
Nadia membuka matanya pelan yang langsung di suguhkan langit-langit kamarnya yang berwarna putih yang mulai menguning. Udara di sekitarnya sesak menghimpit dadanya tiap kali kenyataan tentang Gibran yang belum ada kabar beritanya mencuat mencuri semua keinginannya untuk membuka mata. Airmatanya menetes saat menyadari lagi-lagi ia terbangun tanpa ada Gibran disisinya.
"Nad, lo udah bangun?"
Ia menoleh dan mendapati ketiga sahabatnya berdiri menatapnya khawatir.
"Kalian disini?"
Aleksis mengangguk lalu membantu Nadia duduk menyandar di kepala ranjang. Wajahnya masih tampak pucat pasi menandakan keadaannya yang belum benar-benar pulih.
"Tadi lo pingsan di mobil." Ucap Sandra menyerahkan segelas air putih pada Nadia.
"Gue nggak haus" Tolaknya.
"Lo harus minum supaya gak lemes." Gendis mengambil gelas di tangan Sandra membantu Nadia meneguk air putih tersebut.
"Udah." Nadia menjauhkan tangan Gendis yang memegang gelas dari mulutnya.
"Lo makan ya. Udah dibuatin bubur sama bibik." Sandra mengambil piring diatas nakas lalu menyerahkannya pada Aleksis yang duduk di tepi ranjang.
"Gue gak mau makan." Nadia menggeleng pelan mendorong tangan Aleksis yang memegang sendok menjauh darinya.
"Nad sekarang lo gak sendiri. Ada nyawa lain yang lo harus pikirin selain diri lo sendiri." Aleksis menyentuh punggung tangan Nadia yang menatapnya dengan kernyitan.
"Nyawa lain? Maksud lo?"
"There's a baby." Aleksis menyentuh perut Nadia, menatap sahabatnya dengan lembut.
Nadia terbelalak, "G-gue ha-hamil?" Tanyanya tak percaya. Kedua tangannya menutup mulutnya syok. Kedua matanya membola menatap perutnya yang sedang disentuh Aleksis.
"Iya. Lo dan Om Gi bakal punya bayi. Makanya lo harus sehat supaya bayinya juga sehat." Tambah Sandra. Ikut berlutut di samping ranjang.
Nadia masih terpaku menatap perutnya tak percaya. "Bayi Om Gi?" Ulangnya. Tanpa terasa airmatanya meleleh kembali. Ada perasaan takut menghantuinya. Bagaimana nasib bayinya tanpa Gibran disisinya sedangkan dirinya sendiri tak memiliki kemauan hidup jika tanpa Gibran bersamanya.
"Gue nggak mau punya bayi. Gue gak mau!"
"NAD! STOP! LO NYAKITIN BAYINYA." Bentak aleksis menahan tangan Nadia yang tiba-tiba memukul perutnya berkali-kali. Sandra dan Gendis pun langsung menahan Nadia, memeluknya erat.
"Nad, please, jangan kayak gini." Sandra memeluk erat Nadia yang terus memberontak.
"Lepasin Gue! Gue gak mau bayi ini. Gue gak mau hidup." Ujarnya putus asa disela-sela tangisannya.
"Jangan Nad. Om Gi pasti sedih liat lo kayak gini. Ayo dong, lo kan kuat." Gendis ikut terisak tak tau lagi harus melakukan apa dengan keadaan Nadia yang seperti ini.
"Gue mau Om Gi. Tolong bawa Om Gi. Gue mau dia." Pintanya pilu. Nadia terkulai lemas dalam pelukan Sandra dan Gendis sementara di sisi lain Aleksis tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan Nadia yang begitu terpuruk akan kehilangan yang ia rasakan.
"Lo sayang Om Gibran kan? Lo gak mau bikin dia sedih kan?" Sandra mengguncang bahu Nadia yang terlihat hancur dan tak memiliki semangat hidup lagi. "Hidup dengan baik untuk dia. Jaga bayi kalian. Tunggu Om Gibran pulang dan katakan padanya kalau Lo bisa diandalkan." Diusapnya airmata Nadia dengan ibu jarinya. Nadia terdiam, mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh sahabat-sahabatnya.
