Little Persit

Little Persit
Satu-satunya



Nadia terpaku di tempatnya. Di depannya Gibran berdiri dengan senyum kaku di wajahnya. Lelaki itu membawa tas ransel bersamanya, wajahnya penuh peluh terlihat juga dari baju kaosnya yang sedikit basah. Mungkin dia berlari hingga nafasnya terdengar tak beraturan. Nadia mengerjap.


"Hi Nad, O-om--" Gibran mengatupkan rahangnya menyadari tatapan datar Nadia padanya. Ia mengusap tengkuknya yang terasa basah, efek lari dari gerbang hingga ke lantai tiga. Ia bahkan lupa adanya lift di sekolahan Nadia saking khawatirnya kehilangan momen penting Nadia. Dan benar saja, sesampainya di sekolah sudah tidak ada siswa yang berkeliaran, begitupun Nadinya yang ternyata--


"O-om ngapain disini?" Nadia berujar datar. Pandangannya belum teralihkan dari sosok Gibran yang tampak salah tingkah. Lelaki itu bahkan mengusap peluh di pelipisnya berkali-kali padahal AC di kelas menyala.


"Om hanya-- Maaf, maaf karena Om nyusulin Nad. Tapi O-om--" Gibran kehabisan kata-kata. Alasan apa yang harus ia berikan pada Nadia setelah dua minggu tak berkabar satu sama lain. Rindu? Ah ayolah, apa ia layak mengucapkan itu pada Nadia sedangkan gadisnya itu meminta jarak dan waktu darinya. "Om ingin lihat Nad." Akunya lirih. Mata tajam itu tak bisa menahan lagi untuk memandang Nadianya. Ia sangat rindu. Rindu Nadia dan bayi mereka.


"Maaf." Ujarnya mengecangkan pegangannya di tali ranselnya. Semoga saja keputusannya untuk datang tidak menambah kemarahan Nadia padanya. Gibran menunduk mamandangi ujung sepatunya. Baru kali ini ia benar-benar merasa takut dengan keputusan yang ia ambil sendiri. Jika di medan perang, ia tak akan pernah menyesal akan semua strategi yang telah ia ambil tapi menghadapi Nadia yang diam dan marah padanya tidaklah mudah.


"Om kenapa datang?" Ulang Nadia dengan intonasi tinggi. Kedua tangannya mengepal, kedua matanya mulai mengeluarkan airmata yang sudah mengalir sejak melihat Gibran di depannya.


Gibran mendongak. Ia terkejut melihat Nadia mengucurkan airmata di pipinya. Tangisan pedih yang selalu ia dengar saat istrinya itu benar-benar terpuruk.


"Om jahat, hiks. Kenapa Om biarin Nad sendiri? Om udah janji sama Nad, mau nemenin nad, hiks, tapi kenapa Nad dibiarin sendiri, hiks. Nad gak mau sendiri Om, Nad gak mau, hiks."


"Sssshhhttt... Maafin Om sayang. Om disini. Om datang untuk Nad. Sekarang ada Om." Gibran tak lagi memikirkan penolakan Nadia, yang penting saat ini adalah menenangkan Nadia. Di peluknya gadis itu dengan erat, menyarangkan kecupan bertubi-tubi di rambut Nadia yang kini membalas pelukannya erat.


"Nad gak punya siapa-siapa Om, hiks. Jangan kayak gini sama Nad. Nad gak bisa, hiks. Nad gak sanggup sendiri Om, hiks."


"Nad tidak sendiri. Ada Om disini buat Nad." Gibran mengetatkan pelukannya di badan ringkih Nadia, membiarkan istrinya itu menumpahkan tangisnnya dalam pelukannya. Di usapnya punggung Nadia, memberikan kenyamanan pada gadis itu meyakinkan bahwa ia akan selalu ada disampingnya. Om Gibrannya tidak akan membiarkannya sendiri.


"Nad sudah lulus Om, hiks. Nad udah bukan anak sekolah lagi. Om gak bisa ngehukum Nad seenaknya lagi, hiks."


