
Gibran berjalan meninggalkan toko buku dengan kantong belanjaan di tangannya dan Pia di gendongan depannya. Ia tersenyum kecil saat melewati Lalita dan Orion yang sedang mengobrol di dekat pintu masuk. Ia ingat, lelaki itu adalah orang yang sama dengan yang di kampus Nadia. Dunia bisa sesempit ini ternyata.
Ia beristrahat sejenak di sebuah bangku panjang yang menghadap langsung tempat bermain ice skating yang ramai oleh pengunjung. Gibran mengetik beberapa pesan yang ia tujukan pada Nadia.
To Istri Kapten 🇮🇩
Di PIM
Dua centang biru.
Sejenak ia tersenyum membaca nama kontak hpnya yang lagi-lagi diubah oleh Nadia. Setelah Ibu negara ternyata sekarang turun pangkat menjadi istri kapten. Lalu bendera merah putihnya-- Gibran menggeleng pelan. Ada-ada saja.
"Bang Gi?"
Gibran mendongak, di depannya Elsa berdiri canggung memegang sebuah tas belanjaan bermerek Channel.
"Assalamualaikum Dokter." Sapa Gibran ramah.
"Waalaikumsalan, Bang. Pia." Balas Elsa tersenyum lembut pada Pia yang masih tetap anteng meskipun sekelilingnya ramai riuh.
"Duduk, Dok." Gibran menggeser posisinya untuk lebih ke ujung dan menyisakan tempat untuk Elsa dibatasi oleh tas belanjaannya.
"Terima kasih, Bang." Elsa duduk dengan canggung. Ia tidak menyangka akan bertemu Gibran di tempat ini padahal tadi ia sama sekali tidak berniat berbelanja hanya saja Gio memaksanya.
"Nadia mana bang?" Tanya Elsa saat tak melihat sosok gadis yang sudah berhasil merebut kekasih hatinya berada disana.
"Kampus. Dokter sendiri?"
"Ada bang Gio. Dia ke toilet tadi." Jawab Elsa seadanya.
Gibran mengngguk kecil. Sepertinya Gio sudah mulai bergerak aktif mendekati Elsa. Sayang sekali Elsa tidak bisa melihat ketulusan Gio padanya karena tertutup oleh cinta butanya pada Gibran yang notabenenya adalah suami orang.
"Bagaimana kabar abang?"
"Alhamdulillah baik."
Elsa mengangguk kecil. Ada senyum miris yang tak tertangkap oleh Gibran.
"Abang kelihatan sangat bahagia." Ujar Elsa sembari melarikan tatapannya pada orang-orang yang tengah meluncur mulus menggunakan sepatu khas luncur diatas es.
Gibran tak menimpali. Ia tak terlalu bisa berbasa basi apalagi dengan Elsa yang jelas sekali hubungan pertemanan mereka tak akan pernah bisa sehangat dulu.
"Elsa senang bisa ketemu abang lagi. Elsa--" Elsa menunduk, kedua tangannya saling meremas kuat, "Elsa minta maaf atas apa yang papa lakuin ke abang. Jujur Elsa kecewa dengan tindakan papa yang seperti itu. Tapi meskipun begitu, Elsa juga paham perasaan Papa yang ingin menjaga hati putrinya." Ujar Elsa panjang lebar tanpa berani menatap Gibran.
Gibran tersenyum kecil. Ia tidak perlu kan membalas ucapan Elsa ini.
"Bang--" Panggil Elsa saat Gibran tak merespon ucapannya.
"Ya?" Gibran yang fokusnya pada Navia mengangkat kepala menunggu Elsa menyelesaikan kalimatnya.
"Maafin Papa. Abang pasti akan ngelakuin hal yang sama jika Pia disakiti." Lanjut Elsa memberanikan diri menatap Gibran.
Gibran mengangguk samar. Ia membenarkan ucapan Elsa. Ia akan melakukan apapun jika ada yang berani menyakiti hati putrinya tapi-- "Dokter benar. Setiap ayah akan sanggup melakukan apa saja untuk melindungi anak-anaknya. Tapi seorang ayah juga memiliki kewajiban untuk mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk pada anak-anaknya." Gibran berujar tanpa beban tapi Elsa paham, semua nada yang terkesan ringan dari kalimatnya itu mengandung sindiran yang nyata untuk dirinya.
Elsa mengangguk seraya menghela nafas berat, "Tolong maafkan Papa."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah menjadi resiko pekerjaan saya yang harus siap di tempatkan dimana saja terlepas itu karena campur tangan seseorang atau tidak."
