Little Persit

Little Persit
Milik Nadia



Sudah dua hari Nadia mendiamkan Gibran. Bukan tanpa alasan ia menghindari Om nya itu, semua karena kejadian subuh kemarin yang membuat Nadia malu setengah mati. Bukan hanya menyentuh dengan tangannya, bahkan laki-laki itu mengemutnya seperti bayi. Astaga, memikirkannya saja Nadia sudah merinding. Pagi ini ia berangkat ke sekolah menggunakan jasa taksi online. Gibran yang kebetulan sedang libur kantor masih di kamar mandi saat Nadia pamit dengan buru-buru, alasannya hari ini adalah hari piketnya. Kemarin-kemarin ia beralasan ada sesuatu yang harus di lakukan bersama teman-temannya makanya ia harus berangkat sekolah dengan mereka.


Nadia mengelus dadanya saat sudah duduk di dalam taksi online yang ia pesan. Sengaja ia mematikan hp agar Gibran tak bertanya ini itu. Demi apapun, ia belum berani melihat wajah Gibran tanpa memikirkan kejadian subuh itu. Bisa-bisanya Om Gibrannya melakukan hal yang iya-iya pada dirinya dan dia bahkan menikmatinya. Ya ampun, bagaimana kalau teman-temannya tau, dadanya sudah tidak suci lagi, hiks.


"High school kan, dek?"


"Iya, Pak." Nadia mengeluarkan uang dari dompetnya setelah mobil Avanza yang membawanya berhenti di depan sebuah gedung berlantai empat, sekolahnya.


"Terima kasih, Pak." Nadia turun dari mobil dan langsung di sambut oleh ketiga sahabatnya.


"Om Gi dinas lagi?"


Nadia meringis mendengar pertanyaan Aleksis. Ini kebohongannya yang kesekian. Ia mengangguk samar.


"Sibuk bangat sih Om Gi, masa istri dibiarin sendiri gini." sambung Sandra.


"Namanya tugas negara, ya kan Nad?!"


Nadia mengangguk. Cobanya Aleksis dan Sandra sepolos Gendis, ia tidak perlu harus menjelaskan setiap saat alasannya naik Grab.


"Udah yuk, kita masuk. Bentar lagi bel." Nadia berlalu cepat menghindari pertanyaan lainnya.


.


.


"Naik Grab lagi?" Gendis menghampiri Nadia di mejanya. Bel pulang baru saja berbunyi menghentikkan setiap aktivitas belajar di sekolah elit itu.


"Iya."


"Bareng gue yuk." Ajak Gendis.


"Beda arah, Ndis, gak usah. Gue juga udah terlanjur mesan." Tolak Nadia. Ia sudah merapikan peralatan sekolahnya. "Aleksis dan Sandra mana?"


"Ngecengin siswa baru. Ada-ada aja emang tu anak dua."


Nadia terkekeh, ngecengin yang Nadia maksud bukanlah menarik perhatian atau tebar pesona dengan siswa baru melainkan 'mengenalkan' siswa tersebut dengan adat istiadat di Nusantara.


"Lo nggak ikutan?" Tanya Nadia. Polos-polos begini si gendis paling jago urusan seperti ini. Menghadapi senior yang polos lebih menyebalkan ketimbang menghadapi senior 'kejam' seperti Sandra dan Aleksis.


"Males gue, masih bisa besok-besok." Ujar Gendis mengiringi Nadia keluar kelas.


Kedua gadis pentolan Nusantara itu berjalan melewati lorong kelas menuju Sebuah lift yang sedang terbuka, keberadaan seseorang di dalam lift membuat kedua gadis itu saling melirik. Cantika berdiri kaku dengan wajah angkuh. Ada sedikit lebam di ujung bibirnya.


"kasian ya."


Nadia mengangguki. Ia menghela nafas pendek. Tak disangka gadis yang kata guru-guru 'terbaik' itu menjalani kehidupan yang rumit. Yang Nadia tidak mengerti adalah kenapa Cantika seolah menganggapnya musuh sedangkan selama ini ia dan sahabat-sahabatnya tak pernah mencari masalah dengan gadis 'kesayangan' Nusantara itu. Nadia dan The girls memang terkenal rusuh dengan kebandelan-kebandelan mereka tapi keempat pewaris itu juga liat-liat mangsa, mereka hanya menyisir orang-orang rese selevel mereka. Seharusnya Cantika bisa belajar dengan tenang bukan malah ikut menyeret diri dalam lingkaran para Crazy rich student di Nusantara.


