Little Persit

Little Persit
Jabatan Baru



"Itu tadi teman kamu kan?"


"BUKAN! JANGAN FITNAH DEH!" Nadia melotot sementara Girban berjengit kaget.


"Biasa saja lah." Ujar Gibran mengerutkan kening. PMS atau kenapa lagi kesayangannya ini?!


Nadia dengan bibir manyun menggaet lengan Gibran berjalan keluar dari Mall, "Enak aja temen gue. Yang ada juga hater abadi gue." Omelnya sepanjang jalan, "Yang bener aja dong gue temenan modelan Queen wanna be gitu. Hih." Si Lalita yang selalu dielu-elukan sebegai the next mentri keuangan yang hidup dengan menjunjung harga diri yang tinggi harus malu di restoran karena tidak mampu membayar makanannya sendiri. Roda kehidupan memang semisteri itu. Lucu dan penuh kejutan.


Didalam hatinya Ibunya Pia itu ada rasa puas melihat wajah malunya Lalita. Harga diri lo udah gue bayar sejuta, Lalita sayaaaaang. Nadia melompat-lompat kesenangan mengiringi langkah Gibran yang kebingungan dengan kelakuannya. Perubahan mood yang sangat cepat.


"Ck. Jangan lompat-lompat." Tegur Gibran berdecak pelan saat Nadia hampir tergelincir.


"Nad seneng dooong." Nadia menyengir lebar melihat wajah datar Gibran, "Udah, jalan aja." lanjutnya menoel dagu Gibran. Laki-laki pemilik ekstra sabar itu hanya bisa menghela nafas lelah. Resiko punya istri lincah seperti Nadia jadi beginilah adanya.


***


Oh, okey. Jadi benar gosip itu? Nadia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sementara matanya fokus menatap layar hp yang menampilkan foto sang suami yang sedang serah terima jabatan barunya sebagai Danflight menggantikan yang lama yang dipindah tugas ke bagian sumatra. Beberapa ucapan selamat datang dari rekan-rekan sesama PIA yang disertai dengan info mengenai istri Komandan dan adik sepupunya. Nadia menggeleng pelan, jabatan tak pernah jadi prioritasnya. Selama Gibran bahagai, jadi apapun juga laki-laki akan tetap menjadi kesayangannya. Bahkan jika Gibran pengangguran pun tak apa-apa. Masih ada Gaudia Group yang bisa menjamin hidup mereka hingga tujuh turunan.


To Om Gi sayang ❤❤❤


Congratulation sayangkuuuuuhhh. Cieeeee naik jabatan. Traktiiiiiiiir!!! Gak mau tau!


😍😍😍


Nadia menyimpan kembali hpnya setelah mengetik ucapan selamat untuk sang suami. Sepulang dari kampus ia sudah menyusun rencana membuat kejutan kecil. Jarang sekali Omnya itu merayakan sesuatu bahkan ulang tahun Nadia sekalipun terkecuali kalau Nadia sudah merengek, memohon dan mengamuk maka demi kedamaian dunia diapun akan menurutinya. Nadia kembali pada buku tebal yang ada di depannya. Perpustakaan sedang sepi dan sebenarnya ini waktu yang pas untuk tidur tapi mengingat resolusinya, Nadia sekuat tenaga menahan diri. Untuk tetap tejaga ia membawa banyak makanan dan permen yang makan diam-diam karena peraturan perpus kampus yang tidak membolehkan membawa makanan.


"Boleh duduk?"


Nadia mendongak, sempat tertegun sebentar lalu mengangguk, "Silahkan." Ia menggeser bukunya agar Orion yang beberapa waktu belakangan ini seperti menghindarinya datang membawa beberapa buku.


"Gue ganggu gak?"


"Tergantung. Kalau lo ngomong terus jelas bukan cuma gue yang ke ganggu." Jawab Nadia enteng. Ia tidak pandai menjaga hati orang apalagi berpura-pura hanya untuk menyenangkan orang lain. Gibran mengajarinya hidup dengan jujur baik pada orang lain maupun pada dirinya sendiri. Jika tidak nyaman, bilang saja tak nyaman. Se-simple itu.


Orion mengangguk paham oleh karena itu cowok blasteran itu membuka salah satu buku yang dibawanya untuk dibaca. Nadia yang sudah memasang peringatan tentu saja tak pernah main-main dengan ucapannya.