"Lo gadis kuat Nad. Gak sekali lo ngalamin yang seperti ini. Dan sekarang lo punya alasan lebih untuk hidup, bayi ini." Gendis yang terduduk diatas ranjang mengelus rambut Nadia lembut.
"Lo cewek paling kuat yang pernah gue kenal seumur hidup gue. Lo pasti bisa." tambah Aleksis lalu keempatnya berpelukan saling berbagi, saling menguatkan. Nadia menangis keras dalam pelukan ketiga sahabatnya. Ia harus hidup, jika bukan untuk dirinya maka ia harus hidup untuk kehidupan yang ada dalam perutnya sekarang, bayinya dan Gibran.
***
Nadia keluar rumah menenteng tas hitamnya. Tatapannya jatuh pada motor Gibran yang sudah lebih dari sebulan tidak terpakai. Ia sudah memakai seragam persit lengkap. Hari ini ada pertemuan bulanan dengan para pimpinan untuk evaluasi hasil kegiatan selama tiga bulan belakangan. Nadia yang mendapat chat WA akhirnya memutuskan untuk menghadiri rapat di Aula kompleks. Meskipun mmendapat izin untuk tinggal di rumah, Nadia memilih untuk ikut dalam acara tersebut mengingat dirinya sebagai salah satu istri prajurit. Sampai saat ini ia sangat yakin bahwa disuatu tempat Gibran masih berjuang untuk hidup dan akan menemuinya lagi. Ia hanya perlu bersabar dan terus menunggu.
"Non, vitaminnya sudah diminum?" Bibik bergegas menyusul dirinya yang siap berangkat.
"Udah, Bik." Jawab Nadia mengulas senyum tipis. Bibik mengangguk senang, menepuk pelan punggung majikannya.
"Nona memang hebat. Si bayi pasti bahagia punya Ibu sekuat Non."
Nadia terkekeh, "Senang bangat kayaknya, Bik, sampai setiap pagi Nad dibuat mual-mual." candanya.
"Biasa Non kalau orang hamil muda begitu. Sabar saja."
Nadia mengangguk. Diliriknya jam tangannya. Supirnya yang izin keluar membeli bensin belum juga kembali sedangkan rapat sudah hampir di mulai.
"Dek Nadia belum berangkat?"
Nadia menoleh dan mendapati Ibu Agus yang memanggilnya duduk diatas motor matic.
"Lagi tunggu sopir, tan."
"Bareng aja, yuk. Saya boncengin." Ajak Bu Agus menjalankan motornya dan berhenti tepat di depan rumah Nadia.
Nadia menoleh pada bibik. Selain sama Gibran, ia tidak pernah naik motor di bonceng orang lain apalagi perempuan.
"Udah, Non ikut aja. Sepertinya Bu Agus lincah bawa motor."
Nadia mengangguk. Ia menghampiri Bu Agus setelah menyalami Bibik.
"Pelan-pelan ya, Tan."
"Siap, Dek." Bu Agus memacu kendaraannya dengan laju sedang melewati lapangan tempat biasa Gibran menghabiskan waktunya berolahraga. Nadia tersenyum pedih saat melewati tempat duduk yang biasa ia dan Gibran tempati untuk melepas lelah. Dalam hati di rapalnya doa terbaik untuk keselamatan Gibran dimanapun laki-laki itu berada.
"Gimana kehamilannya, Dek? Ada masalah atau apa gitu?"
"Syukurlah. Kalau ada apa-apa, misalnya pengen makan sesuatu, bilang aja nanti saya masakin." Ujar Bu Agus ramah. Nadia mengangguk. Dia tidak tau sejak kapan Bu Agus mulai bersikap ramah dan tidak menyebalkan seperti biasanya tapi yang pasti Nadia bersyukur bahwa masih banyak orang yang peduli padanya dengan keadaannya yang seperti ini. Ia akan hidup dengan baik, menunggu Om Gibrannya pulang padanya.
"Makasi, Tante." Ucap Nadia tulus.
