
Nadia mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil memegang ember kecil yang diisi air. Di depannya Gibran duduk menikmati roti lapis slay stroberi sambil sesekali memukul tangan Nadia saat siswa berseragam lengkap itu hendak menurunkan embernya.
"Udah kali, Om. Tangan Nadia mau patah rasanya." Keluhnya dengan wajah kusut. Hanya karena mengunci si tante tutup panci ia harus mendapatkan hukuman seperti ini, yah sedikit membuat masalah sih tapi kan Gibran seharusnya tidak sekeras ini padanya. Namanya penjahat pasti ada saja caranya untuk kabur meskipun bukan gara-gara mereka berempat. Nadia terus saja melakukan pembelaan-pembelaan untuk dirinya.
"Kalian ada masalah apa dengan Lettu Prada?" Tanya Gibran mengabaikan keluhan Nadia mengenai hukumannya yang terasa berat baginya.
"Biasa Om masalah cewek." Jawab Nadia. Dalam hati ia mengutuk ketidakpekaan Gibran akan perasaannya.
"Cemburu?"
Asem. Tau juga rupanya si Om. Nadia menggigit bibir bawahnya sembari melarikan tatapannya ke tempat lain.
"Kenapa gak jawab?" Tanya Gibran mencapit dagu Nadia agar melihat padanya.
Nadia mendengus sembari memutar bola mata kesal "Terserah Nad dong, mulut juga mulut Nad."
Gibran mendengus geli "Kecil-kecil ada saja ide jahilnya. Mau jadi apa kalian? Pembangkang?"
"Nad kepingin pintar biar jadi Dokter." Jawab Nadia dengan sengaja menirukan lagu-lagu fenomenal anak-anak jaman dulu.
"Pintar bangat jawabnya."
Nadia tersenyum bangga "Iya lah. Ck, Om udah dong, lengan Nad kayak terbakar gini. Kalau Nad sakit gimana, Om mau rawat?" ujarnya mendramatisir.
"Nad tidak percaya Om?"
"Percaya."
"Trus?"
"Tapi Nad gak percaya tante Prada. Orangnya ganjen bangat, suka nempelin Om udah kayak kuman aja." Nadia belum lupa kasus cinta pertama si*lan itu dan kejadian tadi makan es krim bersama. Nadia tidak ikhlas sama sekali Om Gibrannya berduaan dengan cewek lain dengan alasan apapun.
"Tadi kan karena tugas." Gibran berusaha memberi pengertian pada si keras kepala di depannya.
"Gak. Tante Prada emang sengaja nyari kesempatan bareng Om. Nad gak suka." ujarnya ngeyel.
"Jadi Nad tidak menyesal dengan kejadian tadi?" Tanya Gibran menatap Nadia datar. Kalau Nadia di kerasi yang ada dia semakin membangkang. Darah Gaudia, darahnya petarung yang tidak mengenal kata kalah.
"Menyesal soal apa dulu nih Om? Kalau ngunciin tante Prada di kamar mandi Nad gak nyesel sama sekali. Tapi Nad nyesel waktu penjahatnya kabur karena itu artinya Om masih lama sibuknya di kantor." terang Nadia panjang lebar.
"Nad harus percaya sama Om. Jangan cemburuan tidak jelas."
Nadia mendecih "Tidak jelas apanya. Nad ngaku dengan terang-terangan kalau Nad gak suka tante Prada."
"Alasannya apa? Dia hanya rekan kerja biasa." Gibran tak habis pikir, bagian mana yang harus di cemburui dengan menguntit penjahat. Kalau boleh Gibran juga lebih memilih di rumah saja berkebun daripada main ke Mall.
"Pokoknya Nad gak suka."Bibir Nadia mengerucut. Ucapan Prada tentang cinta pertama Gibran selalu menghantuinya. Apa benar cinta pertama tidak pernah mati?
"Keras kepala." Gumam Gibran mengambil ember di kepala Nadia dan meletakkan di lantai begitu saja. " Lap badan Nad."
"Salah Om makanya Nad basah. Om tanggung jawab." Nadia berdiri menantang Gibran. Dia tidak peduli lagi hukuman selanjutnya yang pasti Gibran harus tahu bahwa ia sangat tidak menyukai si tas Prada tutup panci itu.
Gibran meneguk roti yang tersisa dengan susah payah, menghadapi Nadia yang keras kepala hanya akan memperpendek umurnya. Ia masuk ke dalam kamar dan mengambil handuk Nadia.
