
"Siapa ini?"
"It's me."
"Aku siapa?"
"Nadianya Om Gi."
Gibran mengulas senyum tipis membiarkan Nadia bergelantungan di punggungnya.
"Makin berat." Keluh Gibran main-main.
Nadia memberenggut "Berat gimana? Ringan gini kok." Ujarnya tak terima. Gibran terkekeh, lalu dengan satu tangannya membawa Nadia untuk gendong menghadapnya dengan kaki gadis itu melilit punggungnya.
"Daripada gelantungan kayak monyet gini mendingan bersihin kamar."
Nadia menggeleng, menenggelamkan wajahnya di bahu Gibran. "Punggung Nad sakit gegara Om." Tuntutnya. Pasalnya di waktu subuh dimana dia yang seharusnya masih terlelap di bawah selimut loreng malah di paksa bangun oleh Gibran dan disuruh jalan jongkok mengelilingi rumah karena aksi bolosnya kemarin. Padahal itu juga untuk menyiapkan kejutan untuk ulangtahun Gibran. Memang gak ada hati si Om. Gemas, Nadia menggigit bahu telanjang Gibran membuat sang empunya meringis.
"Kebiasaan banget sih anak ini." Gibran menarik paksa Nadia untuk turun namun gadis itu malah mengetatkan belitannya di leher laki-laki itu.
"Makanya Om sih. Masa air susu dibalas air tuba. Dimana-mana kalau dikasih kejutan itu bilangnya makasih bukan malah di hukum." Omel Nadia.
Gibran meletakkan sapu di tangannya menyender dinding. Kedua tangan lebarnya memegang sisi kepala Nadia membawa gdis itu untuk melihat langsung padanya.
"Terima kasih untuk kejutannya. Om senang."
Nadia menyengir "Makasih doang?"
Gibran menarikkan satu alisnya "Siapa yang ngajarin pamrih?"
"Ee heheheee ya kali-kali aja Om mau ngasi sesuatu gituu" Jari-jari Nadia membuat pola-pola lingkaran di dada telanjang Gibran tanpa mengetahui efek dahsyat yang dirasakan oleh laki-laki dewasanya itu.
"Om udah kasi hukuman." Ujar Gibran menahan jemari Nadia menjauh dari salah satu titik sensitifnya. Nadia menatap kesal Gibran. Yang benar aja dong, masa hukuman juga masuk pemberian sih. Ada-ada aja emang orang tua satu ini.
"Ck nyebelin. Udah turunin Nad!" Nadia menggeliat mencoba turun namun kedua tungkainya di tahan oleh Gibran. Laki-laki menatapnya penuh tantangan.
"Lepasiiin Om!" Nadia terus mencoba melepaskan diri namun Gibran lagi-lagi belum bisa menjadi lawan yang seimbang.
"Lepasin? Nad sendiri yang mulai." Ujar Gibran dengan suara rendah. Nadia mulai merasakan adanya ancaman saat laki-laki itu menyusuri tungkainya dengan jari-jari panjangnya seperti sentuhan kapas.
"Nad gigit lagi nih." Ancam Nadia.
"Coba saja." Seringai di bibir Gibran membuat Nadia semakin kesal.
"TURUNIIIN!" Teriak Nadia di dekat kuping Gibran membuat laki-laki berparas menawan itu meringis.
"Ck!" Gibran hanya sekali ayunan sudah membuat Nadia tampak seperti bayi kecil yang siap di lempar.
"Wowwww wowww Om mau ngapain? Lepaasin Nad." Gadis itu semakin panik saat langkah lebar Gibran membawanya kearah dapur. Gila saja kalau Gibran meremdamnya lagi dalam kolam saat ia sudah cantik, wangi di pagi buta lagi.
Nadia berpegangan pada leher Gibran erat. "O-om becanda kan?" Ujarnya gemetar. Seulas seringai muncul di wajah Omnya.
"Bercanda?" Ujar Gibran lembut berbanding terbalik dengan seringainya yang sudah pasti merancang berbagai kejutan menyenangkan untuk persit lecilnya itu.
Nadia menggeleng kuat "O-oom please, Nad baru aja selesai mandi. Please jangan ceburin Nad. Nad bakal ikut semua mau Om." Ujar Nadia memohon. Kedua tangannya masih menggenggam kuat melingkari leher Gibran.
Gibran menaikkan alisnya "Semuanya?"
