Little Persit

Little Persit
Guguk menggonggong, Nadia berlenggok



Gibran memandangi Nadia yang sedang tertawa lebar menonton acara lawakan yang sedang tayang di salah satu stasiun tv. Keduanya sedang berada di ruang tengah dengan Nadia yang bersandar di badan sofa sedangkan Gibran tiduran diatas Sofa. Senyum manis mengembang di bibirnya mengingat kejadian sore tadi Nadia mengamuk gara-gara puppy lepas kandang dan memakan habis pisangnya. Untung saja Gibran punya stok kinderjoy sehingga bisa menyelamatkan hidup puppy yang hampir saja berakhir di meja makan.


"Om, besok Nad ke pantai sama Ibu-ibu."


"Pantai mana?"


"Palingan pantai deket-deket sini. Nad diminta nyiapin Es buah."


"Terus Es buahnya mana? Nad gak buat?"


"Udah pesan sama Mbak Hana."


Gibran mengangguk. Dia hampir lupa siapa yang ada di depannya, Nadia Gaudia Rasya yang paling malas ribet.


"Gak bosan pantai terus?"


"Bosan bangat tapi mau gimana lagi. Kesepatannya gitu."


Tangan besar Gibran mengurai helaian rambut Nadia, menjumputnya masuk di sela-sela jarinya. "Om izinin sama panitia kalau misalnya Nad tidak mau pergi."


"Gak usah, Om. Nad harus sering-sering ngumpul sama Ibu-ibu biar nyambung." Ujar Nadia. Satu tanggannya memindahkan jemari Gibran untuk menangkup pipinya.


"Nad hangat. Sakit?" Tanya Gibran khawatir. Di sentuhnya kening Nadia dengan punggung tangannya.


"Efek deket-deket Om." ujarnya terkikik geli.


Gibran berdecak. Disentilnya kening Nadia dengan gemas "Ck. Manis bangat mulutnya."


Nadia menoleh cepat, "Kan Om yang paling tau rasanya mulut Nad." Godanya menaikturunkan alisnya.


Gibran terkekeh ringan "Udah lama Om gak icip-icip. Sini!" Ia menepuk ruang kosong di depannya. Nadia mengelak saat tangan Gibran hendak meraihnya. Gadis itu terkekeh puas melihat wajah masam Gibran yang gagal menangkap tangannya.


"Janji dulu, gak nyebar kemana-mana." Nadia mengangkat kelingkingnya, menawarkan kesepakatan.


Kening Gibran berkerut. Janji yang sangat sulit. Mana bisa ia menahan tangannya untuk tidak menyebar kemana-mana kalau Nadia tampak sangat menggemaskan seperti ini.


"Berat bangat janjinya." Gibran menggaruk ujung keningnya yang tak gatal. Di depannya Nadia masih menunggu dengan jari yang masih setiap mengacung.


"Abisnya Om gitu, suka lupa diri." Ujarnya, mengembungkan pipi sebal. Bukannya mau menolak, tapi ia khawatir dengan kondisi janinnya yang masih sangat muda. Ia takut tidak bisa menahan diri kalau Gibran sudah mulai menyentuhnya. Ia rasa akhir-akhir ini nafsunya sedikit meningkat, ia tidak tahu apakah ini efek kehamilannya atau karena Omnya yang makin hari makin hawwwt.


Keduanya terdiam cukup lama. Hanya suara tv yang mengisi ruangan sederhana itu. Nadia terkesiap saat Gibran menarik tangannya.


"Oke. Come to uncle!"


Nadia menggeliat "Janji dulu." Katanya setelah berhasil meloloskan diri dari cekalan Gibran.


Gibran mengusap wajahnya frustrasi "Oke." ujarnya mengalah.


"Janji!" Nadia mengulurkan jarinya yang langsung dikait oleh Gibran dengan malas-malas. Nadia tersenyum lebar setelah berhasil melakukan penawaran.


"Peluk!" Nadia merentangkan tangannya. Gibran terkekeh, meraih Nadia dalam pelukannya, membawa gadis itu terbaring diatas sofa dengan badannya sebagai tumpuan.


"Wangi bangat Nadnya Om Gi." Gibran menghirup rakus wangi lembut rambut Nadia.


Nadia memperbaiki posisinya agar nyaman berbaring diatas badan Gibran. Kedua tangannya bertumpu di dada bidang Gibran.


