Little Persit

Little Persit
Om-om Serba Bisa



Nadia menghela nafas untuk yang kesekian kalinya sejak beberapa menit lalu. Kedua tangannya bersidekap dan mata menyorot tak suka seseorang yang sedang tersenyum manis padanya. Jika menganiaya orang tidak masuk dalam hitungan kejahatan, mungkin sekarang ia sudah menimpuk kepala orang di depannya dengan ganggang sapu nenek sihir yang ada di tangannya.


"Hai, Nad."


"Hai hai, sok akrab lu! Pergi sana! Ngerusak mood gue aja pagi-pagi. Ah elaaah suami gue mana sih, senjatanya di simpan kek biar bisa di pake mecahin kepala orang."


"Apa kabar?" Seakan tak mendengar nada pengusiran dari Nadia, orang yang tak lain adalah Lionel itu malah melanjutkan sesi sapa menyapanya dengan ramah. Biasalah, mulut buaya darat. Nadia memutar bola mata sebal.


"Gak usah basa basi. Udah bagus jauh-jauh malah nongol lagi disini. Mutasi Om Gi apa kurang jauh ya sampe bisa ketemu orang ini lagi, ini lagi. Sampe bosan gue." Nadia bermonolog seorang diri tak memperdulikan pertanyaan Lionel yang masih setia berdiri di depan pagar sepinggang rumahnya. Mungkin Nadia perlu membuat pagar yang lebih tinggi lagi supaya bisa menghalau mata-mata jahat melirik ke rumahnya.


"Gak nyangka bisa ketemu kamu Lagi. Saya senang liat Nadia sehat-sehat."


"Lo senang, gue enggak." Ujar Nadia sinis.


"Belum bisa memaafkan saya?" Lionel bertanya lirih.


Nadia menatap Lionel dari ujung kaki ke ujung kepala. Ia berdecak lelah, "Ck. Gue udah maafin lo jadi apalagi yang lo mau? Jangan serakah jadi orang, dikasi hati minta empedu. Yakali gue mati buat lo, kesian Om Gi gue." Memaafkan sih memaafkan, melupaknnya belum tentu. Nadia bergidik mengingat saat malam mengerikan itu. Coba kalau ia terlambat di tolong, entah apa yang akan dilakukan laki-laki di depannya ini. Nadia lebih memilih mati daripada harus hidup dengan noda yang menempel di tubuhnya. Setidaknya kalau ia mati tak perlu menanggung beban moral karena mendapat pelecehan di tempat semacam club. Naudzubillah.


"Saya hanya mau berteman. Tidak lebih."


Ogah gue temenan sama lo. Batin Nadia, "Gak usah makasi. Temen gue udah banyak." Ujar Nadia datar. Minta jadi teman, duh emang gue nggak tahu otak buaya darat, awalnya temenan lama-lama demenan.


Lionel menghela nafas pendek, "Saya belum menyerah. Suatu saat Nanti Nadia akan mau menerima saya." ucap Lionel mengulas senyum tipis percaya diri sedang Nadia yang berdiri di depannya hanya menatap datar.


Gak adek, gak abang sama aja. Malu-maluin manusia aja. Nadia meletakkan sapunya begitu saja dan masuk dalam rumah. Menghadapi Lionel cuma bikin tenggorokannya kering.


BAM!!!


Nadia membanting pintu rumah dengan keras. Lionel yang baru akan meninggalkan halaman rumah itu hanya hanya tersenyum kecil, "Gadis yang manis."


***


"Assalamualaikum, Nad-- loh jendelanya di tutup kertas semua?" Gibran melepas sepatunya dan meletakkan di rak kecil sebelum menghampiri Nadia yang sibuk menempel kertas di kaca jendela. Gibran menggulung lengan seragamnya hingga batas siku.


"Waalaikumsalam, biar gak diintip monyet Om. Itu, tolongin dong lemnya." Nadia mengulurkan tangan meminta lem mengabaikan pertanyaan dan keheranan Gibran. "Duh, kertasnya udah--Aw, Om turunin!" Gibran mengangkat Nadia menjauh dari jendela yang kusennya sudah lapuk.


"Monyet apa? Liat, udah lapuk. Bahaya." Gibran menunjuk kusen jendela yang sudah di makan rayap.


