Little Persit

Little Persit
Musuh bersama



"Nad, lo nggak apa-apa kan? Sorry kemarin gue nggak ada disamping lo saat lo lagi sulit. Semua salah papa yang pake ngajakin liburan segala jadi gue--"


"Diem, jer! Sakit kepala gue dengar lo ngomong dari tadi. Liat noh si Nadia sampe pusing dengar ocehan lo." Sandra si mulut mercon mendorong jeremi yang tiba-tiba menyempil diantara mereka.


"Gue gak ngomong sama lo ya, Sand." Balas jeremi menatap kesal cewek cantik yang si*lnya nyebelin.


"Gue ngewakilin Nad, mau apa lo?" Tantang Sandra membuat jeremi mau tidak mau kicep juga. Ya kali kan dia bisa menang menghadapi tiga gadis bar-bar ini, security berbadan hercules saja bisa di lumpuhin apalagi dirinya yang-well tidak mau dia akui sih tapi nyatanya dia memang kerempeng.


"Ck. Heran gue si Nad bisa tahan sama lo pada." Gerutu jeremi meninggalkan empat orang gadis cantik yang sayangnya jelmaan singa betina.


"Main ke Mall yuk, ada film baru." Aleksis yang bergabung dengan grup chat pencinta film-film kece menunjukkan satu buah poster film dari layar hpnya.


"Action?" Gendis yang tengah mengulum es krimnya bertanya.


"Horor mau?"


Gendis menggeleng, "Gak, gue ampe di marahin mama gara-gara hampir mecahin patung dewa krisna gegara di kagetin kucing. Kebiasaan sebelum tidur gak sengaja nonton cuplikan film pengabdi setan."


"Anjiiir sih tu film, gue aja ampe hampir ngedorong mami dari tangga gara-gara beliau make kerudung putih subuh-subuh mana lagi hamil besar gitu lagi." Sandra menimpali sembari menyentuh keningnya, ia masih mengingat dengan jelas sendal bulu-bulu maminya mampir di keningnya.


"Gue sih apa aja asal jangan romance. Makan ati gue, nonton gituan pulang di rumah bukannya merealisasikan film malah ketemu Om Gibran yang kakunya naudzubillah." Ujar Nadia menyerut jus pisang di depanya hingga tandas.


"Nah cocok. Action, gak horor, gak romantis." Aleksis berujar senang. Akhirnya setelah sekian purnama ia bisa nonton film action juga sama sahabat-sahabatnya.


"Izin dulu, Nad." Gendis mengingatkan.


"Gampang. Om Gi tinggal di chat aja." Ujar Nadia enteng sembari mengambil hp di dekat gelasnya dan mengirim pesan untuk si suami. Sudah lebih seminggu ini ia kembali aktif beraktifitas. Pelan-pelan Nadia bisa melupakan sedikit kesedihannya. Seperti pesan Gibran, adek bayi mereka sekarang sudah bahagia di alamnya.


.


.


.


"Filmnya mulai setengah jam lagi. Jalan-jalan dulu yuk." Ajak Aleksis pada ketiga sahabatnya. Mereka kini sudah berada di depan bioskop menunggu film yang akan mereka tonton mulai.


"Victoria secret udah ngeluarin edisi musim panas." Ujar Sandra mengundang kernyitan ketiga sahabatnya.


"Ngapain lo mantengin victoria secret? Awas lo ya, gue laporin mami."Ancam Nadia, memukul bahu Sandra cukup keras.


"Iya nih si Sandra. Gak boleh tauk." Tambah Gendis.


Sandra mendelik sebal. Ini nih, punya teman dua biji, satu polosnya gak ketulungan, satunya lagi udah nikah tapi liarnya gak terasah. Hadeh.


"Buat referensi dong gengs, ye nggak Sand?"


"Nah kan-" Sandra bertepuk sekali. Untung ada aleksis meskipun otaknya kadang porno tapi cukup membantulah untuk hal-hal yang seperti ini seenggaknya dia gak perlu garuk-garuk tembok saking gemasnya.


"Bodo amatlah. Gue nggak ikutan. Takut di ceburin kolam asrama gue sama Om Gi." Nadia bergidik membayangkan keadaan kolam hitam di belakang rumahnya. Aleksis dan Sandra saling melirik dengan tatapan licik.


