Little Persit

Little Persit
Buayanya Nad



Jika ada yang tau lapisan-lapisan awan, maka Gibran dan gengsinya ada di lapisan teratas yang paling dekat dengan langit. Tak ada istilah kata-kata manis meskipun pesawat koko cruch sudah beralih tugas menumpahkan gula diatas mulut Gibran karena lelaki itu terlahir dengan keahliannya membuat dirinya kaku seperti kanebo kering dan tak tergoyahkan seperti gunung batu. Tapi hal itu luntur dalam sehari, tepatnya beberapa jam karena sejak semalam tentara berpangkat kapten itu sudah menjelma sebagai lelaki bermulut manis yang ahli dalam mengaduk-ngaduk perasaan kaum hawa apalagi sejenis Nadia yang telinganya sensitif akan hal-hal manis. Untung sekali hanya Nadia yang menjadi objek pelampiasan over dosis dari rentetan kalimat manis nan menggoyahkan itu sebab jika tidak, sudah pasti Nadia Gaudia Rasya turun tangan menyewa para ninja untuk mengetuk kepala Gibran dengan boomerang.


"Om, ini Nad boleh dilepas bentar gak? Pia kayaknya mau nyusu deh." Nadia berusaha melepas tangan Gibran yang melingkari perutnya. Diwaktu subuh seperti ini dimana seharusnya Gibran membangunkannya untuk bermunajat pada yang Maha Kuasa malah dikekepi seperti guling kesayangan. Satu hal yang Nadia tidak sanggup lawan, helaan nafas lelaki itu menggelitik lehernya yang polos hingga membuat bulu kuduknya meremang. Ini terlalu subuh untuk memulai aktifitas menyenangkan diatas ranjang apalagi saat salah satu pihak masih merasa kesal akan kelakuan pihak lain yang telah berlaku sewenang-wenang. Nadia masih sebal atas kejadian ditinggal kemarin pagi. Cuti tapi masih menerima pekerjaan. Kurang apalagi coba pengabdian suaminya ini untuk negara. Kalau ada beberapa Gibran lain di luar sana yang patuh dan berdedikasi tinggi, maka ia akan memastikan pajak bumi dan bangunan akan lunas bahkan sebelum tanggal pembayarannya.


"Pia masih tidur." Ucap Gibran dengan suara serak khas lelaki yang baru saja bangun tidur. Ia tak mengindahkan gelagat Nadia yang sedang berusaha meloloskan diri darinya. Satu kakinya ia timpakan diatas kaki Nadia, mengunci pergerakan gadis manis dalam dekapannya itu yang semalam hampir membuatnya mati.


"Ti-tidur ya? Um-- tapi tetap Om, harus nyusu tuh Pianya." Nadia mendongak menatap Gibran berusaha bernegosiasi "Bentar aja ya. Nanti Nad balik lagi." ujarnya seraya tersenyum penuh pesona. Niatnya hanya satu, lepas dari jeratan lelaki blasteran surga ini yang subuh-subuh sudah membuat hatinya jedag jedug. Padahal bukan kali pertama ia dalam posisi berbahaya sepertinya ini tapi pagi ini lain, karena jika biasanya ia yang ada di posisi Gibran, kali ini laki-laki itu mulai berinisiatif dan lagi-lagi Nadia kabarkan pada dunia bahwa ia tidak siap dengan semua sikap manis Gibran yang seperti ini. Tidak aman untuk kesehatan jantungnya.


"Kemarin kemana aja? Kenapa gak ngasi kabar?" Saya rasanya mau mati saja. Gibran menyerukkan kepala, mencium leher terbuka Nadia penuh perasaan. Si cantiknya ini, kemarin ia hampir saja menjadi setengah gila karena kabar yang mengerikan itu. Rasanya mati saja tak cukup untuk menebus kesalahannya karena meninggalkan istri dan anaknya untuk sebuah tugas mulia. Mulia sekali memang.


"Nad ketinggalan pesawat. Pianya rewel ya udah Nad bawa ke hotel deket airport taunya malah ketiduran, udah gitu aja." Ungkap Nadia menjelaskan garis besar situasi kacau yang ia alami kemarin.


"Kok bisa ketinggalan pesawat?"


"Nad ngambil hp yang ketinggalan di cafe, eh taunya hilang juga. Baru tau Nad ada maling keliling bandara, mana banyak lagi tuh foto-foto Nad disana."


"Bisa ya hp ketinggalan? Biasanya kamu gak bisa jauh-jauh dari Gadget."


Nadia mendelik sebal "Namanya juga bawa anak, Om. Repotlah.Yang katanya mau ngantar malah ninggalin buat tugas negara." Sindir Nadia tak tanggung-tanggung diakhir kalimatmya. Bagus kalau kesindir, kalau gak, ya berarti emang tak terselamatkan lagi kepekaan laki-laki ini.


