
Nadia membuka kelopak matanya perlahan. Ia menoleh kesamping dimana Gibran sedang tertidur lelap sembari memeluknya erat. Wajah laki-laki kerennya itu makin menggemaskan saat tertidur seperti ini. Semenjak tahu bahwa ia jatuh cinta pada lelaki di depannya ini, defini keren menurut Nadia tak lagi seperti kebanyakan orang. Keren itu Gibran. Muka masamnya, muka papannya, pelototannya dan gumaman tidak jelasnya. Oke, sebut saja Nadia bucin tapi bucin sama suami sendiri tidak dosa kan?
Cup.
Nadia mengecup kening Gibran,"Ganteng bangat suamiku." usapan di pipi laki-laki itu begitu lembut. Ada bulu-bulu halus disekitar dagunya, mungkin pagi ini ia bisa membantu kesayangannya ini cukuran biar makin ganteng.
Cup.
Kali ini ujung hidung mancung yang selalu membuatnya iri, "Sayangku makin nambah banyak deh." ucapnya gemas.
Cup.
Kemudian pipi kanan Gibran, "Sehat-sehat ya sayangnya Nad."
Cup.
Lalu pipi kirinya, "Makin sayang sama Nad dan Pia."
Cup.
Terakhir kecupan ringan di bibir manis yang sering memerintah itu, " Love you Om Gi sayhhhmpppphhh"
"Love you more lil girl." Balas Gibran serak setelah melepaskan ciuman dalamnya di bibir sang istri.
Nadia menarik nafas putus-putus.
Bugh!
"Aw! Kok saya di pukul?" Gibran mengusap dadanya yang baru saja di pukul oleh Nadia.
Nadia melotot, "Habisnya Om gitu, mau cium gak bilang-bilang. Nad kan belum sikat gigi." Gerutunya sembari bangun dari posisi tidurnya menahan selimutnya agar tetap melindungi badannya yang tidak memakai sehelai benangpun.
"Kamu yang mulai kan." Gibran membela diri. Ia ikut bangun, duduk menyandar di kepala ranjang, tersenyum geli melihat kerepotan Nadia merapikan selimut dibadannya.
"Tapi kan Nad gak sampe sesak gitu nyiumnya. Lagian Om juga lagi tidur tadi." Sungutnya membela diri. Kedua tangannya terlipat di dada dengan pelototan yang dibuat setajam mungkin pada sang suami.
"Oke, saya yang salah." Gibran mengambil satu tangan Nadia dan mengecupnya pelan, "Maaf." lanjutnya mengambil lagi tangan satunya dan dikalungkan dilehernya. Dibalik semua sikap manis itu Nadia tidak menyadari akal bulus sang suami yang sudah berhasil memperdayainya.
"Merah-merahnya kurang jelas ya." Jari Gibran menyentuh kulit leher belakang Nadia lalu turun perlahan di garis punggungnya menyusuri kulit polos itu yang langsung membuat Nadia terkesiap dan menyadari bahwa dirinya kini dalam posisi rawan dengan tubuh tanpa penghalang.
"KYAAAA!!!" Nadia buru-buru menarik diri, menjauh dari jangkauan Gibran, "Kriminal!" Tuduh Nadia menunjuk Gibran yang tertawa renyah, berhasil mengelabui sang istri.
"Mukanya biasa aja." Ujar lelaki itu diantara derai tawanya.
Nadia mendengus sebal, "Mau biasa aja gimana kalau ada peradator gini. Lengah dikit, udahlah gol lagi."
Gibran masih tertawa, semenjak menikahi Nadia hidupnya memang lebih berwarna. Nadia seperti datang mengenalkan banyak warna baru dalam kehidupannya yang hanya dipenuhi hitam dan putih. Nadianya yang polos, keras kepala, menggemaskan dan juga menggoda dalam satu waktu.
"Ayo sini, peluk lagi." Ajak Gibran mengulurkan tangannya.
"Nggak. Om pasti mau nambah lagi kan?" Nadia menjauh waspada.
