Little Persit

Little Persit
Usaha mendapatkan Maaf



Gibran berdiri tak jauh dari bibir lapangan. Ia bisa melihat dengan jelas dari tempatnya berada sekarang bagaimana Nadia tertawa lepas memburu layang-layang putus ke ujung lain lapangan bersama anak-anak desa yang kebanyakan anak laki-laki. Gibran duduk di salah satu batu besar. Pikirannya mengelana pada kejadian semalam. Ia tidak tau harus memulai bagaimana permintaan maafnya pada Nadia karena begitu besarnya kesalahan yang telah ia buat.


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore saat sosok Nadia terlihat mendekat bersama anak-anak. Sepertinya gadis manis yang menguncir rambutnya asal itu tidak menyadari kehadiran Gibran di sekitarnya.


"Eh ada Om juga."


Gibran tersenyum lembut saat Nadia tersentak dengan sapaan anak kecil yang melihat duluan kehadiran Gibran.


"Sudah selesai mainnya?" Tanya Gibran pada anak-anak itu tapi matanya tak lepas memandang Nadia yang malah membuang pandanganya ke tempat lain.


"Iya, Om. Kami buatkan untuk Kak Nadia juga satu." Lapor mereka sembari menunjuk layang-layang warna merah yang di pegang oleh Nadia.


"Bagus." Ucap Gibran beranjak menghampiri Nadia namun gadis itu dengan sengaja menghindarinya. Gibran menghela nafas pendek. Ia sudah menduga usahanya tidak akan berjalan mulus. Nadia tentu saja sudah menyiapkan amunisi untuk menghadapinya.


"Yuk, Dek, kita pulang." Ajak Nadia pada anak-anak kecil yang dengan senang hati mengiringinya. Sementara Gibran mengikuti mereka dalam diam. Sesekali meringis saat Nadia dengan sengaja memukul menyindirnya.


"Kalau sudah besar nanti jadi laki-laki yang baik ya Dek, yang menghargai perempuan."


"Menghargai artinya apa kak?"


"Tidak membuat perempuan menangis apalagi sampai ngatain yang buruk." Jelas Nadia melirik tajam Gibran dengan sudut matanya. Gibran tersenyum samar, ia tidak tahu bagaimana ceritanya sampai pembahasan ini diangkat oleh Nadia apalagi audiensinya anak-anak di bawah umur.


"Siap kak. Kalau ada yang bikin kakak Nangis, bilang sama kami supaya dimasukin di dalam parit." Ujar Salah satu anak berkepala plontos.


"Ah bener." Nadia berseru senang sementara Gibran hanya menjadi penyimak curhatan hati Nadia pada bocah-bocah kecil itu.


"Kakak jadi menginap kan? Mama sudah masak banyak. Enak loh kak masakan mama."


"Siap." Nadia bertos dengan anak laki-laki tersebut. "Bilang sama mama jangan nerima tamu lain ya Dek."


Anak kecil berkepala plontos itu menoleh pada Gibran "Teman kakak, teman kami juga kok." Ujar si bocah kecil yang berpikir Nadia tidak enak dengan kehadiran orang baru di rumah sederhana mereka.


"Om temannya Kak Nadia boleh gabung kan?" Gibran menimpali cepat saat melihat Nadia akan membuka mulut.


"Iya, Om. Mama pasti tambah senang." Ujar bocah lelaki itu yang langsung mendapat usapan lembut di kepala plontosnya dari Gibran. Sementara disisi lain Nadia sebal setengah mati. Usaha kaburnya selalu saja gagal. Sepertinya Gibran memasang alat pelacak di dalam tubuhnya hingga selalu bisa menemukan lokasinya atau mungkin dia sendiri yang diam-diam berharap Gibran menemukannya.


Nadia dan Gibran berjalan mengikuti anak kecil yang akan memberi mereka tumpangan hari ini. Ibu si anak sudah menunggu di depan pintu dengan wajah berbinar. Jarang sekali mereka mendapatkan tamu dari kota belum lagi Nadia sangat menyenangkan. Rumah kecil mereka semakin semarak dengan kehadiran Nadia dan kini di tambah Gibran.