Nadia dan Gendis masuk lift, berdiri di depan Cantika yang tampak menatap lurus di depan.


"Thanks."


Nadia menoleh, Cantika menatap langsung padanya dengan tatapan datar.


"Gue nggak lakuin apa-apa." Ujar Nadia kembali menghadap depan, menekan tombol yang mengantar mereka ke lantai satu. Cantika diam. Gadis berwajah lembut itu menunduk dalam.


"Gue nggak akan lupa kebaikan kalian." ujarnya lirih. Mengetahui The girls, cewek-cewek penguasa di sekolahnya sudah tau pekerjaan sampingannya sempat membuat dirinya khawatir kalau-kalau para penguasa di Nusantara itu melaporkannya pada pihak sekolah. Ia pasti kehilangan beasiswanya dan sudah pasti akan dikeluarkan dari sekolah. Tapi sampai hampir dua minggu kejadian itu, ia tak kunjung mendapat panggilan dari sekolah. Padahal ia sudah menyiapkan diri jika harus meninggalkan sekolah.


"Gak gratis. Bersihin nama sahabat gue. Kami udah terlalu baik sama lo, sekarang giliran lo melakukan seharusnya yang lo lakuin sejak dulu." Gendis melirik Cantika tajam.


"Gue ngerti." Ujar Cantika.


Ting.


Nadia dan Gendis keluar dari lift meninggalkan Cantika yang menatap nanar dua punggung gadis-gadis kaya raya itu.


"Kok gue penasaran ya sama si Cantika. Gak nyangka aja ternyata aslinya gitu." Ujar Gendis melirik Nadia yang tampak diam.


"Gue sih nggak ngurus. Asal gak ngusik kehidupan gue, dia mau apapun terserah." Nadia berujar sambil mengetik sesuatu di hpnya.


"Iya juga sih tapi bedewe bukannya lo bilang Om Gi nggak bisa jemput ya? Kok--"


Nadia mendongak, wajahnya langsung pias mendapati Gibran tengah duduk diatas motornya menatap jauh pada mereka.


"M*mpus gue."


"Heh?" Gendis menatap heran Nadia yang tampak panik melihat keberadaan Om nya. Nadia menggigit bibir panik. Bukannya tadi ia sudah bilang kalau mau ekskul, kenapa malah di jemput?


"Gue duluan." Nadia menepuk pundak Gendis lalu dengan langkah ragu menghampiri Gibran yang tampak duduk tenang di motornya.


"Om kok jemput?"


"Naik!" Ujar Gibran menyalakan mesin motornya. Nadia yang sudah tidak bisa kemana-mana hanya bisa menghela nafas lemah. Ternyata usahanya untuk menghindar sia-sia saja. Seharusnya ia tak perlu pusing-pusing memikirkan alasan pergi pagi pulang sore kalau ternyata Gibran tau semua rencananya.


"Loh, ini mau kemana Om? Kok bukan jalan pulang?" Nadia menoleh ke kanan dimana seharusnya belok. Gibran tidak menyahut. Laki-laki itu tampak asik menatap jalan di depannya. Sudah cukup Nadia menghindarinya selama dua hari ini. Sejak awal Gibran sudah tau bahwa Nadia hanya menghindarinya. Alasan piket? Ayolah jangan buat Gibran tertawa, sejak kapan princess Rasya mengenal yang namanya piket. Urusan dengan teman-temannya? Ck, apalagi itu, Nadia tidak akan menyia-nyiakan waktu paginya hanya untuk mengurus sesuatu. Nadia lupa bahwa Gibran mengenal dirinya lebih baik bahkan dari diri Nadia sendiri.


"Oooom, jawab Nad." Nadia memukul bahu Gibran gemas namun laki-laki itu tak bergeming. Nadia mulai gelisah, mungkin saja gibran akan melakukan sesuatu padanya, astaga dia tidak siap, aaah belum siap.


Motor itu berbelok kearah sebuah taman kota yang biasa di kunjungi oleh orang-orang untuk menghirup udara segar. Nadia melirik jamnnya, sudah hampir jam empat sore. Suasana taman tak terlalu ramai hanya beberapa orang yang tampak asik menikmati udara sore yang bersih dari polusi.


