
“Om mau ngapain sih kok dari tadi ribet?!tumbenan bangat deh.”
Gibran hanya melirik Nadia sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya hilir mudik sembari bertelfon entah dengan siapa yang pasti Nadia tiba-tiba pusing melihatnya. Tidak biasanya Gibran sibuk dengan hpnya saat berada di rumah. Sangat bukan Gibran.
"Baik, make sure tidak ada yang salah. Saya mau semuanya sempurna.” Ujar laki-laki itu semakin membuat sang istri penasaran.
"Om Giiiiiii” Rengek Nadia kala tak kunjung mendapatkan perhatian dari Gibran. Nadia gak suka diabaikan apalagi oleh lelaki se-hot Gibran Al Fateh. Ayolah, seharian di kampus bertempur dengan materi kuliah, dosen yang banyak maunya dan teman kelasnya yang banyak keponya berharap di rumah dapat belaian manja dari si kesayangan malah disuguhi dengan kesibukan yang tak berjudul ini.
"Ooooom” Panggil Nadia lagi kali ini durasinya lebih panjang pertanda siaga dua.
”Hm?”
”Mau nyandeeeeer, mau dipeluuuuuk, mau disayaaaaaang.” Ungkap Nadia merentangkan kedua tangannya manja.
Tanpa berkata-kata Gibran duduk di sofa lalu membiarkan Nadia nemplok begitu saja sedangkan ia kembali sibuk dengan hpnya. Tangan kirinya yang bebas diraih Nadia agar merangkulnya erat.
"Elus-elus rambut Nad doooong” Kalau sudah mode Pia minta ASI ini memang kadang Gibran rasanya mau mengarungi saja istrinya, menggemaskan sekaligus menyebalkan. Gibran lantas mengelus lembut rambut sang istri sesuai pesananan. Dan yang sedang dielus-elus girang bukan main. Ini nih yang gue butuhin dari tadi.
”Om lagi banyak kerjaan ya?”
Tak ada sahutan. Nadia mendongak hanya untuk melihat wajah serius sang suami menatap gawainya. Ck, gak sukaaaaa.
Nadia mendengus. Kesal tak tanggung-tanggung. Ia ingat cara ampuh mengalihkan dunia seorang Kapten Gibran Al Fateh. Dengan pengetahuan dasarnya tentang sang suami, ia mulai bergerak mengecup leher Gibran dan benar saja baru saja satu kecupan lelaki itu mulai terusik. Ia memincing menatap sang istri.
"Mau nakal?”
Nadia menyengir, ”Mana ada. Nad kan anak baik-baik.”
Ya anak baik-baik yang suka lupa diri. Gibran mengangguk-ngangguk kecil.
”Jadi anak baik-baik ini mau apa?” Tanyanya sembari mengecup sisi kepala Nadia yang moodnya sudah membaik,meletakan hpnya begitu saja. Secepat itu. Ya sekali lagi dia hanya butuh disayang-sayang seperti ini.
"Jangan nyebelin. Jangan nyuekin Nad.” Ujar Nadia terdengar persis seperti anak kecil yang sedang laporan pada ibunya. Sepertinya manjanya Nadia sedang tidak normal. Mungkin ia harus memastikan sesuatu.
"Nad bulan ini sudah belanja pembalut?”
Nadia menggeleng, ”Masih banyak stok.” jawabnya tak mengerti arah pembicaraan Gibran.
“Seharusnya kan minggu kemarin sudah belanja seperti biasanya. Bulan ini juga Nad belum haid.”
Nadia meluruskan punggung merenggangkan pelukannya menatap lalu Gibran penasaran ”Kok om tau?”
”Taulah. Sebulan ini hampir tiap malam kita tidak absen melakukannya.” Ujar Gibran enteng sementara di sampingnya Nadia sudah bersemu merah. Astagaaa serutin itu?Duh, Nadia menangkup pipinya. Jadi pengen--eh malu kaaaan.
"I-iya sih.” cicitnya lalu kembali menyembunyikan wajah di dada Gibran, ”Jangan dibahas, Nad malu.”
