
Gibran sudah merencanakan ini sejak dulu namun belum ada waktu untuk membawa Nadia menikmati pemandangan indah dari langit Papua. Saat ia mengabaikan Nadia sore itu, Gibran memikirkan untuk menjalankan rencananya dengan sedikit bumbu prank yang berakhir gagal dan tentu saja menyakiti hati Nadia hingga berujung sang istri harus menginap di rumah sakit selama tiga hari tiga malam. Rencananya baru terlaksana setelah Sabrina menguliahinya tentang How to be a sweet husband seperti Guntur yang mendapat predikat the sweetest husband in the world setiap harinya selama tujuh menit.
Dan setelah semuanya terlaksana, Nadia jadi seperti ini, enggan melepasnya.
"Bisa dilepas tangan saya?"
"Gak bisa."
"Naaaad---"
"Iya sayangkuuuuh." Nadia mengedip genit sembari menyusup di dada Gibran yang hanya dilapisi singlet putih, tipis dan tentu saja wangi mengabaikan wajah enggan Gibran yang sejak tadi berusaha meloloskan diri. Bukan karena Gibran mulai bosan atau jengah dengan manjanya sang istri hanya saja, bisakah Nadia tidak selalu terlihat menggoda seakan minta di terkam seperti sekarang ini? Gibran kan serba salah jadinya, mau menyerang atau mau mengarunginya semua sama saja, sama-sama melemahkannya.
"Pia ditinggal sendiri?" Hanya alasan saja sebenarnya sebelum ia lepas kendali. Nadia benar-benar membahayakan.
"Pia udah bobo. Kenapa? Om mau diboboin juga?" Goda Nadia mengedip genit pada Gibran.
"Ck. Minggir." Gibran melarikan tatapannya kearah lain sebelum akhirnya tertangkap basah oleh Nadia.
"Cieeee merah mukanya. Uluh-uluuuuh lutuuuu bangat siiih sayangnya Nad." Nadia menoel pipi Gibran membuat laki-laki itu merasakan wajahnya semakin menghangat. Ya ampun, digodain anak kecil lho. Gibran berdehem berusaha menyamarkan grogi juga hangat yang menyusup dalam aliran darahnya.
Cup.
Gibran membelalak. Ia menatap Nadia tak berkedip yang dibalas tatapan penuh binar oleh Nadia.
"Makasih ya yang tadi." Serangan pertama. "Nad seneng bangat." Nadia memainkan jemarinya di dada Gibran menggambar pola-pola yang sudah ia tahu pasti Omnya lemah dengan itu.
"Khm. Gak usah ngusap-ngusap juga. Mau goda saya ya kamu?" Gibran menaikkan satu alisnya menatap Nadia waspada.
"Enggak. Nad cuma mau makasih aja. Kenapa? Om ngerasa kegoda?" Nadia menyipit. Senyum berbahaya itu belum juga luntur. Sudah berapa lama ia tidak menggoda Om-om kece ini? Hampir lima bulan sejak ada Pia ya?
Gibran bukannya menjawab malah berdiri dari tempat duduknya, beranjak mengambil air minum dingin untuk menyegarkan kepalanya yang mulai menyentuh titik mode on fire.
"Sudah disiapkan barang-barang yang mau dibawa pulang?" Mengganti topik pembicaraan mungkin akan sedikit membantunya memikirkan hal lain selain membawa Nadia ke ranjang.
Nadia yang tadinya tak berhenti mengumbar senyum langsung mengerutkan kening, "Pulang? Emang Nad mau pulang kemana?" Tanya Nadia bingung. Setahunya satu-satunya tempat ia pulang di dunia ini hanyalah dalam pelukan Gibran, lalu pulang yang mana yang harus bawa barang-barang? Bukankah pulang pada Gibran hanya butuh membawa hati? Oke, Nadia mulai eror.
"Pulang ke rumah. Bulan depan Nad mulai kuliah kan?" Gibran mengingatkan. Tentu saja Nadia harus pulang, harus melanjutkan hidupnya sebagai seorang pelajar, putri dari seorang Gaudia yang berpendidikan dan sukses.
Nadia tertegun sejenak "Pulang ya?" Nadia bergumam lirih. Entah kenapa ia tidak mau membahas hal ini. Rasanya berat harus meninggalkan separuh dari hidupnya jauh disini. Nadia menunduk sedih, "Nad boleh disini aja gak Om? Temenin Om."
