
"Bang Gibran, Elsa--" Elsa menahan langkahnya saat Gibran berbalik arah meninggalkannya bersama Nadia dalam rengkuhannya.
Bang Gi--- Elsa termangu. Gibran masih marah dan itu benar-benar kabar buruk untuknya.
Nadia mempercepat langkahnya mengimbangi langkah tegap Gibran, ia melirik kebelakang dimana Elsa terpaku menatap kepergian mereka "Om, gak disapa dulu tuh tante Elsanya?" tanyanya ragu-ragu. Biar bagaimanapun Elsa dan Gibran sebelumnya memiliki hubungan yang baik dan Nadia bukan tipe orang yang akan menghasut orang lain agar tidak menyukai apa yang tidak disukainya meskipun itu Gibran suaminya sendiri.
"Nggak usah." Gibran mengetatkan rengkuhannya dibahu Nadia menuju tempat dimana ia memarkirkan motornya.
Nadia menoleh sekali lagi pada Elsa yang masih setia menatap nanar kearah mereka, "Sakit bangat tuh." gumamnya yang ternyata di dengar jelas oleh Gibran. Drama baru ternyata tidak terjadi. Elsa tidak meraung-raung dan Gibran si manusia kaku tidak peduli padanya.
"Apanya?" Tanya lelaki itu sambil mengeluarkan kunci motor dari saku celanannya.
"Tante Elsa lha, Om. Dikacangin gitu." Ujar Nadia sembari berusaha mengimbangi langkah lebar sang suami.
"Oh, jadi Nad mau saya sapa-sapa dia? Oke, tidak masalah sa--"
"Eeeh enggak!" Nadia kelabakan menahan lengan Gibran yang hendak berbalik kearah Elsa, "Nggakk boleh." Rengek Nadia memeluk lengan Gibran erat membuat laki-laki menyunggingkan senyum samar.
"Lain kali tidak usah menemuinya lagi." Ucap Gibran sembari memakaikan helm dikepala Nadia. Istri kecilnya itu mengangguk.
"Jawab yang benar." Tegur Gibran menepuk helm Nadia pelan membuat gadis itu manyun.
"Iya iyaaa." Nadia naik dibelakang Gibran memeluk punggung laki-laki itu erat, "Hayuk jalan."
"Mall atau hotel?" Goda Gibran sembari menstater motornya.
"Hotel aja, nggak?"
Gibran tersenyum tipis dibalik helm full facenya.
***
Gibran menyusupkan tangannya di pinggang Nadia memeluk gadis kecilnya itu dari belakang, "Capek ya?" kecupan sayang disarangkan di pipi sang istri. Pada akhirnya dua manusia itu benar-benar ke hotel.
Nadia menggeliat merasakan geli dilehernya karena ciuman itu semakin turun ke ceruk lehernya, "Hu-um, Om ganas bangat udah kayak gak dapat jatah sebu--Awww jangan digigit." Nadia memukul lengan Gibran yang melingkar di perutnya membuat laki-laki itu terkekeh.
"Wangi kamu enak." Gibran sekali lagi mendaratkan kecupannya kali ini di bahu telanjang Nadia, menghirup aroma segar yang selalu mampu membiusnya.
"Kan pake sabun mahal. Jelas wangi dong. Om suka?" Nadia menyandar manja di dada kokoh Gibran. Kalau sudah berdua begini, ia bisa lupa segalanya. Gibran benar-benar telah menjadi pusat dunianya.
"Suka."
Nadia menyengir lebar, "Nad juga suka wanginya Om Gi, kayak wangi ayah. Pengen lama-lama dipeluk." ungkapnya.
Gibran tersenyum tipis, diciumnya rambut Nadia penuh sayang dengan kedua tangan memeluk semakin erat. Meskipun tampak selalu ceria, Gibran tahu dalam hati kecilnya Nadia masih menyimpan duka atas kepergian kedua orangtuanya. Gadis kecil yang selalu dilimpahi cinta dan kasih sayang oleh kedua orangtuanya dan tiba-tiba dalam sekejap harus kehilangan semuanya sudah pasti itu adalah neraka untuknya.
"Bagaimana ujianmu? Lancar?"
Nadia menggigit bibir bawahnya. Topik ujian bukanlah topik yang menyenangkan untuk dibahas terlebih karena dia tidak pernah bisa menyelesaikan soal yang diberikan dengan jawaban yang cemerlang. Otak pas-pasannya hanya bisa membuat seorang Nadia bertahan melewati angka D dari dosen.
"Seperti biasa Om." Jawab Nadia takut-takut. Terlepas dari statusnya sebagai seorang istri yang dicintai setengah mati oleh sang suami dalam hal ini adalah Gibran, Nadia sekaligus menyandang status sebagai anak angkat dari lelaki yang tengah memeluknya ini dan sebagai Wali, Gibran bukanlah wali yang menyenangkan yang akan legowo menerima angka merah di lembar hasil belajarnya.
