
"Paman ngapain sih disini? Ngerusak mood aja tau nggak." Gendis bersidekap di depan pintu menatap malas pria tua di depannya.
"Mau jenguk Pia lah. Lo anak kecil ngapain ngalangin pintu?"
"Ck. Mending Paman ganti kostum dulu deh. Nad lagi sensi sama yang ijo-ijo gini." Tunjuk Gendis pada jaket Dewa.
"Heh?" Dewa yang sudah seperti tamu yang tak diinginkan melirik pakaian yang ia kenakan. Kaos polo putih, jaket army dan celana jeans. Tidak ada yang salah.
"Udah, pokoknya paman jangan masuk. Atau nggak, Gendis laporin nenek kalau paman udah boboin gendis."
Tuk!
Dewa mengetuk kening glowing Gendis gemas, "Jangan bawa-bawa backingan. Lagian gak usah halu. Kapan gue boboin lu bocah? Gak nafsu gue sama yang gak ada tonjolannya."
"Dih gak nafsu tapi bibirnya udah kemana-mana. Kalau Gendis gak kuat iman ya, Gendis udah habis diapa-apain. Awas aja kalau Gendis sampe kenapa-kenapa."
"Jangan gilak! Udah minggir!"
"Gak!"
"Minggir!"
"Enggak!"
"Minggir atau--"
"Atau apa?" Tantang Gendis memajukan wajahnya.
Kilatan licik mata Dewa tiba-tiba saja membuatnya merinding. Mampus gue.
"Gimana ya perasaan sahabat-sahabat lo itu kalau sampe tahu si polos ternyata udah pernah gituan?! Sama gue lagi, playboy cakep se-jakarta selatan."
"Mereka gak akan percaya omongan paman." Ujar Gendis sok tegar disituasinya yang terpojok.
"Omongan gue sih gak bakal di percaya tapi picture never lies, beb." Dewa menaik turunkan alisnya puas melihat wajah pias bocah di depannya.
Gendis menelan salivanya susah payah. Kalau sampai ketahuan, dia bisa di sate hidup-hidup sama tiga gadis bar-bar itu. Mereka kan menolak keras yang begituan before sah. Ya Tuhaaaan tolong Gendis.
"Ya udah, tunjukin aja. Palingan paman yang digantungin di baling-baling heli sama Om Gi."
Skakmat. Gendis tersenyum puas. Ayolah gaes, Gendis si lima besar se-nusantara gak mungkin kalah sama pria tua playboy cap kecoak terbang seperti Dewa. Impossible.
"LO--"
"APA?" Gendis berkacak pinggang menantang laki-laki yang sudah menyematkan cincin berlian di jari manisnya. Untung mahal, kalau tidak sudah ditenggelamin ke sungai amazon buat makanan piranha.
Dewa menjulurkan tangan dengan pose siap mencekik Gendis sebelum kemudian sadar akan keberadaan dua cewek bar-bar dan seorang bayi cantik yang tengah menatap keduanya dengan tatapan heran.
"Kalian berdua ngapain jadi pagar betis di depan pintu rumah gue? Mau gantiin pak udin apa gimana?" Nadia si tuan rumah bersuara. Di gendongannya Pia cengengesan menggerak-gerakkan tangan gembulnya bahagia.
"Picture apaan yang never lies, Om?" Tambah Aleksis menambah suasana di ruangan tamu mewah itu menjadi semakin semarak.
Dewa panik sementara Gendis biasa saja. Hebat sekali bocah santuy kesayangan neneknya ini.
"Foto Om Dewa nyihmmmpppph"
"Bukan apa-apa. Foto keluarga." Potong Dewa cepat sembari membekap mulut Gendis dengan telapak tangan lebarnya. Mati aja sih kalau sampai bocah tuyul ini keceplosan.
"Bener, Ndis?" Tanya Aleksis tak yakin apalagi melihat Gendis yang sedang dibekap oleh Dewa. Terlihat seperti pemaksaan kehendak.
Dewa menahan belakang kepala Gendis dan menggerakkannya atas bawah sebagai jawaban persetujuan.
"Ck udah. Jadi gak nih jalannya? Kalau nggak gue balik lagi nih ke kamar." Nadia mulai terdengar lelah. Moodnya benar-benar sedang dalam masalah besar dan itu sangat tidak baik bagi kedamaian antar genk.
"Jadi dong." Gendis melepaskan diri dari bekapan Dewa menghampiri Nadia dan Pia, "Biar Pia gue yang gendong." ia mengambil alih Pia dari gendongan Nadia.
Nadia dan aleksis saling melirik curiga. Gendis terlalu aneh, itu yang mereka pikirkan. Sedangkan Dewa, laki-laki itu berdiri di depan pintu mengawasi situasi.
