
"Nadiaaa... Nadiaaaa." Gibran terus memanggil. Suaranya timbul tenggelam diantara deru hujan dan aliran sungai yang deras. Beberapa kali petir menyambar sedikit membantunya melihat dalam keremangan. Doa-doa terbaik teruncap dalam usahanya mencari keberadaan sang istri. Ia sudah pernah menghadapi medan yang lebih berat tapi kali ini orang yang dia cintai yang harus ia selamatkan. Ya Allah, jaga Nadiaku. Engkau sebaik-baiknya penjaga.
Gibran seharusnya lebih tenang dalam keadaan seperti ini tapi memikirkan Nadia dalam bahaya membuat sulit berkonsentrasi hingga berkali-kali ia terserat dan hilang kendali.
"Nadiaaaaa." Gibran terus memanggil. Airmata dan air hujan menyatu meleleh di pipinya. Nadianya dalam bahaya. Seharusnya ia tidak menyuruh Nadia datang ke tempat ini seharusnya--
"Nadia?" Dari kejauhan ada sosok bernyawa yang tersandung oleh batang kayu diantara cabang pohon. Itu Nadianya.
"NADIAAA" Panggilnya dan sosok itu bergerak sedikit saja maka akan langsung terbawa arus.
"HULURKAN TALINYA!" Teriak Gibran memberikan perintah. Orang-orang dari atas membantu sebisa mungkin. Hujan belum juga berhenti mengguyur.
"Nad, bertahan!" Gibran berusaha mendekati sosok diam itu namun aliran sungai yang derat menyulitkan pergerakannya. Nadia tak bergerak sama sekali. Dengan seluruh kekuatannya Gibran terus mencoba segala usaha untuk mencapai badan sang istri namun tetap saja tidak bisa. Nadia harus mengulurkan tangannya agar bisa diraih olehnya.
"Nad, Nadia!" Gibran terus memanggil mencoba menyadarkan Nadia.
"Nad, wake up sayang. Ini Om Gi-Nya Nad. Ayo Nadia!" Gibran memanggil frustasi. Pohon yang menahan Nadia tak akan bertahan lama lagi, terlalu kecil untuk menahan aliran banjir. Gibran berusaha kembali meraih Nadia tapi masih gagal.
"KAPTEN, TALINYA TIDAK CUKUP KUAT! CEPAT!" Teriakan dari arah atas membuat Gibran menggeram. Nadia belum juga sadar.
"NADIA BANGUN! BUKA MATA KAMU!"
Perlahan Nadia membuka matanya. Senyum kecil terukir di bibir pucatnya. "Om gi?"
Gibran mengangguk cepat, "Iya sayang. Ini Om Gi. Ulurkan tangan Nad." Gibran mengulurkan tangannya berusaha mencapai Nadia, "Ayo sayang."
Nadia masih tersenyum, matanya perlahan terpejam.
"NADIA!" Teriak Gibran berusaha membuat Nadia tetap sadar. "Ayo sayang. Ulurkan tangan kamu." Gibran benar-benar frustasi melihat Nadia begitu dekat tapi tak bisa menggapainya.
"KAPTEN!" Peringatan dari atas mengingatkan Gibran bahwa waktu mereka tidak banyak lagi.
"NADIA! BANGUN!" Gibran terus memanggil Nadia sembari terus berusaha menggapai badan gadisnya itu.
Nadia tersentak saat guntur menggelegar dahsyat menyusul kilat yang lebih dulu menyambar sebuah pohon tinggi.
"BUNDAAAAA" teriak Nadia histeris. Ia kembali mendapatkan kesadarannya namun diiringi dengan bayangan kedua orangtuanya yang tergeletak tak berdaya ditutupi kain putih.
"Nad, Ini Om. Ulurkan tangan kamu."
Nadia menatap dalam gelap. Sosok Gibran yang berusaha menggapiannya. Tangan laki-laki itu terulur.
"Om Gi?" Nadia menangis.
"Iya sayang. Ini Om Gi. Ayo, tangan kamu."
Nadia menggerakan badannya tapi salah satu lengan terhimpit oleh kayu dan pohon. "Sakiiiit" rintihnya saat berusaha melepaskan diri dari himpitan itu.
"Ada apa? Ayo ulurkan tangan Nad."
