Little Persit

Little Persit
Janji-janji Palsu



Gibran terbangun dengan rasa nyeri yang begitu menyiksa di bagian atas dadanya. Bau obat dan disinfektan menguar menguatkan dugaannya bahwa sekarang ia sudah keluar dari hutan dan kini menjadi salah satu pasien di rumah sakit Angkatan Darat setelah insiden penembakan yang dialaminya.


"Syukurlah Kapten sudah sadar."


Gibran menoleh ke kanan, disisi ranjangnya berdiri Valeria dengan jas dokter kebesarannya sedang menatap lega dan--berkaca-kaca? Mengabaikan penyambutan berlebihan dari Valeria, Gibran berusaha menjangkau tas kecilnya yang tersimpan diatas meja pasien.


"Kapten butuh sesuatu?"


"Handphone saya." Ujarnya masih berusaha menggapai tasnya. Valeria bergegas membantu menyerahkan tas itu pada Gibran.


Gibran memeriksa tasnya sambil sesekali meringis menahan perih yang terasa menarik semua otot-ototnya. Gibran terdiam sejenak berusaha mengingat-ingat dimana sekiranya ia menyimpan hpnya karena dalam tas kecilnya tidak ada sama sekali.


"Ada apa, Kapten?"


Gibran menggeleng, ia menyentuh dadanya yang dililit kain kasa hingga lengannya "Dok, apa saya sudah boleh keluar?"


"Sebaiknya Kapten tidak beraktivitas dulu. Kalau ada yang diperlukan, bilang saja nanti saya akan mengusahakannya." Ujar Valeria berharap Gibran mau mengandalkannya.


"Tidak, terima kasih." Ujar Gibran tanpa basa basi.


Valeria yang lagi-lagi mendapatkan penolakan secara tidak langsung hanya mengangguk samar. Bahkan dalam keadaan tak berdaya seperti ini pun Gibran masih juga enggan dibantu olehnya.


"Sudah berapa lama saya tertidur, Dok?"


"Dua hari. Kapten mendapat luka tembak yang cukup serius. Untung saja tembakan itu meleset beberapa mili dari posisi jantung dan itu sangat--" Valeria menghela nafas gusar, "fatal." Lanjutnya.


Gibran mendengarkan dengan penuh atensi. Bagaimana jika ia tidak bangun lagi? Nadia, Pia, siapa yang akan menjaga mereka? Tiba-tiba saja ia merasa menjadi orang yang paling egois. Jika dirinya sampai kenapa-kenapa, Nadia pasti akan lebih buruk keadaanya. Ia sudah berjanji untuk baik-baik saja kepada istrinya itu tapi sekarang ia disini, menjadi salah satu tentara yang tertembak yang untungnya masih diberi kesempatan untuk menghirup udara. Semoga saja tidak ada stasiun tv yang memberitakannya.


"Kapten Gibran mau kemana?" Valeria bergerak sigap hendak membantu Gibran yang berusaha turun dari ranjang pasien namun lelaki itu menahannya untuk tidak perlu mendekat.


"Saya mau keluar sebentar." Gibran mengenakan jaket miliknya yang di sampirkan di kursi tunggu pasien. Sepertinya selain Valeria ada beberapa orang yang bergantian datang menjenguk dan menungguinya melihat beberapa kulit makanan ringan tergeletak diatas lantai yang dilapisi karpet.


"Jangan banyak bergerak. Bahu kapten masih belum sembuh."


Gibran menoleh pada Dokter Valeria yang berdiri di sampingnya. Dokter muda itu menatapnya khawatir.


"Saya akan menemani Kapten." Lanjut Valeria menawarkan diri.


Gibran menipiskan bibirnya yang mengering. "Tidak perlu, Dok. Ada teman yang akan mengantar." Ia tidak nyaman diperlakukan berbeda oleh Valeria.


"Tapi---"


"Terima kasih untuk kebaikan dokter." Potong Gibran cepat, "Saya hanya pasien. Tolong perlakukan saya dengan sewajarnya." lanjutnya dingin.


Valeria terdiam di tempatnya. Ia tahu sejak membuka matanya tadi Gibran sudah menolak kehadirannya hanya saja lelaki itu terlalu pintar bersikap. Tentu saja statusnya sebagai dokter menjadikannya memiliki akses bebas masuk untuk menemui lelaki itu. Pandangan dokter muda itu jatuh pada barang-barang dan makanan yang menumpuk di atas meja pasien juga diatas karpet. Hampir semua adalah pemberiannya dan ia sangat senang bisa melakukan sesuatu untuk cinta pertamanya. Meskipun kenyataannya Gibran telah dimiliki, tapi bolehkan ia tetap memiliki perasaan ini?


