
Tok tok tok.
"Masuk!"
Gibran mengetatkan genggaman tangannya pada Nadia lalu masuk dalam ruangan. Saat di hadapan Komandan dan istrinya tautan tangan keduanya terlepas dan Gibran langsung mengambil sikap menghormat.
"Lapor, Kapten Gibran Al Fateh siap menerima perintah."
"Duduk!"
"Siap." Gibran duduk di salah satu kursi di susul oleh Nadia yang sejak masuk tadi hanya melongok. Situasinya mengingatkannya pada momen-momen ketika mereka mengurus nikah kompi yang bukan hanya menguras tenaga tetapi emosi juga. Untung saja Gibran sabar menghadapi dirinya yang mudah berapi-api kalau tidak, mungkin tidak akan pernah ada pernikahan. Kalaupun ada mungkin akan menjadi pernikahan kompi yang paling drama se-jagat raya.
Komandan yang tadinya memasang wajah datar dan penuh wibawa khas seorang panglima di medan perang langsung tersenyum kecil melihat Nadia yang tampak seperti tersesat di dunia lain.
"Apa kabar nyonya Gibran?"
"Siap, baik." Jawab Nadia sigap dengan posisi duduk tegap.
Komandan terkekeh sedangkan Gibran sama sekali tak bereaksi. Wajahnya kaku menatap lurus kedepan bahkan saat Nadia melirik padanya. Di samping Komandan ada sang istri yang terlihat tegang, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah ramah.
"Hebat sekali kapten Gibran bisa mendapatkan gadis muda ini. Bagaimana rasanya menjadi nyonya Gibran? Mudah-mudahan tidak segalak dilapangan ya." Komandan melanjutkan sikap tak formalnya.
"Siap, sangat bahagia, Komandan. Om Gi terlove banyak-banyak." Jawab Nadia lugas sembari membuat sign love dengan ibu jari dan jari telunjuknya yang sontak membuat Gibran terbatuk. Wajah lelaki itu memerah hingga kupingnya teriring dengan suara tawa Komandan yang menggema di ruangan itu dan deheman keras Istri Komandan. Nadia yang tidak mengerti sama sekali bagian mana yang lucu dari jawabannya mengerutkan keningnya bingung. Kelakuan Nadia yang apa adanya inilah yang selalu membuat Gibran jatuh cinta setiap harinya. Bahkan Komandan yang biasanya hanya mengulas senyum tipis bisa terbahak saat bersama Nadia. Jadi katakan, siapa yang tidak bisa menyayangi istri kecilnya ini?!
"Terlove ya?" Komandan berusaha menahan senyumnya saat Nadia kembali mengangguk cepat. Wajah tak tahu menahunya itu sukses membuat Komandan Gibran terhibur siang ini.
"Bagus. Saya senang anggota saya bisa hidup rukun dan penuh cinta seperti kalian berdua." Ujar Komandan manggut-manggut. Nadia yang mendengarnya melirik malu-malu pada Gibran yang tetap pada posisi siap siaganya.
"Saya rasa cukup basa basinya, Komandan." Teguran dari istri Komandan membuat suasana di ruangan itu seketika kembali menegang. Nadia yang tadinya sudah biaa merasa rileks kembali menegakkan punggungnya.
Komandan berdehem, bahkan seorang Komandan menyerah menghadapi emak-emak mode galak seperti Ibu ketuanya ini "Baik. Jadi apa kalian tau kenapa dipanggil kemari?"
"Siap, tidak tahu, Komandan." Jawab menjawab Gibran cepat padahal Nadia sudah membuka mulut siap mengatakan iya. Lelakinya ini meskipun sudah menebak, tetap saja di depan Komandan semua harus jawaban jelas.
"Soal video yang terkait dengan Nyonya Gibran yang sempat viral dan membuat publik ramai, ada penjelasan tentang itu?"
"Siap, ada Komandan." Jawab Gibran lagi tak membiarkan Nadia membuka mulut. Bisa jadi drama seribu episode kalau Nadia sudah memulai sesi curhatnya. Terlebih Gibran tidak bisa menjamin kosakata yang keluar dari mulut Nadia ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Istrinya ini mengoleksi kosakata sendiri yang kebanyakan diadopsi dan diadaptasi dari kebun binatang.