Gibran mengangguk, "Selamat. Nadianya Om yang terbaik." Ujar Gibran membenamkan hidungnya menghirup wangi rambut Nadia yang sangat ia rindukan. Betapa ia merindukan anak ini. Bodohnya dia yang selalu menyakiti Nadia hanya karena sesuatu yang tak penting. Ia sudah menyia-nyiakan waktu dua minggu hanya karena ego dan kekhawatiran yang tak beralasan. Seharusnya ia bisa lebih cepat datang sehingga Nadia tak perlu merasa sedih di hari kelulusannya.


"Nad masuk sepuluh besar. Nad gak malu-maluin Om, hiks."


Gibran tersenyum tipis, "Nad gak pernah bikin malu Om. Nad kebanggannya Om. Jangan menangis lagi. Om sudah ada disini." Gibran melepas pelukannya, merangkup pipi basah Nadia lalu menyarangkan ciuman panjang di kening gadis itu. "Selamat. Om bangga sama Nad." ditatapnya lembut Nadia yang malah semakin menangis.


"Hiks, makasih Om sudah datang. Makasih Om ada disini, hiks. Nad pikir, Nad--hiks."


"Jangan menangis." Gibran membelai rambut Nadia yang menatapnya bahagia.


"Nad senang." Akunya menghapus airmatanya dengan baju kaos Gibran. Laki-laki itu memincing.


"Dipeperin?


Nadia memukul dada Gibran, "Salah Om kenapa datangnya terlambat. Nad sedih tauk Om." Rajukan khas Nadia mulai keluar. Gibran menghapus airmata di pipi Nadia dengan ibu jarinya.


"Maaf. Maaf sudah buat Nad sedih." Gibran mengecup mata Nadai bergantian, lalu kedua pipinya yang terasa asin oleh sisa airmatanya, terakhir kecupan singkat di bibir merah Nadia yang membuat gadisnya itu terkejut langsung menutup mulut waspada.


"Ini sekolah Om. Gak boleh." Ujarnya gemas dengan suara pelan.Ia melirik kanan dan kiri dengan panik.


Gibran terkekeh, mencubit pipi Nadia yang memerah, "Gak apa-apa. Istri Om ini." Ujarnya cuek. Nadia memberenggut, ia sih tapikan--


Nadia kembali membenamkan wajahnya di dada Gibran merengkuh wangi lelaki itu yang sudah beberapa hari ini ia rindukan"Makasih. Makasih udah ada untuk Nad."


"Maaf, Om gak bawa hadiah padahal Om udah janji mau bawa satu truk bunga mawar untuk Nad tapi setangkai pun tidak." Ujar Gibran menyesal. Namun Nadia tak peduli. Bunga seberapa banyakpun tak akan bisa menggantikan keberadaan Gibran disisinya.


"Kehadiran Om disini adalah kado terindah buat kelulusan Nad. Nad gak butuh apapun. Nad hanya mau Om." Ujar Nadia sungguh-sungguh. Gibran sudah mewakili semua yang ia inginkan di hari kelulusannya yaitu kehadiran keluarga.


***


"Jangan deket-deket Nad!" Nadia mengancungkan bantal sofa pada Gibran yang kini berdiri tak jauh darinya. "Gak usah pulang sekalian kalau cuma sehari doang. Om tuh nyebelin ya. Baru juga Nad seneng ada Om, udah ada aja bikin kesal."


"Nad--" Gibran menahan langkahnya saat Nadia beralih pada remot tivi. Siap untuk melempar Gibran yang tampak menghela nafas berat.


"Om cuma dapat izin sehari. Besok malam Om harus kembali ke camp pelatihan." Ujar Gibran dengan sabar. Selesai makan sore, keduanya asik menonton film kartun si kotak kuning kesukaan Nadia. Kebahagiaan Nadia musnah oleh ucapan Gibran yang katanya besok sudah harus kembali ke tempat tugas. Kehadiran Gibran hanya untuk hari kelulusan dirinya dan itu membuat Nadia amat sangat kesal.


