
Nadia sudah kembali ke rumah setelah tiga hari berada di rumah sakit. Ternyata malaria tak mau melepaskannya dengan mudah sehingga setelah malaria mix tropika dan tersiana ia pun harus bertahan semalam lagi karena efek samping obat yang membuat ia mencret-mencret. Nadia mulai beraktifitas seperti biasa, mengurus Pia, Pia dan Gibran setelah itu dirinya. Jika diluar sana ada yang bilang seorang ibu rumah tangga adalah seorang yang hanya duduk-duduk di rumah tak bekerja maka Nadia siap merobek mulutnya dengan sangkur milik Gibran. Nyatanya seorang Ibu rumah tangga adalah orang tersibuk di dunia dengan jam kerja 24 jam penuh. Setelah anak, ada suami, setelah suami ada anak begitu saja terus sampai kura-kura bisa memanjat pohon pisang.
"Ya Allah Pia, ini kenapa mukanya udah di gores lagi sih, baru juga Ibu tinggal bentar." Nadia menghela nafas khawatir melihat satu garis merah melintang di kening Pia, apalagi kalau bukan bekas kuku-kuku kecil milik gadis gembulnya itu. "Sini Ibu obatin." Nadia mengambil minyak but-but untuk di oleskan di goresan kecil itu. "Udah kayak habis cakar-cakaran sama kucing lho Dek." Nadia dengan telaten mengolesi wajah putrinya. Ia baru saja memandikan Navia dan saat mengambil kotak perlengkapan bayi, si gembul sudah sukses mencetak goresan diwajahnya.
"Assalamualaikum." Gibran muncul di depan pintu kamar masih dengan seragam lengkap bahkan sepatunya juga ada.
"Waalaik--Waduh, apa nih?" Nadia menoleh kesamping dan langsung disambut ciuman singkat di pipi. Gibran memeluknya erat, menyeruk di lekuk leher Nadia menimbulkn sensasi geli dari kumis tipis-tipis lelaki itu.
"Ngapain?"
"Ngurus Pia. Gak liat?" Jawab Nadia sedikit jutek sembari memakaikan popok Navia mengabaikan keberadaan Gibran yang nempluk seperti tokek di dinding. Tumben sekali.
"Wangi." Gibran mencuri kecup sekali lagi di pipi Nadia membuat istrinya itu mematung sesaat.
Ini apaan sih tumben banget? Batin Nadia menoleh sekilas pada Gibran yang kini tersenyum lebar padanya. Benar-benar aneh. Nadia meninggalkan sejenak pekerjaannya mengurus Pia, bayi besar yang sedang nemplok ini sepertinya lebih butuh perhatiannya.
"Sehat kok." Ujar Nadia dengan punggung tangan mendarat di kening Gibran. Gibran yang tadinya tersenyum lebar langsung berubah masam. Ia melepaskan belitannya di perut Nadia lalu menjauh dengan ekspresi kesal.
"Sibuk?"
Nadia mencibir, sibuk? Menurut lo aja bambankkk. Mentang-mentang gak ngasilin duit terus ngurusin Pia gini bukan kesibukan gitu? Nadia mengomel dalam hati. Tentu saja tata krama dan sopan santun pada suami masih membekas dalam otaknya walaupun lebih banyak lupanya.
"Seperti yang Om liat aja gimana." Jawab Nadia sekenanya sembari tangannya kembali sibuk mengurus bayi gembulnya mulai dari minyak telon, bedak dan terakhir dress putih lucu hadiah dari Ayahnya. Cantik paripurna seperti Ibunya. Pia cengengesan melihat ayah dan ibunya yang tidak mau mengalah.Sama-sama keras kepala dan hobi mengetes emosi masing-masing.
"Mau ikut ke lapangan?" Tanya Gibran setelah keduanya lama diam.
"Hutan maksud Om?" Tanya Nadia balik memperjelas. Setahunya lapangan yang sering disebut Gibran adalah hutan tempat latihan. Tumben sekali lelaki ini mengajaknya saat ada Pia pula. Nadia tersenyum lembut pada bayi Pia setelah memakaikan bando lucu pemberian Sabrina. "Nah udah tambah cantik." Puji Nadia sembari mencium wajah Pia yang tertawa lepas.