"Kalian mau kemana? Gue supirin."
"Gak usah."
"Boleh."
"Terserah."
Tiga jawab berbeda secara bersamaan membuat Dewa mengerjap. Kompak bener. Penolakan keras tentu datang dari Gendis yang memang memasukan Dewa dalam golongan serangga yang harus diusir jauh-jauh. sementar Aleksis yang awalnya akan menyopiri perjalanan ini tentu saja bahagia sebab selain menjadi sopir, Dewa juga bisa sekalian menjadi ATM berjalan mereka. Dan Nadia, dia memang sedang korslet. Tidak mau ambil pusing terlebih kehadiran Dewa sedikit banyak mempengaruhi moodnya. Bisa tidak sih yang ijo-ijo ngungsi dulu ke gunung gede. Kali aja ketemu nyi pelet, ngerusak hati aja.
"Yuk lah." Aleksis menggandeng Nadia membawanya ke mobil sebelum istri si Kapten itu berubah pikiran.
"Gue di depan?" Gendis menatap horor jok depan yang disampingnya sudah diisi oleh Dewa.
"Iya. Biar Om Dewa ada teman berantemnya." Jawab Aleksis sembari menutup pintu mobil membiarkan Gendis dan Pia berdiri bengong diluar.
"Buru!" Teriak Dewa dibalik kemudi. Gendis yang sudah tidak punya pilihan hanya bisa meloloskan nafas pasrah mengikuti aturan alam yang menyebalkan. Ia melirik Nadia sekilas yang tampak kosong menatap keluar jendela. Cepat balik Om, ini istrinya udah kayak ayam sakit.
"Kemana nih?" Tanya Dewa saat keluar dari halaman rumah.
"Kemana aja yang penting tempatnya asik." Ujar Aleksis sembari memainkan hpnya.
"Club?"
"Paman aja yang ke club. Dasar ya mental kupu-kupu malam." Gendis melirik Dewa sinis yang hanya dibalas seringai mesum oleh playboy cap kadal yang sayangnya calon suaminya. Karma. Ya, ini mungkin karmanya karena selama ini sering sekali menolak cowok baik-baik dengan alasan klise sejagat raya, sudah menganggap mereka seperti abang sendiri. Ya Tuhan ampuni Gendis.
"Anak kecil tau apa soal club? Udah diem aja. Gak usah komen."
Gendis mencibir dalam hati. Tidak tau saja Dewa bagaimana the girls melewati angka 17 dalam hidup mereka dengan bersenang-senang. Kalau pria tua ini tau, bisa stop jantung sekarang juga karena ternyata gadis manis yang disangkanya hanya mengenal trigonometri dan jalan menuju sekolah serta Mall sangat hebat membedakan jenis minuman berwarna merah yang disajikan bartender. Hebatnya empat gadis bar-bar itu belum sekalipun menyentuh alkohol hanya karena satu alasan, belum cukup umur.
"Om, ke kafe deket sekolah aja." Nadia yang sejak tadi diam memotong keributan dua manusia di depannya.
"Kafe yang mana tuh?"
"The Sweet talk Cafe." Jelas Aleksis sembari menunjukkan gambar kafe yang dimaksud.
Dewa mengangguk. Diam-diam ia melirik Gendis yang asik mengajak Pia berbincang. Senyum kecil yang tak biasa tersungging di wajahnya. Bocah ngajak ngobrol bocah. Ngomongin apa? Harga susu apa popok? Tapi kok lucu ya. Tanpa ia sadari sepasang mata bulat Nadia mengawasi dari belakang dengan satu kesimpulan penuh bahwa The girls ditakdirkan berjodoh dengan Om-om yang hobinya main ke hutan main perang-perangan.
Welcome to the club, Ndis.
***
"Siap, yakin Komandan."
Komandan menghela nafas berat, "Baiklah jika itu yang sudah menjadi pilihanmu. Tapi saya masih tetap menunggu kabar baik. Surat ini akan saya simpan, kalau kamu berubah pikiran, temui saya."
Gibran menggeleng sembari tersenyum tipis, "Tidak perlu komandan. Berikan saja pada rekan-rekan lain." ujarnya yakin.
Bagi Gibran sekarang ini tidak ada yang lebih penting dibandingkan membersamai Nadia dan Pia. Ia ingin melewati hari-harinya kedepan bersama anak dan Istrinya. Gibran tak ingin kehilangan momen-momen penting pertumbuhan Pia dan tentu saja ia tidak mau melewatkan waktu melihat wajah lelap Nadianya saat malam dan senyum cerah istri nakalnya itu saat menyambut pagi. Cita-citanya sekarang bukan lagi menjadi yang terbaik dalam menyusun strategi perang atau memimpin pasukan. Ia hanya ingin menjadi suami yang selalu ada untuk istrinya dan ayah yang akan selalu menemani anaknya melewati semua fase dalam hidupnya.