Elsa terdiam. Sulit untuk mematahkan prinsip seorang Gibran Al Fateh dan inilah yang membuat ia sampai sekarang tidak bisa melepas sosok Gibran begitu saja dari dalam hatinya. Lelaki baik-baik yang sulit sekali ia raih.
"Bagaimana kuliah Dokter? Lancar?" Tanya Gibran mengalihkan topik.
Elsa mengangguk, "Ya. Sebentar lagi selesai. Abang gimana? Elsa dengar dari Papa akan ada pengangkatan dalam waktu dekat. Abang ikut?"
Gibran mengedikkan bahu. Ia sudah mendapatkan tawaran tapi itu artinya ia akan lebih lama lagi berpisah dengan Nadia dan Pia. Ini menjadi dilemanya sendiri. Disatu sisi ini adalah kesempatan emas untuk karirnya tapi disisi lain ia memiliki tanggungjawab sebagai kepala keluarga untuk selalu membersamai anak dan istrinya.
Elsa yang melihat kegamangan dimata Gibran tak bisa diam saja. Gibran layak mendapatkan kesempatan ini dan keluarga seharusnya tak melemahkan laki-laki ini.
"Kalau Abang ikut, bisa memangkas dua tahun. Lagipula abang sudah menunggu sejak lama kan?" Ujar Elsa mengingatkan Gibran akan impian-impiannya.
Gibran menghela nafas pendek, dielusnya rambut Pia yang menatap lucu dengan mata bulatnya.
"Nadia tau soal ini?" Tanya Elsa lagi.
"Belum." Ucap Gibran pendek.
"Sebagai istri seharusnya Nadia mendukung abang. Semoga saja Nadia tidak egois." Elsa berujar lirih.
Gibran menatap Elsa sesaat seolah menelisik perempuan itu dengan seksama. Ia hanya merasa terganggu dengan ucapan Elsa barusan. Nadianya tidak pernah egois, sekalipun istrinya itu keras kepala tapi hanya Nadia satu-satunya wanita yang mengerti dirinya sejak dulu hingga sekarang. Bahkan remaja dengan kehidupan glamornya itu rela melepas semuanya demi mendampingi dirinya menjalankan tugas. Tapi ia tidak perlu mengungkapkan itu semua pada orang luar, cukup dirinya saja yang tahu betapa sempurnanya Nadia sebagai seorang istri tentara.
"Atau Elsa yang bilang sama Nad kalau abang gak bi--"
"Ini urusan rumah tangga saya." Potong Gibran cepat.
Elsa menggigit bibirnya, lalu menunduk, "Maaf, Elsa cuman--yah abang tau kan kalau Elsa berharap yang terbaik untuk abang?" suara Elsa mengecil.
"Terima kasih. Tapi Dokter tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya bukan siapa-siapanya dokter." Gibran berujar dengan suara rendah dan dingin. Cukup berbasa basinya. Ia berdiri sembari mengambil belanjaannya diikuti tatapan tak mengerti Elsa "Maaf, saya tidak bisa lama-lama. Salam sama Gio."
"Tap-tapi--"
"Assalamualaikum." Gibran tersenyum tipis sebelum benar-benat meninggalkan Elsa seorang diri.
Sepertinya Dokter berparas lembut itu masih butuh penanganan psikolog.
.
.
.
Nadia baru saja turun dari taksi online saat melihat sosok Gibran yang tengah menggendong Navia keluar dari pintu Mall.
"Om Gi" Panggil Nadia menghampiri dua kesayangannya dengan senyum lebar.
"Naik apa kesini?" Gibran menyambut Nadia dengan kecupan sayang di rambut hitamnya.
"Taksi online. Jadi kan es krimnya?" Nadia beralih pada bayi di depan Gibran yang sejak tadi minta diperhatikan, "Hai sayaaang, kangen Ibu nggak?" Nadia melabuhkan kecupan di pipi Pia yang menyengir lebar melihat kedatangan Ibunya.
"Jadi tapi jangan disini."
"Kenapa? Ada varian rasa baru di tempat biasa. Om harus coba." Terang Nadia semangat.
Gibran menghela nafas pendek. Bagaimana ia menjelaskan pada Nadia bahwa dia malas bertemu dengan Elsa dan pemuda itu yang nyata-nyata menaruh perhatian khusus padanya.
"Ganti suasana." Ujar Gibran seadanya.
Ganti suasana? Sejak kapan suaminya ini peduli suasana, biasa juga dipinggir jalan ayo aja. Tapi tak ingin mendebat Nadia pun mengangguk.
