Little Persit

Little Persit
Lebih dari 3000



Sebagai perwira pertama dalam hal ini kapten yang memimpin sebuah pasukan elit di angkatan Udara, Gibran memiliki waktu kerja yang tak menentu. Ia bisa selama berhari-hari berada di rumah seperti halnya seorang pengangguran, dan bisa juga pergi berhari-hari tanpa kejelasan kapan pulang seperti seorang pengelana tapi yang paling sering adalah mendapatkan panggilan tugas tengah malam saat orang lain sedang terlelap ,dan tidak ada penolakan sama sekali disana. Hanya jawaban 'Siap' yang ia ucapkan setiap kali mendapatkan telfon, seperti sekarang ini misalnya.


"Om mau pergi?" Nadia mengucek mata. Tidurnya terusik oleh suara Gibran menjawab telfonnya dengan kata 'siap' berulang kali setiap seseorang di balik telfon mengatakan sesuatu.


Gibran meraih jaketnya yang ia gantung di belakang pintu. "Om belum tau kapan pulang, mungkin besok sore atau malam. Nad jangan kemana-mana. Pulang sekolah langsung ke asrama. Nanti Om kirim orang untuk bawa makanan."


"Nad ajak The girls kesini, boleh?"


"Boleh tapi jangan ganggu tetangga. Jangan iseng." Gibran mengelus puncak kepala Nadia. Gadis berwajah bantal itu melarikan kedua lengannya memeluk Gibran yang tengah berdiri di sampingnya.


"Om hati-hati." Ucapnya di perut Gibran.


"Om lebih khawatir sama Nad. Jangan lakukan yang aneh-aneh." Ujar Gibran menyarangkan satu ciuman di kepala Nadia. "Besok pagi keramas."


"Ih!" Nadia memukul punggung Gibran kesal. Mau pergi masih juga rese.


Gibran melepaskan belitan Nadia di pinggangnya. Ia membaca pesan yang masuk di hpnya.


"Om pergi dulu. Nad tidur lagi." Gibran menyelimuti Nadia yang sudah kembali berbaring di bantalnya. "Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam." Nadia menatap punggung Gibran yang menghilang di balik pintu kamar. Setiap kali Gibran keluar dari pintu, doa Nadia selalu sama,


Ya Allah, Nad titip Om Gi. Jaga dia untuk Nad.


***


"Jadi Om lo pergi lagi? Bukannya kemarin udah ya?" Aleksis menyerut susu kotaknya nikmat. Di depannya Nadia sedang menikmati lelehan keju dan mozzarela diatas topping pizzanya. Kalau dilihat oleh Gibran, sudah pasti ia akan dimarahi karena lagi-lagi makan makanan tidak sehat, kata Omnya 'Makanan sampah' hanya karena namanya junk food. Kedua gadis berseragam putih-putih itu tampak asik menikmati suasana kafe kecil bernuansa cozy tak jauh dari sekolah mereka.


"Gitu deh. Kerjaan Om Gi memang kadang gak jelas kayak orangnya."


"Iya, jelas gak jelas gitu tetap aja paling lo sayang." Cibir Aleksis.


"Karena cuma Om Gi yang gue punya di dunia ini." Ujar Nadia sendu. Tanpa Gibran, entah bagaimana ia bisa menjalani hidup. Ayah dan Bundanya telah tiada, hanya meninggalkan harta untuknya tanpa meninggalkan satu keluargapun untuk menyayanginya. Untung saja ada Gibran, sahabat kedua orangtuanya yang entah memiliki hati sejenis apa sampai mau mengorbankan kehidupan bebasnya untuk seorang gadis malang sepertinya.


"Kampreeet!" Aleksis menepuk bahu Nadia keras hampir membuat gadis itu memuntahkan makananya "Lo nggak nganggap gue, Sandra dan Gendis?"


Nadia menatap Aleksis kesal, "S*alan lo, hidung gue periiih b*go!" Nadia mengucek hidungnya yang kemasukan makanan.


"Ya elo sih!" Aleksis nyodorkan minumannya pada Nadia.


"Hidung gue mau lo masukin aeeer?" Nadia menepis pelan botol itu. Aleksis menyengir lebar.


"Maafin elaaah."


