Little Persit

Little Persit
Menjadi Dewasa



"Untuk malaikat penolongku."


Oh My God.


Nadia speechless, siapa lagi ini? Ia tidak mengenal lelaki yang tengah menunggu bungannya di terima. Seingatnya ia belum pernah berkenalan dengan lelaki modelan anggota boyband dari negeri gingsen yang ada di depannya ini.


"Ambil."


Nadia mengerjap bingung. Ia yang semula memperhatikan cowok didepannya itu teralihkan perhatiaannya oleh sosok lain yang berdiri kaku tak jauh dibelakang.


"Om Gi" Gumamnya lirih. Om kesayangnnya itu tampak menyorot tajam kearah mereka. Jika tatapan Gibran punya kekuatan membunuh, maka cowok pembawa bunga itu sudah pasti terkapar karena tajamnya hunusan tatapan Gibran.


Nadia melihat situasinya tak menguntungkan dengan banyaknya pasang mata yang kini terang-terangan memperhatikan mereka hendak pergi untuk menghampiri Gibran tapi langkah kaki Gibran yang tanpa keraguan menujunya menghentikannya. Laki-laki yang mengenakan baju kaos hitam itu mengarahkan tatapannya pada bunga di depan Nadia, memberi kode sang istri untuk menerimannya.


Nadia sempat ragu, takut keliru mengartikan tatapan itu namun saat Gibran mengulas senyum tipis yang tulus, Nadia barulah yakin bahwa tidak apa-apa baginya menerima bunga itu.


"Terima kasih." Ucap Nadia canggung. Terus terang saja ia belum menemukan petunjuk siapa cowok bertindik itu.


"Permisi." Ujar Nadia berlalu begitu saja setelah mengambil bunga mawar dari cowok asing itu. Ia berjalan cepat menghampiri Gibran.


"Om Giiiii" Nadia memeluk Gibran erat. Ia sempat takut, khawatir dan bingung sepanjang hari ini. Berbagai pikiran buruk menghantuinya sampai membuatnya tidak konsentrasi dengan apa-apa yang dilakukannya tapi sekarang, pelukan Gibran seolah meluruhkan semua bebannya.


"Kangen?" Bisik Gibran yang tahu pasti bahwa sikapnya seharian ini membuat Nadia bingung.


Nadia mengangguk cepat, "Bangat." ujarnya manja.


Gibran terkekeh, mengusap rambut belakang Nadia yang dikepang rapi, "Bunganya cantik." Ucapnya setelah pelukan mereka terlepas.


Nadia memperhatikan bunga di tangannya. Memang cantik tapi lebih cantik bunga liar yang Gibran berikan padanya waktu itu, "Nad gak kenal dia." Ujarnya jujur. Tiba-tiba ada lelaki asing yang memberikan bunga seperti ini siapa yang tidak bingung?!


Kening Gibran mengerut.


"Beneran deh Om, Nad gak kenal. Tau-tau muncul bawa bunga. Gak jelas bangat." Ungkap Nadia sungguh-sungguh.


Gibran lantas memegang pergelangan tangan Nadia dan membawanya di hadapan pemuda yang menatap keduanya penasaran.


"Ini Nadia, istri saya. Nad--" Gibran memindahkan tangannya di pinggang Nadia dan memeluknya mesra, "Ini Angkasa, anaknya Komandan. Mahasiswa yang kamu tolong kemarin?"


Nadia melongok. Jadi cowok ini yang kemarin kepalanya bocor? Kemarin pakai masker, wajar saja ia tidak mengenali orang yang ditolongnya itu. Nadia melarikan tatapannya kebagian kepala cowok tersebut dan benar saja, ada kain kasa yang ada kepala yang tertutupi rambutnya.


"Dia istri Kapten? Yakin?" Pemuda itu bertanya sanksi. Masalahnya Nadia begitu muda sedangkan Gibran, meskipun terlihat bugar tetap saja kapten yang jadi idola banyak orang itu terlalu tua untuk Nadia.