Nadia menyadari beberapa kali Orion berusaha mencuri perhatian atau meliriknya tapi ia tak begitu memperdulikannya. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh mantan pacar Lalita ini tapi dia ragu-ragu. Nadia bukan tipe adik kelas yang manis yang mau beramah tamah dengannya meskipun dalam mood berantakan pun istrinya orang ini tetap saja manis dan cantik. Ah sayang sekali Nadia terlalu cepat menikah, jika tidak, Orion tak keberatan jika harus mengejar-ngejarnya. She is an extra ordinary girl. Saat gadis seusianya memilih hidup bebas menikmati berkencan sepus hati, Nadia malah terikat hubungan sakral dengan seorang pria dewasa, menjadi ibu rumah tangga. Padahal dia adalah gadis kaya raya yang pasti tidak akan kekurangan apapun. Uang mendukungnya untuk hidup bersenang-senang menikmati masa-masa mudanya.


Orion kembali melirik Nadia dan kali ini tertangkap basah oleh Nadia sehingga ia tidak bisa menghindar begitu saja.


"Ada yang lo mau omongin?" Tanya Nadia menutup bukunya dan memasukkannya dalam tas.


"Lo ada waktu?" Tanya Orion balik. Cowok itupun sudah menutup bukunya dan menyusunnya dengan beberapa buku tebal lainnya yang memang dipakai sebagai bagian dari modus.


Nadia mengedikkan bahunya lalu tanpa kata menarik tote bag-nya keluar dari Perpustakaan dan Orion buru-buru keluar menyusulnya.


"Mau ngomong apa?" Tanya Nadia tanpa mau menatap Orion. Keduanya berdiri di depan pintu perpustakaan.


"Kita cari tempat duduk." Orion mengajak Nadia ke salah satu gazebo kosong.


"Langsung aja." Ujar Nadia mempersilahkan. Ia tidak begitu menyukai basa basi.


"Ini soal Lalita dan perusahaan keluarganya." Orion berujar hati-hati. Jika salah berucap, bisa saja berikutnya adalah perusahaan keluarganya. Gaudia Group adalah perusahaan raksasa yang bisa melakukan banyak hal yang orang-orang diperusahaan papinya tidak bisa lakukan.


"Kenapa mereka?"


Orion menelan gugup. Berat hati mengatakannya mengingat apa yang sudah dilakukan Lalita pada Nadia tapi ia juga tidak tega melihat Lalita dan kelurganya seperti sekarang, terancam kehilangan segalanya sebab ternyata perusahaan yang bergerak dibidang arsitektur itu sedang diambang kehancuran dan proyek besar Gaudia Grouplah yang menjadi satu-satunya harapan mereka untuk bangkit kembali. Navia Hotel yang ada di lombok adalah salah satu proyek besar Gaudia Group yang di persiapkan untuk hadiah ulang tahun pertama Navia dan banyak perusahaan yang bergerak dibidang yang sama dengan perusahaan keluarga Lalita bersaing ketat untuk memenangkan proyek tersebut.


"Lo bisa melepaskan mereka? Mmm maksud gue, biarkan mereka ikut berkompetisi. Lagian hal ini seharusnya gak usah dibesar-besarin. Lalita cuman khilaf." Ujar Orion setelah mengumpulkan keberaniaannya.


"Khilaf? Kalau khilaf, kenapa cewek lo itu bukannya minta maaf ke gue malah tambah ngelaporin? Bukannya kalau ngerasa khilaf itu harusnya nyesel ya bukan malah nyusahin gue?" Nadia terkekeh sinis. Ada-ada saja dua manusia ini.


Orion diam. Jelas sekali kekesalan Nadia di matanya.


"Trus, Kenapa lo yang datang? Kenapa bukan Lalita langsung? Lo alih tugas jadi juru bicara keluarga Lalita?" lanjut Nadia menatap Orion sinis.


Orion tergagap, "Bu-bukan gitu. Gu--gue cuma kasihan sama mereka."


"Gue nggak tuh. Lo juga bukan siapa-siapa gue kan yang perlu gue dengerin omongannya?"


Pedas! Omongan Nadia memang senyelekit itu tapi semuanya benar adanya. Orion bukan siapa-siapanya yang harus dia dengarkan ucapannya. Dan soal Lalita, kalau memang serius, bukankah seharusnya dia datang menemui Nadia langsung?