"Tidak. Kan sudah semalam." Gibran mengangkat jarinya membentuk V "Janji."
"Janji Om soalan yang ini gak bisa di percaya. Semalam bilangnya cuma mau pegang doang, eh malah Nad dibuat gak tidur."
Gibran terkekeh, "Kamu suka juga kan?! Nad yang minta duluan."
"Iya sih tapi tetap aja--" Nadia manyun. Emang semalam dia yang selalu minta Gibran memanjakannya. Hiks. Murah bangat Nad.
Gibran yang melihat wajah tertekuk itu jadi tidak tega menggodanya, "Udah, gak apa-apa. Tidak dosa seorang istri meminta duluan pada suaminya." hibur Gibran mendekat pelan-pelan, membawa Nadia dalam pelukannya.
Nadia menyusup dalam pelukan Gibran, "Om gak bosan kan sama Nad? Om gak akan mikir Nad wanita murahan kan?" kekhawatiran lelaki itu bosan padanya dan beralih mencari perempuan lain yang lebih hebat menyenangkan laki-laki sering mengusik pikirannya. Bagaimana kalau ia gagal menyenangkan Gibran, bagaimana kalau Gibran tidak puas dengannya?! Semua ketakutan itu ia rasakan semenjak tahu lelaki itu dalam diamnya punya kebutuhan ekstra akan s*x. Nadia bahkan takjub suaminya bisa menahan diri dari segala godaan selama 35 tahun hidupnya. Bukan rahasia lagi bahwa banyak orang diluar sana menganggap laki-laki berseragam entah loreng atau coklat sebagai laki-laki yang suka menebar benih sembarangan. Tapi hebatnya Gibranya tidak begitu. Nadia tahu bahwa Gibran sama dengan dirinya, pertama kali melakukannya hanya setelah menikah. Entahlah kalau laki-laki ini suka main solo sebelum menikah.
"Tidaklah sayang. Kamu berharga, selalu berharga. Saya tidak akan pernah bosan sama Nad." Gibran menenangkan Nadia, mengecup kepala istrinya itu lembut, "Saya yang seharusnya tanya sama kamu. Kamu tidak akan meninggalkan lelaki tua ini kan?"
"OM GAK TUA." protes Nadia melepaskan pelukan mereka, "Om gak tua. Om keren." lanjutnya malu-malu.
Gibran menaikkan satu alisnya, mengulum senyum geli, "Oh ya? Tapi sebentar lagi saya 40 tahun, beruban dan keriput. Kamu tidak malu punya suami orangtua?"
Nadia menggeleng cepat, "Gak. Gak sama sekali. Om tetap yang paling keren, kuat--"
"Kuat?"
Nadia nenyengir malu-malu, "Eemm ya gitu deh."
"Gitu apa?"
"Ya gitu."
Gibran semakin senang menggoda Nadia, "Ya, ya gitu itu apa?"
Nadia memukul Gibran bertubi-tubi, "Au ah! Orang tua nyebelin!" sungutnya lalu turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Gibran yang menertawainya.
BUK!!!
Suara bantingan pintu membuat pagi di vila mewah itu semakin semarak.
***
"Gila sih, itu perut apa susunan batako? Keras kotak begitu." Aleksis berdecak kagum menikmati pemandangan om-om cakep yang sedang asik bermain. Masih siang sudah disuguhi pemandangan indah ini.
"Susah emang kalau yang loreng cakep gini sudah turun gunung. Bikin dedek-dedek gemes cem kita kudu banyak-banyak istighfar." timpal Sandra setelah menyelesaikan kunyahan brownisnya.
"Guys, Itu kan perut."
Tiga pasang mata menoleh kesatu arah, tepatnya kearah Gendis yang balas melirik ketiganya dengan wajah polos.
"Emang perut, Gendis sayaaang. Duh, gemas gua sama lo, jadi aus kaan." Sandra menyerut jus di hadapannya dengan serupan keras hingga menimbulkan bunyi sluuuurp yang jelas. Empat gadis muda itu sedang menikmati siang mereka di bangku pantai yang memang disiapkan untuk berjemur.