"Ngapain lo berdua mandangin Gue kayak gitu?" Nadia menarik Gendis untuk dijadikan tameng. Dua sahabatnya ini kadang ngerjainnya gak kira-kira.


Aleksis berdehem "khm Nadia sayang, kita ada niat baik sama lo."


Nadia menepis tangan Aleksis di lengannya "Nggak. Terima kasih untuk niat baik lo tapi gue nggak butuh." Feeling Nadia tidak baik soal ini. Aleksis dan Sandra terkenal iseng, tidak tanggung-tanggung siapapun bisa jadi sasaran termasuk dirinya yang notabenenya si leader.


"Gak baik loh Nad nolak niat baik." Gendis si super polos menasehati. Boleh tidak sih ngejual orang, pengen bangat tukar tambah otak di Gendis biar rada nyambung.


"Bener tuh Nad. Kami kan mau lo dan Om Gibran happy forever." Sandra menambahkan.


"Gak ada hubungannya Om Gi dan belanja victoria secret." Nadia berujar kesal.


"Ada dong Nadia sayang. Sangat sangat sangat berhubungan. Noh gue ulang sampe tiga kali saking pentingnya." Ujar Sandra lagi dan tanpa menunggu lama langsung menyeret Nadia ke tempat terlarang itu.


Nadia memandang horor pantulan dirinya di depan cermin ruang ganti. "Ngapain jaring ikan lo kasiin ke gue?" Protesnya menepis baju yang lebih tepat di sebut jaringan ikan kata Nadia.


"Lo anak gaul tapi lingeria aja nggak tau. Kampung ah, malu-maluin genk aja." Semprot aleksis membawa beberapa stel lagi pakaian dengan model yang tidak lebih baik. Nadia mengintip harga pakaian tersebut dan langsung membelalak melihat nominal yang harus di keluarkan untuk satu pasang kain jaring-jaring itu yang sumpah demi apapun akan di laknat oleh Gibran. Bikini two pieces-nya saja yang masih menutup dengan rapat tidak diizinkan oleh Gibran apalagi yang ini. Waduuuh celaka dua belas ini sih.


"Percaya sama gue Om Gibran akan senang bangat liat lo pakai ini. Gue yakin dia gak bakal betah di kantor." Sandra mengambil satu stel lagi dan mencocokannya di badan Nadia. "Apalagi ini lo udah ngembang bangat. Bikin iri gue aja sih."


Nadia langsung menyilangkan tangannya di dada menatap Sandra penuh tuduhan "Mata lo, jaga!"


Gendis yang ada di tempat itu langsung menghalangi Nadia dari tatapan sandra yang di balas putaran bola mata dari Aleksis dan Sandra, duo 'gadis baik-baik' bersatu.


"Gue nggak mau. Cari yang lain aja." Putus Nadia bergegas keluar toko tersebut diikuti Gendis. Aleksis dan Nadia akhrinya hanya bisa menghela nafas pendek. Lagi pula film sudah mau mulai, mau membujuk Nadia juga percuma.


.


.


"Gilak! Crish Evans makin tua makin nikmat aja." Aleksis menangkup wajahnya yang tidak bisa berhenti mengagumi pemeran captain amerika itu.


"Masih kerenan Om Gibran sih. Udah nyata, pahlawan di hidup Nadia. Iya kan Nad?" Sela Gendis yang mendapat anggukan dari Nadia.


"Gue setuju. Ah, tapi sama-sama keren sih. Makin berumur makin yahud." Sandra menimpali yang langsung mendapat tatapan horor dari Nadia.


"Om Gue tuh, jangan macam-macam lo." Tuding Nadia yang malah ditanggapi peletan oleh Sandra. Dasar, sahabat kampreeeet.


"Eeh eeh, ngomong-ngomong Om Gi. Itu Om Gi bukan sih?" Aleksis menarik atensi kedua gadis yang sedang adu mulut di depannya.


Nadia menyipit, memastikan sosok yang mengenakan jaket kulit yang tengah duduk di gerai penjual es benar Om nya atau bukan.


"Iya benar, Om Gi. Sama siapa tuh?" Gendis membenarkan.


Itu kan tante tutup panci? Ngapain Om Gi sama tuh tante jelek, pakai acara makan es krim lagi. Dia saja belum pernah diajak jalan berdua, lah tante tutup panci udah main aja ke tempat penjual es. Tidak bener nih.


