Little Persit

Little Persit
Ekstra Part. Rindu Berat



"Yang manis tapi bukan gula~~” Nadia bersenandung sembari menari-nari tidak jelas mandangi wajah tampan di dalam frame di tangannya. Sesaat lalu ia tersenyum lebar dan beberapa menit kemudian senyum lebarnya berganti bibir melengkung kebawah. Ya ampun, ia rindu sekali pujaan hatinya. Sudah hampir enam bulan sejak Gibran memulai pendidikannya dan rasanya sudah seperti satu juta tahun lamanya lelaki itu meninggalkan mereka. Kangeeeen, boleh kan Nadia mengeluh?Ia mengusap perutnya yang mulai buncit. Menjalani kehamilan seorang diri benar-benar sebuah perjuangan. Apalagi saat bayi dalam kandungannya menuntut ketemu ayahnya, Nadia hanya bisa menenggelamkan diri di dalam kaos-kaos kebesaran sang suami yang sengaja tidak di cuci untuk dirinya dan Pia jika gadis kecilnya itu merindungan ayahnya. Untung saja ia tidak mengidam yang aneh-aneh karena sudah bisa ditebak bahwa yang merasakannya adalah suami tersayangnya dan hal itu cukup berat di jalani oleh suaminya karena banyaknya kegiatan yang harus ia jalani selama pelatihan.


"Apa Nad susul aja kali ya?” Nadia menggumam sendiri memikirkan ide liar demi menuntaskan rindunya. Seharusnya ia tak seperti ini karena dirinya sendiri yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja saat mereka berpisah tapi lidah memang tak bertulang hebat sekali bersilat ngakunya kuat padahal--- ah sudahlah, semesta juga tahu bagaimana kabar hatinya sekarang. Kenyataannya ia rindu berat sama Gibran sampai rasa-rasanya rindu itu tak lagi muat memenuhi ruang hatinya.


"Bubu“


Suara menggemaskan itu mengalihkan perhatiannya, putri kecilnya berdiri di depan pintu kamar dengan wajah cemberut lucu. ”Manis bangat anak gue, persis bapaknya. Gen serbuk berlian memang gak diraguin lagi.” Nadia tersenyum kecil, merentangkan kedua tangannya, ”Come to Ibu sayang.”


Navia berlari dengan langkah-langkah kecil menghampiri Ibunya, ”Bubuuu“ ucapnya yang mulai fasih memanggilnya dengan panggilan bubu. Lucu sekali. Gibran harus lihat bagaimana si gembul mereka kini mulai cerewet dengan kata-kata baru yang dipelajarinya.


"Yes, baby. Ada apa?Mau susu?” Nadia mengecup pipi gembul Navia, membawa balitanya diatas pangkuan. Anak itu makin hari makin aktif, makin mirip Nadia kata Gibran walaupun tak bisa dipungkiri bahwa ada bagian-bagian dari sifat Gibran yang menurun padanya terlebih saat kesal, Navia bukan balita yang akan menangis sejadi-jadinya tapi ia akan memilih untuk mengungkapkannya pada sang Ibu dengan bahasa balita yang kadang sulit di terjemahkan.


"Ayaya” Ujar Pia lagi. Ya, Ayaya atau Ayah. Navia sudah punya kosakatanya sendiri. Semua orang di rumah ini seperti punya tugas baru menghafal kosakata Navia karena tak jarang mereka salah mengartikan dan berujung Navia mencak-mencak.


Nadia tersenyum kecil, “Kangen Ayah?”


"Yaya.“


"Pia mau ayah?”


"Um.“


"Ibu juga mau ayah.“ Ucap Nadia sedih,”Nanti malam kita telfon ayah ya.” Ujarnya menenangkan buah hatinya. “Pia mandi sama Ibu. trus makan.”


"Mam mam mam”


"Iya, Pia makan biar kuat, makin embul, ayah pasti nggak ngenalin pas liat nanti, kita kasih ayah kejutan. Ok?” Nadia terkekeh saat Navia mengangguk sembari mengikutinya membentuk kata oke dengan jari-jari mungilnya.


"Yaya?”


Nadia mengangguk, ”Iya, Ayah.” Sekali lagi dikecup pipi gembul itu. Di usia muda memiliki seorang anak dan kini tengah hamil ternyata tak sesulit yang Nadia bayangkan. Ia bisa melewatinya meski tertatih tapi sampai sekang ia masih setegar karang. Ibu juara kata Gibran.