"Ibu." Nadia menyalami Ibu tersebut disusul oleh anak si Ibu. Sementara Gibran menyalami secara formal orang yang sudah berbaik hati menampung istrinya.


"Maaf, bu, kami merepotkan." Ujar Gibran.


"Tidak apa-apa, Nak. Ibu senang kalian datang lagi kesini." Si Ibu memberikan tempat duduk dari kayu untuk Gibran. "Silahkan duduk. Dio, mandi dulu ya Nak, ajak kak Nadia sekalian. Ibu sudah siapkan alat mandi."


Anak laki-laki bernama Dio itu mengangguk "Ayo, Kak." Ajaknya. Nadia masuk dalam rumah mengikuti Dio setelah sebelumnya melirik pada Gibran yang terlihat nyaman di tempat itu.


"Terima kasih, Bu karena sudah memberi tumpangan untuk kami. Terutama karena sudah baik sama Nadia." Gibran membuka percakapan setelah Nadia pergi.


"Sama-sama, Nak. Kami senang Dio punya teman. Mungkin sosok Nak Nadia mengingatkan dia sama kakaknya." Ibu Dio terdengar sendu diakhir kalimatnya.


"Memangnya kakaknya Dio kemana, bu?"


"Sudah meninggal."


"Inalillah. Maaf, bu saya--"


Ibu Dio menggeleng "Tidak apa-apa, Nak, ini kesalahan kami juga. Kakak Dio mungkin seumuran Nak Nadia, dia hamil lalu meninggal saat akan melahirkan bayinya."


"Melahirkan?" Gibran teringat lagi keguguran yang dialami oleh Nadia.


"Iya. Mungkin karena usianya yang masih muda jadi--" Ibu Dio tidak bisa melanjutkan kalimatnya, wanita yang terlihat sekali gurat kelelahan di wajahnya akibat sering terkena sinar matahari itu meneteskan airmata. Kehilangan seorang anak yang masih sangat muda merupakan pukulan berat bagi mereka sekeluarga.


"Maaf saya sudah mengungkit luka lama Ibu dan keluarga."


Ibu Dio tersenyum lembut "Tidak, Nak. Ibu terkadang hanya suka berandai-andai. Kalau kami tidak menikahkan anak itu di usia muda mungkin dia masih ada ditengah-tengah kami sekarang, mengejar impiannya menjadi tukang rias dan hidup dengan bahagia."


Gibran terdiam. Ia mulai memikirkan kembali keputusannya menikahi Nadia. Mungkin selama ini ia sudah keliru dengan menikahi Nadia di usia semuda ini.


.


.


.


"Belum tidur?" Gibran menghampiri Nadia yang tengah duduk menghadap jendela. Di kejauhan terdengar berbagai jenis suara hewan malam yang tidak bisa di dengar di daerah perkotaan.


Nadia bergeming. Ia merapatkan selimut yang membungkus bahunya. Mereka baru saja makan malam. Benar kata Dio, masakan Ibunya sangat lezat.


"Om ngapain disini? Mau nyakitin Nad lagi?"


Gibran menghela nafas pendek, duduk di samping Nadia "Maafin, Om." katanya lirih diantara sunyi yang semakin malam semakin terasa.


"Om gak pernah salah. Nad yang salah kan? Nadia gak ada hak buat ngebela diri. Nad--"


"Maafin, Om, Nad. Om gak bermaksud nyakitin Nad."


"Tapi Om nyakitin Nad--hiks." Nadia menghapus airmatanya dengan kasar.


"Om minta maaf."


"Trus ngulang lagi? Om udah sering nyakitin Nad--hiks."


"Maaf. Maafin Om." Gibran tak punya kalimat lain sebab ia tidak memiliki alasan apapun untuk membela diri. Dia yang sudah menyakiti Nadia dengan sangat dalam.


"Bukan hanya fisik Nad, hati Nad juga Om sakitin--"


"Maaf Nad. Maafin Om." Gibran meraih Nadia dalam dekapannya. Memeluk punggung itu dengan erat "Om salah besar sama Nad." Gibran merasa dirinya paling brengsek sekarang. Mengharapkan Nadia memaafkannya setelah rasa sakit yang diberikan untuk gadis ini.


