Little Persit

Little Persit
Definisi Cinta



"Kamu ngapain hijau-hijau gini?" Gibran menatap heran Nadia yang baru saja membukakan pintu untuknya.


Nadia mengedikkan bahu lalu mengecup punggung tangan Gibran berusaha tak membuat maskernya pecah. Gibran menatapnya dengan alis bertaut. Pulang-pulang disambut wajah hijau Nadia di depan pintu. Untung saja ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Kalau tidak, siapa yang selamat saat melongokkan kepala langsung berhadapan dengan muka hijau Nadia tanpa ekspresi.


Gibran melepas sepatunya tanpa mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang masih setia mengikutinya dalam diam duduk di bangku panjang. "Kampanye Go green?" Tanyanya lagi yang sangat out of the box. Go green sekarang lagi kalah tenar dari back to nature, anyway. Timpal Nadia dalam hati. Ia menjauhkan tangan Gibran dari wajahnya saat lelaki itu hendak menyentuh masker yang diberikan sabrina yang kata tetangganya itu agar kulitnya tetap sehat dibawah gempuran panasnya matahari. Om tampannya ini sama sekali nol besar untuk urusan perempuan terkecuali yang telah ia kenalkan seperti facewash dan pasukannya sementara untuk bidang permaskeran, Gibran hanya tau jenis masker yang biasa dipakai dokter saat melakukan operasi. Haruskah ia jelaskan lagi bahwa yang hijau-hijau di wajahnya ini adalah definisi dari cintanya untuk Gibran? Badan boleh bulat, tapi wajah harus tetap paripurna. Begitu kata Sabrina saat ia menyerahkan semangkok masker dari daun kelor hasil racikannya sendiri. Dan seperti cintanya yang harus selalu di rawat, penampilan sempurna is a must untuk menunjang cinta. Meskipun Nadia tidak yakin hal ini berlaku pada Gibran karena Omnya itu sudah menerimanya dengan lapang dada bahkan saat ia masih pup di popoknya. Love is blind. Salah satu definisi cinta yang Nadia percayai sebagai pegangan hidup Gibran dalam mencintainya. Betapa beruntungnya Nadia memiliki lelaki seperti Gibran yang sepertinya menomorduakan fisik. Bukannya Nadia tidak percaya diri tapi ia lebih ke tahu diri. Tubuh seorang gadis usia belasan mana bisa dibandingkan dengan tubuh seorang wanita dewasa yang sudah matang dan sempurna pada perkembangannya. Tapi meskipun demikian dirinya bisa bangga karena dua bisulnya semakin menggemaskan setiap harinya setidaknya bagian favorit Omnya sangat sukses membuat lelaki kaku itu gelap mata sampai lupa diri. Good Job Nadia.


Gibran menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu. Kedua tangannya terlipat di dada. Ia duduk menyerong untuk lebih jelas memperhatikan Nadia yang duduk diam disampingnya dengan tenang tak seperti biasanya yang akan menyambutnya sengan berbagai pertanyaan yang kadang tak dibutuhkan. Apakah Nad masih sama cantiknya dengan yang tadi pagi? Atau pertanyaan yang membuat Gibran hanya bisa menghela nafas pendek dan dengan senang hati akan di jawabnya. Om cinta Nad?


"Berapa lama?"


Nadia menunjuk maskernya yang langsung diangguki Gibran. Ia mengangkat kedua tangannya menunjukkan kesepuluh jarinya.


"Sepuluh jam?"


Nadia memutar bola matanya. Yang bener aja dong bambank. Ia tidak bisa membuka mulutnya karena khawatir masker yang susah payah ia jaga dari kegagalan mengencangkan dan melembabkan kulitnya sejak beberapa waktu tadi.


"Menit?" Tanya Gibran lagi entah untuk urusan apa. Biasanya laki-laki itu hanya akan melewati Nadia setelah memastikan keinginan penyambutan yang diinginkan Nadia terpenuhi dengan sempurna.


Nadia mengangkat jempolnya. Gibran mengangguk paham kemudian meninggalkan Nadia ke kamar mandi. Pria penuh keringat itu melap wajahnya dengan tissue sebelum kemudian mencucinya dengan air bersih. Helaan nafas lolos dari bibirnya melihat pasta gigi yang tidak tertutup dengan benar berikut beberapa facewash Nadia yang tergeletak begitu saja di dalam wastafel darurat buatannya. Selalu saja.