Nadia mendelik. Minta maaf mulu udah kayak lebaran aja. "Lo ngerti maksud gue. Maksud gue seseorang yang ada ikatan kuat dan legal sama gue." Jelas Nadia melanjutkan maksudnya.


"Iyeeee. Becanda doang juga." Gerutu aleksis.


"Becanda muluu, mau gantiin sule lu?!" Nadia mengambil potongan ketiga pizza di depannya "Gendis dan Sandra ke toiletnya ngapain sih? Kok lama bangat."


"Paling Gendis lagi nungguin si Sandra ngelukis alis." ujar Aleksis tak pusing. Selama bukan alis sinchan atau alis tebal sebelah seperti ibu-ibu yang sering di curhatkan Nadia, ia akan memakluminya. Rencananya setelah dari sini mereka akan lanjut ke bioskop untuk nonton film baru yang sekarang sedang hits diantara para penikmat film.


"Gimana lo sama Om Gi? Ada yang baru?"


"Maksud lo?"


"Masih Om rasa Ayah atau udah rasa lain-lain?" Aleksis menaikan satu alisnya melihat kerutan yang tampak di kening Nadia.


"I am not sure." Nadia menggumam tak yakin.


"What do you mean with 'I am not sure' lo itu?"


Nadia mengedikkan bahu, "Entahlah. Gue juga bingung ngejelasinnya but he changes."


"Berubah gimana? Makin ngediemin elo atau malah makin manjain lo?"


Nadia merengut sebal "Om Gi nggak pernah manjain gue."


"Dih, nggak ngaku. But whatever lah, lanjutin maksud lo tadi. Gue penasaran." Aleksis menyerut susu kotak keduanya. Menatap Nadia yang tampak ragu mengatakan sesuatu yang sudah ada di ujung lidahnya.


"Jangan ledekin gue."


"I promise." Aleksis mengangkat jarinya.


Nadia melirik sekelilingnya lalu mendekatkan sedikit kepalanya pada Aleksis "He kissed me." Ujarnya pelan. Nadia menggigit bibir bawahnya menunggu reaksi yang akan diberikan Aleksis namun tak seperti dugaannya Aleksis malah bereaksi biasa saja. Apa mungkin dirinya yang berlebihan menganggap ciuman sebagai sesuatu yang spesial?


"Ck. Kirain apaan. Sejak dulu kan Om lo gitu. Lo jug--."


"My lips." lanjut Nadia memegang bibirnya yang langsung membuat Aleksis terpaku. Susu kotak di tangannya lepas begitu saja, kedua bola matanya hampir keluar dari kelopaknya.


Nah, kan? Nadia meringis. Memang seperti itu harusnya reaksi yang diberikan Aleksis.


"In your whaaaat????"


"Gak cuma nyium gitu aja but--yeah, you know--like that video." Jelas Nadia putus-putus.


"WHAAAAAAAT??? OOOUUU MAIIIIII GOOOOSHHH!!!"


Nadia langsung membekap mulut aleksis dengan tangannya saat pengunjung lainnya menoleh pada mereka. Aleksis dan suara toanya.


"Ini Om Gibran kan? Om lo yang suci itu? Yang kalau ngomong aja males? Yang--yang---Ohhh wowwww, gue nggak bisa ngomong. Sumpah, Nad, ini berita besar. " Aleksis berujar tak percaya setelah Nadia melepaskan bekapannya.


Nadia mengangguk, ia juga tak percaya Om Gi nya yang mungkin sudah pernah memandikannya saat bayi, menggantikan pokoknya atau bahkan membersihkan pup nya bisa melakukan hal dewasa itu padanya. Lip and lip, skin and skin. Tak menutup kemungkinan laki-laki itu akan melakukan hal yang lebih lagi padanya. Pertanyaannya, apakah dirinya sudah siap untuk itu? Jawabannya hanya Gibran yang tau. Gibran pasti tidak akan memaksakan dirinya kalau Nadia belum siap benar.


.


.


.


"Iya, gue dan Gendis denger sendiri. Dia nangis di telpon sambil nyebut-nyebut club ini. Tadi kita liat semua kan, mobil hitam itu berhenti disini?"


Nadia, Aleksis dan Gendis mengangguk mendengar penuturan Sandra. Rencana mereka untuk nonton lagi-lagi gagal total. Mereka memutuskan mengikuti Cantika si anak baik-baik itu karena merasa ada yang tidak beres dengan teman sekolah mereka.


