
Nadia bolak balik kamar dan kamar Navia entah sudah berapa kali. Roll rambutnya masih gelantungan dan blush on belum di touch up kan di pipi kirinya. Ia tampak 'kacau' dan khawatir. Gibran yang sedang mengancing pergelangan batiknya menaikkan satu alisnya melihat sang istri yang sudah seperti setrikaan hampir setengah jamnya.
"Kenapa Nad?"
"Gak apa-apa. Abaikan aja Nad."
Lha? Kening Gibran mengerut. Lelaki itu memasang satu kancing pergelangan lagi lalu tidak lupa jam tangan hadiah kenaikan pangkatnya dari sang istri untuk menyempurnakan penampilannya.
"Acaranya setengah jam lagi." Ucapnya mengingatkan namun Nadia masih juga meneruskan kesibukannya bolak balik mengintip ke kamar pia. Karena Nadia tak juga mengindahkannya, ia langsung menghampiri dan menahan bahunya, "Berhenti dulu" tahannya, "Kamu belum siap sama sekali. Kasian Gendis sudah menunggu bridesmaidnya." lanjutnya memperhatikan penampilan sang istri dari ujung kaki ke ujung kepala.
Nadia menghembuskan nafas lelah, "Pia-- tidur." ujarnya tak bersemangat. Bahunya meluruh.
"Lalu?"
"Pengen ajak. Nad gak tega ninggalin. Kasiaaaan. Kalau nangis gimana?" Ujarnya mengutarakan kegalauannya sejak tadi. Hati seorang Ibu sejati yang kalau mau kemana-mana ingatnya anak sudah mulai tumbuh dan berkembang dalam diri Ibu muda itu.
Oh itu. Gibran memegang ujung rambur Nadia yang dibuat bergelombang, "Ada bibik. Pia tidur gitu masa mau dibawa-bawa." ucapnya lembut.
"Tapi kan disana bisa tidur di hotel." Nadia masih keukeh ingin sekali membawa Pia. Dia sudah menyiapkan dress lucu yang samaan dengan mereka. Sayang sekali kalau tidak di pakai. Lebih sayang lagi kalau Pia melewatkan momen bahagiannya sang Mami.
Gibran menggeleng, "Disini saja. Kasian kalau kamu bangunin. Lebih baik siap-siap. Ini rambutnya masih kriwil-kriwil, pipi Nad juga merah-merah. Digigit semut?" tanyanya melihat pipi kemerahan Nadia.
Nadia memutar bola mata sebal, masih juga buta make up si Om.
"Blush on, Om. Biar Nad merona." Terang Nadia malas. Lagian sudah berapa dekade hidup bersama, Omnya ini belum bisa juga membedakan mana blush on mana gigitan semut. Gigitan dia doang yang dihafal sampe bentukannya juga.
Gibran ber-oh lantas memutar badan Nadia menuntunnya menuju meja rias, "Rapiin nanti dikira korban KDRT--" lalu tatapan Gibran jatuh pada bahu terbuka sang istri, "Ini penjahitnya kehabisan kain?"
Nadia melihat kearah dimana Gibran maksud, gaun off shoulder-nya yang seharga satu motor gede itu dibilang kekurangan bahan, bagus sekali tuan Gibran!
"Gak lah Om.Emang gini didesain, kehabisan kain apaan deh." Jawabnya dongkol. Karya perancang terbaik di negeri ini lho. Maha karya sang desainer langganan artis dan sosialita. Bisa-bisanya dibilang kehabisan kain.
"Kenapa minta jahit begini?" Nada bicara Gibran sama sekali tak terdengar menyenangkan. Alamat buruk jika Nadia tidak segera bertindak, "Ada baju lain?"
Nah kan?
Nadia menjauh sedikit dari Gibran, "Jangan nyuruh Nad ganti ya?" Pinta Nadia memohon. Ia sudah menebak suaminya ini akan menyebalkan tapi tidak menyangka bisa semenyebalkan sekarang saat ia sangat menyukai gaunnya. Demi apapun ia tidak mau menggantinya. Semoga saja Gibran berbaik hati malam ini.
