Little Persit

Little Persit
Nadia Hebat



"Tidak bisa. Peraturannya kan sudah jelas sejak awal. Tidak ada ujian susulan."


"Tapi, Bu, saya mohon kali ini saja. Saya akan bawa surat izin yang resmi dari kantor suami saya."


BUGH!!!


Nadia terjengkat kaget, ia sampai memegangi dadanya saking terkejutnya. Ibu dosennya yang terkenal killer itu melempar buku diatas meja hingga menimbulkan bunyi yang hampir membuat Nadia jantungan.


"Tidak bisa! Kenapa? Kamu mau melaporkan saya atas kasus melanggat HAM seperti kasus Lalita?"


Astaga!


Nadia menggeleng, "Tidak sama sekali, Bu. Saya---"


"Jangan mentang-mentang ada yang akan membela, kamu jadi seenaknya sama saya."


Ini apaan sih? Nadia makin bingung. Dia hanya izin untuk mendapatkan ujian susulan tapi kenapa malah merembet kemana-mana.


"Maaf, Bu. Saya sama sekali tidak berniat seperti itu." Ucap Nadia putus asa.


"Silahkan keluar!" Ibu dosen Nadia menunjuk pintu yang terbuka lebar, "Saya tidak takut sama sekali walaupun kamu membawa pengacara disini."


Nadia benar-benar terbengong. Entah apa yang menimpa ibu dosennya ini sampai sensitifnya tidak kira-kira.


Nadia berdiri dari kursi, "Baik, Bu. Terima kasih untuk waktunya. Saya permisi." ia pamit undur diri demi menyelamatkan jantungnya dari amukan Ibu dosennya itu.


"Huuuuuffff!!" Nadia menghembuskan nafas besar setelah berada di luar ruangan.


"Bagaimana, Nad? Dapat?" Wati menghampirinya harap-harap cemas. Semua orang di Fakultas sudah tahu perangai Ibu dosen mereka itu yang susah sekali diajak kerjasama tapi Nadia tetap mengusahakannya. Rasanya ia ingin pindah kampus saja kalau sampai ia tidak lulus dan harus sesemester lagi bertemu Si Ibu titisan Nazi.


"Gak. Gue heran deh, itu ibu ada dendam apa sih sama gue? Gue izinnya baik-baik minta jadwal ganti, kalau gak diizinin juga gue gak maksa tapi dianya malah membahas masalah tuntutan kampuslah apalah. Aneh bangat." Nadia mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapan Wati si pendengar yang baik.


"Tuntutan kampus gimana?" Tanya Wati belum mengerti.


"Entahlah. Bawa-bawa kasus Lalita, nuduh gue bakal nuntut dia ini itu. Sumpah gak jelas bangat." Nadia menghempaskan pantatnya duduk di bangku gazebo.


Wati meringis, "Kamu tidak tau ya?"


"Tidak tau apa?" Tanya Nadia malas. Ia sudah lelah, maunya berendam dalam air dingin biar kepalanya adem.


"Beliau kan tantenya Lalita."


"WHAAAAAT???"


Wati tersentak kaget, "I-iya. Masa kamu tidak tau."


Nadia menggelengkan kepala tak habis pikir, "Pantas. Pantas itu ibu kayak sentimen sama gue ternyata bibinya si Lalita." Nadia memijat kepalanya pusing. Otomatis mengulang ini sih.


.


.


.


Nadia melangkah gontai menuju mobil jemputannya. Hari ini benar-benar berat. Tugas yang tidak ada habisnya dan dosen-dosen yang semakin hari semakin tidak bisa dimengerti apa maunya.


"Assalamualaikum." Nadia mengecup punggung tangan Gibran.


"Waalaikumsalam. Kamu kenapa? Suntuk gitu."


Nadia menghela nafas lelah, "Ntar aja ceritanya, Om. Nad lagi capek bangat. Pengen mati aja."


"Sembarang saja." Gibran membuka pintu mobil, "masuk."


Nadia masuk dalam mobil dan langsung menghempaskan punggungnya disandaran mobil. Ia memejamkan mata, menetralisir energi-energi jahat yang mengacaukan harinya.


