
"Sedang apa?"
"Melamun." Nadia terkekeh melihat kerut di kening Gibran mendengar jawabannya.
"Jangan melamun nanti kerasukan." Ujar Gibran sembari menyelipkan tangannya dipinggang ramping Nadia.
"Nad emang udah kerasukan. Kerasukan cintanya Om-om." Canda Nadia menumpukan tangannya diatas tangan Gibran yang memeluknya erat. Kedua terdiam memandang keluar jendela kaca tua yang berembun. Hujan semalam belum juga berhenti hingga pagi ini membuat tanah dan dedaunan menjadi basah.
"Kalau Nad ke rumah, Om sama siapa? Bakal kangen gak sama Nad dan Pia?" Tanya Nadia menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat wajah kaku suaminya yang tampak khusyuk menikmati pemandangan di depannya.
"Pasti rindu." Jawab Gibran menumpukkan dagunya diatas kepala Nadia, mengecup wangi lembut rambut halus itu.
"Nad juga bakalan rindu bangat sama Om." Ujar Nadia merasakan hangat dada bidang Gibran mengurai dinginnya pagi. "Pulang ke ibu kota aja yuk Om." lanjutnya sembari memandang jauh keluar. Bukannya Nadia mau mrngungkit yang lalu-lalu tapi hatinya selalu merasa tak terima ketika mengingat bagaimana mereka harus berada di tempat ini. Nadia menyukai tempat mereka sekarang tapi tentu saja tidak ada yang lebih nyaman dari tanah kelahiran sendiri. Disana ia memiliki kenangan dan mimpi-mimpi serta orangtuanya yang akan sering di kunjunginya saat rindu. Entah sampai kapan mereka akan terus berada di tempat ini, rasanya sulit membayangkan jika seumur hidup harus dihabiskan di tempat yang jauh ini. Sebenarnya mudah bagi Nadia untuk membawa kembali Gibran kembali ke ibukota tapi laki-laki yang tengah memeluknya ini tentu saja akan menolak mentah-mentah apa yang akan dilakukannya.
"Nad rindu rumah?" Bukannya mengiyakan atau menolak permintaan Nadia, Gibran malah balik bertanya.
"Rindu Ayah dan Bunda." Jawab Nadia sendu. Ia selalu mengirimkan doa untuk kedua orangtuanya itu tapi ia ingin melihat pusara keduanya. Bahkan di tahun kelulusannya ia tidak menyambangi mereka padahal biasanya setiap selesai merayakan kelulusan Nadia akan pergi menemui orangtuanya dan mengirim doa untuk mereka entah diantar oleh Gibran ataupun supir keluarga.
"Maafkan Om sudah membawamu disituasi yang seperti ini."
Nadia menggeleng. Bukan permintaan maaf yang ia inginkan. Gibran tidak salah apapun karena sejak awal dirinyalah yang ingin selalu bersama lelakinya itu.
"Bukan salah, Om. Nad senang bisa bareng Om disini." Nadia berbalik dan memeluk Gibran, menghirup wangi khas yang selalu tertinggal di pakaiannya.
"Terima kasih. Nadianya Om memang yang terbaik." Ujar Gibran mengacak rambut lembut Nadia tak lupa mengecupnya berkali-kali.
"Kok rambut aja sih Om." Nadia mengurai sedikit pelukan keduanya tanpa benar-benar melepaskan tangannya dari punggung Gibran. "Ini belum." Nadia memonyongkan bibirnya yang langsung mengundang kernyitan dikening Gibran.
"Apaan tuh maksudnya bibir di monyongin kayak bebek gitu?"
Nadia memutar bola matanya sebal. Dasar gak peka. Kanebo kering sih. Dumelnya dalam hati. Jika bukan dirinya yang lebih aktif, sudah bisa di pastikan rumah tangga mereka akan segersang padang sahara, hambar dan kaku. Beruntunglah Omnya ini mendapatkan dirinya yang luar biasa bersemangat. Maka tanpa menunggu lama Nadia langsung berjinjit dan melarikan tangannya menarik leher gibran agar mudah ia raih apa yang diinginkannya.
Cup.
"Ini lho Om. Masa gitu aja gak tau sih. Heran deh gak terasah juga pekanya." Sungut Nadia setelah berhasil mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Gibran. Sebenarnya tidak cukup tapi apalag daya ia memiliki suami yang tak mau memaksimalkan kesempatan untuk mesra-mesraan padahal hujan dan embun sudah sangat mendukung untuk menciptakan suasana intim nan romantis. Ck jika ada om jin maka Nadia akan meminta satu permintaan untuk memberikan setitik saja jiwa romantis untuk suaminya. Sangat memprihatinkan. Huffff.
"Kamu kenapa hela nafasnya gitu?"