Gibran melirik kearah lemari. Baju yang harganya hampir setara gaji tiga bulannya ini memang apa bagusnya? Gibran menukik alisnya tak senang, makin kesini ia makin tak bisa mengendalikan dirinya kalau sudah menyangkut Nadia. Kalau bisa ia mau masukan saja gadis cantiknya ini dalam kantong bajunya jadi hanya ia sendiri yang melihatnya.
"Ini kembaran bareng Aleks dan Sandra, sama Om juga." Lanjut Nadia cepat saat Gibran hendak berbicara lagi. Ayolah, ini gaunnya sopan kok, model kekinian, dan yang paling penting samaan dengan Gibran. Kapan lagi bisa couple-an sama laki-laki super tidak romantis ini kalau bukan sekarang, walaupun ngeri juga kalau harus membantah ucapan suami.
Gibran menghela nafas berat. Wajahnya tertekuk tak senang, Ini salahnya karena tidak ikut campur dalam pemilihan pakaian para remaja itu.Ia memijat batang hidungnya sembari berdecak pelan, "Jangan jauh-jauh dari saya." Ucapnya lirih.
"Ya?" Nadia tidak mendengar apa yang diucapkan suaminya yang lebih mirip seperti gumamam ditelinganya.
"Hanya untuk malam ini." Ujar Gibran lebih jelas.
Senyum kecil terkulum dibibir Nadia. Ia mengangguk, "Iyap, just for this night." Ujar Nadia senang. Huuuuuuff selamat, "Nad janji bakal nempel kayak kuman sama Om." lanjutnya sambil memberi pelukan pada Omnya sebagai ungkapan terima kasih atas pengertian laki-laki itu yang dibalas gumamam malas.
Nadia melepas pelukannya mendorong laki-laki itu keluar, "Om tunggu di bawah aja. Nad mau touch up-to touch up dulu biar nanti pas Nad keluar, Om liatnya silau. Terpesona." Ucapnya bersemangat. Bayangan dirinya yang turun tangga sambil bermandikan cahaya sudah melalang buana di kepalanya. Persis dongeng-dongeng yang sering Bundanya bacakan dulu. Tentu saja Om Gi pangerannya.
"Jangan lama."
"Aye aye, Captain!" Nadia menutup pintu dan segera ke meja rias untuk menyempurnakan penampilannya.
Dibalik pintu Gibran hanya bisa menghela nafas berkali-kali. Terkadang otak primitifnya menyarankan untuk mengurung saja istrinya dalam rumah supaya hanya dia yang melihat cantiknya. Mau meminta Nadia menutup auratpun ia masih memikirkan cara paling halus yang tidak akan membuat istrinya itu melakukannya hanya karena terpaksa. Ia tahu Nadia akan melakukan apapun yang ia perintahkankan tapi Gibran tidak mau itu. Nadia harus melakukannya karena dirinya dan tentu saja kesadarannya akan perintah Tuhan.
***
"Eh, bentar deh om, bentar." Nadia menahan lengan Gibran saat mereka hendak masuk dalam hotel dimana acara resepsi pernikahan di gelar. Mereka sudah terlambat setengah jam karena menunggu Nadia berdandan ternyata sama lamanya menunggu komet lewat.
"Turun dikit." Nadia menarik lengan Gibran memberi isyarat agar laki-laki itu membungkuk.
Gibran menunduk meskipun kerutan didahinya semakin berlapis melihat kelakuan sang istri. Helaan nafas berat lolos begitu melihat sang istri merapikan anak-anak rambutnya yang mencuat, menjadikan matanya sebagai cermin. Kurang absurd apa lagi kelakuan gadis kesayangannya ini.
"Sudah?" Tanyanya dengan wajah super datar.
Nadia yang melihat wajah super datar sang suami yang begitu pasrah merasa ini sangat menggemaskan. Senyum kecilnya terbit, "Gemesh bangat sih sayangku." ucapnya mencubit kecil pipi Gibran, "Udah, ayok." digandengannya laki-laki yang hanya bisa pasrah itu.