"Beresin barang kamu yang di kamar mandi!" Gibran muncul dari kamar mandi dengan sepaket perintahnya yang tak terbantahkan seperti darah seorang tirani memang mengalir disetiap urat nadinya. Untung sekali Nadia sudah naik level menjadi istri Gibran sekarang karena kalau tidak, Gibran tak akan selembut itu menjalankan kekuasaannya, membersihkan kamar mandi adalah yang paling ringan sedangkan yang paling berat bagi Nadia disaat ia masih berstatus anak angkat Gibran adalah uang jajan yang di potong dan kartu unlimited yang disita. Benar-benar hukuman yang menyiksa seorang Nadia yang menjadikan Mall sebagai markas besarnya.


"Nad--" Tegur Gibran saat Nadia tak bergeming. Entah apa yang dipikirkan istri manis cantiknya itu dalam otak setengah pentiumnya.


Nadia mendelik. Lelaki tak peka. Masker is everything sekarang, demi cinta yang makin membuncah di dadanya. Ia memang lupa, ah maksudnya selalu lupa dengan peraturan Gibran mengenai tutup pasta Gigi atau beraneka jenis facewash-nya yang harus selalu tertutup dan tertata rapi. Tapi bagaimana dengan lelaki ganteng bin nyebelin di depannya ini yang selalu punya masalah dengan handuk basah yang kadang--khm maksudnya jarang di simpan di tempat yang seharusnya. Nadia sangat membenci kelembapan dan handuk basah setelah mandi adalah salah satu barang lembab yang seharusnya jauh dari jangkauannya.


"Denger?" Gibran menatap balik sang istri dengan tatapan yang sering Nadia dapatkan saat ia meminta waktu bernafas sejenak untuk merapikan seragam sekolahnya sepulang dari sekolah dulu. Gak sabaran. Rutuknya dalam hati.


Nadia mengangguk sembari mengangkat kedua jempolnya. Untuk sekarang ia akan menggunakan bahasa isyarat yang ia pelajari secara autodidak lagipula ia sedang malas adu urat dengan pujaan hatinya ini. Perhatian Nadia kembali teralih pada buku tebal di pangkuannya yang tadi ia letakkan begitu saja saat mendengar Gibran pulang. Gibran baru sadari itu sekaramg. Akhir-akhir ini Nadia sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku tebal miliknya yang dulu sering istrinya itu gunakan sebagai bantal saat menemaninya di ruang kerja. Gibran tidak bisa untuk tidak heran melihat buku biografi bapak jenderal besar negara ini dibaca oleh seorang Nadia yang selalu menganggap buku sejenis ini dengan tulisan kecil tanpa gambar sebagai buku pengantar tidur karena belum selesai satu paragraf dibaca langsung saja ia akan tertidur dengan nyenyak.


Bapak Jenderal Besar Indonesia, salah satu sosok yang dulu hanya dikenali oleh Nadia melalui buku sejarah yang sering sekali ia sobek-sobek untuk membuat pesawat terbang ternyata se-keren ini. Demi cintanya pada NKRI bahkan menjalani harinya dalam kondisi sakit di tengah hutan dengan strategi perang gerilyanya. Maka berbekal motivasi dari sang jenderal, Nadia akan membuktikan cintanya pada Gibran dengan strategi masker ajaibnya ini. Sungguh sebuah perbandingan yang tak setara tapi bagi Nadia, Gibran bukan hanya sekedar negara tapi juga Dunia dan Surganya. Se-bersyukur itu ia memiliki Gibran dalam hidupnya.


"Nad--" Gibran menyenggol kaki Nadia dengan ujung kakinya. Lelaki itu duduk mengambil jarak dua jengkal dari Nadia. Gadis manis di depannya itu tampak khusyuk dengan buku di pangkuannya. Padahal Nadia dan buku tak pernah berada dalam kalimat yang sama tanpa makna negatif di dalamnya.


Nadia bergeming, menjauhkan kakinya dari jangkauan Gibran. Tidak boleh ada satupun yang mengusik perjuangannya untuk menyelesaikan buku bacaan di pangkuannya. Misi ini selain penting untuk menambah wawasannya tentang perjuangannya, juga menjadi pembuktian cintanya pada Gibran bahwa ia bisa menyukai apa yang disukai oleh lelaki itu. Kembali lagi kepada pesan-pesan cinta dari Sabrina yang mengatakan bahwa cinta akan semakin kuat jika memiliki ketertarikan yang sama. Selama ini dirinya dan Gibran hanya memiliki satu kesamaan yaitu tanggal pernikahan, selebihnya sepasang muda itu seperti air dan minyak.