Nadia menggeleng kesakitan, "Lengan Nad kejepit, Om. Sakit." Rasa perih dan sesak menyulitkannya bergerak.
"Pelan-pelan. Ayo, sayang. Tidak apa-apa. Sakitnya sedikit saja." Gibran berusaha menenangkan meskipun ia tahu Nadia pasti sangat kesakitan.
Nadia dengan hati-hati berusaha meloloskan tangannya. Perih, sepertinya kulitnya robek. Ia menahan sakitnya hingga kemudian bisa melepaskan lengannya. Nadia mengulurkan tangan berusaha memegang tangan Gibran.
"Lebih dekat, Nad. Sedikit lagi." Gibran terus menyemangati hingga kemudian Nadia bisa memegang tangannya. Ia langsung meraup badan itu dalam depannya.
"TARIK TALINYA!" Gibran menggerak-gerakkan tali dan perlahan tali itu membawa badan mereka mendekati daratan.
"Peluk yang kuat." Bisik Gibran, mengalungkan lengan Nadia dilehernya.
"Om gi?" Panggil Nadia lemah.
"Iya sayang. Ini Om Gi." Ujar Gibran mengecup rambut lepek Nadia. Terimakasih ya Allah.
***
Saat tersadar, hal yang pertama Nadia rasakan adalah perih di pangkal lengannya. Lalu ia membuka mata perlahan. Seperti inikah alam baka? Tampak seperti dunia fana yang sempat ditinggalinya.
"Malaikatnya mana?" Gumamnya memijit kepalanya yang sedikit pusing. Tidak ada siapapun. Tidak seperti kata Gibran yang kelak jika meninggal maka manusia akan ditanya oleh malaikat dialam kubur. Apa karena ia mati tenggelam ya? Nadia terus menebak-nebak.
Ia menoleh kesamping kanannya lalu senyum lemah terukir diwajahnya, "Ini Nad pasti langsung masuk surga makanya bisa ketemu malaikat gini." Nadia terkekeh tapi kemudian sendu terurai di wajahnya "Malaikatnya mirip bangat Om Gi-ku" Ujarnya merasa sedih. Apakah ia benar-benar sudah pergi dari dunia? Ternyata meninggal tidak semenakutkan perkiraannya. Setidaknya dia masih melihat Om Gibrannya dalam wujud malaikat meskipun sebenarnya ia hanya ingin Om Gibrannya sebagai Kapten keren.
"Bahkan saat jadi malaikatpun Om Gi masih pelit senyum." Ucapnya lagi tanpa terasa airmata meleleh di wajah pucat pasinya. Ia menatap lama makhluk ganteng yang dikiranya malaikat itu. "Tuhan baik bangat ngizinin Nad liat wajah Om Gi-hiks." Nadia hendak menyentuh pipi Gibran tapi rasa nyeri dilengannya mengejutkannya. "Aw!" Nadia meringis, ternyata meskipun sudah di surga ia tak luput merasakan sakit.
"Sudah selesai ngayalnya?"
"Huh?" Nadia kembali memusatkan perhatiannya pada sosok yang menatap kaku padanya. Wujud malaikat ternyata tak mengubah sisi kanebo kering Omnya. Tidak ada manis-manisnya, "Sama juteknya." Kekehnya. Nadia meraba lengannya dan mendapati perban disana. "Di surga ada perban juga?" Ujarnya bingung. Mulai menerka ia sebenarnya di surga apa masih melayang di dunia para arwah gentayangan?
Gibran yang sejak tadi menahan gemas langsung menarik pipi Nadia, "Bangun!"
"Aw sakit!" Nadia memukul lengan Gibran dengan tangannya yang sehat.
"Bangun." Ulang Gibran kali ini mengunyel-ngunyel pipi istrinya sampai gadis itu merasakan pegal di pipinya.
"Ouch, jangan dicubitin." Nadia memukul tangan Gibran dan nyata. Ia bisa menyentuh laki-laki itu, ia terdiam sejenak, kali ini tangannya perlahan terulur menusuk pipi Gibran dengan ibu jarinya, "Om manusia?" Nadia lantas meraba badannya sendiri "Nad tidak jadi mati?"
"Jaga mulut kamu!" Tegur Gibran tak suka.
