
Tek Tok... Tek Tok... Tek Tok...
Denting jam di ruang tengah berdinding papan itu mengisi kesunyian yang menjeda dari ocehan Nadia yang sedang menuntut pertanggungjawaban dari Gibran yang bak batu hidup memilih untuk asik dengan bacaannya sembari selonjoran dilantai. Ia menyendar santai didinding rumah yang sudah hampir roboh. Ia terlalu santai untuk ukuran seseorang yang sedang mendapat omelan dari sang istri. selalu saja seperti itu. Gara-gara ulah Gibran, bukan saja harus kehilangan make up natural yang dikerjakan hampir sejam, Ia juga harus kehilangan muka dihadapan ibu-ibu persit lainnya yang menguliti habis dirinya dengan omongan yang rate nya bikin mual.
"Pele Paitua pu ganas apa eee"
"Baru bersih ya Bu-ibu jadi dimaklumi. Lama puasa."
"Anjiiiiir Om Gi habis ngegasak apaan sampe lu babak belur gitu?"
Dan banyak lagi omongan ibu-ibu mulut 21+ yang membahas bekas jejak Gibran. Benar-benar bikin malu. Hiks. Kalau tidak mengingat Navia, Nadia rasanya mau lompat saja kedalam kali biar hanyut sekalian. Ia tidak punya muka bertemu ibu-ibu itu lagi. Dan pelaku utamanya sekarang malah santai saja menghadapi skandal memalukan ini.
"Iiiih Om!" Nadia menggeram gemas. Sejak tadi Gibran terus bersikap menyebalkan dengan tidak menganggap kekesalannya. Padahal mana asiknya mengomel sendiri sedangkan sasaran seolah tak berdosa asik dengan dunianya, "Om!" ia memukul dada bidang lelaki itu untuk mencari perhatian.
"Hm."
"Ha hum ha hum aja terooos. Nad mau minta pertanggungjawaban, gak mau tau!" Teriak Nadia di kuping Gibran membuat kuping laki-laki itu berdenging.
Gibran mengusap cuping telinganya tanpa menghiraukan Nadia yang wajahnya sudah sangat manyun karena diabaikan.
"OOOOMMMMphhhhh"
"Shhhhtttt!" Gibran dengan santai membekap mulut Nadia dengan tangannya yang bebas sembari tetap melanjutkan bacaannya.
Grap!
Dengan sekali sentakan badan kecil itu jatuh dalam pelukannya.
Cup.
Kecupan sayang ia daratkan di kening Nadia yang tertutupi rambut acak-acakan Bibirnya menarik lengkungan saat merasakan Nadia tenang dengan posisi yang sering disebut gadis kecilnya itu posisi enak. Ia menunduk untuk melihat wajah menggemaskan Nadia yang menggemaskan setiap kali dalam mode senyap.
Cup.
Nadia membelalak, baru sadar akan keterpakuannya saat sekali lagi bibir yang jarang sekali berbicara itu kembali mendarat di bibirnya. Ia bahkan tidak sadar saat Gibran telah membebaskan bekapannya.
"Terpesona, heh?" Gibran mengerling jahil pada Nadia yang sudah bersemu merah.
Astaga. Murah Nad, murah bangat. Nadia cepat-cepat mengangkat badan menjauh dari pelukan Gibran, tempat ternyamannya. Ia merapikan rambut salah tingkah "Iiih apaan, enggak ya. Jangan Fitnah." Elak Nadia memalingkan wajahnya ketempat lain. Ia mengigit bibir menahan malu, tadi benar-benar gak berkelas Nad. Kamu tuh lagi marah, sebel, kesel, masa di kasi kecupan gitu doang langsung bego sih. Nadia memaki dirinya sendiri yang telah bersikap lemah.
"Iya juga gak apa-apa." Ujar Gibran dengan wajah datar bin menyebalkan miliknya.
Celetukkan Gibran kembali membuat Nadia kesal. Dia kan malu. Lelaki kok gak peka.