"Yakinlah." Nadia yang menjawab nyolot. Dimata Nadia, tatapan cowok bernama angkasa ini jelas merendahkannya. Dan ngomong-ngomong, berarti emaknya orang ini yang nyiksa batin gue? Tiba-tiba Nadia ingin memukul kepala Angkasa dengan bunga di tangannya.


"Nadia istri saya." Ucap Gibran masih tetap menahan senyum diwajahnya.


Angkasa mengangguk-angguk. Sayang sekali. Jangan salahkan dirinya yang tertarik dengan sosok gadis pemberani ini karena sampai diumurnya yang menyentuh angka dua puluh ini belum ada seorang gadis pun yang berhasil melintas dikepalanya. Dan giliran ada, ternyata sudah dimiliki oleh orang lain, pemiliknya bukan orang sembarangan lagi. Ia harus punya sembilan nyawa jika berani mengusiknya.


"Thanks buat yang kemarin. Lo nyelamatin nyawa gue." Ucap Angkasa tulus pada Nadia. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan langsung disambut oleh Nadia.


"Sama-sama. Senang lo idup." Ujar Nadia tersenyum tipis. Angkasa terkekeh, tangannya gatal ingin mengacak puncak kepala Nadia tapi lebih baik ia menahan diri kalau tidak ingin jadi manusia buntung.


"By the way, Kapten, anda sangat beruntung." Tambah Angkasa pada Gibran yang tak melepas tatapannya dari Nadia, "She is an extra ordinary, Girl."


Gibran mengangguk samar, "I know." Ujarnya seraya mengecup sisi kepala Nadia. Wanita cantik kesayanganya itu mesem-mesem kesenangan.Jarang-jarang Gibran mau menunjukkan sisi romantisnya di depan umum. Biasanya kalau sudah begini, itu artinya Omnya ini merasa terancam akan keberadaan orang baru yang tertarik pada dirinya. Lucu sekali kesayangannya ini. Tenang aja Om, hati Nad udah milik Om sepenuhnya. Nadia balas merangkul Gibran dengan mesra.


"Pulang?" Tanya Gibran lembut. Nadia yang masih berbunga-bunga mengangguk cepat.


Gibran mengulurkan tangannya dihadapan angkasa, "Kami permisi." ucapnya yang disambut anggukan oleh Angkasa.


"Oh ya, silahkan, Kapten. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama." Gibran menggandeng sang istri yang senyumnya tidak juga luntur, "Ayo, Nad."


"Yuk!" Nadia melangkah riang dengan tangan saling menggenggam erat dengan Gibran.


Dari tempatnya berdiri Angkasa menatap punggung kecil Nadia sembari tersenyum kecil.


Gilak, gue belum berjuang, udah ditolak aja.


.


.


.


Gibran memandangi wajah polos Nadia yang tertidur di kursi mobil disampingnya. Mereka sudah berada di garasi rumah besar tapi Gibran memutuskan untuk belum membangunkan Nadia. Sepanjang jalan Nadia mengoceh, menanyakan sikap Gibran yang sedikit aneh sejak semalam dan Gibran mengatakan bahwa ia hanya merasa bersalah karena menempatkan Nadia di posisi yang berat, dikelilingi oleh orang-orang toxic yang membencinya hanya karena ia istri dari seorang Gibran Al Fateh.


Gibran mengambil tangan Nadia dan mengecupnya penuh cinta.


"Nad gadis yang baik. Sangat baik. Saya sangat beruntung bisa memiliki gadis manis sehebat kamu. Maaf sudah membuat kamu menjalani hari-hari yang berat." Bisiknya lembut ditelinga Nadia.


