Little Persit

Little Persit
Istri, Ibu, dan Mahasiswi



Jika saja membunuh tidak masuk dalam golongan dosa besar, Nadia sudah dari tadi akan melayangkan sepatu converse seharga motor mio milik Sabrina dikepala seniornya, Orion. Ini masih pagi dan dia sudah dibuat pening dengan segala drama penindasan yang berkedok pengenalan lingkungan kampus hasil akal-akalan otak bengkok para manusia yang menyebut diri mereka senior.


"Kenapa terlambat? Gini aja sudah banyak tingkah. Mau jadi pembangkang? Iya?"


Nadia menghela nafas pendek. Ia sudah menyebutkan alasanya kenapa datang terlambat hampir sepuluh kali dan cowok di depannya ini masih juga bertanya. How stupid he is. Sayang sekali muka pas-pasan, kerja otak juga lambat. Apa yang bisa di harapkan cobak.


"JAWAB!" bentak Orion yang membuat orang-orang disamping Nadia yang ikut mendengarnya terlonjak kaget.


"Ngurus anak, Kak." Jawab Nadia malas-malasan. Sekali lagi, ia sudah mengataannya berulang-ulang dan responnya masih sama saja.


"Kalau mau ngibul, sana ke gedung dewan."


Nadia mendengus. Sudahlah, lebih baik dia diam. Diam itu emas. Yap, good quote.


"Lari keliling lapangan lima putaran." Orion berujar tanpa menatap Nadia. Lelaki itu menggulung lengan almamaternya hingga siku menampilkan otot lengannya yang tak seberapa. Yah, itu dimata Nadia karena lengan Gibran tentu lebih liat. Ah, kan jadi rinduuuu. Nadia cemberut, mengingat Gibran yang belum juga mengabarinya sejak keberangkatannya minggu lalu. Ini yang katanya mau baca pesannya? Ckckck.


"Kenapa bengong?! Cepat kerjakan!" ujar Orion saat Nadia tak juga bergeming dari tempatnya berdiri.


"Ck ribet." Gerutu Nadia dan setelah membalas tatapan galak Orion dengan lirikan tajam, ia berlari mengitari halaman prodi sesuai instruksi. Lima putaran doang mah tidak ada apa-apa dibanding hukuman-hukuman Gibran.


PKKMB yang katanya kegiatan tanpa penindasan dan pembadutan nyatanya dijadikan ajang balas dendam para senior yang mnungkin juga mengalaminya dari senior mereka sebelumnya. Kealpaan kampus dalam mendampingi berlangsungnya kegiatan dimanfaatkan dengan baik oleh orang-orang bermental penjajah untuk menjalankan aksinya mengerjai para mahasiswa baru dengan dalih penguatan mental. Nadia pun menjadi salah satu korban kejahilan itu. Hanya karena terlambat beberapa menit ia harus berlari keliling lapangan seperti orang bodoh yang tidak memiliki pekerjaan. Lagian apa salahnya mengurus anak? Kenapa alasan itu sulit sekali diterima lelaki berambut lebat itu?


Satu putaran lagi dan selesai. Nadia memacu kecepatannya agar cepat-cepat menyelesaikan hukumannya. Tersisa ia seorang di lapangan sebab teman-temannya sudah di kawal seperti bebek masuk dalam aula.


"Minum."


Nadia mendongak dengan nafas terputus-putus. Kedua tangannya bertumpu diatas lutut mencoba bernafas normal. Ia baru saja menyelesaikan hukumannya. Jangan harapkan scene pingsan ditengah lapangan karena fisik dan mental Nadia sudah lebih dari cukup menjalani pelatihan hidup semi militer dibawah asuhan seorang kapten killer.


"Tidak, terima kasih." Tolaknya mengabaikan sebotol air mineral segar yang di sodorkan oleh Orion.


"Ambil!" Orion memaksa.