"Sorry, gue cuman--yeah I thought--" Orion menghebuskan nafas kasar. Percuma, dia tidak bisa melakukan apapun. Cowok itu mengatupkan mulutnya.


Nadia meraih tasnya untuk disampirkan ke bahu, "Kalau udah gak ada lagi yang diomongin, gue cabut." setelah mengucapkan itu Nadia pergi meninggalkan Orion yang terpaku di tempatnya. Malas sekali meladeni orang yang tidak mau melihat masalah secara keseluruhan. Keceplosan? Oh Astagaaaa sejak kapan menghina orangtua dengan panjang lebar masuk kategori keceplosan? Nadia menggelengkan kepala tak habis pikir. Daripada stres bertemu orang-orang stres, lebih baik ia menemui Om Gi-nya, kesayangannya itu pasti senang sekali kalau dia datang di acara pelantikan pangkat barunya. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju taksi online pesanannya.


.


.


.


"Traktir suh!"


Gibran yang baru keluar dari ruangan disambut beberapa rekannya yang menyempatkan diri datang untuk melihat pelantikan Gibran dan beberapa orang tentara lainnya yang juga mendapatkan tugas baru.


"Siap." Ujar Girban menerima sapa dan salam dari rekan-rekannya. Ia membuka hp yang sejak tadi di silent dan beberapa pesan masuk termasuk dari sang istri. Senyum kecilnya terbit. Traktir apa lagi kalau semua uangnya sudah di dalam si merah putih yang dipegangnya?!


Rekan-rekan Gibran mulai heboh menanyakan tempat dimana mereka bisa makan siang bersama untuk merayakan pangkat dan jabatan barunya. Di tengah-tengah keriuhan bapak-bapak berseragam loreng, seorang wanita muda dengan jeans sobek di kedua lututnya menyela dengan teriakan super manjanya.


"Om Giiiiiiiiii!" Nadia berlari memecah kerumunan dan langsung melompat dipelukan Gibran memegang sebuah buket bunga besar. Sontak saja keriuhan semakin bertambah karena para tentara itu kini menyoraki keduanya, memanggil Gibran seperti yang Nadia lakukan.


Gibran terkekeh menyangga paha Nadia yang melilit pinggangnya dengan kedua tangannya. Istrinya ini memang penuh kejutan. Nadia yang baru sadar sudah menjadi pusat perhatian menyembunyikan wajahnya di lekuk leher sang suami.


"Mampus, malu gue anjiiiiir." Ujarnya tanpa sadar tepat di telinga Gibran.


"Bad words, Nad." Tegur Gibran yang membuat Nadia buru-buru membekap mulutnya.


"Sorry." Bisiknya tak enak hati. Gibran membeci bad words dan dirinya adalah mesin pencetaknya.


"Jomblo tolong tahan diri." Ujar salah seorang rekan Gibran ketika keduanya masih di posisi yang sama. Semakin riuhlah suasana lorong kantor dan Nadia pun makin memerah wajahnya. Ia turun dari gendongan Gibran dengan hati-hati lalu tersenyum kaku pada rekan-rekan suaminya.


"Daripada mulut kalian dipakai ngoceh lebih baik ke kantin sekarang." Gibran berujar sembari mengelus rambut Nadia yang tampak salah tingkah.


"Di traktir bang?" Tanya mereka.


"Hm."


"Asiaaaaaap!" Koor mereka serempak. Tanggal tua, gaji sudah habis untuk menutupi utang makan di kantin sebulan dan remon habis untuk cicilan panci dan tabungan nikah bagi yang jomblo. Jelas makan gratis tak akan di tolak maka semua tentara itu membubarkan diri menuju kantin untuk makan siang. Terlebih untuk menjaga hati menyaksikan dua pasangan romantis itu yang membuat jiwa para jomblo meronta-ronta.


Setelah barisan bubar jalan, Nadia menjauh dari Gibran lalu mengulurkan sebuket bunga yang ia beli sewaktu akan ke tempat itu.


"Terima kasih Nadia." Ucap Gibran mengambil bunga yang dihulurkan sang istri.


"Peluk dong." Nadia merentangkan tangannya lebar memundurkan langkahnya selangkah kebelakang. Gibran tersenyum kecil melangkah kedepan memeluk Nadia erat.


"Nadia sayang Om Gi sepenuh hati." Ungkap Nadia melingkarkan lengan kecilnya di punggung Gibran.


"Um."