"Maaf." Gibran beralih mengecup rambut Nadia berkali-kali "Tapi saya bersyukur karena meninggalkan kalian kemarin-- shhttt dengar dulu--" Gibran menahan telunjuknya di bibir Nadia saat gadis manisnya itu hendak mengajukan protes, "karena hal itu sekarang saya disini bisa memeluk kamu seperti ini." lanjut Gibran, membayangkan mereka yang akhirnya bertiga berada dalam pesawat naas itu benar-benar sangat menakutkan. Gibran bukannya takut mati tapi melihat Nadia dan Pia ketakutan tanpa bisa melakukan apa-apa adalah ketakutan yang nyata untuknya.


"Jadi Om bangga ninggalin istri dan anak di tengah jalan? Gak ngerasa dosa? Hebat beneer" Sungut Nadia setelah berhasil menepis tangan Gibran dari depan mulutnya. Kata-kata Gibran tadi memang sangat manis tapi harga diri sebagai wanita yang sudah di lepehkan terus disayang-sayang lagi harus di perjuangkan. Setidaknya lelaki yang sedang mengurungnya ini harus sadar bahwa apa yang dilakukannya kemarin persis kelakuan dajjal.


Gibran menghela nafas pendek. Jelas ia merasa bersalah dan brengsek sekali tapi kali ini ia bersyukur menjadi orang berengsek jika ternyata itu adalah cara Tuhan menyelamatkan keluarga kecilnya. Untuk pertama kalinya Gibran merasa bersyukur Nadia menghilangkan hp seharga tujuh digitnya karena hal itulah yang menahan Nadia dan Pia untuk tetap di bandara, terhindar dari maut. Cara Tuhan memang terkadang tak seindah apa yang makhluknya harapkan tapi tentu saja yang terbaik. Tidak sekalipun Dia menginginkan keburukan untuk Makhluknya sebab Kasih sayangNya lebih besar daripada kasih sayang seorang Ibu terhadap bayinya.


"Tentu saja tidak tapi untuk yang kemarin adalah pengecualian." Ucap Gibran jujur. Ia benar-benar bersyukur terlepas dari kekesalannya akan kelakuan Valeria meskipun ia tahu baik Komandannya maupun Dokter muda itu tak sengaja melakukannya. Dirinya saja yang bego karena tidak bisa membedakan antara profesioal dan egoisme.


"Bodo ah. Nyebelin bangat jadi orang. Udah lepasin Nad. Gak sudi Nad di peluk-peluk sama Om." Nadia terus menggeliat berusaha membebaskan dirinya tapi Gibran masih ingin berlama-lama memeluk sang istri lagipula waktu subuh masih setengah jam lagi. Masih bisa dia gunakan untuk meluluhkan hati si tukang ngambek ini.


"Tapi saya maunya peluk Nad. Gimana dong." Gibran menarik Nadia menghadapnya. Menekan lembut kepala sang istri di dadanya.


"Bukan urusan Nad juga." Kilah Nadia tak sanggup melihat wajah Gibran yang sedang berusaha meluluhkannya. Lelaki ini sama sekali tidak memiliki bakat dalam hal merayu. Mana ada orang yang sedang merayu istrinya buat meluk dengan wajah tanpa ekspresi seperti ini?! Konyol. Lebih konyol lagi karena Nadia merasakan pipinya menghangat.


"Urusan Nad lah. Nad kan istri saya." Gumam Gibran diatas kepala Nadia. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya saat mendengar helaan nafas pendek Nadia yang menggelitik dadanya.


Terserahlah Jenaaaaab. Alih-alih berjuang untuk membebaskan dirinya dari jerat lengan kokoh Gibran, Nadia memilih menikmati kesunyian dan kehangatan yang laki-laki itu tawarkan. Kesal pada Gibran mungkin saja, tapi mengabaikan hangatnya pelukan laki-laki itu jelas mustahil. Jarang-jarang kan Gibran seperti ini, mumpung sedang linglung kenapa tidak dimanfaatkan saja situasi ini untuk kepentingannya. Sesaat kemudian Nadia tersenyum iblis di depan dada Gibran.


"Om" Nadia menjauhkan wajah dari dada Gibran, mendongak yang juga dibalas tatapan kelam milik sang suami.


"Hm?"


"Gak mau nebus salah? Kali aja Nad mau maafin."


Gibran mengernyit, "Saya sedang tidak berusaha mendapat maaf kamu kok."


"IH!" Nadia memukul gemas dada Gibran. Apa-apaan coba manusia satu ini. Ada ya manusia dengan tingkat menyebalkan mendekati langit ketujuh begini?!


Gibran tergelak melihat bibir manyun Nadia. Rasanya menyenangkan mengganggu Nadia seperti ini. Gadis manisnya yang hobi merajuk. Puas mengisengi Nadia dan mengakhiri tawanya dengan kecupan sayang di kening, Gibran lantas mengangguk.


"Oke. Nad mau apa?"


Nadia yang sudah terlanjur kesal tetapi juga tertarik dengan tawaran itu langsung terdiam. Butuh beberapa menit sampai kemudian ia memutuskan untuk mengambil kesempatan langka ini.


"Bareng-bareng Nad dan Pia disini, mau?" Lidah Nadia rasanya gatal ingin mengucapkan hal itu tapi lagi-lagi ia menahan keinginannya hanya dalam hati. Ia tahu jika ia meminta Gibran seperti itu maka dirinya akan menjadi istri paling egois di dunia ini. Menjadi tentara adalah mimpi yang menjadi nyata milik Gibran. Bukankah keterlaluan jika ia meminta Gibran memilih antara dirinya dan mimpinya?