"Mau es krim?"


Nadia membuka mata, senyumnya mengembang melihat satu cup besar es krim rasa pisang dihadapannya.


"Makasiiiiiih." Akhirnya... good moodnya kembali.


Gibran mengusap peluh di pelipis sang istri lalu membawa mobilnya keluar jalan. Ia menepikan mobil di dekat taman kota tepat di bawah pohon.


"Nggak langsung pulang, Om?" Tanya Nadia melongok keluar sembari menyuap sesendok demi sesendok es krim di tangannya.


"Disini saja dulu."


Nadia mengangguk, kembali menikmati es krimnya.


"Kamis depan Ibu KSAU datang ya?"


Nadia mengangguk. Sejenak ia lupa semua masalah yang menumpuk di kepalanya.


"Nad yang jadi ketua panitianya?"


Nadia mengangguk lagi. Es krimnya enak sekali sepertinya, sampai-sampai Gibran tak dilirik sama sekali.


"Bertabrakan dengan jadwal ujian Nad?"


Nadia terdiam, menoleh pada Gibran, "Kok Om tau?"


"Saya liat jadwal ujian kamu di kamar."


Nadia mengangguk, diam-diam menyendong es krimnya. Ia berharap Gibran tidak tahu masalah ini tapi ternyata sepandai-pandainya ia menyembunyikan hal ini, pada akhirnya ketahuan juga.


"Saya akan akan berbicara dengan Ibu Komandan."


"Jangan!" Sela Nadia cepat. Ia menggeleng kencang, "Jangan lakukan apapun. Nad gak masalah. Biarin Nad urus ini sendiri."


"Tapi kuliah kamu?"


Nadia menggeleng, "Pokoknya Om jangan lakuin apapun. Nad udah memilih untuk ngejalanin ini, sekolah dan kewajiban Nad sebagai seorang istri. Om Gi adalah prioritas Nad. Jadi biarin Nad mendahulukan Om Gi."


Gibran menangkup tangan Nadia, "Tidak harus, Nad. Kamu bisa dapat excuse. Alasan kamu jelas."


"Gak mau. Om, dengerin Nad. Mata kuliah ini masih bisa Nad ulang semester depan tapi kredibilitas Om sebagai suami biasa jadi bahan olokan jika setiap ada masalah Nad ngadu ke Om. Biarin aja. Nad ikhlas kok."


Gibran menghela nafas pendek, "Yakin?"


Nadia mengangguk.


Gibran mengecup punggung tangan Nadia, "Terima kasih."


"Sama-sama. Sekarang lepasin tangan Nad. Nad mau ngabisin es krimnya."


Gibran melepaskan tangan Nadia tapi sebelumnya membubuhi pipi istrinya itu dengan kecupan sayang.


"Terima kasih, sayang."


***


Nadia memutar-mutar pena di tangannya. Tugas kuliah menumpuk bersamaan dengan jadwal ujian semester membuat ia sedikit keteteran. Belum lagi gagalnya perundingannya dengan Ibu dosennya membuat ia mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus mengulang di semester depan. Kenapa sih kunjungan istri KSAU harus di hari yang sama dengan ujiannya? Kenapa semesta tidak mendukungnya untuk sukses dalam karir dan rumah tangga?! Mana udah sok kuat lagi di depan Om Gi. Hiks.


Tuk tuk tuk!


Ibunya Pia itu menekan-nekan keningnya diatas meja menciptakan bunyi yang berhasil mengusik kekhusyukan Gibran membaca buku.


"Kenapa, Nad?"


"Pusing."


Tuk tuk tuk!


"Tugas?"


Nadia menggeleng. Lama terdiam dalam keadaan menunduk diatas meja, Ia mengangkat kepalanya, "Om--"


"Hm?"


"Liburan yuk!"


"Bukannya kamu sibuk ujian?"


"Setelah ujian." Ujar Nadia menoleh sepenuhnya pada Gibran. Kakinya terlipat diatas kursi sedang tangannya memainkan folpen ditangannya.


"Nanti dibahas. Sekarang Nad kembali belajar." Gibran menutup buku ditangannya lalu menghampiri sang istri mengusap keningnya yang tadi diketuk-ketukan diatas meja, "Mau susu?"