"Nad--" kali ini Gibran menusuk-nusuk lengan Nadia yang hanya dibalut kain tipis dengan telunjuknya. Nadia menoleh dan menatap datar Gibran yang hanya menaikkan satu alisnya balas menantang. Sangat keisengan yang tidak pada waktu yang dibutuhkan. Gibran memang suka aneh, keisengannya kambuh disaat yang tidak perlu--kebanyakan menyebabkan banyak korban berjatuhan salah satunya barang-barang yang ada di sekitarnya. Tiga menit lagi dan masker Nadia sudah boleh di lepas. Nadia berusaha bertahan untuk tidak membalas keisengan Gibran di menit-menit akhir perjuangannya.


Gibran yang entah kemasukan jin iseng mana di kantornya malah semakin menjadi. Bukan lagi sekadar menusuk-nusuk lengan Nadia tapi beralih di pinggang hingga leher istrinya yang terekspos sempurna, putih, mulus dan lezat. Gibran tersenyum tipis, Nadia memang semenggugah selera itu. Gibran memutar otak untuk menggoda Nadia setelah gagal dengan beberapa aksinya.


TUK!!!


"WADOOOOOWWWW!!!"


KRETEEEEK!!!


Nadia seolah bisa mendengar dengan jelas maskernya pecah. Kedua tangannya mengepal kuat---satu menit terakhirnya--hiks.


"OM GIIIIIIIIII BALIKIN MASKER NAAAAAD GAK MAU TAUUUUUU!!!!!"


BUGH BUGH BUGH!!!


Masker gue. hiks.


"ORANG JAHAAAAT NYEBELIN JELEEEEEK MASKER NAAAAAD--- BALIKIIIIIIN-" Nadia terus memukuli Gibran untuk melampiaskan kekesalannya pada lelaki yang sedang tertawa tanpa rasa bersalah.


Dengan nyebelinnya, Om kecenya itu menjentik keningnya dengan sangat keras hingga tanpa sadar Nadia mengaduh dan menyebabkan maskernya retak se-retak retaknya seperti aspal yang tidak matang sempurna yang dikena oleh sinar matahari. Nadia terus memukuli Gibran yang malah membuat laki-laki itu terbahak tanpa berusaha melindungi dirinya dari kepalan tinju tangan-tangan mungil sang istri.


Tapi jangan sebut Kapten Gibran Al Fateh jika tidak bisa menjinakkan makhluk manis bernama Nadia Gaudia Rasya.


Grep!


"Diem." Gibran menahan kedua tangan Nadia yang sempat membuat gadis manis itu terdiam sebentar tapi hanya sebentar setelah itu ia kembali menggeliat berusaha melepaskan diri dari kuasa Gibran.


"LEPHAAAS!!!"


Percuma. Percuma saja Nadia berusaha karena tenaga kecilnya tidak akan pernah bisa mengalahkan tenaga seorang Gibran. Matanyanya menatap nyalang Gibran dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


Gibram tersemyum miring dan dengan sekali sentakan tubuh bulat lembut itu sudah berpindah diatas pangkuannya. Tangan beruratnya menekan tengkuk Nadia lembut hingga membuat bibir keduanya hampir saling menyentuh. Nadia mengerjap sekali. Ia bisa menghirup aroma segar nafas Gibran menyapa kulitnya, sebuah godaan berat bagi dirinya yang menyukai semua bagian dari diri seorang Gibran. Lalu selanjutnya ia harus menyerah karena brain-wash kiss benar-benar membuat ia lupa ingatan. Semanis dan senikmat itu. Dari skala satu sampai sepuluh, Nadia memberikan nilai seratus untuk jenis ciuman ini.


Gibran si pemenang tersenyum puas diatas bibir Nadia. Mine.