Nadia lantas membawa Navia ke kamar mandi untuk memandikan balita itu. Sekarang pun ia makin terbiasa membagi waktu antara pendidikannya dan mengurus buah hati. Benar kata Gibran, jika menjalaninya dengan ikhlas pasti akan berhasil. Lelah sih manusiawi tapi Nadia belum sampai pada tahap mengeluhkan semuanya. Ia menikmati waktunya sebagai seorang ibu dan sebagai mahasiswa. Ada Gibran yang selalu menjadi support systemnya.


***


Nadia uring-uringan di ruang keluarga sembari memegang telfon. Sejak tadi nomor yang dituju tidak diangkat oleh pemiliknya. Malah mengalihkannya ke kotak suara yang makin membuatnya kesal sebab suara si operator wanita seolah-olah mengejeknya. Ya hal kecil saja bisa membuat kesabarannya menipis hingga setipis kulit bawang. Suaminya itu entah sesibuk apa sampai anak dan istrinya tidak dipedulikan padahal jam segini biasanya lelaki itu sudah free. Nadia melirik kasian pada sang putri yang tertidur di sofa bosan menunggu ayahnya yang tak kunjung menelfon dan tak mengangkat telfon sejak tadi.


"Biiiiik....” Nadia memanggil bibik dengan suara bergetar menahan tangis. Yah menjadi cengeng sudah jadi rutinitasnya sekarang.


"Bibiiiiiik....” Nadanya Lebih panjang dan mulai terdengar tak sabaran.


Suara langkah kaki tergopoh menghampirinya, ”Kenap---eeh kok nangis Non?” Bibik buru-buru memeluk sang majikan kecil yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


"Hiks--” Nadia menghapus airmatanya kesal. Lagi-lagi semudah itu moodnya bergejolak. Ia jadi mudah menangis, mudah marah dan mudah lapar. Hormon kehamilan lagi-lagi menjadi pokok utamanya, “ Nad gak sukaaaaa---hiks. Nad kesel sama Om Gi. Nad sediiiiih--- Pokoknya Nad sebeeeel.“ Ia sesunggukan dalam pelukan Bibik.


"Ya Allah, sabar nak. Bapak mungkin sedang sibuk sekarang.” Ujar Bibik coba menenangkan. Tahu ini hanya emosi sesaat, Bibik membawa Nadia duduk di sofa. “Non duduk dulu ya, Bibik buatin susu pisang. Mau?”


Nadia menggeleng kuat,"Maunya Om Gi.” rengeknya persis anak kecil yang sedang menuntut mainan favoritnya. Nadia menghentakan kaki kesal. Ia memeluk pinggang Bibik erat. “Nyebelin bangat punya suami gak peka. Udah tau Nad gak suka dibiarin gini, malah gak ngasi kabaaar---hiks.” Ia terus mengomel sedang bibik sabar mendengarkan. Nadia akan selalu seperti ini jika diabaikan Om kesayangannya meskipun sebenarnya tidak ada yang benar-benar diabaikan disini hanya saja Nadia berpikiran berlebihan. Gibran pasti sedang ada keperluan lain hingga melewatkan malam ini menghubungi mereka.


"Bibik bikinin susu pisang ya Non?” Ujar Bibik lagi menawarkan sembari satu tangannya mengusap rambut Nadia.


"Maunya Om Gi.” Jawab Nadia masih merengek. Kalau sudah begini terkadang menghadapi Nadia lebih sulit daripada menebak kosakata baru Navia. Berat.


"Iya, sambil tunggu bapak, Non minum susu.” Ujar Bibik begitu sabar. Mau bagaimana lagi, majikan kecilnya ini kehilangan pawangnya jadi yah harus banyak-banyak menyetok sabar menghadapinya.


"Yang banyak pisangnya.” Ucap Nadia masih dengan nada merengeknya.


"Iya, bibik banyakin pisangnya.”


"Susunya yang kental.”


Bibik tersenyum, ”Siap, Nona kecil.” Ujarnya mengusap lembut rambut majikannya. Bibik beranjak dari sofa, melirik sebentar Nadia saat lalu menggelengkan kepala pelan sembari tersenyum maklum. Padahal majikan kecilnya ini yang sok kuat tidak apa-apa harus berpisah jarak dengan Sang Kapten tapi yang terjadi malah Nadia selalu uring-uringan merindukan suaminya. Ah, darah muda.


Nadia sudah terlelap memeluk Navia diatas sofa saat bibik kembali dengan segelas susunya. Dering telfon rumah membawa kaki renta itu menjauh dari dua gadis kesayangan Gibran itu. Ia mengangkat telfon, ”Halo?”


