
Touch up, Touch up, Touch up. Nadia memperhatikan dengan seksama detail sentuhan ringan di wajahnya, hanya menambahkan sedikit liptin dan taraaaaa--- perfect. Nadia tersenyum puas melihat hasil daily make up-nya yang sudah jarang sekali ia lakukan. Semenjak di Papua, ia hanya mewajibkan diri memakai sunscreen untuk melindungi wajahnya agar tidak terbakar atau belang-belang oleh sinar matahari yang semakin jahat. Ia tidak mau terlihat pucat tapi tidak juga menor seperti ondel-ondel. Pas dan kelihatan segar terawat.
"Gak usah tebal-tebal. Mau ikut giat persit apa parade ondel-ondel?!"
Nadia menoleh dengan kening mengerut mendengar penuturan Gibran yang tengah setengah berbaring menemani navia diatas tempat tidur. Iya tidak mendengar dengan jelas tadi, "Om ngomong sama Nad?"
"Gak. Sama Pia." Jawab Gibran tanpa mengalihakan perhatian dari Navia yang tengah mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya.
"Oh." Nadia mengedikkan bahu. Mungkin saja salah dengar. Batinnya.
Gibran mencebik kesal. Dia memang sedang bicara dengan gadis kecil di depan cermin itu. Sudah cantik malah makin cantik. Bukankah mengkhawatirkan harus membiarkan gadis semanis ini jalan sendirian? Kalau ada yang menggodanya bagaimana? Kalau ada yang menatapnya bagaimana? Kalau ada yang-- Argh. Gibran mengetatkan rahangnya. Ini tidak boleh dibiarkan. Akhirnya dengan segala kemungkinan buruk yang berseliweran dikepalanya, sebagai suami ia harus bertindak.
"Hapus!"
"Hah?" Nadia melongok. Di sampingnya Gibran berdiri mengulurkan kotak kapas. Ia melihat kotak kapas itu bergantian dengan wajah datar Gibran. Keduanya terlihat sama, membingungkan. "Gimana-gimana?" Tanyanya memperjelas. Ini dia harus hapus hasil touch up- touch up nya gitu? Wah cari masalah dong ya orang ini.
Gibran mengangguk, "Hapus. Terlalu tebal."
Terlalu tebal? Bahkan dirinya terlihat tidak mengenakan make up apapun dengan pelembab dan foundation sesuai tone kulitnya ini. Nadia kembali memperhatikan wajahnya. Pori-pori kulitnya bahkan masih terlihat dengan jelas mengalahkan kenaturalan make up meghan markle saat pernikahannya dengan prince harry, Oh no tidak bisa.
"Gak. Ini gak tebal ya Om. Jangan ngarang. Kayak ngerti make up aja." Tolak Nadia keras.
"Saya yang liat sampai buta warna gara-gara bibir kamu terlalu merah, kulit kamu yang--itu bedak apa cat, putih gitu udah kayak bendera."
Putih? Ia bahkan semakin coklat semenjak menginjakkan kaki di pulau eksotis ini. Nadia mulai kesal.
"Putih dari mana sih Om. Liat nih, masih putihan lutut Nad. Lagian ya Om, ini liptin natural, sesuai warna bibir Nad. Jadi gak usah protes, emang bibir Nad aja yang tercipta dengan sempurna dan paripurna." Tatapannya tajam mengarah pada Gibran melalui pantulan cermin.
Tidak bisa. Tetap saja ini terlalu cantik. Gibran tidak akan melepaskan Nadia keluar rumah dengan penampilannya seperti ini sementara diluar sana banyak lelaki bermata elang yang siap menyorotnya. Ia kembali teringat dua pemuda di mushola kemarin. Itu baru dua orangnya, masih ada tiga, empat, lima dan belasan lainnya yang matanya minta di colok pakai sangkur miliknya.
"Tetap saja." Gumam Gibran tertangkap jelas diindra pendengar Nadia.
"Om lagian tumben-tumbenan sih peduli bangat sama make up Nad. Biasanya juga Nad mau ngelukis pelangi di muka pun gak ada gitu di protes. Ini cuma poles dikit udah di suruh apus aja." Dumel Nadia melanjutkan kekesalannya. Padahal tinggal mengepang rambut saja. Sepatu bahkan sudah di pakai. Harus bangat disertai drama. Nadia memutar bola mata sebal.