Nadia meletakkan kertasnya di atas kursi kayu sembari menghembuskan nafas kesal "Monyetnya tante Prada."


"Lionel?"


Nadia mengangguk, "Tadi dia kesini. Langsung Nad marahin. Bikin Nad kesel aja tu orang. Maunya apa sih, udah di maafin juga."


Gibran mengelap tangan Nadia yang penuh lem, "Jangan terlalu kesal sama orang. Nanti Om bilangin supaya berhenti menemui Nad."


"Gak usah Om. Nad udah bilang sendiri. Kalau masih nekat juga, Nad masukin di penjara." Nadia melebarkan senyum, "Peluk."


Gibran memeluk Nadia singkat, "Jangan dekat-dekat jendela. Nanti kacanya jatuh. Biar Om benerin dulu."


"Emang bisa?"


"Bisa."


Nadia mengangguk, "Kalau gitu sekalian benerin showernya. Kayaknya kesumbat daun. Nad tadi mau buka tapi gak bisa."


"Nad manjat?"


"Eh, eng---" Nadia menggigit bibirnya panik. Mamp*s, keceplosan lagi. "Hehe dikit doang." Nadia meringis.


"Ck. Jangan manjat-manjat. Bahaya. Tunggu Om pulang kalau ada apa-apa." Gibran berjalan kearah kamar mandi untuk mengecek shower darurat yang Nadia maksud. Dengan tinggi badannya yang hampir dua meter, Gibran tak memiliki kesulitan sama sekali mengambil daun yang menutupi lubang-lubang kecil botol.


"Nad sudah mandi?"


Nadia yang mengikut dibelakang Gibran mengangguk, "Gak kecium wangi Nad emangnya?"


Gibran menggeleng polos, "Coba Om cek ulang." tangan kekarnya menarik lengan kecil Nadia lembut. Hidungnya menyasar dari rambut turun ke telinga dan berakhir di tulang selangka Nadia membuat istrinya menggeliat kegelian.


"Om modus ya?"


Gibran yang sudah menyarangkan kecupan di bahu terbuka Nadia tersenyum tipis, "Gak."


"Gak tapi nyosor." Nadia menjauhkan wajah Gibran yang mulai nakal menyesap kulit lehernya. Gibran terkekeh lalu dengan cepat mengecup pipi Nadia.


"Wangi bangat istri Om."


Nadia mengangguk-anggukan kepala sembari tersenyum lebar, "Iya dong. Kan mau menyambut suami pulang kerja."


"Pinter. Padahal dasteran aja tetap cantik."


Nadia menggeleng, "No no no. Mana boleh dasteran doang. Nad harus tampil paripurna di depan Om. Masa Nad keluar rumah tampil cantik pas di depan suami ngegembel sih, gak dong ya. Gimana, baju Nad bagus kan Om?"


Gibran menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "Bagus tapi jangan di pake keluar rumah."


Nadia mengangguk, "Nggak dong Om. Paling keluar pintu belakang aja ngebuangin sampah."


"Gak boleh! Jangan sesekali keluar pake baju ini." Peringat Gibran serius.


"Dibelakang doang Om gak ada yang liat."


"Gak boleh. Nad denger Om."


Iyain ajalah, "Mmm, oke."


Gibran menatap Nadia serius. Nadia yang sadar arti tatapan itu menghela nafas kasar, "Nad janji." Setelah itu barulah Gibran mengurai wajah kakunya. Keposesifan tingkat perdana mentri ini sih.


"Om gantian gih. Nad udah siapin makan siang."


Gibran yang hendak masuk kamar menghentikan langkahnya, "Masak? Nad masak? Bisa?"


Nadia melipat bibirnya kesal. Apaan coba maksudnya. "Bisalah. Udah deh jangan nyebelin gitu mukanya." Nadia mendorong punggung Gibran masuk ke dalam kamar. "Nad bantuin."


Gibran menahan kerah bajunya yang hendak di lepas kancingnya oleh Nadia. Keningnya bertaut seolah Nadia akan melecehkannya.


"Dih biasa aja mukanya. Ada juga Nad yang harus waspada sama Om." Ujar Nadia tersinggung dengan tatapan antipati Gibran. Sontak Gibran tertawa renyah. Kedua tangannya di rentangkan memberikan Nadia akses untuk melepas seragamnya.


"Jangan raba-raba. Om udah lapar. Jangan di pancing."