"Oke." Nadia mengamit lengan Gibran. Keduanya pergi dari tempat itu dengan Nadia yang bergelayut manja pada sang suami. Jika sudah seperti ini, Gibran lebih mirip seperti seorang ayah yang mengajak jalan dua putrinya yang cantik dan manja.
Pilihan Gibran jatuh pada satu cafe kecil dengan suasana cozy yang menyenangkan. Suasananya ramai tapi tidak riuh sama sekali. Semua orang larut dengan kenikmatan dinginnya lelehan es krim dan suasana Cafe yang nyaman.
"Bentar malam Nad ikut ke Bandara."
"Jangan."
Ting.
Suara denting sendok beradu dengan bibir cup di depan Nadia. Ia menatap sebal Gibran. "Kenapa gak boleh? Nad mau antar Om. Gak mau tau."
"Kan ada Mang yang nemenin."
"Tetap gak boleh."
"Om--"
"Nad--"
Nadia terdiam, pipinya mengembung. Ia kembali menikmati es krimnya dengan kekesalan dihatinya. Semenit kemudian Ia menoleh pada Pia yang duduk di baby chair tepat disampingnya.
"Dek, ayah nyebelin. Marahin!" Lapor Nadia, mencari sekutu.
Seakan tak mau kalah, Gibran pun menoleh pada bayi kecilnya, "Dek, ibu keras kepala. Makin cantik."
"Dih receh."
"Receh tapi pipinya merah."
"Apaan sih."
"Cie senyum."
"Ish Om!" Nadia tidak tahan lagi. Pipinya sakit karena harus menahan diri untuk tidak tertarik melengkung. Dasar Om-om mulut gula. Nad kan gak kuaaaat ya Lord!
"Udah jangan ngambek. Ntar cantiknya kelewatan saya yang repot." Gibran tersenyum kecil sembari tangannya terulur menyeka sudut bibir Nadia yang terdapat lelehan es krim disana.
Nadia menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang tidak berhenti bersemu. Sekali ngomong manis Om Gibrannya memang langsung melambungkannya ke langit ketujuh.
"Gimana di kampus?"
"Malesin." Jawab Nadia dengan hembusan nafas lelah.
"Malesin?"
Nadia mengangguk, "Orang-orangnya gak asik. Apalagi kakak senior tuh, sok bossy gak jelas."
"Asal jatuhnya bukan bully, Nad nikmati saja."
Nadia menghela nafas lelah, "Nad pengen balik lagi jadi anak SMA. Lebih asik."
"Bisa masuk ruang BK lagi kan?"
Mendengar itu Nadia menyengir, "Seru kalik Om di ruang BK. Bisa ngadem, trus lenjeh-lenjeh di ubin."
"Ckckck bangga." Gibran menggeleng tak habis pikir. Hanya Nadia dan genk rusuhnya itu yang menganggap ruang konseling siswa bermasalah sebagai tempat bermain. Benar-benar luar biasa. Gibran menoleh pada Pia yang asik menyimak, "Jangan ikuti jejak Ibu, Dek. Sesat."
"Jangan salah Om. Itu namanya pencarian jati diri." Ujar Nadia tak merasa ada yang salah dengan apa yang dilakukannya saat di bangku sekolah, "Ibu keren tauk Dek. Bisa dikenal satu sekolahan." ucap Nadia menyombongkan diri pada Pia.
Keren? Yang ada bikin saya pusing. Ucap Gibran dalam hati.
"Om, nonton yuk."
"Boleh."
"Tapi Nad yang pilih movienya." Nadia masih mengingat betul malam itu harus bermimpi buruk gara-gara film pemberontakan yang dipilih Gibran. Ia tidak ingin hal itu terulang lagi jadi dia akan memilih movie romance kekinian.
"Iya. Tapi Pia harus pulang. Kasian kecapean."
Nadia mengangguk. Ia menyendok satu kali lagi sisa es krimnya lalu mengambil hp mengirim pesan untuk Mang dan Bibik agar menjemput Navia.
"Udah Nad Chat." Ujar Nadia meletakkan kembali hpnya lalu beralih mengangkat Pia dalam gendongannya.
"Dek, Ibu dan ayah nge-date dulu ya. Maaf gak bisa ngajak Adek tapi Ibu janji, kalau adek udah gede dikit, ntar diajakin nonton bareng ayah dan Ibu. Setuju?"
Pia menyengir sembari berusaha menggapai wajah sang Ibu.
"Sip. Berarti setuju ya." Lanjut Nadia mendaratkan ciuman di seluruh wajah Navia.
"Ayah gak dapat kiss?" Celetuk Gibran yang sedang memandangi keduanya dengan tangan memangku dagunya.