Nadia melangkah pelan dan penuh percaya diri masuk kedalam ballroom hotel yang kini digandeng oleh Gibran. Sesekali suaminya itu membalas sapa rekan-rekannya dengan senyum tipis. Meskipun sempat kesal karena Gibran sama sekali tak memuji penampilannya yang sudah all out, Nadia tak bisa menutupi kebahagiaannya bahwa hari ini salah satu sahabatnya sudah sah menjadi istri, senyumnya merekah sepanjang waktu.
"Nak Nadia?"
Langkah Nadia dan Gibran menuju pelaminan untuk menyalami pengantin tertahan oleh sapaan mama Elsa.
Nadia menoleh pada Gibran sekilas lalu menyengir kaku. Ya ampuuuun hidup gue apa nggak bisa tenang sehari? Ada aja ujiannya.
"Eh, tante disini juga." Ucapnya canggung menerima keramahan mama Elsa yang langsung mencium pipi kiri dan kanannnya. Jika tidak mengingat kelakuan anaknya, mama Elsa adalah salah satu tante favoritnya. Sayang saja anaknya menyebalkan dan rese.
"Gi." Sapa Mama Elsa pada Gibran yang disambut senyum tipis laki-laki itu.
"Selamat malam, Bu." Balas Gibran sopan. Melihat sikap tenang sang suami setelah ketidakadilan yang diterimanya membuat Nadia kadang tak habis pikir, entah hati apa yang dimiliki laki-laki yang menikahinya ini.
"Kalian apa kabar?" Tanya Mama Elsa yang sepertinya masih ingin berbasa basi.
"Alhamdulillah baik tante. Tante apa kabar? Kok sendiri, Om mana-- Oooops" Nadia menutup mulutnya cepat saat menyadari dirinya kelepasan. Sudah pasti di hutan dong, Nad. Gitu aja suka lupa deh. Disampingnya Gibran hanya mengamati. Nadia tidak tahu ada apa diantara Gibran dan Mama Elsa sampai laki-laki itu tidak seramah biasanya.
"Alhamdulillah baik. Papa Elsa masih di tempat tugasnya. Tante gak sendiri, ada Elsa tadi cuma kayaknya lagi nyapa teman-temannya." Mama Elsa menatap Nadia dan Gibran bergantian, "Gibran sudah menetap disini kan ya? Maaf ya tante belum sempat kunjungi soalnya pulang kadang cuma dua atau tiga hari trus balik lagi temani papa Elsa. Udah ngurus pindah tapi belum juga disetujui, entah apa masalahnya." Ujarnya terdengar seperti keluhan.
Masalahnya ada sama Nad, Tante. Nadia meringis. Mau bagaimana lagi, demi keselamatan bersama. Lagipulakan namanya prajurit ya harus siap di tempatkan dimanapun. Jangan manisnya pas ngomong doang siap ditempatkan diseluruh wilayah NKRI tapi belum setahun pindah udah minta surat mutasi. Sangat tidak keren.
"Gak apa-apa, Tante. Disana juga kan bagian dari Indonesia, sama aja." Ucap Nadia sok bijak.
"Iya sih cuma ya itu, jadi susah ngontrol Elsanya." Mama Elsa tersenyum sedih.
Hm, bener tan, anak tante rada miring, harus ekstra pengawasan. Nadia manggut-manggut.
"Bawa sekalian tante Elsa, Tan. Biar liburan dan menenangkan diri" Siapa tau otaknya bener dikit.
"Mau kami juga begitu tapi anak itu tidak mau meninggalkan Ibu kota. Katanya disini ada hidupnya." Ucap Mama Elsa melirik Gibran yang masih berdiri tak bergeming mendengar sesi curhat dadakan itu.
"Gitu ya, Tan. Susah juga sih." Seb*go-b*gonya ia di sekolah, Nadia tahu pasti apa yang dimaksud mama Elsa tadi. Hidupnya? Oh astagaaaa suami orang lho.
