
"Om--" Nadia mencolek bahu Gibran "Diliatin tuh. Samperin gih." Keduanya tengah disisi pesawat menunggu giliran masuk dalam pesawat kecil yang akan membawa mereka ke Merauke.
"Ck, diem." Gibran melirik tajam Nadia, kesal dengan sang istri yang sejak tadi tak bisa diam terus saja menggodanya dengan keberadaan bule sialan yang tak putus menatapnya. Kalau bisa sekalian pilot sedeng ini terbang ke mars dan tak pulang-pulang. Sudah cukup membuat kontroversi dalam hidupnya. Yang benar sajalah di taksir lelaki. Gibran bergidik ngeri.
"Kasian tauk Om dari tadi nyengir mulu. kering tuh giginya."
Gibran mendengus tak peduli. Dan kenapa urusan check in pesawat muatan tujuh orang ini harus lama, bukankah harusnya cek penumpang saja? Oke, Gibran mulai cerewet. Digilai seorang laki-laki tentu saja penghinaan terbesar untuk dirinya, masih mending banci, jelas sedang kebingungan dengan jati dirinya, lha ini, badan kekar bak samson penampilan persis aktor telenovela sukanya sesama batangan. Kurang gila apa lagi orang ini.
Nadia menutup mulut dengan kedua tangan menahan diri untuk tidak menyemburkan tawanya dihadapan Gibran.
"Sayangnya doyan batangan ya Om kalau nggak--"
"Kalau nggak kenapa? Mau kamu sama dia?" Potong Gibran cepat. Wajahnya tak lagi hanya sekedar sangar tapi siap menelan hidup-hidup mangsanya.
Nadia menyengir lebar, mengibaskan tangannya di udara "Ya kali aja bisa dijodohin sama Pia. Ya nggak, Dek?" ujarnya pada bayi Pia yang berada dalam gendongan Gibran.
"Amit-amit." Lirih Gibran yang tertangkap jelas di telinga Nadia.
"Enjoy your flight." Gibran mendongak. Sejak kapan kutu loncat ini ada di depannya?! Ia melongokkan kepala dan sejak kapan pula Nadia naik diatas pesawat?! Tak berperikesuamian meninggalkannya seorang diri bersama manusia berbulu putih ini.
"Hm." Dengus Gibran kentara. Tak perduli harus menanggalkan etikanya. Tidak usah berbasa basi apalagi bermanis mulut di hadapan kaum luth, takutnya ketularan. Gibran bergegas melewati pilot tersebut yang menatapnya penuh binar. Ia mendudukan pantatnya dengan kesal disamping Nadia yang sudah anteng di kursi penumpang.
"Udah say hello-nya?" Nadia bertanya dengan wajah manis tak berdosa miliknya. Gibran selaku korban mendengus sebal sama sekali tak berniat meladeni keisengan Nadia. Selepas ini ia harus menemui ustadz untuk di ruqiyah, mungkin saja ada jin banci yang bersarang di badannya sampai-sampai dilirik kaum terlaknat itu.
"Marah?" Nadia yang melihat wajah kusut Gibran menyenggol lengannya.
"Biasa aja."
"Masa?"
Gibran menoleh pada Nadia dengan wajah malas. Tidak liatkah gadis nakal ini betapa muaknya ia ditatap mesum oleh seorang laki-laki--ah haruskah ia sebut jadi-jadian?
Nadia mengatupkan bibirnya. Jangan membuat kesal Gibran jika ingin damai sentosa. "Becanda, Om. Nad juga gak mau kalik di duain. Apalagi sama tuh Om-om. Geli bangat."
Nah kan. Gibran menghela nafas kasar. Ia kembali menatap lurus kedepan, tak lagi ambil pusing meskipun sang pilot asik mencuri pandang padanya. Tahan sejam saja, Gi. Batinnya menyemangati diri sendiri.
"Om--"
"Hm." Meskipun kesal wajib hukumnya menyahut.
"Ngadep Nad coba."
"Hm?"
"Ngadep sini." Ujar Nadia tak sabar menarik Gibran hingga membungkuk kearahnya.
