
Mampuslah, ini sih sama aja gue diawasi satu batalyon. Om Gi apa-apaan deh pake ngirim CCTV segala? Nadia terus mendumel disela-sela waktu istrahat mereka yang baru selesai latihan baris berbaris. Saat seperti ini dimana ia seharusnya beristrahat dengan tenang setelah berjemur seharian malah mendapat kunjungan yang tak diinginkan. Belum lagi beberapa pasang mata yang terus melirik padanya.
"Capek?"
Capeklah, gilak!
"Menurut pelatih aja gimana." Jawaban berani dari Nadia membuat pria berseragam loreng yang mengenalkan diri sebagai Benny itu tertawa.
"Bagaimana hari ini? Bersenang-senang, Nyonya Gibran?"
Nadia manatap salah satu pelatihnya itu penuh perhitungan, "Tentu saja." Jawab Nadia dibarengi senyum lebar yang dipaksakan. Bukan gue yang bersenang-senang tapi kalian! Kalau tidak mengingat tata krama pada orang yang lebih tua, sudah muntahkan kalimat itu didepan lelaki loreng ini.
Benny tergelak. Tangannya hendak menyentuh puncak kepala Nadia gemas tapi langsung menahannya di udara saat mengingat betapa posesifnya pawang cewek cantik ini.
"Lucu anak ini. Si Gibran nemu dimana? Maulah."
Nemu, lu kira gue apaan?
Tatapan Nadia kemudian jatuh pada kumpulan pria berseragam loreng yang berdiri tak jauh darinya. Sekitar sepuluh orang dan semuanya menatapnya dengan raut--- penasaran?
"Biarkan saja, mereka hanya penasaran."
Tepat sekali dugaannya. Nadia menyipit, "Penasaran?"
"Minum dulu." Benny mengulurkan satu botol minuman pada Nadia.
"Thanks." Nadia langsung meneguk minuman tersebut membasahi tenggorokannya yang kering. Entah ada dendam apa para pelatih muda itu pada Omnya sampai-sampai dia yang dijadikan samsak balas dendam. Dirinya yang tak memiliki pengalaman dalam hal baris berbaris malah ditugaskan untuk memimpin satu kompi yang semuanya berasal dari prodi berbeda dan tiap ada kesalahan, dirinya yang disuruh push up.
Dijajah. Begitulah Nadia menyebutnya.
"Mereka penasaran sama sosok perempuan yang berhasil membuat seorang Gibran Al Fateh yang pernah menolak lamaran putri KASAD memutuskan untuk menikah."
Untung saja Nadia sudah menutup botol minumannya, kalau tidak bisa dipastikan ia akan kembali menyemburkan air dimulutnya pada orang ini untuk ketiga kalinya.Ckckck hebat juga si Om menolak lamaran KASAD, KASAD loh bukan KASAU. Luas juga jaringannya si Om. Tapi gak apa-apa sih ya dapetnya juga putri kesayangan bapak Randy dan Ibu Syakila kan? Nadia tersenyum jumawa.
"Ya terus gimana kesan dan pesan kalian setelah melihat saya?" Nadia sudah melepaskan atribut formatnya setelah mendengar kalimat itu. Tentu saja sekarang ia membawa dirinya sebagai Nadia Gaudia Rasya yang tak pernah mengenal kata tertindas sekaligus sebagai wanita berhasil membawa Gibran pada keputusan untuk mengakhiri masa lajang. Terlepas dari alasan keduanya menikah, ia cukup puas menjadi satu-satu yang dipertimbangkan Gibran untuk dinikahi.
Pelatih Benny tertawa, "Masih belum menemukan jawabannya. Tapi setidaknya kami tidak penasaran lagi." ujarnya dengan tampang jenaka.
"Baguslah." Nadia menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Sepertinya laki-laki itu menyukai kamu." Benny memberi kode melalui tatapannya, "Sejak tadi mengawasi disini."
Nadia melihat kekumpulan para panitia, benar saja, Orion sedang melihat kearahnya terang-terangan. Bahkan kini Lalita yang baru sampai bersama tim pubdekdok Fakultas turut melirik kearahnya tentu saja dengan jenis tatapan yang berbeda. Tapi apa pedulinya? Terserah bagaimana orang-orang ini melihatnya yang terpenting, bisakah penindasan pada dirinya dihentikan? Ia hanya mau melewati tiga hari ini tanpa membuat keributan.
"Susah sih mengabaikan pesona cewek cantik." Ujar Nadia percaya diri. Ia yakin seratus persen bahwa dirinya kini lagi-lagi menjadi hot potatos di kampusnya. Melihat tak sedikit yang melirik sinis padanya, Nadia tahu bahwa sepulang dari sini ia kan memecahkan rekor sebagai salah satu mahasiswi yang paling banyak memiliki haters baik dari kalangan senior maupun junior yang merasa dirinya sebagai tantangan terberat mendapatkan perhatian kaum kacang hijau.
