Little Persit

Little Persit
Airmata Seorang Persit



Nadia duduk diam memandangi daun-daun berguguran yang ditiup angin sore. Terik yang tadi menyengat kulitnya berganti hangat jingga yang yang mengintip dicelah-celah daun kamboja di teras belakang rumahnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, Bibik dan ketiga sahabatnya yang masih memakai seragam sekolah duduk di sofa memperhatikan Nadia. Kemarin Nadia baru saja kehilangan janinnya, ia tak berbicara sepatah katapun setelah pembersihan rahimnya di lakukan. Kepergian Adek bayi yang menghuni rahimnya benar-benar membuatnya terpukul.


"Om Gi kapan pulang, Bik?" Tanya Aleksis.


"Mungkin Malam, Non. Saya juga kurang tau." Jawab Bibik sekenannya. Aleksis mengangguk paham. Hanya Tuhan dan Gibran sendiri yang tahu kapan la pulang. Aleksis berjanji akan memarahi Gibran karena sudah meninggalkan Nadia dalam keadaan yang seperti ini.


"Jaga Nad ya Bik takutnya dia kenapa-kenapa." Sandra mengambil tasnya dan menyampirkannya di bahu. "Kami pulang dulu." pamitnya.


"Izin Nad dulu gak?" Tanya Gendis.


"Izin." Ujar aleksis memimpin kedua temannya menghampiri sahabat mereka.


"Nad? Kita-kita balik ya. Besok datang lagi buat nemenin lo." Aleksis menyentuh punggung Nadia yang tak bergeming di tempatnya.


"Jangan banyak nangis. Adek bayi pasti sedih liat lo kayak gini." Gendis memeluk bahu Nadia dari belakang, mengantarkan kehangatan pada punggung Nadia.


"Lo cewek kuat." Tambah Sandra menepuk lengan Nadia.


Nadia tersenyum tipis "Makasi" ucapnya lirih.


"Sama-sama. Kami pamit ya. Get well soon. Cepat balik ke kami." Aleksis memberikan pelukan hangat pada Nadia diikuti Gendis dan Sandra.


Sepeninggal Ketiga sahabatnya, Nadia beranjak dari kursi panjang tempat biasa ia duduk santai setelah berenang dan berjalan menuju bibir kolam renang. Ia duduk di tepian sembari memasukkan kakinya dalam air. Pikirannya berkelana jauh hingga saat-saat ia kehilangan orangtuanya, lalu Gibran yang kecelakaan saat tugas dan terakhir saat kemarin ia kehilangan bayinya. Mungkin ada yang salah dengan dirinya hingga orang-orang yang ia cintai pergi meninggalkannya. Mungkin bukan mereka yang seharusnya pergi tapi dirinya. Mungkin seharusnya Allah mengambilnya sejak dulu agar ia tidak perlu merasakan semua kehilangan ini. Sepertinya setiap hal yang ia genggam lepas perlahan dari tangannya. Nadia menghapus airmata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangan.


Tuhan, apa Nadia tidak boleh memiliki apapun? Nadia terisak dalam diam. Apa nanti Gibran juga akan pergi karena terus bersamanya? Apa dia memang ditakdirkan untuk hidup sendiri? Nadia menarik kasar rambutnya, terisak keras dan menangis sepuasnya. Ini terlalu menyakitkan Tuhan. Nadia meremas perutnya merasapi rasa sakit yang menyesakkan dadanya.


Hingga malam menjelang Nadia masih tak berpindah tempat. Ia membaringkan badannya begitu saja tanpa alas. Tatapannya jauh menembus di kegelapan malam. Jika memang dia tak boleh memiliki apapun, apa ia harus pergi? Tanpa disadarinya Gibran memandanginya sudah hampir setengah jam dari kejauhan. Laki-laki itu baru saja lepas tugas dan langsung ke rumah besar menemui Nadia.


"Nad?" Gibran menghampiri Nadia, menyentuh bahunya pelan "Di luar dingin. Ayo masuk." ajaknya beralih mengelus rambut Nadia yang tergerai di lantai pinggiran kolam.