"Susu pisang? Mau." Nadia menangkup tangan lebar Gibran di pipinya, mengusap-usapnya disana, "Hangat." katanya nyengir. Gibran tersenyum tipis mencubitnya sayang.


"Tunggu disini." Ucapnya berlalu keluar kamar.


Sepeninggal Gibran, Nadia kembali memaksakan dirinya membaca buku dihadapannya. Sangat membosankan. Cetakannya kecil-kecil dan tidak berwarna sama sekali. Tipe pembelajar visual sepertinya harus pintar-pintar mengakali lembaran membosankan itu agar tetap bisa menarik dan menyenangkan dipelajari.


Tidak lama kemudian Gibran kembali membawa sekotak susu pisang di tangannya dan beberapa potong banana cake favorit Nadia, meletakkan diatas meja disamping tumpukan-tumpakan buku.


"Makasih sayangkuuuu... sini dong, Nad kasi kiss." Nadia menarik lengan berotot Gibran mendekat padanya lalu menyarangkan kecupan di pipi lelaki itu.


Cup.


Cup.


Cup.


Diusapnya pipi Gibran gemas, "Baik bangat sih sayangnya Nad. Nad makin-makin deh cintanya."


Gibran yang mendapat cinta sebanyak itu terekeh, "Iya, Saya juga makin banyak cinta untuk kamu." ujarnya dengan nada datar seperti menyapa orang asing dijalan.


"Manisnya. Pasti minta jatah." Nadia mengalungkan lengannya di leher Gibran lalu dengan sekali lompatan sudah berpindah dalam gendongan suaminya itu.


"Mau dikasi yang mana nih? Punya Pia athhhh--"


Nadia menutup mulut Gibran dengan tangan kanannya, matanya melirik kearah connecting door "Jangan berisik! Nanti Pianya bangun." Bisiknya ditelinga Gibran.


"Jadi punya Pia saja?" Bisik Gibran ikut-ikutan Nadia setelah mulutnya lepas dari bekapan. Senyum geli tersungging di wajahnya.


"Semuanya untuk Om Gi." Ucapnya dengan gaya genit yang dibuat-buat.


Cup.


Nadia mengerjap.


Cup.


Nadia mengulum senyum.


Cup.


Nadia menyengir lebar.


"Nanti di rapel kalau Nad sudah selesai ujian." Ucap Gibran diatas bibir Nadia. Dilepasnya pegangannya di kedua paha Nadia dan menurunkannya pelan-pelan kembali duduk di kursi.


"Lagiiiiiii" Rengek Nadia mengguncang-guncang kedua lengan Gibran.


"No!"


Nadia manyun. Bahunya meluruh.


Gibran terkekeh, diacaknya puncak kepala Nadia "Selamat belajar, kesayangan." lalu mendaratkan satu kecupan sayang disana.


Nadia tersenyum lebar mengikuti langkah Gibran kembali ke ranjang dengan tatapannya. Lelaki itu tampak shining glowing blink-blink dibawah sinaran cahaya lampu belajar dan Nadia suka itu. Nadia tidak paham lagi melihat kekerenan Gibran. Mungkin disni bukan hanya Gibran tapi dirinya juga yang pasti bucinnya ekstra. Hanya butuh sepasang sayap maka Gibran fix persis malaikat yang turun ke bumi untuk mengguncang hatinya. Bahagianya Nadia itu sederhana saja, melihat Gibran didepan matanya dan mendapat banyak cinta dari lelaki itu.


"Jangan diliatin terus nanti suka." Goda Gibran tanpa mengalihkan matanya dari deretan huruf-huruf kecil di depannya. Ia tahu sejak tadi Nadia masih belum memutus tatapannya.


"Om sih bikin Nad jatuh cinta setiap hari."


"Kamu yang mulai duluan."


Nadia mengulum bibirnya menahan dirinya untuk tidak berteriak kegirangan. Astaga, itu maksudnya Gibran jatuh cinta setiap hari juga? Duh, jiwa ini tak terselamatkan lagi. Nadia mendesah lelah, memegang tetap dimana jantungnnya berdegup kencang. Hatinya membuncah oleh cinta.