"Seperti biasa itu artinya lulus kan?" Tanya Gibran lagi, kali ini ia menarik Nadia agar berdiri menghadapnya. Nadia dibuat semakin ciut.
"Nad berusaha yang terbaik kok." Jawab Nadia meringis. Jangan sampai topik ujiannya membatalkan rencana liburan mereka.
"Good. Kita tunggu hasilnya."
Nadia mengangguk kaku. Tatapan Gibran persis tatapan bapak-bapak yang mengancam memangkas uang jajan anaknya yang baru saja ketahuan bolos sekolah. Menyeramkan. Nadia harus melakukan sesuatu jika ingin menyelamatkan hari liburnya. Berbekal pengetahuan dasarnya mengenai Gibran yang bucin akut dan semakin hari semakin mudah tergoda dengannya, Nadia mulai menjalankan aksinya.
"Om~" Panggilnya lembut. Tangannya tak tinggal diam, ikut membuat pola-pola melingkar di dada polos Gibran.
"Hm?" Gibran memperhatikan pergerakan tangan kecil Nadia yang sedang berusaha menggodanya. Penggoda kecilnya yang menggemaskan. Gibran menahan diri, membiarkan Nadia membuktikan dirinya sekali lagi sebagai pengendali hari ini.
"Liburannya tetep kan? Om udah janji lho." Nadia mendongak, menatap Gibran dengan puppy eyesnya. Tangannya tak lagi membuat pola melingkar melainkan jari-jari mungilnya yang sangat berani mencubit put*ng coklat lelaki itu hingga Gibran bertahan menahan geramannya sekuat tenaga. Nadia benar-benar mencari gara-gara dengannya.
"Tergantung" Satu tangan Gibran menahan jemari Nadia, meremasnya pelan,mengecup jemari itu satu persatu.
Nadia menatap jemarinya yang berada dimulut Gibran, "Tergantung apa?" tanyanya lirih.
Senyum tipis Gibran membuat bulu kuduk Nadia meremang. Lelaki dewasa sangatlah berbahaya. Nadia meneguk salivanya susah payah. Tenggorokannya terasan kering menunggu jawaban lelaki yang sedang menatapnya lain itu.
"Tergantung perfoma Nad gimana." Bisik Gibran pelan. Senyum menjerat laki-laki itu belum juga luntur. Dan Nadia si gadis kecil yang sudah hafal segala jenis tatapan laki-lakinya itu menggigit bibir bawahnya was-was. Sudah pasti kali ini tidak akan cukup hanya dengan satu atau dua ronde. Memprovokasi Gibran ternyata bukan ide yang baik. Nadia merutuk dirinya dalam hati. Tapi demi memperjuangkan tiket liburannya, Nadia akan melakukan apapun termasuk menjadi penggoda kecil untuk Omnya.
Nadia tersenyum kecil, jenis senyum yang kata Gibran membuatnya susah berkonsentrasi.
"Jadi--" Sluuuurp---
"Nghhh---" Wajah Gibran memerah menahan desakannya. Nadia--astaga gadis kecilnya belajar darimana hal-hal liar begini? Ah ya, tentu saja belajar dari Kapten Gibran kebanggaan negara. Tatapan Gibran berubah berkabut. Didepan dadanya gadis kecil yang baru genap delapan belas tahun itu tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil mengacaukan akal sehatnya. Lidah kecilnya yang nakal membuat put*ng kecilnya basah.
"Besok libur kan, Om?" Dan sekali lagi lidah kecil itu menyapu permukaan kulit kecoklatan itu, bermain-main disana dan tanpa menunggu lama, Gibran menggendong Nadia dan membawanya masuk kembali kedalam kamar.
"Kita liat setelah mencoba sofa empuk itu."
***
Nadia menyusun baju-bajunya dalam koper sembari bersenandung riang. Akhirnya liburan dataaaaang. Sejak pulang dari hotel, istri kecil kapten Gibran itu tak berhenti bertanya tentang tempat yang akan mereka kunjungi dan barang-barang apa saja yang harus disiapkan.
"Pia sepertinya lapar, Nad." Gibran muncul dari pintu connector bersama Pia dalam gendongannya menginterupsi keasikan Nadia. Gadis kecilnya itu sedang menangis heboh dalam gendongan ayahnya. Sepulang dari hotel, Pia bukannya mencarinya malah menempel terus sama ayahnya. Memang bibit-bibit pencinta om-om tidak terelakan lagi.