Gibran yang sudah jengah dengan situasi yang ujung-ujungnya tidak akan membuat siapapun nyaman itu, memegang siku sang istri, "Sudah lengang didepan, ayo temui Gendis." ujarnya pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Nadia dan Mama Elsa. Ia tersenyum kecil pada Mama Elsa, "Maaf, Bu kami temui pengantin dulu." ucapnya sembari memeluk pinggang Nadia posesif.
"Ah, Iya. Silahkan." Ucap mama Elsa menyunggingkan senyum canggung.
"Permisi ya Tante." Nadia menggangguk kecil lalu pergi mengiringi Gibran ke pelaminan. Diam-diam ia melirik lelaki itu yang tampak bungkam dan 'menyeramkan'. Mungkin perasaannya saja atau memang mood Gibran selalu berantakan setiap ada sesuatu yang berhubungan dengan Elsa. Nadia tidak menyadari kapan tepatnya yang pasti Gibran tak lagi bersikap sehangat dulu pada keluarga itu meskipun hormat dan sopannya masih terjaga.
Nadia ingin bertanya tapi melihat aura suram sang suami, ia memilih untuk tak membuat masalah. Dari kejauhan Aleks dan Sandra sudah melambai-lambaikan tangan heboh kearah mereka berdua. Keberadaan para tamu bahkan tidak bisa membuat dua gadis cantik itu mau menjaga image. Bar-bar ya bar-bar saja. Dua sahabatnya itu berdiri disamping Dewa yang terlihat tertekan. Kehadiran Sandra dan Aleks tentu saja membatasi ruang gerak sahabat suaminya itu. Poor Om Dewa. Nadia meringis prihatin.
"Kasian bangat Om Dewa." Nadia berujar prihatin melihat salah satu sahabat Omnya yang tampak mengenaskan disamping pengantinnya.
"Biarkan saja. Nasib Dewa." Ucap Gibran hampir tak terdengar. Keduanya melangkah menunggu giliran bersalaman.
Nadia dan Gibran baru saja mendapat giliran bersalaman dengan Gendis dan Dewa sudah disambut suara cempreng Aleksis yang melancarkan ancamannya.
"Gendia istri gue kenapa lo yang repot sih." Dewa berujar sebal. Baru juga mau ngendus-ngendus wangi rempah-rempah hasil luluran Gendis sudah ada saja agen KPAI. Menyebalkan.
"Jelaslah.Gendis sabahat kita, wajar bangat buat repot. Iya kan Nad?" Sambar Sandra cepat.
Nadia meringis mendengar nasihat pernikahan super 'bijak' Aleksis dan Sandra yang berapi-api. Untunglah Gibran tidak harus menghadapi hal yang sama saat menikahinya kalau tidak--eh tapi, tiga cewek bar-bar itu kan memang fans garis keras Gibran, otomatis bukan dirinya yang dikhawatirkan tapi Gibran. Malang sekali, Nad.
"Jangan dengerin, Om." Nadia berbisik pada Dewa yang wajahnya tertekuk masam berhadapan dengan Sandra dan Aleksis yang menjagainya seperti pengawal kerajaan. Laki-laki itu bahkan tidak boleh menggandeng lengan sang istri karena tatapan dua pasang mata jeli siap mencabik-cabiknya.
"Thanks, lo emang paling waras disini." Ucap Dewa balas berbisik. Keduanya terkekeh membuat empat orang didekat mereka mengernyit penasaran. Gibran bahkan menarik bahu Nadia agar tidak terlalu dekat dengan Dewa.
Nadia beralih Gendis yang berdiri tak kalah masam disamping Dewa. Sahabatnya ini benar-benar dalam situasi yang rumit. Perjodohan memang tak pernah berawal dengan sesuatu yang manis-manis tapi Nadia bisa melihat ada benih-benih cinta yang tumbuh di hati sang sahabat untuk lelaki yang berjulukan 'Om mulut lemes' itu.
"Selamat ya, Ndis. Bahagia lo, bahagia kita bertiga." Ucapnya memeluk Gendis yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan putus doain gue semoga aja gue gak bundir." Ucap Gendis sedih. Disampingnya Dewa menggaruk pelipisnya. Masalah.