Nadia yang tidak ingin memperpanjang urusannya dengan Orion mengambil botol minuman tersebut lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mau coba sok peduli tapi Nadia tidak tersentuh sama sekali. Ia bergabung dengan teman-temannya dalam Aula. Bukan hanya mahasiswa dari Prodinya disana tapi ada juga dari prodi lain.


Kelompok mulai diambil alih oleh BEM fakultas. Orion dan rekan-rekannya berdiri bak penjajah di depan barisan mulai pidato panjang tentang mental yang kuat dan kepatuhan.


"Dari mana Nad?" Wati menyenggol lengan Nadia yang baru saja masuk dalam barisan. Entah menyusup darimana sanchai lokal ini perasaan tadi ia tidak melihat wujudnya.


"Nih. Belum gue sentuh." Alih-alih menjawab, Nadia malah menawarkan minuman.


"Wah, terima kasih." Wati yang memang sedang kehausan langsung berbinar melihat botol minuman segar itu. Embun yang menandakan betapa segarnya minuman tersebut mengalir di tenggorokan bahkan tak membuat Nadia tertarik untuk menenggak minuman itu walaupun setetes saja. Haram baginya meminum pemberian senior akhlakless semacam Orion.


Di barisan depan tampak Orion menyorot tajam padanya. Sayang sekali Nadia tak peduli sama sekali.


"Setelah istrahat lima belas menit, segera kembali di tempat ini. Bagi yang terlambat akan mendapat konsekuensi dari pihak panitia."


Nadia mendengar samar bau-bau kemerdekaan yang digaungkan ketua panitia. Lima belas menit cukup untuknya menelfon rumah mengecek sang putri kesayangan.


Setelah barisan dibubarkan, Nadia segera memisahkan diri dari keramaian. Ia mengabaikan Wati yang berusaha mengejarnya. Sebuah gazebo yang cukup jauh dari Aula menjadi pilihannya untuk melepas penat.


"Assalamualaikum, Bik. Pia gimana?"


"Waalaikumsalam. Pia sedikit rewel, Non tapi sudah tenang sekarang." Jawab Bibik disebrang sana.


"Masih hangat badannya, Bik?" Tanya Nadia khawatir.


"Alhamdulillah sudah tidak, Non. Oh ya, tadi bapak menelfon tapi tidak lama, hanya menanyakan Pia. Katanya mau menelfon Non juga."


"Om Gi menelfon, Bik?" Nadia mengecek notifikasi panggilan tak terjawab tapi tidak ada telfon masuk disana.


"Iya, Non. Bapak sedang di gunung katanya."


Nadia tertegun. Di gunung? Bukankah sebelumnya ia belum mendengar Gibran menyebut ada gunung di tempat tugasnya? Jadi gunung mana?


"Oh gitu ya, Bik. Ya sudah, tolong jagain Pia ya Bik. Kalau ada apa-apa langsung kabarin. Saya harus kembali ke kelas."


"Baik, Non."


Nadia menutup telfonnya setelah mengucapkan salam. Wanita berambut hitam legam itu memandangi layar hpnya cukup lama setelah memutus panggilan. Gibran di gunung? Gunung mana? Ngapain? Pertanyaan itu berseliweran tanpa jawaban.


Helaan nafas berat lolos dari mulutnya. Khawatir dan kesal bergabung menjadi satu mengacak-acak ketenangannya. Menjadi tidak tahu apa-apa ternyata tidak mengenakkan sama sekali. Nadia membuka tasnya dan mengambil tumbler miliknya. Tumbler tersebut berwarna hijau tua dengan lambang angkatan udara hasil desain Gibran sendiri. Disana ada inisial nama Nadia yang tercetak jelas sebagai huruf timbul. Setelah puas melihat dengan pikiran melayang kepada sosok Gibran yang entah dimana rimbanya, Ia meneguk minumannya untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.


