
"Lho, Om udah mau tidur? Kok udah selimutan aja." Nadia yang baru menyelesaikan pekerjaannya menyiapkan makan malam mendapati Gibran bergelung di dalam selimut. "Hangat" ujarnya saat tak sengaja menyentuh lengan Gibran. Ia mendekat menyentuh seluruh permukaan wajah Gibran dengan punggung tangannya "Om demam?" Gumamnya seraya menyentuh keningnya sendiri.
"Gak apa-apa Nad." Gibran menangkup tangan Nadia sembari mengulas senyum menenangkan. Wajah pucatnya menjelaskan sebaliknya.
"Gak apa-apa gimana coba, udah pucat gini." Tukas Nadia melepaskan tangannya dari kungkungan Gibran. Selalu saja Gibran menggapangkan rasa sakitnya padahal belum ada hukum yang memenjarakan seorang laki-laki yang ketahuan sakit.
"Istarahat bentar juga baikan" Ujarnya pelan.
"Ck gak ada ya Om kek gitu. Nad cariin obat bentar." Nadia hendak beranjak dari sisi Gibran namun lengannya ditahan oleh lelakinya itu.
"Disini aja." Ucap Gibran serak. Helaan nafasnya terdengar berat dan tak beraturan.
Nadia menghembuskan nafas pelan "Om harus minum obat. Tunggu bentar ya nanti Nad balik lagi." ucapnya lembut. Jemari lentinya mengelus lembut rambut cepak Gibran.
"Om gak butuh obat lain, mau Nad saja."
"Iya, Nad bentar aja kok. Cuma cek obat di depan."
Gibran menggeleng. Ia bergerak membaringkan kepalanya di pangkuan Nadia. "Begini sebentar." Pintanya lirih
Nadia lagi-lagi menghembuskan nafas keras. Huf, Kambuh lagi manjanya. Ia memperbaiki posisi duduknya senyaman mungkin. Tangan kanannya bergerak mengelus rambut Gibran sedang tangan kirinya menepuk-nepuk bahu lebar yang biasa menjadi sandarannya.
"Om ngapain di kantor? Kok bisa sakit gini?"
"Gak ngapa-ngapain."
"Gak ngapa-ngapain kok bisa demam gini. Om pasti main panas-panas ya? Ayo ngaku?" Nadia menghentikan elusan jemarinya di rambut Gibran, menunggu pengakuan lelakinya itu.
Gibran tertawa pelan "Kamu pikir saya anak kecil sakit gara-gara main panas? Ada-ada aja kamu ini."
"Ya siapa tau aja kan."
Gibran mengulum senyumnya "Tidak Nad. Cuma lelah saja."
"Tapi Om demam. Nad ambilin obat ya? Nanti kalau Om tidur bentar, Nad pelukin deh." Nadia memberikan penawaran pada bayi besarnya itu.
"Itu sih maunya kamu." Timpal Gibran sembari memperbaiki posisinya menghadap perut besar Nadia. "Ibu kamu modus, dek." canda Gibran yang langsung dihadiahi cubitan-cubitan kecil di lengannya oleh Nadia. "Aw, Nad--"
"Rasain! Iseng sih." Nadia berujar gemas sembari terus melayangkan serangan-serangan kecilnya. Tawa serak Gibran pecah di ruangan kecil itu dibarengi pekikan-pekikan sebal Nadia karena terus saja di goda oleh sang suami.
"Ampun, Nad, amphuuun awww!" Gibran menahan kedua lengan Nadia yang terus menyerangnya.
Nadia berusaha meloloskan tangannya tapi tenaga Gibran masih cukup kuat untuk menguncinya dalam kuasanya.
"Oke, udah ya. Om menyerah."
Nadia menatap Gibran manyun, "Jangan nyebelin."
"Iya, enggak nyebelin."
Nadia menghentakan tangannya agar terlepas dari genggaman kuat Gibran namun gagal. "Lepasin Nad."
"Janji gak nyubit lagi?"
Nadia mengangguk, "Janji."
"Ya udah, cium dulu." Gibran mengarahkan pipinya pada Nadia.