Rahangnya mengetat mengingat banyaknya omongan kasar dan cacian yang dilontarkan pada Nadia yang bahkan tidak tahu apa salahnya. Gibran tidak menutup mata bagaimana orang-orang selalu menatap rendah dan penuh curiga pada Nadia yang telah menjadi istri dan Ibu diusia muda. Gadis kecilnya ini sangat hebat bisa menanggung semua dukanya dan tetap tumbuh menjadi seorang yang ceria. Berusaha membagi waktunya antara tugas kuliah dan kewajibannya sebagai seorang istri dari abdi negara serta tugasnya sebagai seorang ibu yang harus mengandung, melahirkan dan sekarang menyusui. Dan puncak kemarahannya adalah ucapan Elsa semalam. Ia tidak mengira Elsa begitu tega mencoba memfitnah Nadia. Sepertinya bukan jiwa Elsa tidak sakit tapi mentalnya memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


Kilasan omongan Elsa bukan hanya menyakitkan untuk Gibran tapi membuatnya benar-benar sangat marah hingga ia memilih diam jika tidak, mungkin ia bisa menghancurkan meja kaca di ruang tengah Elsa. Berani sekali wanita itu memfitnah istrinya. Gibran bahkan melihat dengan jelas di mobil medis ada Elsa yang melihat secara langsung bagaimana Nadia berusaha sekuat tenaga menolong seseorang dan Elsa dengan mudahnya mengarang cerita bahwa Nadia bersama dengan seorang lelaki muda. Pasangan manis? Gibran menggelang tak percaya bagaimana perasaan cinta telah mengubah Elsa yang dulunya wanita muda yang sangat cerdas dan bijaksana menjadi seorang yang picik dengan mengatasnamakan perasaannya sebagai pembelaan.


"Maaf sayang." Ucap Gibran lirih.


"Wajarlah, Nad wanita yang jujur dalam bersikap, pasti banyak yang ingin menjadi temannya."


Kalimat itulah yang mampu ia ucapkan ditengah usahanya menahan diri agar tidak menghancurkan meja. Percuma rasanya menjelaskan tentang Nadia dihadapan orang seperti Elsa yang dihatinya nyata ketidaksukaan. Ia benar-benar menyesal harus mendengar fitnahan tentang istrinya dari orang seperti Elsa yang selama ini ia anggap sebagai teman. Nyatanya peringatannya waktu itu tidak membuat Elsa berhenti.


"Om kenapa?" Nadia terduduk panik saat melihat wajah suram Gibran. Ia menangkup wajah suaminya itu khawatir, "Om?" Tanyanya lagi dengan suara bergetar. Ia jarang sekali melihat Gibran sesuram ini. Pasti ada sesuatu yang mengusiknya.


Gibran menggeleng, "Tidak apa-apa, Nad." Elaknya tapi Nadia tidak semudah itu percaya.


"Jangan bo-ong. Om ada masalah?" Tuntut Nadia.


Gibran tersenyum kecil masih tetap bungkam, "Let me hug you." bisiknya parau.


Nadia mendekat, memeluk Gibran erat mendaratkan kepala suaminya itu di dadanya. Diusapnya rambut sang suami dengan penuh kasih sayang. Nadia tidak tahu apa yang sedang dirasakan Gibran tapi jika pelukannya bisa meringankan bebannya maka ia bersedia memeluk lelaki itu hingga ujung usianya.


"Berat ya jadi istri saya?"


"Hah? Gimana?"


Gibran mengusap rambut Nadia lembut, "Pasti berat jadi istri saya. Bertahan ya, Nad. Tetap disamping saya."


Nadia tidak paham apa yang sedang terjadi tapi kalimat permintaan Gibran ini terdengar bukan Gibran. Tanpa diminta pun ia akan setiap disamping laki-laki ini. Ia bisa bertahan hidup dengan baik sampai sekarang semua karena Gibran. Ia tidak menjadi gila setelah semua kehilangan yang ia rasakan karena Gibran disisinya. Jadi rasanya sulit membayangkan dirinya pergi meninggalkan suaminya ini.


"Berjanjilah." Pinta Gibran serius.