Nadia yang sempat tergiur melihat dada bidang, perut kotak-kotak Gibran langsung mengenyahkan pikiran kotornya untuk menempelkan bibirnya disana. Godaan godaan godaan. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan Nadia. Nadia menggeleng pelan. Jangan sekarang. Nadia menghembuskan nafas pelan. Akhirnya setelah berjuang melawan hormon ibu hamilnya, Nadia berhasil menelanjangi Gibran tanpa menyentuh laki-laki itu. Hebat Nad. Nadia memuji dirinya sendiri dengan bangga.


"Udah. Nad siapin makan dulu. Om cuci tangan." Nadia mengaitkan baju Gibran di belakang pintu lalu keluar kamar. Gibran tersenyum bangga melihat Nadia yang mulai belajar bertanggungjawab dengan tugasnya sebagai istri. Ia yakin, Nadia akan menjadi istri dan Ibu yang hebat nantinya. Ia hanya perlu bersabar dan tekun mengajari gadis kecilnya itu.


Setelah mencuci tangannya, Gibran menghampiri Nadia yang sudah duduk lesehan menunggunya. Di depannya ada beberapa jenis masakan yang tak asing lagi hanya saja bentukkannya sedikit-- um bagaimana Gibran harus menyebut tumis kangkun yang di campur potongan telur ini. Dan, ah itu sepertinya yang hitam pekat adalah ikan goreng melihat dari bentukkannya yang mengenaskan.


"Selemat menikmati." Nadia berujar bangga memamerkan hasil masakannya. "Tenang, Nad udah coba. Walaupun rasanya gak pas bangat tapi bisa di terima lidah kok."


Gibran mengangguk, "Makasih Nadia." diusapnya rambut Nadia lembut.


"Sama-sama, Om. Makan dong. Sini biar Nad yang ambilin."


Gibran menyerahkan piringnya pada Nadia. Senyum tipis dibibirnya tak lepas sepanjang Nadia sibuk mengambil makanan untuknya.


"Nadia memang istri Om." Ucap Gibran ringan.


"Iya ya? Hehe." Nadia menangkupkan tangan bahagia. Selanjutnya ia menunggu komentar Gibran tentang masakannya.


"Sayurnya keasinan, lain kali kurangi sedikit garamnya." Itu kalimat pertama Gibran setelah menelan dengan susah payah masakan Nadia.


Senyum Nadia langsung luntur, "Maaf."


Gibran mendongak, "Maksud Om supaya lain kali Nad masaknya pas."


Nadia mengangguk, "Iya, ngerti kok." Tapi tetep aja sedih, hiks.


"Mau dilanjutin gak komennya?" Tanya Gibran saat melihat raut sedih di wajah Nadia.


Nadia mengangguk, "Lanjut."


Gibran mengulum senyumnya. Bukan maksudnya tidak menghargai Nadia tapi istrinya ini butuh feedback untuk perbaikan kinerjanya di dapur. "Ikannya terlalu lama di goreng. Cukup sampai kering ikannya, langsung angkat."


"Nad keasikan ngegame tadi. Lupa kalau lagi ngegoreng ikan." Aku Nadia dengan wajah lugunya.


Gibran mengangguk paham, "Lain kali selesaiin dulu masak ya. Bahaya kalau ninggalin kompor. Ini juga telur jangan di campur kangkung. Kalau mau pakai telur, nanti langsung di campur bersamaan. Jangan di goreng terpisah." Jelas Gibran dengan sabar. Di depannya Nadia menyimak dengan baik.


"Ngerti?"


"Enggak."


Gibran menghela nafas sesak, "Ya sudah. Om makan dulu nanti Om praktekin."


"Kok Om jago masak sih. Om latihan nembak apa latihan masak di hutan?"


Gibran terkekeh, "Om hidup sendiri di asrama Nad. Memang Nad pikir siapa yang bakal ngurus makanan Om?"


Nadia mengedikkan bahu, "Yakali-kali ada yang bawain makanan gitu." Cewek misalnya. Lanjut Nadia dalam hati. Memikirkan Gibran sebagai seorang tentara sukses, muka ganteng, karir oke, kok kayak gak mungkin ya tidak sekalipun memiliki pacar. Tahan amat si Om. Pasti ada nih cuma diumpetin dalam hati.