Nadia menggangguk cepat. Terserahlah semuanya itu apa asalkan jangan kolam asrama, sangat menjijikan dan begitu iugh, kepalanya langsung pusing tiap melihat warna hijau pekat kehitaman itu.
"Oke."
***
Nadia memperhatikan posisinya sendiri yang sedang berada dalam gendongan Gibran seperti bayi monyet. Kedua tangannya tanpa sadar sudah mengalung di leher Gibran lagi sedangkan kakinya membelit punggung lelaki itu. Jangan lupakan gaun spongebobnya yang hanya sebatas lutut kini tersingkap memamerkan paha mulusnya. Nadia menggigit bibir bawah salah tingkah.
"Iya ya Om?"
Gibran terkekeh. Masih nanya juga ternyata. Seperti biasa, setiap selesai isya keduanya menghabiskan waktu di depan tv sambil mengerjakan kesibukan masing-masing. Dan karena otak Nadia yang tidak bisa jauh-jauh dari bermanja pada Omnya, gadis itu malah dengan santai duduk di pangkuan gibran yang tengah membaca buku tentang bisnis. Jangan salah, meskipun seorang tentara, sebagai suami SAH seorang klan Gaudia yang terkenal sebagai keluarga konglomerat, mau tidak mau Gibran harus belajar mengenai bisnis untuk membantu perusahaan itu tetap jalan menunggu Nadia mampu mengelolannya sendiri meskipun sampai tujuh turunan pun Gaudia belum akan bangkrut. Bersyukur ada salah satu orang kepercayaan keluarga Nadia yang mengawasi perusahaan itu selama Gibran menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai alat negara. Dan lihatlah si pemilik Gaudia, siapa yang menyangka gadis super manja ini adalah seorang konglomerat, kerjaannya hanya membuat rusuh dan menguji keimanan Gibran yang hanya setipis kulit bawang.
"Dan i-ni"
Nadia terkesiap melengkungkan badan ke belakang saat telunjuk Gibran membuat pola lingkaran di sekitar dadanya yang hanya tertutup kain tipis transparan tanpa dalaman--- wait!
TANPA DALEMAN????
Nadia membelalak. Astaga. Dimana dalamannya? Kenapa dia jadi seperti gadis nakal perayu Om-om? Sontak Nadia melepaskan kedua lengannya untuk menutupi dada.
"Daleman Nad mana, Om?" Tanyanya penuh tuduhan.
Gibran mengernyit, "Tanya Om?"
Nadia meringis. Iya ya, ngapain dia menanyakan dalamannya pada orang lain. Pertanyaannya sangat ambigu sekali.
"Ya udah, turunin Nad." Ujarnya Lirih, wajahnya memerah menahan malu. Gibran memegang erat pinggangnya mengunci gadis itu dengan tatapan nakal.
"Boleh, tapi beri Om satu ciuman."
Nadia menggeleng, menutup bibir Gibran dengan telapak tangannya. "Gak. Om gak bisa Nad percaya. Tadi pagi aja bangun-bangun leher Nad udah merah-merah. Untung libur sekolah." Gerutunya memegang lehernya yang setiap pagi tidak mungkin tidak meninggalkan jejak kemerahan hasil karya Gibran. Untung saja ia belum di jebol, kalau tidak, dia pasti sudah ke kak seto sekarang melaporkan tindakan Gibran. Tapi, kak seto apa bisa ngurusin beginian? Nadia menghela nafas pendek. Sayang sekali, ia sangat menyukai apa yang dilakukan Gibran pada dirinya jadi ia tidak bisa melakukan pembelaan diri.
"Bukannya Nad yang selalu bilang Lagi om la--."
"Ish, bisa diem gak sih!" Nadia membekap mulut Gibran. Ia malu setengah mati. Mata Gibran menyorotnya jenaka. "OOOOM GIIIII! JANGAN NATAP NAD KEK GITUUUU!" Antara sadar atau mimpi, dia memang sering mengatakan kalimat menjijikan itu tapi--tapiii kan nggak usah juga di umumin. Malu tauk!
"Om tutup mata." Pinta Nadia merengek.
Gibran melepaskan bekapan tangan Nadia dari mulutnya "Kenapa harus tutup mata??"