"Om cintanya juga setiap hari?"


"Tidak."


Senyum Nadia langsung hilang. Ini apaan sih?


"Setiap detik."


Eh? Nadia menutup mulutnya menahan jeritannya. Aduh, jantung gue tolooooong!


Biarpun nadanya datar saja tapi ini Gibran loh yang bicaranya tidak ada yang sia-sia. Ngomong seperlunya tapi dalam bangat.


Nadia berdehem, menetralisir debaran jantungnya. Mumpung Gibran lagi mau menjawab, kenapa tidak dia manfaatkan saja momen itu untuk mengulik lebih dalam sebucin apa si kanebo kering kesayangannya ini. Nadia memperbaiki posisi duduknya dengan nyaman.


"Om pilih dicintai atau mencintai?"


"Itu pertanyaan?"


Nadia mengangguk, "Iya."


"Pilih kamu aja biar cepat."


Eh?


Nadia menggigit bibirnya menahan senyumnya, "Khm, ditanya apa jawabnya apa." Omelnya sok kesal. Padahal sih sungguh sangat senang. Hehe.


"Tidak ada bedanya selama kamu orangnya."


Sumpah. Nadia benar-benar tidak kuat lagi.


"KYAAAAAAAAA!!!"


Gibran tersentak kaget.


"Kamu kenapa?"


Nadia yang menutup kedua wajahnya yang merona menggeleng cepat, "Jangan tanya Nad. Nad lagi gak bisa nafas."


Kening Gibran mengerut, kenapa lagi istrinya ini? Memilih abai, Gibran kembali melanjutkan membaca buku. Tipe kanebo kering sepertinya memang paham apa tentang tentang perasaan Nadia yang jarang sekali mendapat kata-kata romantis. Sekalinya bicara manis, dianya tidak tersambung. Untung Nadia sayang. Banyak lagi sayangnya.


"Om?"


Gibran mendongak, keningnya makin mengerut melihat Nadia mengangsurkan tangan kanannya dengan ibu jari dan jari telunjuk saling menyilang.


"Minta uang?"


Bibir Nadia yang tadinya melengkung sempurna langsung lurus, "Saranghe, Om." ujarnya malas. Ini mau ala-ala drama korea kok malah garing gini.


"Apasih." Gumam Gibran menggeleng samar. Laki-laki itu sama sekali tidak mengerti dan Nadia hanya bisa menghela nafas panjang.


Sudahlah.


***


Gibran baru selesai mengganti ban mobil saat masuk dalam rumah mendapati Nadia memandangi bucket bunga mawar merah yang disimpan bibik dalam vas di sudut ruangan.


"Ngapain?" Gibran menyentuh bahu Nadia dari belakang.


Nadia menoleh dan Gibran langsung dibuat kaget oleh wajah sang istri yang berurai airmata.


"Om Giiiiii--hiks." Nadia menjatuhkan kepalanya di dada Gibran yang ditangkap sigap oleh lelaki itu.


"Ada apa? Hm?" Tanya Gibran lembut. Ia terenyuh melihat nadia menangis seperti ini. Disekanya airmata sang istri dengan penuh kelembutan, "Ada yang sakit?"


Nadia menggeleng. Tangisnya semakin pecah dan terdengar sangat miris bagi siapapun yang mendengarnya. Gibran menjadi khawatir, ia melihat kearah bunga itu mungkin saja ada sesuatu yang mengusik perasaan Nadia tapi nihil.


"Oooom--hiks."


"Hm?"


Nadia mendongak, kedua tangannya melingkar memeluk Gibran, "Nad mau di lamar--hiks."


"Dilamar?" Gibran mengernyit tak paham. Tangannya yang bebas mengusap sudut mata sang istri, "dilamar gimana?"


"Ya dilamar kayak di tivi-tivi. Kayak Gendis juga." Pintanya disela-sela isakannya.


"Tapi kita sudah menikah. Untuk apa lagi lamaran?" Gibran belum selesai kebingungannya. Tolonglah, ini kenapa sudah sah harus melamar lagi. Sudah beranak pinak juga malah. Terus itu Pia yang sudah belajar duduk dimasukin di perut lagi begitu? Ada-ada saja istrinya ini.


