Little Persit

Little Persit
Lelaki baik itu masih Ada



Nadia bukan penikmat senja, kopi apalagi hujan tapi melihat bagaimana Dewa sekarang pasca kepergian Gendis yang sudah seperti burung merpati, jinak-jinak menyebalkan, Nadia rasanya ingin berpuisi sekarang. Ketika dia pergi, separuh aku ikut pergi. Arghhh terdengar iugh tapi layak digambarkan untuk keadaan Dewa sekarang. Wajah kusut hampir menangis, bibir komat kamit tidak jelas mirip mbah dukun yang sedang baca mantra. Untung sekali Pia sedang tidur kalau tidak, mungkin bayi itu akan mimpi buruk setelah melihat wajah nelangsa Dewa.


"Si*lan tu anak kecil." Dewa baru kembali dari tour singkatnya mengelilingi kampung dibuat kesal dengan kabar Gendis yang sudah tidak ada di rumah Gibran.


"Cewek emang gitu Om. Jangan heran makanya Nad nikah sama cowok biar adem." Celetuk Nadia dari arah kamar yang terdengar jelas oleh Dewa dan Gibran yang sedang berada di ruang tamu.


Dewa memutar bola matanya. Dalam keadaan kritis seperti ini Istri sahabatnya itu masih sempat-sempatnya meledeknya. Minta sekali di paketkan ke antartika.


"Gilak. Gue jauh-jauh nyusulin dia kesini, dianya malah cabut." Dewa mondar mandir di depan Gibran dengan wajah merah padam. Niatnya jauh-jauh untuk berbaik-- ah maksudnya berunding dengan Gendis tapi si tuyul kurcaci oon itu malah pergi. Benar-benar gadis kecil yang minta di ikat di pohon toge. Dewa mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya Om ngapain pake nyusul, udah tau Gendis gak mau ketemu malah di pepetin terus." Nadia keluar kamar dengan wajah kesal. Gara-gara Dewa rencananya bersama Gendis menghabiskan waktu di hutan papua jadi gagal total. "Awas aja ya Om kalau Gendis sampe kenapa-napa, Nad mutilasi sampe gak bisa dibedain lagi mana jari mana kepala." Ancamnya seraya menghentakkan kaki kesal sebelum kemudian pergi ke kamar mandi.


Dewa mendengus. Perempuan memang selalu bikin susah dari yang tua sampai yang muda serasa memiliki hobi menyiksa dirinya. Dan kenapa sahabat kampretnya ini malah tenang-tenang saja? Peri kepersahabatannya perlu di pertanyakan. Apalah katanya saat di bawa deru desing peluru dan bom menjanjikan akan selalu bersama, hidup mati bersama tapi sekarang malah sepertinya tenang-tenang saja melihat dirinya yang hampir meledak gara-gara anak remaja jelmaan tuyul itu.


"Ngomong lu!" Bentak Dewa menendang kaki bangku kayu yang di duduki Gibran saking kesalnya diabaikan. Lelaki itu tampak santai membuat tas rajut bertuliskan Nad-bentuk hati- Gi. Telat baaaang, telat pubernyaaaa. Dewa rasanya ingin memaki sambil guling-guling di lumpur sekarang.


Gibran melirik Dewa dengan sudut matanya. Helaan nafas berat terdengar menciptakan aura kelam di ruangan itu, "Jangan berlebihan. Tinggal nyusul apa susahnya." Terdengar datar dan menyebalkan.


Oke, Dewa harus memupuk kesabarannya hingga kerak bumi kalau berhadapan dengan Gibran.


"Kenapa gak ngasi tau gue sih? Lo tau kan masalah gue sama tu tuyul--"


"Namanya Gendis." Potong Nadia sambil berlalu ke kamar.


Dewa mencebik, menghempaskan tangannya ke udara "Yeah whatever lah siapa namanya itu gue gak peduli. Yang pasti masalah ini gak selesai jika dia kabur-kaburan terus."


"GENDIS GAK KABUR TAPI PULANG. SITU AJA YANG SOK PENTING." Teriak Nadia dari arah kamar.


Dewa mengatupkan rahangnya kesal. "Bisa gak bro, lo lakban dulu mulut pedas is-- ok sorry-sorry." Dewa mengangkat tangan menyerah saat melihat tatapan tajam Gibran yang siap mengulitinya. Well, suami sayang istri, suami sayang istri. Gue mah apa atuh, remah-remah kong guan di toples nastar. Udah remah-ramah, tersesat pula di toples lain. Dewa membatin kesal.