"Assamualaikum, Bik. Mang sudah jalan?”


"Waalaikumsalam,Pak. Ia, Mang sudah berangkat ke Bandara.”


"Oh, baik, Bik. Terima kasih. Ibu dan Pia sedang apa?”


Bibik melirik sofa dimana kedua majikannya sedang terlelap, ”Tidur, Pak. Ibu kelelahan sepertinya.” ujarnya


"Kelelahan?”


Bibik mengangguk, ”Kelelahan menangis dan mengomeli bapak.” Terang bibik tersenyum kecil nengingat kelabilan majikannya. Disebrang sana Gibran terkekeh.


"Maaf merepotkan Bibik.”


"Tidak masalah pak demi suprait.“


”Surprise, Bibik.” Koreksi Gibran yang diangguki oleh bibik.


"Iya, itu maksud bibik.” Ujar wanita tua itu tertawa malu.


"Waalaikumsalam.”





Sesampainya di rumah, Gibran disambut oleh pemandangan paling dirindukannya selama enam bulan ini. Dua gadis kesayangannya tidur sambil berpelukan diatas sebuah sofa panjang di ruang tv. Bibik sengaja tidak membangunkan keduanya karena takut Nadia kembali ribet.


Gibran jongkok di depan sofa tepat di dekat kepala Nadia, senyum kecil terbit di wajahnya, “Sampai bengkak gini. Maaf ya sayang.” Gibran mengecup ringan kedua mata Nadia, lalu turun ke bibirnya memberikan sapuan ringan. Aaah, betapa ia merindukan wanita ini. Gibran mengecup kening Nadia sembari mengusap rambutnya. Setelah itu beralih pada sang buah hati yang ternyata terusik akan kehadirannya. Bola mata kecil itu mengerjap lalu, ”Yayaaaa” Ucap Navia menggeliat berusaha melepaskan diri dari dekapan ibunya. Gibran mengintip sang putri.


"Shhhtt... Ibu is sleeping, Nak.” Ucap Gibran berbisik sembari menunjuk Nadia. Navia diam seolah paham lalu merentangkan satu tangannya minta di gendong. Anak pintar.


Gibran mengangkat Navia dan langsung menghadiahi gadis itu dengan kecupan bertubi-tubi, “Ayah rindu sekali, Nak. How are you, hm?”


Navia melompat-lompat kesenangan, “Ayaya“ panggilnya sembari tertawa.


"Iya, Ayah.” Gibran tersenyum haru. Ya Tuhan, rasanya lama sekali ia meninggalkan rumah sampai Navia sudah bisa memahami interkasi mereka berdua.


“Mau yayaa...”


"Iya, ayah pulang. Nemuin Pia dan Ibu.” Ujar Gibran mengecup pipi Navia penuh kerinduan. Ia lantas melihat jam yang menempel di dinding yang menunjukan pukul sebelas malam. “Pia tidur lagi ya. Ayah temani tapi sebelum itu kita pindahin ibu dulu.“ Gibran lantas membawa Navia ke lantai dua dan meletakannya di box.


"Tunggu disini ya. Ayah pindahin ibu dulu.”


”Bubuuu boboo.”


"Iya, kasian Ibu dibawah sendirian. Tunggu ya.” Gibran mengecup kening Navia lalu turun kembali ke lantai bawah.


Gibran bergegas cepat saat Nadia berbalik dan hampir jatuh dari atas sofa. Hampir saja.


"Belum berubah juga.” Ujarnya terkekeh lalu menyadari tonjolan di perut Nadia yang tadi tak diperhatikannya. Diusapnya permukaan perut sang istri, ”Halo baby, missing me?” Sapanya mengecupnya lama. Banyak sekali yang ia lewatkan dalam enam bulan ini. Ia bahkan tak mendampingi sang istri saat mengecek kandungannya. “Maafkan ayah ya. Terima kasih karena sudah memberikan ayah kesempatan untuk mengidam lagi.” Kekehnya teringat perjuangannya menjalani morning sickness ditengah banyaknya kegiatan yang harus ia ikuti. Gibran sangat beruntung untuk itu karena bukan Nadia yang harus tersiksa dan kesulitan makan. Puas memandangi wajah lelap Nadia, Gibran kemudian mengangkatnya dengan hati-hati dan membawanya ke kamar mereka.


