
"Bik, Nadia mana?" Gibran turun dari tangga menghampiri bibik yang sedang beberes di dapur. Sudah hampir jam sebelas malam, ia harus segera berangkat ke bandara atau tidak ia akan terlambat. Perjalanan dari rumah besar ke bandara cukup jauh memakan waktu hingga dua jam lamanya jika jalanan macet dan di jam-jam sekarang, orang yang bekerja lembur tentu saja sedang dalam perjalanan pulang.
"Saya tidak melihat Non Nadia sejak makan malam tadi, Pak." Jawab Bibik meninggalkan sejenak pekerjaannya di dapur.
Gibran menghela nafas panjang. Ia baru saja selesai mandi, berpamitan pada Pia yang sedang tertidur lelap dan saat kembali ke kamar, gadis cantiknya yang sejak kata kangmas meluncur dari mulutnya mulai melupakan keinginan untuk memberikan nama baru untuknya sudah tidak ada disana. Hanya tas ransel hitam miliknya sudah disiapkan oleh Nadia yang diletakkan begitu saja diatas meja.
"Dimana anak itu?" Gibran bergumam resah melirik jam di pergelangannya. Ia tidak bisa lebih lama lagi menunggu. Sudah waktunya berangkat tapi Nadia? Ah, gadis nakal itu selalu saja berulah disaat-saat yang tidak diinginkan. Gibran berjalan menuju ruang tengah dimana Nadia biasa menghabiskan waktu tapi disana tidak ada siapa-siapa, hanya suara televisi yang sedang menayangkan sinetron favorit bibik dan mbak yang memenuhi ruangan luas itu.
Kembali ke lantai dua, Gibran mengambil tas ranselnya dan menemukan hp Nadia dan saat menyentuh layarnya muncullah gambar-gambar es krim dengan berbagai varian rasa. Lagi-lagi Gibran menghela nafas berat. Nadia pasti ke mini market 24 jam yang ada di depan jalan padahal tadi sore ia merengek ingin ikut mengantarnya. Gibran mencangklok tas ranselnya, kemudian kembali ke kamar Pia untuk berpamitan lagi pada si kecil kesayangannya.
"Pia, ayah kerja ya sayang. Jadi anak cantiknya ayah dan Ibu yang pintar." Dikecupnya kening Pia cukup lama, "Assalamualaikum sayang, tunggu ayah pulang." ucapnya sembari mengusap lembut pipi gembul Pia. Rasanya selalu berat saat harus meninggalkan orang-orang yang disayangi tapi mau bagaimana lagi, bagi tentara seperti mereka tugas berada diatas kepentingan pribadi dan golongan. Tugas tetaplah tugas yang harus ditunaikan. Setelah puas merekam wajah cantik putri kecilnya, Gibran meninggalkan kamar Pia untuk segera berangkat ke bandara.
"Bik, kalau Nadia sudah kembali, tolong sampaikan kalau saya sudah berangkat."
"Memangnya Nona muda kemana, Pak?"
"Sepertinya ke mini market depan." Jawab Gibran sambil mengetik pesan singkat untuk sang istri. Pulang dari mini market, Nadia bisa langsung membaca pesannya.
Bibik mengangguk, "Baik, Pak."
"Terima kasih, Bik. Titip Nad dan Pia." Ucap Gibran. Ia sudah menyimpan kembali hp dalam tasnya.
"Pasti, Pak. Kami pasti menjaga Nona muda dan Nona kecil."Bibik menenangkan.
"Terima kasih, Bik. Saya berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Gibran melangkah lebar keluar rumah. Di depan mobil Mang sudah menunggu dengan sebatang rokok disela-sela jarinya. Lelaki paruh baya itu langsung mematikan rokoknya saat melihat majikannya keluar menenteng tas ransel.
"Berangkat, Pak?" Tanya Mang sembari mengambil alih tas Gibran yang sebenarnya tidak perlu sama sekali.
"Iya, Mang. Takut macet di jalan."