Nadia mengerjap, tanpa sadar apa yang dilakukannya di perhatikan oleh Gibran.
"Gak apa-apa." Balas Nadia datar. Ia membalikkan badannya lagi menghadap jendela, terlanjur bete karena tidak mendapat sambutan manis dari Omnya padahal kan dia sangat ingin dapat morning kiss yang brain wash lebih mantap lagi. Om-om di depannya ini nagihin bangat lho.
Melihat Nadia yang merajuk seperti itu entah kenapa selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Gibran. Wajah manyunnya sangat menggemaskan dan seingatnya sejak dulu ia sangat senang membuat gadis kecil dalam pelukannya ini kesal karena wajahnya akan mengembang lucu dengan bibir mengerucut seperti paruh bebek. Bukannya ia tidak tahu kalau Nadia sedang bete tapi ia senang saja menggoda gadis kecilnya itu. Lalu tanpa menunggu lama, Ia mencapit dagu Nadia dan mendongakkannya sedikit.
"Lucu." Satu kata itu tapi berhasil membuat Nadia semakin dongkol.
"Lucu? Memangnya Nad badut?" Ujar Nadia kesal. Ia baru akan menepis tangan Gibran saat tiba-tiba benda kenyal membungkamnya tanpa peringatan. Nadia mengerjap bingung ketika bibir Gibran menyesap bibir bawahnya dengan sangat intens. Setelah puas dengan bibir bawahnya lalu pindah meng*mut bibir atas Nadia seperti lolipop membuat Nadia yang tak siap hanya bisa pasrah menikmati kecupan selamat paginya.
Setelah cukup lama mem*gut bibir lembut itu, Nadia pikir Gibran telah selesai saat melepaskan bibirnya sesaat dan membiarkanya menghirup udara sebanyak-banyaknya tapi ternyata ia salah. Laki-laki itu kembali memagutnya kali ini lebih menuntut dan sedikit terburu.
"O-omph" Nadia terkesiap saat Gibran mengurung dirinya diantara dinding dan badan kekarnya tanpa melepas ciuman mereka. Tangan lelaki itu bahkan tak tinggal diam mengusap tengkuk Nadia dengan lembut menghadirkan gelenyar aneh yang membuatnya merinding hingga harus berpegangan pada kaos depan Gibran karena kakinya seakan berubah menjadi jelly saking dalamnya ciuman itu merebut kesadarannya. Terlebih ketika sebuah benda basah dan kenyal yang sejak tadi meny*sap bibirnya berpindah pada kulit lehernya yang terbuka seolah sedang menikmati lelehan coklat yang nikmat.
"Hmppp" Nadia berusaha menjauhkan kepala Gibran dari lehernya namun laki-laki itu seakan tak mendengar dan makin melancarkan serangannya menyesap habis tulang selangka Nadia dengan kecupan basah dan--
"Nghhhh--" Nadia melenguh lalu tanpa sadar memukul dada Gibran saat merasakan sesapan kuat di lehernya yang terasa nyeri.
Gibran menyudahi aksinya setelah beberapa kali menggigit kecil bagian kulit leher dan belakang telinga Nadia.
"Kok di gigit sih Om?" Protes Nadia dengan nafas tersengal setelah lepas dari keganasan bibir dan lidah Gibran. Ia memegang lehernya yang terasa sedikit perih dengan tatapan menghujam tajam pada Gibran yang tampak santai mengusap bibirnya sendiri. Astaga sangat seksi. Haduh sadar Nad, kamu lagi kesal sekarang. Akal sehat Nadia mengingatkan ketika sesaat ia terpaku pada bibir merah nakal yang digigit yang empunya. Penggoda ulung. Batin Nadia keki.
Gibran mengedikkan bahu, "Jangan mancing makanya." Ujarnya tanpa dosa sembari kini mengusap bibir basah Nadia dengan ibu jarinya. Kilatan jahil dimatanya membuat Nadia kesal sekaligus tersipu malu. Tadi kan hampir saja Navia season dua. Batinnya.
"Bengkak." Lanjut Gibran tersenyum jahil melihat hasil kelakuannya yang membuat bibir Nadia tampak merah dan bengkak.
Bugh!
Nadia memukul dada Gibran "Om tuh-- masih pagi juga." Dumelnya dengan bibir manyun. Sebenarnya ia hanya berusaha menahan agar pipinya tidak merona. Brain wash kiss lho yang tadi. Nadia mengipasi wajahnya yang terasa hangat padahal cuaca di luar sedang hujan. Morning kiss-nya terlalu bersemangat dan gilanya ia menyukainya. Duh, Nadia.
Gibran terkekeh lalu meraih Nadia dalam pelukannya, kesempatan sekali untuk Nadia menyembunyikan rona di wajahnya.