"Ya ya ya... benar sekali. By the way, senang bertemu kamu, Nadia. Maafkan salam perkenalan kami yang sedikit manis."
Nadia tahu permintaan maaf itu untuk kejadian seharian ini dimana ia menjadi pihak yang teraniaya. Yah, salam perkenalan kali ini ingin sekali ia sebut sebagai salam perkenalan termanis sepanjang sejarah perkenalannya dengan teman-teman suaminya. Bukannya mendapat banyak bingkisan, ia malah mendapat banyak bentakan dan teriakan sampai-sampai membuatnya ingin kabur dari tempat itu.Bela negara apaan, ini sih gue dikerjain.
"Jam delapan malam nanti akan ada kejutan untuk kamu. Have fun, Nad." Benny beranjak dari duduknya, menepuk punggung Nadia sebelum pergi dari sana, meninggalkan Nadia dengan keterpakuannya.
Kejutan? Nadia menghela nafas berat. Malam ini pasti akan sangat melelahkan. Nadia meluruh diatas rumput, "Mati aja gue."
***
Dan kejutan itu berwujud Gibran Al Fateh suaminya tersayang yang kini berdiri di depan memaparkan tentang kesatuannya yakni menjelaskan secara umum tentang Angkatan Udara yang sama sekali Nadia tidak pahami karena lebih tertarik pada bisik-bisik tetangga yang menganggumi suaminya, menyebalkan!
"Eh ya ampuuuun bahunya dong, maulah sandaran disana."
Sandaran sono di bahu jalan.
"Ih ih iiiiiih senyumnya lho. Astagaaaa halalin adek baaaaang."
Enak aja, sana lo ke kantor MUI minta cap halal.
"Udah punya istri belum ya?"
Udah, dibelakang lo, ganjen!
"Rela deh gue jadi pel*kor kalau cowoknya semodelan ini."
Hidih, muka pas-pasan gitu?
"Gak kukuuuuuu"
Benerin dulu tuh kosakata lo!
Huf huf huf huf! Nadia menarik nafas dan menghembuskannya dengan buru-buru. Panas panas panaaaaas. Telinganya panas. Api pasti sudah keluar dari kedua telinga dan diatas ubun-ubunnya jika ia sedang dalam dunia kartun sekarang. Bisa-bisanya lelaki kece badai itu muncul bak jelangkung. Nadia terpesona tapi kesal jugaaaaa!
Om Gi punya gueeeee! Nadia melipat bibir kesal.
"Kamu yang di pojok kiri."
Iiiih harusnya jangan keren gituuuu. Kertas ditangan Nadia sudah menjadi sobekan-sobekan kecil.
"Yang di pojok kiri."
Kan jadi banyak cabe yang liatiiiiin. Bibirnya sekarang manyun kedepan.
"Haloooo, yang di pojok kiri?"
Duuuuh si Om makin tua makin jadi aja. Nadia menggigit ujung pipet minuman mineralnya.
"Tolong di pojok kiri?"
Nad kan pengen meluuuuk-- hiks.
"Nadia Gaudia Rasya?"
"Ya sayang?" Nadia berdiri cepat lalu kemudian---
"Huuuuuuuuu!"
Nadia tersadar. Ia menutup wajahnya panik. Mampus! Suara sorakan di ruangan itu menggema bukan saja dari para peserta maupun panitia melainkan dari para tentara yang kebetulan juga ada di tempat itu. Muka gueeeee... muka gueeee!
Nadia menutup wajahnya, di depan sana Gibran terlihat menahan senyum. Ya Tuhaaaaan malunyaaaaa. Nadia buru-buru duduk, menunduk dalam. Mati aja Nad, mati aja. Nadia merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya kelepasan memanggil Gibran sayang. Keasikan melamun sampai lupa dimana ia berada. Orang jatuh cinta memang begini, merasa dunia hanya milik berdua, selebihnya hanya kacang hijau dan tai cicak. Nadia rasa-rasanya ingin menguburkan diri dalam kelopak bunga sekarang.
"Wah Kapten, itu sayangnya memanggil."
Sumpah. Nadia ingin sekali menjahit mulut jahil pelatih Benny yang sekarang bertindak sebagai pemandu acara. Bukannya meredam, lelaki berkepala plontos itu malah semakin memanaskan suasana. Sungguh suatu ke kampretan yang hakiki. Nadia mau menangis saja rasanya.
"Akhirnya ada yang sayang ya Bro."