Komandan tersenyum paham, "Dimanapun berada, tetaplah seperti ini. Menjadi pemimpin yang baik bukan hanya tentang memimpin ribuan pasukan. Tapi menjadi pemimpin yang bisa mengarahkan dirinya untuk tetap teguh pada prinsipnya. Dan saya melihat itu di diri kamu."
"Terima kasih, Ndan."
Komandan mengangguk, "Salam untuk anak dan istri kamu."
Gibran mengangkat tangannya menghormat, "Siap, disampaikan."
Komandan menepuk bahu Gibran lalu meninggalkan ruangan itu. Di depan pintu ia bertemu sang keponakan, Valeria, "Hanya sebatas ini yang bisa saya lakukan. Om harap kamu mulai belajar melupakannya. Dia sangat menyayangi keluarganya." Ujar Komandan lalu meninggalkan Valeria yang terpaku di tempatnya.
***
Gilak, ini gilak. Tekor gue nemenin tiga cewek bar-bar ini seharian. Gaji sebulan gueeee--hiks.
"Om sakit??"
"Hah?" Dewa melirik Nadia melalui kaca depan mobil. Istri sahabatnya itu memandanginya dengan intens, "Oh gak apa-apa. Aman." Aman dari hongkong, wa? Neeeek, ampuuuun. Pegangan di setir mobil mengencang. Menguatkan dirinya untuk tidak meraung-raung menangisi nasib saldonya yang terkuras hampir setengah.
Nadia terkekeh, "Sabar ya Om, ini belum seberapa. Tunggu Sandra balik, siapin gaji setahun."
"SUMPAH DEMI APAAAA?" Dewa membola. Sebenarnya cewek-cewek jenis apa komunitas tunangannya ini. Ah ya, crazy rich asian tentu saja. Dan dirinya hanyalah Pria biasa dengan gaji standar UMR ibu kota. Nasib ya nasib.
Nadia kembali tergelak. Sayang sekali Gendis dan Aleksis sedang tidur, kalau tidak, sudah pasti Dewa akan kembali menjadi bulan-bulanan. By the way, mereka bukan cewek matre hanya saja suka berbelanja. Beda kan ya?
"Tapi Nad jamin bakalan sepadanlah sama apa yang akan Om dapet. Gendis adalah yang terbaik diantara kami berempat. Jadi Nad titip pesan untuk tidak menyakitinya." Ucap Nadia dengan nada rendah diakhir kalimatnya. Ada kesedihan disana dan Dewa tau itu. Ini tentang Gibran sahabatnya yang belum juga berkabar, tepatnya belum mengabari Nadia.
"Khm, Nad--"
"Hm?"
"Maaf kalau kesannya gue ikut campur tapi kamu mengenal Gibran lebih baik dari kami. Dia mencintai kamu seperti orang yang kurang waras. Dia tidak akan mungkin menjadi brengsek dalam dua minggu. Pasti ada alasan kuat kenapa ia tidak berkabar sampai saat ini." Dan itu karena ia tidak mau membuatmu khawatir dengan kondisinya yang hampir koid. Dewa berujar hati-hati. Lidahnya gatal ingin membongkar semuanya di depan Nadia tapi ia tahu, Gibranlah yang berhak memberitahu Nadia tentang kebenaran ini.
Nadia mendengarkan sambil mengusap rambut Pia yang tertidur di baby seat-nya. "Entahlah, Om. Nad--" Nadia tidak melanjutkan kalimatnya. Ia pun tidak tahu perasaan apa yang mendominasinya sekarang. Kecewa, takut, atau kah rindu? Yang pasti hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Dewa membelokkan mobil putih itu masuk dalam gerbang rumah gedongan yang menjulang tinggi diantara beberapa rumah yang tak kalah mewahnya. Siapapun yang melihat pasti akan dibuat tercengang dengan mewahnya rumah besar milik pewaris Gaudia Grup ini. Sayang sekali rumah besar seperti ini hanya diisi oleh asisten rumah tangga sedangkan Gibran lebih banyak di hutan dan Nadia pun kebanyakan menghabiskan waktu diluar rumah bersama teman-temannya melancong keberbagai belahan bumi dan setelah menikah harus mengikut dimana suaminya berada.