Gibran kembali melirik jam dipergelangannya. Ia ingin menunggu Nadia, setidaknya berpamitan langsung pada gadis itu. Ia melihat kearah jalanan tapi tidak ada ciri-ciri Nadia akan segera kembali.
"Ibu belum kembali, Mang?"
"Ibu?" Mang melirik ke bangku belakang bingung akan pertanyaan majikannya, "Ibu di dalam, Pak."
Hm?
"Di dalam?" Gibran melihat kearah lirikan Mang. Lantas segera membuka pintu mobil bagian samping dan menemukan istri kecilnya yang dicari sejak tadi bergelung tak nyaman di jok belakang mobil memeluk boneka beruangnya.
Gibran menghela nafas gusar. Ia masuk dalam mobil menyusul Nadia, mengusap sayang rambut sang istri "Ibu sudah lama disini, Mang?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari wajah lelap Nadia.
"Sudah dari sejam lalu, Pak." Jawab Mang yang sudah duduk dibalik kemudi. Pria paruh baya itu menyalakan mesin mobil dan keluar dari halaman rumah.
Gibran terenyuh. Kedua tangannya menarik Nadia dalam pelukannya, menyandarkan kepala Nadia di dada bidangnya. Tangan besarnya mengelus lembut rambut Nadia. Tampak sekali istrinya itu sedang lelah setelah hampir sepanjang hari mencari ide untuk memberikannya sebuah panggilan walaupun bagi Gibran sendiri hal itu tidak begitu penting karena apapun panggilan Nadia untuknya tetap saja tidak akan merubah statusnya sebagai suami Nadia Gaudia Rasya.
Panggil sayang aja biar cepet. Gibran tersenyum kecil mengingat wajah cengok Nadia saat ia mengucapkan kalimat tersebut. Kalimat itu akhirnya berhasil menghentikan aksi Nadia yang sedang menguliahinya tentang pentingnya revolusi mental. Bukan hanya tentang wawasan kebangsaan saja, Gibran pun harus dan perlu belajar banyak mengenai hal-hal keren sesuai zaman sehingga orang-orang tidak perlu syok mengetahui se-old apa selera Omnya. Itu menurut Nadia dan Gibran dengan berat hati harus mengangguk agar repetan gadis manis itu tidak melebar kemana-mana.
Nadia menggeliat pelan, ia merasakan lengan besar memeluknya hangat. Belum lagi degup jantung yang terdengar dengan jelas olehnya. Ia mendongak dan rahang kokoh Gibranlah yang pertama menyambutnya.
"Om---" Nadia menyebut lirih.
"Hm?"
Nadia meluruskan punggungnya, mengucek mata sebentar "Nad boleh ikut ya? Nad mau nganterin Om--eh sayang, Nad mau nganterin Sayang ke Bandara." Ia hampir menggigit lidahnya sendiri karena harus membiasakan dengan panggilan barunya. Ia sungguh tidak terbiasa dengan lidahnya yang sudah sejak lama memanggil Om secara otomatis.
"Mang, masih sempat putar balik?" Tanya Gibran mengabaikan Nadia yang langsung manyun mendengarnya.
"Maaf, Pak. Kita akan terlambat jika melakukannya." Jawab Mang sembari mengulum senyum tipis melihat wajah murung Nadia lewat kaca depan.
"Sayang sekali--" Gibran menggumam sembari menatap lekat wajah Nadia yang tampak lucu dengan ekspresi kesal yang kentara "Kamu harus ikut. Tidak ada pilihan lain." Lalu senyum kecil itu terulas dari bibirnya yang tak pernah menyentuh batang nikotin.
Dada Nadia mengembang. Wajahnya kembali sumringah, " Yeiiiii!!! Makasih Sayang." Kecupan bertubi-tubi ia layangkan di wajah Gibran yang menerima dengan ikhlas kehebohan sang istri. Mang bahkan harus memalingkan wajah agar tidak melihat kemesraan dua anak muda lintas generasi itu.
