
Nadia tertegun saat membuka pintu rumah, di depannya sudah berdiri dua orang yang tak pernah masuk dalam list kemungkinan orang yang akan bertamu di rumahnya. Satunya tampak santai memasukan tangan kedalam saku celana kulotnya sedangkan satu orangnya lagi berdiri kaku sembari menyunggingkan senyum canggung.
"Selamat Pagi, Bu Nadia."
Nadia yang sedang menggendong Pia mengerjap sekali. Lalu kemudian mengangguk kecil, "Pagi." Ini cewek berdua tidak salah alamat kan? Apa nomor rumahnya sudah terhapus atau gimana? Suatu kejutan di sambangi oleh dua wanita cantik yang salah satunya fans garis keras Om Gibrannya.
"Apa kami mengganggu?"
Nadia yang tersadar belum mempersilahkan dua tamunya masuk memberi jalan "Tidak sama sekali" asal bukan untuk merecoki Om gue aja sih. lanjutnya dalam hati. "Silahkan masuk."
"Terima kasih, Bu." Rani yang sejak tadi memasang wajah ramah langsung masuk tanpa menghiraukan Valeria yang terlihat ragu-ragu untuk lanjut atau langsung pulang saja. Terlihat sekali Dokter muda itu tertekan dengan situasinya sekarang. Terlebih saat Nadia bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya diantara mereka
"Rumahnya nyaman ya Bu." Rani memperhatikan ruang tamu berukuran kecil itu dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya. Tak ada barang mewah di dalam rumah sederhana bercat hijau khas tentara itu hanya kursi tua dan rak sepatu yang diletakkan di bawah jendela serta sebuah foto menarik yang tergantung di dinding dekat pintu kamar. Untuk semua persit di bumi pertiwi ini, Maharani angkat topi atas ketabahan mereka mendampingi suami dan rela hidup sederhana jauh dari sanak keluarga dan mungkin juga harus melepaskan kehidupan nyaman sebelumnya untuk berpindah dari satu tempat tugas ke tempat tugas lainnya. Mereka benar-benar wanita keren dan luar biasa.
"Iya, Alhamdulillah. Selagi bareng Om Gi bagi Nad semua tempat pasti nyaman." Ujar Nadia sembari duduk di kursi panjang di susul oleh Rani yang memilih duduk di kursi single.
Valeria yang menyusul belakangan tampak bingung harus duduk dimana. Satu-satunya tempat yang kosong ada di dekat Nadia dan itu pilihan yang sangat berat baginya apalagi ketika melihat Nadia kilasan kebodohannya beberapa waktu lalu berputar seperti kaset rusak yang membanting harga dirinya hingga ke inti bumi. Kemarin itu benar-benar sangat tidak ok. Entah setan kampung darimana yang membuat otaknya mandet hingga tak bisa melihat clue dari dua pasangan beda generasi itu. Ah, memalukan sekali.
"Oh iya, ini ada hadiah kecil untuk adek bayi dari teman-teman. Mohon diterima." Setelah menarik nafas pelan, Valeria akhirnya memasrahkan diri duduk disamping Nadia dan bayi kecilnya. Lagipula semua sudah terjadi, dia tidak memiliki kekuatan untuk memutar waktu dan mencegah dirinya bersikap murahan seperti kemarin. Valeria menyerahkan sebuah bungkusan besar yang diberi pita pink lucu pada tuan rumah.
Nadia yang sedang memangku Pia sedikit kebingungan untuk menerima hadiah tersebut karena kedua tangannya menyangga kepala dan pinggang Pia. Valeria yang menyadari itu langsung meletakkan hadiah yang dibawanya diatas meja.
"Saya simpan disini." Ujar Valeria. Ia meletakkan hadiah kecil yang sebenarnya berukuran cukup besar itu diatas meja kayu yang tampak rapuh hanya dengan sekali senggol bisa jadi rongsokan kayu bakar.
"Terima kasih." Nadia sampai bingung sendiri yang mana yang disebut kecil dari hadiah sebesar ember bak di kamar mandinya ini. Bertambah lagi hadiah untuk Navia setelah kemarin berbagai hadiah datang dari ibu distrik maupun ibu-ibu persit. Bahkan ada hadiah yang datang dari jauh, sebuah tenda-tenda kecil yang di kirimkan oleh sahabat-sahabat Omnya. Ia sendiri tidak habis pikir jalan pikiran om-om itu membelikan peralatan camping untuk bayi perempuan yang baru lahir beberapa hari. Bukankah boneka atau mainan masak-masak lebih masuk akal? Ah sudahlah, tetap saja Ibunya Pia sangat menyukai hadiah.