"Lap!" Gibran meletakkan handuk di pundak Nad. Nadia lantas menepis handuk tersebut.
"Gak mau. Biar Nad sakit, Om yang repot." ujarnya keras kepala. Ia melipat tangannya di dada menatap Gibran acuh.
Gibran yang sudah sesorean dihadapkan dengan kekeraskepalaan Nadia akhirnya mengalah. Orang dewasa harus lebih sabar menghadapi remaja jaman sekarang.
Gibran menyampirkan handuk di badan Nadia lalu mulai mengelap bagian basah dari remaja itu termasuk rambutnya.
"Perlu Om gantiin seragamnya?" Tanyanya datar. Nadia menarik handuk di tangan Gibran dengan kasar.
"Gak perlu." Katanya lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit bantingan pada pintu coklat itu.
.
.
.
"Geser!" Nadia mendorong bahu Gibran yang sedang duduk di sofa menonton tv.
Gibran mengernyit, di sampingnya masih bisa memuat empat Nadia lagi tapi si kecil sepertinya belum habis melampiaskan kekesalannya. Gadis yang mengenakan kaca mata bingkai itu melirik Gibran dengan sudut matanya. Ia berdecak melihat baju yang dikenalan Nadia yang mempertontonkan bahunya. Heran sekali kenapa Nadia banyak memiliki model baju yang lehernya sampai lebar kemana-mana seperti ini. Sangat mengundang untuk diapa-apakan. Apalagi dengan tatapan lucu gadis itu. Ah, godaan.
"Kenapa?" Tanya Gibran melipat tangannya di dada, balas menatap Nadia.
"Nad gak suka tante Prada."
"Udah tau." Jawab Gibran enteng. "Apalagi?"
"YA LAKUIN SESUATU DONG OM. NAD GAK SUKA TANTE PRADA."
Gibran menutup telinganya dengan kedua tangan yang sontak membuat Nadia meradang.
"Dengerin Nad!" Rengeknya menarik kedua tangan Gibran dan menguncinya dengan susah payah. Gibran pasrah, tersenyum geli melihat Nadia yang kesulitan menahan gerakannya.
"Jadi Om harus ngapain sekarang? Mecat Lettu Prada tentu saja mustahil jadi jangan meminta yang aneh-aneh." Ujar Gibran ganti menangkup tangan Nadia menarik Gadis itu lebih dekat dengannya.
"Hm? Jawab Om." Lanjutnya menatap lekat wajah kecil berbingkai di depannya. Ia bisa merasakan sapuan hangat nafas Nadia di kulit wajahnya, segar dan memiliki wangi yang manis.
Nadia berdecak, ia juga tidak memiliki ide mengenai itu tapi yang pasti tante Prada harus jauh-jauh dari Om Gibrannya.
"Cemburunya Nad itu gak beralasan. Selama ini, apa pernah Nad lihat Om deket cewek?" Tanya Gibran setelah Nadia tidak memberi jawaban padanya.
"Tante Elsa." Gumam Nadia. Ia tidak sanggup melepas kuncian tatapan Gibran padanya.
"She is my friend." Ujar Gibran sembari menepis anak rambut yang menghalanginya menatap wajah Nadia dengan utuh.
"Tetap aja." Nadia berucap lirih.
"Nad tau seberapa kuat posisi Nad dengan ini?" Gibran menunjuk cincin emas yang melingkar di jari manis tangan kanan Nadia.
Nadia menggeleng pelan. Gibran mencium punggung tangan Nadia dengan penuh perasaan "Nad istri Om. Seseorang yang sudah Om ikrarkan akan hidup bersama sampai akhir bahkan ke jannah kelak. Nad paham?"
Nadia menggeleng lagi "Sederhanain aja deh Om." Ujar Nadia mengacaukan momen romantis yang ingin diciptakan Gibran. Laki-laki itu menghela nafas pendek.
"Intinya Nadia Gaudia Rasya adalah nyonya Gibran Al Fateh." kata Gibran kemudian.
"Kalau yang itu Nad paham." Nadia menyengir lebar yang langsung mendapatkan jitakan manis dari Gibran.
"Sini, peluk!" Gibran menjauhkan badannya bersandar pada lengan sofa. Kedua tangannya ia rentangkan menawarkan kehangatan untuk Nadia. Persit kecilnya diam sebentar lalu menjatuhkan badannya dalam dekapannya.
"Nad benci Tante Prada."