"Sabar ya Dek. Saya dulu waktu ngidam anak pertama, bapaknya malah gak ada. Pas lahiran juga gak ada. Balik-balik si anak sampe gak ingat dek sama bapaknya. Sampe nangis kejer dia waktu bapaknya mau gendong. Yah mau gimana lagi, suami kita punya tugas mulia menjaga negara ini. Yang bisa kita lakukan yah hanya menunggu dan menunggu."
Nadia tersenyum kecil menanggapi curhatan Bu Agus mengenai masa-masa sulitnya. Setiap istri tentara ternyata punya ceritanya sendiri menjalani hari-harinya jauh dari suami. Ia hanya berharap saat Gibran kembali, ia tidak perlu mengenalkan bayi kecilnya pada sang ayah karena harapannya adalah ia bisa menjalani masa kehamilannya bersama Gibran disisinya.
.
.
.
"Udah di periksain lagi kandungannya? Kalau belum nanti tante bilang sama Elsa buat ke rumah Nad bawa dokter kandungan."
"Sudah, Bu. Kemarin dokter udah cek. Katanya harus rajin minum vitamin dan banyak makan buah." Jawab Nadia pada Mama Elsa. Mereka baru saja selesai ikut rapat dan kemudian Nadia diajak Mama Elsa ke ruangannya untuk mengobrol.
"Alhamdulillah. Pokoknya Nad gak boleh banyak pikiran. Nad harus selalu senang dan jangan stres supaya dedek bayinya juga senang di perut bundanya."
Nadia mengangguk pelan. Di elusnya perutnya yang masih rata dengan penuh kelembutan.
"Kalau ada apa-apa, Nad jangan sungkan sama tante, Om atau Elsa. Telfon aja pasti kami akan berusaha membantu."
"Iya, tante. Terima kasih banyak." Ucap Nadia tersenyum lembut.
"Ini hadiah dari tante buat Nad karena sudah menjadi wanita yang luar biasa tangguh." Nadia menerima kotak persegi yang cukup besar dari Mama Elsa. Kotak tersebut tampak sangat cantik dengan pita pink yang menghiasinya.
"Tan, ada kabar tentang Om Gi?" Nadia menatap mama Elsa dengan penuh harap. Sudah seminggu ini tidak ada lagi kabar mengenai pencarian Gibran dari pihak yang berwenang. Ia sudah menunggu dengan sabar tapi belum ada hasil juga.
"Sabar ya Nad. Tim masih terus mengusahakan yang terbaik untuk Gibran. Insya Allah cepat atau lambat pasti ada kabar untuk itu. Nad tetap berdoa ya semoga Gibran cepat ditemukan."
"Nadia selalu berdoa, Tan, untuk Om." Ujar Nadia lirih.
"Tante ngerti, Nak. Menjadi istri prajurit memang tidak mudah. Saat suami kita pergi ke tempat tugas, kita tak pernah tau apakah ia akan kembali atau malah tidak sama sekali. Kita sebagai istri hanya bisa menjaganya dalam doa, meminta sama yang maha kuasa untuk memberi penjagaan yang terbaik untuk mereka." Mama Elsa mengelus pundak Nadia, mencoba memberi kekuatan pada calon ibu muda itu. "Terus berdoa. Allah tidak akan pernah mengecewakan hambaNya yang tulus meminta."
Nadia mengangguk. Memang apa lagi yang bisa ia lakukan selain berdoa dan menunggu. Wanita yang sedang di dera berbagai masalah itu keluar dari ruangan Ibu ketua. Langkahnya terhenti saat melihat punggung Elsa dari kejauhan. Putri bapak komandan sepertinya sedang menelfon dan sangat serius. Sudah lama sekali Nadia tidak menyapa salah satu wanita yang mencintai Omnya itu. Terakhir kalinya saat mereka ke sebuah kampung yang cukup jauh dari kota setelah itu tak ada lagi interaksi keduanya. Menurut kabar yang ia dengar dari ibu-ibu kompleks, putri bos besar sudah memulai penelitiannya di kampung itu, akhirnya setelah dibantu Gibran dan Gio, ia bisa mendapatkan izin melakukan penelitian disana.
Langkah Nadia menghampiri Elsa terhenti saat mendengar ucapan Elsa di telfon.