"Oh bener. Nad masih hidup." Nadia yang akhirnya sadar tertawa renyah, "Alhamdulillah masih bisa ngedengerin Om Gi ngomel." katanya penuh syukur. Disampingnya Gibran mengamatinya dengan ekspresi datar.
Nadia merentangkan tangannya, "Sini peluk."
Gibran tak bergeming lalu ketika senyum Nadia terulas, bayangan kejadian semalam teringat olehnya. Bagaimana kalau dia terlambat? Bagaimana kalau Nadia tidak sempat ditolong? Ia pasti akan kehilangan pemilik senyum cerah ini. Ketakutan itu mengusik Gibran semalaman, membayangkan hidup tanpa Nadia benar-benar sangat mengerikan.
Gibran meraih Nadia dalam pelukannya, "Terima kasih sudah jadi gadis yang kuat." ia memeluknya erat seolah sedikit saja dia lengah maka sosok dalam rengkuhannya ini akan hilang seperti buih-buih, "Jangan tinggalkan saya Nad. Jangan seperti ini lagi." Gibran mengecup rambut Nadia berkali-kali. Nadia hampir saja celaka di depan mata kepalanya. Hal yang paling mengerikan adalah membayangkan dirinya tak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Nadia yang sedang dalam bahaya.
"Om lupa ya kalau Nad istri seorang Kapten keren? Nad kuat tauk." Hibur Nadia mencoba menenangkan Gibran. Lelaki itu pasti sangat kacau mengetahui keadaannya.
Gibran mengangguk menyetujui, "Iya, Nad istri Kapten Gibran jadi hiduplah selamanya seperti ini menjadi gadis yang kuat. Jangan begini lagi. Saya bisa mati kalau kamu kenapa-kenapa."
Nadia mengangguk mencoba mengurai pelukan Gibran yang sedikit membuatnya sesak, "Nad mau duduk."
Gibran lantas membantu Nadia duduk bersandar dibadannya. Nadia terkesiap saat menyadari keadaannya dibalik selimut loreng itu ia tak mengenakan sehelai benang pun.
"Om, Nad gak pake baju." Lapornya panik, berusaha menutupi badannya.
"Pakaian kamu basah jadi saya lepas semuanya."
BUK!!!
"ARGH! Kenapa memukulku?" Gibran mengusap keningnya yang mendapat pukulan tak main-main dari Nadia.
"Om ngapain buka baju Nad? Om kan jadi liat semua badan Nad. Nad gak ikhlas." Protes Nadia kesal. Yang benar saja dong di unboxing saat tak sadar pasti Gibran liat semuanya--hiks.
Ekspresi Gibran langsung datar, "Saya bahkan sudah menyentuh semuanya sebelum ini Nadia. Semuanyaaaa" Jelas Gibran tak habis pikir. Istrinya ini ada-ada saja. Diusapnya lengan polos Nadia.
"Semuanya?" Ulang Nadia. Ia menatap Gibran ngeri.
Gibran mengangguk, "Iya, menyentuh, mencium, meraba, menji--"
TAP!
"DIEM!" Nadia memukul bibir Gibran keki. Astaga omongan laki-laki ini vulgar sekali. Saringannya kemana cobak. Nadia kan jadi malu. Nadia memeluk selimutnya erat sembari bersandar dibadan kekar Gibran. Ini katanya yang malu? Trus yang nempel ini siapa? cicak?
Nadia mengintip celah dibalik selimut. Ia menggigit bibir mendapati keadaan benar-benar polos. "Om, Nad mau pake baju." Pintanya setelah lama suasana di tenda darurat itu senyap.
"Baju Om? Gak mau. Nad mau pake baju Nad sendiri."
"Koper kamu dibawa banjir. Pakai yang ada." ujar Gibran mengulurkan baju miliknya.
Nadia mendesah lelah. Ia tak punya pilihan. Hanya baju ini yang tersedia untuknya, "Pakein." Ucapnya manja.
Gibran menyipit, "Yakin? Tadi yang teriak-teriak tidak terima siapa?!"
Nadia menyengir, "Tadi ekting doang Om. Biar kayak orang-orang. Masa iya sih Nad biasa aja pas bangun nemuin badan tanpa baju. Normalnya kan Nad harus teriak panik." jelasnya tak bisa dicerna oleh Gibran. Klaau sudah banyak omong begini artinya Nadia sebentar lagi akan pulih.