"Tapi cantika ngapain ke club gini? Kan nggak boleh masuk."


"Buktinya kita boleh." Ujar gendis menimpali ucapan Aleksis.


"Ya karena orang dalam." Lanjut Nadia yang tau persis bagaimana mereka masuk, si penjaga pintu ternyata salah satu orang yang juga pernah bekerja di The Narnia dan mengenal Aleksis dengan baik. KKN sepertinya memang menyenangkan. Nadia tergelak dalam hati.


"Ya udah, kita cari aja kedalam. Telinga gue udah sakit bangat, musiknya kekencengan." Keluh Aleksis si gadis club baik-baik.


Nadia mengangguk lalu dengan susah bayah ketiganya menembus kerumunan orang-orang yang sedang meliukkan badan mengikuti hentakkan suara musik yang dimainkan DJ. Untung saja mereka membawa jaket sehingga bisa melapisi seragam putih sekolah dengan jaket mahal yang menyilaukan kaum rakyat jelata yang suka hidup melebihi standar keuangan.


"Sebenarnya gue males ngelakuin ini apalagi kalo keingat kelakuan dia yang ngefitnah gue tapi sisi kemanusian gue malah meronta-ronta pengen gerak." Nadia berujar dengan volume kencang melawan suara musik yang benar-benar mampu merusak telinga.


"Gue juga sih. Tapi gak tega liatnya." Aleksis menambahkan.


"Sebagai trouble maker di nusantara, kita terdengar sangat mulia." Gendis menggumam yang langsung mendapatkan tatapan geli dari ketiga sahabatnya. Ibaratnya mereka ini seperti durian, di luar berduri-duri, di dalamnya manis, banyak yang suka.


"Eeeh eeeh itu si buruk rupa. Eeeeeh di seret loh." Aleksis langsung menarik teman-temannya untuk bersembunyi di tembok dekat belokan.


"Waduuuh, mau diapain tuh?" Nadia panik. Apalagi melihat seringai mengerikan dari seorang perempuan cantik dengan dandanan yang sangat terbuka. Hanya kulit badak yang tidak kedinginan dengan pakaian seperti itu. Keempat gadis itu mengintip, berusaha mendengarkan apa yang mereka ucapkan.


"Gue gak denger apa-apa." Ujar Sandra di dekat telinga Nadia.


"Sssshhtt... Nanti ketahuan." Aleksis memperingatkan ketiga sahabatnya. Mereka langsung menutup mulut dan melihat dengan hati-hati kearah dimana cantika sedang di bentak-bentak.


Plak!


"HOOHH!" Nadia dan ketiga sahabatnya sontak menutup mulut terbelalak saat perempuan itu menampar Cantika.


"HEI, SIAPA DISANA???"


"****** kita ketahuan. Lari lari lariiiiii!!!!" Aleksis berujar panik lalu menarik Nadia, Sandra dan Gendis untuk keluar dari tempat itu. Langkah lebar bersahutan mengejar mereka.


"Mau lari kemana kalian?!!" Dua orang berbadan kekar menghadang mereka. Dua orang lagi menyusul di belakang.


"******. Kita ke tangkap. Gimana ini?" Gendis berujar panik. Di kiri dan kanan mereka ada lorong dengan banyak pintu berhadapan.


"Lorong kanan!" Seru Aleksis, mereka semua lari dengan kecepatan penuh berbelok kedalam lorong namun sayangnya Nadia malah terpisah. Ia yang sedang panik tidak bisa berkonsentrasi antara kanan dan kiri akhirnya ia terjebak seorang diri di lorong kiri yang tampak gelap dengan penerangan lampu-lampu kecil. Nadia panik. Ketiga temanya sudah jauh pergi. Kanan dan kirinya hanya ada kamar dengan nomor-nomor tak jelas sementara suara langkah kaki di belakangnya sudah semakin dekat.


Tanpa pikir panjang Nadia langsung masuk ke dalam sebuah kamar yang tidak terkunci, saat di depannya hanya ada jalan buntu.