"Makanya Dek, sekeren apapun ayahmu tetap yang punya susu cuma Ibu. Suka bandel sih gak mau sama Ibu." Nadia mengambil alih Pia yang langsung merengsek mencari sumber kehidupannya, "Duh aduuuh, sabar dong sayang ini kancing ibu dilepas dulu." dengan cekatan Nadia melepas dua kancing teratasnya secepat itu pula mulut Navia bergerak lincah menyesapnya. Nadia terkekeh mengusap rambut lembut ikal putrinya, "Pelan-pelan ya, jangan digigit. Bekasan ayah kamu belum sembuh tuh."
"Tadi yang kiri Nad." Ujar Gibran menimpali. Laki-laki yang hobi pamer otot itu duduk disampingnya, merengkuh bahu Nadia untuk bersandar didadanya.
"Hafal bangat ya Om-om satu ini." Nadia menyeruk manja didada Gibran, mencubit perut kotak-kotaknya genas membuat lelaki itu terkekeh balas menjawil hidung sang istri.
"Dek, Ibu sangat sayang sama adek. Lihat, masih repot saja tetap mengutamakan adek." Gibran mengusap lembut pipi gembul Pia yang masih asik menyusu. "Sayang Ibu ya, dengar apa kata ibu. Surganya adek ada sama Ibu."
"Sama ayah juga." Lanjut Nadia mengecup kening Pia lama. Tak ada cinta yang lebih baik didunia ini selain cinta orangtua kepada anaknya. Kedua orangtua Nadia sudah membuktikan itu dan Nadia pun akan melakukan sama baiknya dengan apa yang dilakukan kedua orangtuanya tentu saja bersama Gibran sebagai ayah untuk Pia dan suami untuknya.
"Om jangan tinggalin Nad dan Pia ya. Jangan kemana-mana, disini terus bareng-bareng selamanya." Nadia selalu berubah sendu setiap kali mengingat kedua orangtuanya. Kehilangan dua orang yang disayanginya dalam satu waktu menjadi trauma yang sulit sekali ia sembuhkan. Terlebih dua kali hampir kehilangan Gibran menambah daftar panjang kekhawatirannya. Menjadi istri seorang tentara berarti siap untuk mendengar kabar terburuk jika kelak belahan jiwanya tak akan pernah kembali lagi dalam pelukannya. Nadia selalu merasakan ketakutan setiap kali Gibran pamit untuk tugas. Nadia takut jika pelukan itu akan menjadi pelukan terakhir keduanya dan dia tidak akan pernah bertemu Om Gi kesayangannya lagi untuk selamanya.
"Insya Allah saya akan selalu bersama Nad dan Pia." Janji Gibran melabuhkan kecupan di kening kedua wanita kesayangannya.
"Nad cinta banyak-banyak sama Om."
"Iya, tau."
"Om cinta banyak-banyak juga kan sama Nad?"
Gibran terkekeh, "Lebih banyak dari yang kamu tau." jawabnya merapatkan rengkuhannya di badan sang istri. Putri mereka sudah tertidur dengan nyaman sembari mulutnya tetap sibuk menyesap sumber kehidupannya.
"Nad ngantuk juga ngeliatin Pia tidur nyaman gini. Nular bangat emang." Nadia memperbaiki posisi pia, menepuk-nepuk pantat montoknya saat bayinya menggeliat.
"Tiduran disini." Gibran menepuk dadanya, meraih badan Nadia agar nyaman bersandar disana sementara dia sendiri menyandarkan pinggungnya di pinggir ranjang.
"Nad mau di nyanyiin." Rengek Nadia manja. Diatas langit masih ada Pia yang manja pada ayahnya dan diatas Pia masih ada Nadia yang super manja pada Omnya.
"La--"
"Please lagu apapun asal jangan lagu nasional, Nad udah khatam pas sekolah dulu. Berasa pengen ngangkat senjata aja rasanya tiap dengar Om nyanyi." Potong Nadia cepat saat Gibran hendak membuka mulutnya.
Gibran berpikir sejenak. Laki-laki yang juga bucin pada negaranya itu berpikir keras memikirkan lagu lain. Selain lagu nasional dia tidak mengetahui lagu apapun lagi. Otaknya sudah tersetting untuk mencintai negeri ini tanpa batas.
"Lagu apa? Saya tidak tau lagu lain."
"Yang viral-viral di tiktak. Masa gak ada yang nyantol di kepala Om sih."
"Tiktak? Apa itu?" Kening Gibran mengerut.
"Aplikasi buat joget-joget yang bisa bikin viral." Jelas Nadia mengulum senyum geli. Umur memang tak akan pernah bisa berbohong.
"Joget-joget bisa jadi viral?" Tanyanya bingung.
"Yap. Nad juga punya. Mau liat nggak?"
