Little Persit

Little Persit
Tugas Negara diatas Keluarga



"Nad buruuuu!!! Tuh orang gantengnya lewat"


"Bodo amat ya San. Lo jadi cewek murahan bangat. Liat yang sipit KW aja udah kayak liat lee min ho lewat depan lo. Malas gue." Nadia menjatuhkan kembali kepalanya diatas mejanya. Seperti biasa The girls saat jam istrahat berkumpul atau berpencar mencari mangsa. Kali ini Nadia memilih tinggal di kelas ditemani Sandra yang ributnya ampun-ampunan.


"Guru baru, Nad. Boleh nih kita say hello dulu."


"Terserah." Say hello yang dimaksud sandra tentu saja bukan beramah tamah di depan guru tersebut melainkan memberikan kejutan selamat datang di Nusantara dengan berbagai kejahilan yang selalu mengantar mereka ke ruangan BP.


"Lo sakit? Pucet lho." Sandra menghampiri Nadia yang terkulai lemas dimejanya.


Nadia menggeleng "Gak tau nih. Badan gue rasanya rontok semua." Ujarnya dengan suara lirih.


"Gue antar ke UKS yuk." Sandra memapah Nadia yang terlihat tak bertenaga menuju UKS yang ada di ujung lorong.


Sepanjang lorong menuju UKS Nadia terus merintih menahan nyeri yang mencengkram perutnya. Seingatnya ia sudah makan di rumah dan tidak memakan jajanan sembarangan juga lalu rasa nyeri ini kenapa tidak mau berhenti.


"Baring disini. Gue panggil petugas UKS dulu."


Nadia mengangguk lemah. Rasa nyeri di panggulnya benar-benar menyakitkan seolah ada yang sedang mengiris-ngiris bagian dalam perutnya.


Drtt... drtt...


Susah payah ia mengambil hp yang ia simpan dalam kantong rok sekolahnya. Nama Gibran tertera di layar telfon. Nadia meloadspeaker hpnya dan meletakkannya di dekat kepalanya. Matanya terpejam merasai sakit yang tak kunjung reda.


"Assalamualaikum Om."


"Waalaikumsalam Nad. Kamu kenapa? Suara Nad kedengarannya lemas?" Disebrang sana Gibran terdengar khawatir.


Nadia menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak mengeluarkan ringisan yang bisa di dengar oleh Gibran.


"Gak apa-apa, Om. Biasa lah Nad ngantuk bangat selesai matematik." Bohongnya, satu setetes airmata mengalir di pelupuk matanya. Ia sudah tidak tahan lagi dengan cengkraman di perutnya. "Ada apa Om?" Tanyanya kemudian.


"Om ada tugas pengamanan selama dua hari. Nad kalau tidak berani di rumah, nanti langsung ke rumah besar saja." Ujar Gibran. "Tapi benar Nad tidak apa-apa kan?"


Nadia menggeleng, airmatanya jatuh merembes diatas bantal UKS "I am ok." Katanya singkat.


"Om akan pulang tepat waktu."


Nadia mengangguk "Harus." Nadia sudah tidak tahan lagi, perutnya terasa panas dan menyakitkan "Sudah ya Om, ada guru." Katanya cepat lalu memutuskan sambungan telfon.


"Sssshhhhh sakiiiit." Nadia meringkuk seperti bayi menekan perutnya kuat-kuat.


"Ya Tuhan Naaaad... Lo berdarah!!!" Sandra berlari menghampiri Nadia bersama seorang dokter sekolah yang juga tak kalah panik melihat keadaan Nadia.


"Bawa ke rumah sakit." Teriak dokter menarik ranjang dorong Nadia di bantu Sandra.


"Om angkat please --ARGH BANGKE!!! Kemana sih Om Gi?!" sandra memencet layar hpnya sembarangan sembari terus berlari mendorong ranjang bersama petugas UKS yang terus memanggil Nadia untuk tetap sadar. Ia tak lagi memperdulikan orang-orang yang penasaran melihat salah satu pentolan sekolah mereka terbujur lemas diatas ranjang pasien.