"13.30 pesawat kedua take off." Ujar Gibran sambil beranjak dari kursi. Ia menatap Dewa dengan kening berkerut saat melihat saudara seperjuangannya itu melongo seperti manusia purba yang baru saja mendengar dering telfon. "Mau menyusul atau tidak?" Gantian Gibran yang menendang Dewa tapi bukan kaki bangku tapi kaki laki-laki itu.


Dewa terlonjak, "Anjriiiiit lo. Kaki gue!"


"Emang yang bilang kaki gajah siapa? Angkut barang kamu." Gibran tak memperdulikan umpatan-umpatan Dewa langsung masuk ke kamar untuk mengganti sarungnya dengan celana pendek dibawah lutut.


"Om mau ngantar Om Dewa?" Tanya Nadia.


"Um." Gibran mengacak rambut Nadia. Menyempatkan sebentar mencolek pipi Pia yang sedang terlelap tak terusik sama sekali dengan mulut sampah Dewa. "Pesawat jam segini kayaknya masih ada."


Nadia mengangguk. Ia menahan tangan Gibran yang baru saja mengganti kaosnya dengan T-shirt baru. "Om bilangin Om dewa ya, Gendis jangan di teken. Takutnya anak itu nekat. Om tau sendiri gimana Gendis." Pinta Nadia gusar. Memikirkan Gendis yang bisa dibilang paling putih diantara mereka yang belang-belang, hatinya merasa khawatir. Gendis tipe penurut tapi sekali membangkang, apapun bisa dilakukan sahabatnya itu.


Gibran tersenyum kecil, "Jangan khawatir. Dewa kelihatannya saja br*ngsek, aslinya perasa." ucapnya menenangkan.


Nadia mengangguk kecil, "Hati-hati ya Om. Kalau digangguin pramugara, terima aja. Nad ikhlas." Senyum evil terbit di wajah manis Nadia berbanding terbalik dengan lelaki itu yang kini menatapnya datar.


Wajah Gibran yang tadinya tersenyum berubah manyun. Ia kembali diingatkan insiden di kejar-kejar bule g*la yang merupakan pramugara satu-satunya di pesawat itu yang katanya jatuh hati pada pandangan pertama. Yang g*la bukan ungkapan cintanya tapi siapa yang mengucapkannya, Dasar kaum luth, badan kekar tapi doyan sesama.


TUK!!!


"Aw!" Nadia meringis, mengusap keningnya yang baru saja mendapat sentilan dari sang suami. Lelaki itu tak merasa salah, malah melanjutkan langkahnya keluar kamar.


"Saya pergi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Nadia menjawab dengan wajah manyun mirip bebek. Untung sayang.


***


"Selamat siang, Pak."


Gibran yang baru saja selesai berwudhu mendongak dan mendapati Valeria berdiri canggung tak jauh darinya. Dokter berambut coklat itu tampak bersemu merah melihat Gibran yang wajahnya basah oleh air wudhu, adem seperti ubin mesjid.


"Selamat siang, mau wudhu?" Tanya Gibran melihat Valeria sudah menggulung jeansnya hingga sebetis.


Valeria mengangguk malu-malu. Jarinya bergerak menyelipkan anak rambut di belakang telinganya. Meskipun sudah tahu lelaki di depannya ini milik orang tetap saja hatinya masih berdebar. Sulit menepis pesona manusia keren bin soleh seperti Gibran di dunia yang hampir di penuhi lelaki br*ngsek. Ternyata masih ada lelaki ganteng, berduit, soleh dan setia di dunia ini. Ia harus optimis akan menemukan sisa-sisa manusia sekelas Gibran untuk dirinya walaupun sebenarnya dalam hati kecil masih berharap lelaki itu adalah Kapten Gibran Al Fateh.


Astagfirullah. Valeria menggelengkan kepala pelan. Jangan gila Leri, jangan gila, please.


"Silahkan." Ujar Gibran kemudian pergi dari tempat itu diikuti tatapan getir Valeria diiringi helaan nafas berat.


Jodoh orang kenapa keren bangat ya Tuhaaaan.


Sementara itu Gibran yang sedang bertugas membantu pengerjaan jembatan yang terputus oleh longsor mengistrahatkan diri sejenak sembari menunggu waktu solat membaur bersama beberapa prajurit lainnya yang juga melepas penat.


