
"Udah ya jer, jangan banyak request. Kan janjinya cuma kencan, ya ini kencan. Jangan aneh-aneh deh."
"Gak aneh-aneh Nad, gue cuma mau foto sama lo. Foto ala KTP juga gak apa-apa."
Nadia memandang pemuda berwajah lembut itu dengan kesal "Buat apaan sih? Lo mau nyantet gue? Gak bakal mempan jer, yang lagi trend sekarang nikung di sepertiga malam."
"Sepertiga apaan?"
Nadia mengibaskan tangan "Udah, lu nggak akan paham."
"Jadi, mau ya? Buat kenang-kenangan." Jeremi memohon dengan puppy eyes nya.
Si*lan nih cowok, biasa juga cewek yang melas, kenapa jadi dia yang mohon-mohon. Malu-maluin aja deh. Nadia menggaruk rambutnya frustrasi. Seharusnya ia tau sejak awal tipe cowok sejenis jeremi ini bakal merepotkan tapi sudahlah, terlanjur.
"Sekali jepret ya, malas gue ngulang." Ujar Nadia menggeser duduknya.
"Siip."
Jeremi segera mengatur posisi kameranya untuk mengambil foto selfi bersama Nadia. "Gue hitung ya, satu...dua.... ti---ciiiiis" Click.
"Udah kan? Gue cabut."
"Eh kok cabut Nad?"
Nadia yang sudah beranjak dari kursinya menoleh dengan wajah bosan "Apa lagi? Es krim udah beli kan?"
Jerermi mengangguk.
"Nah, beres berarti. Udah ah, Bye, jer." Nadia mencangklok tasnya lalu meninggalkan gerai es krim tersebut untuk keliling Mall. Biarkan saja jeremi sendiri, sekalian belajar mandiri. Lagian Nadia lagi bad mood malah diajak jalan, hancurlah acaranya.
Nadia berlanjut ke McD menemui ketiga sahabatnya yang sudah menunggunya disana. Lagi dan lagi acara jalan-jalannya dengan sahabatnya selalu dapat kendala, adalah rapat, tugas, dan tadi jeremi yang entah dapat dari mana info, tau-tau muncul di depan Nadia menagih janji, menyebalkan.
"Sorry lama."
Aleksis menoleh lalu menarik kursi untuk Nadia "Lama apanya, gue baru nafas sekali lo udah kembali aja."
"Udah kelar dengan si Jer?" Tanya Gendis menyerahkan seporsi ayam dan minuman soda yang sudah dipesan untuk Nadia.
"Sudah. Gue beliin dia es, foto, trus udah."
"Pantes cepat. Si jer mau-mau aja?" Lanjut sandra.
"Mau nggak mau. Lagian gue udah disini. Hayoklah makan, gue laper banget. Si jer diajak ke tempat makan malah milih es, biar so sweet katanya. So sweet apaan, gue kelaperan, iyaaa." Omel Nadia membuat ketiga sahabatnya terbahak.
Setelah selesai makan, Nadia dan The Girls lanjut mengunjungi toko-toko penjual barang-barang branded. Tidak ada yang terlewatkan oleh ke empat gadis berseragam putih abu-abu itu, ada saja barang yang mereka beli, memenuhi tangan mereka dengan kantong belanjaan dengan merk-merk terkenal yang membuat orang yang melihat menggeleng-gelengkan kepala. The crazy rich student memang beda gaya hidupnya, apalah artinya uang sepuluh juta bagi mereka jika sebulannya mereka bisa mendapat uang jajan yang bisa di pakai hidup setahun oleh masyarakat kelas ekonomi menengah. Hanya Nadia yang belum membeli apapun, ia tidak dalam mode ingin berbelanja saat ini karena pikirannya masih terbagi-bagi dengan ketidaktahuannya akan kabar Gibran dan juga tugas-tugas yang menantinya sebagai anggota persit aktif.
"Nad, lo gak beli apa-apa?" Gendis yang sedang berdiri di depan kasir untuk membayar sepuluh novel yang baru dibelinya menyenggol siku Nadia yang berdiri diam disampingnya.
"Ah oh itu, gue belum kepikiran mau beli apa." Jawabnya mengedikkan bahu.
"Lo kepikiran Om Gi lagi?"
Nadia menghela nafas panjang " Gitu deh. Gak tau tuh Om rimbanya." Ujar Nadia sebal.
"Udah, gue yakin Om lo itu baik-baik aja sekarang. Mending lo belanja apa gitu, sayang bangat duit Om gi kalau nggak di belanjain." Aleksis muncul dengan tiga buku di tangannya. Menyusul dibelakangnya Sandra dengan beberapa ATK lucu di tangannya. Prinsip belanja kedua sahabatnya itu adalah beli karena lucu, bukan karena butuh.