Cup.
"Udah." Ujar Nadia setelah memberikan ciuman kilat.
"Satunya." Gibran menyodorkan pipinya yang lain.
Cup cup cup. Nadia mengecup seluruh wajah Gibran.
"Udah semua kan? Sekarang lepasin tangan Nad. Om harus minum obat."
Gibran tersenyum lebar lalu dengan gerakan cepat menyambar bibir Nadia dengan bibirnya, menyarangkan satu kecupan kilat disana membuat yang empunya merona.
"Lagi sakit juga." Protes Nadia dengan wajah bersemu merah.
Gibran menyengir lebar lalu mengangkat kepalanya dari pangkuan Nadia pindah di bantal "Ambil obatnya gih."
Nadia mencebik, "Ck. Dasar laki-laki. Habis manis sepah dibuang." Dengan hentakan kaki kesal, ia keluar kamar mengecek persediaan obat yang biasa mereka simpan dalam kotak kecil di ruang tengah.
Nadia mencari-cari obat penurun panas yang selalu Gibran sediakan di rumah mereka saking seringnya ia mengeluhkan sakit kepala selama berada di tempat itu "Ck mana sih, perasaan ada banyak deh tapi kok--" Nadia terus mencari namun tidak menemukan obat generic yang ia butuhkan.
"Om, obat di kotak udah abis ya?" Teriak Nadia dari ruang tengah. Karena Tak ada sahutan dari Gibran, Nadia kembali ke kamar dan mengecek suaminya itu yang ternyata sudah terlelap dengan satu lengannya menutup keningnya.
"Kasian Om gue." Nadia bergumam menghampiri Gibran dan mengecup kening lelaki itu setelah meletakkan tangannya di samping tubuhnya "Jangan sakit. Nad bingung kalau Om sakit gini. Gak ada yang bisa Nad andelin." Ujarnya dan sekali lagi mengecup kening Gibran berikut seluruh wajahnya.
Nadia berjalan menuju pintu depan lalu mengintip keluar rumah. Suasana di malam hari sangat sepi seperti malam-malam biasanya. Tak ada orang yang berkeliaran untuk nongkrong atau sekedar menikmati suasana malam di luar rumah. Ia harus membeli obat untuk Gibran tapi kalau lelaki itu tahu ia keluar rumah seorang diri, sudah pasti tidak akan diizinkan. Oleh karena itu Nadia memutuskan untuk pergi diam-diam.
Nadia kembali ke kamar mengambil jaket milik Gibran yang di gantung di belakang pintu. Setiap gerakannya sangat hati-hati karena tidak ingin membangunkan Gibran. Setelah mengecek Gibran sekali lagi dan memastikan laki-laki itu masih terlelap, ia pergi keluar membawa hp sebagai penerang jalannya. Nadia menutup pintu dari luar dengan hati-hati. Ia bergidik saat angin malam menyapu wajahnya. Merapatkan jaket di badannya, Nadia melangkah hati-hati di tengah kegelapan yang hanya di bantu oleh sinar redup yang bersumber dari handphonenya.
"Bu Gibran? Mau kemana malam-malam begini?"
Nadia yang tadinya jalan menunduk mengangkat kepalanya. "Om Robi? Malam Om."
"Selamat malam. Ibu mau kemana malam-malam begini? Bapak dimana?" Robi melihat kebelakang Nadia tapi tak ada siapapun. Ia baru saja pulang dari sholat Isya dan singgah sebentar di warung untuk membeli mie instan untuk makan malamnya bersama Lucas.
"Mau ke warung Om beli obat. Om Gi demam." Jelas Nadia seraya menggaruk betisnya yang digigiti nyamuk.
"Warung disini tidak jual obat, Bu. Adanya di Puskesmas."
"Di Puskesmas? Jadi mesti nunggu besok ya Om? Duh, kasian Om Gi." Nadia berujar khawatir. "Apotik terdekat ada gak yah disini?"
Robi menggeleng, "Apotik adanya di kota saja, Bu. Mari saya antar di rumah distrik. Dokter Valeria pasti punya obat."