Nadia bergeming. Gadis itu bahkan tak berniat sama sekali beranjak dari sana. Dinginnya lantai keramik dan angin malam terasa menyayat kulitnya yang terbuka tapi bagi Nadia rasanya sangat menyenangkan.


"Om gendong ya?" Gibran menawarkan diri. Memaksa Nadia dalam keadaan seperti ini bukanlah hal yang bijaksana yang bisa ia lakukan.


"Om, Nad kenapa selalu ditinggalkan?"


Gibran yang tidak berpikir akan mendapatkan pertanyaan itu menarik tangan Nadia agar duduk dengan nyaman "Om tidak meninggalkan Nadia." ujar Gibran sembari mengeringkan kaki Nadia yang basah dengan ujung kaosnya.


"Ayah, Bunda, dan sekarang adek bayi juga. Memangnya Nad tidak pantas untuk memiliki ya Om?"


Gibran menghapus airmata dipipi Nadia


Satu helaan nafas pendek lolos dari mulutnya "Semua yang ada di dunia ini bukan punya kita Nad. Semuanya adalah amanah yang Allah titipkan. Jadi sewaktu-waktu Allah mau ambil, ya kita harus mengikhlaskannya." Jelas Gibran, menarik bahu Nadia agar merapat di dadanya.


"Tapi kenapa rasanya sakit sekali Om? Kenapa Allah ngasih rasa kepemilikan dalam hati Nad?"


"Supaya Nad bertanggungjawab atas amanah itu. Salahnya kita Nad karena rasa kepemilikan kita terlalu berlebihan padahal kita cuma diamanahkan. Sewaktu-waktu yang punya mau ambil, kita tidak punya kuasa untuk melarang." Jawab Gibran merangkul bahu Nadia dari belakang. Dagunya menumpu diatas puncak kepala nadia. Laki-laki yang masih mengenakan celana lorengnya itu menyampirkan jaketnya di tubuh rapuh sang istri.


"Om gak sedih adek bayi pergi?" Tanya Nadia cukup terganggu dengan sikap diam Gibran seolah laki-laki itu tak ada masalah sama sekali dengan apa yang terjadi mengenai calon bayi mereka.


Gibran diam. Mata laki-laki itu mengerjap memandang gelap di kejauhan. Ada yang tak bisa dia jelaskan hanya dengan kata. Sebuah kehilangan? Entahlah, Gibran terlalu sering melihat hal seperti itu di depan matanya, seorang anak yang kehilangan orangtuanya, seorang ibu dan ayah yang kehilangan anak-anaknya, seorang istri yang kehilang suaminya dan sebaliknya, seorang saudara kehilangan saudaranya, hal-hal seperti itu terlalu sering ia lihat di daerah konflik. Dan sekarang ketika dia yang mengalaminya, terlalu susah untuk ia ungkapkan dalam sebuah kalimat.


"Nad capek Om." Ujar Nadia lirih setelah sunyi lama menjeda.


Gibran menggangguk "Ada Om disini. Bagi dengan Om capeknya Nad." satu kecupan ia sarangkan di puncak kepala Nadia.


Tangis Nadia kembali terdengar. Padahal ia sudah melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang ibu tapi sepertinya usahanya tak pernah cukup untuk membuat calon bayi kecilnya bertahan bersama mereka.


Gibran mengetatkan rangkulannya pada Nadia. Ia membiarkan persit kecilnya menangis hingga jatuh terlelap dalam pelukannya. Dielusnya wajah kuyu Nadia. Matanya sembab, tampak sekali ia sudah menangis cukup banyak selama dua hari ini.


"Maafin Om, Nad. Om tidak pernah berada di samping Nad disaat Nad butuh." Gibran berujar lirih. Ia menyerukan tangannya di lekukan leher belakang Nadia lalu mengangkat pelan gadis itu berusaha tak membangunkannya. Dikecupnya lama kening Nadia setelah berhasil membawanya dalam gendongan.


Gibran berjalan dengan hati-hati menaiki tangga lantai dua dimana kamar Nadia berada. Gibran membaringkan Nadia dengan pelan lalu setelah memastikan gadis itu tak terganggu, ia masuk ke dalam selimut, membawa Nadia berbantalkan lengannya.