Gibran mengernyit. Ngapain malu, sudah sah ini kan. Dasar Nadia. ”Kenapa harus malu, menyenangkan suami hitungannya pahala.” ucapnya mengacak rambut wangi Nadia.
”Om senang?” Tanya Nadia malu-malu mengintip wajah Gibran. Ya gimana ya, mau sesering apapun mereka melakukannya terkadang Nadia masih insecure dengan kemampuannya melakukan kewajibannya diatas ranjang. Amatiran lah ya. Untungnya ketemu laki-laki model Gibran yang diluarnya alim diatas ranjang sangat liar dan selalu berhasil membuat anak sepolos Nadia lupa akan dirinya. Dan beruntungnya Nadia sebab Gibran begitu sabar mengajar dan menuntunnya. Ah, memikirkannya saja membuat Nadia jadi pengen menceburkan diri ke sungai saking panasnya.
"Sangat senang dan---” Gibran menahan kalimatnya tepat di telinga Nadia, ”sangat puas.” lanjutnya mengantarkan getaran-getaran halus ke perut Nadia yang kupu-kupunya mulai mengepak-ngepak siap berhamburan.
"Apalagi saat Nad---”
”Shhhht diem!Gak usah dijelasin lagi.” Ucap Nadia menutup mulut Gibran dengan telapak tangannya, ”Jangan disebut-sebut. Nad malu.” Aku Nadia yang jawab anggukan setuju oleh Gibran. Perlahan tangannya turun namun Gibran menahannya dan menciumnya lembut.
"Besok sore ikut saya ya?”
"Kemana?”
"Ikut saja nanti juga tau.” Ujar Gibran sekali lagi mengecup tangan lembut sang istri.
"Nad penasaran. Gak bisa bobo kalau Om gak ngasi tau.” Nadia meluruskan badannya. Tipe manusia penasaran seperti dirinya memang paling anti dengar kalimat nanti juga tau, ”Bisikin Nad.” Nadia memasang telinganya yang bukannya mendapat bocoran informasi malah mendapat gigitan yang berujung panjang dari sang suami karena akhirnya sofa di depan tv lagi-lagi menjadi saksi bisu kemesraan pasangan suami istri itu.
。
。
Gibran tahu bahwa sesuatu yang berlebihan tidaklah bagus tapi ia tidak berdaya, ia begitu mencintai gadis cantik yang kini tengah bergelung nyaman dalam pelukannya, Nadianya, kekasih hatinya dan Ibu dari anaknya. Gibran tak akan pernah berhenti bersyukur kepada Tuhan karena telah dijodohkan dengan Nadia meskipun dengan cara yang sedikit tidak biasa. Memang cara Tuhan tak akan pernah bisa ditebak oleh makhluknya. Gibran yang mengira pernikahannya tidak akan beda jauh dengan kebiasaannya mengurus Nadia sebagai wali ternyata ia mendapatkan banyak bonus dengan kedewasaan Nadia yang tak diduga-duganya. Meskipun tak dipungkiri bahwa gadis cantiknya itu tak jarang bersikap manja di waktu-waktu tertentu. Tapi bukankah itu nikmatnya menikah dengan seorang Nadia?
"Euuungh" Nadia melenguh dan Gibran langsung menepuk-nepuk punggungnya memberikan kenyamanan pada gadisnya yang sudah seharian ini bersikap seperti anak kucing yang senang di elus-elus.
Saat Gibran merasa gelisah karena harus berpisah dengan kedua gadis manisnya, Nadia malah sangat bersemangat merancang hari libur berkedok mengunjunginya dengan memperbanyak referensi tempat asik dan menyenangkan sembari tetap nyaman berada dalam rengkuhannya hingga terlelap.
"Masyaaa Allah ganteng bangat suami Nad." Gibran menunduk saat suara serak Nadia menyapa indranya khas orang baru bangun tidur.
Gibran tersenyum lalu menyarangkan kecupan sayang di kening Nadia, "Ganteng?" Nadia mengangguk cepat balas menempelkan bibirnya di bibir Gibran.
"Manis juga. Nad suka." Lanjutnya menjauhkn sedikit wajahnya sembari balas memeluk pinggang Gibran.