Nadia turun dari motor sesaat setelah Gibran memarkirkan motornya di dekat sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu panjang. Angin bertiup sepoi-sepoi menerbangkan anak-anak rambut Nadia membuat gadis itu tampak sibuk mengatur rambutnya.


"Kita mau ngapain sih Om? Nad mau pulang. Capek." Nadia melipat tangannya kesal.


Gibran yang baru saja mengaitkan helm mereka di spion motor menarik tangan kecil Nadia membawanya duduk.


"Duduk."


Dengan wajah tertekuk Nadia duduk menyadarkan punggungnya. Matanya memandang sekeliling taman, tidak mau sampai menatap mata Gibran yang sedang memperhatikannya dengan intens.


"Cepetan deh Om kalau mau ngomong. Nad butuh istirahat." Ujar Nadia, mendongak menatap langit yang abu-abu.


"Sampai kapan mau menghindar?"


Nadia tertegun. Matanya tak tenang, memikirkan cara untuk menjawab namun tak ada yang terpikirkan selain menyerang balik.


"Siapa yang ngehindar sih? Pede bangat deh." Jawab Nadia, diam-diam menggigit bibir bawahnya. Om nya benar-benar punya feeling yang kuat.


"Dua hari ini Nad ngapain?"


Gibran menghela nafas panjang "Nad marah?"


Nadia diam. Marah? Tidak. Nadia tidak marah ia hanya malu pada Gibran, ia tidak sanggup menghadapi Om nya tanpa membayangkan pagi itu.


"Apa Om harus minta maaf?"


Nadia menoleh pada Gibrang, menatap gamang laki-laki yang kini menatapnya lurus. Nadia menunduk, kedua tangannya saling meremas. Ia rasa Gibran tak perlu meminta maaf untuk itu karena memang sudah haknya memiliki Nadia seutuhnya.


Nadia menggeleng. Masih tak berani mengangkat wajahnya. Ia tidak tau lagi bagaimana memperbaiki perasaannya, menatap gibran tanpa perasaan malu, aneh dan canggung. Ia tidak tau caranya bersikap biasa setelah semua yang terjadi diantara mereka. Ini terlalu rumit bagi dirinya untuk memahani perubahan dalam hubungan mereka. Nadia sadar dirinya adalah seorang istri tapi perasaan itu masih bercampur dengan cara pandangangnya pada Gibran sebagai seorang laki-laki yang telah membesarkannya.


"Nad malu ngadepin Om. Nad gak bisa liat Om dengan cara yang sama lagi. Nad gak tau harus gimana sama Om. Nad bingung Om." Nadia berucap lirih. Mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya selama dua hari ini. Selama ini Gibran lah yang menjelaskan semua hal rumit dalam hidupnya, saat kenapa ia harus hidup sendiri tanpa kedua orangtuanya, kenapa ia harus menikah di usia muda dengan Om nya dan banyak hal lainnya. Dan sekarang saat semua kerumitan itu terkait dengan Gibran, apa yang harus ia lakukan?! Nadia tak pernah paham sebuah hubungan yang rumit. Yang Nadia tau, dia menyayangi Om Gibrannya, ia mengormati Om Gibrannya. Tapi akhir-akhir ini ada banyak perasaan baru yang muncul dalam dirinya yang berhubungan dengan Gibran. Dia merasa kesal setiap kali Elsa ataupun wanita lain mendekati Omnya padahal selama ini tak ada perasaan itu di hatinya. Ia diburu rasa khawatir setiap kali Elsa ada, karena tau wanita itu memiliki perasaan spesial untuk Omnya. Ia yang dulu bebas memeluk dan mencium Gibran, akhir-akhir ini diserang rasa gugup tiap laki-laki itu di dekatnya. Ia rasa hatinya tak sama lagi dan Nadia tak tau harus berbuat apa dengan semua itu.


"Karena kemarin?" Tanya Gibran. Jari-jari kuatnya menari diatas rambut Nadia menyingkirkan helaian yang menghalanginya menatap wajah cantik itu.


Nadia mengangguk "Salah satunya." Katanya memberanikan diri menatap langsung Gibran.


Gibran mengernyit, "Salah duanya?" Tanyanya penasaran.


Nadia terdiam. Ia tidak tau apa harus mengatakannya atau tidak tapi ia sudah kepalang tanggung, sekalian saja ia menyebur.


"Om nyium Nad." Katanya lancar.


"Nad marah?"


Nadia menggeleng "Nad deg-degan."


