
Gibran berlari dengan langkah lebar menyusuri lorong rumah sakit. Beberapa kali ia hampir menabrak orang-orang yang lewat. Pikirannya hanya tertuju pada seseorang disana, Nadia.
Beberapa menit yang lalu ia mendaptkan telefon dari Jonathan yang terdengar panik menyebut-nyebut nama Nadia. Ia baru saja akan pulang ke asrama setelah menyelesaikan pekerjaannya dan kabar yang dibawa Jonathan tentang Nadia yang mengalami kecelakaan di sebuah club membuatnya hampir saja menabrak pembatas jalan. Nadia dan club, dua hal yang harusnya tidak bersinggungan. Gibran hanya bisa mengumpat berkali-kali mendengar penjelasan Jonathan tentang kronologis kejadian yang menimpa istrinya itu.
"Jo, Gimana Nadia?" Gibran menghampiri Jonathan yang sedang berdiri di dekat pintu ruang rawat Nadia.
"Sedang ditangani Dokter Elsa, bang." Jonathan menyalami seniornya yang tampak begitu kacau. Gibran mengusap wajahnya frustasi.
"Kejadiannya gimana, Jon? Pelakunya sudah tertangkap atau gimana?" Gibran tampak kalut, wajah kakunya tidak bisa menyembunyikan seberapa khawatirnya ia dengan keadaan gadis itu.
"Kalau alasan Ibu ke Club, saya kurang tau, bang. Cuma kebetulan saya sedang ada keperluan disana dan tidak sengaja melihat Ibu bersama teman-temannya. Awalnya saya ragu tapi saya ikuti saja, bang. Untungnya laki-laki itu belum sempat menyentuh, Ibu, kalau terlambat sedikit saja Ibu pasti---" Jelas Jonathan mengentikkan ucapannya. Wajah Gibran langsung pias. Ia melirik kearah kursi panjang di belakang Gibran dimana tiga orang gadis remaja sedang menangis.
"Udah Jon. Jangan di lanjutkan." Gibran beberapa kali kelepasan mengawasi Nadia tapi kali ini yang paling parah. Nadia, bagaimana jadinya gadis itu kalau sampai Jonathan terlambat sedikit saja, Gibran bahkan tidak sanggup memikirkannya. Gibran menoleh, baru menyadari keberadaan tiga orang gadis yang sedang duduk di kursi tunggu saling berpelukan.
Gibran menghampiri mereka. "Jelasin kenapa ini bisa kejadian sama Nadia! Kalian ngapain di club?" Gibran berucap dingin. Sangat jelas terdengar ia sedang menahan amarahnya pada anak-anak itu. Bagaimana mungkin anak-anak sekecil ini kepikiran untuk masuk club dimana banyak orang berbahaya di dalamnya.
Aleksis yang paling stabil keadaanya diantara Sandra dan Gendis membuka suara "Maaf, Om. Ini salah kami karena meninggalkan Nad sendiri." Cicitnya tidak berani melihat wajah Gibran.
"Kalian ngapain di club? Kalian bahkan masih pake seragam. Bisa-bisanya kalian lolos masuk ke tempat seperti itu." Gibran tak habis pikir. Bagaimana mungkin anak di bawah umur diizinkan masuk ke dalam club sedangkan aturannya jelas bahwa anak dibawah umur tidak diizinkan masuk ke tempat seperti itu. Gibran harus membuat perhitungan dengan pemilik club. Karena kelalaian ini, empat orang remaja bisa saja berada dalam masalah besar, seperti Nadia.
"Kebetulan kami kenal yang jaga Om." Gendis menjawab di sela tangisnya.
"Kalian kenal penjaga club? Astaga anak-anak ini." Gibran melipat bibirnya menahan diri untuk tidak meledak saat itu juga. Mengenal pegawai club? Gibran akan mengurung Nadia jika ternyata selama ia pergi bertugas, Gadis itu hidup liar. Bukan saja mengacau di sekolah, mereka bahkan main ke club, hebat sekali. Dan bodohnya, ia tidak pernah tau itu.
"Kalian biasa ke tempat seperti itu? Iya?" Gibran lagi-lagi mengusap wajahnya mencoba meredam kemarahannya.