"ENGGAK! Nad gak ada ya terpesona sama Om. Jangan kepedean!" Seru Nadia di depan wajah Gibran yang sama sekali tak menunjukkan perubahan di wajahnya, tetap santai dan tenang dan itu benar-benar sangat menyebalkan bagi Nadia.
Bugh! Bugh! Bugh!
Nadia memukuli dada Gibran, spot satu-satu yang bisa ia pukuli karena mau menjambak rambutnya pun percuma, rambut lelakinya itu selalu dicukur cepak, tak ada sedikitpun niat meninggalkan beberapa bagian yang panjang untuk pelampiasan Nadia.
Gibran menghela nafas pendek. Ia menahan kepalan tangan Nadia yang kembali akan memukulnya. Ini tidak sakit hanya saja Gibran khawatir tangan kecil ini kelelahan.
"Mau apa?" Tanya Gibran sembari menyelipkan anak rambut Nadia dibelakang telinga.
Nadia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Gibran tapi gagal. Ia menyerah. "Nad mau Om tanggungjawab."
"Seperti apa?"
Nah kan? Nadia bingung. Tanggung jawab seperti apa Nad? Ia bahkan belum memikirkannya.
"Saya hitung sampai tiga kalau tidak ada, kesempatan habis, satu... dua... ti--"
"Eeh stop, stop Om. Biarin Nad mikir dulu." Nadia gantian membekap mulut Gibran panik. Ia tidak mau kehilangan kesempatan emas untuk pembalasan tapi apa yang bisa dimintai dari laki-laki itu saat tanpa dimintapun Gibran akan melakukannya untuknya.
Gibran mengulum senyum dalam bekapan tangan kecil Nadia. Ia bisa melihat kepanikan dan kebingungan disaat yang bersamaan di wajah manis itu. Lucu sekali.
Nadia yang sedang memeras otak berusaha mencari hal yang sekiranya Gibran tidak mau lakukan untuknya. Saat sedang berpikir, matanya tak sengaja menangkap keberadaan hp milik Gibran yang tergeletak begitu saja di samping laki-laki itu. Senyum cerah terbit di wajahnya. Ia melepaskan tangannya dari mulut Gibran lalu duduk bersila dengan punggung tegak.
"Nad mau Om bilang cinta sama Nad sambil divideoin trus upload di story ig." Nadia berucap lancar diakhiri dengan senyuman lebar di ujung kalimatnya. Ini akan sangat keren. Patah hati nasional part dua yang akan menggegerkan dunia per IG an. "Gak boleh nolak." Lanjut Nadia saat melihat Gibran yang hendak mengajukan protes. Sekalian lah ya untuk mengecek keberadaan para fans garis keras yang suka bersembunyi dibalik nama lambe lurah dan iklan sedot WC. Sekalian sama yang suka mengatai dirinya anak kecil gak tau diri yang jadi benalu dihidup seorang Gibran. Huhuhu.
"Harus?" Tanya Gibran dengan kening mengerut.
Nadia mengangguk semangat. "Harus wajib kudu."
"Ganti yang lain aja, belanja sepuasnya?" Ujar Gibran memberi penawaran. Terus terang saja dia bukan tipe lelaki yang suka menebar kata-kata manis di dunia maya. Foto yang sempat ia upload bahkan hanya ada beberapa itupun bukan foto dirinya melainkan foto tempat yang benar-benar berkesan untuknya. Dan untuk ungkapan cinta, ia tidak suka privasinya menjadi konsumsi publik.
"Gak. Gak ada tawar menawar, Om kira Nad jualan apaah."
"Kalau begitu gak usah." Putus Gibran santai.
"Ih Om. Mana bisa gitu." Protes Nadia kembali menghujani Gibran dengan rengekan panjang menyuarakan keberatannya.