Rani beranjak dari kursinya menghampiri Nadia dan Pia yang juga tidak terganggu dengan tamu Ibunya.
"Halo cantik, siapa namanya?"
"Navia, Kak. Pia." Jawab Nadia, tentu saja bukan Navia yang menjawab karena bayi mungil itu baru saja memiliki beberapa skill hidup, nyusu, menangis kencang dan tertawa tanpa suara.
"Wah lucu bangat bayinya." Rani duduk menumpu lututnya diatas lantai. "Boleh pegang pipinya?" Tanya Rani lagi meminta izin.
"Disentuh dikit aja ya kak. Takut kulitnya merah-merah. Sensitif bangat soalnya."
Rani mengangguk paham. Oleh karena itu ia memutuskan untuk mengusap kain penutup kepala bayi lucu itu. "Gembul bangat pipinya, gemesin." Rani begitu takjub dengan bayi Pia yang tampak menggemaskan dengan pipi gembul dan mata bola hitamnya.
"Nyusu terus kerjanya makanya gembul bulet gitu." Ujar Nadia tak bisa menahan senyumnya setiap kali menatap bayi kecilnya.
Berbeda dengan Rani yang asik menyapa Navia, perhatian Valeria sejak masuk dalam rumah itu tertuju pada foto yang menggantung di dekat pintu kamar, Gibran dengan seragam lengkapnya dan Nadia dengan seragam putih birunya yang baru saja merayakan kelulusannya. Valeria meringis, mulai memikirkan hal-hal menyimpang tentang Gibran yang menyukai seorang anak kecil dan Nadia yang bisa-bisanya mau dengan orang yang umurnya tak jauh dari orangtuanya. Tapi Gibran mana bisa dimasukan kategori Om-om dalam tanda kutip dengan perwujudannya yang bisa membuat seseorang bisa lupa diri dengan melihatnya diam saja.
"Dokter tidak apa-apa? Dari tadi diem aja." Nadia yang tidak tahan dengan kediaman Valeria dan tatapan wanita itu pada foto yang di gantung Gibran di dinding kayu mereka memutuskan untuk bertanya. Tidak baik bukan bertamu di rumah orang dan mata keliling kesana kemari?!
"Oh, so-sorry." Valeria tergagap, baru menyadari keberadaan Rani di dekat lututnya menatapnya dengan wajah datar.
"Navia ya namanya?" Tanya Valeria berusaha ikut larut dalam obrolan Nadia dan Rani. Ia menunduk untuk melihat wajah Navia yang masih lucu menggemaskan dengan pipi tembemnya "Hampir mirip nama Ibunya ya."
"Om Gi yang ngasi." Ujar Nadia.
Valeria mendongak, "Kapten? Bisa ya di pilih mirip gitu."
"Gak tau. Nama Nad juga Om yang ngasi." Jelas Nadia entah kenapa ia ingin mengatakan itu pada Valeria, yang pasti ia harus menyadarkan Dokter muda di depannya ini bahwa cinta Gibran padanya sudah tak tertolong lagi. Cinta yang luar biasa.
"Wah!" Valeria tak habis pikir dengan apa yang baru di dengarnya. Segitunya Gibran menyayangi gadis kecil di depannya ini dan ngomong-ngomong berapa rentang umur keduanya hingga Gibran memiliki kesempatan memberi nama pada Nadia? Ia benar-benar sangat penasaran sekarang.
"Bu Nadia masih tujuh belas kan?" Pertanyaan random Valeria mengundang deheman dari Maharani yang tak dihiraukan oleh rekannya itu.
Nadia mengangguk kecil. Ia selalu kesal pada orang-orang yang selalu menyebut angka usianya. Memangnya apa yang salah dengan tujuh belas, bukankah itu sangat keren. Huf, memiliki bayi cantik membuat dia menjadi sedikit lebih sensitif. "Menuju delapan belas, Dok." Ujar Nadia mengoreksi. Ia sudah melewati lilin seventeen-nya dan hitung beberapa bulan lagi ia akan memasuki angka delapan belas. Bukankah itu artinya ia sudah dewasa?
Nadia memperbaiki posisi bayi Pia saat si kecil gembul itu menggeliat tak nyaman.
"Ya delapan belas tahun." Ujar Valeria lirih. Ia langsung menyesali kelancangannya saat melihat wajah tak nyaman Nadia. Oh yeah, another mistake. "Sorry, I mean--" padahal ia belum memulai pertanyaan penting tapi sepertinya topik umur sangat sensitif di telinga Nadia. Ia tak ingin mengambil resiko mengacaukan niat awalnya menyambangi rumah Nadia dengan kecerobohan yang lain.