"Nad juga manis." Gibran gantian menempelkan bibir mereka dan ********** sesaat, "Saya suka." ucapnya mengikuti ucapan Nadia.
"Itu kalimat Nad tauk." Ujar Nadia manyun, pura-pura sebal. Wanita muda yang hanya mengenakan baju kaos tanpa dalaman itu bangun disusul Gibran yang menyandarkan punggungnya dikepala ranjang.
"Eeeh Nad gak pake dalaman." Ujarnya menyengir melihat arah tatapan Gibran.Perlahan ia menaikan selimut menutupi setengah badannya. "Aurat."
Gibran menyipit. Aurat? Ada-ada saja. Selepas ashar tadi mereka menghabiskan mereka habiskan dengan saling memuja dan menyentuh melanjutkan kegiatan di sofa. Pia yang manis sangat paham kebutuhan ayah dan ibunya yang tiada hari tanpa bermesraan.
"Mau lagi?" Goda Gibran iseng membuat pola-pola disekitar dada Nadia yang tercetak jelas yang langsung mendapat pukulan di punggung tangannya.
"Jangan mancing deh Om, ini Nad lemah iman kalau udah di raba-raba." Sungut Nadia menyilangkan tangan di dadanya.
"Tidak apa-apa nanti saya kasi lagi.” ujar Gibran enteng yang sukses dihadiahi sundulan di keningnya oleh Nadia.
"Rasain!Rese bangat.”
Gibran mengaduh memegang keningnya lalu setelahnya tertawa renyah melihat wajah manyun sang istri. ”Cantiknya istriku.”
SYIALAAAN SI PENGHUNI RAWA! KAN GEMEEEESH.
Nadia berlari ke kamar mandi dan mengunci diri di dalam. Kalau tidak begitu sudah bisa di pastikan laki-laki yang tengah menggedor pintu itu tak akan membiarkannya mandi dengan tenang tanpa berakhir sekali lagi dengan saling menyentuh. Lebih tepatnya Gibran yang hobi menyentuhnya dimana-mana dan dia dengan senang hati menerimanya.
"Om liat pia gih. Biarin Nad mandi.”
"Mandinya berdua sayang biar cepat, hemat air juga.”
Alah, hemat air dari hongkong?!Yang ada juga boros air karena harus mandi lagi, lagi dan lagi.
"Gak!“ Teriak Nadia lalu segera melanjutkan keinginannya untuk mandi. Lengket bangat setelah pergulatan tadi.
***
”Dek, Ayah ganteng bangat ya?Ibu jadi khawatir ngebiarin Ayah pergi sendiri. Karungin aja kali ya?Gimana Dek?” Nadia bertanya pada Navia yang sepertinya memikirkan hal yang sama seperti ibunya terlihat dari tatapan balita itu tak lepas dari sosok berkaos hitam di balik meja karyawan.
"Kita ikut aja nggak?” Tanya Nadia lagi tapi kali ini diiringi tatapan tajamnya pada dua wanita muda yang terihat kesenangan melihat suaminya yang memang makin meresahkan dengan tampilan casualnya sekarang. Ya Tuhaaaan ujian bangat punya suami tampan, hiks.
“Setuju?” Lanjutnya kali ini tangan yang memangku dagunya mengepal lalu menarik garis di lehernya sendiri sembari tak lepas menatap dua perempuan tadi yang kini pura-pura sibuk dengan hp setelah mendapat ancaman tersirat itu. Mohon maaf saja, yang itu sudah ada pawangnya.
"Yayayaaaa” Navia seolah paham ancaman itu pun tak kalah galaknya mencak-mencak kearah para pengunjung wanita yang bukannya menipis malah makin ramai saja. Nadia harus meminta bayaran lebih pada pemilik kafe ini karena berkat suaminya pengunjung bisa begini banyak. Mana ganteng pake bangat lagi suami gue. Pengen karungin ajaaaaa.
Nadia melambaikan tangan dengan mode anggun saat Gibran menoleh pada mereka. Jangan terlihat sekali ia sedang panik sekarang memikirkan suaminya yang kece badai ini terancam di gasak wanita jahat diluar sana.