"Selamat pagi sayang." Bisik Gibran mengecup bahu Nadia dengan penuh perasaan.
Nadia tak bisa lagi menahan ujung bibirnya terangkat mengulas senyum lebar. Ini sangat hangat. "Pagi, Om." Jawabnya lirih yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. Keduanya tidak menyadari keberadaan dua orang yang tengah berdiri di dekat pintu tengah tersenyum menggoda.
"Tutup mata ya Pia, belum cukup umur." Ujar Gendis terkekeh sembari menutup arah pandang Navia yang sebenarnya bayi kecil dalam gendongannya itu belum menyadari apa yang sedang terjadi. Tak lupa ia mengabadikan momen manis di depannya, "Nice picture." Senyuman puas menghiasi wajahnya melihat hasil fotonya. Nadia pasti akan sangat senang melihat ini.
Gue senang lo bahagia Nad, semoga gue juga bisa bertemu jodoh yang mencintai gue seperti Om Gi mencintai lo.
***
"Hih gila! Ngapain lo motoin gue? Hapus gak?!" Nadia berusaha meraih hp Gendis yang mengabadikan momen ciumannya dengan Gibran pagi tadi. Yang benar saja dong, kalau ketahuan ih. Nadia menghentakkan kaki kesal saat Gendis semakin bersemangat menggoda Nadia.
"Apaan Sih. Hapusin gak?!"
"Gak! Mau gue pamerin di grup." Balas Gendis memeletkan lidahnya. Kedua gadis muda itu tadinya sedang duduk santai berdua di bawah pohon mangga diatas beranda bambu yang dibuat Gibran. Kedua tengah menikmati waktu berdua sementara Navia sedang bersama ayahnya untuk quality time. Hari ini Gibran libur dan Nadia berbaik hati memberikan waktu kepada ayah dan anak itu untuk berdua-duaan sementara dirinya menemani Gendis yang tengah gundah gulana. Sangat lebay memang kalau sudah perkara hati.
"Heh, jangan ngada-ngada lo. Siniin gak hp lo!"
"Gak. Udah deh diem. Mending simpan foto ini di hp lo. Kapan lagi lo punya foto mesra sama Om Gi. Jangan foto wisuda doang lo pajang. Sekalinya foto berdua muka lo udah kayak dinikahin datuk maringgih manyun gak jelas." Gendis mengambil hp Nadia lalu mengaktifkan share it untuk mengirim gambar tersebut.
Nadia yang melihatnya hanya menggigit bibir bawah sembari mengintip malu-malu. Bagus sih sudut pengambilannya, keduanya membentuk siluet seperti di sorot cahaya yang berasal dari arah jendela sedangkan sekelilingnya tampak gelap. Sangat estetik.
"Nih! Simpen baik-baik." Gendis mengembalikan hp Nadia yang diterima pemiliknya dengan senyum kecil di bibirnya.
Gendis menyenggol lengan Nadia dengan lengannya "Cieeee seneng ya? Makanya gengsi jangan di gedein. Bilang makasih sama gue dong."
Nadia mencibir, "Gak. Udah jangan nyebelin kalau gak mau gue usir." Ucap Nadia tak lepas memandangi layar hpnya. Ia sangat suka foto ini. Pasti akan sangat bagus jika di Pajang di ruang tengah dengan ukuran 1000 R. "Jadi apa rencana lo selanjutnya?" Tanya Nadia setelah puas memandangi foto tersebut dan mengantongi hpnya.
Gendis menghela nafas berat, "Gak tau. Yang pasti gue gak mau di jodohin. Gue masih mau kuliah, wujutin mimpi-mimpi gue yang se-album itu."
"Ya udah ngomong terus terang sama Bonyok lo. Mereka pasti ngerti kok."
Gendis menggeleng, "Gue gak akan disini kalau mereka ngertiin gue, Nad. Gue udah coba ngomong tapi lo tau sendiri lah gimana nyokap kalau udah ada maunya. Gue gak tau harus gimana. Takut durhaka gue."
Nadia mengusap bahu Gendis, "Gue gak tau harus bantu apa tapi lo bisa disini selama yang lo mau."
"Thanks ya." Gendis memeluk Nadia erat "Menurut lo Om Gi tau nggak soal masalah ini? Dia kok gak kepo ya?" Gendis melepas pelukannya dan menatap Nadia penuh perhatian. Nadia juga memikirkan hal yang sama. Gibran terlalu biasa untuk ukuran seseorang yang selama ini tahu kebiasaan mereka yang sering kabur-kaburan kalau ada masalah. Terlebih Gendis yang di kenal sebagai anak mami yang paling anti menentang aturan. Gendis tentu tidak akan dibiarkan berkeliaran sendiri tanpa pengawasan jika tidak ada masalah yang terjadi.