***
"Oalah, Dek Nad beli sayur juga?"
Nadia mengucek matanya untuk melihat tetangga yang menyapanya. Ibu Arya berdiri disana memegang kacang panjang satu ikat.
"Iya tante." Ujar Nadia tersenyum super tipis yang di paksakan. Ini semua karena omongan Bu Agus yang mengatakan pada Nadia kalau Gibran selalu digodai ibu-ibu saat suami kecenya itu membeli sayur. Oleh karena itu ia mengorbankan waktunya berleha-leha diatas tempat tidur demi membeli sayur menggantikan Gibran. Laki-laki itu sempat heran melihat sikapnya tapi Nadia punya segudang cara untuk menahan Gibran dalam rumah salah satunya dengan menghancurkan dapurnya.
"Om Gibrannya mana dek? Biasanya dia yang beli sayur." Ujar salah satu ibu yang sudah cukup berumur. Disamping itu ada seorang wanita muda yang terlihat sedang celingak celinguk kearah rumahnya. Mungkin ini yang dimaksud Bu agus, wanita muda ini adalah keponakan Ibu paruh baya yang berniat di kenalkan dengan Gibran, bibit pelakor ini sih.
"Oh, Om Gi masih di dalam tante, biasalah laki-laki kalau udah olahraga semalaman suka malas bangun." Ujar Nadia dengan malu-malu. Soal beginian sih kecil saja buat Nadia. Ia tersenyum pongah dalam hati melihat wajah murung si wanita muda. Hei, walaupun milik kamu sebesar bola kastik, tetap saja yang bisul-bisul begini selera Omnya. Nadia membantin, melirik sebal wanita muda yang sepertinya sengaja memakai pakaian super ketat. Wanita tampang kupu-kupu malan begitu bukan selera Omnya anyway.
"Waah gas pol nih Dek Nad." Bu Agus yang kini jadi sekutunya menambah panas suasana.
Nadia mengangguk malu-malu. Ia layak mendapatkan piala oscar sebagai aktris terbaik tahun ini. Dengan sengaja ia mengibaskan rambut kebelakang untuk memamerkan hasil karya Gibran di sofa semalam, untung saja masih ada meskipun merahnya tak terlalu. Sontak saja ibu-ibu saling berbisik, mengabaikan abang penjual sayur yang hanya bisa menutup telinga dengan obrolan dewasa itu. Nasib jomblo menahun, bang.
"Udah ya, Tante semua. Nad harus balik ke dalam. Om Gi pasti nungguin." Nadia mengambil belanjaannya dan masuk ke dalam rumah setelah membayar.
"Banyak sekali." Gibran menatap heran berbagai jenis sayuran yang dibeli Nadia. Sepertinya Nadia menghabiskan isi gerobak sekaligus.
"Buat seminggu." Ujar Nadia menepuk-nepuk tangannya setelah meletakkan sayuran diatas meja. Gibran memeriksa satu persatu belanjaan Nadia, lima ikat sayur kangkung, sepuluh ikat bayam, tiga plastik terong, dua plastik cabai rawit dan lima sisir pisang. Ia menarik nafas lelah. Mereka harus mengundang satu kompi untuk menghabiskan semua ini.
"Mulai besok Om tidak boleh beli sayur lagi. Nad udah siapin banyak jadi terserah Om mau apain. Kalau habis ntar Nad yang beli."
"Kenapa tiba-tiba?" Gibran melipat tangannya memandangi Nadia yang tampak lucu dengan rambur berantakannya.
"Karena emang tugas istri."
"Masak juga?"
Nadia berdehem "Yang itu pengecualian." katanya keki.
Gibran mengangguk "Oke. Tapi lain kali beli secukupnya."
"Gini aja supaya gak setiap pagi nungguinnya." Ujar Nadia sembari mengikat asal rambutnya.
"Belum hilang?" Tatapan Gibran jatuh pada bekas kemerahan di leher Nadia tepat dibawah kupingnya.
"Kerjaan Om nih. Tapi gak apa-apa, untuk kali ini Nad maafin karena berfaedah."
"Berfaedah?" Tanya Gibran heran.
"Yap untuk mengusir nyamuk-nyamuk nakal." Jawab Nadia lalu berbalik begitu saja masuk dalam kamar. Ah, hari sekolah. Kenapa harus hari sekolah saat ia inginnya hanya rebahan saja.
Nadia kembali ke dapur setelah selesai bersiap-siap. Gibran disana menunggunya dengan segelas susu dan nasi goreng spesial kesukaan istrinya.