"Bukan. Lapangan." Jawab Gibran kembali menghampiri Nadia, tepatnya mengambil alih Pia dalam gendongannya "Berat nih Pia. Kayak Ibunya."
"Dih! Enggak ya Om." Protes Nadia kesal. Dia tidak berat sama sekali, Omnya saja yang terlalu lemah. Diam-diam Nadia meraba perutnya, masa sih gendut? Nadia melirik sebal Gibran yang kini asik dengan Pia lupa efek ucapannya yang sudah mengusik mengeruk kepercayaan dirinya hingga tetes terakhir.
"Siap-siap. Kami tunggu di luar." Gibran keluar tanpa menunggu apakah Nadia menyetujuinya atau tidak.
"Tuan pemaksa!" Omel Nadia tapi kemudian mengalah, membuka lemari untuk mengganti mini dress aka baju tidurnya dengan baju yang layak pakai keluar rumah.
Setelah beberapa menit, Nadia keluar dengan setelah sederhananya, T-shirt kuning dan celana kulot warna hitam dengan rambut dibiarkan tergerai begitu saja.
"Lapangan mana sih Om? Kalau lapangan bola doang Nad males ah. Panas gini." Nadia duduk disamping Gibran dengan wajah manyun. Sebenarnya hari ini ia ingin beristirahat di rumah menebus tiga harinya dengan Pia tapi kalau sudah mode memerintah begini, berarti tidak ada jalan untuknya menolak. Yang tadi saja sok-sok mengajak padahal aslinya Gibran sedang memerintahnya.
"Ikut aja." Gibran berdiri setelah memakaikan topi kupluk dikepala Pia. Bandonya di lepas begitu saja. "Susunya udah ada stok kan?"
Nadia mengangguk menunjukkan satu dot besar Asi yang belum lama ia pompa.
"Ayo." Ajak Gibran keluar rumah.
Nadia menyusul dengan kerutan yang menghiasi wajahnya. Langkah kecilnya berlari mengikuti Gibran yang berjalan cepat di depannya. Kerutan di wajah Nadia semakin bertambah kala Gibran belok kearah rumah Sabrina.
"Om" Panggil Nadia mempercepat langkahnya. Gibran berhenti, menunggu Nadia menyusul.
"Ada apa?"
"Kita mau ngapain disini?" Tanya Nadia setelah menyusul Gibran. Ia tidak ada rencana bertamu sekarang, dan tolonglah, ini baru jam sepuluan, orang-orang kalau berkumpul pasti cuma menggosip khas ibu-ibu yang sedang menunggu waktu siang untuk menyiapkan makan siang bagi kekuarga.
"Titip Pia."
"Titip Pia? Eh--" Nadia belum selesai bertanya Gibran sudah kembali berjalan bahkan sudah mengetuk pintu di depannya. Lincah sekali. Nadia dengan gerutuan panjang mau tak mau mengikuti lelaki itu.
"Mbak, Titip Pia ya."
Ok. Ini mulai gak bener. Nadia mendekati Gibran dan Sabrina yang entah sejak kapan sudah akrab sampai sudah saling memanggil akrab seperti itu. Mbak?
"Kok di titip sih Om." Protes Nadia tak terima. Ayolah ya, dia sudah niat mau quality time dengan Pia seharian ini demi menebus hari-hari yang terlewatkan dan seenak jidatnya Gibran malah menitip Pia pada tetangga. Apakah suaminya ini belum pernah membaca Mom and Kids kalau disana ada tips mengenai bounding anak dan ibu biar chemistrynya dapat?
"Iya dong. Lo memangnya mau bawa-bawa Pia panas gini? Gak kan?" Sabrina yang sudah menggendong Pia tampak bahagia seolah mendapat jackpot seharian bersama bayi gembul lucu itu. Sayangnya saja anak tetangga coba anak sendiri. Hah, sudahlah Sabrina, semua akan indah pada waktunya. Sabrina menghela nafas pendek setelah mengingatkan dirinya yang mungkin lagi-lagi mengeluhkan hal yang sama.
"Gak lah. Orang gue gak kemana-mana kok." Nadia melipat tangan kesal terlebih melihat Gibran yang sepertinya memang niat hari ini memisahkan dirinya dan Pia. Suami durjana.