"Om nyakitin Nad--"


"Iya, Om minta maaf." Gibran mencium rambut belakang Nadia berkali-kali.


"Tapi Om keterlaluan." Nadia melepaskan belitan Gibran di lehernya.


Nadia menggeleng "Nad gak mau."


"Nad boleh membalas Om sebanyak yang Nad mau."


"Om jahat."


"Om hanya tidak mau Nad kenapa-kenapa. Om gak bisa maafin diri Om kalau sampai terjadi sesuatu dengan Nad." Gibran menarik Nadia untuk menghadap padanya. Diciumnya kening Nadia lama. Bayangan cerita Ibu Dio menghantuinya. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada Nadianya, bagaimana kalau--


"Om jangan kayak gitu lagi. Nadia sakit hati."


Gibran mengangguk cepat "Tidak akan."


"Kalau Om ngulang?"


Gibran terdiam, ia sudah berjanji untuk merubah sikapnya tapi kalau ia khilaf bagaimana "Om akan melakukan yang terbaik."


Nadia memegang kedua pipi Gibran, memandangi lamat-lamat lelaki di depannya "Jangan mikir yang tidak-tidak. Apa yang menimpa kakak Dio tidak akan terjadi sama Nad."


Gibran mengerjap "Nad dengar?"


Nadia mengangguk. Ia mendengar semua cerita Ibu Dio saat ia hendak kembali untuk mengambil sikat giginya dalam tas. Nadia bisa melihat bagaimana air muka Gibran berubah keruh mendengar cerita Ibu Dio mengenai anak gadisnya.


Nadia menggeleng "Nad bukan gadis lemah. Om sendiri yang bilang kalau Nad gadisnya Om yang kuat." dihapusnya airmata yang meleleh di pipi Gibran.


"Nad memang gadisnya Om yang kuat."


Nadia terhenyak. Setelah kehilangan calon bayi mereka, ini kedua kalinya Nadia melihat Gibran menangis.


"Mungkin keputusan Om keliru. Seharusnya Om tidak--"


"Om menyesal menikahi Nad?" Tanya Nadia dengan suara bergetar.


"Om hanya--"


"Jangan. Om gak boleh menyesal. Nad bahagia menjadi istri Om Gi."


Gibran menunduk, menjatuhkan kepalanya di pundak kecil Nadia "Om hampir mencelakai Nad."


Nadia menggeleng, di elusnya punggung Gibran dengan sayang "Nad baik-baik saja."


"Om sudah janji sama ayah dan bunda Nadia untuk selalu menjaga Nad tapi malah Om sendiri yang--." Penyesalan demi penyesalan menghampiri Gibran. Keputusannya menikahi Nadia, Tindakannya yang sampai membuat Nadia hamil, hingga kejadian keguguran yang dialami gadis itu. Ia bisa menghindari semua itu jika lebih bisa bersabar dan menahan diri untuk tidak menyentuh Nadia tapi kemarin malam, ia hampir saja melakukan kesalahan fatal untuk kedua kalinya.


"Om sudah melakukannya. Om sudah melakukan yang terbaik buat Nad." Nadia memeluk Gibran erat. Seberapapun Gibran menyakitinya, hal terberat dalam hidupnya adalah melihat laki-laki ini menangis. Bahkan jika Gibran meminta nyawanya, Nadia akan memberikannya dengan suka rela sebab saat ia tak memiliki apapun di dunia ini, Gibran mengulurkan tangannya, memberikan semua hal yang seorang anak butuhkan dalam hidupnya.


"Maaf." Entah permintaan maaf yang keberapa kalinya seharian ini tapi Gibran benar-benar menyesal untuk semua yang dilakukannya pada Nadia.


.


.