"Tipisin dikitlah." Tawar Gibran sembari duduk diatas meja, "Saya bantuin. Tuh-tuh ada putih-putihnya." Gibran hendak menyentuh wajah Nadia dengan kapas tapi langsung di tahan oleh Nadia.
Nadia memegang kedua pergelangan tangan Gibran, mengusap urat yang terlihat menyembul dipermukaan punggung tangan laki-laki itu. Pekerjaan mengangkat senjata kemana-mana ternyata cukup membantu membentuk garis urat sang suami "Emangnya Nad cantik bangat ya Om?" Tanya Nadia dengan sorot mata yang sering membuat Gibran harus berusaha keras untuk tidak menyembunyikan istri kecilnya itu dalam kantong bajunya, polos sekaligus menggoda dalam satu waktu.
"Khm, seperti biasa." Ucap Gibran melarikan tatapannya kearah lain.
"Cantik bangat dong ya." Nadia menahan kedutan di bibirnya saat melihat Gibran seperti kesulitan berbicara.
"Um."
"Um apa?" Seakan ingin membuat lelaki itu semakin terpojok, Nadia berdiri diantara kedua paha Gibran. Tangannya sudah berpindah mengusap dada Gibran yang hanya dilapisi kaos hitam tipis dengan pelan, "Hm?"
****. Gibran menahan umpatannya di ujung tenggorokan. Kedua tangannya berusaha keras untuk tidak tergoda merengkuh badan ramping yang tak berjarak lagi dengannya ini. Wangi lembut dan segar Nadia menguar memenuhi indra penciumannya, membuat seorang Gibran harus menambah pertahanan dirinya. Apalagi bibir merah itu yang--- apa ia harus melakukan cara keren menghapus warna kemerahan itu dengan bibirnya sendiri? Ide nakal itu terlintas begitu saja. Tapi--
"Um apa?" Nadia tersenyum menggoda.
Gibran melirik dua lengan putih yang entah sejak kapan kini mengalun di lehernya. Senyum miring terbit di wajahnya terlebih melihat Nadia yang sepertinya baru menyadari telah melakukan kesalahan besar dengan berani menggodanya.
Grep!
Kedua lengan Gibran sukses mengunci tubuh ramping Nadia dalam dekapannya, "Penggoda kecil" Ujarnya berat, mengetatkan rahangnya.
"O-om, Nad nanti telat ke Auhmpppph" Mata Nadia membola saat bibir gibran tiba-tiba membungkamnya dengan tidak santai. Terlebih saat benda kenyal sedikit basah itu menyelip masuk mengabsen hampir seluruh rongga mulutnya.
No. Ini sangat berbahaya. Nadia yang masih sedikit tertinggal sisa kewarasannya berusaha melepaskan kuasa Gibran atas tubuhnya namun badan kecilnya tentu tak sepadan dengan badan samson milik suaminya.
Gibran semakin ganas. Bahkan kini bukan saja bibirnya yang aktif mengeksplor tetapi tangannya juga yang tidak tinggal diam menyelip masuk di dalam baju persit yang Nadia kenakan, menyentuh kulit lembut itu dengan lihai. Ini bukan lagi Brain wash kiss namanya tapi--- Nadia kembali memungut sisa kewarasannya yang sempat terlena bahkan membalas perlakukan Gibran saat merasakan tangan Gibran sampai di bawah kaitan bra-nya. Nadia menjadi semakin panik, bakal panjang urusannya kalau Gibran berhasil lagi kali ini. Ia sudah banyak kali absen kegiatan persit sejak Pia lahir. Jangan sampai kali ini harus absen lagi hanya karena make up yang berakhir menjadi Kiss. Ah kenapa terdengar seperti judul lagu yang di gilai Alexandra ya, Make up and Kiss. Tentu saja lagu itu tidak terinspirasi dari kejadian seperti ini kan?!
Tak!
"Arrrrrrghhh Nad kamu--- Ck, argh."
Nadia mengangkat tangannya ke udara setelah mengambil jarak aman dari Gibran yang tengah mengerang kesakitan memegangi kakinya.
"Bukan salah Nad." Nadia berujar cepat. Ia meringis melihat hasil perbuatannya pada kaki sang suami. Ia tidak keras menginjak kaki Gibran tapi ternyata sepatu yang di beli Gibran baru-baru ini ujungnya cukup ampuh jadi senjata.
