Little Persit

Little Persit
Para Senior Laknat



"Nad, ayo!"


"Kemana?" Nadia bertanya tanpa mau repot-repot menoleh pada Wati yang selalu membuntutinya kemana-mana.


"Aula. Kan disuruh ngumpul disana."


"Ngapain?" kening Nadia mengerut. Ia sudah mengumpulkan semua tugas dan mengikuti semua kegiatan wajib hari ini yang dijadwalkan prodi sebelum PKKMB dimulai minggu depan, jadi untuk apa lagi ke Aula. Tidak masuk dalam jadwal sama sekali.


"Ngambil sertifikat kuliah umum kemarin." Jelas Wati dengan sabar.


"Lo aja. Gue males." Nadia melanjutkan kegiatannya membaca buku. Yap, tidak salah sama sekali. Nadia memang sedang membaca buku di salah satu gazebo kampus. Ditertawai satu aula besar itu gak enak sama sekali. Selain sebagai Nadia, Ia pun menyandang nama besar Gaudia dibelakang namanya yang terkenal sebagai orang-orang cerdas dibidangnya. Tidak benar rasanya mendengar seorang Gaudia ditertawai satu aula hanya karena tidak bisa menjawab pertanyaan sepele, ya sepele kata cewek berkacamata tebal beserta kekasihnya si lambe got. Belum lagi nama Gibran sebagai Kapten terbaik diangkatannya, setidaknya ia tidak boleh menjawab ngawur saat ditanya dosen.


"Ayolah Nad. Saya tidak berani sendiri. Muka kakak senior galak-galak. Apalagi kak Lita, ngeliat saya udah kayak ngeliat bakteri." Wati memohon dengan sangat. Kedua tangannya menangkup di depan dada.


"Ck, gue males wati. Jangan maksa dong. Lo nggak liat gue lagi baca?" Nadia memunggungi Wati, tidak tahan melihat wajah memelas gadis berwajah sancai itu.


"Nad, please. Sertifikat ini penting sekali untuk saya."


Penting buat lo, buat gue enggak. Batin Nadia sebal. Dia cuma mau membaca buku dengan tenang tapi sepertinya sulit sekali mendapatkan kedamaian dengan Wati yang terus saja merengek padanya. Ah, dia benci sekali cewek sejenis Wati yang tidak bisa membela diri. Tadi saja saat dikelas Wati entah polos apa b*go mau-mau saja disuruh ini itu sama senior. Lagi-lagi senior. Seingatnya ia tidak membayar kuliah mahal-mahal untuk menjadi bahan lelucon kaum senior zaman batu yang masih menerapkan sistem senior junior dalam lingkunan pendidikan seperti ini. By the way, ini juga berlaku saat ia hidup dilingkungan asrama tentara, senioritas mewabah dimana-mana dan Nadia benar-benar membencinya.


"Sertifikat itu bisa jadi tambahan portofolio saya untuk mendapatkan beasiswa. Kalau saya tidak dapat sertifikatnya, saya bisa-bisa gagal dapat beasiswa. Saya gak punya apa-apa, Nad, gak bisa ngebiayain kuliah kayak kamu. Saya--"


BUK!!!


Wati terdiam.


Nadia menutup bukunya dengan sedikit kasar. Ia benci pada senior tapi lebih benci lagi pada manusia yang selalu menganggap hidupnya paling menderita terlebih membandingkannya dengan hidup orang.


"Jangan pernah ngebandingin hidup lo sama hidup orang lain apalagi gue. Gue gak suka." Nadia berujar dingin. Tau apa kakaknya budi ini tentang hidupnya. Seenaknya saja berucap.


"Ma-maaf." Wati tergagap. Wajah judes Nadia semakin menyeramkan saat seperti ini. Anehnya ia masih percaya dengan keyakinannya bahwa meskipun judes, sedikit sombong dan memiliki omongan yang menyelekit, Nadia adalah seorang yang berhati baik. Buktinya ia masih dibiarkan berkeliaran disekeliling gadis cantik yang selalu terlihat mahal itu.


"Lo dikasi hidup oleh Tuhan bukan untuk mengeluh Wati tapi untuk disyukuri." Nadia berujar sebal. Ia memasukkan bukunya dalam tas dengan serampangan. Kesal karena ia memiliki hati yang mudah tersentuh dengan kesusahan orang lain. Ini semua gara-gara Om Gibrannya yang terlalu baiknya makanya dia ikut-ikutan tertular jadi baik. Ah, menyebalkan. Dengan menghentakan kaki kesal, ia beranjak dari tempat duduknya.