"Gilak, ada bidadari di tempat seperti ini. Kenapa saya baru liat ya?! Padahal sudah seminggu disini." Salah seorang anggota yang duduk berdua dengan temannya terdengar asik membicarakan seseorang. Berbisik-bisik agar tak mengusik kapten mereka yang kebetulan sedang ada disana.


"Dimana? Yang tadi? Itu sih dokter valeria. Belum lama sampenya, masih bening lha."


"Bukan Brai. Yang ini beda, Ori, Indonesia punya. Cantik-cantik judes tapi pengen dihalalin aja rasanya" Bantah prajurit berhidung perosotan itu menjelaskan detail cewek yang katanya 'bidadari' itu. Prajurit berwajah kebule-bulean itu sepertinya anak orang kaya yang bosan dengan kehidupan glamor, iseng-iseng tes tentara dan akhirnya diterima.


"Tim kesehatan yang lain kali bro. Mereka kan banyak tuh, berlima. Kali aja salah satunya."


"Ck, bukan. Kalau mereka, saya sudah kenal semua. Kemarin sempat ke basecamp. Kamu kan sudah lebih dulu disini, masa tidak tahu." Erangnya frustasi. "Mukanya manis, rambut bergelombang. Kalau liat wajahnya kayak judes tapi pas disenyumin, beuuuh bergetar jiwa jomlo saya, jadi pengen cepat-cepat ngehalalin."


"Halu kalik."


"Ck. Enggak. Nanti saya tunjukkan kalau sudah dapat fotonya."


"Gak. Ini beneran."


"Yang ini?" Sebuah lengah mengulurkan foto seukuran dompet memotong keasikan dua pemuda itu.


Prajurit muda itu langsung mengangguk saat melihat foto seorang cewek SMU yang terlihat bosan di tempat duduknya.


"Iya yang ini. Dapat dimana bro? Buat sa-- Kapten Gibran?" Wajah dua prajurit muda itu langsung pucat pasi melihat siapa yang nimbrung di obrolan mereka terlebih pemuda yang semangat bercerita tadi.


Gibran tersenyum simetris, "Namanya Nadia Gaudia Rasya, 17 menuju 18 tahun, Lulusan SMA Nusantara, golongan darah 0, ketua Genk the girls, Pemiliki Gaudia Group dan--" Gibran menghentikan ucapannya, memandang dua pemuda itu bergantian sembari memasukan kembali foto Nadia dalam dompetnya. Ia menghela nafas sejenak, terdengar berat dan sangat menyeramkan, "Dan dia istri dari Kapten Gibran Al Fateh, Ibu dari Navia Ayara Gibran."


GLUK!!!


Terdengar jelas dua pemuda di depan Gibran itu meneguk saliva dengan susah payah. Mereka saling melirik dengan mata menahan perih karena dari tadi tidak berkedip.


"SIAP SALAH, KAPTEN!!" kedua pemuda itu dengan sigap berdiri sembari menghormat menarik semua perhatian orang-orang yang ada di mushola darurat itu. Bahkan Valeria dan Rani ikut menoleh pada kumpulan pria berseragam loreng itu untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Gibran berdehem pelan lalu meluruskan punggungnya, "Duduk." Perintahnya.


Dua pemuda itu kembali saling melirik. Takut salah mengambil langkah. Mereka sudah mendengar bagaimana seorang Kapten Gibran begitu ganas di lapangan saat anggotanya sedikit saja melakukan kesalahan. Apalagi kesalahan mereka tadi bisa dibilang fatal level 9, menganggumi istri sang kapten, kira-kira hukuman apa yang akan mereka dapatkan? Tentu membersihkan lapangan distrik terlalu ringan untuk mereka.


"Duduk!" sekali lagi Gibran memerintahkan.


"SIAP!"


Saat dua prajurit muda itu sudah duduk dengan punggung tegap dan tatapan lurus ke depan, Gibran menepuk-nepuk bahu mereka secara bergantian, tentu saja dengan tenaga yang tidak bisa dibilang ringan karena Gibran benar-benar menepuknya hingga dua pemuda itu hanya bisa meringis.


Buk! Buk! Buk!


Gibran mendekatkan wajahnya kearah dua pemuda itu, berbisik di telinga keduanya "Prajurit yang tangguh.Lain kali mata di pake untuk mengintai musuh, jangan melirik perempuan. Apalagi yang cantik, manis, jutek ngegemesin seperti yang barusan. Paham?"


"SIAP, PAHAM, KAPTEN!" jawab keduanya serempak.