"Never mind." Nadia mengedikkan bahu. Beberapa jenis orang terkadang hanya bisa lega setelah membuat kesal orang lain jadi tak perlu terlalu diambil pusing. Untuk apa juga ia tersinggung, nyatanya dia semuda itu dan sangat keren dengan statusnya sebagai ibu beranak satu.
"Keren ya Bu, Nadia dan Navia. Bapak hebat pilih namanya." Maharani yang tampak asik memandangi Pia tersenyum lebar. Melihat Nadia dan Gibran, ia menjadi yakin akan keberanan cinta sejati. Membayangkan seorang pria dewasa keren menikahi gadis muda yang masih sekolah dengan segala keribetan seorang remaja membuat jiwa jomlonya meronta-ronta. Untuk ukuran seorang Kapten, Gibran pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih dewasa yang bisa mengimbanginya tapi lelaki itu malah mengambil resiko menikahi gadis kecil yang tentu saja memiliki cara berpikir yang jauh dari kata 'mengimbangi' dirinya.
Nadia tersenyum kecil. Ia juga tidak tahu apa motivasi omnya itu memberikan nama kembar untuk mereka.
"Bu Nadia, soal kemarin please forgive me. Saya benar-benar mmm--yeah sangat tidak dewasa. Too stupid."
Baik Nadia maupun Maharani bahkan Navia si bayi kecil tak ada yang menduga Valeria membuka topik yang sangat random dan tentu saja harusnya tidak di bahas sekarang ketika ada orang lain yang tidak ada waktu kejadian itu. Tapi mungkin tidak ada lagi rahasia diantara dua tamunya ini. Oke, then there is no problem.
"It's not a big problem, Dok. Udah biasa kesalahpahaman terjadi. Apalagi diantara para gadis." Ucap Nadia yang paham betul maksud dari ucapan Valeria. Ia cukup mengapresiasi keberanian Valeria untuk meminta maaf. "Saya juga salah sudah mempermainkan Dokter." Aku Nadia menyengir lebar.
"Ya, kemarin benar-benar memalukan. Tolong lupakan karena itu sangat--aah I can't-- Pokoknya Saya sangat menyesal." Valeria menunduk dalam. Prinsipnya sebagai wanita tangguh yang tak tergoyahkan oleh pesona lelaki harus tumbang hanya dengan melihat sosok Gibran yang wew harus dia sebut apa tentara yang satu itu.
"Tidak apa-apa, Dok. Dokter bukan orang pertama. Nad udah biasa ngadepin yang kayak gini." Ujar Nadia. Ia sudah terlatih menghadapi fans Omnya sejak tahu warna-warna pelangi yang karakter dan penampakannya bermacam-macam, tapi kebanyakan dari mereka adalah wanita cantik yang merasa paling oke di zamannya. Bahkan Nadia pernah bertengkar sampai tarik-tarikan rambut dengan bencong di lampu merah yang lancang mencolek dagu Omnya sepulangnya mereka dari sekolah. Sejak saat itu sejauh apapun harus memutar, Nadia akan memaksa Gibran untuk menghindari lampu merah walaupun tentu saja tetap akan ketemu dengan tiga warna itu karena mereka hidup di kota besar yang ramai akan lalu lintas.
Valeria mengangkat kepalanya, tidak menyangka respon Nadia sekalem ini. Dalam khayalannya semalam, Nadia dengan darah remajanya sudah pasti akan balik nyinyir padanya atau lebih parah lagi mengupload cerita kemarin di insta story nya tapi ternyata-- well Gibran tentu saja tak akan sembarang asal memilih gadis remaja untuk dinikahinya. Valeria menghela nafas lega. Tentu saja Nadia memiliki kualifikasi yang diinginkan laki-laki itu dan mungkin salah salah satunya adalah sikap Nadia dalam menghadapi masalah terkait orang-orang seperti dirinya. Nadia boleh muda, kadang berapi-api, banyak menyebalkan dan tentu saja manjanya pada Gibran tak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata tapi Ibu muda itu memiliki hati yang lapang untuk memaafkan dan tentu saja punya insting kuat untuk melindungi apa yang menjadi miliknya.
Nadia mengangguk, "And just call me, Nadia, Nad atau boleh juga Ibunya Pia." Ujar Nadia seraya memgembangkan senyum lebar. Tak ada alasan tidak memaafkan sebab perasaan dan cinta pada seseorang tak pernah salah, yang salah adalah memaksakan hal itu pada orang lain.
***
"Hadiah dari siapa?"
