Little Persit

Little Persit
Orang-orang Baik



Nadia menyanggul rambutnya dengan susah payah sesuai apa yang dipelajarinya dari Gibran. Ia tidak mau mengambil resiko di tegur untuk kedua kalinya hanya karena persoalan rambut seperti waktu di kantor lama Gibran. Hanya karena rambutnya bergelombang lucu ia jadi tertuduh sebagai persit keras kepala yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan kesederhaan seorang istri tentara. Setelah berusaha dengan keras akhirnya jadi lah rambut era kartininya. Walaupun tidak terlalu menyukai old style tapi sepertinya sanggul rapi cocok dengan wajahnya.


"Mau diantar?" Tanya Gibran saat melihat Nadia sudah siap dengan setelan lengkapnya.


"Gak usah Om. Nad jalan sama ibu-ibu lain. Gak jauh kok."


"Yakin? Kaki gak sakit?"


"Yakin. Nad pakai sepatu kets trus lanjut sepatu hitamnya di pake kalau sudah di TKP." Jelas Nadia sembari mengambil tangan Gibran untuk di salami. "Nad jalan dulu ya Om. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Nanti Om jemput."


"Sip."


Nadia keluar rumah sederhana itu diikuti Gibran sampai di depan pintu. Di depan rumah sudah ada dua orang ibu lainnya yang salah satunya adalah Ibu Katarina yang sudah menunggu.


"Pele Ibu pu cantik apa eee." Puji Bu katarina melihat penampilan istri Kapten tampak ayu dengan rambutnya yang disanggul rapi.


"Tante juga cantik." Balas Nadia malu-malu. Tadi ia sudah hampir membongkar sanggul lucunya karena tidak percaya diri tampil di depan umum dengan gaya rambut yang well--sederhana. Ibu Katarina langsung mesem-mesem dibilang cantik oleh istri sang kapten.


Ketiga ibu persit itu kemudian melanjutkan tujuan ke Aula persit sembari sesekali mengobrol tentang banyak hal. Kedua Ibu persit teman baru Nadia lebih banyak bercerita tentang kehidupan di perbatasan dan memberitahu Nadia kebiasaan-kebiasaan orang disana yang Nadia simpulkan tidak jauh berbeda dengan di tempat lama, kamu sopan, kami segan, seperti itulah.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, sampailah mereka di depan gedung bercat biru muda yang berdiri diantara gedung-gedung lainnya. Sudah ada Bu Guntur yang juga baru sampai diantar oleh suaminya, Pak Guntur Gumilang.


"Selamat sore, Ibu Bertiga." Sapa Pak Guntur dengan ramah.


"Selamat sore, Pak Guntur, Bu Guntur." balas ketiganya tak kalah ramah. Seperti dugaan Nadia, bapak berwajah bajak laut ini memiliki hati yang baik, senyumnya juga ramah, sayang sekali memiliki istri yang tidak pandai bersyukur.


"Ibu Gibran sepertinya betah disini." Ujarnya pada Nadia yang terlihat hanya mengulas senyum tipis hasil mencontek suaminya si kanebo kering.


"Iya, Pak, Alhamdulillah." Ucap Nadia, tumben sekali bicaranya betul. Pak Guntur ini ibaratnya punya aura positif jadi siapun yang diajak bicara termasuk Nadia yang selalu antipati sama orang baru bisa ikutan kalem.


"Alhamdulillah. Kapan-kapan ajak Pak Gibran main ke rumah ya Bu, kita bisa bakar-bakar ikan dengan tetangga-tetangga lainnya juga."


"Ah iya, Pak. Insya Allah." Nadia melirik Bu Guntur yang tampak antusias mendengar undangan suaminya. Sudah pasti ada nama Gibran disana. Nadia benar-benar dibuat tak habis pikir dengan orang semacam Bu Guntur ini, jelas-jelas punya suami tapi mengidokan suami orang. Nadia yang sudah biasa melihat mata-mata ular itu sudah bisa menyimpulkan ketertarikan dimata Bu Guntur pada Omnya. Naudzubillah min dzalik, batin Nadia.


"Gimana kalau besok aja, Pah?" Timpal Bu Guntur antusias. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menggaet Sang Kapten. "Bisa kan, Bu Nadia? Ibu-ibu yang lain juga pasti bersedia dong."


