
Ini gue yang sial apa emang Om Gi punya bau khas yang bisa menarik para ular mendekat yak? Kemana kaki melangkah ada aja yang ngintilin. Asem!
"Kapten, Bu, Gak nyangka bisa ketemu disini."
"Heeemmm" Nadia mendengus masam mengambil tangan Gibran yang bebas dan mengalungkannya di leher. Di depannya Prada berdiri kegirangan seakan melihat berlian yang diinginkannya tepat di depan mata. Om gue, uleeeer!
"Tante ngapain sih ada dimana-mana, udah kayak iklan sedot WC aja! Ganggu bangat." Nadia mendumel mengabaikan peringatan Gibran lewat elusan di lengannya.
"Ini tempat umum, jadi kalau ketemu bukan salah saya." Balas Prada mengulas senyum tipis, pencitraan. Padaha tadi ia mau latihan menembak tapi maminya malah mengajaknya belanja, eh ketemu Kapten Gibran Al Fateh dong.
"Apa kabar Lettu?"
"Dih!" Nadia mendelik tajam pada Gibran yang sempat-sempatnya menyapa. Ramah bener udah kayak SPG.
"Baik, Kapten. Kapten apa kabar?"
"BAIK! TANTE BISA LIAT SENDIRI KAN?!"
"Nad--" Gibran memperingatkan.
"Apa sih? Udah, kalau mau kangen-kangenan, Nad mau pulang saja. Urus aja tante Prada!" Nadia melepaskan rangkulan Gibran di lengannya lalu berbalik meninggalkan dua orang yang sedang temu kangen. Nadia menoleh ke belakang, Gak di susulin anjiiiiir.
Prank!
"Argh! Pake mata kalau jalan!" Nadia memungut hpnya yang terpelanting di lantai karena di tubruk seseorang, nyebelin ah, alam semesta seolah berkonspirasi membuatnya kesal hari ini. Niat nge-date malah gini. Mending tidur di rumah saja.
"Nad?"
Nadia mendongak. Ada Vano di depannya tersenyum cerah secerah mentari pagi. "Hai Vano." Nadia melambaikan tangan malas.
"Hai Nad, lo gendutan ya sekarang?" Vano menelisik Nadia dari ujung kaki ke ujung kepala dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya, "Makin ngegemesin." lanjutnya dengan mata hampir menutup tiap kali ia tersenyum.
Nadia menyengir, Gue hamil dodol "Iya."
"Gue denger lo lulus di UI ya? Samaan dong kita. Bisa ngampus bareng. Gue juga di bisnis."
Nadia melongo, ini beneran gak ada orang lain sampai harus ketemu Vano lagi? Bukannya apa-apa sih, dia hanya malas kalau berurusan dengan para bucin sejenis Vano yang di tolak berkali-kali tetap saja mukanya tebel udah kayak make up nya joker.
"Ah iya, ya?! Gue gak tau." Nadia menoleh kebelakang berharap ada Gibran tapi sepertinya Om ganjen itu sedang melepas rindu dengan asistennya. Bagus sekali, sekalian saja di mutasi ke kutub tuh orangtua, kesel bangat.
"Soal yang tadi gue minta maaf ya. Gak sengaja. Hp lo gak apa-apa kan?" Vano bertanya khawatir.
Nadia menggeleng "It's ok."
"Eh, lo mau balik? Makan dulu yuk, ada tempat baru di--"
"Sayaaang, kamu disini?"
Nadia terhenyak. Gibran datang dan langsung memeluknya dengan posesif. "Siapa? Teman kamu?" Tanya Gibran basa basi karena dari jauh ia sudah mengenali cowok di depannya adalah cowok yang ada dalam foto bersama istrinya. Nadia berusaha meloloskan dari namun belitan Gibran dipinggangnya seperti lem mati yang tak bisa dilepas dengan mudah.
"Om nya Nad kan? Kok--" Vano menatap bingung dengan pemandangan aneh di depannya. Setahunya Nadia hanya memikili seorang ayah asuh yang biasa di panggil Om tapi kalau Om modelan mepet, meluk posesif gini apa tidak masuk kategori insect ya? Astaga, gak mungkin.
