Little Persit

Little Persit
Jalan sama Om-Om



Gibran berjalan tegak menuju parkiran mobil. Ia akan menjemput Nadia sebagai mana janjinya pada istrinya itu. Pertemuan para petinggi diakhiri kata sepakat demi ketahanan Negara. Tidak ada perdebatan berarti karena pada dasarnya Komandan tertinggilah yang memegang kendali. Untuk mereka yang di level bawah hanya memiliki satu kata untuk semua keputusan yang dibuat 'Siap laksanakan!'


"Bang, Gi!"


Gibran menoleh mendengar suara yang memanggil namanya. Tak jauh dari dia, ada Elsa melambaikan tangan padanya.


"Assalamualaikum, Dokter, Ndan." Sapa Gibran menghampiri Elsa. Tak sopan rasanya mengabaikan begitu saja sapaan seorang kenalan apalagi disana ada Komandannya.


"Waalaikumsalam, Gi. Buru-buru?" Papa Elsa tersenyum lembut pada salah satu prajurit favoritnya itu.


"Tidak, Ndan. Hanya mau jemput Nadia." Ujar Gibran tersenyum sopan.


"Oh, mau jemput Nadia. Gimana anak itu? Sudah lama sekali saya tidak melihatnya."


"Baik, Ndan. Nadia sedang persiapan ujian." Jawab Gibran. Semalam baru saja mengerjai salah satu anak buah komandan. Lanjut Gibran dalam hati.


"Wah sebentar lagi lulus SMA ya. Bagus mulai sekarang kalian pikirkan soal anak. Nadia pasti sudah siap. Saya turut menyesal mendengar kabar kehilangan calon bayi kalian." Papa Elsa begitu tulus mengucapkannya tanpa menyedari retakan yang semakin menganga lebar di hati putrinya yang mendengarkan itu dengan perasaan sesak.


"Terima kasih, Ndan." Gibran mengangguk formal.


"Pa, kita kan mau makan siang, ajak Bang Gibran dan Nadia sekalian aja." Ujar Elsa menyela obrolan dua lelaki di depannya.


Gibran meringis dalam hati. Nadia pasti mengamuk jika rencana jalan-jalan mereka harus batal. Tapi--


"Gimana Gi? Sudah lama juga kita ngobrol-ngobrol." Tanya Papa Elsa, mengiyakan saran dari putrinya.


"Maaf, Ndan, tapi sekolah Nad jauh dari sini. Waktu komandan dan Dokter Elsa pasti terpotong lama." Gibran memberikan alasannya. Tentu saja bukan alasan yang dibuat-buat karena kenyataannya memang seperti itu adanya.


Papa Elsa mengangguk "Baik. Kami juga sedikit buru-buru. Masih ada acara setelah ini." Ujarnya memaklumi. Gibran dan Nadia pasti butuh waktu untuk berdua.


"Terima kasih, Ndan. Sekali lagi saya mohon maaf. Insya Allah kami akan jalan-jalan ke rumah." Gibran menyalami Papa Elsa. Untunglah Papa Elsa tidak memaksa, sangat sulit menolak kemauan seorang atasan apalagi sebuah niat baik.


"Kalau begitu kami jalan duluan."


"Siap, Ndan."


"Ayo, Sayang." Papa Elsa menarik tangan putrinya lembut meninggalkan Gibran yang menghormat padanya.


Sepeninggal Papa Elsa dan Elsa, Gibran bergerak cepat menuju mobilnya. Hpnya sejak tadi berdering. Nadia memanggil untuk yang kedua puluh kalinya. Benar-benar bersemangat sekali anak itu.


To Nadia


Otw


From Nadia


Lelet bangat. 😡


To Nadia


Batalin aja?


From Nadia


Tutup aja pabriknya?


Gibran menutup mulutnya menahan tawa melihat balasan Nadia. Sekarang ancamannya menutup pabrik, luar biasa sekali istrinya itu, tau saja kelemahannya.


Gibran membawa kendaraannya melaju melewati jalanan kota yang sedikit lengang. Jam pulang anak sekolah telah lewat sedangkan jam pulang karyawan masih setengah jam lagi. Kesempatan untuk mereka yang ingin memacu kendaraannya lebih cepat.