"Leks, Lo izin atau bolos kek, cari Om Gi diasrama. Nadia masuk rumah sakit. Berdarah." Ujarnya panik pada Aleksis yang entah ada dimana.


"Cepetan!" Teriaknya.


"Nad bertahan, please." Sandra mengusap pipinyanya yang basah. Ia tidak tahan melihat Nadia yang kesakitan seperti itu. Darah segar terus mengalir tanpa henti membuat Sandra semakin ketakutan mengingat kandungan sahabatnya.


"Adek bayi, bertahan ya Nak. Kasian mami papi kamu nungguin hiks." Sandra melap ingusnya dengan kasar. Kenapa banyak sekali cobaan yang menimpa Nadia seperti tak ada habisnya sahabatnya itu di rundung malang.


Jangan lagi kali ini ya Tuhan, Nad bisa hancur. Sandra terisak, ia tidak pernah berdoa dengan betul-betul selama ini karena semua hal yang diinginkannya selalu ia bisa dapatkan tapi kali ini ia benar-benar memohon dari hatinya yang paling dalam untuk sahabatnya.


Di depan sekolah, ada Gendis yang sudah menunggu di depan mobil ambulans. Kali ini Sandra benar-benar mengakui kecekatan Gendis, ia bisa memikirkan ambulans saat Dia dan Aleksis tak terpikirkan sama sekali.


"Izinin guru, Ndis. Lo nyusul." Ujar Sandra masuk ke dalam mobil ambulans bersama dua orang perawat.


"Oke."


"Terima kasih kak." Ujarnya pada dokter sekolah.


"Jangan lupa kabari kakak."


Sandra mengangguk lalu menutup pintu ambulans.


.


.


"Halo, gimana leks? Gak ada? Trus gimana dong, gue nggak ngerti apa-apa?" Sandra menghapus airmatanya dengan kasar. Didalam ruangan Nadia terus merintih menahan sakitnya di temani oleh dokter dan perawat yang memeriksanya.


"Lo kesini cepet. Gue takut- hiks." Sandra terduduk diatas lantai rumah sakit. Ia tak lagi mempedulikan lantai yang kotor atau yang penuh dengan kuman penyakit, ia blank melihat Nadia seperti itu belum lagi Gibran yang tidak bisa di hubungi.


"Dek, kamu temannya Nadia kan?"


Sandra mendongak dan mendapati seorang wanita anggun memakai jas dokter menyapanya. Sandra mengangguk tapi belum juga memiliki petunjuk mengenai wanita berparas lembut di depannya.


"Saya dokter Elsa, temannya Nadia." Lanjut Elsa saat melihat kebingungan remaja di depannya.


"Sandra, Dok." Balas Sandra menahan isakannnya.


"Kenapa nangis? Siapa yang sakit?"


"Nadia, Dok."


"Nadia? Ya Allah." Elsa mengintip melalui pintu kaca dan benar saja, di dalam Nadia tengah diperiksa oleh dokter.


"Dia kenapa? Bang Gibran mana?" Tanya Elsa sembari mengeluarkan hp dari dalam saku jas dokternya.


"Nad berdarah, Dok. Om Gi gak tau kemana. Disusulin ke rumah gak ada." Terang Sandra.


Elsa mengangguk membawa Sandra untuk duduk di bangku tunggu "Kamu tenang ya, saya akan coba telfon Bang Gibran."


Elsa mengamit telfon di telingannya. Ia mendesah kasar saat tak mendapatkan jawaban dari Gibran. Ia terus mencoba sampai kelima kalinya belum juga ada tanggapan dari Gibran. Laki-laki itu tidak mengangkat panggilannya sama sekali.