Nadia berdecak, memberi ruang kedua sahabatnya untuk membayar belanjaan mereka. Di belakang mereka tampak dua orang ibu membawa anak keci berbisik-bisik sesekali mengarahkan pandangan mereka menyorot Nadia.
"Kenapa, Tan? Ada masalah?" Sandra yang kupingnya cukup tajam menoleh pada kedua ibu muda yang tengah mengantri di belakangnya. Nadia, Aleksis dan Gendis yang tidak tau apa-apa ikutan menoleh dengan kebingungan yang sama saat mendengar suara yang cukup tajam dari Sandra.
"Kenapa?" Nadia bertanya sambil berbisik. Perhatiannya kemudian teralihkan pada dua orang ibu muda di depannya yang menatapnya dengan tatapan menilai.
"Kecil-kecil mainnya sama Om. Mau jadi apa negara ini." Salah satu Ibu dengan banyak cincin memenuhi jarinya berucap sinis. Senyum mencela tersungging dibibirnya.
"Iya ya jenk, kasian bangat orangtuanya. Nyekolahin anak mahal-mahal bukannya belajar yang bener malah keluyuran gak jelas. Jadi simpanan Om-Om lagi. Amit-amit." Timpal ibu satunya tak menutupi tatapan mencelanya pada Nadia.
Nadia mengernyit. Jadi dia yang dimaksud main sama Om-Om? Aseeeem.
"Maksud tante apa ya?" Gendis yang paling tidak banyak bicara membuka suara. Ia paling tidak tahan mendengar orang-orang berbicara buruk mengenai sahabat-sahabatnya.
"Tidak ada. Cuma mau pesan, tobat dek, tobaaaaat. Yuk jenk!" Keduanya lalu meninggalkan tempat itu meninggalkan buku-buku yang mereka belum bayar setelah sebelumnya berdecih kearah Nadia.
"Apaan sih orang-orang?" Nadia menoleh kepada ketiga sahabatnya tak paham.
"Dasar ya ibu-ibu. Seenaknya aja ngomong. Untung udah orangtua, kalau bukan beuh udah kujahit mulutnya." Aleksis berujar gemas.
Nadia menggelengkan kepala tak percaya. Hanya karena ia memiliki Om, lantas ia jadi simpanan om-om gitu? Hah, natizen dan kemahabenarannya yang luar biasa.
"Ck. Udah yuk, lanjut." Gendis menarik tangan Nadia keluar dari toko buku.
.
.
"Ini doang?" Aleksis mengangkat tas merek gucci yang baru saja diambil Nadia dari etalase. Setelah berkeliling hampir setengah jam dalam Mall, Nadia memutuskan membeli sling bag seharga sembilan jutaan dari salah satu brand favoritnya itu.
Nadia mengangguk. Lantas keduanya ke meja kasir untuk membayar belanjaan Nadia. Sementara Sandra dan Gendis di toko sebelah mencari sesuatu yang kata Aleksis hanya orang dewasa yang boleh lihat, Nadia tidak boleh. Nadia sampai bingung sendiri, diantara mereka dialah yang sudah melangkahkan kakinya ke jenjang pernikahan dan memasuki fase kehidupan orang-orang dewasa tapi ketiga sahabatnya selalu memperlakukannya seperti anak bawang yang tidak tau apa-apa. Sudahlah memang sahabat-sahabatnya saja yang aneh.
"Om lo berapa lama sih latihannya? Kok lama banget?!"
"Dua minggu. Yang nyebelin tuh karena Om Gi nggak ngabarin. Gue kan khawatir." Ujar Nadia sembari mengeluarkan dompet dari ranselnya. Ia tampak bingung menggunakan ATM yang mana karena banyaknya Kartu dalam dompetnya. Mata Nadia tertuju pada salah satu kartu ATM merah putih yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Seingatnya kartu ini tidak pernah ada sebelumnya dalam dompetnya. Nadia mengeluarkan kartu tersebut membolak baliknya, unik. Ia menyerahkan kartu tersebut pada pegawai kasir yang menunggu di depannya.
"Ih, kok lucu kartunya. Dapat dari mana? Gue juga mau. Indonesia bangat loh." Aleksis berseru heboh melihat kartu ATM berwarna merah putih yang hendak di serahkan Nadia pada kasir.
Nadia mengedikkan bahu "Punya Om gue kayaknya."
"Trus lo mau pake? Gak apa-apa?"
"Ada di dompet gue berarti emang disiapin buat gue." Jawab Nadia enteng. "Ini mbak."
"Gak bisa dong. Lo kan nggak punya Om kayak gue." Ujar Nadia bangga. Aleksis memanyunkan bibir kesal.