"Sayang siapa?" Gibran menahan wajah Nadia yang bersiap kembali menyerangnya.
"Sayang kesayangan banyak-banyak."
Gibran menepuk kepala Nadia lembut, "Gadis pintar."
***
Bagi Nadia kali ini jarum jam berputar lebih cepat dari biasanya. Seakan semesta pun berkonspirasi untuk memisahkan dirinya dan suami super kecenya. Jalanan yang harusnya macet malah lancar jaya dan itu membuat Nadia kesal setengah mati. Belum lagi Mang yang memacu kendaraannya dengan lincah sehingga waktu dua jamnya memendek menjadi satu jam saja. Mengesalkan!
"Saya kedalam dulu untuk check-in."
Nadia menahan pergelangan Gibran hampir menangis "Balik lagi kan?"
Gibran mengangguk, "Iya. Tunggu disini."
"Jangan lama." Rengek Nadia dengan mata berkaca-kaca.
Gibran tersenyum tipis, tak mengatakan apa-apa hanya mengecup kening Nadia ringan. Setelah melepaskan tangan Nadia yang mengalun erat di lengannya, ia bergegas masuk ke dalam pintu keberangkatan mengantri bersama penumpang lainnya.
Nadia terus memperhatikannya dari kejauhan. Airmatanya yang meleleh dibiarkan begitu saja. Ya Allah, cepet balikin Om Gi sama Nad, ya. Nad janji bakal jadi orang yang lebih baik lagi. Buru-buru Nadia menyeka airmata di pipinya saat Gibran menoleh kearahnya. Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum meskipun pedih. Ia memutuskan untuk menunggu di salah satu bangku panjang di ruang tunggu yang paling dekat dengan pintu dimana Gibran masuk. Nadia memeriksa paper bag yang disodorkan Gibran yang tadi dibelinya di salah satu cafe bandara. Ada Roti dan air mineral di dalamnya juga tissue dalam pack besar yang kemungkinan disiapkan oleh Gibran untuk dirinya yang akan menciptakan banjir bandang di Bandara. Sambil menunggu Gibran kembali, ia menyempatkan untuk makan roti tersebut demi mengganjal perut yang sebenarnya sejak menunggu Gibran dalam mobil sudah meronta-ronta minta makan. Saat makan malam tadi ia tidak bisa menelan makanan dengan baik karena terus memikirkan Gibran yang akan pergi ke tempat tugasnya. Menu favoritnya ikan tuna yang dibalur sambal pedas bahkan tak tersentuh sama sekali karena ia terlalu larut dalam kesedihannya.
"Nganter pamannya ya dek?"
"Hah?" Nadia menoleh kesamping kanan, mendapati seorang ibu muda dan anak balita perempuan memandanginya penuh atensi.
Nadia yang baru akan menggigit roti di tangannya mengerjap. Lalu saat balita berkepang dua ikut bersuara, barulah Nadia menjawab.
"Itu papa yah mah"
"Itu suami saya." Ujar Nadia terus terang. Ia tak mau lagi ada yang salah paham terhadap dirinya dan Gibran terlebih setelah mendengar kalimat balita perempuan tersebut. Papa? Hidih, jangan ngaku-ngaku, Itu ayahnya Pia seorang. Well, hanya anak kecil tapi tetap saja Nadia tidak suka mendengarnya.
"Ah, maaf. Saya pikir Omnya." Ujar wanita muda itu salah tingkah. Tampak sekali ia terkejut berlebihan dengan fakta yang baru di dengarnya.
"Gak apa-apa. Sudah biasa." Ucap Nadia enteng. Tak perlu tersinggung karena Gibran terlalu keren untuk sekedar menjadi Omnya. Lagian tatapan seperti itu bukan pertama kali ia dapatkan jadi kalau sekarang terulang lagi, kenapa harus di permasalahkan?! Lelaki itu pantas menjadi suaminya. Yah, tentu saja karena Tuhan sendiri yang menulis takdir mereka. Mengabaikan dua pasang mata yang masih mencuri-curi pandang kearahnya, Nadia melanjutkan acaranya yang tertunda, makan roti dan meminum airnya hingga tandas.