***


Situasi darurat di gunung memaksa Gibran dan rekan-rekannya bertahan di tengah medan berat dalam kurun waktu yang tidak pasti. Pagi itu Gibran baru saja menapakkan kembali kakinya di bumi cendrawasih saat panggilan darurat masuk. Suasana genting kembali terjadi di daerah pegunungan dimana para Kelompok Kriminal bersenjata lagi-lagi mengacaukan wilayah perkampungan dan pertambangan. Gibran sebagai seorang yang di tunjuk langsung melakukan pengintaian di udara tak sempat menghubungi Nadia sebab ia langsung berangkat membawa pasukannya. Dan sore kemarin, saat ia sedang bertugas lagi-lagi seorang rekannya yang merupakan seorang TNI AD kembali menjadi korban.


"Kapten, drone sudah menemukan titik keberadaan mereka." Salah satu anggota Gibran melapor.


"Persiapkan semuanya, kita berangkat." Gibran yang tengah memeriksa badan helikopter segera masuk didalam heli. Mereka akan melakukan perburuan dengan menggunakan helikopter. Aksi baku tembak hampir terjadi setiap hari dan mereka sebagai bagian Tim Angkatan Udara melakukan pengawasan udara menggunakan drone maupun peralatan canggih lainnya.


"Suh, kemarin anak saya lahir."


"Selamat."


"Dia perempuan, namanya Kirana. Sangat cantik."


Gibran tersenyum tipis, "Akhirnya jadi bapak juga." Ucapnya menoleh pada rekannya yang bernama Yusuf. Lelaki itu seorang tentara muda yang baru setahun menikah dan sekarang memiliki anak. Tinggal lama di hutan bersama-sama membuat Gibran memiliki waktu banyak untuk mengenal rekan-rekan setimnya. Mereka membuka cerita tanpa diminta disela-sela tugas mereka. Tentu saja mereka merindukan keluarga yang ditinggalkan dan berbagi dengan orang-orang yang senasib setidaknya mampu mengobati rindu meski sedikit.


"Bang wewen menitipkan salam untuk Ibunya. Almarhum meminta maaf karena tidak pulang--hiks."


"Ck. Hapus airmata kamu. Malu-maluin saya saja. Jangan lembek!" Tegur Gibran pada sang bawahan yang tergugu disampingnya.


"Siap, salah."


Wewen adalah tentara yang gugur kemarin sore. Mereka sempat melakukan kontak sebelum terjun ke medan dan disanalah tentara dari pulau sumatra itu gugur sebagai seorang pahlawan. Gibran dan Yusuf menyaksikan secara langsung bagaimana peluru itu menembus jantung sang pahlawan hingga darahnya menetes kembali di pelukan sang ibu pertiwi. Kematian bukan lagi hal yang tabu bagi mereka yang setiap hari bekerja dengan resiko kehilangan nyawa. Melihat rekan, sahabat meregang nyawa di depan mata bukan lagi hal baru bagi seorang tentara. Baik di pihak lawan maupun kawan pasti ada saja korban berjatuhan tapi tidak ada yang menangis, tidak ada yang meratap sebab semua dari mereka sudah tahu resiko pekerjaan yakni pulang membawa kemanangan atau pulang membawa nama sebagai seorang pahlawan. Keduanya sama dimata mereka, hidup dan mati secara terhormat demi tegaknya NKRI.


Desing peluru bersahutan dengan suara baling-baling helikopter. Gibran duduk dengan posisi siap memegang senjata di tangannya yang memuntahkan peluru kearah sasaran yang terlihat jelas dari atas.


Dor!


Satu tembakan lagi berhasil melumpuhkan seorang kriminal yang terkapar diatas tanah. Kedua pihak membawa misi yang sama yaitu berjuang untuk tanah airnya. Tidak ada keraguan sama sekali meskipun harus meregang nyawa di ujung moncong senjata.


"Turunkan sedikit!" Perintah Gibran pada pilot helikopter. Dengan gerakan cepat ia menarik pelatukam hingga rongrongan peluru kembali terdengar bersahutan.