Setengah jam perjalanan, akhirnya gerbang sekolah mewah tempat Nadia menuntut ilmu kelihatan juga. Gibran memarkirkan mobilnya tak jauh dari Gerbang supaya memudahkan Nadia melihatnya.


To Nadia


Sdh d dpn


Gibran meletakan hpnya diatas dashbord lalu mengambil majalah sport yang ada di dalam dashbord untuk dibaca sembari menunggu Nadia keluar.


Tak lama berselang, Nadia muncul dari dalam lingkungan sekolah bersama tiga sahabatnya. Satu yang baru, seorang anak laki-laki yang sedang memberikan sebuah kotak pada Nadia menarik perhatian Gibran. Anak laki-laki itu tampak malu-malu memberikan kadonya pada Nadia yang terlihat sekali enggan menerima kotak pink itu. Sebuah ulasan senyum lembut tersungging di wajah Gibran, ternyata sikap judes Nadia lebih parah lagi saat berurusan dengan anak laki-laki. Gibran harus memberikan empat jempolnya untuk Nadia, tidak sia-sia ia mendidik Nadia menjadi gadis mahal.


Setelah cukup lama menunggu aksi malu-malu kucing itu selesai, Gibran memutuskan untuk keluar dari mobil. Mungkin mengenalkan diri pada si anak laki-laki diperlukan.


"Om Gi!!!" Baru juga menurunkan kakinya suara koor para remaja itu mulai terdengar. Gibran tersenyum simetris menghampiri Nadia dan ketiga sahabatnya serta anak laki-laki yang menatapnya intens.


"Halo Om Gi, hawwwt bangat sih Om." Sandra melambaikan tangan Genit yang langsung di tangkis Nadia.


"Jangan ganjen lo!"


Sandra mencibir "Pelit bangat sih." Omelnya.


Nadia mengedikkan bahu tak peduli, dengan mesra menyandarkan kepalanya di dada Gibran, memeluk laki-laki itu mesra.


"Dih pamer aja terooos." Aleksis menoyor kepala Nadia yang dengan mudah menghindar di belakang Gibran.


"Iri tanda tak mampu." Kata Nadia memeletkan lidah.


"Iya nih, gak boleh tauk, Leks, Dosa."


"Ampun deh, Ndis." Aleksis menepuk jidatnya menyerah menghadapi kepolosan Gendis.


"Yuk, jalan!" Nadia menarik tangan Gibran dan entengnya melempar hadiah yang diberikan begitu saja, untungnya Gibran dengan tangkas menangkapnya.


"Hargai pemberian orang." Bisiknya.


Nadia bersungut "Iya deh. Makasih, Vino." Kata Nadia malas. Cowok bernama Vino itu mengangguk senang.


"Calon pacarnya Nad, Om." Vino mengulurkan tangannya pada Gibran dengan sopan. Ia tidak menangkap kode yang diberikan oleh Nadia Cs.


"Calon pacar Nad?" Tanya Gibran dengan suara rendahnya.


Vino mengangguk cepat "Direstui kan Om?"


Gibran tersenyum sinis "Tentu saja tidak."


Vino mengerjap kaget. Tidak menduga akan mendapatkan penolakan secara langsung tanpa basa basi.


"Nadia sudah ada yang punya. Cari yang lain saja." Ujar Gibran lalu mengamit tangan Nadia membawanya pergi dari tempat itu. Nadia sempat menengok kebelakang melambaikan tangan pada ketiga sahabatnya. Sementara Vino, cowok berlesung pipi itu harus mendapatkan penolakan yang menyakitkan dari cinta pertamanya.


"Jadi siapa yang punya Nad?" Todong Nadia saat keduanya sudah duduk manis dalam mobil.


"Gak tau" Ucap Gibran masa bodoh. Ia menarik tuas lalu dengan pelan memutar setir mobilnya keluar dari himpitan mobil lainnya. Anak para konglomerat sepertinya lebih banyak yang memakai jasa sopir dari pada membawa mobil sendiri.


"Jawab!" Nadia menangkup kedua pipi Gibran tak peduli dengan keadaan Gibran yang tengah menyetir.


"Bahaya Nad." Gibran mencekal kedua tangan Nadia dengan satu tangannya yang bebas.