"Permisi, Dok."


Valeria mengerjap, segera menyingkir dari hadapan Gibran karena menghalangi jalan laki-laki berwajah datar itu. Tapi saat Gibran melewatinya entah keberanian darimana yang menggerakkan tangannya hingga ia bisa menahan pergelangan Gibran, "Kapten, saya--" Valeria tercekat, tidak sanggup melihat tatapan tak suka Gibran. Perlahan ia melepaskan genggamannya, "Ma-maaf, saya--" Valeria memberanikan diri menatap Gibran, "Aku cinta sama Kapten. Tolong biarkan aku untuk tetap memiliki perasaan ini."


Aura di ruangan itu tiba-tiba menggelap. Wajah Gibran mengeras menahan sesuatu yang selalu ia tahan dalam dirinya, "Hargai diri Dokter sebagai seorang wanita terhormat." ucapnya dengan nada datar yang menyeramkan, "atau setidaknya, hargai saya sebagai laki-laki beristri."


Muak dan lelah. Dua kata itu yang kini bercokol dikepala Gibran. Harus bagaimana lagi ia bersikap agar orang-orang tak menyalah artikan kediamannya?! Kenapa wanita-wanita zaman sekarang menyukai orang tanpa melihat keadaan orang yang disukainya? Gibran tak menutup mata tentang perasaan seorang wanita muda padanya. Hanya saja ia memilih abai karena berpikir dengan begitu wanita pintar seperti Valeria atau wanita lain diluaran sana akan mundur dengan sendirinya setelah penolakan-penolakan tak langsung yang ia berikan. Tapi sepertinya omongan Nadia memang benar adanya. Ada beberapa jenis perempuan di dunia ini dan salah satunya adalah jenis Valak--- yang suka lelaki beristri, apakah ia sudah benar menyebutnya? Ia tidak peduli bagaimana orang menyebutnya-- yang pasti wanita-wanita itu rela merendahkan dirinya dengan mengatasnamakan cinta. Dan Gibran sebagai manusia normal sangat tidak ingin berurusan dengan orang-orang seperti itu.


Gibran menggeleng pelan. Tersenyum sinis lalu setelahnya pergi begitu saja meninggalkan Valeria dan rasa cintanya yang g*la.


"Suh--" Yusuf berlari menghampiri Gibran yang baru saja keluar dari ruang rawatnya.


"Liat hp saya?" Tanya Gibran langsung.


"Tidak, suh. Kapten mau menelfon? Pakai hp saya saja. Pulsanya baru saja diisi." Yusuf cepat-cepat mengambil hp dalam kantung celana lorengnya dan menyerahkannya pada Gibran.


Gibran menatap hp itu sebentar. Ia tidak yakin Nadia mau mengangkat telfon dari nomor baru tapi tidak ada pilihan lain, ia hanya harus mencoba. Dengan tangan kirinya ia mengambil hp tersebut, "Terima kasih."


"Sama-sama, Kapten." Yusuf membantu Gibran berjalan ke salah satu gazebo dan mendudukkannya disana.


"Suf, tolong saya sekali lagi."


"Siap, Kapten."


"Tolong ambil dompet di tas saya dan beli hp baru sekaligus kartu dan pulsanya."


"Sekarang, Suh?"


Gibran mengangguk, "Iya."


"Siap, laksanakan." Yusuf bergegas pergi untuk melaksanakan perintah kaptennya.


Sepeninggal Yusuf, Gibran langsung mengetik nomor hp Nadia, mencoba peruntungan siapa tau saja Nadianya sedang dalam mood yang baik sehingga mau mengangkat nomor asing.


Tuuuut... tuuuuut...


Nomor hp Nadia aktif tapi tidak ada yang mengangkatnya. Gibran mencoba sekali lagi, mungkin saja Nadia sedang mengomeli nomor yang tertera di layar hpnya sekarang yang telah menginterupsi keasikannya membaca novel romantis di platform langganannya.


Tuuuut...tuuuuut... tuuuuut...


Panggilan kelima tapi belum juga diangkat. Nadia benar-benar kuat pendirian.


Nomor iseng doang, Om. Palingan mama minta pulsa atau enggak dari kantor polisi yang ngabarin kalau adik Nad di tahan karena nyabu. Lalu setelah itu Nadia akan melempar hpnya kemana saja atau merejectnya tanpa perasaan. Gibran tersenyum kecil membayangkan gadis nakalnya yang memasang wajah jutek dan menyebalkan andalannya.


Setelah percobaan-percobaannya gagal, Gibran memutuskan untuk mengirim pesan singkat. Setidaknya Nadia akan melihatnya meskipun hanya kata awalnya saja mengingat istrinya itu bukan hanya tega mengabaikan nomor baru yang masuk, ia pun selalu menghapus pesan singkat dari nomor asing tanpa mau repot membacanya.