"Halo, Bang Gio. Bang Gibran dimana? Nad masuk rumah sakit."


"..."


Elsa mengusap wajahnya panik "Tugas pengamanan? Jadi gak bisa dihubungi?"


"Keluarga Pasien?"


"Kami, Dok." Elsa memutuskan sambungan telfon secara sepihak lalu menghampiri Dokter diikuti Sandra di belakangnya.


"Dokter Elsa?"


"Dia saudara sepupu saya, Dok" Jelas Elsa saat melihat Dokter di depannya mengerutkan kening. "Gimana keadaan pasien, Dok?"


Dokter tersenyum getir "Maaf, bayinya tidak bisa di pertahankan--"


"Ya Allah--"


"Nad--" Sandra menutup mulutnya menahan tangisannya. Keguguran?


"Jadi gimana Dok?" Tanya Elsa khawatir.


"Rahimnya harus dibersihkan supaya tidak membahayakan kedepannya." Jelas Dokter tenang.


Elsa mengucap beristighfar berkali-kali. "Pasien pingsan, Dok?" Tanya Elsa melihat Nadia menutup matanya tenang.


"Dia kelelahan menahan sakit. Sebentar lagi akan bangun dan pembersihan harus segera dilakukan. Kalau ada suaminya atau walinya, kita butuh persetujuan untuk mengambil tindakan."


"Sebentar ya Dok, kami coba hubungi suaminya."


"Baik. Kami permisi." Dokter dan perawat meninggalkan Elsa dan Sandra yang tampak kebingungan dengan keadaan yang mereka hadapi. Nadia tidak memiliki keluarga lain selain Gibran. Di rumahnya hanya ada para pembantu yang tentu saja tak akan lebih mengerti dari mereka tentang masalah ini. Elsa mengurut batang hidungnya berusaha memikirkan jalan keluar yang harus diambil.


"Dok, kasihan Nad. Ini gimana jadinya?!" Sandra menggenggam tangan Elsa meminta penjelasan.


Elsa menghela nafas pendek "Tidak ada jalan lain. Janinnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Nadia harus membersihkan dinding rahimnya agar tidak meninggalkan darah kotor disana. Bahayanya nanti bisa saja tumor atau kangker rahim kalau dibiarkan begitu saja."


Sandra menutup mulutnya syok "Kangker?"


Elsa mengangguk. Dalam dunia medis, yang terbaik bagi seorang yang mengalami keguguran adalah pembersihan kandungan meskipun beberapa orang memiliki kepercayaan bahwa hal itu nantinya akan menyulitkan sang calon ibu untuk memiliki anak. Tapi apapun ikhtiarnya, sang pemutus tetaplah yang maha kuasa.


"Kamu tunggu disini. Temani Nadia takutnya ia bangun dan-- you know what I mean. Saya akan mencoba menghubungi bang Gibran lagi." Ujar Elsa menepuk bahu kecil Sandra.


"Baik, Dok. Terima kasih."


"Tidak perlu berterima kasih. Nadia dan Bang Gibran adalah teman saya juga." Elsa tersenyum tipis lalu meninggalkan Sandra yang tampak kacau dengan pipi basah dan hidung merah.


Nadia membuka mata pelan. Ia mengerutkan kening menatap langit-langit yang tampak asing dimatanya. Bau disinfektan dan obat-obatan menyebar khas rumah sakit. Nadia meringis memegang perutnya, ia terkejut mendapati tangan kanannya dipasangi infus.


"Nad--"


"Lo disini?"


Sandra mengulas senyum tipis "Iya. Tadi gue yang nemenin lo kesini. Aleks dan Gendis lagi on the way."


Nadia mengangguk lemas "Gue kenapa, Sand? Perut gue sakit bangat tadi."


Sandra tersenyum getir. Ia tidak berani mengatakan apapun pada Nadia. Sebaiknya dia menunggu dokter yang menyampaikannya langsung.