"Jangan Um aja dong Om, katakan sesuatu." Rengek Nadia, selalu greget dengan sikap tak romantis sang suami. Yah meskipun ia tahu sejak dulu Om Gibrannya memang seperti itu. Mungkin sejak masih dalam bentuk zigot sudah sebegitu modelnya.


"Saya sayang kamu juga sepenuh hati." Ujar Gibran dengan nada datar malas-malasan. Kalau bukan Nadia sudah mengenalnya dengan sangat baik, mungkin orang yang mendengarnya akan berpikir bahwa Gibran menikahi Nadia dibawah ancaman senjata api sehingga berlaku sekaku itu. Padahal aslinya laki-laki adalah definisi bucin tak tertolong pada istri kecilnya itu.


"Nah, gitu kan Nad seneng dengarnya." Nadia melepaskan pelukannya pada Gibran, "Sekarang Nad mau PJ."


"PJ?" Gibran mengerutkan keningnya tak paham, "Penanggung jawab?"


Nadia menggeleng, "Pajak Jabatan."


Kening Gibran makin berlipat, tidak pernah lulus dalam bidang istilah-istilah yang disebutkan Nadia.


Nadia berdecak, "Ck, itu loh Om Pajak Jabatan alias traktiran. Masa gitu aja gak paham sih." ujarnya sebal.


Gibran menggaruk belakang telingannya, "Tinggal bilang langsung saja Nad." ucapnya lewat.


"Ya pokoknya itulah. Nad mau di traktir di lantai dua puluh bangunan sebelah kantor biar deket dengan bintang. Paling oke lagi kalau Om mau ngajak Nad candle light dinner kayak dulu. Mines bengawan solo tentunya. Itu sumpah gak matching bangat. Untung Nadia sabar." Nadia berujar penuh semangat. Si cantiknya Gibran yang ekspresif itu paling semangat kalau sudah membahas hal-hal berbau romantisme. Korban novel yang untungnya tidak doyan drama korea.


"Bisa diatur." Dua kata yang di lontarkan Gibran untuk jawaban teks panjangan Nadia sukses mencetak senyum lebar diwajah ibunya Pia itu.


"Sip, Nad tunggu. Btw sekarang kita kemana? Nad udah kelar dikampus. Mau ikut Om kemanapun juga hayuk aja." Nadia mengguncang-guncang lengan Gibran, melipat-lipat jemarinya dan sesekali mencium punggung tangan lebar yang menggenggam satu tangannya itu.


"Nad mau gabung di kantin?"


"Emang boleh?"


Gibran tak menjawab melainkan mengetatkan genggaman tangannya dan berjalan menuju arah kantin dimana rekan-rekannya sudah berkumpul.


Nadia meringis melihat sekumpulan pria berseragam loreng yang menatap padanya. Dia seorang dan Gibran yang berpakaian lain disana.


"Selamat siang, Ibu Gibran."


Sapaan yang terlambat, "Selamat siang, Om-om semua." jawabnya berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Ini istri saya, Nadia Gaudia Rasya." Gibran mengambil alih percakapan. Ini kali pertamanya Gibran mengenalkan istrinya secara langsung, selama ini mereka hanya mengenal Nadia dari istri-istri mereka dan sebagian lagi baru tahu wajah istri Kapten Gibran hari ini.


"Sering-sering berkunjung, Bu. Kapten Gibran pasti semakin semangat di lapangan." Ujar salah seorang diantara mereka. Sepertinya meskipun ganas di lapangan, dikesehariannya Gibran cukup dekat dengan rekan-rekannya. Nadia mendongak tersenyum kecil pada sang suami lalu mengangguk


"Emang iya, Om?" Pertanyaan Nadia malah disambut kehebohan dan godaan-godaan yang ditujukan pada Gibran yang dikenal sebagai Kapten Pnr yang sebelumnya tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan seorang wanita. Mendapati Gibran yang digoda oleh seorang gadis kecil adalah hal yang luar biasa menyenangkan untuk dijadikan sebagai bahan mengusik ketenangan laki-laki itu.


"Ada apa ini rame-rame?"


Nadia hampir terjungkal saat tiba-tiba semua orang di ruangan itu mengambil sikap siap serempak, termasuk Gibran. Ia mengintip dimana asal suara itu berasal, lalu senyumnya berubah lebar saat bersitatap dengan Komandan Gibran yang murah senyum.