"Normalnya Nad harusnya biasa saja karena saya suami Nad." Ucap Gibran menggelengkan kepala takjub. Nadia si gadis kesayangan ajaibnya.
"Gitu ya, Yaudah."
"NAD!"
Gibran langsung memeluk Nadia saat gadis ajaibnya itu melepas selimutnya dengan pasrah "Kalau ada orang liat bahaya." ujarnya tertahan. Astaga.
"Gak bakal. Kan ada Om." Ujar Nadia enteng.
Gibran melepas pelukannya tak lupa menghadiahi jitakan di kening istrinya. "Bandel."
Nadia menyengir lebar. Ia merentangkan tangannya membebaskan Gibran memakaikan seragam loreng tersebut.
"Nad gak pake daleman dulu?" Tanyanya ketika Gibran sibuk mengancing seragam tersebut. Gibran cukup takjub akan ketahanannya yang tidak langsung menyerang Nadia yang sedang tidak berbusa didepan matanya. Kejadian semalam mungkin membuatnya tetap waras.
"Tidak perlu. Semuanya masih dijemur." Tukas Gibran mengancingkan kancing terakhir. Ia cukup puas menatap penampilan Nadia yang sangat menggemaskan dalam balutan seragam militer yang menenggelamkan tubuh kecilnya. "Cantik."
"Of course." Ujar Nadia percaya diri. Ia mengambil celana selutut Gibran dan memakainya, "Kedodoran." Ucapnya saat celana itu meluncur mulus dibatas pinggangnya.
Gibran menaikan lagi celana itu lalu mengetatkan karetnya, "Disini kuncinya." Jelas Gibran yang jawab anggukan paham oleh Nadia.
Setelah Nadia berpakaian, Gibran mengambil bubur ransum yang ia bawa dalam tasnya.
"Tidak ada yang lain Om?" Nadia meringis melihat bubur ransum makanan instan milik para tentara itu. Sejujurnya ia tidak begitu menyukai makanan tersebut karena bentukannya yang jauh dari kata estetik.
"Hanya ini yang tersisa." Gibran menyendok makanan itu dan mengarahkannya ke mulut Nadia.
Nadia menatap sanksi makanan lembek itu.
"Makanlah." Ucap Gibran memaksa.
"Mie instant aja gimana Om?" Tawar Nadia. Meskipun tidak sehat tapi setidaknya bisa diterima oleh lidahnya.
Gibran menggeleng, "Makan apa yang ada. Semua orang dalam keadaan sulit sekarang."
Nadia mendengar keseriusan itu membuka mulutnya, "Sepulang dari sini Om mau kan masakin Nad bubur?" Pinta Nadia melirik Gibran setelah berhasil memasukan sesuap bubur ransum rasa ayam itu.
"Apapun." Ucap Gibran mengusap puncak kepala Nadia.
Nadia tersenyum bahagia "Makasih sayangku."
"Iya sama-sama." Gibran mencium kening Nadia lama.
Bukan hanya bubur Nad, Om akan memberikan segalanya yang Nad minta asalkan Nad selalu baik-baik saja.
***
Gibran kembali bergabung bersama pasukannya setelah mengurus sarapan Nadia dan menemani istrinya itu hingga terlelap. Mereka membangun kembali tenda pengungsian berikut membuat dapur darurat untuk menyimpan makanan yang bisa diselamatkan. Tim penyelamat sudah mengirim kabar keluar sehingga dalam waktu dekat bantuan akan segera mengalir.
"Bagaimana jembatan darurat? Sudah mulai di bangun?" Gibran bertanya pada salah satu anggotanya yang baru kembali dari lokasi awal mereka.
"Siap, masih sementara dikerjakan Kapten."
"Syukurlah. Setelah selesai membangun tenda. Kita kembali ke tugas awal." Ujar Gibran lega. Peristiwa semalam memang telah menghancurkan apa yang sedang dibangun tapi penduduk harus tetap berjuang, hidup terus berjalan.
"Bagaimana kabar Ibu, Kapten?" Tanya salah satu anggota Gibran yang baru saja membagikan air minum.
"Baik. Dia hanya butuh sedikit istrahat."
"Alhamdulillah. Sebaiknya jika sudah memungkinankan, Ibu dibawa pulang saja Kapten. Khawatir ada masalah lain kedepannya."