"Bisa lah. Ganti yang lain atau tidak sama sekali." Penawaran terakhir dan Nadia tidak punya pilihan lain tapi apa yang bisa ia ajukan sebagai hukumana? Ia tidak memiliki ide sama sekali. Ia kenal baik bagaimana watak lelaki yang menikahinya ini. Sekali tidak, tetap tidak. Sejenis sikap titisan fir'aun yang menyebalkan.
Nadia manyun, "Ck. Om gak asik."
"Bodo."
Nadia mendelik sebal. Gibran bahkan mengambil kata favoritnya. Lelaki ini terlalu bebal untuk ia taklukan, "Kalau gitu gak usah aja deh Om." Nadia berujar lesuh sembari beranjak dari tempatnya meninggalkan Gibran dengan kepala tertunduk lemas, "Pia, ayah kamu nyebelin."
Gibran yang melihat drama itu hanya mengedikkan bahu cuek. Bukan Nadia kalau tidak drama.
***
Sore ini tugas pertama Nadia memberikan pelatihan make up di mulai. Ia sudah siap dengan make up case miliknya yang berisi beraneka jenis make up dari brand-brand ternama yang menjadi favoritnya. Navia yang juga akan diajak ke tempat pelatihan sudah siap dengan kostum sailor moon ole-ole dari Gendis yang memang mengidolakan tokoh kartun pahlawan cantik itu.
"Yakin Pia dibawa?" Gibran yang juga memiliki kegiatan di lapangan muncul dengan seragam loreng lengkapnya. Hari ini akan ada latihan tembak dan pengenalan medan untuk prajurit yang baru bertugas di tempat mereka.
Nadia yang masih sedikit kesal mengangguk kecil. Ia belum bisa mengikhlaskan permintaannya yang ditolak oleh lelaki itu. Baru kali ini tersangka menolak hukumannya dan itu hanya dilakukan oleh tersangka bernama Gibran-Menyebalkan-Al Fateh, nama tengah yang pas sesuai orangnya.
"Siapa yang jaga?" Gibran memasang sabuknya sambil sesekali melirik Navia yang lucu sekali dengan kostum barunya.
"Ntar juga pasti ada kalau udah disana." Jawab Nadia asal.
"Siapa?"
Nadia mendongak hanya untuk melihat wajah datar tak berdosa milik Gibran yang ingin sekali ia acak-acak "Gak tau, OOoom. Nanti disana Nad pikirin." Jawab Nadia menekan perasaan kesalnya kuat-kuat. Kalau lepas kendali, benda di tangannya ini sudah pasti mendarat dikepala Gibran.
"Perjelas. Kalau tidak, gak usah pergi."
Yaudah, gak usah pergi bukan nama gue ini yang jelek. Ingin sekali Nadia katakan itu tapi akal sehatnya masih lebih kuat dari egonya.
"Tante Sabrina." Ucapnya akhirnya. Ia tidak memiliki nama lain untuk dijual. Sabrina juga tidak akan dirugikan kalau namanya dipakai.
"Kenapa muka ditekuk gitu?"
Hadeeeeh lelaki ini. Nadia memutar bola mata jengkel. Gibran versi cerewet lebih menyebalkan daripada Guru killer yang minta jam tambahan belajar.
"Ngiiiiiii" Nadia menarik bibirnya membentuk senyum lebar yang dipaksakan. Kentara sekali.
"Gak usah lebar juga ntar nyamuk masuk."
Ok fix, sudah level berapa tadi? Ah ya level lima--
"BODO AMAT NAD GAK NGURUS PLEASE BANGAT JANGAN NYEBELIN JADI ORANGTUA!!!" Yap, level 100. Nadia terengah.
Ckckckck...
Keadaan senyap. Hanya suara cicak yang terdengar jelas. Nadia melirik kiri kanan dengan sudut mataya. Tak jauh di depannya dua pasang mata menatap tak berkedip padanya, Gibran dan baby Navia.