"KATANYA MAU DICIUM." teriak Nadia keki, lebih kepada malu-malu mau sebenarnya. Gibran terkekeh lalu kemudian menutup matanya sesuai perintah ibu negara. Nadia mendekatkan wajahnya ragu-ragu. Ini bukan kali pertamanya mereka ciuman bahkan lebih dari sekedar menempelkan bibirpun sudah sering tapi selalu Gibran yang memulai, ia hanya bagian menerima dan menikmati setiap sentuhan laki-laki di depannyanya ini. Lalu ketika ia yang harus memulai, Nadia merasakan pasokan darah menjalar di wajahnya.
Ada jeda beberapa waktu. Baik Gibran maupun Nadia sendiri terpaku dengan ciuman selembut kapas ini.
"Udah." Ujar Nadia lirih. Ia menunduk tak mau menatap mata Gibran saat laki-laki itu sudah membuka matanya, menatapnya lembut.
"Manis." Kata Gibran, mengulas senyum tipis. Kedua tangannya menangkup pipi Nadia agar melihat kearahnya. Bahkan untuk seorang Gibran, dibandingkan dengan ciuman dalam yang sering diberikan untuk Nadia, kali ini terasa berbeda. Lebih manis dan memilki rasa, mungkin karena Nadia yang memulainya.
.
.
.
"Nad tunggu disini sampai rapatnya selesai."
"Gak. Nad gak mau ikur rapat. Ngebosenin."
Gibran menghela nafas lelah. Ia baru saja sampai di kantor untuk mengikuti rapat bulanan namun baru juga sampai sudah ada atasannya yang menelfon memberikan tugas dadakan menyelidiki sebuah pesawat asing yang melintasi langit nusantara. Nadia yang baru pulang sekolah yang niatnya ke kantor untuk menunggu Gibran di rooftop malah diminta ikut rapat oleh para dewan direksi. Meskipun masih muda dan perwalian masih di tangan Gibran, tentu saja kehadiran seorang pemilik perusahaan memberikan energi tersendiri.
"Ayolah Nad. Kasian karyawan Ayah Nad. Mereka butuh melihat Nad disini."
Nadia menggeleng melipat tangannya di dada "Ya ngapain sih Om? Nad juga gak ada faedahnya disini, gak ngerti apa-apa. Ngabisin kursi kosong aja."
Gibran sebenarnya ingin tertawa mendengar kalimat panjang gadis kecil itu tapi situasi bukan sedang dalam mode untuk di tertawai.
"Ini semua hasil kerja keras Ayah dan Bunda Nad. Nad tidak mau membantu?" Oke, Gibran mungkin keterlaluan sekarang membawa-bawa topik sensitif bagi Nadia tapi cepat atau lambat Nadia harus menyadari tanggungjawabnya sebagai pewaris tunggal Gaudia Grup dengan puluhan ribu karyawan menyebar ke seluruh penjuru tanah air.
Nadia mengalihkan wajahnya, menatap ke arah lain. Wajah ketusnya menyimpan sendu yang setiap saat bisa menjatuhkannya hingga titik dasar kelemahannya.
"Oke? Om percaya sama Nad." Nadia terhenyak saat Gibran menyentuh bahunya. Akhirnya meskipun berat, ia pun mengangguk.
"Kalau rapatnya lama, Nad kabur." Ujar Nadia dengan wajah memberenggut.
"Iya." Angguk Gibran. Ia mengelus lembut rambut gadis itu dan mendaratkan satu kecupan disana. Lalu setelah itu ia meninggalkan area lobi kantor untuk kembali ke kantornya sendiri menyisakan Nadia yang terpaku di tempatnya.
Setelah punggung lebar itu tak terlihat lagi, Nadia kembali ke ruang rapat dimana para orang-orang membosankan sudah menunggu dengan pembahasan yang sudah pasti tak kalah membosankannya.
"Nadia duduk disini."
Nadia menghampiri Pak Samuel, orang kepercayaan keluarganya yang sudah menunggu di kursi kebesaran yang dulu adalah tempat ayahnya.
"Om saja yang duduk disitu. Nadia disini saja." Nadia mengambil tempat di samping Orang kepercayaan ayahnya mengapitnya dengan seorang sekretaris cantik yang dulu pernah bertemu dengannya saat ayahnya masih hidup.