"Ayah udah sering dapet. jangan maruk." Balas Nadia memeletkan lidahnya jahil.
"Ck pilih kasih."
"Biarin. Ya kan Pia?" Nadia tersenyum pada bayi kecilnya sementara Gibran, laki-laki itu termangu menatap keduanya.
Ya Allah, apa aku sanggup menukar pemandangan indah ini dengan impian yang sejak lama kuminta dariMu?
***
"Om--"
"Ya?"
Nadia berjinjit untuk mencapai telinga Gibran. Keduanya kini berada diantrian pembelian tiket "Nad mau ke toilet."
"Mau ditemani?"
Nadia menggeleng, "Gak usah. Om ngantri aja disini. Bentar aja kok."
Gibran melirik kebelakang, ada yang beberapa orang lagi yang mengantri bersama mereka.
"Jangan lama-lama."
"Siap."
Nadia keluar dari antrian lalu berjalan menjauh dari bioskop. Ia melewati beberapa pasangan yang juga akan nonton seperti dirinya dan Gibran. Satu pasangan yang tak asing lagi menatap padanya dengan intens, Orion dan kekasihnya. Tak mau ambil pusing, Nadia berlalu begitu saja tanpa repot-repot beramah tamah. Selain tak mau berurusan dengan senior galak dan pacarnya yang super pintar, ia pun tak mau membuat Gibran menunggu lama seorang diri. Terlalu berbahaya manusia ganteng di tinggal sendirian, bisa-bisa di gondol cabe-cabean.
Untung sekali Nadia tak perlu mengantri di kamar mandi sehingga beres dengan urusannya ia hanya mengintip sekilas wajahnya melalui cermin buram toilet dan menyapukan sedikit liptin di bibirnya agar kembali segar.
"Gak nyangka aja, selain b*go lo juga mainan Om-om. Suami orang lagi. Apa namanya? Pel*kor ya atau suggar daddy?"
Nadia menoleh kebelakang, cewek berkacamata tebal kekasih senior lacknatnya berdiri dengan tatapan merendahkan.
Nadia melirik sekitar, tidak ada siapapun selain mereka berdua, "Lo ngomong sama gue?" tunjuk Nadia pada dirinya sendiri.
"Kalau lo anggap diri lo orang sih berarti iya." Ucap Lalita masih dengan nada mencemooh.
Nadia melipat tangan di dada. Satu alisnya terangkat seolah menilai cewek yang katanya paling pintar se-fakultas yang ternyata pikirannya juga bercampur dengan sampah.
"Gue sih seratus persen yakin kalau diri gue adalah orang. Cuma yang di depan gue gak tau yak, sampah plastik apa sampah masyarakat soalnya omongannya kotoran semua." Balas Nadia santai tapi menusuk.
Lalita yang tadinya menatap rendah padanya langsung mengetatkan rahang, "Lo ngomong apa barusan?"
Nadia tersenyum miring, "Ops sorry, gue gak tau kalau lo juga BO-L*T!"
"LO--" Lalita menahan geramannya menunjuk wajah Nadia dengan telunjuknya.
Tak gentar Nadia menangkap tangan Lalita dan menggenggamnya erat, "Jangan sembarangan ngancungin tangan lo di depan gue." dihentakkan tangan Lalita dengan kasar. Ia membalas tatapan tajam Lalita tak kalah tajam, bukan Nadia jika menjadi korban pembullyan di toilet, apalagi toilet Mall. Oh ayolah, Nadia Gaudia Rasya di bully cewek berkacamata? Tolong jangan membual. Senyum miring tercetak dibibir merahnya. Ia melirik jam di pergelangannya dengan gaya paling sengak, "Ck waktu gue terbuang." Gumamnya. Lalu tanpa menunggu Lalita bergerak, ia melewati cewek berkacamata itu dengan sedikit dorongan di bahunya membuat Lalita terhunyung kebelakang. Untung saja kekasih Orion itu tangkas berpegangan hingga ia tidak terjerembab di lantai kamar mandi yang dingin.
Nadia membuka pintu Toilet dan menutupnya dengan sedikit bantingan. Dan yang menyambutnya pertama adalah tatapan tak bersahabat Orion yang sedang menyenderkan punggung di dinding dekat lorong Toilet. Kedua tangan pemuda itu terlipat didepan dada. Dengan langkah elegan, Nadia berlenggak melewati Orion yang langsung menegakkan punggungnya saat nadia melewatinya.
Cewek dan cowok sama saja, mulut comberan. Nadia mendengus sinis.
***