Gluk. Nadia meneguk saliva susah payah "Sorry." itu tadi kasar sekali. Nadia mengulas senyum yang terlihat seperti ringisan. Ia mendekat kearah Gibran dan Pia yang masih terpaku di tempat. Nadia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Gibran yang tengah duduk dipinggir ranjang. "Ma-maaf Om, Nad gak--."
"Pia, ayah berangkat ya."
Nadia membeku. Gibran menolaknya. Laki-laki itu pasti sangat marah padanya. Apa ia sudah sangat keterlaluan barusan?
Gibran mengecup kening Pia cukup lama, membisikkan sesuatu yang membuat Nadia penasaran. Setelah merasa cukup berpamitan, Gibran bangun dari tempat tidur dan langsung mencangklok tas kecilnya, "Saya berangkat." Gibran keluar tanpa menghiraukan Nadia melewati istrinya itu begitu saja.
Nadia tercengang. Gibran benar-benar marah? Nadia tersadar saat suara pintu dibuka terdengat. Nadia bergegas menyusul Gibran yang baru saja menutup pintu, "O-om, Nad--"
"Saya terlambat. Tidak perlu menunggu" Potong Gibran sembari memakai sepatunya.
"Om marah?" Tanya Nadia takut-takut. Ia tidak berniat bicara sekasar itu apalagi sampai mengatai Gibran orantua, tentu saja sikapnya tidak sopan. Terlebih pada Gibran yang menjunjung tinggi sopan santun dalam bertutur kata.
"Saya memang orangtua kan?"
Jleb.
Nadia menunduk dalam. Di depannya Gibran berdiri dengan wajah dingin.
"Sudahlah. Orangtua ini harus bekerja. Assalamualaikum."
Nadia mengangkat wajahnya, menatap punggung Gibran nanar. Nad belum salim, Om. Gumamnya getir.
Nadia kembali dalam kamar dengan langkah gontai. Navia menunggu dengan sabar seolah mengerti situasi sulit Ibunya.
"Pia, Ayah marah sama Ibu." Adu Nadia pada bayi kecilnya. Pia mengerjap lucu menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, menampilkan gusinya menghibur Ibunya yang merasa sedih.
"Ayah gak akan marah lama kan, Dek? Ibu sedih kalau Ayah marah gini." Nadia menyeruk memeluk Pia, mengisi ulang semangatnya. Ia akan minta maaf lagi saat Omnya itu pulang. Nadia mencoba menenangkan diri. Ia menghela nafas danghembuskannya pelan-pelan. Setelah ia merasa lebih baik, digendongnya Pia untuk pergi ke tempat pelatihan.
***
Sepanjang pelatihan Nadia tidak bisa konsentrasi pada apa yang dikerjakannya. Badannya terasa lemas dan matanya panas seolah akan terbakar. Belum lagi ia kepikiran Gibran yang marah padanya.
"Lo kenapa sih dari tadi bengong mulu. Tuh mata udah kayak pocong lo hitamin."
Nadia terhenyak saat Sabrina menyikut lengannya.
Eh? Nadia meringis melihat hasil kerjaanya. Sekeliling lingkaran mata Ibu Katty yang sedang menjadi modelnya menghitam tepat seperti apa yang diucapkan Sabrina, mirip kulit permen yang suka loncat-loncat. Nadia cepat-cepat mengambil kapas dan micheller water sebelum Ibu Katty menyadarinya.
"Lo sakit?" Bisik Sabrina.
Nadia menggeleng, "I am ok. Sedikit lemes aja." jawab Nadia lanjut menyelesaikan pekerjaanya. Sisa lipstik dan semuanya selesai. Sesekali Nadia akan mengintip keluar memastikan Nadia aman-aman saja bersama para Om-Om tentara. Untunglah ada Robi dan tentara-tentara baru yang sepertinya cocok dengan Nadia. Sejak tadi bayinya belum menunjukkan tanda-tanda jenuh.