"Nad berat?" Tanya Nadia sembari melarikan jemarinya di wajah Gibran, mengabsen satu persatu lekuk wajah tampan Gibran. Jarinya iseng berhenti di bibir bawa Gibran. Ia terkekeh saat Gibran berusaha menangkap jarinya dengan kedua bibirnya.


Tangan kekar Gibran memeluk erat pinggang Nadia. "baringanya jangan gini kasian adeknya kejepit." Gibran menyerongkan badannya dan memeluk Nadia dari samping.


"Om senang gak jadi ayah?"


"Senang."


"Kok mukanya biasa aja." Protes Nadia saat kata senang Gibran tak sesuai dengan ekspresi datarnya. "Senyumnya mana?"


Gibran menyengir. Wajahnya tampak lucu dengan senyum kakunya. "Sehat-sehat kalian." Ujar Gibran mengelus lembut perut nadia yang mulai sedikit menunjukkan perubahan.


Nadia mengangguk "Om, Nad takut." Cicit Nadia menyelipkan jari-jarinya di sela jemari Gibran.


"Sangat takut. Gimana kalau Nad gagal lagi. Gimana kalau Nad--" Nadia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ketakutan-ketakutan itu selalu hadir menghantuinya. Kegagalannya menjaga janinnya, ucapan dokter tentang kesipaannya dan terlebih kesiapannya menjadi seorang Ibu. Apa ia bisa menjadi Ibu yang baik untuk anaknya kelak? dirinya bukanlah tipe wanita keibuan, bagaimana kalau ia gagal mendidik anaknya, bagaimana kalau--


"Shhhht... Jangan terlalu di pikirkan. Adek bayi pasti kuat. Ada Allah yang jaga Nad dan adek." Ujar Gibran, mengecup lama kepala belakang Nadia, berusahan menghantarkan ketenangan di hati Nadia.


"Kata dokter, Nad masih sangat muda. Nad mungkin saja gak bisa ngelahirin normal. Nad takut Om." Suara Nadia bergetar, bersahutan dengan suara televisi yang menjadi penyemarak di ruangan itu.


"Kita akan melewatinya bersama. Om akan menemani Nad. Om akan menjaga kalian berdua." Bisik Gibran menguatkan.


"Janji? Jangan tinggalkan Nad. Nad gak sanggup kalau gak ada Om."


Gibran mengangguk, "Insya Allah Om akan disamping Nad, mendampingi Nad."


Nadia mengangguk. Nadia pernah dengar dari guru agamanya, setiap membuat janji hendaknya mengucapkan kalimat 'Insya Allah' karena manusia bisanya hanya mengusahakan sedangkan keputusan finalnya ada pada pemilik rencana yang sebenarnya. Nadia maupun Gibran tak akan pernah tahu bahwa janji yang terucap malam itu hanya akan tetap menjadi janji seorang Prajurit yang terikat oleh kewajibannya sebagai alat negara.


***


"Nad, ganti celananya. Pake celana yang panjangan."


Nadia menunduk memperhatikan penampilannya, celana pendek diatas lutut yang bahkan menutupi seluruh pahanya dengan sempurna.


"Kan Nad mau ke pantai Om bukan ke pengajian. Masa gini gak boleh." Nadia yang sudah bersiap-siap menggeretu sebal. Ia malas kalau harus ganti-ganti lagi.


"Gak boleh. Ganti!" Gibran berujar tegas. Laki-laki itu masuk dalam kamar untuk memilihkan celana yang layak untuk Nadia.


"Ck. Ribet bangat sih."


"Pake!" Gibran memberikan celana kulot panjang berwarna hitam pada Nadia yang duduk dengan wajah manyun di kursi tamu.


Dengan berat hati ia mengambil celana tersebut dan tanpa mau repot-repot ke kamar, Nadia mengganti celananya tepat di depan Gibran membuat laki-laki itu bergegas merapatkan pintu.


Nadia menyengir lebar melihat wajah kesal Gibran.


Gibran berdecak, "Ckck kelakuan kamu ya."


Nadia memelet. Bodo amat. Keterlaluan sih.


"Di pantai jangan main yang bahaya. Jangan naik banana boat, apalagi flying fox. Duduk aja di saung."


Nadia menoleh cepat dengan mulut menganga lebar "Itu piknik apa bertapa Om?" Ngapain coba ke pantai kalau cuma berpuisi ria menemani debur ombak. Bahkan anak kecil bisa membangun istana di pantai.