Nadia menoleh kebelakang dan mendapati Omnya sudah segar dengan handuk melilit di pinggangnya dan handuk kecil disampirkan di bahunya. Suaminya itu tengah memeriksa hadiah yang masih tersimpan diatas meja.
"Dokter Leri dan teman-temannya." Nadia bangun dari posisinya yang baru saja menyusui Pia. "Om deketan sini deh." Panggil Nadia sembari duduk bersila diatas ranjang, memperbaiki kancing piyamanya.
"Apa?"
Nadia menyipit tak suka "Dipanggilin tuh bukan gitu responnya Om. Langsung datang ke Nad, itu yang bener."
Gibran terkekeh, "Oke." Ia menghampiri Nadia dan berdiri di depan gadis kecilnya itu "So, ada apa, sayang?"
"Duduk--- eh bentar, Om manggil apa tadi?" Nadia menahan tangannya di udara, memasang pendengaran baik-baik.
"Sayang." Ucap Gibran ringan.
Nadia menjentikkan jarinya semangat, "Nah itu harus om sering-seringin sebut biar makin cakep."
Gibran mengangguk menyetujui. Biar cepat semuanya. "Jadi?"
Nadia menepuk ranjang di dekatnya, meminta Gibran duduk disana.
Puk. Puk. Puk.
Dengan patuh Gibran mengikuti instruksi sang istri. Nadia yang selalu mendapatkan keinginannya akhir-akhir ini tak menyia-nyiakan kesempatan emas di depannya.
Hap!
"Apaan nih?" Gibran menyipit menatap Nadia yang sudah berpindah duduk diatas pangkuannya. Nadia menyengir lebar, mengubur wajahnya di lekukan leher Gibran.
"Om buat satu kesalahan pagi ini dan Nadia kesel bangat. Pia juga." Tuntutnya tanpa mengangkat wajah dari posisi nyamannya.
"Dih bawa-bawa sekutu." Bibir Gibran berdenyut menahan diri untuk tidak tertawa. Dua gadis kecilnya yang menggemaskan.
Nadia mengangkat kepalanya, menjauhkan dari Gibran. Lelaki berwajah kakunya itu tampak pasrah di bawah kendalinya. "Om mesti tebus tuh kesalahan. Gak mau tau."
Gibran mengangguk kecil, "Oke. Kesalahan apa?"
Nadia seketika seolah mendengar tepukan kemenangan disekitarnya. Ya ya ya ya... ini nih yang keren.
"Om pergi ke kantor tanpa izin. Ini rumah kalik Om bukan kuburan." Omel Nadia sembari melarikan jemarinya di dada telanjang Gibran.
Gibran tak menunggu lama untuk menangkap jemari nakal itu sebelum semuanya menjadi rumit untuknya. Masa bersih Nadia masih harus beberapa hari lagi jadi sebelum hari itu ia harus menahan diri dan menangkal semua godaan dari makhluk manis di pangkuannya ini.
"Siapa kemarin yang bilang kalau mau ngantor Om gak perlu izin? Yang katanya butuh waktu untuk istrahat beberapa menit atau kalau tidak bakalan berubah jadi ikan saking gak bisanya nutup mata gara-gara begadang ngurusin bayi?"
"Emang siapa?" Tanya Nadia dengan wajah sok tak tahunya.
Gibran tersenyum miring. Nadia dan kemampuan aktingnya yang sangat buruk.
"Adalah yang ngaku jadi The best Mom of the year." Ujar Gibran dengan tatapan jenaka pada Nadia.
"Masa sih Nad ngomong gitu? Gak mungkin ah." Elak Nadia tak mengakui. Sejak kapan dia jadi bodoh melewatkan tampang segar Omnya dengan pakaian lengkap bang jago di pagi hari?! Itu pasti bukan dirinya. Itu pasti Nadia yang menyebalkan.
"Gak ngaku. Udah ah, turun! Saya mau pake baju." Gibran berdiri dengan Nadia yang gelantungan di lehernya.
"Gak. Kek gini aja, Om seksi." Ucap Nadia mengedip genit yang langsung dihadiahi sentilan di dahinya. "Aw!"
Saat Nadia lengah, kesempatan bagi Gibran untuk melepaskan diri dan belitan istrinya itu.
"ISH! OM GAK ASIK!"
"Terima kasih untuk pujiannya sayang."
Nyebelin!!!
***
Duhhhh readerku yg masih setia, maaf ya author kemarin2 lagi sakit, biasa perubahan musim jd gak sempat nulis. Ini juga author sempat-sempatin karena kangen bangat sama trio gemesh.
semangat membaca. sehat selalu utk para reader.
🤗🤗🤗