"Udah, jangan iri lu nanti kekal di neraka. Gue traktir es krim mau?" Nadia mengamit tangan Aleksis keluar dari toko tas yang sudah mengambil banyak uang dari saldo ATM merah putihnya.
"Mau mauuuuu!" Aleksis berseru senang. Dapat traktiran es krim doooong. Keduanya berjalan menuju salah satu penjual es krim yang ada di dekat tangga ekskalator.
"Eh, Nad, lo sadar nggak tadi mbak-mbak kasirnya natapin kita tadi?" Tanya Aleksis saat melangkah cukup jauh dari toko yang baru saja di kunjunginya.
"Sadar banget, Leks. Gedek, gue. Mau gue batalin tasnya tapi sayang, lucu tasnya."
"Iya. Heran gue sama orang-orang. Emang salah kalo belanja barang mewah? Salah kita kalau dilahirin kaya raya? Enggak. Emang udah nasib kita terlahir seperti ini." Sungut Aleksis yang masih tak terima dengan pandangan orang-orang pada mereka.
"Iya tuh. Belum lagi mbaknya. Pasti mikirnya gue peliharaan om-om karena nyebut-nyebut Om Gibran. Makanya natapnya udah paling kotor aja gue." Sambung Nadia tak kalah kesalnya.
"Makanyaaa. Sebel bangat gue."
"Empat chocolava ya kak." Ucap Nadia saat keduanya sudah berada di depan mbak yang melayani.
"Gak kebanyakan?"
"Sekalian buat Sandra dan Gendis." jawab Nadia, menunggu dengan sabar es krimnya dibuat.
Tidak lama kemudian empat es krim chocolava siap di depannya. "Seratus ribu, dek." Ucap mbak-mbak yang melayaninya.
Nadia lalu mengeluarkan kartu merah putih yang sama. Sekalian dia genapkan sepuluh juta saja hari ini, pikirnya. "Ini kak." Nadia menyeragkan kartu merah putihnya pada mbak kasir. Pelayan di depannya itu melihat Nadia dengan tatapan selidik, membolak-balik kartu di tangannya. Dua gadis berseragam putih abu-abu di depannya ini tampak mencolok dengan gaya berpakaian mereka yang berbeda dengan anak sekolahan pada umumnya, rok diatas lutut, baju seragam ketat yang menampakkan lekuk tubuh, jam tangan dan aksesoris mewah, dan jangan lupakan belanjaan mereka yang membuat dompet orang seperti dirinya menangis. Fix, kedua gadis pasti gadis SMA yang mau saja kencan dengan sugar daddy demi uang.
"Kenapa kak? Saldonya habis? Kok natapnya gitu bangat?" Tegur Nadia yang merasa tak nyaman dengan jenis tatapan yang di tujukan padanya.
"Eh, maaf dek. Maaf." Mbak pelayan itu meminta maaf karena sudah lancang pada costumer, bisa-bisa ia di pecat kalau ketahuan bosnya sudah tidak sopan pada pelanggan. Dengan cepat ia menggeser kartu merah putih tersebut pada alat kecil yang ada di depannya untuk segera menyelesaikan transaksi dengan kedua gadis di depannya itu.
"Ini dek, kartunya. Mohon maaf sekali lagi." Si mbak pelayan menyerahkan kartu Nadia yang diterima gadis itu dengan wajah tak bersahabat.
"Bersihin hatinya, mbak." Pesan Nadia sebelum meninggalkan gerai es krim tersebut dengan kesal.
***
"Non---"
"Nanti aja bik, Nad lagi malas ngomong sekarang." Nadia yang baru saja sampai rumah setelah menghabiskan waktunya di Mall bersama sahabat-sahabatnya melewati begitu saja Bibik yang membuka pintu untuknya. Perasaannya kacau, wajah merah padam, mulut tak berhenti mengomel langkah di hentakkan bergegas menuju kamarnya. Orang-orang yang menyebalkan. Sepanjang hari ini bukannya bersenang-senang di Mall melepas stres malah ia dibuat tambah stres dengan cibiran dan omongan orang-orang tentangnya. Peliharaan Om-om lah, matre lah, ngejual diri lah, anak yang tidak benar lah, koleksian sugar daddy, paling parah ada ibu-ibu yang berdiri di sampingnya saat berkaca di toilet yang terang-terangan menyebutnya bibit pelakor. Astagfirullah jika bukan orang tua, Nadia rasanya ingin mengabsen penghuni kebun binatang di depan ibu-ibu tadi. Hanya karena molesin bedak di wajah, hanya karena seragamnya yang stylist ini, hanya karena belanjaan mewahnya dan hanya karena tak sengaja mengguman soal Om nya, trus bebas begitu orang-orang menyebutnya bibit pelakor? Ugh! Manusia-manusia sampah semua.