Setelah membaringkan Nadia dengan nyaman, ia kembali ke kamar Navia berniat menidurkan balitanya itu namun ternyata Navia sudah tertidur sendiri. Gibran tersenyum lebar, ”Anak manis.” Ucapnya mengecup kening Navia dan menyelimutinya, “Sleep well, anak solehahnya ayah.” Lalu ia kembali ke kamarnya.


Gibran mengganti pakaiannya dengan baju kaos lengan pendek dan celana piyama setelah membersihkan diri terlebih dulu. Kemudian ia bergabung masuk dalam selimut memeluk Nadia dan ikut terlelap setelah lama menatap wajah yang ia rindukan itu.


Suara lantunan ayat-ayat ilahi di mushola kompleks membangunkan Nadia dari mimpi indahnya. Semalam ia bermimpi Gibran pulang dan memeluknya sepanjang malam. Sebuah mimpi yang lebih indah dari kenyataan. Menyebalkan kenapa cepat sekali pagi datang padahal ia masih ingin merasakan di peluk lelaki kesayangannya. Tapi ngomong-ngomong soal pelukan, sepertinya ia sudah mulai halu karena tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana yang nyata. Ia merasa pelukan Gibran masih nyata sekali.


"Kayaknya Nad harus mulai nyusul deh, udah parah bangat rindunya sampe pelukan Om kerasa bangat.” Nadia menyentuh tangan yang memeluk perutnya, benar-benar nyata. Apa saat menoleh ia pun akan melihat wajah Gibran?Tidak apa-apa walaupun hanya mimpi setidaknya mengobati sedikit rindunya. Nadia bergerak menghadap sosok yang begitu nyata memeluknya, ”Kasian sayangku, sampe kurusan gini. Ngidamnya aneh-aneh pasti.” Nadia membelai wajah yang sedang terlelap itu dengen penuh kelembutan, ”Tapi gak apa-apa. Ganteng kok. Bahkan dalam mimpipun suaminya Nadia ini tetap ganteng. Top bangat.” Ujarnya mendekatkan wajah mengecup bibir lelakinya ,”Bibirnya juga masih sama, kissable.” Diusapnya bibir yang tak pernah menyentuh batang nikotin itu. ”Kangen tauuuk.” Ujarnya sedih. Duh, rindu kok segini berat ya.


"Sama.”


Dek. Nadia tersentak pelan. Dia tidak salah dengar kan?Ini kenapa halunya makin mantap?Bisa ngomong loh.


"Saya juga merindukan istrinya Gibran ini.”


Nadia mengerjap, sontak memundurkan wajah. Didepannya sosok yang begitu mirip dengan suami gantengnya tengah tersenyum manis. ”Gak! Sadar Nad, ini pasti jin yang lagi minjam wajah Om Gi yang niat bangat mau godain gue. Astagfirullah, mana ayat kursinya belum di hafal lagi. Doa makan bisa kali ya gue baca?Siapa tau jinnya kabur karena takut dimakan gue.” Nadia mengangguk-angguk yakin, ”Iya, bener. Allahum--”


Cup.


Nadia terduduk menutup bibirnya dengan tangan ”ALLAHUMABARIKLANAFIMA RAZAKTANAWAKINAAZABANAR AAMIIIIIII.” Nadia membaca doanya tanpa pengucapan yang benar saking paniknya karena sosok itu telah lancang menciumnya, ”MINGGIR KAU SETAAAAAN” Nadia memukuli sosok itu tanpa ampun. ”Berani-beraninya ya lo nyentuh punya om gi. Gak bakal lolos lo sama gue. Mati lo!”


BUK BUK BUK BUK!!!


Sementara itu Gibran yang dianggapnya jin hanya tertawa melindungi kepalanya dari serangan Nadia. Lalu dengan satu hentakan---


GREP!!!


Nadia sudah terbaring dibawah kuasa Gibran dengan perasaan syok. Diatasnya menjulang sosok mirip suaminya yang menatapnya penuh kerindungan. Gila!Jin Genit! HIH!Nadia baru akan memberontak sebelum kemudian ucapan Gibran membekukannya.


"Ini Om Gi, Om sayang banyak-banyaknya Nad.” Ujar Gibran pelan menikmati perubahan ekspresi Nadia. Lalu kemudian---


"YA ALLAH NAD DIBAPERIN JIN GENIIIIT!!!”


***


Yang nyariin ekstra part, ini buat kaliaaaan 😘


Semoga bisa ngobatin kangeeeen.....


Jangan nangis lagi ya Ibunya Piaaa., tuh Omnya dah baleeek



Lelaki yang dirindukan. Ayah Pia liburannya lama nggak ya?



Tebak siapa si manis ini?