"Ya Tuhaaaan mati gueee." Nadia menarik nafas ngos-ngosan menyandarkan badannya di pintu berwarna hitam. Ia baru menyadari ruangan yang ia masuki itu tampak aneh. Sebuah ranjang besar berwarna merah dengan penerangan yang berasal dari lampu tidur mampu membantu Nadia melihat Borgol-borgol yang terpasang dibesi ranjang. selain ranjang hanya ada satu sofa panjang dan meja kecil tempat beraneka jenis minuman keras yang nadia tebak pasti harganya mahal melihat dari kemasannya.


"Aaah maniiiis, akhirnya datang juga. Come in!"


Nadia tersentak mendengar suara berat yang berasal dari seorang pria berwajah kaukasia yang berdiri di depannya hanya memakai celana kain berwarna hitam. Bentuk badannya kotak-kotak dengan tatto menghiasi hampir seluruh permukaan dadanya.


Nadia akhirnya sadar. Ia sudah salah langkah, salah masuk tempat, dan tentu saja salah karena tidak mendengarkan Om nya untuk tidak keluyuran sepulang dari sekolah.


"Maaf, salah masuk." Nadia hendak berbalik keluar dari pintu hitam namun cepat langkah gesit itu menahannya.


"No, sweety. Hanya ada pintu masuk, tidak ada pintu keluar." Ujarnya dengan suara berat.


Nadia mendorong badan yang menjulang di depannya. Ini berbahaya. Lelaki yang Nadia tebak seumuran Om nya itu menyeringai.


"Jangan sentuh gue!" Nadia menepis kasar tangan pria bertato itu saat hendak menyentuh pipinya.


"Wow, such a brave lil girl. I like it." Suara berat itu terkekeh, menghadirkan kengerian ditelinga Nadia. Ia tidak mau disini. Ia harus segera keluar. Sekali lagi Nadia berusaha membuka pintu namun gagal.


"Siniin kuncinya!" Nadia menatap marah lelaki di depannya yang kini sedang memainkan kunci di tangannya.


"No no no, maniiiis. Sebelum kita bersenang-senang, tidak ada yang boleh keluar dari tempat ini." Lelaki bertato itu mendekat hendak menarik tangan Nadia namun secepat kilat Nadia menghindar tapi sayangnya keputusannya untuk bergerak adalah salah karena sekarang ia malah terjebak jauh dari pintu. Nadia merasa hidupnya akan segera tamat saat melihat seringai di bibir laki-laki di depannya yang kini menatap tubuhnya dengan kurang ajar.


Langkah kaki pria bertato itu mendekat, Nadia mundur perlahan, berusaha mencari benda yang bisa menolongnya atau setidaknya ia bisa gunakan untuk mempertahankan diri. Namun sayangnya tidak ada apapun di tempat itu yang bisa gunkaan selain benda-benda tidak berguna yang seharusnya tidak ada disana.


Matanya menangkap keberadaan botol-botol di atas meja yang tidak jauh darinya. Dengan langka cepat Nadia mengambil satu botol dan memecahkannya.


PRAAANG!!!


"Lo mati kalau mendekat!" Ujar Nadia dengan tangan mengancung memegang bagian botol yang sudah dia pecahkan yang ia arahkan pada orang asing di depannya.


Laki-laki itu mengangkat tangan "Slow sweety, Kamu tidak akan berani melakukannya. You are a lil girl." Ujarnya dengan nada mencemooh.


Nadia tersenyum sinis. Oh ya? Badan mungil dan wajah imut polosnya hanyalah penyamaran untuk kelakuan bar-barnya, itulah yang Gibran katakan mengenai dirinya.


"Coba saja." Tantang Nadia dan saat itulah lelaki berbadan kekar itu bergerak cepat merah lengan Nadia yang memegang pecahan botol membuat Nadia yang tak siap terhunyung.


"Lepphaaaaasss!!" Nadia berteriak kencang dan karena tarikan kuat laki-laki itu, Nadia terhempas jatuh di lantai dengan kepala membentur ujung ranjang dengan keras.


Bruk!


Nadia memegang keningnya yang membentur ujung ranjang, darah segar mengalir. Perih dan sangat menyakiykan. Pandangannya berkunang-kunang, semuanya tampak buram dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Nadia meminta dalam hati--


Om, tolongin Nad.


Kesadarannya hilang bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat, menutup akses penglihatannya sepenuhnya. Samar sebuah suara memanggil namanya.


Nadia!


***