"Maaf Pak, Bu, besok saya dan suami ada jadwal ke dokter. Mau cek kandungan." Tukas Nadia yang memang sudah menjadwalkan kunjungan pertama mereka setelah semingguan sampai di Papua.


Bu Guntur meringis sinis, "Oh begitu ya, Bu." Ini lagi yang menjadi sumber rasa iri Bu Guntur pada Nadia, gadis kecil itu sudah hamil sedangkan dirinya yang menikah hampir enam tahun belum juga hamil. Padahal usahanya setiap malam tak pernah kendor, sudah pasti karena suaminya lelaki lemah dan tidak subur, berbeda dengan Gibran yang dari luar saja sudah bisa dilihat betapa hebatnya laki-laki itu. Anak kecil seperti Nadia saja bisa dibikin hamil apalagi dirinya wanita dewasa cantik yang sudah tidak diragukan lagi kehebatannya kalau sudah urusan itu.


Nadia membalas tatapan penuh penilaian Bu Guntur pada dirinya dengan tatapan datar. Apa lagi yang jalan di kepala Ibu satu ini? Nadia memeluk perutnya posesif saat pandangan Bu Guntur jatuh di perutnya. Don't even try to touch my baby!


"Ada apa, Bu?" Tanya Nadia mengembalikan keterpakuan Bu Guntur yang memindai dirinya. Nadia pernah nih mendengar yang namanya bahaya penyakit 'Ain. Ia tidak mau terjadi apa-apa lagi dengan kandungannya apalagi hanya karena rasa iri seseorang.


"Maaf, Bu. Saya hanya tidak menyangka saja di usia semuda ini Bu Gibran sudah harus memiliki anak. Nanti badannya bisa melar loh, Bu. Ibu gak takut gitu?"


Nadia baru akan membuka mulut saat Pak Guntur menimpali. "Gak apa-apa melar karena harus melahirkan anak. Harus disyukuri rezeki dari Allah. Lagipula Ibu hamil mau selebar apapun tetap saja auranya kelihatan mempesona. Seperti Ibu Gibran contohnya. Masya Allah makin glowing kata orang-orang jaman Now."


"Oh jadi maksud papah saya tidak mempesona lagi karena gak hamil? Gitu?" Semprot Bu Guntur pada suaminya yang langsung gelagapan.


"Ya Allah mah, bu-bukan gitu maksud--"


"Alah udahlah. Papa pulang sana!" Bu Guntur berlalu masuk dalam gedung setelah menyempatkan mendecih sinis pada Nadia yang cuma terbengong melihat adegan di depannya.


"Maafkan istri saya ya ibu-ibu. Saya jadi tidak enak."


"Tidak apa-apa Pak Guntur. Bapak pu istri su biasa begitu. Su tra heran lagi." Ujar Ibu Katarina terkekeh maklum. Sementara Nadia dan ibu satunya hanya bisa meringis. Pak Guntur yang malang.


"Terima kasih pengertiannya Ibu-ibu. Kalau begitu saya pergi dulu. Selamat sore."


"Selamat sore, Pak." Jawab Nadia dan kedua rekannya bersamaan. Laki-laki sebaik itu kenapa ketemunya wanita ular, ya. Jodoh memang rahasia Allah. Nadia menggelengkan kepala miris.


Kegiatan sore itu berakhir tepat pukul setengah enam sore. Sebentar lagi masuk waktu maghrib. Seperti janjinya, Gibran sudah menunggu di depan jalan bersama beberapa tentara lainnya yang baru selesai berolahraga. Senyum Nadia mengembang saat melihat suaminya menunggunya dengan tatapan yang diarahkan padanya penuh dengan cinta.


"Assalamualaikum." Sapa Nadia mencium punggung tangan Gibran lalu mengangguk samar pada para tentara lainnya yang ada ditempat itu, salah satunya ada Robi yang baru selesai berolahraga.