Nadia terbangun saat merasakan angin berhembus dengan kencang. Jendela kayu di kamar itu terbuka. Nadia bangun lalu menutupnya. Setelah menguncinya dengan benar ia kembali membaringkan kepalanya. Disampingnya Gibran tertidur dengan lelap. Nadia membuka tangan Gibran lalu masuk dalam pelukan laki-laki itu. Ditatapnya Gibran cukup lama. Apa yang dilakukan Gibran malam lalu memang sangat melukainya. Bukan saja fisik tapi hatinya juga. Tapi, marah berlama-lama dengan Gibran tak pernah bisa ia lakukan. Ia sadar semua karena ulahnya juga yang dengan iseng mengenakan baju tidak sopan di depan Gibran membuat laki-laki itu salah pahan dan marah besar. Sebenarnya ia tidak memakai baju itu saat pesta. Baju kekurangan bahan itu ia pakai saat mendapat pesan bahwa Gibran sudah akan menjemputnya. Ia sengaja melakukannya untuk membuat Gibran kesal dan benar saja, Gibran marah besar padanya. Kenekatannya untuk kabur di desa pun hanya untuk menenangkan diri, berusaha untuk memahami apa yang salah dalam hubungan mereka terutama perubahan sikap Gibran padanya. Dan sekarang ia mulai mengerti, Gibran takut membahayakan dirinya. Seharusnya ia lebih peka tapi perasaan khawatir dan cemburu membuat ia tidak berpikir dengan benar. Laki-laki ini memiliki wanita lain? Nadia menggeleng, sepanjang hidupnya Gibran hanya menghabiskan waktu di kantor dan mengurus dirinya, bagaimana mungkin ia sempat memikirkan wanita lain.


"Kenapa?" Gibran membuka matanya tiba-tiba.


Nadia menggeleng "Nad cuma mau di peluk." katanya lirih.


Gibran mengulas senyum tipis "Nad sudah dalam pelukan Om."


"Jangan pernah berpikir untuk ninggalin Nad."


Gibran diam, dirapatkannya tubuh Nadia padanya "Tidurlah."


"Janji dulu."


"Nad akan selalu bersama Om." Ujar Gibran.


***


"Abang dan Nad bermalam disini?"


Gibran mengangguk. Ia baru saja selesai mengepang rambut Nadia sebelum kemudian gadis itu pergi membeli sesuatu di temani oleh Dio.


"Iya. Kemalaman kalau harus pulang." Ujar Gibran sembari mendorong kursi kayu untuk Elsa.


"Nadnya mana?"


"Ke warung. Dokter sepertinya betah disini."


Elsa mengangguk sambil mengulas senyum tipis "Disini tenang dan sedikit bisa mengalihkan pikiran Elsa dari--Ah sudahlah. Abang ajak lah Nad ke tempat saya." ujar Elsa menghentikan niatnya untuk mengungkit lukanya.


"Insya Allah. Sebelum kembali ke kota, kami akan main ke tempat dokter." Ucap Gibran sungguh-sungguh.


Elsa mengangguk tipis. Helaan nafas berat lolos dari mulutnya. Ternyata perasaan itu belum benar-benar hilang. Hatinya masih berdetak melihat lelaki di depannya ini. Hatinya masih nyeri mengingat Gibran sudah dimiliki orang lain.


"Abang bahagia?"


Gibran yang sedang memperhatikan Nadia dari jauh menoleh pada Elsa. Sebuah senyuman tipis dan tulus terukir disana "Saya bahagia selama Nadia bahagia."


"Sepenting itu Nadia untuk Abang?"


Gibran mengangguk "Nadia adalah kado terbaik dalam hidup saya, Dok. Saat saya tidak memiliki apapun, Ayah dan Bunda Nadia memberikan Nadia pada saya."


"Tapi mungkin bukan untuk menjadikannya seorang istri." Sela Elsa. Perasaan kesal itu kembali hadir. Kenapa Gibran menganggap menikahi Nadia adalah cara satu-satunya untuk menjaga gadis kecil itu sementara banyak hal yang bisa ia lakukan untuk memiliki Nadia tanpa menjadikannya istri.


"Mungkin. Tapi saya tidak bisa melihat Nadia bersama orang lain. Nadia milik saya dan selamanya akan menjadi milik saya." Nada bicara Gibran terdengar begitu serius membuat Elsa tak bisa lagi membantah. Sepertinya bukan Nadia disini yang tidak bisa hidup tanpa Gibran tapi sebaliknya, Gibranlah yang tidak bisa bertahan tanpa Nadia di sampingnya. Bukan Nadia yang harus di lindungi tapi Gibranlah yang butuh dilindungi Nadia dari kesepian.


Ya, mungkin begitu adanya.


***