"Lama?" Gibran muncul dari samping kiri Nadia menyentuh puncak kepala gadis itu membuat Nadia yang sedang asik mengunyak tersedak.
Nadia mendongak sembari menahan perih di hidungnya yang kemasukan air, "Jangan kagetin Nad!" Seru Nadia memegang pangkal hidungnya.
Gibran yang tidak mengira kemunculannya bisa mnegagetkan Nadia langsung jongkok di depan gadis itu memeriksa hidung Nadia yang memerah,"Maaf." ujarnya menyesal, "Perih?"
"Bangat."
"Coba saya liat." Gibran mengusap hidung Nadia yang berair tanpa merasa jijik sama sekali dan tanpa di duga-duga mendaratkan kecupan di ujung hidung sang istri, dengan mesra "Masih sakit?"
Nadia terperanjat sejenak, lalu setelah kesadarannya kembali, ia mengangguk, "Masih."
Cup.
Nadia mengerjap.
"Ma-masih te-tep." Jawabnya tergagap. Ya ampun, di tengah khalayak ramai loh sayang. Nadia merona.
Cup.
"Masih sakit juga?" Lagi, Gibran mendaratkan kecupannya di tempat yang sama.
Nadia mengangguk cepat sembari tersenyum lebar, "Sakit bangat." ucapnya manja dengan kedua lengan dikalungkan di leher Gibran. Sudahlah, dunia milik berdua, sisanya hanya penumpang.
Cuuuuuup.
Kali ini bibir yang senang mengomando itu mendarat lama di bibir Nadia membuat yang empunya sesak nafas.
"Udah gak sakit lagi kan?"
Nadia mengangguk cepat, "Iya, langsung sembuh. Obatnya manjur bangat." Ujar Nadia cengengesan dan langsung mendapat sentilan di hidungnya dari Gibran.
"Gadis nakal."
"Biarin yang penting sayang." Nadia menelengkan kepala sambil mengedip genit.
"Sayang banyak-banyak." Ucap Gibran menirukan cara bicara Nadia. Keduanya saling menatap dengan binar penuh cinta dan tak berhenti melempar senyum satu sama lain.
Iiiiih tolong dong, ini suami siapa sih kok manis bangat. Nadia melemparkan diri dalam pelukan Gibran tak peduli decak sebal orang-orang disekitarnya. Mohon maaf saja, Om-om kece ini sudah di hak patenkan untuk Nadia seorang.
"Ikuuuuuut." Rengek Nadia ditelinga Gibran. Ia memeluk erat leher Gibran seolah tak mau dipisahkan. Ya, memang dia tidak ingin berpisah dengan Gibran walaupun sedetik saja.
"Ayo." Gibran membalas pelukan Nadia dan membawa istri kecilnya itu berdiri.
"Bakalan kangen bangat tauk, Om."
"Tau. Saya memang ngangenin."
"Emang. Makanya disini aja." Pinta Nadia dari dasar hatinya yang paling dalam. Siapa tau saja ada malaikat yang meniup ubun-ubun Gibran lalu taraaaaa-- Gibran berubah pikiran dan memilih tinggal bersamanya dan Pia. Andai saja.
"Doakan saya semoga cepat balik kesini."
"Selalu Nad doain tapi kayaknya Allah udah gak sayang Nad deh soalnya Doa Nad gak di denger."
"Minta terus. Allah pasti seneng ada hambanya yang cantik mohon-mohon."
Nadia menjauhkan wajah dari leher Gibran, menatap laki-laki itu dengan kening mengerut, "Emang iya?" mata bundarnya berpendar penasaran dan Gibran suka sekali.
"Iya dong. Makanya jangan putus doanya." Ujar Gibran menekan tengkuk Nadia agar kembali menyandar padanya.
"Sampai kapan Om mau gendong Nad kayak monyet gini?"