"Waalaikumsalam." Gibran mengelus puncak kepala Nadia dengan lembut. Hal itu tak lepas dari tatapan rekan-rekannya yang hanya bisa menghela nafas pelan. Apalagi mereka yang harus terpisah dengan istri karena tuntutan tugas. Robi yang satu-satunya belum menikah membatin semoga kelak bisa seperti pasangan di depannya, tampak harmonis dan saling melengkapi. Menikah dengan gadis muda sepertinya tidak akan menjadi masalah melihat bagaimana Nadia mampu menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan seorang Gibran. Apalagi dilihat dari penampilan dan pembawaanya sudah bisa di pastikan Nadia bukanlah gadis biasa yang datang dari keluarga sederhana. Belum lagi datangnya dari Ibu kota, sudah tentu gadis muda seperti dirinya tidaklah jauh-jauh dari kehidupan anak muda yang hidup di kota metroplitan dengan segala gemerlapnya. Sungguh luar biasa pengorbanannya mau mengikuti suami ketempat tugas dimana tempat tersebut bisa dibilang jauh tertinggal jika di bandingkan dengan tempat lain. Adiknya saja yang seumuran Nadia yang tumbun ditengah keluarga sederhana belum tentu mau menghadapi semua keterbatasan ini tetapi Nadia-- Dia gadis yang luar biasa.


"Kami permisi." Pamit Gibran menangkup jemari kecil Nadia dalam genggamannya.


Robi yang tersadar dari lamunan panjangnya langsung mencegah mereka. "Pakai motor saya saja, Kapten. Kasian Ibu, sudah maghrib." Ujarnya melirik perut Nadia yang mulai membuncit.


Gibran yang mengerti tatapan itu mengangguk, "Tidak apa-apa?"


Robi menggangguk, "Tidak apa-apa, Kapten. Nanti motornya bisa saya singgahi."


"Terima kasih." Gibran menepuk bahu Robi lalu mengajak Nadia naik di jok belakang.


"Terima kasih ya, Om." Ucap Nadia setelah duduk diatas motor.


Robi mengangguk, "Sama-sama, Bu."


.


.


.


Tok tok tok...


"Selamat Malam."


Ceklek.


"Selamat malam, Bu." Nadia tersenyum lembut pada tetangga baiknya itu. Ditangan bu Katarina ada makanan yang asing di mata Nadia.


"Ibu, ini paitua ada bikin sagu bakar. Ibu Gibran coba sudah."


Nadia mengambil piring di tangan Bu Katarina, ia sama sekali tidak memiliki khayalan tentang makanan jenis ini tapi kalau diberi harus dihargai, itu yang selalu Gibran ajarkan padanya.


"Wah terima kasih Ibu. Sudah lama sekali saya ingin mencoba makan sagu." Ucap Nadia melebih-lebihkan, tentu saja ia tidak beepikir untuk makan sesuatu yang lain selain nasi dan roti seperti biasanya.


"Aduh, berarti sa tra salah toh bawa ini untuk Ibu dan bapa?! Ambil lah." Bu Katarina berujar bangga akan ketepayannya membawa makanan yang sedang diinginkan oleh tetangga barunya "Nanti sa tambah." Lanjutnya yang langsung membuat Nadia panik.


"Oh tidak perlu Bu, ini saja sudah cukup. Terima kasih banyak."


"Sedikit saja Ibu, tidak perlu terima kasih." Ujar Bu Katarina.


"Ibu baik sekali." Ucap Nadia tulus. Ia menyesal telah memiliki stereotype yang salah tentang orang-orang timur. Ia pikir karena bicara mereka terdengar seperti marah-marah maka hati mereka pun kasar tapi ternyata ia salah besar, Bu Katarina dan suaminya contohnya, walaupun suara mereka keras tapi hati mereka sangat baik, tulus pada tetangga. Ada juga lucas, pemuda asli Merauke yang paling cepat bergerak kalau sudah dimintai tolong. Nadia tidak akan menyia-nyiakan orang-orang baik ini, ia akan berusaha menjadi lebih baik lagi kedepannya.


"Ah tidak ibu." Bu Katarina merendah "Kalau begitu sa pamit dulu. Anak bisa menangis bongkar kalau su tra lihat mamanya."


"Iya, Ibu. Silahkan. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama Ibu. Selamat malam."


"Selamat malam."


Setelah Ibu Katarani hilang dari pandangannya, Nadia menutup pintu. Ia mencium wangi makanan itu dan wanginya sangat khas. Wangi sagu yang dibakar dan dibentuk memanjang, seperti dodol raksasa.