Aleksis menggeleng kuat "Tidak Om. Kami gak main ke---"
Ceklek.
Gibran menoleh cepat saat suara pintu kamar terbuka. Elsa keluar diikuti oleh seorang suster yang mendorong peralatan medis yang dipakai untuk memberikan pertolongan pada Nadia.
"Duluan sus." Ujar Elsa kepada suster tersebut. Sang suster meninggalkan tempat itu untuk kembali melanjutkan tugas.
"Gimana Nadia, dok?" Gibran melirik ke dalam ruangan. Satu hal ia khawatirkan selain luka Nadia adalah trauma Nadia akan rumah sakit.
"Alhamdulillah nya hanya luka luar dan tidak perlu di jahit. Nadia hanya syok makanya dia pingsan." Terang Elsa. Ia yang sedang bertugas di UGD dikagetkan dengan kedatangan Jonathan menggendong Nadia dengan keadaan wajah di lumuri darah. Elsa kemudian melakukan pertolongan pertama dibantu suster untuk memeriksa gadis itu.
"Sebentar lagi Nadia bang--"
"AAAAAAAAAAAAA!!!"
Suara pekikan Nadia dalam ruang membuat mereka tersentak.
"Nadia?" Gibran segera membuka pintu lalu bergegas merengkuh gadis yang tengah histeris itu dalam pelukannya.
"AAAAAAAAAAA!!!" Nadia memberontak. Kedua tangannya menutup telingannya kuat.
"Nad, hei it's ok. Om disini." Gibran mengguncang pelan badan Nadia untuk mengembalikan kesadarannya.
"Om?"
"Iya, ini Om."
Nadia yang awalnya memberontak langsung luruh saat menyadari orang yang sedang memeluknya adalah Gibran, tangisnya pecah, membuat semua orang di ruangan itu termasuk Elsa kebingungan.
"Om, bawa Nad pulang. Nad nggak mau disini." Nadia menenggelamkan badannya dalam rengkuh menenangkan milik Gibran. Ia bahkan tak menghiraukan luka di kepalanya karena yang ia inginkan sekarang adalah keluar dari tempat itu.
"Om, bawa Nadia, pleaseeee!" Nadia mengiba, cengkraman di jaket Gibran semakin kuat. Perasaannya sangat kacau saat membuka mata yang dilihat adalah ruangan serba putih beraroma obat-obatan yang kembali mengingatkannya saat ia kehilangan orang tuanya. Darah yang banyak, dokter yang sibuk, serta orangtuanya yang tidak pernah bangun lagi.
"Iya, iya, Nad tenang. Kita akan pulang." Gibran menoleh pada Elsa yang diam melihat pemandangan di depanku. "Dok, apa Nadia bisa di rawat di rumah?" Tanyanya.
Elsa yang tersadar dari pikirannya sendiri langsung mengangguk "Bisa. Nanti Elsa resepkan obat. Nadia boleh abang bawa pulang." Ujarnya kemudian.
"Terima kasih, dokter." Gibran dengan hati-hati mengangkat Nadia yang bergelung diatas pangkuannya, gadis itu enggan membuka mata, masih tergugu dalam dada Gibran.
"Kalian bertiga, pulanglah. Istrahat. Orangtua kalian pasti khawatir." Imbuhnya pada ketiga sahabat gadis itu sebelum keluar ruangan diikuti Jonathan dan Elsa.
"Nad, gimana Leks? Gue takut dia kenapa-napa." Gendis menatap keduanya dengan wajah basah. Ketiga kaget, khawatir dan panik. Seharusnya tadi mereka menyusul Nadia bukan malah lari ke luar Club. Untung saja mereka bertemu seseorang yang ternyata mengenal Nadia, kalau tidak mereka pasti tidak akan memaafkan diri mereka sendiri.
"Nad tidak akan apa-apa. Dengar kan kata dokter tadi? Dia baik-baik saja." Terlepas dari luka di kening Nadia, Aleksis malah kepikiran dengan Nadia yang histeris seperti tadi. Nadia seperti kehilangam dirinya hanya karena ia berada di rumah sakit. Apa mungkin ada sesuatu yang mereka tidak tau?