"Bagus. Tapi saya mau nyonya Gibran sendiri yang jelaskan." Komandan menoleh pada Nadia yang masih mempertahankan posisi duduknya. Peluh di kening istri kapten Gibran mengalir meski di ruangan tersebut ada ACnya, padahal tadi dia sudah sangat siap menjawab tapi giliran mendapat kesempatan ia malah demam panggung begini. Ayo, Nad. Semangat. Nadia menyemangati dirinya. Ia tidak bisa bersembunyi dibelakang Gibran seperti biasa karena masalah ini harus diselesaikannya sendiri sebagai pihak yang terlibat langsung. Gibranpun tentu tidak akan berbicara tanpa izin dari atasannya.
"Siap, izin menjelaskan Komandan. Saya hanya membela diri, Komandan. Sebagaimana yang tertuang dalam UUD dasar tahun 1945 yang mengatakan bahwa penjajahan diatas dunia harus di hapuskan, maka Nad merasa harus membela diri saat harga diri Nad sebagai warga negara Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya di injak-injak. Dan menghina orangtua Nad bukan hanya termasuk dalam penjajahan harga diri melainkan melukai harkat dan martabat Nadia yang menjunjung tinggi asas kepatuhan pada sila pertama pancasila yakni Ketuhanan yang maha esa dimana Tuhan memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua."
Krik
krik
krik
krik
Suasana di ruangan itu langsung sunyi senyap. Nadia melirik orang-orang di ruangan itu yang tampak terpaku dengan penjelasannya. Apa sememukau itu? Gibran, komandan dan Ibu Ketua melongok.
See? Nadia tidak akan membuat pembelaan dirinya sederhana. Gibran mengulum bibir menahan tawa yang di tuntut segan pada atasan. Sungguh penjelasan yang sangat jelas, padat, dan panjang dari Nyonya kecilnya.
"Khm-- itu tadi--" Komandan menggaruk sudut bibirnya yang berkedut. Tidak bisa menutupi rasa geli campur takjubnya dengan kepolosan istri Kapten andalannya ini.
Nadia sekali lagi melirik Gibran yang wajahnya sudah merah sempurna menunggu lanjutan kalimat Komandan tapi ternyata yang meneruskannya adalah sang Ibu Ketua yang tadi mulutnya sampai terbuka mendengar penjelasan panjang kali lebarnya Nadia.
"Tapi tidak dengan melakukan kekerasan. Untuk alasan apapun, kekerasan tidak pernah dibenarkan dalam menyelesaikan masalah. Terlebih oleh kita, keluarga besar TNI yang harusnya mengayomi bukan menganiaya warga sipil." Ibu Ketua berujar sengit. Suaranya bahkan lebih nyaring dari suara Komandan. Disini sebenarnya yang atasan siapa sih? Komandan apa istrinya? Nadia rasanya ingin berkomentar tapi ah sudahlah--
"Dan anda, Kapten Gibran. Sebagai suami harusnya anda bisa mendidik istri dengan benar. Bagaimana anda bisa memimpin sebuah pasukan kalau menertibkan istri sendiri anda tidak bisa." Istri Komandan menoleh pada Gibran dengan wajah murkanya.
Nadia menelan saliva susah payah. Kedua tangannya saling menggengam diatas pahanya. Ia tidak pernah berada disituasi yang semenyebalkan ini saat suaranya di bungkam oleh tangan-tangan tak kasat mata yang bernama sikap hormat dihadapan atasan.
"Siap, salah." Gibran bersuara tegas dan lantang. Nadia yang duduk disampingnya sudah mulai merasakan sesak dihatinya. Ia tidak bisa melihat Gibrab seperti ini, dicap sebagai seorang pemimpin yang gagal dan itu semua karena dirinya. Suasana di ruangan itu sangat suram. Hanya bising-bising dari luar yang terdengar samar. Nadia ingin sekali mengatakan bahwa Gibran adalah suami terbaik di dunia ini. Dirinyalah yang salah disini bukan Gibran. Nadia menunduk menahan liquid yang menyeruak siap menetes dari sudut matanya.
"Bukan saja nama anda berdua yang tercoreng tapi nama besar AU dan PIA ikut tercoreng hanya karena urusan sepele semacam ini. Sangat memalukan." Istri masih melanjutkan.