Nadia menggeram tertahan "Bentar, gue telfon Om Gi dulu."


"Cepeeeet." Ujar aleksis tidak sabar. Keempatnya kemudian mencari tempat aman untuk memantau Gibran dan Prada.


"Kurang aj*r si Om, Telfon gue di reject." Nadia menatap kesal hpnya, belum lagi melihat Gibran mematikan hpnya menambah kadar api dalam darahnya semakin membara.


Drt...


Om Gi : Lagi kerja.


"KAMPREEEET!!! lagi kerja apaan nih? Gue di bohongi." Nadia hampir saja membanting hpnya kalau tidak di tahan oleh Sandra.


"Sabar sabar, kita liatin dulu."


"Bagusnya kita apain tuh Om Gi?" Aleksis meremas kepalan tangannya gemas.


Gendis menggeleng pelan "Lo berani, leks?" Tanyanya sanksi.


"Sama aja." Nadia memutar bola mata jengah. Punya sahabat kok rada-rada semua.


"Eh, tantenya udah jalan. Ikutin yuk!" Sandra menarik tangan Nadia disusul Aleksis dan Gendis dengan langkah pelan dan hati-hati mengikuti Prada menuju toilet.


"Masuk, Leks, Ndis. Gue dan Sandra jaga di luar." Nadia memberi instruksi. Si tas Prada rupanya nyari masalah sama gue, awas aja tuh tante.


Aleksis dan Gendis sesantai mungkin masuk toilet mengikuti Prada yang tidak menaruh curiga sama sekali.


"Dek, ada tissue?" Gendis hampir saja copot jantungnya ditegur tiba-tiba oleh Prada.


"O-oh. a-ada, Tan." Jawabnya tergagap, membuat Prada mengernyit.


"Teman saya gagap sejak lahir, Tan." Ujar Aleksis cepat. Gendis mengangguk meskipun dalam hati rasanya mau memasukan Aleksis ke dalam pipa toilet. Enak aja dibilangin gagap sejak lahir.


"Oh, maaf. Terima kasih ya."


Gendis mengangguk. Lalu menyikut Aleksis setelah Prada masuk ke dalam salah satu bilik.


Aleksis menahan tawanya. Emang ya, punya sahabat kalau gak kampreet ya si*lan. Batin Gendis gemas.


Keduanya saling melirik lalu dengan gerakan cepat mengunci pintu dari luar. Otak cerdas Gendis bergerak cepat, ia mengeluarkan kertas dari dalam tasnya lalu menulis diatasnya dengan tulisan kapital, RUSAK. Kertas tersebut di tempel dengan lem rekat untuk praktik prakarya mereka.


"Mantap!" Aleksis mengacungkan dua jempolnya lalu secepatnya keluar dari Toilet.


"Gimana?" Tanya Nadia dan Sandra penasaran.


"Beres." Jawab Aleksis dan Gendis dengan senyuman puas. Keempatnya lalu melakukan tos seperti kebiasaan mereka setelah berhasil mengelabui satpam atau guru piket.


"Udah yuk, temuin Om Gi." Ajak Sandra.


"Temuin?" Tanya Nadia tak yakin. Ia khawatir Gibran mencium bau-bau kejahatan mereka tapi sepertinya Gibran perlu di beri kejutan. Biar ketahuan kebohongannya, bilangnya kerja eh ternyata malah jalan sama tante tutup panci.


"Ayo!" Nadia sudah bertekad. Ia berjalan memimpin teman-temannya menemui Gibran.


Nadia memperbaiki ekspresinya seolah-olah terkejut mendapati Gibran disana.


"Om Gi?" Panggilnya dengan suara lembut padahal aslinya ia sudah ingin meneriaki Om-om ganteng pembohong di depannya.


"Kalian?" Gibran menatap empat remaja di depannya dengan tatapan datar. Tidak merasa berdosa sama sekali lho. Nadia makin dibuat greget jadinya.


"Om katanya kerja tapi kok disini. Makan es krim lagi." Ujar Nadia duduk di depan Gibran sementara teman-temannya berdiri di belakangnya dengan tatapan siap menguliti Gibran. Laki-laki itu mengernyit mendapat tatapan tak bersahabat dari ketiga sahabat istrinya


"Kalian nonton di Mall ini?" Tanya Gibran sembari menyelipkan rambut yang mencuat di belakang telinga Nadia. Gadis itu mencibir dalam hati, sok manis.