Nadia memanyunkan bibirnya "Nad kan masih mau sama Om. Masa sehari ditinggal lagi sih Om." Gerutunya dengan mata berkaca-kaca. Gibran yang melihat tanda-tanda tangisan Nadia part dua langsung meraih gadis itu dalam pelukannya.


"Balik ke Papua bareng Om, mau?" Gibran berucap hati-hati. Ia menghela nafas pendek saat Nadia tak memberikan respon. Istrinya itu tertegun. Gibran tahu kesalahannya sulit untuk dimaafkan terlebih oleh Nadia yang terbiasa dimanjakan oleh dirinya. Ia pun menyesal, sangat menyesal karena hampir menyentuh Nadia dengan tangan kasarnya.


"Nad belum maafin Om?" Tanya Gibran dengan tangan mengusap punggung Nadia yang hanya diam tanpa kata "Maafin Om. Om menyesal sudah menyakiti Nadia. Om salah besar melukai Nad sedalam ini." Dikecupnya sisi kepala Nadia dengan penuh perasaan. Ia tak butuh banyak, hanya kata maaf dari Nadianya.


"Om tidak mempercayai Nad. Itu nyakitin Nad bangat." Nadia melepas pelukan Gibran. Menatap dalam manik mata tajam itu. Ia terluka, tak bisa membohongi dirinya dengan terus berpura-pura baik-baik saja.


"Om minta maaf. Om gak suka lihat Nad dengan siapapun.  Om marah saat ada laki-laki lain yang bisa membuat Nad tersenyum lebar selain sama Om. Om minta maaf tak bisa menahan diri dan melukai Nad tapi itu semua karena Om cemburu. O-om--"


"Om kenapa?  Cemburu?" Nadia mendongak memastikan apa yang didengar benar adanya.  Cemburu?


Gibran mengangguk samar. Ia memalingkan wajahnya yang mulai memerah kearah lain.


"Kesimpulan dari mana itu?" Gibran menghebuskan nafas kasar. Perasaannya yang sebanyak ini masih juga tak dianggap? Yang benar saja.


"Kenyataannya memang begitu. Nad gak sepenting itu di mata Om, kan? Bahkan Om bisa tahan tanpa Nad selama dua minggu ini sedangkan Nad-- Nad gak bisa tidur, gak enak makan keingat Om terus."


Gibran mendesah berat "Om gak suka Nad menyimpulkan sendiri, Nad harusnya tanya Om dulu jangan langsung mikir sembarang."


"Sama kayak Om juga kan?" Potong Nadia cepat. "Om menarik kesimpulan sendiri tanpa mau bertanya sama Nad. Yang Om rasain sekarang sama dengan apa yang Nad rasa. Kesal, jengkel tapi gak bisa berbuat banyak."


Gibran terdiam. Benar, akar permasalahan mereka adalah dirinya yang selalu menyimpulkan sendiri tanpa mengecek langsung kebenarannya pada Nadia. Gibran mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sorry. Om benar-benar gak bisa liat Nad dengan laki-laki lain." Ucapnya menyesal. "Nad punya Om. Milik Om." Pernyataan kepemilikan Gibran yang gamblang membuat perasaan Nadia sedikit membaik namun ada satu hal yang masih mengusik perasaannya-- ucapan Elsa.


"O-om--" Cicit Nadia ragu-ragu. Tangannya yang tadi di dada Gibran kini saling menggenggam erat.


Gibran menaikan satu keningnya menunggu kalimat lanjutan Nadia. Gadis itu menggigit bibir bawahnya gugup.


Nadia mendongak, kata orang mata tak akan pernah bohong. "Apa Om gituan Nad tanpa cinta?"


Gibran mengernyit bingung "Gituan apa?" tanyanya tak paham.


Nadia duduk di sofa, melipat kakinya diatas. Kedua matanya menatap kearah lain, ia tidak yakin mau memperjelas ini tapi-- Nadia mengusap perutnya lembut. Gibran yang melihat kediaman Nadia menghampiri istrinya itu.


"What do you mean?" Tanya Gibran lembut. Diusapnya puncak kepala Nadia.