Satu persatu orang-orang berjas lengkap dan rapi masuk ke dalam ruang rapat yang membentuk setengah lingkaran besar. Setiap pasang mata yang masuk tak luput memperhatikan Nadia yang tampak seperti seseorang yang kesasar dengan seragan putih abu-abunya. Beberapa dari mereka yang merupakan pegawai baru tentu saja tidak mengetahui bahwa gadis muda berparas ayu itu adalah pewaris perusahaan tempat mereka mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sedangkan pegawai lama yang sudah mengenal Nadia, mereka tampak sangat senang melihat kehadiran bos kecil itu di ruangan tersebut. Meskipun Nadia seorang gadis muda, tetap saja semua keputusan penting dalam perusahaan selalu melibatkan dirinya.
"Saudara-saudara semua, sebelum rapat di mulai, kami perkenalkan pemilik Gaudia Grup yang kebetulan menyempatkan diri hadir disini. Silahkan berdiri Ibu Nadia Gaudia Rasya."
Nadia meluruh dikursi putarnya. Ia yang baru saja enak-enakan mendapatkan keasikan baru, sebuah kursi super nyaman akhirnya berdiri menunjukkan dirinya. Tampak beberapa yang tadi menatapnya dengan alis mengerut, terperanjat.
"Selamat sore, saya Nadia Gaudia Rasya. Senang bertemu dengan anda semua." Ucapnya lalu tanpa menunggu lama langsung duduk kembali untuk memainkan hpnya. Suara bisik-bisik terdengar menyebut-nyebut namanya. Ruangan yang tadinya sunyi senyap berganti dengan ketakjuban dan sebagian lagi ketidakpercayaan akan sosok muda itu yang ternyata seorang miliarder. Tapi seperti biasa, Nadia tidak mau ambil pusing. Ia sudah tau sejak dulu kalau orang dewasa itu menyebalkan apalagi orang kantoran, sangat membosankan. Tipe manusia yang hidup segan mati tak mau. Tidak ada puasnya.
.
.
Nadia duduk di undakan tangga lobi dengan santai. Sesekali orang yang lewatnya menyapanya dengan ramah dan membungkuk sopan. Sudah berapa kali ia melirik hpnya dan seseorang yang katanya sudah dekat entah dekat dengan apa lima belas menit yang lalu belum juga muncul batang hidungnya sedangkan dia sudah bosan dengan suasana kantor yang semua manusianya tampak tegang dan panik seolah mereka diburu oleh waktu.
"Hai, manis."
Nadia menoleh cepat mendengar suara seseorang yang terdengar menyebalkan di telingannya. Matanya membulat sempurna melihat senyum penuh seringai itu menatap penuh minat padanya. Nadia berdiri, menepuk rok belakangnya pelan.
"Ngapain orang mesum disini?" Nadia menuding wajah kaukasia itu tajam.
"Loh, kok orang mesum? Kenalin, Lionel." Pria dewasa yang sempat hampir melecehkannya itu mengulurkan tangan.
Nadia berdecih, menepis tangan itu pun enggak karena tidak mau mengotori tangannya. "Gak penting!"
Pria bernama lionel itu tersenyum lebar "Manis sekali. Nama kamu siapa?"
"Nama Gue haram disebut sama orang mesum." Ujar Nadia sinis.
"Oh ya? Saya panggil 'manis' aja gimana? cocok kan?"
Nadia melotot, yang benar aja. "Berani lo manggil gue manis, gue patahin rahang lo!" Desis Nadia tak bisa menyembunyikan murkanya.
"Ya gimana dong man--"
PLAK!
Nadia tersenyum penuh ejekan menatap wajah kesal laki-laki yang baru saja mendapatkan dari ranselnya.
"LO--"
"Apa??" Tantang Nadia tak gentar. Ia sudah sering memghadapi amukan Gibran jadi kalau cuma orang luar, just a piece of cake untuknya.
Seringai licik muncul di bibirnya "Ck. Liat saja, sebentar lagi anak kecil keras kepala seperti kamu ini akan merangkak di kakiku."
"Hahaaaaaa" Tawa besar Nadia pecah Tawa kering yang penuh ejekan. Beberapa orang tampak memperhatikan keduanya lalu seolah tak ada apa-apa.
"Dalam mimpi lo pun tidak akan pernah menemui gue merangkak untuk otak mesum seperti anda." Ujar Nadia tajam.
Merangkak? Heh, sejak kapan seorang Gaudia merangkak.
***
yuhuuuu Nadia balik lagiii. maaf lama yess penulis mabok liat hp 🤣🤣🤣