"Gak bakal. Lo berdua pasti bahagia kayak gue sama Om Gi. Yakan kesayanganku?" Nadia menoleh pada Gibran yang hanya menggerakkan satu alisnya sebagai persetujuan.
"Dia lelaki bertanggungjawab." Ucap Gibran sembari menyalami Gendis.
"Thanks, Om." Balas Gendis tersenyum tipis. Disampingnya Dewa tak menyangka bisa mendengar kalimat itu dari Gibran. Lelaki itu bahkan sampai melongo sampai kemudian tersadar saat Sandra menyela.
"GAK! GAK BISA! Om Dewa beda dengan Om Gi. Gak bisa diandelin." Ujarnya berapi-api. Beberapa tamu bahkan menoleh pada mereka.
"Bener! Om Gi terlalu suci disamain sama Om Dewa." Tambah Aleksis yang membuat Dewa membelalak tak terima.
"Maksud lo bedua gue gak bertanggungjawab gitu?"
"IYALAH!" Jawab keduanya kompak hingga Dewa berjengit kaget.
Ebuseeet!!! Dewa mengelus dada menyabar-nyabarkan diri yang stok sabarnya semakin menipis.
"Jahat bangat omongannya." Dewa memberenggut seperti anak kecil.
"Awas aja kalau Gendis sampe kenapa-kenapa, kita potong otongnya Om." Sandra menambahkan lagi. Tatapannya tak kalah mengancam dari kalimatnya.
Belum apa-apa udah diancam aja gue. Untung Si tuyul cantik bangat hari ini. Bisalah gue maafin kelakuan sahabat-sahabat kampr*tnya ini. Dewa lagi-lagi mengelus dadanya. Hari ini ia terlalu banyak mengelus dada, sabarnya benar-benar diuji oleh kehadiran dua remaja rese yang sayangnya sangat disayang oleh si tuyul.
"Iyaaaa tenang aja. Sahabat kalian ini gak bakalan gue apa-apain, paling gue kasi yang enak-enak." Ujarnya penuh maksud yang langsung mendapat cubitan mandjaaah dari gadis muda yang berdiri dengan bosan di sampingnya. Senyum jahilnya langsung mengembang melihat wajah sadis Gendis.
"Yakan sayang?"
"UWEEEEEEEK!!!"
Kampr*t! Dewa mendengus melihat tatapan kompak menjijikan yang ditujukan padanya oleh ketiga sahabat sang istri. Bahkan Nadia yang tadi mendukungnya yang paling serius muaknya. Dasar anak-anak labil!
***
Nadia baru keluar dari toilet saat mendengar obrolan tiga orang wanita muda yang salah satunya adalah Elsa sembari menatap penuh minat kearah podium dimana Om Gibrannya sedang berbicara. Lelaki itu sedang memberikan speech mewakili teman-teman Dewa untuk memberikan nasihat pernikahan. Ya, selain tua diumur, Gibran juga dituakan dalam lingkaran pergaulannya. Semacam seorang penasehat karena cuma laki-laki itu yang hidupnya tidak diragukan lagi kelurusannya.
"Sayang bangat orang se-wow Kapten Gibran harus menikah sama orang lain. Padahal cocok bangat sama kamu, El." Ujar seorang wanita yang rambutnya disanggul rapi yang berdiri disamping Elsa.
Telinga Nadia menajam. Ia memilih melipir diantara para tamu untuk menyamarkan diri mendengar ghibahan orang-orang tentang dirinya.
"Bukan jodoh." Ujar Elsa lembut. Tidak ada orang yang meragukan betapa anggun dan lembutnya seorang Dokter Elsa baik paras dan tutur katanya. Sayang sekali Nadia sudah melihat kulit aslinya jadi mendengar Elsa seperti ini bukan lagi insecure seperti dulu yang ia rasakan, malah ia muak dan kasian.
Teman disampingnya menggeleng, "Gue gak setuju. Bukannya lo dan Kapten Gibran yang bukan jodoh tapi istrinya yang memaksakan jodoh dengan manfaatin rasa kasihan Kapten Gibran atas nasib sialnya. Tau sendiri kapten baiknya gimana."