"Kenapa deg-degan? Nad takut?" Tanya Gibran lagi. Ia mulai mengerti maksud Nadia tapi ia ingin memperjelasnya lagi.


Nadia terdiam sebentar untuk mengingat apakah sebuah rasa takut atau hanya sekedar gugup. Setelah yakin, ia langsung menggeleng.


Sebuah senyum kecil terbit di wajah Gibran. Ada perasaan lega yang menyusup dalam dadanya. Perasaan yang beberapa waktu belakangan ia yang menghantuinya hilang sepenuhnya.


"Nad gugup?" Tanya Gibran lagi. Kali ini kedua tangan lebarnya menangkup lembut pipi Nadia, menatap langsung mata hitam itu.


Nadia mengangguk pelan. Gadis itu mengejap lucu saat gigi-gigi Gibran terlihat bersamaan senyum lebarnya.


"Kok Om ketawa?" Nadia bertanya heran. Tidak ada yang lucu sekarang, kenapa Omnya tersenyum lebar?


"Nad jangan menghindar lagi. Perasaan yang Nad rasakan adalah perasaan wajar yang dirasakan seorang perempuan terhadap seseorang yang disukainya. Nad--"


"Nad suka Om dari dulu tapi tidak pernah merasakan yang seperti ini." Potong Nadia.


Gibran mengangguk paham "Om paham. Yang pasti, mulai sekarang Nad tidak boleh merasa canggung atau malu sama Om. Nad adalah milik Om begitupun sebaliknya. Nad paham maksud milik itu?"


Nad mengangguk "Nad boleh ngapain aja sama Om." Ujar Nadia membuat Gibran terkekeh.


"Ya, itu betul. Tapi lebih dari itu, Nadia boleh ngerasain apa aja sama Om tanpa harus merasa malu atau sungkan."


"Apa aja? Kesal juga boleh?" Nadia berujar penuh semangat. Aslinya sudah kembali lagi.


"Bukannya selama ini sering ya?"


Nadia memberenggut, "Bukan itu Om. Maksud Nad, Nad boleh kesal kalau ada yang dekatin Om? Jujur aja ya, Nad itu sebel bangat kalau ada tante-tante yang ngedip-ngedip sama Om. Nad gak suka." Cerocos Nadia seolah melupakan bahwa dua hari ini ia menghindari laki-laki yang sedang menatapnya geli itu.


"Boleh yang penting sampaikan sama Om. jangan di pendam marahnya." Ujar Gibran.


"Boleh minta apa aja?"


Gibran hendak mengangguk namun teringat permintaan-permintaan Nadia yang kadang tidak masuk akal.


"Boleh asal permintaannya tidak aneh-aneh."


Nadia mengangguk "Nggak akan." Ujarnya mantap. Gibran mengacak rambut gadis itu, lalu merengkuhnya dalam pelukannya.


"Jangan lakuin ini lagi." Bisiknya di telinga Nadia.


Nadia mengangguk "Apa Nadia harus minta maaf?" Tanyanya mengulang pertanyaan Gibran tadi.


"Harus."


"Maaf."


"Dimaafkan."


Nadia mendongak, Gibran juga sedang menunduk menatapnya. "Nad mau minta sesuatu."


"Setelah Nad di hukum."


Nadia menghela nafas pendek "Oke, tapi harus dikabulin."


"Tergantung."


Nadia memukul dada Gibran sebal "Katanya Om milik Nad, masa minta aja gak boleh sih?!" Gerutunya sebal. Gibran mengeratkan pelukannya pada Nadia.


"Minta kasih sayang lebih, boleh?" Tanya Nadia.


"Om sudah kasih yang banyak." Ucap Gibran tersenyum samar diatas kepala gadis itu.


"Lebih banyak lagi."


"Sebanyak apa?"


"Sebanyak-banyaknya." Ujar Nadia dengan senyum lebar.


"Nad sudah mendapatkannya." Gibran mengecup kepala Nadia cukup lama.


"Nad sayang Om."


"Iya, Tau."


"Om sayang Nad?"


Gibran menunduk hanya untuk wajah lugu itu menatap polos padanya "Nad tidak merasakannya?"


Nadia mengerjap. Kedua lengan kecilnya memeluk pinggang Gibran erat. Wajahnya menyeruk ke dada lelaki itu, menghirup wangi aroma kesayangannya. Aromanya Tak lagi sama seperti milik ayahnya namun hangatnya tetap tak berkurang, selalu mampu memberikan perlindungan.


***