"Semua orang yang menikah dilamar, Nad aja yang gak di lamar."


"Saya melamar kamu." Bantah Gibran.


"Kapan? Gak ada tuh. Tiba-tiba aja Nad sah jadi istri Om Gi. Gak seru!" Rajuknya makin tidak jelas.


Gibran menghela nafas pendek, "Ada. Coba Nad ingat-ingat. Saya tidak menyeret kamu kan di depan penghulu?"


Nadia mengangguk polos.


"Coba ingat-ingat dulu apa yang saya katakan waktu itu."


Nadia menurut ia diam, mengingat-ingat kejadian setahun lebih yang lalu. Sekelebat scene terlintas dikepalanya. Saat itu ia baru merayakan ulang tahun ke tujuh belasnya bersama teman-temannya lalu malamnya Gibran datang ke kamarnya tanpa mukkadimah langsung bilang, 'Nadia, kita menikah.'


"Sudah ingat?"


Nadia mengangguk, " Ingat, 'Nadia, kita menikah' gitu Om bilang."


Gibran tersenyum tipis, "Nah, itu lamaran saya. Tepat di hari ulang tahunmu." ucap Gibran yang mau tidak mau membuat Nadia berpikir keras.


"Tapi Nad tidak dapat bunga." Ujarnya sedih.


Gibran menangkup pipi mulus itu, "Nad pilih mana, bunga atau surat nikah?"


Nadia diam sejenak, kepalanya seolah menimang pertanyaan super berat sang suami. Lalu kemudian, "Surat nikah." Ucapnya lirih.


"Pintar. Nad memilih yang tepat. Sudah ada surat nikah kan?"


Nadia mengangguk lagi. Entah kenapa ia sekarang bisanya cuma mengangguk. Tapi omongan Gibran memang benar adanya. Tapi---


"Sayang, dengar. Saya tidak memberi Nad bunga bukan karena saya tidak mampu atau tidak ingin. Tapi saya ingin menawarkan sesuatu yang lebih dari sekedar benda saat mengatakan keinginanku menikahimu, yaitu janji langsung di depan Allah untuk membahagiakanmu, membimbingmu, menjagamu sampai jodoh kita selesai. Kalau Nad mau bunga, saya bisa membawanya untuk Nad sekarang juga tapi, apa saya saja tidak cukup untuk Nad?"


Airmata Nadia kembali meleleh, "Om lebih dari cukup. Om sudah segalanya untuk Nad. Maafin Nad--hiks."


Gibran tersenyum, menghapus sudut mata Nadia yang basah, "Nad tidak salah. Jangan pikirkan apapun lagi. Kamu memiliki saya sepenuhnya." Direngkuhnya sang istri dalam pelukannya yang dihadiahi banyak kecupan sayang. Gara-gara lamaran gagal kamu, Wa, Nadia jadi menuntut dilamar, awas saja. Gibran kemudian mengurai pelukannya, "Saya ada sesuatu untuk Nad."


"Apa?"


Gibran melepas pelukannya, menggandeng Nadia menuju salah satu lemari tempat menyimpan buku lalu mengambil salah satu amplop disana.


"Buka?"


"Ini apa?"


Gibran mengedikkan bahu menyuruh Nadia membukanya sendiri.


Nadia yang penasaran buru-buru membuka amplop tersebut dan saat ia mengeluarkan isinya, ia menutup mulutnya syok.


"Ini beneran Om? Om gak ngeprank kan?"


"Itu asli."


Mata Nadia membola syok, bahagia dan tak menyangka, sedetik kemudian---


"Yeeeeeeeiii Liburaaaaaaaan!!!"


***


Jadiiiiiii ada yang mau holiday, yipiiiiiiiii


Bentar lagi, bentar lagi nih yaaaa Om Gi dan Nad harus say goodbye. Mereka harus happy ending dalam waktu dekat supaya author bisa konsen sama cerita-cerita yang masih on going.


Yuk dukung mereka di hari-hari terakhir.


🤗🤗🤗