"Sampai selamanya."
"Om--eh, sayang--" Nadia menggigit bibir bawahnya,susah sekali melepas panggilan legend itu dari Gibran, "--gak capek?"
"Capek tapi senang." Jawab Gibran sembari menghirup dalam bahu Nadia yang dilapisi hoody hijau, "Nad kalau tidak biasa jangan memaksakan diri. Panggil Om seperti biasanya saja."
"Memangnya gak malu? Gak marah sering dibilangin om-om sama orang-orang?"
"Tidak. Bukan kewajiban kita untuk menjawab semua rasa penasaran orang-orang. Lagian--"
"Lagian apa?"
"Mana ada Om yang ngemilin ponakannya tiap mal-- AW!!"
"Ish! Mulutnya." Nadia mencubit gemas pinggang Gibran yang entah kenapa omongannya sering sekali membuat wajahnya merah, malu-malu mau.Huhuhu jadi pengen kan--eh.
"Kalau ada apa-apa langsung telfon."
"Disanakan gak ada jaringan, Om." Oke, Om saja. Lagipula benar kata Gibran, kenapa ia harus peduli dengan tanggapan orang-orang. Selama dirinya dan Gibran tak masalah maka abaikan suara sumbang diluaran sana.
"Pokoknya kabari saja pasti saya baca."
"Om cepet pulang juga tapinya."
"Insya Allah. Semoga Allah segera menjawab doa hambanya yang cantik ini."
"Aamiin." Gumam Nadia dengan aamiin yang paling serius.
Suara dari pengeras suara dari petugas Bandara memutus senyum dua manusia itu. Nadia dengan perlahan turun dari gendongan Gibran.
"Sudah waktunya pergi ya Om?"
Gibran mengangguk, "Iya, sayang." Dipeluknya lagi Nadia dengan erat, "Doakan ya semoga semua lancar."
"Selalu. Selalu Nad doain yang terbaik buat sayangnya Nad." Airmata Nadia kembali menetes namun segera di hapusnya agar tidak membuat Gibran semakin berat meninggalkannya.
"Nad sudah dewasa sekarang. Sudah jadi seorang Ibu. Saya sangat percaya Nad bisa menjaga diri dan juga Pia. Kalau ada yang ganggu Nad, Nad sudah tahu kan mana yang harus dilawan dan mana yang dibiarin?"
Nadia mengangguk, "Iya-- hiks." Ia menghirup wangi Gibran dalam-dalam. Rasanya tidak ingin melepas lelaki yang sedang merengkuhnya dan mengecup rambutnya ini, "Jalan gih." ia melepaskan diri dari pelukan Gibran. "Nanti ketinggalan pesawat. Walaupun sebenarnya itu doa Nad dari tadi." ujarnya cengengesan yang dipaksakan.
"Peluk lagi." Gibran merentangkan tangannya menunggu Nadia menyambutnya lagi.
"Sekali ini aja ya, takutnya Nad gak mau lepasin." Tawar Nadia menyusut airmata di pelupuk matanya.
"Iya."
Lalu tanpa menunggu, Nadia menghambur memeluk Gibran. Ini bukan LDR pertama mereka tapi tetap saja perpisahan selalu se-menyiksa ini.
Pengumuman kedua kembali terdengar. Saatnya berpisah. Gibran dan Nadia saling melepaskan diri.
"Saya berangkat."
Nadia memgangguk, mengambil tangan Gibran dan menciumnya khidmat.
"Hati-hati ya Om."
"Iya sayang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Gibran mengacak rambut Nadia sekilas. Setelah itu ia bergegas masuk di pintu keberangkatan. Sebelum benar-benar hilang di dalam bangungan berdinding kaca itu, Ia menoleh kebelakang, tersenyum tipis pada Nadia yang melambaikan tangan padanya.
Sampai jumpa lagi kesayangan. Jaga diri. Tunggu saya pulang.
***
Hati-hati di jalan kesayangannya Nad. Cepat balik. Nad menunggumu disini.