
Gibran masih ingat jelas bagaimana rupa Nadia yang tidak berubah banyak dari bayi hingga kini menginjak usia delapan belasnya, sama-sama menggemaskan dan tentu saja membuatnya selalu rindu untuk melihatnya walaupun harus sesekali mencuri waktu di sela-sela tugasnya untuk melihat gadis itu di sekolah tanpa sepengetahuan Nadia tentunya.
"Cantik."
Nadia yang sedang mematut diri di depan cermin tak menyadari keberadaan Gibran yang sejak tadi mengawasinya. Helaan nafas panjang lolos dari mulutnya disertai cebikkan bibirnya. Kesal dan gemas sekaligus melihat lelaki itu asik menontonnya kesulitan mencoba beberapa potong dress lama yang ada dalam lemari.
"Udah gak muat. Sesak." Adunya sambil memandangi pantulan dirinya di depan cermin. "Padahal ini favorit Nad." Ujarnya sembari menatap sendu kancing dressnya yang tak terpasang. Salahkan Gibran menjadi salah satu tersangka yang membuat ia kesulitan mengancing bajunya sekarang. Dada yang dulunya menjadi impiannya sekarang malah menyebalkan setelah dress-dress cantiknya tidak bisa lagi ia pakai "Gara-gara Om nih suka bangat gituannya." keluhnya yang ternyata belum selesai.
Gibran meluruskan badannya "Kok saya. Pia lah." Gerakkannya lambat mendekat. Senyum kecil terbit diujung bibirnya saat Nadia menoleh dengan tatapan super datarnya.
"Gak mau ngaku." Gerutunya.
"Bukannya perempuan suka ya kalau gini?" Gibran merapatkan dadanya kepunggung Nadia, menunduk hingga ujung hidungnya menyentuh bahu telanjang Nadia. Wangi.
Nadia mendelik namun tidak menjauhkan diri dari Gibran. Sama seperti Gibran, wangi lelaki itu juga candu baginya. Campuran kayu dan sitrus, liar tapi hangat. Nadia sangat suka. Keduanya saling menatap dalam diam melalui pantulan masing-masing dalam cermin. Bibir Gibran menyentuh ringan bahu Nadia dengan tatapan lurus pada istrinya itu yang juga balas menatapnya dalam diam. Untuk beberapa menit keduanya larut menikmati momen langka itu.
"Besok kami berangkat." Ucap Nadia setelah cukup lama terdiam. Tangannya menumpu diatas tangan Gibran yang memeluk perutnya posesif. Ia mengusap tangan besar itu dengan lembut. "Nad bakalan kangen bangat." Kepalanya tertunduk kala mengatakan itu. Ia tak sanggup menatap lelaki itu tanpa menangis. Akhir-akhir ini dia memang lebih mudah menangis. Cengeng dan tentu saja tidak elegan tapi mau bagaimana lagi jika hati tak lagi sebaja dulu.
"Sama." Gibran semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya diantara ceruk leher dan bahu Nadia, menghirup dalam-dalam disana. Wangi Nadianya, gadis kecilnya yang keras kepala.
"Bisa nggak sih Om panjangin dikit ngomongnya? Biar Nad puas dengernya. Gak berbayar juga." Nadia menggerutu. Ini kan saat-saat terakhir, adalah ya harusnya kata-kata cinta yang romantis--ralat, gak perlu romantis, bentuk perintah pun tidak mengapa asal jangan di penggal-penggal seperti ini yang bikin telinga pegal.
Gibran terkekeh. Ternyata Nadia juga hebat dalam urusan menghancurkan momen, persis seperti contohnya, "Mau dibacain puisi?"
"Gak puisi juga kali." Sungut Nadia mulai kesal sementara Gibran terkekeh ditelinganya. Maksudnya kalimatnya dipanjangin bukan berarti puisi, kan bisa ngomong ini kek ngomong itu kek. Nadia terus mendumel dalam hati. Salahkan dirinya yang terlalu banyak berharap.
"Iya, bercanda Nad." Gibran mengacak rambut Nadia gemas yang langsung mendapat lirikan malas dari gadis itu.
"Bisa bercanda juga?!" Balasnya sarkas.
"Gak bisa. Bisanya seriusin kamu aja."
"Dih, manis bangat tuh mulut."
"Udah pernah nyicip kan."
"HIH MESUM!"
Gibran tergelak melihat Nadia bersungut dalam pelukannya. Manis sekali.
"Udah ih, minggir. Ngeri Nad deket-deket orang mesum." Nadia berujar tanpa berusaha sama sekali. Mulutnya saja yang bilang minggir, aslinya mah senang aja di kekepin gini. Nadia tertawa dalam hati, cewek munafik dasar.