"Apa? Hm?" Gibran yang sejak tadi menunggu mengusap lembut kening berkerut Nadia yang tampak sedang berpikir keras. Entah apa yang sedang di rancang oleh kepala cantik ini?


"Candle light dinner?" Ujar Nadia tak memikirkan ide lain selain menikmati makan malam romantis bersama Gibran seperti yang ada di novel-novel romance yang dibacanya. Salahkan para author yang senang sekali membangun imajinasi liarnya sampai ia lupa fakta bahwa Gibran jauh dari kata romantis.


"Oke."


Hah? Gue gak salah denger kan?


"O-oke?" Nadia berujar tak percaya. Semudah itu?


"Kenapa?"


Nadia menggeleng. Gak kenapa-kenapa sih cuma ajaib aja. Batin Nadia tak percaya. Ini candle light dinner lho yang pernah dimintanya saat lulus ujian dulu tapi tidak di kabulkan hanya karena nilai sosialnya B-.


"Iya yang ada musik-musik pengiringnya itu kan?" Ujar Gibran menambahkan.


Nadia mengangguk cepat, "I-iya bener-- bener." Huff, syukurlah sepemahaman.


"Ya udah." Gibran berujar enteng.


Nadia lantas melepaskan dekapan Gibran dan kali ini lelaki itu tak menahannya. Nadia duduk melipat kaki di depan Gibran yang masih terbaring nyaman di ranjang pink berselimutkan baby pink yang lembut di kulit. Lelaki berotot itu menyangga kepala dengan satu tangan memperhatikan Nadia serius.


"Nad sebenarnya bingung nih kenapa Om tiba-tiba jadi manis bangat gini tapi gak apa-apa. Nad bersyukur meskipun agak ngeri, takutnya Om abis kejedot trus geger otak." Nadia menarik nafas panjang, "Well, kapan candle light dinnernya supaya Nad bisa siapin the best dress ever yang cantiknya bisa bikin Om pusing."


"Tonight?" Gibran menawarkan.


Nadia menggeleng, "No. Gak sempat. Tomorrow night aja. Ok?"


"Okey. No problem." Jawab Gibran mengedik ringan.


"Sip. Tapi," Nadia menunjuk hidung Gibran dengan telunjuknya "Awas aja ya kalau sampe Om pergi pas di tengah acara. Nad gak butuh cinderella boy yang ngejatuhin pantofel kacanya doang gegara ada bell dari atasan."


"Iya."


"Iya apa?"


Gibran menghela nafas pendek, "Saya tidak akan pergi ditengah acara sayang. Maaf kalau sikap Om selama ini bikin kamu khawatir."


"Nah, pinter ngaku." Nadia menyengir lebar, menusuk-nusuk lengan Gibran dengan kedua telunjuknya "Thank you." Ucapnya merona.


"Sama-sama. Sekarang bagi nomor Nad. Saya merasa jadi orang tidak penting saat Nad menghubungi Mang supir bukannya saya semalam?"


"Itu karena Nad mikirnya Om masih di Papua. Salah siapa nyebelin." Nadia membela diri. Lagipula ia tidak menghafal nomor siapapun, nomor Mang tertinggl dalam buku kecilnya yang selalu ia bawa-bawa. Itupun jaga-jaga untuk keperluan antar jemput ke sekolah.


"Alasan."


Nadia mengangguk tak berdosa, "Emang." Ia mengulurkan tangan meraih hp yang ada di nakas "Nad pesan khusus nomornya biar gampang ingetnya.Cantik bangat. Nih. Tulis nomor sendiri." Nadia memberikan hp miliknya yang dia beli baru pada Gibran "Ada bling-blingnya. Cantik kan?"


"Kayak Nad."


"Apanya?"


"Cantiknya."


"Dih International Alligator." Nadia mencubit gemas perut Gibran. Dasar ya bisa aja ngomongnya.


Gibran tergelak namun kemudian tersadar ada yang ia lewatkan "W-what? Alligator?" Gibran berujar tak terima.


"Yeah, Alligator." Nadia memperjelas. "Kenapa? Mau protes. Sono di depan Istana lagi kosong." Menyempatkan menyentil kening Gibran, Nadia langsung melarikan diri mengabaikan Gibran yang merengek memintanya untuk tinggal.


"Nad-- Nad, hei!"


"BODO!"


BAAAM!!!


"Ck--anak nakal." Gibran menjatuhkan kembali kepalanya diatas bantal, menatap lamat-lamat langit-langit kamar. Senyum kecil tersungging diwajahnya.


Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah Engkau masih memberi hamba kesempatan mendengar bantingan pintu itu.


***


Genggggs plisss jangan mual dengan kealaian dua pasangan ini., salahin author yang gak jelas bangat ngehalu sok-sok manis.


huhuhuuu jomblo menahun gak paham bikin scene lovey-dovey gini.


😅😅😅


Happy reading gengs 😋