***
"Nad baring di atas ranjang ya? Supaya enak istrahatnya."
Nadia menggeleng. Sejak mereka sampai dari rumah sakit, Nadia masih bergelung nyaman diatas pangkuan Gibran. Gadis itu tidak mau lepas dari Gibran. Elsa dan Jonathan yang ikut menemani mereka pulang hanya bisa melihat tanpa dapat membantu banyak. Elsa yang lagi-lagi harus melihat hal ini harus lebih membesarkan hatinya.
"Jon, tolong antar dokter Elsa ya. Pakai mobil saya saja." Ujar Gibran setelah tidak berhasil membujuk Nadia.
"Gak usah, Bang. Elsa sudah telfon supir. Sebentar lagi sampe." Tolak Elsa lembut. Ia berdiri kaku di dekat ranjang Nadia setelah memeriksa lagi gadis itu. Sejak masuk dalam kamar kecil bercat putih yang ditempeli banyak hiasan pink itu ia sudah di suguhkan dengan banyak hal sedikit membuatnya tak nyaman. Seragam sekolah Nadia yang tergantung disamping seragam PDH Gibran, meja kerja Gibran yang diisi laptop diatasnya berbagi dengan barang-barang khas anak sekolah, serta foto Nadia dan Gibran dimana di dalam frame berukuran poster itu Nadia yang mengenakan seragam SMP mencium pipi Gibran yang tampak memberikan senyum terbaiknya. Sepertinya foto itu diambil saat kelulusan Nadia terlihat dari slempang yang di pakai gadis itu dan juga buket bunga mawar serta boneka beruang yang di pegangnya.
"Sepertinya itu jemputan dokter Elsa." Ucap Jonathan membuat Elsa kembali tersadar dari keterpakuannya.
"Ah, iya. Kalau gitu, Elsa pamit ya Bang semoga Nadia lekas sehat."
"Iya, sekali lagi terima kasih dokter sudah mau repot-repot kesini." Ucap Gibran tulus.
Gibran mengelus puncak kepala Nadia. Gadis kecil dalam pelukannya itu sepertinya tertidur. Nafasnya terlihat lebih tenang.
"Jon, kamu boleh pulang. Terima kasih banyak sudah datang tepat waktu. Saya benar-benar sangat berterima kasih." Gibran berucap agar tidak membangunkan Nadia.
"Sama-sama, bang." Jonathan kemudian undur diri untuk pulang ke rumahnya.
Sepeninggal Jonathan, Gibran membaringkan Nadia dengan hati-hati, meletakkan kepala gadis itu diatas bantal tidak lupa menyelimutinya agar hangat. Ia melepaskan tangan Nadia yang mencengkram jaketnya dengan pelan agar tidak membangunkan gadis itu.
Nadia menggeliat dalam tidurnya. Airmata mengalir di pipinya. sepertinya kejadian ini sangat mengguncang jiwanya. Gibran mengelus puncak kepala Nadia dengan lembut.
"Maafin Om tidak bisa menjaga Nad dengan Baik. Maaf." ujarnya lirih.
***
Gibran menatap nyalang laki-laki di depannya seolah hendak mengulitinya. Tadi pagi Jonathan menelfonnya untuk memberitahukan perkembangan kasus yang menimpa Nadia. Sayang sekali karena laki-laki ini hanya diminta wajib lapor karena menurut penyelidikan, luka dikening Nadia disebabkan oleh benturan karena ketidak hati-hatian gadis itu. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Nadia di celakain. Sangat disayangkan padahal Gibran rasa-rasanya ingin mematahkan rahang pria yang memamerkan senyum penun kemenangannya.
"She is a beautiful girl, berani dan tentu saja menggemaskan."
Gibran mendelik tajam, "Berterima kasihlah karena kita sedang di kantor polisi sekarang. Semoga saya dan istri saya tidak bertemu lagi dengan seorang laki-laki brengsek seperti anda."
"Wife? Wow... how cute. Anda sangat beruntung bisa menikahinya. Tapi saya tidak akan menolak kalau anda mau berbagi gadis keci--"
Bugh!