Gibran tidak menyahut tapi tidak menolak saat Nadia meraih hp disampingnya dan menunjukkan satu aplikasi yang kata orang-orang bisa bikin terkenal.
"Ini lho sayang. Liat deh, ada juga abang-abang loreng kayak Om yang bertebaran mengusik hati para cewe-cewe." Cengiran Nadia makin lebar melihat kening Gibran menukik tajam.
"Kamu salah satunya?" Tanya Gibran tak santai. Ia merebut hp Nadia untuk melihat apa yang kata Nadia bikin cewek-cewek bergejolak. Laki-laki itu menggeleng pelan melihat para bujang seprofesinya benar-benar bertebaran di aplikasi tersebut, apa kata Nadia? Sumber kehaluan ya?
"Hapus!"
"Ya?"
"Hapus!"
Nadia berusaha mengambil hpnya namun keberadaan Pia dalam gendongannya menyulitkannya bergerak bebas. Sekali klik Gibran sudah berhasil menghapus aplikasi tersebut.
"Ih, Om kok hapus sih. Followers Nad udah banyak disitu. Rese bangat sih." Nadia mengomel kesal melihat salah satu aplikasi favoritnya sudah tidak ada disana. "Ngumpulin followers kan susah." Gerutunya hampir menangis.
"Jangan unduh aplikasi itu. Kalau saya nasih lihat aplikasi itu, Nad ganti hp saja. Hp layar kuning masih saya simpan di laci."
"Ogah!"
"Tidak ada bantahan Nadia sayang. Ayo sini, tiduran lagi." Gibran kembali menyandarkan badan Nadia didadanya. Mukanya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Otoriter tetap saja otoriter.
"Om malesin." Sungut Nadia di dada Gibran.
"Iya, Om yang malesin ini cinta banyak-banyak sama kamu. Tidak rela kamu yang berharga ini joget-joget tidak jelas begitu, jadi sumber fantasi laki-laki bejat diluar sana." Ujar Gibran mengelus rambut Nadia.
"Om aja tuh yang mikirnya kejauhan. Gak semua laki-laki otaknya kotor ya Om." Ujar Nadia entah sedang membicarakan lelaki yang mana karena dari semua lelaki yang dia kenal, nyatanya cuma Gibran yang otaknya lurus. Bahkan Om samuel kepercayaan ayahnya adalah lelaki yang menganggap s*x sebagai sesuatu yang hanya berdasar pada suka sama suka padahal lebih dari itu s*x bisa jadi ladang ibadah jika dilakukan dengan pasangan yang sah, halal dan dengan cara yang baik.
"Saya laki-laki Nadia, saya lebih tahu watak kaumku seperti apa jadi jangan mendebat." Ujar Gibran mengecupi rambut Nadia.
"Berarti Om juga dong?"
"Bisa jadi makanya saya batasi berinteraksi dengan hp karena banyak hal yang tidak baik disana terlepas dari kegunannya yang banyak. Laki-laki diperintahkan menundukkan pandangan bukan tanpa alasan Nad." Gibran mengusap-usap rambut Nadia lalu turun kebahu dan memijat disana "Lagian, kamu sudah membuktikannya sendiri kan? Laki-laki itu lemah sama yang seperti ini."
"Aw! Nakal bangat sih." Gemas, Nadia memukul tangan Gibran yang sangat lihai mer*mas dadanya dari luar kain. Untung saja Pia tidak terbangun. Nadia memelototi Gibran, "Tangannya ih!" Digenggamnya tangan suaminya itu yang masih iseng menggodanya. Sementara Nadia menahan gemas, Gibran tertawa puas melihat wajah merah sang istri.
"Giliran saya kapan, Nad? Pia kayaknya sudah nyenyak bisa dipindahkan."
Nadia mendelik, "Yang di hotel kan udah."
"Di rumah belum." Gibran menaik turunkan alisnya.
"Dih, om-om mesum. Udah ih, sana celupin tuh kepala Om dalam air biar bersih, supaya gak yang kotor-kotor lagi mikirnya." Nadia menggeliat, berusaha melepaskan diri dari pelukan Gibran. Yang benar saja dong, lima ronda apa tidak cukup tuh. Tenaga gajah apa dinosaurus? Dasar buaya loreng.
"Celupin punya kamu aja gimana?"
"Hiihh mesum!"
Bersamaan dengan beberapa botol skin care yang melayang dan suara pintu yang tertutup, tangisan Pia pecah di ruangan itu.
"OM GIIII JANGAN KABUR! TANGGUNG JAWAB! PIA BANGUN, SUSUIN, GAK MAU TAU!"
***
Penggoda kecil Om Gi. Yang penting tiket libur aman ya, Nad. yipiiii
Om Gi yang udah mulai nackaaal. Itu aplikasi apa lagi Om yang di hapus?