Nadia menggigit bibirnya menahan tangis. Ia tidak sanggup lagi untuk tetap menatap kedepan. Airmatanya hampir luruh namun disisa ketegarannya ia mengingat lagi bagaimana sabar dan sayangnya Gibran menghadapinya. Kenapa ini saja ia tidak bisa bertahan? Tidak, kalaupun bar-bar, Nadia tidak akan melakukan itu dihadapan orang yang disegani sang suami, atasannya. Ini memang sudah menjadi resikonya sebagai seorang istri seorang prajurit yang bukan hanya menjaga nama baik sendiri dan keluarga tetapi instansi juga. Nadia tidak merasa sedih untuk dirinya tapi ia merasa sedih karena menjadi penyebab diperlakukan seperti ini oleh istri atasannya.
"Cukup. Masalah ini tidak perlu diperpanjang." Komandan menengahi, kedua tangannya bertumpu diatas meja, melihat pada Nadia sebentar lalu berhenti cukup lama pada Gibran, "Saya mau dalam minggu ini sudah ada klarifikasi dari pihak yang terlibat. Bersihkan nama kalian dan nama instansi ini. Bagaimana? Kalian sanggup?"
"Siap, sanggup." Gibran kembali menjawab. Sementara disampingnya Nadia pelan-pelan mengangkat wajahnya untuk kembali duduk tegak. Tak ada kegelisahan dan kegentaran di wajah suaminya.
"Tidak bisa segampang itu. Kapten Gibran harus mendapatkan sanksi." Sergah istri Komandan tak terima. Wajah cantiknya sama sekali tidak membantu menentramkan suasana. Bukannya menjadi tim yang menengahi, istri Komandan Gibran ini malah yang paling getol menyuarakan protes entah apa motivasinya.
Nadia menggerutu dalam hati, hih emaknya dakjal. Judul ftv azabnya pasti istri komandan mati keselek granat gara-gara mulut merconnya tidak bisa diam.
"Sudahlah Ibu. Kita juga sudah mendengar penjelasan Nyonya Gibran kalau ini hanya upaya untuk membela diri.Yah meskipun caranya tidak tepat tapi saya kagum akan keberaniannya dalam membela diri. Seorang PIA memang harus memiliki jiwa yang pantang untuk ditindas." Komandan menyentuh lengan istrinya yang tidak bisa duduk dengan tenang, "Berkat bimbingan Ibu juga di giat PIA." lanjutnya lembut. Istri Komandan hanya mendengus pelan. Tatapannya masih sama, tak ramah dan tak melembut. Rasanya Nadia ingin bertepuk tangan atas kesabaran Komandan menghadapi istrinya.
"Kapten Gibran bisa memastikan ini cepat selesai kan?" Komandan kembali serius. Wibawa seorang yang terbiasa memimpin sebuah pasukan perang tak bisa disembunyikan oleh kepribadiaannya yang mudah tersenyum.
"Siap, bisa, Komandan."
"Bagus. Kalian boleh keluar. Dan untuk nyonya Gibran, belajar sabar lagi ya. Mengalah bukan berarti kalah."
Nadia yang mendengar pesan itu diserang haru. Sudah lama sekali ia tidak mendengar petuah dari orangtuanya dan mendengar pesan dari Komandan sang suami membuatnya bahagia.
"Siap, Komandan." Ucap Nadia sembari tersenyum tipis.
Komandan mengancungkan jempolnya. Penerbang yang memiliki jam terbang hampir empat ribu itu berdiri di susul Gibran dan Nadia sedangkan sang istri melakukannya dengan malas-malasan.
"Kalian boleh keluar sekarang."
"Siap, laksanakan." Gibran menghormat sekali. Lalu balik kanan keluar ruangan diikuti Nadia yang berlari kecil dibelakangnya setelah mengangguk samar pada Komandan serta Ibu Ketuanya yang galak.
"Huuuuf!!!"
"Lega ya?"
Gibran menyeka sudut mata sang istri, memeluk tubuh kecil itu di dadanya, "Tidak masalah. Ibunya Pia ini hebat sekali tadi." dikecupnya sisi kepala Nadia dengan penuh rasa. Mereka sudah berada di luar ruangan Komandan dan sedang berjalan menuju ruangan Gibran.
"Istri Komandan nyeremin. Padahal suaminya yang punya pangkat dan jabatan selow aja tapi istrinya malah lebih galak. Nad sampe bingung yang atasannya Om siapa sih, Komandan apa istrinya?! Rusuh bangat sumpah." Nadia mengutarakan isi kepalanya yang harusnya ia semburkan sejak tadi. Aneh saja, istri Komandan masa lebih galak dari komandannya, "Kurang pangkat aja tuh di bahunya langsung deh jadi istri Komandan tergalak sedunia."