Gibran menghela nafas pendek "Gibran Al Fateh. Puas?"


Nadia mengangguk cepat sembari menyengir "Sangat puas." Katanya yang langsung mendapat cubitan di pipi dari Gibran.


"Lain kali Om ikat Nad di belakang biar gak berulah." Ancamnya yang hanya di balas kekehan oleh Nadia.


"Diikat di hati Om aja gimana?" Nadia berujar manja. Matanya mengedip lucu membuat Gibran tidak tahan untuk tidak menggigit anak itu.


"AW! Sakit Om!!!"


Buk! buk! buk!!!


***


"Yang ini?" Nadia menatap lelah Gibran yang sejak tadi belum juga meng-acc baju yang ia inginkan.


"Punggungnya kelihatan. Ganti!"


Nadia menghentakkan kaki kesal kembali kedalam ruang ganti. Sejak tadi ada saja yang di komentari Gibran, lehernya yang kebuka lah, punggungnya lah, terlalu ketatlah, perutnya ngintiplah, ketiaknya kelihatan lah, haduuuh jalan sama Om-om ternyata serempong ini. Bukan saja Nadia yang dibuat kesal, Pramuniaganya juga sudah ikutan emosi memenuhi harapan Om-om kece itu yang susahnya ampun-ampunan.


"Ini yang terakhir kalau masih gak pas, Nad pake karung goni saja." Ujar Nadia tak lagi sesemangat tadi memamerkan baju-baju mahal itu pada Gibran.


"Belahan kakinya terlalu tinggi. Kainnya gak sayang tuh di gunting-gunting?" Gibran menatap gaun terakhir dengan kening berkerut. Apa bagusnya baju seperti itu, leher dipamerin, paha di obralin. Apa gunanya pakai baju kalau hanya untuk gaya-gayaan saja.


Nadia menatap Gibran tak percaya, "Really?" Tanyanya speechless.


"Yeap. Udah, kita ke tempat lain saja." Gibran keluar dari toko tersebut meninggalkan Nadia yang hanya bisa menatap nelangsa gaun terakhir yang sebenarnya sangat di sukainya.


"Bungkus kak. Trus kirimin di alamat ini." Nadia menyerahkan dress merah itu sekaligus alamat dan kartu ATMnya. Bodo amatlah sama Om-om satu itu, kaki udah pegal harus ada yang dibawa pulang.


"Ayo!" Ajak Nadia tak semangat. Jalan-jalan macam apa ini. Yang ada setiap keinginannya di tentang Gibran. Mau minum yang dingin nanti amandel, mau beli cookies nanti diabetes, mau makan burger nanti kanker. Ini jalan-jalan niatnya mau senang-senang malah bawaannya bikin emosi.


"Gak boleh kan?" Ujar Nadia datar saat mereka melewati gerai penjual es krim


"Boleh kok."


"Hah? Bo-boleh?" Tanya Nadia tak percaya.


Gibran mengangguk "Iya, boleh." katanya dengan kening bertaut "Kenapa? Gak mau?"


Nadia mengibaskan tangannya "Mau dong. Mau." Ujarnya cepat. Padahal tadi mau minum yang dingin aja dilarang. Labil.


Nadia masuk ke gerai penjual es krim di temani Gibran di belakangnya.


Nadia menghampiri pelayan "Coklat mint ya, Mbak."


"Dua?"


Nadia menoleh pada Gibran "Om mau?"


"Nad saja."


Nadia mengangguk "Satu aja, mbak." Nadia tersenyum senang, akhirnya tercapai juga keinginannya untuk jajan es krim bareng Gibran. "Makasih ya Om" katanya sumringah sembari memainkan jemari Gibran seperti kebiasaannya.


"Sama-sama Nad." Gibran mengusap rambut Nadia lembut. Disekitar mereka beberapa orang saling berbisik melihat dua orang berbeda usia begitu mesra. Berbagai prasangka mulai bermunculan. Paling banyak menatap mereka dengan tatapan jijik apalagi pada Nadia yang notabenenya seorang siswa SMA yang main sama Om-om.


"Liat deh Om orang-orang itu. Pasti lagi ngomongin Nad."


Kening Gibran mengerut "Ngomongin kenapa?"


