." tambahnya membuat Nadia semakin manyun.


"Biiik, si mbak tuh." Lapor Nadia.


"Sudah, jangan berantem. Non istrahat diatas. Mbak dan bibik mau lanjutin kerjaan." Ujar bibi menengahi.


Setelah ia kehilangan orangtuanya, selain Gibran, Bibik dan Mbaklah yang menjadi keluarganya. Tempat ia bermanja dan juga menjadi sasaran amukannya setiap kali ia kesal. Dua orang yang tidak memiliki pertalian darah dengannya namun menjadi salah satu alasannya untuk menyebut kastilnya itu sebagai tempat pulang.


Nadia memelet yang dibalas peletan oleh Mbak."Tuh biiik!!!" Rengek Nadia yang hanya ditanggapi helaan nafas lelah oleh bibik.


"Tuan!"


Nadia menoleh kebelakang. Di depan pintu dapur Gibran berdiri mengangkat tas kecil Guccinya.


"Lho?" Nadia mengecek badannya dan tentu saja tas tersebut miliknya yang tertinggal untuk kesekian kalinya.


"Mandi dulu." Ucap Gibran mengaitkan tas Nadia di kepala anak tangga. Ia lalu melongos naik ke lantai dua dimana kamar Nadia berada. Nadia melepaskan pelukannya pada Bibik lalu setelah menyempatkan mencubit lengan Mbak, ia berlari menyusul Gibran.


"Jangan lari-lari!" Teriak bibik dari arah dapur.


"Gak, Bik."


Nadia melambat saat melihat Gibran berdiri di ujung tangga dengan tatapan penuh peringatan.


"Peace!" Nadia mengangkat kedua jarinya sembari menyengir. Langkahnya hati-hati menaiki anak tangga.


"Hap!"


Nadia memeluk pinggang Gibran saat mencapai anak tangga dimana Gibran menunggunya. Lelaki itu menatapnya dengan kening bertaut, pertanda Nadia harus berhenti bermain-main.


"Maaf." Ujar Nadia lirih. Ia mendongak menatap Gibran dengan pandangan menyesal.


"Om gak tau harus apa kalau kalian kenapa-kenapa." Gibran berujar serius. Kedua tangannya memegang pinggang Nadia agar gadis keras kepala itu tidak terjatuh.


"Maafin Nad." Ucap Nadia bersungguh-sungguh. Bukan maksudnya membuat Gibran khawatir tapi dia memang sering lupa dengan kondisinya yang sedang berbadan dua. Gibran mengeratkan pelukannya di pinggang Nadia, menyarangkan wajahnya di kepala gadis itu, menghirup wangi lembutnya dalam-dalam.


Setelah banyaknya hal buruk yang terjadi, Gibran menjadi lebih mawas diri dan memberikan perhatian lebih banyak pada Nadia sebab mereka hanya memiliki satu sama lain di dunia ini. Tanpa Nadia ketahui, bagi Gibran gadis itulah yang akan selalu menjadi rumahnya. Tempatnya untuk pulang setiap kali merasa lelah setelah seharian bekerja. Tempatnya untuk melepas penat dari banyaknya hal yang terjadi. Rumahnya, tempat ia kembali.


Nadia duduk diatas ranjang menghadap jendela yang langsung menyajikan pemandangan taman belakang rumah yang dihiasi lampu-lampu. Sebentar lagi ia akan meninggalkan rumahnya, meninggalkan kenangan terakhirnya bersama orangtuanya di rumah ini tanpa tahu berapa lama berada di tempat baru. Setelah kematian orangtuanya ia hanya memiliki rumah ini yang meninggalkan kenangan terakhir bersama dua orang yang berarti dalam hidupnya.


"Kok diem?"


Nadia tersentak saat lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang. Aroma sabun menguar dari badan Gibran yang kini duduk dibelakangnya, meraihnya untuk bersandar sepenuhnya di badan kekar itu.


"Nad kangen Ayah dan Bunda. Kangen bangat, Hiks. Dulu Ayah sering ngajak Nad main sepeda di sana. Trus Bunda datang bawain cookies buat Nad dan Ayah. Kata Ayah cookies buatan Bunda adalah Cookies terenak di dunia. Ayah bilang Nad harus belajar sama bunda supaya nanti kalau Nad udah nikah Nad bisa bikinin buat suami Nad. Ayah bilang, yang jadi suami Nad nanti harus kayak Ayah. Ayah bakal nyeleksi sendiri. Ayah bilang--hiks. Om, hiks, Nad kangen ayah. Kenapa Ayah perginya cepet? Ayah dan Bunda kenapa tega ninggalin Nad? Nad kangen, hiks."


"Nad tidak sendiri. Om akan selalu menemani Nadia. Memangis saja kalau itu buat Nad lega." Gibran mengetatkan pelukannya, mengecup sayang rambut Nadia berkali-laki.


"Om, Nad masih kecil. Nad butuh Bunda dan Ayah tapi kenapa Nad ditinggalin? Nad mau di peluk Bunda. Nad pengen makan masakan Bunda. Nad kangen Bunda, Om. Nad kangen mereka. Nad kangen sekali Om, hiks. Kenapa Nad ditinggalin, hiks." Nadia menyembunyikan wajahnya di dada Gibran. Menangis sepuasnya, melesakkan sesak yang menghimpit dadanya.


"Tidak ada yang meninggalkan Nad. Ayah dan Bunda Nad sudah sampai waktunya, makanya Allah panggil. Kita doakan mereka semoga Allah lapangkan kubur mereka dan semoga Nad diberi keikhlasan. Om akan selalu menemani Nad."


"Om janji sama Nad. Jangan pernah tinggalin Nad. Kalau Om juga pergi, Nad pasti mati Om. Nad gak akan bisa bertahan sendiri. Jangan tinggalin Nad." Pelukan Nadia di badan Gibran mengerat seolah tak mau ditinggalkan meskipun hanya sesaat. Jika rumahnya yang satu ini juga pergi, Nadia tidak akan sanggup membayangkan apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Mati pasti akan lebih baik untuknya.


***


halooooooo readeeersss


selamat membaca, author hari ini masuk kantor jd gak bisa menulis banyak 🤗