"Gue juga gak tau. Lo kan tau Om Gi, gak ketebak." Ujar Nadia sembari menyadarkan punggungnya di pohon mangga.
"Gue penasaran. Om Gi dan Om Dewa kan temen tuh, masa gak ada sih mereka curhat-curhatan gitu." Gendis menyuarakan keheranannya.
"Mereka kan bukan cewek yang galau dikit langsung curhat."
"Iya sih." Gendis mengangguk-anggukan kepala setuju.
"Udah gak usah dipikirin. Mending kita jalan-jalan. Gue mau nunjukin spot-spot penting dan keren di tempat ini." Nadia beranjak dari tempatnya lalu memakai sendal jepitnya. "Ayo!"
"Kemana?" Tanya Gendis bingung namun tak ayal ikut berdiri mengikuti Nadia.
"Tour gratis keliling kampung." Jawab Nadia. "Lo tunggu bentar. Gue izin dulu sama Om Gi." Nadia berlari ke dalam rumah untuk meminta izin keluar.
"Om Giiiiii Nad mau jalan."
Gendis menggelengkan kepala mendengar suara teriakan Nadia yang masuk dalam rumah. "Belum juga berubah, Nad." Ujarnya takjub dengan kelakuan sahabatnya itu.
***
Nadia dan Gendis jalan beriringan menyusuri jalan aspal menuju perumahan warga yang tak begitu jauh dari kantor dan perumahan tentara.
"Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Gendis saat tak menemui satu wargapun sepanjang jalan. Hari baru saja hujan tentu saja orang-orang malas beraktifitas di luar rumah kecuali warga lokal yang mungkin sedang ke kebun memanggul sagu dan menengok tanaman mereka.
"Mau gue kenalin sama orang-orang sini. Siapa tau aja lo nemu jodoh. Ye nggak?" Ujar Nadia mengerling jahil.
"Nggak, makasih. Ribet ngurus surat nikahnya." Tolak Gendis tanpa basa basi.
"Ya udah sama Om Dewa aja. Tempat ibadah lo berdua sama kan?"
"Dih ogah. Mulutnya lemes gitu. Bukannya lidah mertua yang ngiris hati tapi mulut dia lagi." Membayangkannya saja Gendis sudah sangat stres apalagi benar-benar harus menikah. Bukanya bangun rumah tangga yang ada bangun kuburan.
"Tapi baik." Bela Nadia.
"Baik aja gak cukup. Mang bakso depan sekolah juga baik suka nambahin baksonya buat gue. Lagian lo sebenarnya temen siapa sih, kok ngebelain bangat tuh Om."
"Ya gimana lagi, Ndis, gue emang demen sama yang Om-Om gitu. Efek gak dapat kasih sayang ayah kalik ya makanya suka sama yang lebih dewasa. Seneng sih dimanjain." Ujar Nadia terkekeh. Namun tak sama dengan Gendis yang malah kasihan dengan Nadia yang hanya sebentar merasakan kasih sayang kedua orangtuanya.
"Lo nya aja yang emang udah bucin parah sama Om Gi. Gue juga kalau dijodohin sama modelan Om Gi juga gak nolak lah. Udah ganteng, taat Tuhan, super baik, cerdas, banyak uang lagi. Siapa coba yang nolak. Mana cool gitu. Beda bangat sama Om Dewa, baik sih baik cuman kalau ngomong suka gak di filter."
"Yakan lo bisa rem pelan-pelan. Itu gunanya nikah, saling melengkapi, saling mengingatkan." Nadia ternyata belum juga menyerah dengan keyakinannya. Menurutnya, terlepas masalah Gendis dan Dewa di jodohkan, mereka berdua sepertinya akan cocok, Pria ribut yang super rempong bertemu dengan Cewek kalem yang super loading lama, bukankah akan sangat manis.
"Big No! Udah ah, jangan ngomongin jodoh-jodohan mulu. Stres gue." Gendis mempercepat langkahnya meninggalkan Nadia yang tertawa puas di belakang. Memang sahabat laknat.
"Ndis, Tungguin gue!" Nadia berlari mengejar langkah lebar Gendis, "Ngambek?" Senggolnya.
Gendis memukul bahu Nadia gemas, "Sebel gue sama lo." Ujarnya gemas.
Nadia terkekeh, "Iya iya, sorry deh. Becanda doang elah. Hayuk, gue kenalin sama anak-anak rantau." Digeretnya tangan Gendis untuk berjalan lebih cepat.
Anak rantau? Gendis mengernyit namun tetap mengikuti langkah lebar Nadia memasuki kawasan rumah-rumah warga lokal.
***