"Ya apalagi kalau bukan Nad yang main sama Om-om." Ujar Nadia sedikit kesal dengan ketidakpekaan Gibran. Dari tadi juga orang-orang berbisik tapi diabaikan begitu saja oleh Nadia. Omongan orang jahat tak akan mempengaruhi hatinya yang sedang sangat bersemangat untuk bersenang-senang dengan Gibran. Kapan lagi bisa ngedate bareng Om Gibran gini. Biasanya selalu jadwalnya gak singkron. Adalah dia yang sibuk les, Gibran yang dines malas, pokoknya ada-ada saja dan sekarang saat keduanya punya kesempatan, Nadia akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Guk guk menggonggong, Nadia berlalu. Yipiiiii


Nadia dan Gibran segera keluar dari gerai tersebut setelah mendapatkan es krim pesanan mereka.


"Duduk dulu Nad." Gibran membawa Nadia duduk menuju salah satu bangku istrahat yang sengaja di pasang untuk tempat istirahat orang-orang yang kelelahan menghabiskan rupiah mereka.


"Baju Nad kekecilan." Gibran menarik ujung baju Nadia yang sedikit terangkat menampakkan pinggang rampingnya saat gadis itu mengangkat tangannya.


"Gerah." Ujar Nadia menepis rambutnya yang menempel di lehernya.


"Biarin di gerai aja rambutnya biar ketutup merahnya." Ucap gibran membawa rambut Nadia kedepan untuk menutupi sisa aksinya semalam.


"Lain kali jangan ditempat terang gini Om. Nad jadi ribet sendiri kan." Nadia merapikan rambutnya.


Gibran mengangguk "Siap. Om sudah dapat tempat baru."


Nadia yang tengah mengemut es krimnya mengerjap bingung, "Dimana?"


"Ada. Nanti Om tunjukin."


Nadia mengangguk. Astaga obrolan tengah malam apaan nih, bisa nyambung lho dia. Padahal itu kan cocoknya dibahas orang dewasa. Nadia meringis, sudahlah, dia juga sudah menikah kan, mau diapain juga sama Gibran udah gak dosa.


"Om, Nad mau tanya."


"Tanya apa?"Gibran menyeka sudut bibir Nadia yang belepotan es krim.


"Om cinta pertamanya siapa? Bukannya apa-apa sih, Nad penasaran aja. Kalau Om gak jawab, gak apa-apa." Nadia mengemut kembali es krimnya, diam-diam mengintip Gibran yang tampak bingung menjawab.


"Nad punya cinta pertama?" Bukannya menjawab Gibran malah balik bertanya.


Nadia mengedikkan bahu "Nad gak tau. Tau-tau sudah ada Om aja yang Nadia punya. Ada ayah bunda juga sih." Jawab Nadia polos. Iya tak punya pengalaman mencintai orang lain selain ayah bundanya dan kini Gibran yang telah menjadi suaminya.


"Nad masalah dengan ini?" Tanya Gibran lagi.


Nadia menggeleng "Nad gak terlalu peduli sih Om. Siapun cinta pertama Om, yang penting kan Nadia istri Om. Tapi ada yang bilang cinta pertama tidak akan pernah mati." Nadia mendongak, ia menjilati stik es krim di tangannya. Berharap Gibran sedikit memberinya bocoran.


Gibran mengangguk "Cinta pertama Om memang tidak akan pernah mati." Ujar Gibran yang ternyata memberikan sedikit rasa sesak di hati Nadia.


"Jadi Om belum lupa sama dia?" Tanya Nadia dengan suara bergetar.


Gibran menggeleng "Tidak akan pernah. Dia hidup selamanya di hati Om." jawab Gibran manatap dalam mata gelap Nadia.


Nadia merasakan matanya mulai memanas. Padahal ia sendiri yang bilang kalau urusan cinta pertama tak akan mempengaruhinya tapi kenapa ia merasa tidak terima Gibran memiliki cinta pertama di hatinya?


"Om masih cinta sama dia?" Tanya Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Gibran mengangguk "Selalu." Katanya mantap membuat sesuatu seperti meremas hati Nadia.


"Lalu posisi Nad dimana?"


Apa benar ia hanya sebatas tanggungjawab bagi Gibran?


***