"Gue nggak tau. Nanti tanya dokter aja ya." Ucapnya memegang tangan Nadia yang tidak diinfus.


"Baju gue siapa yang gantiin?" Tanya Nadia saat menyadari tak lagi mengenakan seragam sekolahnya.


"Suster. Lo tenang aja." Sandra menepuk-nepuk bahu Nadia, ia tidak tahan melakukan ini, membohongi Nadia seolah semuanya baik-baik saja. Tapi ia juga takut resikonya kalau memberitahukan Nadia yang sebenarnya. Tanpa terasa airmata jatuh dari sudut matanya.


"Lo nangis?"


Sandra cepat-cepat menghapus airmatanya lalu berusaha memberikan senyumannya yang malah terlihat seperti ringisan "Gue panik tadi." Kilahnya. Nadia tersenyum lemah.


"Gue nggak apa-apa kok. Biasa sih ini, mungkin adek bayi sedang main bola di perut gue." Kata Nadia mengelus perutnya dengan sayang. Sandra yang melihat hal itu tak bisa menahan tangis langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Nadia yang kebingungan melihat sikap aneh sahabatnya.


"Adek bayi jangan nakal dong, papa nya lagi tugas. Ibu nanti kerepotan kalau sendiri." Ujarnya pada perutnya yang sebenarnya sudah tidak ada janinnya.


Sandra yang mendengar itu di balik pintu terduduk lemas menahan isakannya. Bagaimana kalau Nadia tahu bayinya sudah tidak ada lagi. Pasti perasaannya akan hancur dan Sandra tidak bisa membayangkan seberapa banyak kesakitan yang akan dialami Nadia dengan kenyataan ini.


Nad, lo pasti kuatkan? Sandra menduduk dalam diantara kedua kakinya.


"Sand, Gimana Nadia?" Aleksis dan Gendis berlari menghampirinya. Sandra langsung menghambur dalam pelukan kedua sahabatnya itu.


"Nad keguguran--"


"HAH KEGUGUR--ngmphhhh"


"Ssssshttt jangan berisik." Sandra membekap mulut Aleksis. Ia menggeleng kuat pada Aleks dan Gendis meminta mereka untuk diam. Aleks dan Gendis tak bisa menahan keterkejutan mereka. Keduanya ikut menangis memikirkan sahabat mereka.


"Trus gimana?" Tanya aleksis berbisik.


"Kandungan Nadia harus dibersihkan. Tapi dokter lagi tunggu persetujuan keluarga buat ngambil tindakan."


"Kuret maksud lo?" Tanya Gendis memastikan. Sandra mengangguk sementara Gendis dan Aleksis semakin syokk dibuatnya.


"Gue bel--"


"AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"


"NADIA!!!" ketiganya bergegas masuk ke dalam ruangan menghampiri Nadia yang tampak syok dengan tangan berlumuran darah segar. Bersamaan dengan itu Dokter dan seorang perawat masuk diiringi oleh Elsa.


"Nad, Nadia!" Panggil Elsa menepuk pipi Nadia. Dipegangnya tangan Nadia lalu ia meraih kain kasa yang ada di dekat meja untuk membersihkan darah tersebut.


"Kita harus segera melakukan pembersihan."


"Pem-pembersihan?" Nadia menatap dokter tak mengerti. Kedua tangannya dalam kuasa Elsa. "Ma-maksud dokter?" Tanyanya terbata.


Dokter menghela nafas sebelum menyampaikan kabar buruk pada pasiennya "Janin Ibu tidak bertahan dan harus dilakukan pembersihan rahim untuk memastikan tak ada darah kotor yang tertinggal disana." Terang dokter tenang berbanding terbalik dengan Nadia yang tampak hancur mendengar kenyataan bahwa ia tak lagi memiliki Adek bayi dalam perutnya.