Gibran mengangguk. Dia memang sudah merencanakan membawa Nadia segera pulang hanya saja jembatan roboh memutus semua akses jalan keluar dari kampung itu.
Gibran melirik jam di pergelangannya, Nadia tidur sudah hampir empat jam. Gibran berpamitan pada rekan-rekannya untuk mengecek kondisi istrinya. Saat akan memasuki tenda yang dipakai Nadia istrahat, langkahnya tertahan oleh obrolan dua mahasiswa yang berdiri di samping tenda yang cukup jauh dari keramaian. Ia semula ingin mengabaikannya tapi kemudian berhenti saat mendengar nama Nadia disebut-sebut.
"Kakak cinta kan sama Nadia?"
"Bukan urusan lo."
"Kakak tidak mau berjuang?"
Gibran mengerutkan keningnya. Ia mengenal mahasiswi yang tengah berbicara dengan salah satu mahasiswa yang sempat bermasalah dengan Nadianya. Apa maksudnya berjuang untuk istri orang? Gibran menatap tak suka keduanya.
"Maksud lo, gue ngancurin rumah tangganya?" Tanya cowok yang tak lain Orion itu dengan tatapan waspada. Bagaimana mungkin seorang teman menyarankan hal buruk semacam itu.
Mahasiswi itu menggeleng, "Bu-bukan kak. Maksud saya, kenapa kakak tidak membebaskan Nadia dari hal yang tidak membahagiakan ini?"
"Tidak membahagiakan? Maksud lo?"
"Nadia kan dipaksa menikah."
"Hah? Dipaksa? Maksud lo dijodohin?"
Mahasiswi itu mengangguk, "Ya dan Nadia sangat tersiksa dengan pernikahannya."
Orion terperangah. Jadi Nadia selama ini dipaksa menikah dan tidak bahagia dengan pernikahannya?! Selama ini ia melihat Nadia sangat menikmati perannya sebagai istri Kapten Gibran dan menjadi ibu muda, apa itu semua hanya diluar saja? Orion menerka-nerka. Jika benar apa yang didengarnya ini maka ia tidak bisa diam saja. Nadia harus dibebaskan.
"Lo yakin dengan yang lo omongin?"
"Yakin kak. Nadia sendiri yang cerita sama saya." Ujar pembawa fitnah itu meyakinkan.
Gibran yang mendengar kalimat tak masuk akal itu mengepalkan tangannya. Ia tidak mengerti apa motif mahasiswi yang dikenalnya dekat dengan istrinta itu mengatakan hal-hal tak benar pada Orion. Gibran baru akan menghampiri keduanya saat suara Nadia melenguh.
"Hauuus."
Gibran buru-buru masuk dalam tenda dan meraih botol minuman yang tak jauh dari Nadia. Ia membantu sang istri duduk dan meminum airnya.
"Dingiiiiin." Bibir Nadia bergetar, merapatkan badan mencari kehangatan dari tubuh Gibran.
"kamu demam." Ujar Gibran setelah meletakkan punggung tangannya dikening Nadia.
"Dingiiiiin." Nadia bergidik kedinginan meskipun sudah bergelung dalam sleeping bed dan dibalut oleh jaket tebal milik Gibran.
Gibran lantas memeluknya erat berusaha mengalirkan hangat dari panas tubuhnya sendiri, "Sabar, sebentar lagi kita pulang ke rumah." ucapnya mengecup ringan bibir Nadia. Kekhawatiran tergambar jelas diwajah kakunya.
"Om?"
"Hm?"
Nadia menyeruk di dada Gibran, "Bahagianya Nad itu menikah dengan Om Gi." ucapnya lemah namun dibalik itu ada kekuatan yang mengokohkan Gibran untuk terus berjuang hidup bersama selamanya.
"Iya." Gibran mengeratkan pelukannya. Tak peduli berapa banyak orang yang meragukan dan berusaha memisahkan mereka tapi tentang perasaan yang tertanam kuat didalam hati keduanya hanyalah Gibran dan Nadia yang tahu. Karena kuat tidaknya sebuah hubungan bukan bagaimana dimulai tapi bagaimana hubungan itu dijalani. Urusan akhir, biarkan Tuhan yang mengurus.
***