"Iya, Nad janji. Insya Allah Nad akan selalu sama-sama Om." Ucap Nadia sembari mengeratkan pelukannya pada Gibran. Tuhan, jika ada yang mengusik perasaan Om Gi, lapangkan dadanya, mudahkan urusannya. Nadia menutup mata, menghirup wangi Gibran yang sudah menjadi parfum favoritnya.


"Om--" Nadia mengambil jarak agar bisa menatap mata Gibran, "Kalau ada apa-apa, Nad ada disini untuk Om Gi. Mungkin bagi Om, Nad hanyalah gadis remaja yang masih labil yang tidak tau apa-apa. Tapi Nad pendengar yang baik kok Om. Percaya deh."


"Iya, itu Om tau. Om punya akses bebas untuk meluk Nad kapanpun dan dimanapun." Ucapnya malu-malu.


"Noted!" Gibran meraih kepala Nadia dan mengecup keningnya lama, "Terima kasih sayang."


"Sama-sama sayangnya Nad." Balas Nadia melakukan hal yang sama pada Gibran.


"Ayo turun, Pia pasti sudah menunggu." Ajak Gibran membantu Nadia melepas seatbeltnya. Nadia mengangguk, senang sekali karena perasaannya sudah lega dan tenang kembali. Semua baik-baik saja.


Nadia turun dari mobil menyusul Gibran masuk dalam rumah.


Saat sampai dalam rumah, bukan Pia yang menanti mereka berdua melainkan disambut oleh Gendis yang tampangnya sangat mengenaskan, disampingnya ada Dewa yang terihat kebingungan menghentikan tangisan Gendis yang membahana di seluruh ruang tamu.


"Lo berdua kenapa?" Nadia mengangkat keningnya, menghampiri dua tamunya itu diikuti oleh Gibran yang langsung duduk di sofa single.


"Naaaaaad, gue ternodaaaaa." Adu Gendis menatap jijik pada Dewa yang menggeleng cepat, "Dia pelakunya!" tunjuk Gendis.


"Jangan sembarangan lo bocah!" Elaknya tak terima tuduhan Gendis. Bisa gawat kalau Gibran otaknya ketutup cinta buta Nadia, bisa jadi sasaran tinju dia, "G-gak gitu brooo! Astagaaaaa!" Dewa mengacak rambut frustasi melihat tatapan tajam Gibran.


"Dih emang bener, Om udah nodain Gendis."


"Buset! Berasa brengsek bangat gue."


"Emang."


Dewa menatap tak percaya, "Kalau gue brengsek, udah lama lo lahirin."


"Nah kan? Kalian dengar kan?" Gendis melipir syok menunjuk wajah Dewa, "Om-om genit!"


Dewa menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa. Tidak paham lagi dengan tuduhan-tuduhan yang Gendis layangkan padanya, "Tolong siapapun, jelaskan pada si bocah tuyul ini kalau tidur sambil pelukan gak bisa bikin hamil. Gedek gue!"


"Yakin cuma pelukan aja Om?" Tanya Nadia memincing curiga.


Dewa mengangguk, "Yakin gue."


"Gak. Om nyiumin Gendis sampe gendis sesak nafas untung gak mati." Sela Gendis mematahkan pembelaan Dewa yang speechless tidak mengira Gendis sefrontal itu. Astagaaaa!


"Siapa suruh lo mancing-mancing duduk diatas ***** gue." Balas Dewa tak mau kalah.


"Ih enggak ya. Om yang mulai endus-endusin leher Gendis, 'wangi bangat Ndis, gue suka' gitu ngomongnya. Dasar pr*vent!"


"Tapi lo juga nikmatin. Ngaku aja deh yul. Sampe desah-desah nyaring gitu. Untung kamar gue kedap suara."


"Itu karena Om nger*mes dada Gendis."


BRAAAK!!!


"WOEEEE!!!"


Anjiiir sakit bangat tangan gue. Nadia meniup-niup tangannya yang terasa kebas setelah menggebrak meja. Tiga orang di ruangan itu terdiam. Nadia menghembuskan nafas kasar, memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing. Tatapannya memincing bergantian pada Gendis dan Dewa.