081212208524


Gibran memandangi hasil ketikannya. Kali pertama baginya mengetik pesan sepanjang ini. Biasanya ia lebih sering menelfon dari pada mengetik karena jari-jarinya biasanya terlalu lelah setelah di pakai menulis laporan seharian di kantor.


Send.


Pesan terkirim tapi hanya dua centang yang belum biru. Semoga saja Nadia membacanya. Terhitung sepuluh hari sejak keberangkatannya ia tidak berkirim kabar dengan sang istri. Nadia sudah pasti sedang marah sekarang dan memaki-makinya sebagai lelaki penuh janji palsu. Ya, ia memang berjanji untuk memaksimalkan komunikasi dua arah dengan Nadia tapi situasi dan keadaan terkadang tidak bisa di prediksi. Dirinya tidak menduga bahwa ia tidak akan sempat berganti baju sesampainya di papua sebab tugas yang sudah menantinya mengharuskannya segera terjun bersama Timnya untuk melakukan pengejaran. Gibran hanya sempat menelfon di rumah itu pun dengan kualitas jaringan yang sangat buruk meskipun sudah memanjat kayu putih yang tingginya tidak kira-kira dimana orang-orang yang ada di bawah pohon akan tampak seperti semut rangrang yang berkerumun.


"Selamat sore, Kapten."


"Siap, selamat sore Komandan." Sigap Gibran berdiri saat Komandan Batalyon yang tak lain adalah paman Valeria datang menghampirinya.


"Duduklah. Kamu masih pasien sekarang." Paman Valeria tersenyum kecil.


Gibran mengangguk lalu seperti sudah tersetting, ia duduk dengan tegap seolah siap menerima perintah baru.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Siap, Baik."


"Sudah, santai saja. Simpan tenaga kamu untuk pemulihan." Komandan menepuk bahu kiri Gibran memintanya untuk rileks.


"Siap, salah." Ujar Gibran tapi tak lagi setegang tadi. Bahunya meluruh santai karena memang ia merasakan sedikit nyeri di bahunya.


"Kata Dokter Leri, jika kamu menjadi pasien yang baik, dua hari ini sudah bisa keluar." Komandan menghela nafas pendek, mengulurkan sebuah amplop putih yang sejak tadi dalam genggamannya, "Ini surat panggilan dan rekomendasi dari beberapa pimpinan--"


Gibran mengambil amplop berlogo kesatuannya tersebut dan membaca sekilas. Ia sudah tidak terkejut lagi tapi inilah yang menjadi salah satu beban pikirannya di sela-sela bertugas.


"Minggu depan tugas kalian disini selesai. Kamu memiliki waktu dua minggu bersama keluarga. Mungkin untuk membahas hal ini atau liburan--" Komandan tersenyum tipis, "Setelah itu, kabari kantor secepatnya. Banyak pihak yang menginginkan kesempatan ini. Pikirkan baik-baik."


Gibran terdiam. Ia belum memikirkan cara bagaimana memulainya dengan Nadia. Ia memandangi amplop putih tersebut, sebut saja mimpi yang dikabulkan disaat yang tidak tepat.


"Ini kesempatan emas untuk kamu. Saya sangat berharap seseorang yang loyal pada negaranya bisa terus berkembang." Lanjut Komandan mengakhiri kalimatnya dengan tepukan di bahu Gibran. Setelah menyampaikan keperluannya, Komandan beranjak pergi meninggalkan Gibran yang terpaku di tempatnya.


Antara mimpi dan keluarga, mana yang harus ia utamakan?


***


"Nad, hp lo bunyi."


"Biarin aja. Paling orang iseng."


"Siapa tau aja Om Gibran." Gendis menggigit lidahnya saat Nadia menatapnya tajam.


"Gak usah sebut-sebut namanya." Ujar Nadia dingin.


Gendis yang sedang duduk di sofa panjang di sebuah ruang rawat VVIP meletakkan apel yang sudah ia kupas diatas meja, menatap punggung Nadia yang terlihat begitu rapuh.


"Sorry, gue gak maksud bikin lo kesal tapi kita gak tau keadaan Om lo sekarang gimana kan? Bisa aja dia se---"


"UDAH, NDIS. UDAH!!!" Nadia berteriak tertahan, berdiri menghadap Gendis sembari menghapus kasar airmata yang mengalir di pipinya.


"Nad--" Gendis terperanjat. Tidak menduga Nadia sampai seterpuruk ini. Ia beranjak dari tempatnya bergegas menghampiri sahabatnya. Dipeluknya Nadia dengan erat, "Menangis aja. Lo boleh nangis. Ada gue disini."