"Maaf." Ucapnya mengecup rambut Nadia berkali-kali. Jika bisa, ia akan menukarkan segala waktunya untuk menebus ketidakhadirannya disaat Nadia dalam keadaan terpuruk tapi lagi-lagi apa yang bisa ia lakukan selain meminta maaf. Sebuah kata maaf yang akan selalu ia ulangi karena dengan tugasnya sebagai abdi negara ia tidak bisa menjanjikan untuk selalu berada disamping Nadia dalam suka dan duka. Gibran terjaga sepanjang malam. Nadia beberapa kali mengigau memanggil ayah dan bundanya. Bahkan istrinya itu menangis dalam tidurnya yang selalu coba ia tenangkan dengan menepuk-nepuk punggungnya.


Saat tengah malam, tepat jam satu malam. Seperti kebiasaannya Gibran bangun untuk bermunajat kepada Tuhannya. Ia mengangkat kepala Nadia pelan dan menggantikan lengannya dengan bantal empuk. Setelah itu ia ke tempat wudhu untuk menyucikan diri.


Nadia terbangun setelah mimpi buruknya yang panjang. Ia menarik nafas ngos-ngosan karena rasa lelah yang terbawa hingga dialam nyata. Ia tertegun mendapati dirinya tidak lagi berada di pinggir kolam melainkan di kamarnya. Nadia melirik jam yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul dua lewat beberapa menit. Ia mencoba menyesuaikan penglihatannya dalam gelap, tak jauh di dekat lemari tv seseorang tengah bersimpuh dengan kepala tertunduk. Nadia kenal pemilik punggung lebar itu, Gibran, Om Gibrannya.


Nadia turun dari ranjang lalu mendekat dengan langkah pelan, tak ingin mengganggu kekhusyuan Gibran yang ternyata sedang melaksanakan solat malam. Nadia memutuskan untuk duduk di atas karpet yang tak jauh digelar di kaki ranjang menunggu Gibran selesai sholat. Hatinya teriris mendengar suara isakan lolos dari pemilik tubuh tegap itu. Gibran terlihat rapuh mengiba dalam sujud panjangnya.


Nadia menghapus airmata yang kini meleleh deras di pipinya. Ia tak menyangka melihat laki-laki yang selama ini diam dan terlihat seolah tak memiliki rasa terpekur tak berdaya.


"Om, Gi" Nadia menghambur memeluk punggung Gibran setelah laki-laki itu selesai dengan doanya.


"Maafin Nad. Maafin Nad gak bisa menjaga adek bayi. Maafin Nad-hiks" Nadia terisak menenggelamkan wajahnya di lekukan leher belakang Gibran. Perasaan kehilangan itu ternyata tak hanya dirasakan olehnya. Selain ibu ada seorang ayah yang pasti merasakan hal yang sama saat calon buah hati mereka pergi. Nadia menyesal sempat berpikir bahwa Gibran tak menginginkan anak yang ada dalam kandungannya melihat kediaman laki-laki itu. Nyatanya selain dirinya, Gibranlah yang paling merasa kehilangan karena tak sempat merasakan kehadiran calon anaknya ditengah-tengah mereka. Ia bahkan harus tetap bekerja saat hatinya benar-benar hancur.


"Nad salah. Maafin Nad--"


"Bukan salah Nadia." Gibran menarik pelan lengan Nadia yang membelit lehernya lalu membawa gadis itu diatas pangkuannya. Sekarang Nadia bisa melihat dengan jelas mata yang selalu menatapnya tajam itu tampak basah.


"Om jangan menangis. Nad gak suka liatnya." Dihapusnya sudut mata Gibran yang berair dengan ibu jarinya.


"Gak apa-apa. Jangan merasa bersalah lagi. Nad gak suka." Kedua lengan kecilnya mengalung di leher Gibran sedangkan kepalanya menyeruk menghirup aroma menenangkan milik Omnya. Nadia sadar, ia tak seharusnya merasa dirinya yang paling sakit karena setiap yang memiliki pasti akan merasakan hal yang sama ketika apa yang dirasa miliknya diambil begitu saja oleh yang Empunya. Tak berbeda dengannya, Gibran tetaplah calon orangtua yang juga merasakan kehilangan yang sama.