"Iya, Gak nyangka ya Om." Ujar Aleksis sinis.


"Om sama siapa disini?" Tanya Sandra tak kalah sinisnya.


Gibran menatap Nadia yang tengah menunggu jawabannya dengan tatapan tajam.


Gibran mengulas senyum tipis yang mencurigakan "Sama teman kantor."


"Cewek apa cowok, Om?" Tanya Gendis tak mau ketinggalan melakukan interogasi terselubung. Nadia harus mentraktir sahabat-sahabatnya liburan ke Hawai kali ini. Mereka melakukan pekerjaan dengan sempurna.


"Kalian tidak akan kenal." Ujar Gibran sengaja memanasi keempat remaja di depannya. Ia sudah mencurigai mereka sejak mendapati keempatnya muncul tiba-tiba. Apalagi sebelumnya Nadia tumben-tumbenan menanyakan posisinya.


Nadia menangkup kedua tangannya diatas meja kecil, mendekatkan wajahnya pada Gibran yang tidak gentar sama sekali dengan tatapan persit kecilnya itu.


"Nad mencium bau-bau penghianatan disini." Katanya mengendus-endus.


Gibran menaikan alisnya "Oh ya? Seperti apa?" Gibran mengintimidasi balik membuat Nadia memundurkan kepalanya ke belakang kalau tidak mau memberikan tontonan gratis ketiga temannya.


Nadia berdehem "Yah seperti itulah, bau kaos kaki." Ujar Nadia sekenanya.


"Oh, mungkin kaos kaki Nad belum diganti semingguan ini."


"UGH!!!" Nadia mengepalkan tangannya kesal. Wajahnya sudah memerah menahan diri untuk tidak mengacak-acak wajah kaku Gibran.


Gibran mengedikkan bahu, menyandarkan punggungnya dengan santai "Kalian lebih baik pulang." Ujar Gibran. Ia melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Gak! Kita masih mau main. Iya nggak girls?"


"Hu-um." Jawab ketiga sahabat Nadia kompak.


Gibran menghela nafas lelah. Ia manoleh kebelakang menunggu Prada yang tak juga kembali.


"Kapten!" Baru juga dipikirkan rekannya itu sudah berlari kearahnya dengan ngos-ngosan.


Gibran berdiri sigap menghadap rekannya yang tampak mengernyit melihat dua gadis yang dikenalinya.


"Kalian?" Katanya membuat Gendis dan Aleksis tersenyum kaku.


"Ada apa, Lettu Prada?" Tanya Gibran mengalihkan perhatian Prada pada empat remaja yang bersama Gibran.


"Maaf kapten, Saya kehilangan jejak target." Prada menunduk dalam. Ia sudah gagal menjalankan tugasnya.


"Kenapa bisa? Bukannya tadi kamu mengikutinya?" Gibran menghela nafas kasar. Mereka sudah tidak istrahat selama hampir seminggu untuk memburu target dan hari ini harus kehilangan jejaknya lagi.


"Maaf kapten, sepertinya target mengetahui keberadaan Tim. Tadi saya di kunci dalam kamar mandi, mungkin salah satu dari mereka yang melakukannya."


Nadia dan ketiga sahabatnya saling melirik. Belum lagi Aleksis dan Gendis yang tampak pucat mendengar penuturan tentara perempuan di depan mereka. Bisa gawat urusannya kalau mereka dituduh bersekongkol dengan siapapun yang menjadi target tersebut.


Gibran menatap Nadia dan ketiga sahabatnya yang tampak lebih diam. Sebuah pemikiran terlintas di kepalanya.


"Kalian dari mana tadi?"


Gluk! Nadia menelan ludahnya dengan susah payah. Mati aku.


***


Haduuuuuh The girls buat masalah aja nih. Kasian Om Gi dan Prada harus mengulang dari nol lagi.


Kenalan dulu sama para ciwi-ciwi bar-bar


Nadia, Sandra, Gendis.



Nah, kalo ini Nadia dan Aleksis. Emang yes, anak-anak orang kaya pada seenaknya saja.