"Liat Pia, Ndis-hiks. Pia sakit. Pia masih terlalu kecil tapi tangannya udah ditusuk jarum. Gue takut, Ndis. Takut bangat-- hiks. Gue butuh Om Gi tapi dia nggak ada." Nadia tersedak nafasnya sendiri, "Dia nggak ada pas gue dan Pia butuhin--hiks."


Gendis tak mengucapkan apa-apa. Ia tahu Nadia sedang kacau dan orang yang sedang kacau biasanya tidak butuh dinasehati tapi lebih butuh didengar dan dipeluk.


"Om Gi jahat, Ndis. Om Gi jahat--hiks." Nadia merengek seperti anak kecil yang sedang melapor pada Ibunya karena diisengi oleh teman-temannya. Nadia sudah terlalu lelah. Dua hari ini Ia tidak menangis, tidak mengeluh hanya bergerak seperti orang bodoh mengikuti semua instruksi dokter demi kesembuhan Pia yang sedang sakit DBD. Untung saja ada Gendis, Alex dan orangtua tiga sahabat resenya yang selalu ada saat ini butuh. Sandra meskipun sedang di luar negeri pun terus mengecek keadaannya. Mereka sahabat-sahabatnya yang selalu ada tapi dimana Gibran? Dimana suaminya? Dimana ayah Pia? Saat dibutuhkan seperti ini laki-laki itu malah menghilang--ah mungkin Omnya itu titisan Avatar, si brengs*k yang tidak bertanggungjawab. Nadia tersenyum sinis. Kirimi saja pesan katanya? Pesan my as*?!!


"Duduk yuk." Gendis membawa Nadia duduk di sofa, dihapusnya airmata di pipi sang sahabat dengan ibu jarinya. Melihat keadaan Nadia yang melewati hal-hal berat semacam ini mau tidak mau membuat ia memikirkan kemungkinan untuk membatalkan pernikahannya dengan Dewa. Bersuamikan seorang tentara memiliki resiko tinggi. Salah satunya melewati hari-hari berat dengan kemungkinan tak didampingi oleh sosok suami yang sangat dibutuhkan untuk mendukungnya. Nadia contohnya. Sahabatnya itu telah mengalami banyak hal pahit tanpa kehadiran Gibran disisinya. Lalu jika demikian, apakah dirinya sanggup? Diam-diam Gendis mengusap pelipisnya yang tiba-tiba pening. Ini pasti akan sulit.


"Lo tiduran aja. Udah dua hari ini gue liat lo nggak tidur. Lo butuh istrahat. Pia butuh lo. Kalau lo juga sakit, Pia gimana?!" Gendis menarik kepala Nadia, membaringkannya di pangkuannya.


Nadia sesunggukan, menghapus airmata yang tidak mau berhenti dengan tissue yang diberikan Gendis.


"Gue benci Om Gi. Gue gak mau kenal dia lagi."


Gendis terkekeh, "Tapi kan udah kenal Nad."


Nadia berharap kepolosan Gendis tidak kumat sekarang karena jika sampai kumat, maka kekesalannya pada Gibran akan mendapatkan pelampiasan. Oleh karena tidak mau menjadi tambah kesal, Nadia memutuskan untuk menutup matanya. Mungkin tidur sebentar bisa sedikit membersihkan kepalanya dari bisikan-bisikan ghaib yang terus membujuknya mendatangi kantor pengadilan agama sekarang juga.


Tak lama Nadia tertidur, Gendis pelan-pelan mengangkat kepala Nadia dan menggantikan pahanya dengan bantal tayo milik Pia yang ada disampingnya.


Gendis meraih hp Nadia yang tergeletak diatas meja begitu saja dan membawanya keluar. Ia harus memastikan siapa nomor asing yang terus menelfon Nadia. Berdasarkan pengalamannya dan bagaimana ia mengenal Gibran lelaki dingin tapi bertanggungjawab itu, tidak pernah sekalipun Om kece itu menghilang tanpa kabar dengan alasan yang tidak jelas. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Gendis mengusap layar hp Nadia yang untungnya tidak dikunci. Sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama dan sebuah pesan yang belum dibaca.


081212208524


Nad, Ini saya, Gibran. Bagaimana kabar Nad dan Pia? Semua baik-baik saja kan?


"Tuh kan. Gue bilang juga apa. Ini Om Gi." Gendis membekap mulutnya yang terlalu bersemangat. Setelah membaca pesan itu, Gendis langsung menekan icon telfon berwarna hijau sembari menjauh dari ruang rawat Navia.


Maaf ya Nad. Kali ini gue dipihak Om Gi.


***


Jadi Gimana? Bawa pengadilan agama aja si Avatar? 😏