"Gue cuma nganter ya. Lo ngurus sendiri sertinya." Ujar Nadia melonggarkan sedikit lilitan syal di lehernya yang membuat cuaca ibu kota yang panas menjadi semakin panas.


Wati yang sempat melongok cepat-cepat berdiri menyusul Nadia, ia menyengir lebar dan tanpa pikir panjang mengamit lengan Nadia, "Iya. Terima kasih banyak. Saya tau kamu orang baik dan--"


"Syuuuuuuut udah. Jangan kebanyakan mukadimah daaaan--" Nadia menunjuk lengannya, "Jangan nyetuh gue sembarangan."


Wati menyengir semakin lebar sembari melepaskan tangan Nadia hati-hati, "Maaf." cicitnya yang membuat Nadia mendengus malas.


Nadia mengibaskan rambut hitamnya. Dengan gaya seorang yang memiliki percaya diri diatas rata-rata, ia melangkah lebar menuju Aula bersama Wati yang setia mengekor dibelakangnya.


Tak di pungkiri, meskipun sudah berstatus sebagai seorang istri dan Ibu muda, pesona Nadia sebagai gadis metropolitan yang kenyang akan kemewahan dan kemegahan tak bisa begitu saja di tampik. Ia sempurna from toe to top. Bukan karena dia paling cantik diantara para wanita di kampusnya tapi ia memiliki kepercayaan diri yang membuat setiap pasang yang melihatnya tak berkedip untuk sesaat. Kata Sandra, sahabatnya, bukan wajah yang membuat seseorang menjadi cantik apalagi barang yang melekat di badan yang berharga fantastis tapi seseorang akan cantik saat ia memiliki self-esteem, penghargaan akan dirinya sendiri. Berani berdiri diatas kaki sendiri untuk membela diri dan tentu saja membela kebenaran mutlak. Tidak ada gunanya punya hidung mancung, bibir tipis atau tebal kemerahan dan mata sebening embun kalau untuk menyebut nama sendiri saja tergagap, seperti Wati contohnya.


"Su-suci pu-pujiawa-wati."


Nadia menggelengkan kepala pelan dan bola mata memutar keatas melihat Wati yang tampak lega setelah menyebut namanya. Well, Wati jelas mendadak gagu karena sosok senior di depannya, Orion, nama melangit, mulut bak sampah.


"Kenapa terlambat? Kalian diminta kumpul jam dua dan sekarang--" Orion menunjukkan jam tangannya bermerek rolex yang Nadia tebak berharga ratusan juta pada wati, "Tiga kurang sepuluh." lanjutnya dengan tatapan datar pada Wati yang sudah lupa caranya bernafas.


"Ma-maaf k-kak, ta-tadi--"


"Kalian pikir orang-orang disini tidak memiliki urusan lain selain mengurusi orang-orang tidak tepat waktu?" Orion memotong. Ia melirik Nadia yang tampak acuh berdiri disamping Wati sembari memainkan hpnya. Junior tidak sopan!


"Ta-tadi ka-kami--" Wati menyenggol lengan Nadia, meminta bantuan. Tapi seperti apa yang ia ucapkan tadi, Nadia hanya akan mengantar. Wati menunduk, memilin ujung kemejanya dengan mata berkaca-kaca.


"Kembali besok lagi." Ucap Orion dingin sembari membereskan map-map di depannya. Di aula itu memang sudah tidak banyak orang lagi. Hanya para panitia yang membereskan beberapa hal dan dirinya yang dengan bodohnya menunggu hanya karena sosok gadis sombong di depannya ini yang tidak muncul di Aula hingga barisan para Maba bubar. Orian tersenyum sinis. Sepertinya ia sudah mulai gila.


"Ta-tapi kak. Sertinya ma-mau di pake se-sekarang." Satu butir airmata lolos dari sudut matanya. Sore ini Kasubag menutup pengumpulan berkas mahasiswa yang mengajukan beasiswa dan ini kesempatan terakhirnya. Jadi kalau gagal-- Wati menoleh cepat pada Nadia yang masih tak bergeming.


"N-nad-- hiks."


Nadia menghela nafas. Wati ngerepotin!