"Makasih ya Mbak. Sampaikan juga sama Guntur." Ujar Gibran sembari merengkuh Nadia yang masih memasang wajah galak.
"Sama-sama, Pak. Selamat bersenang-senang." Sabrina menyengir lebar yang di tangkap Nadia malah seperti sedang kegenitan pada suaminya.
"Jangan ganjen lo. Laki gue nih." Nadia yang tadi ogah-ogahan di peluk Gibran langsung melarikan tangannya memeluk pinggang Gibran dengan erat.
BRUK!!!
"Anjiiiiiiir dibanting loh pintunya." Nadia membola tak percaya melihat Sabrina begitu lancang di depan Gibran. Udah bosan idup tenang kali tuh tante-tante.
"Bad word, Nad." Tegur Gibran dengan suara beratnya.
Sebodo amat elaaaah. Ujar Nadia dalam hati lalu dengan sekali sentak melepaskan tangan Gibran yang bertengger di bahunya. Gibran yang paling waras disitu hanya menghela nafas pendek lalu mengikuti Nadia yang keluar dari halaman rumah Sabrina.
***
"Wow!" Nadia melongok dengan apa yang dilihatnya sekarang. Demi Jamie Dornan yang sukses membuat Dakota Johnson rela lepas perawan yang sudah mengotori otak sucinya, Nadia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi dalam hidupnya. Well, kalau untuk menyewa jet pribadi sambil memutari bola dunia tentu bukan mustahil bagi seorang Nadia Gaudia yang memegang pasar perhotelan dan pasar-pasar barang ekspor di Asia. Tapi yang ini tentu seperti memimpikan memeluk bintang dan abrakadabraaaa venus dalam pelukan, for real Gibran sedang membawanya terbang sekarang. MEMBAWANYA TERBANG perlu Nadia cetak tebal bagian itu. Terbang dalam artian sebenarnya karena saat ini mereka tengah berada diatas helikopter dengan Gibran sebagai awaknya. We-O-We.
"Udah terpesonanya?"
Nadia menoleh kesamping kanannya dimana seorang pilot kece badai dengan gagahnya memegang setir---setir bukan sih? --Ah terserahlah-- yang juga menatap padanya. Ini benar-benar super duper ekstra romantis bahkan Christian Grey masih butuh pilot untuk mengajak Anastasia Steel untuk putar-putar diatas awan, kalah telak darinya seorang Nadia Gaudia Rasya yang langsung sang Kapten Gibran Al Fateh yang menjadi pilotnya. Keren keren keren.
"Please bangat jangan bilang ini juga Om nyontek dari film ngasi kejutannya karena Nad benar-benar gak peduli. Sumpaaah ya Om, ini keren bangat. Thank you so much. Kalau gak mikirin heli nya bakal nyunsep, Nadia udah ngasi Om Brain wash kiss yang fenomenal itu sekarang. Ini manis bangat. Nad gak bohong." Nadia berucap riang sembari tak berhenti melihat sekelilingnya yang sangat indah. Manuver diatas awan kayaknya akan sangat keren.
"Panjang bangat." Ujar Gibran terkekeh. "Senang?"
Nadia mengangguk cepat, "Bangat. Nad gak sampe mikir kesini lho Om. Ini beneran luar biasa. Kok bisa sih diizinin helinya buat ginian?"
"Bisalah. Siap untuk bagian inti?"
Nadia yang sedang asik melihat-lihat keluar menoleh pada Gibran "Bagian inti?"
Gibran mengangguk lalu tanpa kata membawa heli pengangkut bahan makanan maupun obat-obatan atau segala keperluan darurat milik AU itu bermanuver diatas awan membuat Nadia memekik kegirangan. Jangan bayangkan seorang Nadia yang berteriak ketakutan karena Nadia bukan tipe menye-menye yang akan menutup mata melewatkan hal keren di depan matanya. Kapan lagi terbang disamping pilot kece seperti ini, hanya Nadia seorang yang mendapat kesempatan langka seperti ini.
"Wowww gilaaaak!!!!" Nadia berteriak kesenangan hingga melupakan fakta bahwa sekarang headsetnya terhubung dengan Gibran membuat laki-laki itu terkejut hungga harus melepasnya sesaaat.