"Eh, ada nyonya Gibran ternyata. Selamat siang, Nadia."


"Selamat siang, Komandan." Sapa Nadia ceria. Ia beranjak dari samping Gibran menyalami Komandan seperti seorang anak menyalami ayahnya.


"Gimana kuliah kamu?" Tanya Komandan menepuk punggung Nadia lembut.


"Siap, lancar jaya, Komandan." Jawab Nadia mengambil sikap siap.


"Good." Komandan menghela nafas pendek lalu beralih pada anggotanya, "Santai saja. Kita sedang istrahat sekarang." Ujarnya tapi tetap tak membuat satu pun orang diruangan itu bergerak rileks.


Nadia yang melihatnya hanya bisa mengamati saja. Seperti ini ternyata keseharian para tentara. Pantas saja hidup Omnya sekaku kanebo kering, sudah kebiasaan di kantor.


"Silahkan lanjutkan. Saya hanya lewat saja."


"SIAP!"


Nadia kembali berjengit kaget. Benar-benar latihan jantung dia disini.


Keadaan kembali santai setelah Komandan meninggalkan kantin. Seperti tak terjadi apa-apa para pria berseragam kacang hijau itu kembali riuh memilih menu. Begitupun Gibran yang sudah menarik kursi untuknya.


"Mau makan apa?"


"Mie siram."


"Mie siram?"


Nadia mengangguk semangat. Ia duduk dengan nyaman sementara Gibran masih menunggu. Nadia penasaran mumpung dia di kantin sudah lama sekali ia ingin mencoba mie siram yang biasa diceritakan wati yang katanya rasanya rasa nostalgia meskipun hanya ditambahkan kecap dan saus botol serta perasan jeruk nipis. Maklum saja, selama di Nusantara ia tak pernah sekalipun melihat ada menu aneka mie di kantin sekolah. Kantin mereka hanya menyediakan menu restoran bintang lima demi memenuhi selera anak-anak kaum borjuis yang hanya pernah melihat mie instant dari iklan yang berseliweran di dalam televisi itupun jika mereka menonton tv karena kebanyakan remaja seperti Nadia dan teman-temannya lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan berlibur ke tempat-tempat yang hanya bisa jadi bayangan kaum rakyat jelata datau main Ke pusat perbelanjaan untuk sekedar menghabiskan uang jajan dari orangtua mereka daripada menonton televisi yang kata salah satu penghuni bikini bottom selalu menayangkan berita-berita tidak penting.


"Yakin? Ini mie siram yang pakai micin Nad." Terang Gibran, siapa tau saja Nadia salah paham akan menu mie siram yang ada dilembaran menu.


"Iya, Nad tau Om." Ujar Nadia sabar. Memangnya dia bodoh tidak tahu jenis mie siram? Begini-begini ia sering mengintip mie siram pesanan Wati yang wanginya selalu menggugah selera meskipun tak sekalipun mau mencicipinya.


Gibran diam sejenak, lalu saat Nadia tak juga merevisi pesanannya, ia menghela nafas, "Hanya untuk hari ini saja." Ujarnya mengingatkan dan Nadia tak membantah. Hanya hari ini saja di depan Om Gi. Hehe.


***


Gibran dan Nadia baru pulang di rumah nanti pukul setengah enam sore. Nadia berjalan tertatih menaiki undakan tangga depan rumah di susul oleh Gibran yang memarkirkan kendaraannya terlebih dulu di garasi. Ada sebuah mobil asing terparkir di depan tapi Nadia terlalu malas untuk memikirkan siapa pemilik mobil mewah itu.


"Capeeeek." Keluhnya menyandarkan pipi di pintu rumah. Gibran yang berjalan di belakangnya, menarik badan Nadia kebelakang lalu mengangkatnya tanpa permisi.


Nadia terpekik tapi hanya sebentar, setelahnya ia mengalungkan tangan di leher Gibran dengan nyaman, "Ngasi tanda kek kalau mau gendong." Ujarnya setelah mengecup pipi Gibran. Senyumnya lebar sekali.


Gibran tak berkata-kata, hanya membawa langkahnya masuk dalam rumah. Keduanya tertegun mendapati tiga orang tamu yang salah satunya tidak asing lagi bagi Nadia terlebih wajah muramnya.


"Lo ngapain ke rumah gue?"


***


Om Gi yang sedang serah terima amanah baru 🤝



Nad yang menunggu PJ 😁