Nadia membuka pintu kamarnya dengan kesal lalu menutupnya kembali dengan bantingan. Ia berbalik hendak melemparkan tas dan belanjaannya diatas ranjang namun sosok besar yang sedang terlelap tanpa baju diatas ranjang pink menghentikan semua niatnya tadi. Perasaannya yang tadinya kacau balau seketika digantikan dengan perasaan senang, juga sedikit kesal mengingat kelakuan orang di depannya semingguan ini.
Ini nih om yang melihara Nad.
"Om Gibran?" Nadia bergegas menuju ranjangnya dan dengan hati-hati mengintip wajah Gibran yang sedang tidur menyamping untuk memastikan bahwa di depannya benar-benar Om Gibrannya bukan ilusi semata. Nadia menyentuhkan jari telunjuknya di bahu gibran yang terekspos, nyata. Nadia menggigit bibir menahan perasaan membuncah dalam hatinya.
"Om?" Nadia mengguncang badan Gibran pelan, mencoba membangunkan laki-laki itu. Gibran yang merasa tidurnya terusik menggeliat namun tak kunjung membuka mata.
"Om?" Sekali lagi Nadia mengguncang bahu Gibran.
"Hhmm." Gibran bergumam setengah sadar "Nad jangan ganggu. Om mau istrahat." Ujarnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Nadia yang sudah sangat merindukan laki-laki di depannya ini tanpa pikir panjang menjatuhkan badannya menimpa Gibran, memeluk punggung berotot Gibran dan sesekali melayangkan kecupan di pipi Gibran senang.
"Om kapan sampe? Kok nggak ngabarin Nad? Hm?"
Gibran yang merasa badannya kebas berbalik membuat Nadia jatuh diatas ranjang. Gibran belum juga membuka matanya, tampak ia sangat kelelahan semingguan ini.
"Baru." Gumamnya menarik selimut dikakinya namun terhalang Nadia.
Nadia cemberut "Tapi Nad kangen sama Om." Rengeknya kembali naik diatas badan Gibran, memeluk tubuh laki-laki itu.
Gibran tak bergeming, ia membiarkan saja Nadia berbaring diatasnya. Tangannya terangkat untuk memeluk badan kecil itu membuat sang empunya terlonjak kaget. Nadia menggigit bibir gugup saat tangan besar Gibran mengelus punggungnya. Rasa nyaman yang dirasakan Nadia bercampur dengan rasa asing yang membuat dadanya berdesir, apalagi dadanya yang menekan badan gibran sehingga ia bisa merasakan dengan jelas hangat kuliat Gibran meski terhalang seragamnya membuat Nadia merasa sedikit tidak nyaman. Otot-otot lelaki itu semakin terbentuk, keras dan kulitnya tampak sedikit kecoklatan. Ada luka gores baru di dada kiri Gibran hasil dari seminggu ini masuk hutan.
"Main kemana tadi?"
Nadia tersadar dari pikiran liarnya "Ke Mall."
"Habis berapa?"
"Gak banyak om, sepuluh juta aja." Jawab Nadia sembari menatap lamat-lamat wajah Gibran yang sedang memejamkan mata yang ternyata memang keren seperti kata Sandra.
Gibran terkekeh "Gak banyak ya?" Matanya masih terpejam namun senyum tipis di bibirnya menandakan bahwa laki-laki itu sudah benar-benar terjaga.
"Om marah?"
"Gak."
Nadia bersyukur dalam hati. Biasanya Gibran akan menguliahinya dengan tema hemat kalau ia membelanjakan uangnya dengan tidak bijak namun kali ini tidak.
"Nadia om tinggal seminggu udah berubah." lanjut Gibran dengan suara serak, sekali sentak ia membalik tubuhnya hingga Nadia kini berada dibawahnya.
Nadia menahan nafas."Berubah gimana Om?" Cicit Nadia, merasa sedikit takut dengan sikap omnya yang sedikit lain. Belum lagi posisinya kini terjebak dalam kungkungan badan besar Gibran. Ia bisa merasakan otot-otot kuat itu begitu keras dan liat menyentuhnya.
"Nad sudah dewasa--" ujarnya tertahan.
Nadia menelan gugup saat Gibran membuka mata, menatapnya dalam dan liar. Jenis tatapan yang Nadia belum pernah dapatkan sebelumnya. Pandangan Gibran turun, menatap lama pada bagian dada Nadia membuat gadis itu merasa wajahnya sudah memerah menahan malu.
"Dada Nad gedean." Bisiknya serak, membuat Nadia membeku seketika saat sebuah tangan menangkup dada kanannya.
Om?
***
Yuhuuu... Om Gibran udah kembali. Si om balik-balik langsung liar aja.