"Om gak ngantor?"
Gibran menggeleng. Nadia mendengus melihat Gibran tumben-tumbenan makan sambil main hp, biasanya laki-laki itu paling anti main hp di meja makan tapi sekarang--
"Liat apaan sih?" Nadia menarik hp Gibran tiba-tiba dan memeriksa apa yang lebih menarik daripada dirinya dan sepiring nasi di depannya.
Gibran menghela nafas pelan "Hp privasi orang Nad." Tegur Gibran tapi tidak berusaha mengambil hpnya kembali dari Nadia.
"Om lupa kalau diantara suami istri gak ada lagi istilah privasi?!" Ujar Nadia tanpa mengalihkan tatapannya dari layar hp Gibran. Tak ada apapun disana jadi kenapa Omnya sibuk sekali dengan benda pipih ini. Nadia baru akan mengembalikan hp Gibran sebelum kemudian melihat layar hp berganti. Sebuah senyum terbit di bibirnya.
"Nad cantik ya Om?" Tanyanya mengangkat layar hp Gibran. Ternyata laki-laki itu diam-diam memandangi foto dirinya. Sepertinya yang ia ambil semalam karena Nadia masih mengenakan pakaian yang sama.
Gibran tak menyahut. Ia menikmati sarapannya dalam diam sementara Nadia hanya mesem-mesem tidak jelas.
"Makan Nad nanti terlambat." Gibran mengingatkan. Padahal sebenarnya ia hanya malu ditatap lekat oleh Nadia. Ketahuan memperhatikannya seseorang itu sangat-sangat bikin malu.
"Mukanya merah lho." Nadia berdiri dari kursinya dan menangkup wajah Gibran.
"Apaan sih Nad." Gibran menepis lembut tangan Nadia namun tidak dihiraukan si gadis berseragam lengkap itu.
Nadia terkekeh, "cuup!" Ia menyarangkan ciuman panjang di bibir Gibran hingga menimbulkan bunyi decap di dapur itu.
"Gemesin bangat sih Om." Nadia mencubit pipi Gibran yang pasrah saja menerima perlakuan istrinya. Terlanjur ketahuan, ya sudah dia nikmati saja. Nadia melepaskan tangannya dari wajah Gibran lalu kembali di kursinya untuk melanjutkan sarapannya.
"Nad sudah mulai les sore Om. Ujian bentar lagi." Terang Nadia.
"Jadi pulangnya jam berapa?"
"Paling setengah enaman. Malas bangat sih tapi mau gimana lagi diwajibin." Keluh Nadia mengingat waktu belajarnya yang akan di perpanjang. Padahal belajar sampai jam setengah tiga saja sudah membuat kepalanya hampir pecah.
"Belajar yang benar supaya lulus dengan nilai baik."
Nadia meletakkan sendoknya, sebuah ide terlintas dikepalanya "Kalau nilai Nad bagus, Nad dapat apa?"
"Dapat ijazah lah. Emang apa lagi?" Jawab Gibran membuat Nadia kesal.
"Itu sih Nad juga tau Om. Dari Om maksud Nad. Nad mau buat permintaan kalau nilai Nad memuaskan."
"Permintaan apa?"
"Iyain dulu baru Nad ngasi tau."
Gibran mengangguk "Jangan yang aneh-aneh. Apalagi minta Lettu Prada ke Atambua."
Nadia memutar bola matanya, kalau bisa sih itu juga bagus tapi dia punya rencananya sendiri.
"Nad mau candle light dinner bareng Om."
"Ngepet?"
"Anjiiir ngepet, bukan Om!" Nadia menggeram gemas, kosakata jaman kapan sih itu masih di pake saja sama Omnya. Ah iya, Om gibrannya kan manusia yang hidup di jaman praktek ngepet masih viral-viralnya.
"Jagain lilin kan?" Gibran tergelak melihat wajah kesal Nadia. Mengerjai Nadia selalu sangat menyenangkan.
"Makan malam romantis Om yang ada lilin-lilinnya astagaaaaaa---" Nadia menghebuskan nafas kasar "Gimana?"
Gibran mengedikkan bahu "Tergantung sikap Nad. Nilai sekarang bukan hanya tentang angka tapi nilai-nilai sikap sosial dan moral juga." Ujar Gibran santai.
Nadia mendengus. Selalu saja.
***
Istrinya Om Gibran yang mau makan lilin hihihihihiiii