"Ingat adek di perut, Nad." Ucap Gibran tak terbantahkan. Nadia mengangguk pasrah. Demi si buah hati.


Gibran mengantar Nadia ke Aula tempat berkumpulnya para Ibu-ibu. Kehadiran dua pasangan itu disambut bisik-bisik beberapa Ibu yang Nadia kenal sebagai fans garis keras Dokter Elsa. Nadia melirik Gibran yang terlihat santai membantu para adik tingkatnya mengatur barang-barang yang akan di bawa ke pantai. Laki-laki itu tak terganggu sama sekali walaupun jelas, pembahasan yang lagi hot di kesatuan mereka adalah sakitnya putri sang Komandan karena patah hati. Walaupun hanya sekedar rumor diantara para ibu-ibu, tetap saja berhembus sangat kencang dan mau tak mau langsung membentuk dua kubu tak kasat mata, pendukung Nadia Gibran dan barisan gagal move on yang masih mengharapkan sang kapten bersanding dengan dokter cantik itu. Nadia mengibas rambut hitam berkilauanya seperti iklan di tv dengan gaya anggun. Biarkan guguk menggongong, Nadia tetap berlenggok.


"Dek Nadiaaaa" Bu Agus yang dulunya hater nomor satu Nadia kini berbalik menjadi pendukung utama Nadia, datang menyapa. Hari ini kembang yang melekat di rambutnya adalah kembang kamboja yang sering Nadia lihat saat ke kuburan orangtuanya.


"Hai Tante. Udah lama? Eh, itu alisnya kemana Tan?" Nadia menunjuk alis Bu Agus yang hilang, botak bak tanah gundul yang habis dibabat bersih buldoser.


Bu Agus menyengir "Kehapus Dek. Lupa pakai waterproof. Jelek bangat ya?"


Nadia mengangguk "Bangat. Tante mau pake? Nad kebetulan bawa." ia merogoh tas kecilnya untuk mengambil salah satu benda wajib ditasnya itu.


Bu Agus mengangguk cepat. Matanya berbinar cerah melihat pensil alis yang baru saja keluar dari tas chanel mahal Nadia. Bahkan pensil alis tetangganya itu lebih mahal dari harga beras yang mereka makan dalam sebulan. Horang khayaaa.


"Wow dek, ini kan mahal bangat?" Bu Agus mengelus pensil alis chanel itu dengan penuh kekaguman.


"Tante suka?" Tanya Nadia sembari memasukan kembali hp dalam tas kecilnya.


"Suka bangat." Ujar Bu Agus semangat. Selama ini ia melihat yang ori hanya dalam katalog atau etalase toko yang tidak berani ia dekati.


"Untuk tante."


"HAH???"


Nadia tersenyum lembut pada Bu Agus yang membola. "buat Tante." ulang Nadia.


"Benar dek?"


Nadia mengangguk, "Iya. Maaf ya, Nad udah sempat pake."


"Gak apa-apa dek, gak apa-apa." Bu Agus bersorak senang. Haduh, punya tetangga kaya yang murah hati memang udah jadi rejekinya.


"Nad?"


Nadia menoleh, tak jauh darinya Gibran berdiri memegang kotak makanan.


"Tan, Nad ke Om dulu ya?"


"Iya dek, silahkan." Bu Agus mengangguk ceria. Ia akan melukis alis cetar dengan chanel ori. Huhu asiiiik.


"Ini apaan Om?" Tanya Nadia memandangi kotak bekal di tangan Gibran.


"Dari Hana. Takutnya Nad gak cocok dengan makanan yang dibawa ibu-ibu." Jelas Gibran menyerahkan kotak tersebut pada Nadia.


"Gak usah, Om. Nad kan mau dekat sama Ibu-ibu disini. Mau berbaur, jadi persit sejati. Gak perlu bawa bekal sendiri." Tolak Nadia mengembalikan kotak bekal tersebut pada Gibran, "Buat Om makan siang aja."


Gibran tersenyum tipis sembari mengacak puncak kepala Nadia "Makin dewasa aja Nadnya Om Gi."


"Hehe iya dong. Kan bentar lagi jadi Ibu." Ujar Nadia tersenyum lebar. Kalau sudah begini, dunia serasa milik berdua, yang lainnya hanyalah remah-remah kong guan yang diangkut semut merah.