"Gibran, Suami Nadia."
"What the--" Nadia menatap Gibran tak percaya, lelaki itu dengan lugas mengulurkan tangan pada Vano mengenalkan status dirinya. Bukannya tidak boleh ketahuan? Lah kenapa jadi diumumkan gini? Nadia meringis membalas tatapan selidik Vano yang menuntut penjelasan darinya.
"Yeah, Om gi suami gue." Ucap Nadia pasrah. Terserah lah setelah ini mau ada gosip apapun juga, like I care aja. Nadia melirik Gibran yang tersenyum tipis padanya. Puas?
"Yuk, katanya mau belanja untuk adek bayi."
Belanja apaan? Nadia mengerutkan kening. Perasaan tidak ada pembahasan soal belanja peralatan bayi. Nadia memutar bola mata malas saat melihat tatapan Gibran pada Vano, sepertinya kesengajaan untuk menegaskan diri. Ckck.
"Van, kami jalan dulu ya. Nanti dilanjut obrolannya."
"Gak ada lanjut ngobrol." Potong Gibran cepat lalu tanpa menghiraukan wajah Vano yang belum sadar dari keterkejutannya mengetahui gadis impiannya sudah menikah dan bahkan hamil, Gibran langsung membawa Nadia pergi dari tempat itu.
"Ngapain ngobrol sama cowok?" Cerca Gibran dingin. Nadia yang masih dalam mode kesal gara-gara Prada menghempaskan tangan Gibran dari pinggangnya.
"OM NGAPAIN SAMA TANTE PRADA?" Balas Nadia kesal yang mengundang perhatian orang-orang yang lewat karena teriakannya. Gibran langsung menutup mulut Nadia dengan tangannya.
"Gak usah tereak. Malu diliatin."
"Pueeeh!!!Bodo!" Nadia menjauhkan tangan Gibran dari mulutnya.
BUGH!!!
Nadia memukul bahu Gibran dengan tas kecilnya. "Nyebelin! Pergi sana sama tante Prada. Sekalian ajak tante Elsa biar reunian. Rame tuh, orang gangguan jiwa semua." ujarnya kesal. Matanya mulai berkaca-kaca, kesal acara kencannya yang ia pikir akan bersenang-senang malah dibuat emosi sepanjang acara.
Gibran menahan tangan Nadia, "Maaf."
"Maaf aja teros sampe onta nyebrang ke kutub. Nad kesal Om, keseeeel!" Nadia menghentakan kakinya tak memghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan kening mengernyit.
"Oke. Sekarang Nad mau kemana? Om turutin semua." Gibran sebagai tertuduh dan tersangka hancurnya mood nadia akhirnya mengalah.
Nadia memincingkan mata tertarik, "Semuanya? Kemana aja?"
Gibran mengangguk ragu-ragu, "U-um ya. Kemana aja." semoga saja Nadia tidak mengajaknya ke tempat aneh-aneh. Soalnya istrinya ini punya otak unik yang bisa memikirkan banyak cara untuk bersenang-senang versinya.
.
.
.
"Disini?" Gibran melirik Nadia yang mengangguk senang di sampingnya. Mereka sedang berada di area pekuburan umum tepatnya dimana kedua orangtua Nadia dikubur. Padahal Gibran sudah berpikir jauh tentang tempat yang ingin dituju Nadia. Ternyata Gadisnya hanya ingin melihat orangtuanya.
"Nad kangen ayah bunda." Ujar Nadia dengan bibir bergetar. Ia selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis mengingat dua orang kesayangannya itu. Gibran mengangguk, mengusap punggung tangan Nadia yang ada dalam genggamannya dengan jari jempolnya.
"Sering di doain kan?" Tanya Gibran yang langsung mendapat anggukan dari Nadia.
"Selalu."
Gibran tersenyum, mengelus rambut Nadia dengan tangan kanannya yang bebas. "Nad sudah jadi gadis hebat. Mereka pasti bangga."
"Bukannya kata Om, Nad bandel ya? Nakal, suka ngumpet, kasar, terus--"
"Terus cinta mati sama Om?" Gibran menyela. Di cubitnya pipi Nadia yang langsung manyun mendengar ucapan Gibran yang benar adanya.