***


Nadia tersenyum getir memandangi satu persatu sampul buku parenting yang diberikan Gibran. Ia bahkan belum sempat membaca satu bukupun tapi sekarang bayinya sudah pergi. Satu liquid bening mengalir di sudut matanya tanpa sadar.


"Biar Om yang rapikan." Gibran muncul dari belakang mengambil buku ditangan Nadia. Kalau di biarkan terus, Nadia tidak akan move on dari rasa sakitnya oleh karena itu Gibran membuang semua hal yang berhubungan dengan calon bayi mereka termasuk kotak susu ibu hamil Nadia. Gibran bahkan mengecek hp Nadia dan menghapus semua jejak pencarian di internet mengenai kehamilan, termasuk aplikasi belanja online.


"Om mau ke kantor?"


"Nad mau ikut?" Gibran memberikan susu hangat pada Nadia. "Rasa pisang." Katanya tersenyum lembut.


"Om udah coba emangnya?"


"Ada tulisannya."


Nadia terkekeh lalu meneguk susu hangat pemberian Gibran dengan nikmat. "Enak." ucapnya memandangi gelasnya yang sudah kosong.


"Bilang apa?"


"Makasih."


Gibran menarik Nadia dalam pelukannya "Jangan menangis lagi. Adek bayi sudah sama Allah sekarang."


"Kalau Nad kangen?"


"Kita buat lagi yang--AW!!"


Nadia mencubit gemas pinggang Gibran "Otaknya ya!"


Gibran terkekeh "Nad cepat sehat makanya." godanya.


"Bodo." Gerutu Nadia kembali menyarakangkan cubitan-cubitan kecil Gibran berusaha menetralisir hangat pipinya. Ya ampun, kenapa proses membuat bayi harus sememalukan ini diingat.


"Udah, lama-lama perih juga." Gibran menahan jemari Nadia, meremasnya pelan.


"Jangan nyeb--"


Cup.


"Lekas sehat." Gibran menatap dalam mata hitam Nadia mengantarkan pesan yang diangguki oleh Nadia.


"Om berangkat kerja." Gibran melepaskan tangannya dari kuasa badan Nadia. Lalu mengambil hp yang ada diatas meja "Kalau ada apa-apa langsung kabari."


"Om mau datang?"


"Tidak. Paling ngirim orang" Canda Gibran yang membuat Nadia langsung manyun.


"Tega sekali sama Nad."


Gibran terkekeh "Jadi persit harus kuat. Belajar dari ibu agus. Kan sudah sahabatan tuh."


"Paling diajarin nyinyir. Tapi Om, aslinya ibu agus baik lho cuma emang kadang masih kumat nyebelinnya." Adu Nadia. Mengingat tetangga satunya itu yang akhir-akhir ini jadi semakin baik padanya.


"Seperti halnya Nad tidak menyukai sikap nyebelin yang suka kumat dari Ibu agus, sama halnya ibu agus yang mungkin tidak menyukai salah satu sifat Nad. Jadi saling menerima saja karena tidak ada manusia sempurna."


"Om sempurna." Kata Nadia menyengir lebar.


"Oh ya? Trus siapa yang bilang katanya Om kanebo kering, titisan fir'aun, nyebelinnya sampe ke ubun-ubun, tukang ngat---"


Cup. Nadia mengerjap lucu setelah aksi nekatnya.


Gibran mengulas senyum tipis "Sayang bangat Om harus ngantor." Gibran berujar dengan suara berat.


Nadia menyengir "Gak ada ya Om. Nad belum ngizinin."


Gibran mengacak rambut Nadia "Sejak kapan Om butuh izin Nad. Nad milik Om kalau misalnya Nad lupa."


Nadia memutar bola mata sebal "Apalah kan Nad hanya milik seseorang." Tanyanya yang sudah bebas kembali merangkum Gibran dalam pelukannya.


"Seseorang ini harus ke kantor atau Nad tidak bisa beli susu pisang lagi."


"Gaudia Grup masih berdiri tegak tuh."


"Baiklah presdir Gaudia, anda penguasanya." Gibran membalas pelukan Nadia tak kalah erat.


***