"Emang keras dan lezat bangat ya, Nad?" Tanya Sandra penasaran. Dari kelihatannya sih memang bakalan keras bangat.
Nadia mengangguk, "Bangat. Tanya Gendis coba." ujarnya menatap jauh kearah pantai dimana sang suami tengah bermain sepak bola bersama dua sahabatnya.
"Emang iya, Ndis?" Tanya Aleksis antusias.
"Gak tau." Kilah Gendis menutupi wajah merahnya dengan majalah di tangannya. Tiba-tiba saja terbayang aktivitasnya beberapa hari ini dengan suaminya, Dewa.
"Gak asik lo ah." Ujar Aleksis kembali menatap jauh ke sumber keindahan yang sedang mereka saksikan.
"Menang banyak dong ya tante Vina bisa ngeliat pria-pria berperut kotak gini. Gue juga mau." Sandra yang memang pencinta manusia ber six pack hingga eight pack berujar iri.
"Gak sih, biasa aja."
Empat gadis muda itu menoleh kebelakang dimana Vina datang bersama Pia dalam gendongannya.
"Perut doang gak bikin kenyang, adik-adik manis. Yang penting itu dompetnya tebel, trus punya kartu hitam no limit-- eh tapi kalian berempat udah punya kan ya yang no limit itu?! Berarti gak butuh tuh laki-laki. Jomblo aja udah dari pada sakit."
"Tante Vina habis putus cinta ya?" Tanya Gendis peka. Emang kadang otaknya nyambung kadang juga korslet.
"Dih amit-amit. Cowo bukan prioritas gue."
"Bukannya tante abis ditinggal nikah ya?" Ujar Nadia yang langsung membuat wajah Vina datar berikut tiga pasang mata membulat.
"Gibran si*lan." Kutuknya.
"Ya ampun, jadi benar tan? Wah punya nyali juga ya tuh cowok. Gak tante sleding atau apa gitu?" Tanya Sandra antusias. Tampang Vina gak biasa-biasa anyway.
Vina menyengir, "Gue ancurin pestanya sih."
"Wah hebat! Gitu dong tan." Aleksis berseru heboh.
"Keren, Tan." Nadia mengacungkan jempolnya lalu mengambil alih Pia kedalam gendongannya, "Mau main ke pantai sayang?" tanyanya lembut pada sang putri yang tampak lucu dengan rok jeansnya dan rambut diikat pony tail.
"Mau Ibuuuuuu." Jawab empat orang dewasa disamping Nadia, lalu tergelak melihat wajah cengok istri Gibran itu.
"Jijik bangat." Ujarnya menggeleng ngeri, "Yuk sayang, tinggalin aja tante-tantenya." Ajak Nadia berjalan menuju pantai diikuti empat wanita rese yang asik saling mengejek. Susah emang mendapatkan ketenangan kalau sudah berkumpul dengan orang-orang satu DNA.
Nadia membawa Pia duduk di atas pasir tak jauh dari tempat Gibran, Dewa dan Jonathan bermain sepak bola. Ketiga orang dewasa itu sampai lupa waktu karena terlalu asik bermain. Ketiganya begitu menikmati kebersamaan yang sudah jarang mereka lakukan karena kesibukan masing-masing. Mungkin Nadia harus menyarangkan Gibran untuk sering-sering meluangkan waktu bersama teman-temannya. Laki-laki itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang seperti tidak ada habisnya. Waktu luangnya yang sedikit biasa ia habiskan untuk menemaninya belajar atau sekedar nonton film baru atau mengajak Pia bermain.
"Dek, tuh ombaknya dateng. Jangan jatuh ya, Ibu foto." Nadia mengambil jarak yang tak begitu jauh dari Pia lalu mengambil foto putri kecilnya itu bermain air. Nadia mengambil beberapa jepretan sampai kemudian kehadiran Gibran yang tiba-tiba mengangkatnya dan mendudukannya dalam air membuatnya terkejut bahkan tidak sempat berteriak.