Gibran yang baru saja mempraktekan kembali keahliannya yang sudah lama tidak diasah meletakan kopinya di atas nampan dan membawanya menghampiri meja Nadia dan Navia、"Lama?” tanyanya meletakkan nampan diatas meja kemudian mengusap pipi Nadia lembut lalu mengambil Navia keatas pangkuannya.
Nadia menggeleng sembari tersenyum lebar, ”Gak lama kok. Nad kan sabar. Pia juga.” Ucapnya mengedip pada Navia yang perhatiannya langsung teralihkan oleh jam tangan Ayahnya.
”Terima kasih sayang. Coba kopinya.” Gibran mendorong satu gelas kopi lebih dekat kearah Nadia. Wangi kopi menguar mengisi indra penciuman Nadia.
"Huuum wangiiii.” Puji Nadia membaui aroma kopi yang menguar dari gelasnya. Ia lalu menyesap kopi tersebut dengan hati-hati.
"Enak?”
Nadia mengangguk meletakkan gelas kopi tersebut, ”Bangat. Om belajar dimana?Nad baru tau Om bisa bikin kopi.” Ia menyesap sekali lagi kopinya.
”Waktu dinas di Aceh.” Jawabnya. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut di belakang telinga Nadia yang hampir menyentuh minumannya.
"Latte art bisa?”
”Sedikit.”
Nadia mengangguk-angguk、”Ajarin Nad.” katanya sungguh-sungguh. ”Nad mau bikinin Om kopi yang diatasnya ada gambar love.”
"Siap.” Gibran mengusap puncak rambut Nadia yang terlihat begitu menikmati kopi buatannya sementara di atas pangkuannya Navia begitu anteng memainkan kalung khas milik para tentara. Gibran tersenyum kecil, membayangkan dirinya harus melewatkan beberapa momen tanpa kedua gadis kesayangannya ini membuat hatinya tak nyaman. Mereka pasti bisa melewatinya kan?
”Oh ya, Om bilang mau ajak Nad ke suatu tempat. Ini udah sore loh. Janji Om kemarin Nad tagih.”
"Habiskan dulu kopinya.”
Nadia meneguk kopinya, ”Udah. Nad gak sabar.” Ujarnya berdiri dari tempat duduknya lalu mengambil tas barang-barang Navia dan tas miliknya sendiri. Gibran pun berdiri lalu mengambil alih tas Pia sebagaimana kebiasan mereka setiap jalan bertiga.
Nadia berdiri di samping Gibran dan dengan elegan menggandeng mesra sang suami tak lupa menambahkan sedikit sentuhan manis untuk membuat para wanita bermata jelalatan melihat kemesraan merek、 ”Yuk, sayang.”
***
"Sangat cantik.”
Nadia menatap pantulan dirinya melalui cermin. Seperti kata Gibran, sangat cantik. Ya dia pun mengakui dirinya cantik tapi kali ini ia benar-benar terpukai dengan dirinya sendiri yang dibalut sebuah gaun panjang berwarna putih menjuntai ke bawah yang membuatnya begitu mempesona.
“Terima kasih sudah mau menikah dengan laki-laki kaku ini.”
Nadia menoleh dan mengangkat sedikit wajahnya untuk beradu tatap dengan Gibran yang kini memeluknya dari belakang.
Cup. ”Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku.” Ucap laki-laki itu lagi setelah mendaratkan kecupan di bahu terbukanya. Nadia kembali melihat kedepan menatap bayangan mereka berdua. Ia tak bisa berkata-kata setelah mendapatkan kejutan yang begitu manis ini. Sebuah foto pasca wedding. Nadia bahkan tak sedikitpun terlintas memiliki foto-foto seperti ini karena foto prewedding yang ia miliki hanyalah foto berlatar merah memakai baju keanggotaan sebagai calon istri seorang prajurit dengan gaya kaku yang persis foto KTP mendampingi Gibran yang tak kalah kaku. Mereka bahkan tidak tersenyum di foto itu.