"Iya, Nad cintanya setengah mati. Om cintanya setengah hati. Gak adil bangat kan?"
"Ngapain?" Tahan Gibran.
"Ada uban rontok." Ujar Nadia asal. Ia lantas terkekeh melihat wajah terkejut Gibran. Uban ya Allah, tua bangat suami Nad. Untung sayang. Hihi.
"Beneran uban Nad?"
Eh?
Gibran menunduk di depan spion mobil untuk meliha rambutnya yang kata Nadia mulai beruban.
Nadia menggeleng, tersinggung lho dia. Niatnya kan cuma bercanda "Khm, enggak Om. Nad cuma bercanda." dielusnya punggung Gibran dengan lembut.
Gibran melirik Nadia dengan sudut matanya, "Serius juga tidak masalah. Makin ganteng ini."
"Dih pede bangat ih!" Nadia bergidik ngeri, menjauhkan diri dari Gibran yang menaikan salah satu alisnya jumawa. Kesambet setan ganjen kalik Omnya ini. Nadia bergegas meninggalkan Gibran masuk ke area pekuburan. Pohon bunga Kamboja menjadi penanda letak kuburan orangtuanya diantara nisan yang semuanya hampir sama.
"Assalamualaikum Ayah Bunda." Nadia mengusap dua nisan itu dengan penuh kerinduan. Randi Matthew Gaudia dan Syakila Maharani. Dua orang yang paling berharga dalam hidupnya yang kini hanya tinggal kenangan.
"Ayah, Bunda, Nad datang." Suara Nadia bergetar. Senyum hangat dua orang tuanya terbayang saat kali terakhirnya ia melihat keduanya melambaikan tangan padanya pagi itu. "Nad kangen, hiks." Nadia menoleh saat seseorang menyentuh bahunya. Gibran tersenyum lembut, menarik Nadia dalam pelukannya.
Mbak, Bang, Nadia bersama Gibran. Tenanglah disana.
"Udah kirim doa?"
Nadia menggeleng, "Belum. Nunggu Om."
Gibran mengangguk, "Kita doa dulu supaya Ayah dan Bunda Nad dilapangkan kuburnya." Ucap Gibran mengangkat kedua tangannya diikuti oleh Nadia.
Selesai berdoa dan menaburkan bunga pada makam kedua orangtua, Nadia dan Gibran memutuskan untuk beristirahat sejenak di mobil sembari menikmati beberapa buah yang di beli dari para penjual di sekitar pemakaman.
"Om gimana ceritanya bisa kenal ayah bunda? Temen atau gimana? Kalau temen kayaknya Om kemudaan deh. Iya nggak sih?" Nadia berujar sembari mengunyah jeruk yang dibuka-bukakan oleh Gibran.
"Memang teman. Senior Om di SMA dulu. Sering ketemu juga di panti."
"Panti?" Nadia menghentikan kunyahannya. Ini informasi baru yang ia ketahui tentang Gibran.
Gibran mengangguk, "Yap. Om dulu tinggal di panti. Ayah dan Bunda kamu sering kesana ngasi donasi. Ya begitulah seterusnya, kenal trus akrab dan--"
"Dan apa?" Tanya Nadia penasaran.
"Om di adopsi keluarga Gaudia untuk Teman main bang Randi, Ayah Nad."
"Sinetron bangat. Om becanda kan? Mana ada yang kayak gitu di dunia nyata." Nadia membuang jeruk dari mulutnya kedalam plastik yang disiapkan Gibran.
"Serius, ck, ini makannya belepotan." Gibran menyeka sudut bibir Nadia dengan ibu jarinya.
Nadia menggenggam tangan Gibran membuat laki-laki itu terpaku dengan kening bertaut.
"Om gak ada keluarga? Keluarga bapak atau ibu Om misalnya."
Gibran menggeleng, "Gak tau. Om cuma tau panti." jawabnya dengan senyum miris. Nadia yang melihat raut sedih di wajah Gibran langsung bergerak memeluknya.