Gibran meletakkan gelas di tangannya diatas meja kemudian menghampiri Nadia yang terpekur di tempatnya "Tidak bisa. Nad dan Pia harus pulang. Nad harus sekolah karena Pia butuh Ibu cerdas sebagai madrasah pertamanya."
Nadia mengangkat kepalanya menatap Gibran dengan mata yang mulai berkaca-kaca "Emang sekarang Nad gak cerdas? Gak layak jadi Ibunya Pia?"
Pertanyaan sulit. Bukan sulit menjawabnya tapi sulit menjaga perasaan Nadia setelah mendegar jawabannya.
"Menurut Nad gimana?" Gibran bertanya balik. Salah satu cara agar Nadia melakukan self assesment. Menilai dirinya sendiri dengan kacamata seorang Ibu yang ingin putrinya nendapat yang terbaik.
Nadia mengangguk kecil. Ia memang masih banyak kurang sekarang. Selain kurang ilmu, ia juga kurang praktik karena selama ini Gibranlah yang banyak memberikan pelajaran dini bagi Pia dibanding dirinya yang hanya mengambil bagian memandikan, memberi makan dan menidurkannya.
"Saya tau, Ilmu didapat bukan hanya di bangku pendidikan tapi melalui pendidikan Nad banyak belajar untuk bersabar dan menahan ego. Nad akan belajar itu di bangku kuliah saat menghadapi banyak tugas dan menghadapi dosen-dosen yang mungkin tidak mudah."
"Tapi Nad gak mau jauh dari Om Gi. Maunya sama-sama Om Gi aja." Nadia yang belakangan ini mudah sekali meneteskan airmata cepat-cepat mengusap sudut matanya yang basah "Pulang sama-sama ya Om." Ujar Nadia memohon.
Gibran tersenyum Kecil. Ia tahu semenjak status mereka berubah dari anak dan orangtua asuh menjadi suami dan istri, Nadia lebih menempel padanya bahkan jika dulunya Nadia sering mencari cara untuk menghindar darinya, semenjak menikah Nadia selalu ingin bersamanya. Ikatan memang tak bisa berbohong. Nyatanya menjadi ayah untuk Nadia berbeda rasanya dengan menjadi suami. Mereka memilki ikatan emosional yang lebih kuat dan tentu saja ketergantungan satu sama lain baik itu untuk kebutuhan lahir maupun kebutuhan batin.
"Nad kuliah dengan baik, tunggu Om pulang." Ujar Gibran mengusap kening Nadia lembut.
"Om janji kan bakal nyusul?" Nadia mengangsurkan jari kelingkingnya "Janji?"
Gibran menatap kelingking kecil itu dengan pikiran tak tentu. Ia tidak tahu kapan pastinya tugasnya ditempat ini berakhir dan lebih tidak pasti lagi tempat yang akan menjadi tempat tugasnya yang baru berikutnya. Entah itu ujung sumatra, perbatasan kalimantan atau di pesisir laut sulawesi yang pasti membayangkan Ibukota sebagai tempat singgah berikutnya hanyalah membuat ia semakin berharap. Gibran mengaku sekarang bahwa untuk pertamanya ia berharap ditugaskan kembali ke ibukota. Bukan karena ia tidak sanggup dengan tugas-tugas yang di tanggungkan padanya tapi melepas Nadia yang kini bersama Pia bukan lagi menjadi hal mudah.
"Insya Allah." Ucap Gibran setelah lama terdiam sembari mengaitkan jari kelingkingnya.
Nadia memaksakan senyumnya. Untuk saat ini ia lagi-lagi harus mengalah, melupakan sejenak keinginannya bersama-sama Gibran menemani tumbuh kembang Navia, putri mereka.
"Om mengandalkan Nad." Gibran merengkuh Nadia dalam pelukannya, mengecup rambut sang istri berkali-kali seolah saat itu akan menjadi hari terakhir kebersamaan mereka. "Saya pasti akan merindukan wangi segar ini" Di kecupnya pipi Nadia lembut, "merindukan rasa manis ini--" Nadia pasrah saat Gibran menyentuh bibirnya penuh perasaan, mengecup lama disana merasai bibirnya yang sudah menjadi candunya. "Merindukan pelukan ini." Lanjut Gibran memeluk erat sang istri.