Gibran meringis menahan sakit akibat denyutan di kaki kanannya. Tatapannya tajam mengarah pada Nadia. Tapi baru saja mau memberi pelajaran tambahan untuk istrinya itu, Ia baru sadar bahwa sudah mengacaukan penampilan istrinya. Liptin berantakan disekitar bibirnya, rambutnya yang awut-awutan dan tentu saja kancing baju yang hanya menyisakan satu yang terkancing rapi. Gibran berdehem canggung. Rasa sakit di kakinya bahkan sudah di lupakannya.
"Kemari" Gibran menggerakan tangannya memanggil Nadia.
Nadia yang merasa salah menggeleng cepat, reflek mundur ke belakang merapat di dinding. Wajahnya ngeri melihat tatapan tajam Gibran, "Gak mau."
Gibran menghela nafas berat lalu melangkah pelan mendekati Nadia.
"Om mau ngapain Nad?" Nadia merapatkan kerah bajunya yang baru disadarinya tak cukup lagi melindungi area pribadinya.
Gibran menggaruk belakang telinganya. Apa yang harus ia katakan pada istrinya ini, ia sudah mengacaukan penampilan Nadia yang sudah di kerjakannya sejak setengah jam sebelumnya, "Itu bibir kamu--"
Nadia sontak menutup mulutnya panik, "Bibir Nad gak apa-apa." Ujarnya cepat. Ia khawatir Gibran kembali menyerangnya sedangkan bibirnya masih terasa kebas setelah di lahap habis lelaki itu.
Akhirnya Gibran memutuskan kembali ke meja dan mengambil cermin duduk milik Nadia. Ia berjalan lagi kearah Nadia membawa cermin di tangannya yang sengaja ia balik bagian belakangnya. Setelah jarak mereka cukup aman setidaknya dari amukan Nadia yang mungkin akan menciderai kepalanya, Gibran membalik cermin tanpa mengatakan apapun. Nadia yang kebingungan melihat kearah cermin dan kemudian---
"KYAAAAA OM GIIIIIIIII GAK MAU TAU BALIKIN KAYAK TADIIIII!!!"
BUK!!!
.
.
.
Nadia misuh-misuh sepanjang jalan menuju Aula. Ia masih kesal dengan Gibran yang sudah mengacaukan make up flawless-nya dan berakhir dengan menaburkan bedak bayi milik Pia karena make up case-nya diambil oleh Gibran dan diletakkan diatas lemari yang tentu saja sulit ia jangkau.
"Muka lo kenapa di tekuk gitu? Betewe kok wangi Pia ngikut di lo sih?" Sabrina yang berada disampingnya mengendus badan Nadia.
"Ck apaan sih, mbak. Gak tau orang lagi kesal apa." Nadia mengedikkan bahu berjalan cepat mendahului Sabrina tanpa kesulitan berjalan diatas jalan berkerikil. Ia menenteng tas tangan merek Gucci yang diisi dengan rerumputan yang dikumpulkan sebelumnya untuk membuat kerajinan tangan yang baru. Sandra pasti akan syok melihat tas limited edition seharga ratusan juta pemberiannya diisi dengan rumput liar oleh Nadia tapi apa peduli gadis itu, saat kesal ia bahkan bisa mengangkut batu kali dengan tas-tas brandednya yang tak terhitung lagi jumlahnya. Crazy rich people memang punya cara sendiri dalam menjalani hidupnya.
"Selamat sore Ibu Gibran."
"Selamat sore." Nadia mengulas senyum kaku pada beberapa orang tentara yang di lewatinya. Ia bahkan tak menoleh dua kali karena masih diserang kesal tanpa mempedulikan bagaimana tanggapan orang-orang padanya yang mungkin akan menganggapnya sombong.
Tak lama Nadia sudah sampai di halaman Aula. Ia menetralkan perasaanya terlebih dahulu dengan menarik nafas pelan lalu menghembuskannya. Merasa tidak PD dengan penampilannya, Nadia mengeluarkan cermin kecil dalam tasnya untuk memastikan tak ada yang salah dengan dirinya. Helaan nafas pendek lolos dibibirnya, untuk pertama kali seumur hidupnya ia memakai bedak bayi di wajahnya saat keluar rumah. Untung saja Gibran tidak menyemprotkan minyak telon di badannya karena kalau sampai ia, sudah pasti saat ini Nadia Gaudia Rasya officially akan di kontrak sebagai ambassador make up bayi. Wanginya sudah sempurna sekali tinggal di tambahkan ekor kelinci di belakangnya agar semakin lucu dan compeng bayi di mulutnya. Well Kapten Gibran, tunggu pembalasanku.