"Maaf karena tidak memberikan acara pernikahan sesuai yang Nad impikan. Tidak ada princess, tidak ada castle dan tidak ada pangeran, hanya seorang laki-laki biasa datang dengan sebuah perintah bukan permintaan. Maaf.” Gibran sekali lagi mengecup pundak Nadia.
Nadia yang sejak tadi matanya berembun langsung balik badan memeluk Gibran erat, ”Gak apa-apa. Nad senang dinikahi Om Gi. Nad gak butuh castle dan pangeran untuk menjadi seorang princess karena Nad udah punya Om Gi. Nad hanya mau mendampingi Om Gi saat sakit dan senang. Nad sayang Om Gi. Terima kasih. Nad senang-hiks.” ia terisak dalam pelukan Gibran. Hatinya menghangat. Untuk ukuran laki-laki yang jauh dari kata romantis, mendapatkan kejutan pasca wedding sangatlah luar biasa. Nadia bahkan tak memikirkan apapun. Ia sudah lupa bagaimana pernikahan impiannya tapi Gibran mengingatkannya. Ia pernah membayangkan sebuah pernikahan yang mewah bak princess dimana pangeran berkuda putih akan menjemputnya untuk bersama naik diatas kereta kencana. Tapi setelah menikah dengan Gibran dan merasakan begitu banyak cinta yang diberikan oleh lelaki itu, tak ada lagi pernikahan impian karena yang ada hanyalah menjadi Nyonya Gibran, hidup bersama laki-laki itu sampai ia lupa pada namanya sendiri.
"Jangan menangis.” Ucap Gibran mengecup puncak kepala Nadia. Ide ini muncul sejak lama. Ia ingin memberikan kenangan yang baik untuk Nadia agar kelak ketika Navia dan calon adik-adiknya besar bisa menceritakan pada mereka betapa sayangnya seorang Gibran padanya.
"Ini tuh air mata bahagia Om-hiks.” Isak Nadia mengusap sudut matanya. Untung saja make up nya anti air jadi ia tak perlu khawatir riasan yang dibuat hampir dua jam itu tidak berantakan.
"Terima kasih karena Nad sudah bahagia.”
"Sama-sama. Hiks.” Nadia melepas pelukannya lalu mengalungkan tangan di leher Gibran. ”Gak peduli sejauh dan selama apapun Om Pergi, Nad akan selalu tunggu Om. Nad dan Pia akan selalu ada di rumah menunggu Om Gi pulang.”
Gibran menatap Nadia lama lalu perlahan menunduk lalu meraup bibir merah itu dengan bibirnya dan menyesapnya lembut dan dalam. Sebagai seorang prajurit Gibran tahu dirinya tak bisa selalu berada disamping istri dan anaknya tapi seperti Nadia yang akan selalu menunggunya, Ia akan melakukan yang terbaik dan pulang ke rumahnya, pelukan Nadia.
Keduanya berciuman cukup lama sampai kemudian Nadia melepaskan diri karena nafasnya hampir habis.
"Om ciumnya semangat bangat.” Ujar Nadia dengan nafas sedikit tersengal.
"Kamu manis. Saya suka.” Ucap Gibran menyeka bibir Nadia yang tampak sedikit bengkak dan lebih merah akibat ulahnya. Nadia tersenyum kecil. Kedua tangannya masih mengalun di leher Gibran untuk menahan beban dirinya akibat ciuman tadi sedangkan kedua tangan Gibran memeluk pinggangnya mesra.
"Om--”
"Hm?”
"Nad mau ngomong.”
"Mau bicara apa?”
"Pia bakal punya adik.”
"Oh--“ beberapa detik berlalu dan kemudian ”HAH?!”
****
END ❤❤❤❤
Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian purnama Kisah Om Gi dan Nad sampe kata End juga.
Terima kasih sudah mengikuti perjalanan dua insan ini.
Terima kasih karena sudah mencinta mereka.
Terima kasih sudah menyemangati saya nenyelesaikan kisah mereka.🌹🌹🌹
Cantik ya ibunya Pia
Gimana gak dilirik kalo senyumnya Ayahnya Pia semanis ini