Dalam diamnya, Nadia menahan tangis. Ia tidak boleh menangis. Gibran benar, ia harus melanjutkan hidupnya sebagai putri dari Randi dan Syakila, membanggakan mereka dan tentu saja harus menjadi ibu yang keren untuk Navia Ayara Gibran. Dia akan menunggu dengan sabar, menunggu Gibran datang padanya dan mereka akan hidup bahagia tanpa harus terpisah lagi.
Gibran mengangguk, "Ngerti, Bu Gaudia." Jawabnya sembari tersenyum segaris. Siapa yang bisa lupa bagaimana kuasa seorang Gaudia, tentu Nadia tak hanya membual tentang itu.
***
Nadia sedang mensortir barang-barang yang harus ia bawa atau ditinggal saat Gibran masuk ke kamar bersama Pia yang sudah seharian ini menghabiskan waktu berdua. Semakin dekat hari keberangkatannya dengan Pia, Gibran mulai mengurangi aktivitasnya diluar rumah demi menemani Navia bermain atau merecoki Nadia dalam segala aktivitas istrinya itu. Siapa sangka jika suara berisik Nadia menjadi salah satu hal yang membuatnya senang.
"Jangan bawa banyak barang nanti repot di bandara."
"Iya, ini Nad cuma bawa pulang kado kok. Yang lainnya Nad mau bagiin sama anak-anak disini. Om temenin ya sekalian pamit sama warga kampung."
"Iya. Ini Pia kayaknya haus." Gibran menyerahkan Pia pada Nadia lalu mengambil alih kerjaan Nadia yang lebih mirip seperti mengacak-acak isi lemari yang kemarin baru saja dia rapikan.
"Om nanti ngantar kan?" Tanya Nadia disela-sela menyusui Pia.
"Iya, Insya Allah. Tapi nanti langsung balik lagi."
"Gak bisa seminggu dulu bareng Nad dan Pia?"
Gibran menoleh kebelakang, melihat wajah sendu Nadia yang menatapnya penuh harap. Maunya Gibran juga begitu tapi tugas-tugasnya disini tidak mungkin ia tinggalkan.
"Maaf."
Nadia mengangguk sedih. Tak seharusnya ia berharap lebih pada lelaki itu karena pantang bagi Gibran meninggalkan pekerjaannya hanya untuk urusan seperti ini walaupun itu dirinya dan Pia.
"Saya akan sering mengunjungi kalian." Ucap Gibran saat hening diruangan itu mendominasi.
Nadia diam-diam tersenyum miris. Ia tidak akan berharap lebih tentang yang satu itu karena sebagai seorang istri tentara ia tahu bagaimana disiplinnya instansi itu. Sering-sering yang dimaksud Gibran palingan hanya sekali untuk beberapa bulan atau mungkin sekali dalam setahun. Jadi biarkan kalimat yang barusan ia dengar menjadi penyejuk telinganya seperti fatamorgama di tengah jalan, cukup untuk menyenangkan mata.
Gibran yang menyadari Nadia banyak diam lantas meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri sang istri yang tengah menatap bayinya lekat. Tanpa mengatakan apapun, ia memeluk Nadia dan Pia dalam lengan besarnya, mengecup bergantian dua wanita kesayangannya itu. "Kalian jaga diri. Maaf tidak bisa pulang bersama kalian." Ucap Gibran tenggelam dalam helaian rambut hitam Nadia. Tak suara yang terdengar hingga kemudian suara sesunggukan Nadia memecah sunyi. Gibran tak lagi mengatakan apa-apa selain menenangkan Nadia dalam dekapannya. Biarlah sang istri meluapkan kesedihannya, ia percaya Nadia akan sukses melewati ujian kali ini. LDR memang bukan hal baru bagi mereka tapi keadaan yang tak sama lagi membuat segalanya akan menjadi lebih sulit bagi keduanya.
***
"Lo mau balik? Kok tega sih ninggalin gue disini?"
Nadia memutar bola mata mendengar rengekan Sabrina yang terdengar seperti seorang kekasih yang akan ditinggalkan. Padahal biasanya mereka seperti kucing dan tikus yang kadang akur kadang ribut.