Kedua tangan Nadia mengepal kuat mendengar ucapan tak berperasaan itu. Nasib sial? Nadia menggeleng tak percaya. Setan bakalan malu melihat ulah manusia jaman sekarang.
"Tapi Gue penasaran bangat Pengen liat secantik apa sih tuh cewek sampe Gibran lebih milih dia dari kamu, Dok?! Padahal dunia juga tau siapa yang lebih layak." Ujar wanita bersanggul rapi itu. Nadia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena berdiri menyamping tapi Nadia yakin wajahnya pasti sebusuk omongannya. Nadia tersenyum miring saat melihat senyum tipis Elsa.
"Lo belum pernah liat? Biasa aja sih nenurut gue, cantikan Elsa kemana-mana. Tapi kata orang sih, katanya ya ini, dia itu orang kaya bangat. Super kaya sampe putranya raja tv di indonesia ini sempat ngincer cuma di tolak."
"Masa sih? Bukannya main sama pengusaha batu bara di kalimantan itu ya?" timpal yang seorangnya.
"Iih berarti tu cewek gak bener. Semua cowok dijajal. Kasian bangat Kapten Gibran sesoleh itu dapat yang bekasan. Lo nggak ngingetin Kapten Gibran, El?"
"Bekasan yang gimana maksud lo?"
"Bekasalan di pake lah. Tau sendiri kan cewek-cewek zaman sekarang apalagi yang berduit pergaulannya udah gak jelas. Pergaulan bebas."
"Masa sih?"
"Ck, masa sih lo gak percaya. Semua orang juga tau kali. Lo juga tau kan El?"
Elsa tersenyum, lalu menyesap minuman di tangannya, "Jangan gitu. Biar gimanapun sekarang dia istrinya Bang Gibran."
"Yatapi--"
Nadia tidak tahan lagi. Ketiga wanita itu sudah sangat keterlaluan. Dan saat seorang pelayan terlihat mendekat kearah mereka bertiga, mata Nadia berkilat tajam dan tanpa membuang waktu Nadia berjalan cepat menyenggol pelayan tersebut sampai kemudian--
PRAAAANK!!!
Semua gelas yang dibawa sang pelayan jatuh ke lantai dengan semua isinya sudah membasahi gaun ketiga perempuan itu dan membuat keributan kecil.
Suara terkesiap ketiganya seperti lagu bahagia ditelinga Nadia terlebih saat ketiganya melihat kearahnya sebagai tersangka utama dari kecelakaan yang disengaja itu. Tamu-tamu yang ada disana pun ikutan menoleh mendengar kekacauan itu termasuk Sandra dan Aleksis yang sepertinya melihat Nadia di TKP.
"Nad--" Panggil Sandra dan Aleksis bersamaan.
Nadia tersenyum lebar "Maaf, Ya. Saya memang suka pusing nyium bau bangkai." Ujarnya sama sekali tak merasa bersalah. Nadia melihat ketiganya dengan tatapan puas, "Perlu uang laundry nggak? Kebetulan gue orang kaya, dikejar-kejar anaknya raja tv dan simpenan mantan pengusaha batu bara."
Nadia menoleh mendengar langkah tergesa yang sangat dikenalinya. Gibran menghampirinya dengan wajah khawatir.
Senyum sinis Nadia teralih lagi pada Elsa yang berdiri mematung "Kebetulan juga Kapten Gibran yang soleh ini suami Gue, yang cinta mati sama gue sampe menolak perempuan yang katanya berkelas tapi mohon-mohon perhatian sama laki orang." lanjutnya mengedip pada Elsa yang pias di tempatnya.
"Nad, ini---" Gibran melihat tiga orang wanita yang basah kuyub di depannya. Wajahnya mengeras melihat Elsa menjadi salah satunya. Ia tidak tahu apa yang terjadi tapi--
"Are you okey?" tanyanya mengecup pelipis Nadia.
Nadia mangangguk manja dalam pelukan Gibran, "Totally Okey, sayangku."
***
Cakep ya istrinya Om Gi😘
Kesayangannya Nadia 😚