Nadia menggeleng kuat "Tidak. Dokter pasti salah. Adek bayinya masih disini, dok. Dia di perut Nad- adek bayinya aman disini, Adek--DOKTEEEEER!!!" Nadia histeris mencoba melepaskan diri dari Elsa yang terus menahannya yang kini dibantu oleh Aleksis dan Sandra. Sementara itu Gendis hanya bisa menangis melihat sahabatnya hancur untuk kesekian kalinya.


"Istighfar Nad, Istrighfar!" Elsa menarik Nadia dalam pelukannya, manahannya disana sembari memberi kata-kata penguatan. Elsa lebih senang melihat Nadia menyebalkan, membuatnya emosi daripada melihat istri orang yang dicintainya dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Terlalu banyak luka yang dirasakan Nadia. Entah apa rencana Tuhan untuk gadis kecil dalam pelukannya ini. Tapi apapun itu, Elsa percaya bahwa tidak ada cobaan yang akan Nadia dapatkan melebihi kapasitas kemampuannya.


"Beri penenang, sus."


***


"Assalamualaikum, bang. Nadia keguguran." Elsa bisa mendengar kekagetan dari Gibran disebrang sana. Laki-laki itu menyebut nama Tuhan berkali-kali.


"Lalu bagaimana, Dok?"


"Nadia harus di kuret." Elsa duduk di ruang tunggu memegang hp di telinga kirinya. Dia baru saja menghubungi papanya untuk mendapatkan akses ke Gibran sehingga sekarang akhirnya ia bisa berbicara dengan laki-laki itu.


"Lakukan yang terbaik, Dok. Maaf, saya titip Nadia." Gibran terdengar tegar diujung telfon sana tapi Elsa tahu pasti betapa hancurnya perasaan seorang calon ayah saat mengetahui ia kehilangan calon anaknya.


"Nad menangis terus, bang. Elsa tidak tega." Katanya menghapus airmata dipipinya.


"Nadia gadis yang kuat. Dia pasti bisa melaluinya."


"Iya, Nad kuat."


"Dok, bisa saya bicara dengan Nadia? Waktu saya tersisa tiga menit."


"Bisa, Bang. Sebentar." Elsa bergegas masuk ke dalam ruangan. Nadia tampak lebih tenang. Gadis itu diam menatap langit-langit kamar namun Airmata tidak berhenti mengalir dari sudut matanya.


"Nad, ada Om Gi?"


Nadia menoleh tapi tak mengucapkan apa-apa. Elsa memutuskan meloadspeaker suara hp dan meletakkannya tak jauh dari Nadia.


"Ini Nad, bang." Ucap Elsa memberi tahu.


"Halo, Nad. Ini Om. Jangan menangis lagi ya sayang. Adek bayi sekarang sama Kakek dan Nenek, dia baik-baik saja disana


Maafin Om tidak bisa disamping Nad. Nadia pas--"


"Kapten!" Suara seseorang dari sebrang menginterupsi Gibran.


"Nad, Om harus tugas lagi. Nad pasti kuat. Doa Om selalu menyertai Nad. Assalamualaikum."


Tut tut tut...


Tangis Nadia pecah bersamaan dengan sambungan telefon yang terputus.


Elsa menahan isakannya. Mungkin ini alasan Gibran memilih Nadia karena jika iya yang ada di posisi Nadia, mungkin sekarang ia akan mengutuk Gibran yang tidak bisa mendampinginya saat-saat tersulit dalam hidupnya. Elsa paham tugas seorang TNI dan bagaimana aturan itu berlaku dalam kehidupan militer bahwa Tugas diatas keluarga tapi tetap saja membayangkannya terasa sangat sulit di terima. Bagaimana mungkin dalam kesulitan yang dialami seorang istri setelah kehilangan calon buah hatinya, seorang prajurit masih tetap harus menomorsatukan tugas dan kewajibannya. Itu sangat kejam tapi begitulah kenyataannya.


***


Selamat jalan adek bayi. 😢