Dewa memelankan laju mobil saat memasuki pekarangan rumah. Ia tercekat saat melihat sosok Gibran berdiri di depan pintu masih dengan seragam lengkapnya dan tas loreng tang tergeletak di dekat kakinya. Dewa menoleh kebelakang cepat dan tepat saat itu pintu mobil di buka terdengar di susul bunyi cukup keras. Pintu mobil gue--hiks. Mengabaikan pintu mobilnya, Dewa bergegas menyusul Nadia turun dari mobil sebelum perang dunia ketiga pecah di perumahan elit itu.
"Nad--"
Buk! Buk! Buk!
Dewa meringis melihat Gibran mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari kantong belanjaan Nadia.
"GAK USAH PULANG!" Teriak Nadia di depan wajah Gibran. Bahunya naik turun karena emosi yang meluap ditambah tangisannya yang mulai terdengar.
"NGAPAIN OM PULANG? NGAPAIN???" Nadia terus melanjutkan kemarahannya, memukuli Gibran dengan kepalan-kepalan tangannya yang tak seberapa kuat karena senjatanya sudah berhamburan di lantai. Tas hermes dkk tidak ada artinya lagi. Dewa rasa-rasanya ingin pingsan sekarang juga. Duiiit gueeee.
"Nad benci Om. Benci---hiks." Nadia menunduk dengan suara lemah. Kedua tangannya yang mencengkram kerah seragam Gibran mengendor.
"Sayang, ma--"
PLAK!!!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Gibran. Nadia menatap Gibran dengan tatapan menyala, "Jangan bicara sama Nad." Setelah mengatakan itu, Nadia langsung masuk kedalam rumah, mengabaikan panggilan dua sahabatnya yang terdengar khawati diikuti tatapan bersalah Gibran.
"Om gak apa-apa kan?" Aleksis dan Gendis menghampiri Gibran, sementara Dewa menyusul bersama Pia dalam gendongannya.
"Tidak apa-apa." Senyum haru Gibran terarah pada Pia yang wajahnya selalu ceria, "Anak ayah. Sini sayang." Gibran mengulurkan tangannya mengambil alih Navia.
"Gak apa-apa, Bro?" Dewa mengkhawatirkan bekas operasi Gibran yang tadi sempat mendapat amukan dari Nadia.
Gibran mengedikkan baru ringan "Saya pantas mendapatkannya." Jawab Gibran kalem. Perhatiaannya teralih penuh pada Navia, rasa sesal dan sedih merongrongnya saat melihat bekas jarum infus di punggung kaki bayi mungilnya. Diciumnya wajah Pia berkali-kali hingga membuat bayi itu menggeliat geli, "Maafkan ayah sayang. Maaf." ia mengecup bekas jarum tersebut berharap semua rasa sakit bayi kecilnya itu ditimpakan saja padanya.
"Om mendingan susul Nadia deh. Kasian bangat udah dua minggu ini nungguin Om." Aleksis mengingatkan.
"Iya Om. Biar Pia sama kami." Tambah Gendis.
Gibran mengangguk, "Terima kasih sudah menemani Nadia selama saya tidak ada. Saya titip Pia." Ia menyerahkan pada Gendis.
"Jangan kasar-kasar ya Bro." Dewa mengedip jahil pada Gibran yang hendak masuk dalam rumah. Disaat-saat seperti ini otak sahabatnya ini masih juga geser. Tanpa pikir panjang Gibran menendang tulang kering Dewa hingga laki-laki itu tersungkur di lantai.
"Welcome home, dude." Ujar Gibran tersenyum miring lalu bergegas menyusul Nadia.
"Kampret lo! Itu kalimat gue." Pekik Dewa meringis, memegangi tulang keringnya yang nyut-nyut.
"Kenapa Om Gi nendang paman?" Gendis bertanya bingung.
"Lagi On kalik." Jawab Dewa asal.
"On apa?"
Dewa melirik Gendis sebal. Gemas melihat kepolosan Gendis yang kadang-kadang berubah menyebalkan.
"Pernah dengar istilah Love after war?" Tanya Dewa iseng dengan smirk jahil andalannya.
"Jangan ngerusakin otak sahabat gue deh, Om." Aleksis sebagai salah satunya yang mulai mengenal otak mesum Dewa memperingatkan.
"Emang apaan?" Tanya Gendis penasaran.
"Udah, Ndis gak usah penasaran. Masuk yuk, kasian Pia." Aleksis segera mendorong pelan bahu gendis sebelum mulut somplak Dewa mulai mengada-ngada.
"Tapi gue--"
"Udah ih, masuk." Aleksis mendelik tajam pada Dewa yang malah cengengesan.
"Tenang Ndis nanti pamanmu ini contohin. Lo pasti ketagihan." Ucapan Dewa tertelan oleh bantingan pintu yang dilakukan Aleksis.
***