Gibran terkekeh, mengacak puncak kepala Nadia. Si cantiknya ini sepertinya tidak sadar diri kalau saat bad mood dirinya sepuluh kali menyebalkan dibandingkan istri sang Komandan. Diraihnya tubuh Nadia dan dikekepi diketiaknya.
Nadia mengelak protes, "Bau iiiih!" Ia berusaha melepaskan diri dari Gibran padahal aslinya senang dipeluk sang suami yang wanginya sampai ke ubun-ubun.
Gibran menyarangkan satu kecupan dirambut Nadia, "Nad mau hadiah apa?"
"Hadiah? Dalam rangka apa?" Nadia mengernyit bingung, setahunya ia tidak sedang ulang tahun apalagi diwisuda hari ini. Tumben sekali si Om kece badainya ini menawarkan harta. Biasanya juga selalu kasih sayang yang ia tawarkan.
"Mau gak? Kalau tidak mau--"
"Mau mau mau." Nadia melompat-lompat seperti anak kecil. Gibran selalu saja begitu, bukannya menjawab pertanyaannya malah mengancam untung Nadia tipe no gengsi gengsian, "Tadi Nad keren bangat ya Om?"
Gibran mengangguk, "Tidak menangis dan jawabnya benar. Walaupun harusnya bagian love love ditiadakan."
"Why? Itu jawaban terkeren Nad hari ini lho." Rutuk Nadia tak terima, "Semua jawabannya datang dari dalam hati termasuk yang terlove tadi."
"Saya rasa memang tidak perlu." Gumam Gibran pelan. Melihat wajah Nadia keruh, Gibran mulai menyesali kalimatnya. Seharusnya ia mengangguk saja tadi dan drama ini tidak perlu ada. Urusan bisa panjang kalau Nadia sudah mode bad mood.
"Gak perlu gimana? Perlulah. Nad kan emang bahagia sama Om Gi." Nadia mulai kesal. Ia bahkan melepaskan tangan Gibran yang memeluk lehernya.
Astaghfirullah kenapa harus komen Gi? Gibran melipat bibirnya menahan diri untuk koprol di koridor saking gemasnya.
"Mau Pizza?" Tawarnya. Makanan biasa bisa mengalihkan perhatian Nadia apalagi kali ini pizza, junk food favorit si kesayangan.
"Plus burger extra."
"No." Gibran menggeleng.
"Ck. Pelit." Nadia manyun.
"Tidak sehat, sayang." Gibran mencubit hidung Nadia yang memerah efek menahan tangis.
"Jadi Nad makan bayam aja biar sehat kayak popeye?" Tanya nadia jengah.
"Lebih baik lagi."
"Iiiiiiih!!!" Rengekkan manja Nadia terdengar sepanjang koridor kantor Gibran. Untunglah sedang jam kantor sehingga tak ada natijen yang mengepoi dua sejoli itu.
"Kalau gitu Om aja yang makan Nad." Bisik Gibran dengan suara berat membuat bulu kuduk Nadia seketika meremang. Berikutnya terdengar pekikan Nadia diiringi pukulan-pukulan manja di badan Gibran.
"Dasar mesuuuuum!"
Semudah itu mood Nadia berubah.
Selanjutnya adalah mengurus Lalita. Tapi sepertinya Samuel saja sudah cukup menangani si pintar betty lapeang itu.
***
"Bu Gibraaan, sini bu gabung."
Nadia yang baru saja turun dari mobil bersama Pia dalam gendongannya menghampiri kumpulan para ibu-ibu yang sejak datang sudah asik dengan topik terhangat. Apalagi kalau bukan Nadia yang viral dan Ibu Ketua yang uring-uringan.
Nadia melangkah pelan menuju teman-teman arisannya itu. Sebenarnya ia malah mengikuti perkumpulan seperti ini karena banyak mendulang dosa tapi mau bagaimana lagi kalau ketua sudah bertitah maka tidak ada alasan untuk tidak bergabung dalam arisan kompi. Yap, arisannya disebut arisan kompi supaya ala-ala militer seperti para suami katanya. Walaupun misinya sedikit melenceng, kalau para suami berkumpul untuk menjaga negara, para ibu-ibu berkumpul untuk mengakrabkan diri walaupun terkadang malah seperti perkumpulan ibu-ibu pada umumnya yang banyak diisi dengan membicarakan si ini yang beli kulkas baru, si itu yang hidup hedon hobi ngutang, atau si anu yang diduga selingkuh saat suaminya bertugas. Banyak sekali sumber dosa dan Nadia tidak memiliki pilihan lain selain taubat nasuhah sesampainya di rumah.