"Hati-hati ya." Ucap Gibran entah sudah yang keberapa kalinya sejak Nadia minta izin semalam.


"Iya Om. Nad cuma ke pantai kok gak sampe nyebrang ke korea utara. Jangan khawatir gitu." Canda Nadia yang langsung dihadiahi sentilan lembut di keningnya.


"Anak ini."


"Orangtua ini." Balas Nadia memelet pada Gibran yang siap menyerangnya.


"Duh yang bahagia diatas penderitaan oranglain."


Nadia dan Gibran langsung menoleh keasal suara. Ibu senior yang sempat menegur Nadia di Aula datang menghampiri mereka dengan senyum yang dibuat-buat.


Nadia hendak membuka suara untuk membalas disaat yang sama jemarinya di elus lembut oleh Gibran, memintanya untuk diam.


"Selamat pagi, Bu Arta." Sapa Gibran ramah. Bu Arta adalah istri seniornya yang sampai sekarang memiliki dendam pribadi padanya karena jabatan yang ia tempati saat ini sudah lama diincar oleh seniornya tersebut. Bukan rahasia lagi Kapten Arta sampai melakukan pendekatan pribadi dengan Komandan sebelumnya untuk mendapatkan posisi Gibran sekarang tapi tetap saja rejeki tak akan pernah tertukar. Kapten Arta boleh berencana tapi Tuhan punya rencanaNya sendiri.


"Pagi." Bu Arta membalas dengan malas. Nadia memutar bola mata sebal, manusia manusia iri yang bikin bumi semakin sesak dan penuh energi negatif, ingin rasanya Nadia memuntahkan kalimat itu kalau saja tidak mengingat keberadaan mereka saat ini yang pasti akan menjadi tontonan seru.


"Tolong dong Bu Gibran bawaannya dibawa diatas truk. Jangan dibiarin ibu-ibu lain saja yang sibuk."


Duh manusia nyinyir. Barang mana coba yang mau diangkut, semua bawaanya sudah Gibran bereskan semua. Ckck, sayang bangat jadi istri seorang kesatria tapi mentalnya mental penjajah. Nadia mengulas senyum lebar yang dipaksakan.


"Tante mau diangkut juga?" Tanyanya dengan wajah polos. Wajah cantiknya memang sudah paling menyebalkan kalau sifat jahilnya kambuh. Jiwa membullynya menggeliat kalau sudah dihadapkan dengan orang-orang setipe Bu Arta ini.


Bu Arta mendelik, "Bu Gibran jangan kurang ajar ya. Memangnya saya barang harus diangkut-angkut?!"


Nadia menepuk sekali dengan wajah ceria, "Nah bener bangat. Tante kan bukan barang jadi punya mata dong untuk liat-- tuh tuh tuh, udah diangkut lho Tan, sisa batu dan tante aja yang belum masuk truk." Ujarnya masa bodoh dengan kode yang diberikan Gibran. Nadia sudah terlatih dari kecil untuk membalas nyinyiran yang dilontarkan padanya. Gibran memang orang sabar, tapi tidak dengan dirinya. Kesabarannya hanya aktif kalau dihadapkan dengan Gibran mode ngidam. Dia adalah Nadia Gaudia Rasya, darah pejuang dan pemenang mengalir dalam dirinya.


"Kam--"


"Maaf, kalau tidak ada yang penting, saya izin bawa Nadia." Gibran menyela. Lalu tanpa menunggu lama langsung membawa Nadia menjauh dari Bu Arta.


"Nad, jangan dibalas. Orang seperti Bu Arta tidak akan pernah puas mencari gara-gara. Ingat Adek bayi." Gibran mengelus rambut Nadia.


"Nad gak suka Bu Arta." Gerutu Nadia. "Nyinyir bangat. Sebel."


Gibran terkekeh, "Bu Arta juga gak suka Nad. Jadi biarin aja." Nadia mendelik. Malah di ketawain.


"Gak bisa dong Om. Nanti makin semena-mena tuh Tante." Nadia melipat tangannya kesal.


Nadia tentu saja bukan jenis orang yang akan diam saja ketika seseorang mengusiknya. Dan Gibran tahu betul tabiat istrinya yang satu itu. Gibran tidak ingin Nadia mengamuk di tengah keramaian dan membahayakan bayi mereka.


"Udah. Katanya mau jadi ibu hebat."


Gak ada hubungannya. Hah, sebel!


***