" Yah, kan basah." Rengeknya melihat pakaiannya yang setengahnya sudah kuyup.
"Biar samaan ya Pia?!" Gibran terkekeh, duduk di dekat kedua gadis kesayangnnya itu. Kedua bibirnya tertarik lebar melihat Nadia yang sudah melupakan kekesalannya dan memilih bermain dengan Pia.
"Yang lain mana Om?" Tanyanya saat tak melihat siapapun di pantai. Ketiga sahabatnya dan Vina yang tadi mengikutinya dan Pia pun tidak ada.
"Keliling Vila" Jawab Gibran sembari mengambil hpnya mengabadikan momen Ibu dan anak itu.
"Om, Nad dapet kerang ajaib." Nadia mengangkat tangannya menunjukkan kerang yang didapatnya, "Fotoin Nad. Ala-ala candid ya."
Gibran tersenyum mengarahkan kamera kearah istrinya, "Celana Nad terlalu pendek."
"Tau."
"Kenapa tidak diganti?"
"Biar diomelin Om." Nadia menjawab tanpa dosa. Setelahnya menyengir lebar melihat tatapan malas suaminya.
"Senang bangat saya omeli." Gibran meletakkan kembali hpnya diatas pasir putih lalu ikut bergabung masuk kedalam air, menggendong putrinya menghampiri sang istri.
"Dek, Ibu bandel. Diapain bagusnya?" Gibran bertanya pada Pia yang bergerak lincah meraih wajah ayahnya.
"Cium aja, nggak?" Timpal Nadia mendekati keduanya, mengalungkan tangannya di leher Gibran, menaik turunkan alisnya.
Gibran menggeleng pelan saat Nadia menciumnya cepat, "I love you Ayah." ucapnya ringan. Sementara Pia tertegun, sepertinya aura kecemburuan perebutan perhatian Gibran tidak akan lama lagi akan terjadi. Pia mendekap leher ayahnya seolah melindunginya dari sang Ibu. Melihat itu baik Nadia maupun Gibran langsung tertawa.
"Maaf ya Dek, ayah itu punya Ibu." Nadia mencolek pipi gembul Pia yang kemerahan, menggoda bayi kecilnya yang protective melindungi ayahnya, berceloteh tidak jelas.
"Ayah juga punya Pia." Ujar Gibran mengecup pipi putrinya. Hal itu sontak membuat Pia meloncat-loncat senang dalam gendongannya, meraih-raih udara kosong.
"Apa ini?" Tanya Gibran melihat Nadia menyodorkan pipinya.
Nadia menutup mata menunjuk pipinya, "A kiss." ucapnya manja yang mendapat putaran bola mata sang suami lalu setelahnya lelaki itu mengecup bibir sang istri sebagai gantinya.
"Love you more Ibuuu."
Nadia meloncat kegirangan sembari mengetatkan pelukannya di leher Gibran, "Cinta Om banyak-banyak." ucapnya mengecup lengan atas sang suami yang tidak tertutupi apa-apa.
Tuhan, tidak peduli sehebat apapun ujianMu akan semua kehilanganku, terima kasih untuk semua ini. Gibran, Pia, terima kasih sudah menghadirkan mereka dalam hidupku. Nadia diam-diam menghapus sudut matanya. Keluarga kecil itu menatap jauh laut biru yang membentang di depan mereka. Tidak peduli sekeras apapun ombak memukul, pantai akan tetap setia menahannya. Tidak peduli sejauh apapun ombak surut, kembalinya tetap ke pantai. Seperti itulah Nadia mencintai Gibran, tidak peduli sekeras apapun ujian yang berusaha memisahkan, Nadia akan tetap berdiri di tempatnya, disamping Gibran. Dan sejauh apapun surat tugas membawa sang suami, kembalinya tetap dalam pelukan seorang Nadia.
***