Nadia baru saja meletakkan piring tersebut diatas meja reot yang sudah diperbaiki oleh Gibran saat tiba-tiba keadaan menjadi gelap.


"Kyaaaaaaa!!!! Om Giiiiii!!!" Nadia terduduk di lantai dengan panik. Rumah benar-benar gelap, ia tidak bisa melihat apapun.


"Om Giiiiiii!!!" Teriaknyanya panik. Badannya gemetar, ini kali pertamanya ia mengalami mati lampu, lebih parahnya saat tidak ada Gibran atau siapapun bersamanya. Dia sangat membenci gelap yang identik dengan malam kelam, hujan lebat dan petir menyambar saat malam pertama ia menjalani hidup setelah kehilangan orangtuanya.


"Om Giiii, hiks. Nad takuuut, hiks." Nadia menyeret badannya menyandar di dinding, tak berani kemana-mana.


Tok tok tok...


"Bu Gibran!"


Nadia terlonjak. Itu suara Pak Patrick dan Bu ketty. Ia berdiri berpegangan pada dinding lalu dengan hati-hati menyusuri dinging untuk mencapai pintu. Setelah berusaha keras akhirnya ia bisa memegang kenop pintu.


Ceklek.


Bahkan diluar benar-benar sangat gelap. Tidak ada penerangan apapun. Di depannya Bu Katarina dan Pak Patrick membawa lilin kecil untuknya.


"Lilin, bu. Tadi sa lupa bilang ibu sedia lilin. Lampu sering padam disini." Ujar Bu Katarina.


"Biasa begini ya Bu?" Tanya Nadia dengan suara bergetar.


"Iya Ibu. Kami su biasa gelap-gelap." Tambah Pak Patrick terkekeh.


"Terima kasih Pak, Bu. Saya takut sekali tadi." Aku Nadia. Dia benar-benar takut sampai-sampai dadanya terasa detakkannya sangat cepat.


"Bapak dimana, Bu?" Tanya pak patrick. "Rumah sepi apaa, sa sampe tanya sa pu istri kenapa rumah seperti kuburan begitu."


Nadia terkekeh, ketakutannya sedikit menguar dengan kehadiran dua tetangga di depannya. "Bapak di mushola."


"Oh iya. sembahyang." Ujar Pak patrick seolah menyadari sesuatu.


"Ah sudah, Ibu masuk sana. Di luar banyak nyamuk." Bu Katarina menimpali. Tetangga yang sangat perhatian.


Nadia mengangguk. Baru saja akan menutup pintu suara langkah kaki seseorang terdengar terburu.


"Nad? Are you ok?" Gibran datang, langsung memeluk Nadia yang berdiri di depan pintu.


"I am ok." Nadia membalas pelukan Gibran dengan erat.


"Terima kasih, Pak, Bu, sudah menemui istri saya." Ucap Gibran pada sepasang suami istri di depannya.


"Ah biasa saja bapak. Kami dengar ibu tereak, langsung lah kami datang." Terang Bu Katarina.


Gibran mengangguk, mengusap rambut Nadia mengantarkan kenyamanan pada istri kecilnya itu. "Ibu memang sedikit takut gelap." Ucap Gibran.


"Ahh anak eee... " Bu Katarina dan Pak Patrick menatap Nadia kasihan.


"Su biasa padam lampu disini, Pak. Sedia lilin atau senter di rumah." Pak patrick menyarankan.


"Ia, Pak. Saya lupa beli tadi." Ujar Gibran menyesal.


"Pakai sudah lilinnya. Kami ada banyak di rumah." Bu katarina berujar ringan.


"Iya, Bu. Terima kasih."


"Sama-sama."


Nadia mengucap syukur banyak-banyak dalam hatinya. Benar kata Gibran semua akan baik-baik saja. Tuhan akan mengirim kebaikan lewat tangan siapapun selama kita menyebar kebaikan. Mungkin inilah alasan Gibran tak pernah mau membalas keburukan orang yang ditujukan padanya karena Tuhan pasti membalas kebaikan dengan kebaikan begitupun sebaliknya, keburukan bagaimanapun suatu saat nanti akan mendapat balasan keburukan, seperti papa Elsa contohnya yang langsung di bayar lunas oleh Tuhan.


***