"Gini aja dulu." Gibran menolak sembari tetap mempertahankan posisi mereka. Berlama-lama memeluk istri kecilnya ini menjadi obat lelah tersendiri untuknya setelah bekerja seharian di luar. Jauh dari Nadia bukan sesuatu yang menyenangkan tapi tawaran itu? haruskah ia ingkar lagi dengan janjinya pada Nadia?
"Maaf."
Nadia membisu. Maaf, Gibran tak perlu mengucapkan kata itu karena ia tak memiliki salah sama sekali dengan memilih pekerjaannya. Dirinya hanya perlu bersabar sedikit lagi kan? Memiliki lelaki berprinsip seperti Gibran memang terkadang menyebalkan tapi juga membanggakan.
Nadia mengangguk kecil sembari mengulas senyum tipis. Tenang saja, ia memiliki stok maaf unlimited untuk Omnya itu.
***
"Cantik."
"Of course."
Gibran terkekeh mendengar respon si gadis manis manjanya yang selalu percaya diri. Pelajaran kepribadian sepertinya sukses besar membentuknya menjadi gadis yang tidak akan menunduk saat berjalan. Mereka sedang bersiap untuk keliling kampung membagikan pakaian Nadia untuk gadis-gadis remaja dalam kampung juga baju-baju Pia yang tak terpakai untuk bayi-bayi seusinya sekaligus berpamitan. Dan seperti biasa Nadia harus selalu paripurna disetiap kesempatan karena menurut Nyonya Gibran, tampil kece bukan sekedar untuk gaya atau pamer tapi lebih kepada bentuk penghargaan pada diri sendiri. Dan tentu saja Gibran tak memiliki bantahan untuk alasan yang logis itu, jika saja tidak mengganggu egonya sebagai pemilik gadis manis bernama Nadia Gaudia Rasya. Lagi-lagi ego seorang suami atau sebut saja namanya, A jelousy.
"Lebih cantik kalau rokknya di panjangin dikit."
Nadia memutar bola mata malas, selalu saja. Ia berjalan menghampiri Gibran yang sedang bersandar di pintu lemari mengalunkan tangan di leher pria itu agresif. Tatapan menggoda sekaligus jahilnya dibalas kening bertaut oleh Gibran.
"Apa nih?" Tanya Gibran waspada. Jangan sampai ia harus kembali ke kamar mandi untuk mengguyur kepala dengan air dingin karena mereka tidak memiliki waktu banyak untuk keliling kampung.
"Cemburu?" Nadia dan godaannya tentu saja tak mau kehilangan momen. Mumpung Pia sedang anteng dengan gantungan-gantungan kainnya, ayahnya juga sedap di unyel-unyel.
Sluuuurp.
"Iya." Jawab Gibran jujur sembari menahan kening Nadia dengan jari telunjuknya. Anak gadis zaman sekarang berbahaya, berani sekali menggoda lelaki. Ini nih yang bahaya memiliki anak perempuan, perlu ekstra penjagaan apalagi kalau modelnya seperti Nadia yang sepertinya tidak memiliki rasa takut sama sekali. Untung saja Gibran tebal iman--semoga. Sebagai lelaki normal mendapati pemandangan indah di depannya ia tak mau munafik, dia suka dan tentu saja bersemangat. Belum lagi kalau itu halal untuk dinikmati tapi lain ceritanya kalau di luar rumah, Nadia adalah miliknya seorang from toe to top. Fix no debat, "Nad istri saya. Cantiknya Nad hanya untuk saya." Dengar? kalimat kepemilikan dari seorang Gibran yang begitu manis sekaligus mengesalkan. Dia boleh melakukan itu pada Nadia tapi tahukah ia bahwa diluar sana banyak kaum Nadia yang jejeritan hanya dengan melihat wajah tanpa senyumnya?! Lalu sekarang saat mereka harus terpisah, bukankah sangat berbahaya saling berjauhan dengan banyaknya godaan disekitar mereka?
"Dulu aja Nad boleh-boleh aja tuh pake ginian keluar rumah. Kok sekarang ngajak ribut bangat." Nadia bukan mau membantah tapi menyenangkan melihat Gibran yang uring-uringan dengan caranya sendiri. "Pokoknya Nad mau pake ini. Gak mau tau." Keras kepala dan manja, kurang apalagi coba ujian Gibran. Nadia mengulum senyum tipis melihat wajah mengeras Gibran. Setidaknya ia semakin yakin bahwa bukan saja dirinya yang memiliki rasa kepemilikan itu tetapi Gibran juga. Skor satu sama.