Gibran mengangguk kecil. Ia melirik jam tangan di lengan, sudah masuk waktu dzuhur.


"Adzan." Ujar Gibran datar.


Pemuda yang mengagumi Nadia tadi meneguk salivanya hingga tergagap "A-ad-adzan, Kapten?" Tanyanya memastikan.


Gibran mengangguk, "Iya. Kenapa?Tidak bisa?"


"Siap, bisa, Kapten." Jawabnya cepat meskipun terdengar ragu-ragu. Matanya mulai memerah. Ini kali kedua ia adzan untuk solat, terakhir kali ia melakukannya saat ia SD kelas enam itupun berakhir dengan dirinya tidak masuk sekolah karena di ledek habis-habis oleh teman-temannya.


"Nama?"


"Bayu, Kapten."


"Bayu, silahkan adzan." Ujar Gibran ringan. Sangat berbanding dengan Prajurit bernama bayu itu yang mulai keringat dingin.


"Si-siap, Kapten." Ucap Bayu sembari menyeka keringatnya yang membanjiri keningnya. Prajurit muda itu berjalan dengan langkah tertatih di tempat solat yang disiapkan untuk imam.


"Dan kamu,--"


"Fajar, Kapten."


"Ya, Fajar. Tolong imami kami hitung-hitung latihan mengimami istri yang mau dihalalkan."


Fajar yang merasa nasibnya tak lebih baik langsung merosot di tempatnya. Mati aku, cuma hafal tiga kul. Batinnya meringis.


"Bisa kan?" Tanya Gibran memastikan saat Fajar tak menyahuti.


Fajar menggeleng, "Siap, salah. Saya tidak sanggup kapten. Tanggung jawabnya berat." ucapnya tegas meskipun sebenarnya separuh dari kesadarannya sudah terbang entah kemana.


Gibran menepuk salah satu anggotanya itu lagi dengan tepukan-tepukan di bahunya "Dengar anak muda,--" kedua tangan Gibran mencengkram kedua bahu Fajar yang berusaha tidak pingsan di tatap sedemikian dekat dan tajam oleh sang kapten "Menghalalkan seorang perempuan itu tidak hanya sebatas mengucapkan lafadzh qobul terus malam pertama. Ada tanggungjawab yang harus kamu penuhi sebagai lelaki yaitu menjadi imam bukan hanya saat solat tapi juga imam dalam menjalani bahtera rumah tangga. Memastikan kalau istri dan anak-anakmu tetap on the track, jalan yang lurus. Mengerti?"


Fajar mengangguk, "Siap, mengerti, Kapten."


"Jangan asal mengerti tapi harus benar-benar mengerti."


"Siap."


Gibran melepaskan tangannya kali ini setengah berbisik pada Fajar yang sepertinya mendapat hari sialnya. "Jangan karena manis dan menggemaskan lantas mau dihalalin. Kucing juga manis dan menggemaskan. Mau kamu sama kucing?"


Fajar menggeleng cepat, "Tidak, Kapten."


Gibran kembali duduk dengan tenang, "Lemaskan bahu kamu. Teman kamu di depan sepertinya demam panggung." Sampai Gibran selesai menempa mental Fajar, Bayu belum juga mulai melantunkan adzan. Ia menghela nafas prihatin. Akhirnya ia memutuskan berdiri menggantikan Bayu setelah melihat para lelaki yang mengaku calon imam ini menghindari menatap langsung padanya. Semuanya mengalihkan pandangan kemana saja asal tidak padanya.


Gibran menggelengkan kepala pelan. Pia sayang, semoga kelak Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk Pia. Yang bukan hanya kaya akan harta tapi kaya akan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Yang bisa mencintai Pia dengan setulus hati. Yang bisa menjaga raga dan hati Pia. Yang bisa memuliakan Pia sebagai Rasulullah memuliakan kaum wanita. Jika kelak Pemuda soleh itu datang, Ayah dengan ikhlas akan menyerahkan tambuk itu padanya. Karena bagi Ayah, Pia adalah titipan terbaik yang Allah berikan dan haruslah lelaki terbaik yang mendapatkan Pia. Hati Gibran terenyuh. Padahal Navia masih bayi tapi ia sudah membayangkan bayi mungilnya itu menikah. Bagi seorang Ayah melepas anak gadis menikah merupakan impian dan juga ketakutan tersendiri dalam hidupnya.


***


Calon mertua lagi Wudhu.