"JAGA MULUT KAMU, BRENGSEK!" Gibran menarik diri dari pegangan beberapa orang polisi yang sedang di dekat mereka.
"Sekali lagi kamu kurang ajar, saya akan mengirim anda ke liang kubur." Ancamnnya lalu dengan langkah besar penuh amarah, ia meninggalkan tempat tersebut.
Seharusnya ia tidak mengirim orang itu di kantor polisi. Akan lebih baik jika ia memberi sedikit pelajaran pada laki-laki brengsek itu yang sidah berani melecehkan istrinya.
"Halo, Jon. Tolong cek siapa pria yang semalam sama Nadia. Dapatkan informasinya dan laporkan segera." Gibran menutup telfonnya setelah menyampaikan semua keperluannya.
.
.
.
Gibran sampai di rumah besar tepat pukul tiga sore. Nadia yang hari ini izin lagi dari sekolah, pagi tadi ia antar ke rumah besar.
"Bik, Nadia dimana? Kamarnya kosong." Gibran turun dari lantai dua menghampiri bibik yang sedang membuat minuman di dapur.
"Nona ada di taman belakang tuan. Ada teman-temannya." jawabnya.
Gibran mengangguk lalu berjalan ke taman belakang dan benar saja, ketiga sahabat istrinya itu ada disana. Dengan langkah ringan ia menghampiri keempat remaja itu yang kini tiga diantaranya saling melirik takut.
"Kalian disini ternyata."
"Assalamualaikum Om." Sapa ketiganya kaku.
"Waalaikumsalam." Jawab Gibran lalu duduk di dekat Nadia yang sedang cengengesan.
"Om baru pulang atau masih mau ke kantor lagi?" Tanya Nadia, Gibran tampak menyeramkan jika diam seperti ini apalagi menatap ketiganya tanpa senyum ramah seperti biasanya.
"Jemput Nad." Ujar menghela nafas lelah. "Kalian berempat jangan pernah main ke club lagi. Belum waktunya." lanjut Gibran.
"Maaf Om, kita cuma mau tolong teman." Ujar Sandra.
Gibran mengangguk. Ia sudah tau cerita tentang teman mereka itu dari Nadia saat pagi tadi sarapan, Nadia tanpa diminta menjelaskan alasan mereka masuk club.
"Kalau ada yang seperti itu, telfon polisi atau orang dewasa yang paham. Bahaya." lanjut Gibran.
"Kabar cantika gimana, Om? Dia beneran kerja disana?" Tanya Nadia penasaran. Tadi pagi Gibran juga menyampaikan masalah cantika dan setelah di cek, gadis itu memang pekerja disana sudah hampir satu tahun.
Gibran mengangguk "Iya."
Nadia dan sahabat-sahabatnya membelalak sempurna. Cantika yang merupakan siswa teladan, kesayangan guru-guru dan tentu saja si anak baik-baik kerja di club? Oke, kalau masalah ekonomi, memang Cantika tak seberuntung mereka dalam hal ekonomi tapi tidak semiksin itu juga karena bagaimanapun gadis itu masih memiliki orang tua yang merupakan PNS. Jadi kalau alasan uang dia bekerja, itu benar-benar nonsense sama sekali.
"Kalian mau laporkan sama sekolah?" Tanya Gibran lagi.
Nadia menggeleng "Nggak perlu. Dia mau ujian, sayang sekali kalau harus putus sekolah. Pintar loh dia, Om."
"Bener Om. Saingannya gendis." Tambah Sandra.
Gendis meringis, "Saingan apaan sih. Cantika urutan satu sedangkan gue sepuluh. Gak nyampe."
"Ya tetep aja. Dari pada kita, boro-boro masuk dua puluh besar, bisa naik kelas tanpa remedial aja udah alhamdulillah." Ujar Aleksis.
"Apapun itu. Om harap kalian tidak ke tempat berbahaya lagi. Om akan melarang Nadia berteman dengan kalian kalau mainnya ke tempat seperti itu." Ucap Gibran tegas, mengabaikan protes Nadia di sampingnya.
"Untuk kebaikan kalian juga." Lanjutnya.
"Iya Om." Jawab Sandra, Gendis dan Aleksis serempak.
***