"Having sex." Nadia menatap langsung pada Gibran "Kita hanya having sex, gak ada cinta di hati Om buat Nad. Iya kan?" Mengingat ucapan Elsa kembali membuat hatinya sakit. Ia sudah memberikan segalanya pada Gibran dan kalau ternyata apa yang Elsa benar adanya, bolehkah ia marah?


Gibran cukup terkejut dengan pemikiran Nadia kali ini. Having sex? Lalu untuk apa ia menjaga dirinya selama ini kalau hanya ingin mendapatkan dari seorang perempuan? Ternyata Nadia benar-benar meragukan dirinya.


"Apa ucapan Om waktu itu kurang jelas? I love you even orang-orang bilang Om sudah salah mengambil keputusan dengan menikahi Nad. Walaupun seluruh manusia dimuka bumi ini meragukan Om, seharusnya Nad lah yang percaya Om. Om tidak butuh kepercayaan orang lain, Om hanya butuh Nad percaya." Jelas Gibran panjang lebar. Mungkin seumur hidupnya inilah kalimat terpanjang yang ia ucapkan. Tapi tidak apa-apa selama hal itu untuk kebaikan dirinya dan Nadia.


"Jadi Om beneran cinta sama Nad?" Tanya Nad kali ini dengan binar penuh harap dikedua bola matanya.


"Always. Nad satu-satunya Cinta Om di dunia ini. Jadi berhenti meragukan perasaan Om. Om capek harus mengulang ini terus menerus." Ujar Gibran lelah. Ia menarik nafas panjang.


"Om cemburu sama Om Robi?" Ulang Nadia memastikan. Gibran menautkan kedua keningnya. Masih juga? Batinnya mulai dongkol.


"Liat Nad!" Nadia memegang pipi Gibran menatap lurus pada laki-laki yang menatap datar padanya.  Mata kelam itu, wajah kaku itu, sebuah perasaan senang menyusup dihati Nadia.  Ia mengusap pipi Gibran lembut "Om cemburu?" tanyanya lagi. Gibran lagi-lagi menghela nafasnya. Kenapa urusan cemburu bisa seribet ini ya Allah.


"Hm."


"Hm apa?" Senyum Nadia tertahan saat melihat wajah kaku Gibran. Sungguh,  meskipun ia dikatakan terlalu murah dan mudah memaafkan Gibran ia tidak peduli karena mendengar pengakuan langsung Omnya mengenai rasa cemburu itu melambungkan perasaannya. Cemburu tanda cinta kan?


Gibran menarik nafasnya berat "Om cemburu. Cemburu sama Robi atau siapapun laki-laki yang dekat dengan Nad. Om cemburu. Rasanya Om mau mematahkan rahang Robi dan semua laki-laki yang lancang tersenyum sama Nadnya Om. Om cemburu sampai-sampai disin--"


Cup.


"Cukup. Nad udah dengar."


Gibran mengerjap. Nadia baru saja mengecup bibirnya. Wajahnya memerah saat Nadia meraih kerah bajunya membuat wajah mereka begitu dekat sampai Gibran bisa mencium wangi lembut dari helaan nafas Nadia.


"Say something!" Pinta Nadia dengan suara lirih yang terdengar merdu di telinga Gibran.


Laki-laki itu mengerjap bingung "Say apa lagi sih Nad." Gibran mendesah lelah.


Nadia memberenggut dengan bibir mengerucut lucu, "Ooom" rengeknya. Ya kan kalau cemburu tanda cinta, bilang I love you dong, batin Nadia dongkol. Kalau kali ini belum juga peka,  ia akan meninggalkan Gibran untuk hijrah ke london.


"Ayooo" Rengekkan Nadia makin panjang.


"Om harus bilang apa?" Tanya Gibran bingung. Semua yang ingin dia katakan sudah dia ungkapkan semuanya.


Ah elaaah, punya suami gak peka bangat.


"Ck. Bilang I LOVE YOU kek, apa kek--"


"Love you too."


Heh?


"OOOOOM GIIIIIIIIII!!!! NAD CUMA NYONTOHIIIIIN!!!"


***