***


Gibran telentang diatas kasur tipis di kamar mereka dengan tangan kanan dijadikan sebagai bantal sementara tangan kirinya iseng memainkan anak rambut Nadia yang berjatuhan mengenai wajahnya. Dilihat sedekat ini, ia bisa berbangga telah sukses membesarkan seorang klan Gaudia, gadis kecil yang manis dan cantiknya tidak di ragukan lagi. Lebih hebatnya lagi semua yang ada pada diri gadis manis yang kini sedang berkonsentrasi mengolesi sesuatu di wajahnya ini adalah miliknya seutuhnya.


"Merem." Perintah Nadia yang diikuti dengan patuh oleh Gibran. Sebagai pembalasan dari masker yang retak, Gibran harus merelakan wajahnya diolesi dengan sesuatu yang lengket berwarna hijau kehitaman dan beraroma pekat dedaunan hasil racikan Nadia. Iseng sih.


Nadia dengan bersuka cita melakukan aksi pembalasan. Kapan lagi bisa melakukan ini pada si lelaki steril. Gibran tidak pernah mengizinkan benda atau jenis cairan apapun menyentuh wajahnya selain air. Jenis lelaki yang tetap Shining dan glowing hanya dengan air wudhu. Benar-benar tidak adil.


"Sudah?" Tanya Gibran sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat mencuci wajahnya.


Nadia menggeleng "Belum lah Om. Tunggu kering dulu baru di lepas."


"Berapa lama?"


"Emmmm---" Nadia bergumam tak berniat menjawab. Biar saja si kece badainya ini senewen. Pembalasan memang selalu lebih kejam, Kapten. Nadia terkekeh, belum lagi melihat wajah Gibran yang sudah penuh dilapisi masker.


"Nad?"


"Ck. Diem nanti maskernya gagal."


"Nad ngerjain saya kan?"


"Dih, Pe-De bangat. Enggaklah. Nah, buka mata." Nadia menyimpan wadah kecilnya lalu berdecak puas dengan hasil kerjanya.


"Perfecto."


Gibran menghela nafas lelah. Ia menyandarkan punggungnya di dinding sembari mengipas wajahnya dengan sobekan kalender yang biasa ia pakai untuk mengipasi Nadia saat ia kepanasan di malam hari.


"Om, Nad boleh main sama Om Robi nggak? Mereka mau berburu ulat sagu besok pagi. Daripada Nad sendiri kan? Janji deh gak deket-deket. Ada tante Sabrina dan Om Guntur juga kok. Boleh ya? Please." Nadia memijat-mijat bahu Gibran dengan jari lentiknya. Demi sebuah izin ia akan melakukan apapun.


Gibran melirik Nadia dengan sudut matanya. "Ng--"


"Stop! Jangan ngomong nanti maskernya retak." Tahan Nadia meletakkan jari lelunjuknya diatas bibir Gibran.


Cup!


Nadia cepat menarik jarinya dan menyembunyikannya dibelakang punggung. Cepet bener bibirnya. Gerutu Nadia dalam hati. Ia menyengir lebar saat Gibran menatapnya kesal.


"Om boleh nyium Nad sampe puas kalau ngizinin Nad keluar. Gimana?"Lo sekarang ngejual badan demi ulat sagu, Nad? Nadia meringis dalam hati.


Gibran menggeleng. Ia tidak perlu izin kalau mau mencium istrinya kan? Tangan kanan Gibran terulur menyentuh daun telinga Nadia membuat gadis itu menggeliat kegelian. Telunjuk Gibran kini menyentuh kening Nadia dan bergerak seolah menulis sesuatu.


"Wai?" Eja Nadia. Gibran mengangguk. lalu berlanjut ke huruf berikutnya.


"Yu?" Nadia terus saja mengeja hingga huruf terakhir Gibran menarik tangannya.


"You are mine?" Ucap Nadia.


Gibran mengangguk mantap. Ia kembali mengipasi wajahnya. Nadia memutar bola mata kesal sembari bibir mengerucut. Keposesifan Gibran sudah tak tertolong lagi. Dan lelaki kaku itu menyebutnya dengan cinta. Yeah, jenis cinta yang membuat Nadia terkadang ingin menceburkan diri kedalam rawa-rawa.


Tapi Nadia tidak akan menyerah. Ulat sagu menunggunya untuk dibawa pulang. Urusan izin, ia akan mendapatkannya nanti malam. Cukup dengan membuka dua kancing teratasnya dan-- Voilaaaaa... Izin ada ditangan.


Nadia tersenyum jahat.


***



Bawa-bawa senjata sih tapi sanggup gak melawan pesona si makhluk manis ini???