Wajah Nadia semakin merah saat mendengar jawaban Gibran yang diiringi sorakan yang makin membahana. Sejak kapan laki-laki yang ia sayang banyak-banyak itu jadi genit sih? Kan gemeeesh, Eh?
"Jadi sayang, eh Nadia ya---"
"Huuuuuuuu!!!"
.
.
"Puas ketawanya? PUAS? Nyebelin ih!" Nadia menendang tulang kering Gibran namun sayang harus meleset karena laki-laki itu lebih tangkas meraihnya dalam pelukan.
"Puas sekali SA-YANG." Gibran tertawa ringan melihat wajah misuh-misuh Nadia saat menyebutkan kata sayang. Sepasang sejoli itu sekarang sedang berada dalam ruang kesehatan. Tentu saja Nadia sudah mendapatkan izin dari pelatih meskipun tadi Orion sempat menahannya. Panas di wajah Nadia belum juga reda saat ia kembali mendapati Gibran dalam ruang kecil yang hanya berisi dua ranjang dan satu meja kecil. Seharusnya ia sudah tahu bahwa para pria berseragam loreng ini pasti sekutu suaminya. Dia saja yang terlambat menyadarinya bahwa kegiatan bela negara yang diikutinya sekarang tak hanya untuk pengalaman dan mendapatkan sertifikat tetapi juga dimanfaatkan Gibran untuk mengenalkannya pada teman-temannya. Licik sekali kesayangannya.
"Om kok gak bilang-bilang jadi salah satu pemateri?" Nadia membenarkan posisinya memeluk Gibran yang sedang menyandar di meja.
"Sebenarnya bukan saya pematerinya tapi karena yang ditunjuk sedang berhalangan jadi saya diminta untuk menggantikan." Jelas Gibran sembari menguatkan pelukannya di pinggang Nadia, "sekalian nengokin istri." Lanjutnya mengecup ujung hidung Nadia.
"Ih dasar." Nadia tersenyum senang, memeluk Gibran erat, "Kangeeeeen."
"Belum juga dua belas jam, Nad."
"Rindu gak mesti nunggu dua puluh empat jam kali. Kalau kangen ya kangen aja." Ucap Nadia manja. Ia menghirup dalam-dalam wangi Gibran yang begitu dirindukannya, "Eh, Pia gimana, Om? Rewel gak?" tanyanya menjauhkan wajah dari dada Gibran.
"Pia baik-baik saja. Nih, nitip botol susunya." Gibran menunjuk dua botol susu yang biasa Nadia pakai untuk menyetok asi beserta alat sedotnya.
"Ayah siaga." Puji Nadia menangkup pipi Gibran dan mengunyel-ngunyelnya.
"Makasih. Boleh diganti ciuman aja gak?" Tahan Gibran, meremas jemari Nadia yang menangkup pipinya.
"Gak boleh. Om kan suka kebablasan. Bilangnya nyium doang, ujung-ujungnya Nad mesti keramas. Susah air tauk Om disini. Mandinya juga dikasi cuma sepuluh menit. Kebayang gak tuh ribetnya?" Nadia mencium pakaiannya, "Untung Nad gak bau badhmpppphhhh."
Dan terjadi lagi.
***
Nadia baru saja kembali dari gerbang depan mengantar Gibran bersama Benny yang sudah kembali ke barak saat Orion muncul didepannya.
"Dari mana?"
"Dari depan."
"Ini sudah waktunya Istrahat. Kenapa masih keluyuran?"
"Maaf kak." Jawab Nadia malas memperpanjang urusan. Bukannya ia sudah izin tadi ya sama tim yang berjaga? Mungkin otak Orion sedang korslet makanya jadi aneh begini.
"Jangan mentang-mentang punya kenalan disini bisa seenaknya. Setiap peserta wajib hukumnya mengikuti aturan yang sudah dibuat. Paham?" Orion tampak sekali sedang kesal. Mungkin seseorang sedang menginjak ekornya.
"Paham, Kak." Nadia yang sedang lelah, mengangguk. Mau mendebat tapi terlalu lelah. Besok masih ada kegiatan yang tidak kalah melelahkannya, outdoor. Semoga saja tidak se-hectic hari ini.
"Masih ada lagi kak?" Tanyanya kemudian. Ia akan mendengar kalau sekiranya masih ada unek-unek yang mau dilontarkan.
Orion berdehem mati gaya. Dia pikir Nadia akan membalasnya seperti biasa tapi ternyata juniornya yang keras kepala ini melunak. Padahal ia senang berlama-lama meladeni Nadia yang berapi-api membantahnya.
"Khm tidak ada. Kembali ke barak."
"Siap, Kak." Nadia bergegas meninggalkan Orion. Tubuhnya sudah sangat menuntut diistrahatkan setelah seharian aktif bergerak.
.
.
Tepat pukul empat pagi bunyi peluit mulai terdengar berturut-turut.