"Gimana gimana?" Bu Pomad yang paling semangat menarik tangan Nadia untuk duduk bersama mereka.
"Gimana apanya, Bu?" Nadia mengernyit bingung.
Bu Jefri memukul pelan lengan Nadia, "Itu loh bu yang kemarin. Ibu diapain sama Ibu ketua-- waaah cantik sekali. Siapa namanya sayang?" Bu Jefri teralihkan oleh keberadaan Pia yang duduk di pangkuan ibunya.
"Pia, tante. Salam kenal." Ujar Nadia sedikit lega karena tidak perlu membahas masalah kemarin. Lagian dia jadi heran sendiri, darimana ibu-ibu ini tahu masalah panggilan kemarin itu? Bukannya yang dapat surat cuma mereka ya?
"Halo, Pia. Cantik sekali sayang. Pipinya udah kayak bakpau loh." Bu Salman datang mendekat. Untuk sementara Pia bisa mengalihkan topik yang malas sekali Nadia dengar. Hari ini Nadia sengaja membawa pia bersamanya karena sepulang dari arisan Gibran akan membawa mereka makan malam di luar sekalian belanja bulanan. Biasanya bibik yang belanja tapi Ibu kedua Nadia itu sedang tidak enak
"Gemesh bangat bu sama Pia. Jodohin yuk sama anak saya." Bu Jefri terkekeh akan rencana liarnya sendiri begitupun Nadia yang merasa lucu dengan rencana perjodohan Pia. Pia bahkan masih belum bisa apa-apa tapi sudah ada saja yang melamar. Resiko cewek cantik ya, Dek. By the way perjodohan tak pernah masuk dalam rencana hidup Nadia untuk sang buah hati sebab melihat Gendis yang kacau balau dengan perjodohannya sudah cukup memusingkan untuknya. Belum lagi sikap over protective Gibran yang pasti akan menyulitkan siapapun yang berencana mendekati anak gadis mereka.
"Gerald harusnya ikut tadi kalau gak sekolah minggu, biar bisa kenalan sama Pia." Ujar Bu Jefri lagi. Nah, ini lagi masalahnya, LDR Pia dan Gerald terlalu jauh, Pianya hari raya di masjid, Gerald hari rayanya di gereja.
"Iya, tante. Pasti seru kalau Gerald ikut." Nadia sudah pernah bertemu balita yang baru berumur empat tahun itu, manis seperti Mommynya.
"Lain kali kita hang out bareng aja. Gak usah bapak-bapaknya ikut. Kita-kita aja biar gak ribet." Usul Bu Jefri.
"Jadi gimana kemarin, Bu?"
Nadia menutup mata menahan sebal. Bu pomad benar-benar menyebalkan, topik yang tadinya dilupakan kini diangkat lagi dan Nadia tidak bisa kabur terlebih setelah semua mata mengarah padanya menuntut cerita berlanjut.
Nadia menghela nafas. Tidak ada pilihan lain. Maka mengalirlah cerita mengenai apa yang terjadi di ruangan komandan.
"Ck, udah bu gak usah dipikirin. Denger-denger Bu Ketua sensi begitu karena adik sepupunya terancam kehilangan jabatan sejak pindahnya Kapten Gibran disini."
Huh? Apalagi ini?
"Maksudnya gimana ya, Bu?" Tanya Nadia pada Bu salman yang membawa info baru itu.
"Iya. Kata suamiku begitu. Kapten Gibran digadang-gadang akan menempati posisi sebagai Danflight yang sekarang ini diduduki adik sepupu ibu ketua." Jelas bu salman yang membuat perkumpulan kecil itu heboh seketika. Sementara Nadia, helaan nafas berat lolos dari mulutnya. Jika benar apa yang diucapkan Bu salman maka tidak berkelas sekali alasan hari-hari berat yang ia lalui beberapa waktu ini di sekret PIA. Hanya karena jabatan, astagaaaaaa!
***
Ikut Ibu arisan kompi.