"Delivery maksud Nad?"


Nadia mencibir, bisa aja ngelesnya si bambaaank.


"Pacar atau siapa gitu?!" Nadia melirik Gibran sembari mengaduk-aduk makanan di piringnya.


"Gak ada."


"Yakin?"


Gibran yang baru mau memasukan suapan terakhirnya menatap Nadia datar, "Mau bahas lagi?"


"Soalnya langka bangat loh Om. Om kan keren, banyak uang, karir bagus-- Om yakin bukan jeruk makan jeruk?"


Gibran tersenyum kecil, "Itu yang di perut Nad belum cukup jadi bukti? Atau mau dibuktiin sekarang, ayo--"


"Eee eeh, gak Om. Nad percaya. Sangat percaya. Duduk lagi. Duduk." Nadia melepaskan lengannya dari Gibran. Huf, hampir aja. Nadia mengurut dadanya lega. Kan cuma bercanda doang, elaaah.


"Kali aja ragu kan. Biar Om reka ulang kejadiannya."


Asem. Reka ulang.


***


"Nad mau ngapain?"


"Potong kuku."


"Kok ribet?"


Nadia mendongak. Gibran menatapnya dengan kening terangkat satu. Lelaki itu tampak segar dengan rambut basahnya.


"Perut Nad ngeganjal. Jadi susah nunduknya." Ujar Nadia mengusap perut besarnya.


Gibran meletakkan handuk kecil di lehernya lalu ikut duduk disamping Nadia. "Om bantu."


"Eh nggak usah Om. Nad bisa kok." Tolak Nadia tak enak. Sekurang ajar apapun ia, tetap saja tidak sekalipun membiarkan Gibran melakukan sesuatu seperti memotong kukunya, apalagi kuku kaki. Tidak sopan namanya.


"Tidak apa-apa Nad. Ayo siniin kakinya." Gibran mengangkat kaki Nadia dan meletakkannya diatas pahanya.


"Om, gak usah." Nadia berusaha menurunkan kakinya namun di tahan oleh Gibran.


"It's ok Nad." Ujar Gibran meyakinkan.


Nadia yang melihat kesungguhan Gibran mulai merilekskan kakinya, "Maaf ya Om."


"Daripada bilang maaf, kenapa gak bilang makasi aja. Lebih enak di dengar." Gibran berucap sembari menatap dalam Nadia. Istrinya itu langsung tersipu.


"Makasi Om." Ucap Nadia lirih.


"Sama-sama." Gibran mulai memotong kuku terawat Nadia dengan pemotong kuku kecil. "Sudah berapa lama gak nyalon?"


"Ah i-itu, lu-lupa." Nadia tergagap. Merasa deg-degan dengan hal manis tak terduga yang Gibran lakukan padanya.


"Maaf, Nad mengalami semua ini karena Om." Ucap Gibran sarat oleh perasaan bersalah.


Nadia menggeleng, "Bukan salah Om. Nad ikhlas. Nad senang ngelewatin semuanya selama ada Om disamping Nad."


"Nad rindu belanja?" Tanya Gibran.


"Rindu tapi Nad bisa tahan tanpa belanja. Yang berat itu rindu sama Om. Nad gak suka jauh-jauh dari Om." Aku Nadia berterus terang. Selama menikah dengan Gibran hal paling berat yang ia rasakan adalah saat mendengar kabar Gibran hilang dalam tugas. Rasanya saat itu ia ingin mati saja. Hidup tanpa Gibran di dunia ini sama saja mati buat Nadia. Jadi kalau hanya hidup tanpa belanja atau nyalon bukan hal yang sulit untuk seorang Nadia.


"Om sehat-sehat ya kalau gak ada Nad. Om harus jaga diri."


"Memangnya Nad mau tinggalin Om?"


Nadia menggeleng, "Gak dong Om. Tapi kan kita gak tahu rencana Allah kedepannya. Kali aja Om di pindahin lagi ke entah berantah."


"Antaberantah Nad."


"Ck. Sama aja."


Gibran terkekah, "Beda dong. Siniin kaki satunya."


Nadia mengangkat kakinya satu lagi, "Makasih Om."


Gibran mengangguk, "Sekali lagi Nad bilang makasih, Om kasi payung cantik."


"Kasi kiss aja gimana?"


Ck.Anak nakal.


***