"No." Gibran menangkap pinggang Nadia mengangkatnya sedikit hingga istri kecilnya itu tidak berpijak lagi diatas lantai dingin kamar mereka, "Jadi gadis manis, ok?"
"Emang Nad dapet apa kalau jadi gadis manis?" Tantang Nadia. Ia menikmati kedekatan ini. Mencuri banyak-banyak wangi Gibran untuk dia ingat saat mereka harus berjauhan kelak.
"Dapat--" Gibran berpikir sejenak, "Saya?" Lanjutnya seolah memberi penawaran menarik. Wajahnya semakin dekat hingga ujung hidung mereka saling menyentuh. Nadia yang selalu lemah jika dihadapkan dengan pesona Gibran menggigit bibir bawahnya gugup, kenapa ia bisa murahan begini sih? Ah, Om-om penggoda. Nadia bergerak menghapus jarak keduanya tapi kemudian--
"Mohon maaf yang didalam bisa di percepat?"
SHIIIIIT!!!
Nadia mengumpat dalam hati. Sabrina Setan. Kenapa ia bisa lupa ada makhluk menyebalkan itu di luar. Dengan wajah sebal, Nadia menjauhkan diri dari Gibran yang sepertinya menikmati momen kampret itu.
"Khum, keluar yuk." Nadia berpaling dari Gibran, menetralkan degup-degup dalam dadanya sebelum kemudian keluar dari kamar bergabung dengan Sabrina si menyebalkan dan Om Guntur yang sabar. Sementara Gibran, sepeninggal Nadia ia langsung melepaskan kekehannya. Yang tadi hampir saja. Ia mengusap tengkuknya kikuk lalu menyusul keluar setelah sebelumnya mengecup pipi Pia yang sepertinya menikmati momen berantakan yang terjadi pada dua malaikat tak bersayapnya itu.
***
"Jadi, bapak ditinggal kah Ibu?"
"Peleee bapak kasian apa eee" Lanjut enang tersebut yang tak lagi di balas oleh Nadia. Ingat, cukup anggukan kecil dan senyum manis.
"Iya, ibu. Tra bisa kah tinggal saja?" Seorang enang menimpali. Sepertinya Nadia salah mengambil waktu karena sore hari seperti ini ibu-ibu sedang melakukan perkumpulan rutin untuk makan pinang bersama.
"Semua sudah diatur enang." Jawab Nadia masih dengan senyum tak luntur dari bibirnya. "Saya permisi ya enang semua." Tak mau menunggu sambutan lain, Nadia lekas undur diri. Yang penting ia sudah pamitan, itu intinya.
"Iya Ibu. Hati-hati sudah."
"Iya, Nang. Makasih."
Lalu tanpa menunggu lama, Nadia bergegas meninggalkan tempat itu untuk bergabung bersama Gibran, Pia, Sabrina dan Guntur yang sedang membagikan dress Nadia pada anak-anak remaja yang di kumpulkan. Niatnya untuk gadis seusia Nadia tapi karena postur remaja lokal lebih dari Nadia maka dress itu berakhir di tangan para gadis-gadis kecil kelas minggu yang kebetulan sedang latihan menyanyi untuk Misa di gereja.
Saat Nadia hendak memasuki lingkungan gereja, ia bertemu dengan tiga orang tentara muda yang salah satunya pernah bertemu dengannya di Aula.
"Selamat sore, Bu Gibran." Sapanya.
Nadia mengangguk kecil, "Selamat sore Om bertiga. Di dalam ada kerja bakti ya Om?"
Tentara muda yang tak lain adalah bayu mengangguk. "Iya, Ibu. Ibu dari mana?" Oke, sebut saja bayu nekat tapi Nadia benar-benar sayang untuk dilewatkan. Gadis manis yang menyenangkan, bukankah lelaki sekaku Kaptennya terlalu beruntung mendapat karunia seperti ini?! Sungguh membuat iri.
"Keliling kampung aja, Om. Pamitan."
"Pamitan? Maksudnya?" Sepertinya ia tidak mendengar akan ada pergantian lagi dalam waktu dekat dan belum ada juga penyampaian atau isu-isu mengenai kepindahan Gibran.
"Nad dan Pia mau pulang." Jelas Nadia hanya untuk menginformasikan sebenarnya.
Bayu terkesiap. Secepat itu? Padahal ia masih mau berlama-lama memijak tanah yang sama dengan Nadia. Hah, kenapa istri orang bisa menawan sekali sih?!
"Oh gitu ya, Bu." Ujar Bayu lirih. Kedua rekan yang sejak tadi hanya diam tak begitu senekat Bayu karena kesabaran Gibran bukan untuk di coba-coba.