"Kasi aja sih kak. Hak dia jugakan." Jangan khayalkan Nadia yang akan memohon karena saat ia mengucapkan itu, wajahnya masih sibuk memelototi gawai di tangannya. Mohon maaf saja, ia mual melihat wajah Orian.


Orion yang melihat salah satu juniornya semodelan Nadia mengetatkan rahang. Oke, selain bego, mainan sugar daddy, ternyata cewek di depannya ini juga minus tata krama.


"Waktu saya sudah habis. Silahkan kembali besok." Orian membanting kasar tumpukan map di depannya, sengaja untuk memancing Nadia dan benar saja-- gadis cantik yang sialnya kurang ajar di depannya ini terdengar menghela nafas lelah.


"Dia butuh sertinya hari ini, Kak. Kalau besok, udah gak ada gunanya lagi. Beasiswanya udah ditutup." Nadia berujar dengan sabar. Sebenarnya ia malas untuk bermulut manis di depan isi septic tank tapi melihat airmata Wati yang sudah seperti banjir kali ciliwung, keruh dan deras, hati kecilnya tersentil. Well, kebaikan yang mendarah daging.


"Itu bukan urusan saya." Ujar Orion tanpa repot-repot menatap dua junior di depannya.


"Urusan lo lah. Lo kan panitia yang dipercaya ngurusin serti." Oke, Nadia sudah kehilangan minatnya bermanis manja. Orang seperti Orion tidak butuh dibaik-baiki, sama saja, manusia akhlakless yang sangat menyebalkan.


"LO?" Orion mengangkat kepala menatap Nadia dengan wajah mengeras, sial sekali Nadia malah membalas tatapannya tak kalah berani. Cantik-eh. Orion mengutuk otaknya yang sempat berpikir gila, "Sopan santun lo mana sebagai junior?"


"Lo--" Orion menunjuk wajah Nadia kesal. Nadia tersenyum, manis. Manis sekali. Lagi-lagi Orion ingin membanting kepalanya di tembok yang sudah berani berpikiran melenceng.


Sreeeeet!!!


"Dapet!" Nadia tersenyum penuh kemenangan memegang satu map merah di tangannya, "Suci Pujiawati." Baca Nadia pada kulit map sembari memamerkannya pada Orion.


Orion yang kecolongan berusaha merebut tapi Nadia menghindar dengan sigap, "Lo boleh ambil serti gue buat koleksi. Tapi ini penting buat dia." Ujar Nadia sudah kembali ke mode tak terbantahkannya. Ia menyerahkan map itu pada Wati yang sejak tadi menjadi penonton aksi gondok-gondokan senior junior itu, kemudian keluar dari Aula diikuti oleh Wati yang sudah bisa tersenyum seperti biasa.


Orion menatap kesal punggung kecil yang sudah berhasil mengelabuinya. Sial sekali, hanya karena disenyumi ia jadi lengah. Ia menunduk melihat satu map yang berada di tumpukan paling atas.


"Nadia Gaudia Rasya." Gumamnya sembari mengulum senyum licik, "Well, gadis pemberani." Di elusnya tinta yang menulis nama Nadia dengan penuh perhatian. Ia tidak asing dengan nama ini, tentu saja tapi kenapa gadis yang mandi uang itu melakukan hal murahan? Ah, tentu saja bosan dan untuk bersenang-senang. Batinnya menyimpulkan.


"Sayang, ayo. Katanya mau nemenin nyari buku."


Orion mendongak. Di depan pintu masuk Aula kekasihnya, Lalita Gunawan berdiri dengan wajah kesal mengamit buku tebal. Orion tersenyum, yap, ini gadis sempurnanya, pintar, kaya, dan tentu saja tidak murahan.


"Oke."


***


Gibran menyusuri lorong rak-rak buku dengan Pia dalam kantung gendongannya. Putri kecilnya itu tampak antusias melihat deretan buku di depannya. Sesekali Gibran akan bertanya pada Pia buku yang kira-kira menarik. Tentu saja bukan untuk mendapatkan jawaban karena bayi yang belum cukup setahun itu bahkan belum mengenal siapa dirinya.


"Ini bagus untuk Ibu kan dek?" Gibran menunjukkan buku resep memasak pada Pia. Nadia butuh berlatih memasak agar kelak ia tidak perlu lagi mencari mistar untuk mengukur panjang sayuran atau jangkar untuk membuat kulit dadar yang berbentul lingkaran.