Dor!


"Argh!"


"Kapten!"


"Kapten!" Panggil Yusuf sekali lagi. Tentara muda itu segera menggantikan posisi Gibran yang sudah terduduk di badan pesawat.


Nad sayang Om banyak-banyak. Cepat pulang ya. Suara Nadia menggema dalam kepala Gibran menghadirkan siluet-siluet wajah sang kekasih menemani tintihannya menahan sakit yang melemahkan semua saraf-sarafnya. Panggilan dari rekan setimnya seperti nyata dan tidak silih berganti dengan suara manja Nadia dan tangisan Pia menggiringnya ketitik dimana ia sendiri tidak tahu apakah sekarang ia sudah gugur manjadi soerang pahlawan atau hanya beristrahat sejenak.


"Darurat! Darurat! Kapten Gibran tertembak."


***


Prang!


Semua mata menoleh pada satu titik dimana piring kaca sudah berubah menjadi beling berhamburan dilantai bercampur makan siang Nadia. Mahasiswi cantik itu membeku di tempatnya.


"Hati-hati." Orion datang menarik lengan Nadia agar menjauh dari pecahan-pecahan piring kaca itu.


"Mata kamu dimana sih? Ngambil makan siang aja gak becus." Orion memuntahkan isi kepalanya, entah kesal atau khawatir melihat Nadia yang pucat pasi.


"Kenapa ini?" Dua orang pinitia cewek mendekat.


"Tidak apa-apa, Dek?" Tanya salah satunya menyentuh lengan Nadia.


Nadia mengerjap, "Ah ya." Ia linglung seakan kehilangan kesadarannya.


"Ayo." Ajak kedua panitia itu, menggiring Nadia ke salah satu sudut. Wajah pucat pasi Nadia menandakan bahwa ia tidak baik-baik saja.


"Minum dulu."


Nadia mengambil botol minuman yang di sodorkan padanya tanpa tenaga. Ada apa ini? Kenapa perasaannya jadi kacau seperti ini? Om Gi, Pia. Tanpa sadar airmata mengalir dari sudut matanya.


"Adek sakit? Mau ke UKS?"


Nadia melihat dua senior di depannya lalu menggeleng.


"Kak, boleh saya izin menelfon?"


Kedua panitia itu saling melirik seolah meminta persetujuan satu sama lain.


"Boleh. Mana tas kamu?"


"Disana, Kak. Warna putih."


"Yang Gucci?"


Nadia mengangguk. Salah satu panitia cewek itu kemudian beranjak untuk mengambil tas Nadia yang dikumpulkan disalah satu sudut ruangan. Ia meringis saat melihat benda segi empat itu tampak mencolok diantara tumpukan tas lainnya. Junior mereka yang satu ini sepertinya masuk kategori crazy rich rich rich peoplenya Indonesia. Tas yang dipakainya ini jelas lebih mahal dari uang kuliahnya setahun. Menggeleng samar, cewek berkerudung hitam itu menyerahkan tas tersebut pada Nadia.


"Terima kasih, Kak." Nadia buru-buru mengeluarkan hp dari dalam tasnya dibawah pengawasan dua seniornya yang hanya menghela nafas melihat gawai milik Nadia. Okey fix, mahasiswi di depan mereka ini persis tokoh sebuah novel CEO-CEO yang hanya hidup susah saat ambeyen.


Mengabaikan dua pasang mata yang sedang mengawasinya, Nadia lantas menghibungi nomor rumahnya.


"Assalamualakum, Bik. Pia mana?"


"Waalaikumsalam, Non. Non Pia sedang tidur. Ada apa Non?" Bibik terdengar khawatir.


"Tidak apa-apa, Bik. Nad cuma mau ngecek aja. Oh ya, Om Gi nelfon lagi?"


"Tidak, Non." Jawab Bibik lagi.