"Dokter Valeria ya?" Nadia bergumam pelan. Sebenarnya ia malas berurusan dengan dokter muda yang satu itu. Bukannya apa-apa tapi ia kurang nyaman saja ditanyai ini itu oleh orang yang belum dikenal dengan baik.
"Kenapa Bu? Atau nanti saya saja yang ke Distrik. Ibu pulang saja. Kasian sudah malam begini." Robi melihat gelagat tak nyaman dari Nadia menawarkan diri untuk menolong.
Nadia menggeleng, "Jangan Om. Biar Nad aja. Kasian Om Lucas pasti udah nunggu dari tadi." Biar bagaimanapun ia tidak boleh merepotkan orang lain, cukup Gibran saja yang repot untuk dirinya.
Robi yang khawatir membiarkan Nadia dengan keadaannya yang sedang hamil besar pergi seorang diri di malam hari akhrinya memutuskan untuk menemaninya "Kalau begitu mari saya temani, Bu. Bahaya jalan malam-malam sendirian."
"Gak apa-apa, Om? Trus mie nya?"
"Cuma ambil obat saja kan?"
Nadia mengangguk "Iya."
"Kalau begitu, Ayo." Robi mempersilahkan Nadia untuk jalan terlebih dulu.
"Makasih ya Om. Maaf ngerepotin."
"Sama-sama, Bu. Tidak merepotkan sama sekali."
Keduanya kemudian berjalan di tengah kegelapan dibantu pencahayaan Hp Nadia dan sinar bulan sabit yang redup.
"Bapak sakitnya sejak kapan, Bu? Tadi siang sepertinya beliau baik-baik saja."
Nadia mengedikkan bahu, "Taunya juga baru tadi Om. Om Gi tuh kalau sakit gak pernah mau ngaku, sok kuat."
"Mungkin bapak tidak mau membuat Ibu khawatir." Ujar Robi sembari berjalan pelan mengimbangi langkah kecil Nadia.
"Gini juga tetap aja Nad khawatir, Om. Om Gi tuh jarang sakit tapi sekalinya sakit, malah di diemin. Heran bangat Nad." Keluh Nadia. Gibran yang superior itu tetap saja manusia biasa yang bisa sakit atau terluka yang pasti membuat Nadia khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk. Nadia tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini selain Gibran jadi kesehatan Gibran sebenarnya adalah prioritas utamanya. Hal itu jugalah yang membuat Gibran menyimpan rasa sakitnya seorang diri karena dia sadar betul bagaimana khawatirnya Nadia pada dirinya.
"Namanya laki-laki, Bu, selalu ingin terlihat kuat."
"Nah, itu yang nyebelin." Potong Nadia cepat. "Laki-laki juga manusia jadi kalau sakit ya tetap aja butuh di rawat." Lanjutnya mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya. Akhirnya demi kedamaian dunia persilatan, Robi memilih menutup mulut. Nadia tentu membawa segudang argumennya yang tak akan mudah ia patahkan.
"Selamat malam, Bu." Sapa Robi pada pemilik rumah.
"Selamat malam anak berdua. Silahkan masuk." Ibu distrik membuka gerbang kecil yang menjadi penghalang hewan peliharaan mereka masuk dalam rumah. "Baru malam-malam begin dari mana?" tanyanya sembari menarik kursi untuk Nadia dan Robi.
"Dari rumah, Bu. Maaf mengganggu malam-malam." Jawab Nadia duduk di kursi yang disiapkan Ibu distrik di susul oleh Robi.
"Pele sayang eee... tra papa yo. Ibu heran saja kenapa anak berdua ini jalan malam-malam deng keadaan anak poro besar begini." Bu Distrik berujar penuh perhatian. Di usapnya lengan Nadia dengan sayag.
Nadia tersenyum tipis, "Tidak apa-apa, Ibu. Tadi saya mau beli obat buat Om Gi tapi kata Om Robi kios disini tidak menjual obat-obatan." Terang Nadia. Disampingnya Robi mengangguk sebagai pembenar ucapan Nadia.