"Om sekarang punya Nad."
"Iya, Om tau. Eh, kok nangis? Nad--"
"Hiks, Nad sedih tauk Om. Malu sama Om. Selama ini Nad ngeluh banyak seolah-olah Nad udah paling menderita di dunia ini. Suka bangat nyalahin takdir karena ditinggalin Ayah dan Bunda padahal Om, Om bahkan gak tahu siapa keluarga Om, hiks."
Gibran menyeka sudut mata Nadia yang basah, "Udah gak apa-apa. Wajar kalau Nad sedih asal jangan sampai menyalahkan Allah. Om gak sedih karena Om tidak memiliki kenangan apapun dengan mereka jadi Om biasa aja." Ujar Gibran lembut. Dibawanya Nadia diatas pangkuannya, membiarkan istri kecilnya itu menangis sepuasnya di dadanya.
"Maafin Nad, Om. Maaf gak tau apa-apa tentang Om. Nad taunya menuntut ini itu tanpa memikirkan perasaan Om, hiks. Maafin Nad ya Om." ujarnya mendongak dengan mata basah.
Gibran terkekeh, menepuk pipi Nadia lembut, "Bukan salah Nad. Udah jangan menangis. Nanti orang pikir Om apa-apain Nad lagi."
Nadia menggerutu, "Emang. Om udah bikin Nad jadi istri gak tau diri."
"Loh, gak lah Nad. Om gak pernah mikir seperti itu."
"Iya, makanya Nad sayang bangat sama Om. Om tulus bangat jadi orang. Tapi pernikahan kita bukan karena Om mau balas budi kan sama Keluarga Nad? Gak kan Om? Om sayang Nad kan?"
"Mau ulang ini lagi?" Gibran bertanya malas.
"Jawab aja Om. Nad gak marah kok walaupun itu benar." Volume suara Nadia mengecil diakhir kalimatnya. Bener gak apa-apa Nad? Nadia mengucek hidungnya yang tak gatal. Jangan sampai cuma balas budi ya Allah, Nad udah baper bangat.
"Iya."
Nadia tersentak. Ia menatap Gibran yang kini menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Kedua mata Nadia mengerjap, menghalau airmata yang siap mengucur.
"O-om serius? N-nad hanya ba-balas budi?" Suara Nadia tercekat di tenggorokannya. Tidak ada kejahilan dimata Gibran, berarti ia benar-benar serius. Pernikahan ini berlandaskan balas budi semata. Nadia buru-buru menyeka airmata yang mengalir di pipinya.
Gibran menangkup kedua pipi Nadia, menatap dalam netra bening itu, "Nad bilang tidak apa-apa kan? Kenapa menangis?"
"Hiks, ma-maaf." Nadia buru-buru hendak turun dari pangkuan Gibran namun tangan laki-laki itu menahannya.
"O-om Nad--"
Cup.
Nadia mengerjap bingung. Gibran baru saja menciumnya.
Cup cup cup...
Gibran mencium bibir Nadia berkali-kali membuat airmata gadis itu mengalir deras. Ia menutup matanya kuat-kuat, tidak sanggup menerima kenyataan yang baru di dengarnya.
"Buka mata Nad!" Ujar Gibran dengan suara beratnya. Nadia menggeleng.
"Ayo buka!"
Nadia yang sudah diujung tanduk perasaannya membuka matanya yang langsung di kunci oleh mata kelam Gibran. Laki-laki itu menyentuh bibir bawah Nadia.
"Nad memang balas budi--" Gibran mengusap pipi Nadia lembut, "Nad adalah balas budi Gaudia pada Om. Om sudah melakukan banyak hal untuk Gaudia. Jadi sebagai balasan, mereka memberikan Nadia untuk Om. Satu-satunya yang berharga di hidup Om. Satu-satunya gadis kecil yang membuat Om harus memeriksakan diri ke psikiater karena mencintai seorang bayi kecil mungil. Menginginkan seorang gadis kecil untuk hidup Om." Gibran menutup kalimatnya dengan kecupan panjang di kening Nadia.
"I Love you Nadia Gaudia Rasya. I love you more than everything in this world."
***