"Gue mesti lanjutin kuliah. Pengennya sama Om Gi aja disini tapi you know lah kan, selain jadi suami gue, tu orang kan bapak gue juga." Ujar Nadia sembari mengayun-ayun Pia dalam buaiannya. Kedua istri tentara muda itu sedang menghabiskan waktu berdua di bawah pohon mangga yang belum pernah berbuah selama tumbuhnya. Untung saja daunnya rimbun sehingga Nadia punya satu alasan untuk tidak menyuruh Gibran menebang pohon yang terkenal dengan rasa manisnya itu.
"Jadi bener sebelum jadi istri, lo sempat jadi anaknya Om Gibran?" Tanya Sabrina penasaran. Sudah sejak lama ia ingin tahu bagaimana kedua orang dengan kepribadian dan generasi berbeda itu menyatu dalam satu ikatan pernikahan. Dia sudah mendengar sebelumnya desas desus terkait perjodohan dan pernikahan terpaksa khas orang-orang kaya yang membumbui kisah cinta tetangganya itu tapi belum mendengar langsung kebenarannya termaksud Nadia yang merupakan anak asuh dari Gibran.
"Iya. Sebelum nikahin gue, Om Gi jadi wali gue. Ganti Ayah dan Bunda buat ngerawat dan bertanggungjawab atas gue. Ribet bangat orangnya, sumpah." Nadia berujar semangat khas ibu-ibu yang menggosipkan tetangganya yang sering pulang malam.
"Tapi kok lo mau nikah?" Tanya Sabrina lagi sambil mengunyah ciki-ciki yang sering disebut Nadia sebagai sumber kebodohan dan kebegoaan karena kandungan micinnya. "Yah meskipun gue ngerti sih bakalan susah bangat nolak pesona Om-om kece lo itu but tetep aja, I mean seorang Nadia yang masih muda, kaya, cantik, bisa-bisanya mengorbankan kehidupannya yang bebas merdeka seperti itu buat terikat dengan laki-laki yang umurnya jauh beda terlebih dengan pekerjaannya yang gue rasa lebih banyak uang jajan lo seminggu daripada gaji bulannya dia. Itu kan kayak gimana gitu." Lanjutnya sembari menjilat ujung jarinya.
"Hih Jorok bangat sih lo!" Pekik Nadia mendelik jijik.
Sabrina menyengir tanpa dosa, apa pedulinya soal jijik menjijikan, sensasinya itu lho. "Kayak gak pernah aja lo."
"Gak lah. Emang gue elo, jorok."
Sabrina semakin tergelak melihat tampang Nadia yang masih menatapnya jijik. Maklumalah ya, anak sultan seperti Nadia mana pernah ngerasain nikmatnya makan mangga pake masako, ngemil mie mentah pakai bumbu ekstra. Sudah pasti taunya cuma jajanan sehat khas hedon yang harganya selangit, mungkin sejenis dalgona yang bijiannya terbuat dari serbuk emas asli. Membayangkannya saja jiwa miskin seorang Sabrina sudah meronta-ronta.
"Mending jawab pertanyaan gue, kenapa lo mau ngorbanin hidup mewah lo untuk mengabdi sama seorang abdi negara yang taunya cuma nurut pas dapat surat tugas? Kalau gue jadi lo ya, pasti mikir lama buat ngeiyainnya. Secara gitu, lo seorang pemilik perusahaan gede pasti bukan mustahil dapat laki-laki sekelas suaminya Sandra dewi bahkan lebih yang sekalinya ulang tahun dapet Jet pribadi." Ujar Sabrina lagi yang sepertinya masih penasran dengan pilihan yang dibuat oleh ibu muda disampingnya.
Nadia diam beberapa saat sebelum kemudian tersenyum kecil, "Karena gue tau, bersama Om Gi, gue bisa ngejalanin hidup tanpa perlu merasa khawatir bakal terluka."
"Maksud lo? Sorry tapi gue gak paham nih bahasa berat ginian."
"Om Gi ngegantiin semua hal yang pergi dari hidup gue." Ujar Nadia dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya.
Sabrina tertegun. Ia tidak pernah memikirkan sejauh itu arti Gibran bagi Nadia. Ia merangkul bahu Nadia tanpa mengucapkan satu katapun namun dalam hati mengalun doa untuk tetangga yang sudah ia anggap seperti adiknya itu.
***
Huhuhuu reader setia lil persit maaf ya baru up. Akhir2 ini sering pusing kalau buka hp jadi jarang up.
Selamat membaca 🤗🤗🤗