"Lo berdua gak sekalian ngerekamin adegan itu buat ditayangin di bioskop?" Nadia menggelengkan kepala tak habis pikir, gila aja kan dua orang yang katanya dewasa ini malah berlomba mendeskripsikan adegan tak lulus sensor, mend*sah, mer*mas, oh ya ampuuuun itu kan adegan buat orang yang sudah menikah seperti dirinya dan gibran.


Dewa dan Gendis menunduk dalam.


"Sekalian noh ribut di depan jalan biar sekompleks dengar kelakuan lo berdua. Emosi gueee." Nadia mengelus dadanya mencoba sabar.


"Khm sorry." Dewa yang mula-mula membuka suara. Katakan saja ia jadi ketularan oon semenjak sering berinteraksi dengan tuyul cantik ini.


"Maaf." Cicit Gendis juga.


Gibran yang sejak tadi hanya menonton berdehem, "Jadi intinya apa?" tanyanya to the point.


Dewa mengangkat kepalanya, "Sumpah Bro, gue nggak sampai ngerusak ini anak. Tapi namanya laki-laki dan perempuan disatu ruangan yang sama yah yang gituan wajar terjadi."


"Gak wajar kalau Om bisa nahan diri." Potong Nadia cepat.


"Diam dulu, Nad." Tegur Gibran mengingatkan.


Nadia mencibir lalu berdiri berpindah untuk duduk dipangkuan Gibran, "Nah ini baru wajar. Suami istri sah di depan Tuhan dan negara." ujarnya bangga, "Ya kan Om?"


Gibran tak menyahut tapi tangannya terulur melingkar di perut Nadia.


"Kalian berdua kenapa tidak menikah saja?" Lanjut Gibran tenang.


"Gak mau!"


"Jangan aneh-aneh, Bro!"


"Ya teruuuus, Om Dewa dan gendis maunya zina aja, gitu?" Nadia memutar bola mata malas," Ini nih kesayangan dakjal, gak mau nikah, maunya nikmat aja." sindirnya telak.


"Ih Nad, lo kok ngomongnya jahat sih." Gendis berujar sedih. Masa dirinya jadi kesayangan dakjal sih hanya karena khilaf sesaat.


"Bukan jahat, Ndis. Lo emangnya mau hamil di luar nikah? Ntar anak lo jadi anak h*ram. Mau lo? Gue sih ogah ya bayi selucu Pia dipanggilnya 'Eh, ada anak h*ram' ih amit-amit." Nadia bergidik ngeri. Kalau tidak dilebih-lebihkan seperti ini, Gendis bisa selamanya tersesat. Dewa yang dewasapun tidak bisa diharapkan untuk lebih menahan diri. Haduh kasian sekali kamu Ndis, ketemunya modelan Dewa si buaya loreng. Nadia berdecak miris.


Ruangan berkhas mediterain itu mendadak sepi. Tak ada yang membuka suara hingga kemudian--


"Bocah--"Panggil Dewa lembut.


Gendis yang matanya sudah berair mendongak, "Apa?"


Dewa beranjak dari kursinya lalu mengambil bucket bunga yang teronggok dilantai. Ia menghela nafas pelan sebelum kemudian berdiri dengan kedua lututnya dihadapan Gendis sembari mengulurkan bunga.


"Nikah sama gue, mau?"


***


Cihuiiiii jadi ada yang ngelamar niiiiih dilapak orang. Di terima apa ditolak aja si buaya loreng? 🤣


Dan dua remaja kita yang bikin para om-om huru hara



Kasihanilah buaya loreng ini pemirsaaaah... pusyiiiiiing ngadepin kelakuan tuyul cantiknya



Om Gi kita yang tersayang yang tdk pernah sadar kalau dirinya bucin tak tertolong.



end yang penasaran dengan penampakan angkasa si anak pak komandan., nih author kasi pencerahan... 😎