"Aduh sayang eeee... kios-kios memang tra jual obat-obatan, trada yang berani. Baru bapak sakit apa? Malaria kah?"
Nadia menggeleng ngeri, jangan sampe ya Allah. Batinnya memohon. "Demam biasa ibu. Saya mau ke puskesmas minta obat tapi kata Om Robi Ibu dokter masih disini."
"Ah iya, betul itu. Tapi dong semua sedang keluar mengecek rumah dinas, bagaimana eee... "
Nadia menoleh pada Robi. "Gak ada dokter Om." ujar Nadia pelan.
"Su lama perginya kah, Bu? Nanti kami tunggu saja atau--" Robi melirik Nadia yang terdiam di kursinya, tampak gelisah "atau kami susul disana juga bisa." lanjutnya.
Bu Distrik diam sebentar, ia melirik ke dalam rumah melihat jam yang menempel di dinding. "Bapak demam biasa toh, anak?"
Nadia mengangguk, "Iya, Bu." jawab Nadia cepat. Urusan demam biasa atau bukan nantilah besok di periksa tapi sekarang Gibran harus minum obat penurun panas supaya keadaannya membaik.
"Kalau begitu ambil paitua pu obat saja. Kemarin paitua juga demam sedikit dikasi obat sama dokter dorang. Tunggu sebentar." Bu Distrik beranjak dari kursinya masuk ke dalam rumah. Nadia tak sempat mencegat akhirnya membiarkan saja. Ia merasa berat harus merepotkan orang lain.
Tak lama menunggu, Ibu distrik keluar membawa satu papan obat yang Nadia butuhkan "Ini, Anak. Kasi minum satu kali saja. Nanti besok periksa di puskesmas sana."
"Terima kasih, Ibu tapi ini kebanyakan." Ujar Nadia melihat satu papan obat yang diberikan Ibu distrik.
"Tra papa. Pake saja. Semoga bapak lekas sehat." Ucap Bu Distrik mengulas senyum hangat.
Nadia mengangguk, menerima dengan sungkan obat tersebut, "Terima kasih banyak, Ibu." ucapnya tulus.
"Sama-sama. Anak berdua pulang sudah. Kasian su malam sekali." Bu Distrik mengingatkan.
Nadia mengangguk, "Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih."
"Iya, anak, sama-sama."
"Kalau begitu kami permisi ya, Bu. Terima kasih banyak." Robi beranjak dari kursinya menyusul Nadia yang berdiri terlebih dulu. "Selamat malam."
"Selamat malam, Bu." Ucap Nadia sebelum meninggalkan rumah distrik.
"Selamat malam, anak. Hati-hati di jalan."
Nadia dan Robi kemudian meninggalkan rumah distrik membawa obat untuk Gibran.
"Makasih ya Om."
"Sama-sama, Bu."
Keduanya berjalan dalam diam melewati jalan gelap dengan hati-hati. Nadia memimpin jalan diikuti oleh Robi yang memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Nadia. Ia benar-benar mengkhawatirkan istri kaptennya itu.
Nadia hampir saja tergelincir batu kecil yang dipijaknya jika saja Robi tidak cepat menahan lengannya.
"Hati-hati, Bu." Ucap Robi khawatir.
"Makasi, Om. Batunya licin." Ujar Nadia kembali melangkah dengan hati-hati "Gelap bangat." gumam Nadia pada dirinya sendiri.
Tidak lama berjalan, mereka bertemu beberapa orang yang menggunakan hp di tangan masing-masing.
"Pak Robi, Bu Nadia?"
Nadia mengkangkat tangannya untuk menghalau silau di depannya. Ada Valeria dan tiga orang rekan setimnya.
"Selamat malam semua." Sapa Robi berdiri di samping Nadia.
"Selama malam." Balas ketiganya.
Nadia yang sedang menghkawatirkan Gibran di rumah seorang diri tak berpikir untuk menyapa atau berbasa basi.
"Bapak dan Ibu dari mana? Malam-malam begini." Suara Rani menyela. Valeria yang merasa terwakili diam menunggu jawaban dua pasangan di depannya.