"Menghentikan pencarian? Tapi kenapa pah? Bang Gi bisa saja masih hidup atau setidaknya kita harus memastikan keadaannya. Kenapa malah pencariannya di hentikan?"
"Apa? Pencarian Om Gi di hentikan?" Nadia menutup mulut tak percaya. Kenapa tiba-tiba?
"Nadia--"
"Tante, apa maksud ucapan tante barusan? Kenapa pencarian mau dihentikan. Om masih disana tante!"
"Nad, tenang dulu. Ini masih ren--"
"Tidak. Pokoknya tidak boleh. Pencarian Om gi harus tetap di lakukan." Nadia berlari meninggalkan Elsa yang terus memanggil namanya. Mana bisa seperti ini. Om Gibrannya masih di luar sana. Kenapa semua orang ingin menyerah saat ia sedang berjuang untuk terus menunggunya. Mengabaikan rasa perih di tumit akibat sepatu yang ia gunakan, Nadia terus berlari menuju salah satu ruangan yang ada di ujung.
BRUK!
"Om!"
"Nad--"
Nadia berlari menghampiri papa Elsa yang dikagetkan dengan kemunculan gadis itu yang tiba-tiba. Ia sudah mendengar dibalik telfon suara Nadia tapi tidak menyangka gadis itu datang menemuinya langsung.
"Om, yang tadi tidak benar kan? Om gak mungkin berhenti nyariin Om Gi kan?"
"Duduk dulu, Nad duduk yang tenang di kursi." Papa Elsa menggiring nadia yang tampak kacau di kursi tamunya.
"Om, jangan tinggalin Om Gi. Om Gi pasti lagi nungguin kita disana. Nadia mohon Om. Nadia mohooon." Kembali gadis itu menangis sesunggukan. Kedua tangannya menangkup tangan papa Elsa.
"Nad, dengerin Om. Ini juga berat untuk kami. Kapten Gibran adalah salah satu prajurit terbaik yang dimiliki angkatan ini tapi kita harus realistis, Nak. Ini sudah hampir satu bulan. Walaupun selamat dari pesawat, bagaimana orang bisa hidup tanpa makanan selama ini Nak? Hutan yang mengelilingi tempat itupun bukan hutan biasa. Kita tidak mendoakan yang buruk untuk Gibran tapi kemungkinan untuk keluar dari hutan itu hidup-hidup sangat mustahil, Nak."
"Gak. Om Gi pasti masih hidup.Tolong Om, jangan menyerah. Nad mohon. Kasihan Om Gi, jangan ditinggalin disana." Nadia terisak. Menjatuhkan badannya bersimpuh di kaki papa Elsa.
"Nad, bangun, Nak. Jangan begini." Papa Elsa menarik Nadia untuk kembali berdiri tegak.
"Jangan tinggalin Om Gi disana. Om Gi nungguin kita." Tangan Nadia mencengkram kuat kerah baju papa Elsa. Badannya sudah semakin lemah. Seluruh pandangannya mulai mengabur namun di bibirnya masih terus menggumamkan nama Gibran.
"Nad?" Elsa dan mamanya menyusul di belakang. Keduanya tampak terpukul melihat keadaan Nadia yang tak berdaya seperti itu.
"Ayo Nak sama tante. Nadia butuh istrahat." Mama Elsa mengambil alih Nadia dibantu oleh Elsa. Badan Nadia tak sanggup lagi menjejak di lantai, semuanya terasa berat untuk dihadapi wanita muda itu. Ia tidak tau kenapa hidup terasa begitu berat untuknya padahal ia sudah melakukan yang terbaik untuk bertahan tapi semua hal sepertinya tak berjalan sesuai apa yang dikehendaki.
Om pilih Nad sebagai istri karena Om yakin Nadia gadis yang kuat, bisa bertahan bagaimanapun sulitnya keadaan. Om milik Nadia. Tetaplah jadi gadisnya om yang kuat.
"Om Gi." Kesadaran Nadia hilang bersamaan dengan bayang-bayang Gibran yang tersenyum lembut padanya. Juga wajah kedua orangtuanya yang melambaikan tangan padanya.
Kenapa semua orang meninggalkan Nad? Bunda, Ayah, Om Gi, Nad mau ikut.
***