"Jangan teriak." Tegur Gibran yang langsung diangguki Nadia dengan wajah yang berbinar senang.
"Sorry Om. Nad terlalu bahagia." Ujar Nadia menyengir. Gibran tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa melihat senyum lebar itu lagi.
"Ini untuk ganti hukuman kemarin." Gibran membawa helinya terbang rendah di bawah awan. "Lihat kebawah!"
"Hah?" Nadia melongok.
"Kebawah!" Ulang Gibran dan tepat saat Nadia melihat ke bawah tepannya di arah jendela bagian kiri, perlahan dengan jelas ia bisa membaca sebuah tulisan yang entah dibentuk dari apa berwarna hijau campur coklat yang sukses membuatnya terpana sekaligus berdebar, GI ❤ NAD terbaca jelas olehnya dari posisi mereka sekarang.
Nadia menoleh pada Gibran dengan slow motion, menatap laki-laki itu tak berkedip "Ini--"
"Maafkan si kanebo kering ini yang belum bisa menjadi lebih peka pada Nad. Maafkan titisan fir'aun ini yang tidak mencoba lebih keras untuk memahami Nad. Nadia adalah hadiah paling manis yang saya punya. Hadiah terbaik dari Allah yang selalu saya syukuri. Maaf karena--"
"Hiks--"
Gibran menoleh pada Nadia. Ia terlejut melihat wajah Nadia yang sudah basah oleh airmata. Menatap padanya penuh haru.
"Nad? Kok menangis? Om buat salah?" Gibran inginnya mengulurkan tangannya menggapai Nadia namun kedua tangannya sedang di gunakan untuk mengendalikan helikopter.
Nadia menggeleng, "Makasih banyak. Nad sayang bangat sama Om Gi. Nad sayaaaang bangat--hiks. Jangan tinggalin Nad ya Om. Mau sebandel apapun Nad, jangan pernah lelah memaafkan Nad, menyayangi Nad, cinta sama Nad dan Pia." Nadia mengusap sudut matanya yang berair sembari tak memutuskan pandangannya dari Gibran yang kadang harus memalingkan wajah untuk memastikan mereka tak menabrak gunung atau pepohonan yang tinggi di hutan basah itu "Nad mau sama Om selamanya."
Gibran tersenyum lembut, "InsyaAllah. Saya tidak akan berbicara mendahului takdir tapi-- Would you like to spent your life with me?-- forever hingga jannah."
Nadia mengangguk cepat, "Yes, of course yes." Ucap Nadia tak bisa menahan haru.
Ya Allah, Nad tidak pernah kecewa berdoa padaMu. Nad yakin dan percaya rencanaMu yang terbaik. Bunda, Ayah, Nad udah ikhlaskan. Kali ini, boleh kah Nad meminta laki-laki ini untuk selamanya bersama Nad? Jaga Om Gi ya Allah, biarkan Nad bersama Om Gi lebih lama. Nad sangat mencintainya.
Hingga helikopter kembali mendarat di lapangan, Nadia belum juga memutus tatapannya dari Gibran. Seolah seluruh magnet menariknya untuk tak melepas pandangannya dari Gibran. Dan sekarang Nadia tahu, selain magnet, ada yang lebih mampu menariknya yaitu cinta dari seorang Gibran Al Fateh. Jika dulu ia sempat merencanakan kabur dari Gibran saat laki-laki itu menikahinya terlebih dengan banyaknya hal mneyebalkan saat awal-awal menjalani hari sebagai seorang Persit, kali ini Nadia akan mengatakan dengan lantang bahwa dirinya, Nadia Gaudia Rasya sangat bangga dan bersyukur menjadi istri seorang Gibran Al Fateh, menjadi Persit lelaki itu mendampinginya dalam melaksanakan tugas.
Jika Gibran menyebut dirinya sebagai hadiah termanis dari Tuhan, maka bagi Nadia, Gibran adalah hukuman termanis yang pernah diterimanya dalam hidup. Jika Tuhan sedang menghukumnya karena kenakalannya selama ini maka dinikahi seorang Gibran adalah bagian hukuman paling manis dari Tuhan yang akan dijalaninya dengan senang hati.
***
Hadiah termanis dari Tuhan untuk Kapten Gibran
Hukuman termanis dari Tuhan untuk Nadia Gaudia.