"Apa sih, Nad. Gak bisa tenang dik--"
Cup.
Gibran mengerjap. Ia melirik kanan kiri dengan sudut matanya, malu juga ketahuan bermesraan di dalam pesawat apalagi penumpang lain semuanya berasal dari distrik yang sama dengannya. Sudah pasti akan menjadi obrolan terhangat disela-sela memangkul sagu. KAPTEN GIBRAN CIUMAN MESRA DIATAS PESAWAT. Headline keren untuk dibumbui dengan kisah-kisah romantis lainnya. Tapi sepertinya tidak ada yang melihat aksi tiba-tiba Nadia.
Gibran berdehem, "Khm, sadar tempat." ujarnya dengan suara rendah, cukup di dengar oleh Nadia. Wangi mint dari mulut Nadia masih tercium jelas di indranya.
Nadia mencibir. Bilangnya sadar tempat, situ sadar tempat gak waktu nyipokin gue di hadapan Pia yang masih putih ini. Dumelnya dalam hati. Laki-laki gengsi selangit. Tak peduli dengan teguran Gibran yang ia tahu pasti laki-laki itu sok menolak kembali memarik wajah Gibran lebih dekat, menatap mata sepekat malam itu yang hanya mengedip bingung.
"Om harus bilang makasi setelah ini." Tak putus, Nadia langsung mendaratkan kembali bibirnya diatas bibir Gibran yang langsung membelalak mendapati aksi tak biasa sang istri. Mengabaikan keterkejutan Gibran, Nadia yang sudah terlatih dengan salah satu aktifitas favoritnya ini memperdalam ciumannya, mengecup, mengulum bibir Gibran penuh desakan. Ini kali pertama ia memulai hal gila semacam ini di depan umum tapi ia butuh memberi tontonan menarik buat seseorang.
Cup. Cup. Cup.
Nadia menutup aksi nekatnya dengan tiga kecupan di bibir Gibran yang masih juga dengan keterpakuannya. Itu gila sekali.
"Gimana rasanya ciuman di udara?"
"Hah?" Udara? Gibran mengerjap bingung lantas melihat keluar jendela. Ternyata mereka sudah tidak di darat lagi. Kali ini Gibran yang berubah tolol. Apa itu yang sering Nadia sebut Brain wash kiss? Benar-benar membuatnya hilang akal.
"Gimana rasanya?" Ulang Nadia sembari mengedipkan matanya jahil. Gibran yang linglung tampak menggemaskan dimatanya. Dielusnya pipi Gibran lalu didaratkan satu kali kecupan disana tak lupa mengintip Pia yang sepertinya tak keberatan dengan aksi ibunya melihat bayi kecil itu duduk tenang di pangkuan sang ayah.
Gibran berdehem pelan. Ia mengusap kupingnya yang memanas. Kenapa Nadia jadi agresif begini? Ia melirik malu-malu orang yang duduk di belakangnya dan untungnya dua orang lokal itu sedang tertidur, mungkin saja habis menenggak obat anti mabok. Lalu orang di depannya-- dua penumpang lainnya sepertinya lebih asik menikmati pemandangan diluar jendela dimana awan putih beriringan seperti kapas terbang kecuali satu orang--bola lampu di kepala Gibran langsung menyala saat melihat tatapan tak senang sang pilot melalui kaca depan pesawat. Ternyata Nadia sengaja melakukannya. Ia melirik sang istri yang menunggunya memberi reakasi atas aksi heroiknya. Gibran bukan tipe yang senang mengumbar kemesraan tapi jika itu bisa mengobrak-abrik kesadaran si bule maka ia tidak keberatan jika Nadia melakukan hal yang lebih lagi.
"Nakal." Bisik Gibran, jemarinya menggapai bibir Nadia, mengusap benda semerah delima itu lembut, penuh perasaan. Nadia sudah terlatih dalam hal melindungi daerah teritorinya dan itu sangat keren meskipun caranya sedikit vulgar.