"Sudah selesai ya Ibu-ibu." Nadia tersenyum lega melihat hasil kerjaannya yang menurutnya cukup memuaskan walaupun tidak bisa dibandingkan dengan hasil polesan beauty vloger yang biasa dia tonton.
"Waaaaah sa muka cantik apa eeee" Bu Katty menatap kagum dirinya sendiri dalam cermin kecil yang diberikan Nadia. "Terima kasih Ibu Gibran."
"Sama-sama Bu Katty." Nadia tersenyum senang. Akhirnya ada sesuatu yang berguna yang bisa dia lakukan untuk ibu-ibu di kelompoknya.
"Ibu-ibu su liat tadi toh? Bedaknya jangan di dempul tepung asal puti saja. Harus sesuaikan dengan kita pu warna kulit supaya kita pu muka ini tidak menakutkan." Sabrina sebagai asisten tak kalah senangnya dengan Nadia. Ilmu dandannya ternyata berguna membantu orang.
"Iya Ibu Guntur, Ibu Gibran. Terima kasih banyak." Ucap ibu-ibu serempak.
"Minggu depan kita lanjut bagian merapikan alis ya Ibu-ibu." Nadia yang sudah merapikan barang-barangnya menyampaikan pelatihan berikutnya. Sebelum balik ke Ibukota untuk melanjutkan kuliah, ia harus sudah menyelesaikan sesi pelatihan ini agar ibu-ibu bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. "Jangan lupa bawa peralatannya."
"Siap, Ibu." Jawab mereka lagi serempak.
Nadia mengangguk kecil. Setelah itu menutup kegiatan pelatihan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam dan waktunya mereka pulang.
"Pia, ayo balik." Nadia menghampiri Robi dan seorang pemuda yang mungkin baru lulus tentara melihat bentukkannya yang masih polos dan kinclong. Belum banyak goresan dan paparan sinar matahari jahat yang menghajar kulitnya.
"Sudah selesai, Bu?" Tanya Robi sembari menyerahkan Pia dalam gendongan Nadia. Ia mengernyit saat tak sengaja menyentuh kulit Nadia yang terasa sedikit hangat. "Ibu sakit?" Tanyanya khawatir.
Nadia menggeleng, "Lemes aja Om. Kurang tidur, biasalah ada bayi." Ujar Nadia mengulas senyum kecil. "Maaf ya Om ngerepotin."
"Tidak sama sekali, Bu. Pia bayi anteng." Ujar Robi jujur. Navia benar-benar bayi yang pengertian, mengerti kalau ibunya sedang bekerja.
"Makasih bangat ya Om. Untung ada Om berdua disini. Ngomong-ngomong Nad baru ketemu Om ini, baru ya?" Tanya Nadia pada lelaki yang tak lain tak bukan adalah Bayu yang sempat mendapat perkenalan manis dengan Gibran.
Bayu mengangguk kaku. Sejak tadi ia dibuat tak berkutik dengan pesona Nadia. Ternyata Istri Sang Kapten lebih cantik kalau diliat dari dekat. "Ba-bayu." Bayu mengulurkan tangannya dengan sedikit gemetar. Untung saja tidak ada yang menyadarinya.
"Nadia. Salam kenal" Sambut Nadia ramah.
"Istri Kapten Gibran." Lanjut Robi seolah memperingatkan Bayu untuk tidak coba-coba.
Bayu mengangguk. Tanpa diperingatkan pun ia sudah tahu betapa mengerikannya menghadapi Gibran dalam mode cemburu buta. Masih lebih baik menghadapi keganasan laki-laki itu di lapangan.
"Nad balik duluan ya Om. Kasian Pia udah sore bangat." Pamit Nadia setelah memperbaiki gendongan Pia.
"Ia, hati-hati ya Bu. Dadah Pia." Robi melambaikan tangan pada Pia. Sementara Bayu masih mengagumi sosok Nadia yang mulai menjauh.
Beruntung Kapten Gibran dapat yang bening gini. Batinnya.
***