"Dari distrik." Jawab Robi pendek. Disampingnya Nadia berdiri gelisah, tak sabar ingin cepat-cepat pulang. Bisa gawat kalau Gibran mendapatinya tidak berada di rumah. Wajah Nadia langsung jutek saat Rani maupun Valeria menatapnya penuh selidik.
"Om, Nad balik duluan ya." Bisik Nadia memastikan hanya Robi yang bisa mendengar ucapannya.
"Maaf, kami harus lanjut. Sudah sangat malam." Ujar Robi yang tak mungkin membiarkan Nadia pulang seorang diri.
"Oh iya, Pak, Bu, silahkan." Valeria memberi jalan untuk Nadia dan Robi.
Nadia tanpa pikir panjang melewati empat orang itu, "Permisi semua." Robi menyusul di belakangnya.
"Mari." Ucap Robi mengikuti Nadia pulang ke rumah.
Valeria memperhatikan keduanya menjauh. Tatapan prihatin jatuh pada Robi.
"Kasian sekali." Ujarnya lirih.
"Siapa yang kasian?" Tanya Rani berdiri disamping Valeria, juga memperhatikan dua orang yang baru saja berlalu.
Valeria melirik sinis Rani "Lo!" tukasnya lalu pergi meninggalkan tempat itu diikuti dua rekannya yang tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Sementara Rani, senyum evil terbit di wajahnya.
***
"Darimana?"
Nadia yang baru saja menutup pintu rumah terjengkat. Ia menoleh sembari menyengir kaku.
"Gak dari mana-mana." Ucapnya tercekat panik.
Gibran menatap Nadia dari ujung kaki ke ujung kepala "Kenapa pake jaket?" tanyanya curiga.
Nadia menunduk dan langsung menggigit lidahnya gugup, ma*pus gue.
"Dingin hehehe." Jawabnya. Cepat-cepat ia sembunyikan obat di belakang punggungnya. "Om kok bangun? Ada yang mau diambilin?" Nadia berjalan cepat menghampiri Gibran setelah tanpa sepengetahuan laki-laki itu meletakkan obat diatas kursi.
Gibran masih menatap Nadia curiga, disentuhnya pipi Nadia dengan telapak tangannya. Nadia mundur selangkah namun ditarik oleh Gibran "Pipi kamu dingin. Dari luar?"
Nadia menepis tangan Gibran, "Itu karena Om lagi sakit makanya apa-apa jadi dingin. Nad biasa-biasa aja kok." Elak Nadia sembari mengalungkan tangannya di lengan Gibran "Mau ke kamar mandi?"
Gibran belum mengalihkan perhatiannya dari istrinya. Nadia yang menyadari itu cepat-cepat mengalihkan perhatian Gibran "Om mau makan malam? Nad bikinin bubur, mau?"
Mendengar nama makanan yang sempat hampir merenggut indra perasanya disebut, perut Gibran langsung bergejolak. "Ng-nggak usah Nad. Nasi aja." tolaknya cepat.
"Nggak mau bubur? Ntar Nad bikinkan yang spesial. Mau ya?"
Spesial? Spesial pake kulit telor? Gibran bergidik ngeri membayangkan bagaimana bubur hangus buatan Nadia yang bercampur dengan cangkang telur. Benar-benar makanan orang sakit yang mengerikan.
"Nggak usah sayang, nasi aja cukup." Tolaknya halus. Jangan sampai Nadia menyadarinya, bisa-bisa pabrik susunya di tutup, lebih gawat lagi jatah malam jumatnya terancam di tunda tahunan.
Nadia mengangguk, "Oke deh. Om duduk gih." dituntunnya Gibran untuk duduk diatas ranjang. "Tunggu disini bentar, Nad ambilin makan." Dengan langkah cepat Nadia meninggalkan Gibran ke dapur.
Alhamdulillah Selamat. Ujar keduanya dalam hati.
***
Halo readeeer maaf ya udah lama gak up. selamat membaca. selamat bersenang-senang bersama Nad dan Om Gi.