"Iya. Permisi ya Om, Nad ke dalam dulu." Sekali lagi mengulas senyum tipis, lalu ia masuk ke dalam lingkungan gereja mencari Gibran.
"Punya nyali juga lo." Sikut seorang yang disamping Bayu. Terlalu mencari masalah menyapa Nadia saat radar suaminya sedang aktif.
"Gimana ya, cantik gitu." Bayu menyengir lebar. Pesona Nadia sepertinya mengalahkan rasa khawatir akan ancaman Gibran tempo hari.
"Cantik sih cantik tapi hardernya--" timpal seorang lagi ngeri. Bukan apa-apa tapi kasak kusuk mengenai Gibran yang tak segan menguliti lelaki yang berani melirik istrinya sungguh mengerikan. Kisah robbi sudah melegenda diantara anak-anak baru dengan dibumbui hal-hal drama, jadilah Gibran sebagai suami over yang cemburuan.
Nadia melebarkan senyumnya melihat kedekatan Gibran dan anak-anak sekolah minggu. Dalam gendongannya Pia kecil tertawa diajak bercanda oleh mereka. Salah satu yang akan Nadia rindukan dari tempat ini tentu saja anak-anak papua yang begitu ramah dan baik padanya. Seringnya ia dibawakan buah-buahan hutan yang sedang musim. Tak jarang juga ikan segar hasil tangkapan mereka di tukarkan dengan satu atau dua bungkus mie instan. Orang-orang ditempat ini sangat baik padanya meskipun ada juga beberapa yang memandangnya sinis hanya karena kehadiran mereka sebagai orang kulit putih.
"Selamat sore semua."
"Selamat sore kakak ibu."
Nadia menyengir lebar mendengar panggilan itu. Kakak Ibu. Panggilan yang awal mula membuat Nadia mengernyit bingung dengan sebutan itu sebelum kemudian ia tahu bahwa panggilan itu disematkan sebab ia yang seharusnya masih seumuran kakak sudah menjadi seorang ibu, jadilah ia mendapat sebutan kakak ibu.
"Udah dapat semua, Om?" Tanyanya pada Gibran yang duduk memangku Pia. "Sabrina dan Om Guntur mana?"
"Sudah. Mereka ke kesusteran. Ada urusan katanya."
Nadia mengangguk sembari ber-oh. "Balik?"
"Ngobrol apa tadi?"
"Hah?" Nadia mengerjap. "Ngobrol? Maksudnya?"
Gibran berdehem lalu menyuruh anak-anak kembali berlatih.
"Di depan. Tadi asik sekali ngobrolnya." Lanjut Gibran sembari berdiri dari posisi duduknya.
Nadia yang sudah paham arah pembicaraan Gibran langsung menggeleng, "Cuma nyapa aja."
"Kok senyum-senyum?" Gibran bertanya tak santai.
"Iyalah. Masa ada yang nyapa baik-baik, Nadnya nyolot." Jawab Nadia yang mulai tak habis pikir dengan kecemburuan Gibran.
"Ya gak usah lebar kali senyum kamu."
"Dih, apaan sih. Gak jelas. Udah ah balik. Pegel kaki Nad. Kalau masih mau ngomel, noh sama tiang bel." Tunjuk Nadia pada tiang penyangga bel gereja yang tak jauh dari tempat mereka berada. Setelah itu berbalik meninggalkan Gibran dengan langkah lebar yang di hentak-hentakkan.
Gibran menghembuskan nafas kasar. "Pia, jaga baik-baik Ibu ya. Bahaya banyak yang lirik." Ucapnya pada bayi pia yang hanya mengerjap lucu mendengar perdebatan tak berarti kedua orangtuanya, "Belum apa-apa ayah udah takut aja Dek. Ibu kamu cantik gitu. Apa gak usah pulang aja ya?"
Huff!!!
***
Yuhuuuuu maapin author yak, suka lama up nya., udah berapa kali rombak nih baru berani up episodnya., suka kayak gitu emang, hehhe. pengennya pas aku baca itu asik aja kalimatnya padahal pas up gini-gini aja juga huhuhu...
happy reading gesssss...
kalau ada kekeliruan info maapin yak, soalnya pas nulis ini gak sempat mikir mau dijadiin referensi buat reader, niatnya cuma dibaca aja gitu buat hiburan, kalau ada drama yang brlebihan atau ketidak akuratan tempat, gelar, status atau apalah, mohon di maklumi.
buat senang-senang aja udah.
Merdeka!!! 🇮🇩
🤗🤗🤗