PRIIIIIIT PRIIIIIIT PRIIIIIIIT
"PERSIAPAN" Teriakan para peserta tak juga mengusik tidur Nadia yang bergelung nyaman seperti bayi yang ada dalam kandungan. Grasak grusuk orang-orang dalam barak seperti bukan apa-apa untuknya. Ia sedang mimpi indah, tidur dalam pelukan Gibran dibawah pohon sakura yang sedang berguguran.
"Nad... Nad... bangun woe!" Salah satu peserta yang tidur disamping ranjang Nadia menepuk-nepuk kasur cewek yang semalam membuat heboh satu aula itu.
"Lo duluan aja." Ucap Nadia setengah sadar. Ia mengambil bantal dan menutup telinganya. lalu kembali tidur.
"Gue udah bangunin lo ya." Ujar mahasiswi itu mengingatkan. Ia bergegas mengambil pouch mandinya untuk bergabung bersama teman-temannya saat Nadia mengangkat jempolnya lalu kembali tidur.
Sekitar sepuluh menit, peluit kembali berbunyi kali ini disertai dengan suara tendangan drum yang memang sengaja dilakukan para pelatih untuk membuat para peserta tak bersantai.
PRAAAAANG!!!
Nadia terduduk, mengusap matanya, "Apaan sih berisik bangat? Ganggu!" Gerutunya. Dengan kesal ia turun dari ranjang, mengambil handuk dan pouch mandinya dengan gerakan malas. Matanya masih setengah terpejam menuju kamar mandi, mengabaikan kepanikan peserta lain yang berebut ruang ganti.
"Heh, lo masih aja ya santai disitu? Buruan mandi!"
Nadia menatap malas salah satu panitia yang berdiri di pojokan persis seperti penampakan. Tak jauh darinya ada Lalita yang juga berniat mandi. Cewek berkacamata itu menatap sinis padanya yang dibalas Nadia dengan putaran bola mata.
"Ta, pindah gih. Lo gak takut ketularan murahan mandi bareng si itu?"
Nadia yang baru saja hendak melepas kaosnya menoleh pada si mulut nyinyir yang muncul dari kamar mandi sebelah.
"Bisa nular lewat aer ya?" Tanya Lalita dengan wajah polos yang dibuat-buat. Nadia tersenyum miring. Di tangannya sudah ada air segayung yang sempat ditimbanya untuk mencuci wajah.
"Bisa. Udah sana, ke tempat gue." Ujar si nyinyir komplotan Lalita. Nadia tidak ingat ada manusia sejenis ini dikampusnya? Atau memang eksitensinya tidak nyata ya karena kebanyakan nyinyir? Tapi wajar sih, Nadia hanya mengingat orang-orang penting bukan yang sok penting seperti mereka.
"Betewe Abang yang semalam ngasi materi nyapa gue loh. Nanyain IG gue malah."
"Oh ya? Wah keren tuh say." Lalita menambahkan dengan sok asik. Lirikan tajam dan mencemooh ia berikan pada Nadia, seolah puas memanasi Nadia yang malah tampak santai memulai aktifitas mandi paginya.
Nadia rasanya ingin tertawa sambil guling-guling sekarang.Yang dimaksud si nyinyir Om Gi nya kan? Haduh, bohong bangat nggak sih? Mana sempat Om Gi menyapa cewek ganjen gini, yang ada udah ditenggelamin ke rawa-rawa.
"Abang seganteng itu mana mungkin mau kan ya sama modelan pekerja Al*xis gini? Gue jelas lebih dari segalanya." Ujar si nyinyir yang kali ini membuat Nadia kesal.
Model pekerja al*xis maksudnya pelac*r? Wah, si*alan nih cewek. Nadia melirik sebuah ember yang tak jauh dari kakinya. Air bekas cucian pakaian berlumpur. Senyum evil terulas di bibirnya.
"Pake manggil-manggil sayang, emang dipikir ini tempat pijit plus--"
BYUUUUUUR!!!!
"---AAAARRRRGHHHH!"
"Ops, sorry, Kak."Nadia menggigit bibir sok merasa bersalah, "Kirain tadi saluran pembuangan makanya saya siram, bau sih." ucapnya sangat jauh dari ekspresi wajahnya yang sangat puas melihat cewek nyinyir itu kehabisan kata-kata.
"LO---"
"Saya Nadia, Kak. Salam kenal ya." Nadia memakai handuknya lalu berbalik ke ruang ganti melewati Lalita yang hanya menatap syok campur jijik pada rekannya, "Permisi Kak Lita." Nadia melipir sok ramah.
Nadia dilawan. Makan tuh comberan!
***
Senyum Om Gi pas Nadia memanggilnya sayang ditengah umum.