Setelah tenang. Nadia masuk ke dalam Aula dimana para ibu-ibu sudah berkumpul.
"Selamat sore, Ibu-ibu."
"Selamat sore, Ibu Gibran. Ayo bergabung."
Nadia duduk disamping Ibu Katty yang sudah menggelar lapaknya. Sabrina mengikut di belakang.
"Ibu Gibran kan dari kota. Bisa toh mengajari kami semua ilmunya."
Nadia mendongak, Ibu Ketua memasang senyum yang tak ingin di tolak.
"Izin Bu. Ilmu apa ya?" Tanyanya bingung. Selain menjadi penonton selama ada giat persit di tempat lama, dirinya hanya mengerjakan apa yang diperintahkan padanya itupun kebanyakan Gibran yang melakukannya sedangkan dirinya hanya bagian menangis dan mengeluh. Lagian di kelompok sebelumnya, ia bukannya belajar bersama tapi dia seorang yang mengerjakkan banyak hal seorang diri bahkan tugas kelompok sekalipun. Lebih mirip penindasan pada seorang persit baru hanya karena dia seorang Nyonya Gibran Al Fateh yang telah mengacaukan couple goals hasil ship mereka yaitu Kapten Gibran dan Dokter Elsa.
"Apa saja yang berguna untuk Ibu-ibu semua." Ujar Ibu ketua, Renal Sinaga.
Kira-kira apa ya yang berguna? Nadia melihat satu persatu ibu-ibu disana dan sebuah ide cemerlang terlintas di kepalanya yang muncul seperti bola lampu yang menyala terang.
"Izin Ketua."
"Silahkan."
"Bagaimana kalau kursus make up. Siapa tau Ibu-ibu bisa buka salon atau setidaknya kalau ke undangan tidak harus susah-susah lagi memikirkan mau make up dimana. Ada Bu Sabrina juga yang tidak diragukan lagi kemampuannya untuk membantu pelatihan. Iya kan, Tante Guntur?"
"Kok gu--Awwww" Sabrina meringis saat pahanya di capit oleh jari-jari lentik Nadia. Ia menatap garang tetangganya itu tapi tidak bisa melakukan apa-apa ditengah keramaian seperti ini.
"Bisa kan, Tante Guntur?" Tanya Nadia lagi dengan sorot penuh permohonan. Setidaknya kalau ada Sabrina, pekerjaannya akan lebih ringan.
"Ah Iya, siap." Jawab Sabrina terpaksa.
Nadia menghela nafas lega, "Kalau disetujui Ibu-ibu lain, jadwalnya nanti ditentukan segera." Lanjut Nadia lebih percaya diri.
Ibu ketua dan Ibu-ibu lain tanpa pikir panjang langsung menyetujui ide tersebut.
"Baik. Usul Ibu Gibran diterima. Betul toh Ibu-ibu?"
"Betuuuul." Jawaban serempak memenuhi ruangan itu menandakan tugas baru Nadia sudah di mulai.
Selanjutnya Nadia dan Para Ibu lain melanjutkan rencana sebelumnya yakni membuat mahkota dari rumput liar dengan bahan-bahan yang telah mereka siapkan sebelumnya.
"Lo nyimpen rumput di tas ini?" Sabrina berujar tak percaya melihat Nadia mengeluarkan bahan-bahan utama yang di bawanya dari dalam tas.
"Kenapa? Gak boleh emang?" Nadia tampak tak peduli mengecek semua perlengkapannya.
"Boleh sih cuma apa gak sayang barang branded gitu lo isiin rumput? Dihujat lo diliat OKB" Sabrina yang paham barang-barang seperti ini menggeleng tak percaya.
"Ck. Tas mahal-mahal kalau gak digunain buat apaan."Ujar Nadia tak ambil pusing. Lagian cuman tas, bisa dibeli lagi.
Sabrina menghela nafas pendek, "Apalah gue si miskin ini." Gumam Sabrina lirih tak terdengar oleh Nadia yang sudah mulai konsentrasi memperhatikan penjelasan Bu Margareth cara membuat mahkota rumput.
***
Mahkota rumput buatan Ibu.
Suka gak, Dek?