Pia yang ditanya hanya menyengir sembari berusaha menggapai buku di tangan ayahnya.


"Kita ambil." Ucap Gibran setelah menimbang. Di kantung belanjaan mereka sudah ada beberapa buku yang sengaja ia beli untuk bahan bacaan Nadia yang sudah mulai kuliah. Novel-novel di rak istrinya itu perlu ia singkirkan dan menggantinya dengan bacaan berfaedah. Ada juga beberapa buku untuk Pia yang kebanyakan berisi gambar menarik sesuai dengan usia Pia.


Setelah dirasa cukup, Gibran pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. Ia mengantri dibelakang seorang gadis muda berkacamata tebal. Gibran menebak gadis itu pasti seseorang yang akan lebih memilih buku dibandingan makanan enak melihat banyaknya buku tebal dalam keranjang belanjaan gadis muda itu. Berbeda sekali dengan Nadianya yang jika diajak ke toko buku maka novel lah yang akan ia angkut untuk dibawa pulang itupun hanya satu yang paling cepat tamatnya. Gibran tersenyum kecil membayangkan wajah suntuk Nadia setiap kali disuruh membaca buku pelajaran.


"Aww!!"


Gibran tersentak mendengar pekikan gadis di depannya.


"Rambut gueeee." ringisnya memegang rambutnya dan saat itulah Gibran baru menyadi kalau tangan Pia lah yang menarik rambut gadis itu.


"Eh, mbak maaf." Gibran melepaskan jemari mungil Pia yang memegang erat rambut kecoklatan milik gadis di depannya. Dan saat berhasil, beberapa helai tercabit dan melilit jari-jari tangan Pia.


"Maaf, mbak. Maaf sekali lagi." Gibran berucap tak enak pada orang di depannya. Sementara si tersangka kecil malah tertawa geli menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, "Pia, mbaknya kesakitan tuh." Diusapnya rambut Pia sembari menatap penuh rasa bersalah.


"Ah iya. Tidak apa-apa." Ujar gadis itu. Wajahnya yang tertekuk masam saat melihat rambutnya di tangan Pia tadi berubah manis ketika berhadapan dengan ayah si bayi. Gilak, ganteng bangat.


"Lucu sekali. Siapa namanya cantik?"


"Navia." Gibran yang menjawab.


"Oh hai, Navia. Nama kakak, Lita." Lita, ya Lalita pacar Orion mengulurkan tangan pada tangan mungil Pia tapi seolah mempunyai dendam kesumat, Pia malah kembali menarik rambut Lalita yang tergerai di depannya.


Dan lagi, pekikan Lalita tak tertahan hingga datang sang kekasih.


"Kenapa, Ta?" Orion yang tadinya masih mencari buku otomotif mendengar suara kekasihnya langsung datang menghampiri. Ia sempat tertegun melihat siapa lelaki berbadan tegap bersama pacarnya.


"Gak apa-apa." Lalita menggeleng, menghampiri Orion yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Orian teralihkan oleh Lalita yang tersenyum dipaksakan padanya.


"Maaf, mbak. Maafkan anak saya." Lagi-lagi Gibran meminta maaf. Tidak mungkin juga ia menegur Pia yang masih bayi.


"Tidak apa-apa, Mas." Lalita menyengir kaku. Ia melirik Pia dengan tatatapan kesal, bayi menyebalkan.


"Sebagai permintaan maaf saya. Biar bukunya saya bayarkan." Ujar Gibran sembari tersenyum tulus. Ia sungguh-sungguh mengatakannya.


"Gak usah." Tolak Orion cepat, terkesan dingin.


Gibran menyipitkan mata, merasa familiar dengan pemuda di depannya tapi dimana mereka pernah bertemu?!


"Iya, Mas. Gak apa-apa. Navia juga masih bayi. Gak mungkin disengaja." Lalita menengahi.


Gibran yang tak pandai memaksa mengangguk kecil, "Baik. Maaf sekali lagi ya, mbak."


"Iya." Balas Lalita memamerkan senyum manisnya. Bapaknya manis gini, kenapa anaknya nyebelin ya?! pasti ngikut mamanya nih. Pikir Lalita tak habis pikir.


"Ayo." Ajak Orion memutus lamunan Lalita. Diam-diam lelaki itu menatap punggung lebar Gibran penuh selidik.


Udah punya anak ternyata. Senyum sinis terbit diwajahnya tanpa Lalita sadari.


***