Nadia mengangguk kecewa, "Gitu ya, Bik. Ya udah, Nad tutup. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Nadia menggenggam hpnya erat, juga jantungnya yang berdenyut tak nyaman. Ya Tuhan, jaga Om Gi dimanapun dia berada. Lindungi dia, berikan perlindungan terbaikMu padanya. Nadia menyeka sudut-sudut matanya yang basah.


"Terima kasih, Kak." Nadia kembali menyerahkan hp dan tasnya pada senior di depannya.


"Butuh sesuatu?" Tanya mereka lagi.


Nadia menggeleng. Ia menyandarkan badan sepenuhnya di tembok bercat putih bersih di belakangnya.


"Jangan ikut dulu kegiatan selanjutnya. Nanti kami sampaikan pada penanggungjawab. Istrahat saja disini."


"Iya. Makasih, Kak." Kata Nadia. Lalu kedua panitia itu meninggalkannya seorang diri.


Nadia tak lagi berkonsentrasi. Pikirannya jauh melewati lautan, menembus lebatnya hutan papua. Disana, dimanapun disudut bumi ini semoga Gibrannya baik-baik saja.


"Makan." Orion datang membawa sepiring menu makan siang dihadapan Nadia.


Nadia bergeming. Hanya melihat sekilas lalu abai. Disaat seperti ini ia tak mengingat makanan sama sekali. Bagaimana ia bisa makan sedangkan perasaannya sedang kalut memikirkan Gibran yang tak kunjung berkabar.


"Perlu gue suapin?"


Nadia mendelik. Apaan sih? Gak ada kerjaan apa pengen bangat dibilang sibuk? Dumel Nadia dalam hati. Bahkan untuk mendapatkan ketenangan beberapa menit saja cowok di depannya ini tak memberi kesempatan.


"Jangan nyusahin. Masih banyak yang perlu diurusin selain anak manja yang ngambil makan siang saja gak bisa." Orion terus berbicara tanpa menyadari wajah muak Nadia.


"Gak ada yang minta lo ngeribetin diri disini."


"Bisa ngomong ternyata? Gue kira lo gagu." Orion tersenyum sinis. Entah kenapa ia lebih senang melihat Nadia yang bermulut pedas seperti ini daripada Nadia yang pucat seperti beberapa menit yang lalu.


Nadia melirik sebal. Ada ternyata manusia sejenis Orion yang suka mengurusi kehidupan orang lain.


"Sayang. Ngapain sih? Tuh acara sudah mulai." Cewek berkacamata tebal itu menghampiri Nadia dan Orian. Siapa lagi kalau bukan pujaan hati Orion, si cewek otak einstein yang sayangnya mulutnya bebal. Tampak sekali ia tidak menyukai keberadaan cowoknya dengan mahasiswa baru seperti Nadia.


Orion menghela nafas. Masih menatap Nadia, berharap juniornya itu sedikit terganggu dengan kehadiran kekasihnya tapi sepertinya lantai keramik lebih menarik perhatian cewek bermulut petasan di depannya ini.


"Ayo." Orion berbalik meninggalkan Nadia bersama Sang kekasih yang bergelayut manja di lengannya. Ada yang tidak beres dengan dirinya, kenapa ia tiba-tiba peduli dengan gadis sejenis Nadia yang sama sekali bukan tipenya. Ia menyukai cewek cerdas, sederhana dan tentu saja yang bisa menghargai dirinya sendiri. Bukan Nadia yang tidak bisa menjawab pertanyaan gampang, yang hidupnya glamour dan simpanan pria beristri. Argh, ini berbahaya.


Sepeninggal Orion dan pawangnya akhirnya Nadia bisa merasakan kebebasan untuk beristrahat. Ia memejamkan mata sembari melantunkan doa-doa berharap pintu langit terbuka dan mengabulkannya.


***


Teruntuk pahlawan yg gugur di medan jihad. Al fatihah untuk mereka yg gugur mempertahankan keutuhan NKRI.


😢