"Sama-sama." Balas Nadia yang tahu pasti Gibran sedang mengucapkan terima kasih atas aksinya. Cukup ampuh untuk menjauhkan pandangan pilot itu dari suaminya. Kan tidak lucu ada kabar kecelakaan pesawat gara-gara seorang pilot belok tak melepas pandangannya dari seorang Kapten hingga menabrak gunung. Terlebih ia tak terima jika ada yang memandang suaminya dengan tatapan memuja penuh nafsu.
Puk. Puk. Puk.
Gibran menepuk bahunya memberi isyarat pada Nadia untuk bersandar disana dan dengan senang hati Nadia menyandarkan kepalanya sembari kedua tangan saling mengisi kekosongan disela-sela jari keduanya.
"Nanti kita beli jet ya, Om. Biar sering-sering terbang bareng. Nad juga gak perlu lipet kaki kayak gini. Pegel." Nadia menggoyang-goyangkan kakinya yang katanya sudah pegal padahal baru beberapa menit lepas landas.
Gibran tak menyahut. Membeli jet tentu bukan mustahil bagi Nadia tapi bagi Gibran itu terlalu berlebihan. Lagipula ia lebih menikmati mengayuh sepeda daripada duduk diatas pesawat tanpa mengemudikannya. Rasanya tangannya menjadi gatal ingin mengambil alih kendali pesawat.
"Ulang tahun Pia aja belinya supaya ada momen. Sekalian di kadoin buat Pia. Pasti keren." Lanjut Nadia masih menyuarakan keinginannya walaupun tahu akan sulit di wujudkan mengingat gaya hidup Gibran yang terbilang super duper irit.
Ya, kado ulang tahun seorang bayi umur setahun. Batin Gibran menggeleng samar.
Selang satu jam kemudian, pesawat perintis yang membawa Gibran dan keluarga kecilnya akhirnya mendarat di bandar udara Mopah, Merauke. Tak seramai bandara di pulau-pulau besar lainnya, bandar udara mopah tampak lengang dan tenang. Hanya ada dua buah pesawat komersil disana yang bersiap membawa penumpangnya terbang.
Gibran turun dengan hati-hati diikuti oleh Nadia. Ia memeluk bayi Pia dan juga Nadia agar sedikit terlindung dari angin baling-baling pesawat. Mereka tak banyak membawa barang, hanya tas ransel Nadia dan tas tempat perlengkapan Pia yang di bawa oleh Gibran selebihnya barang-barang mereka di kirim melalui pos.
"Tunggu disini, saya beli tiket bentar." Gibran melepaskan gendongan Pia dan menyerahkannya pada Nadia yang sudah duduk di kursi tunggu bandara.
"Jangan lama. Nad mau ke toilet."
Gibran mengangguk lalu bergegas menuju tempat antri pembelian tiket langsung.
Sementara Gibran pergi, Nadia mencari tempat yang sedikit terlindung untuk menyusui Pia. Ia sengaja memakai baju kancing depan untuk memudahkannya saat menyusui. Nadia menutupi Pia menggunakan jaket miliknya sehingga tak ada yang melihatnya meski ada beberapa orang yang lewat disampingnya.
Nadia membuka hp setelah sekian lama tidak mengaktifkan benda persegi berbentuk pipih itu. Saat hpnya aktif,bunyi notifikasi tak berhenti seolah berkejaran meminta perhatian untuk segera di baca.
The Girls In Your Area adalah chat pertama yang ia buka. Nadia langsung menscroll bagian bawah, begitu banyak notifikasi dari grup berisi empat orang berisik itu dan Nadia benar-benar rindu ingin melihat apa yang menjadi bahan ghibahan terbaru tiga gadis bar-bar itu.
The Girls In Your Area
SandraDara : Jangan gila lo
SandraDara : Gue sunat sampe habis tu orang kalau sampe berani nyentuh lo
AleksisMark : Gila ya jaman apa sih ini masih ada aja drama perjodohan gak jelas
GendisMahesa : Gue gak di jodohin tapi dinikahin. Ngerti gak sih???
SandraDara : Sama aja odoool. Capek gue elaaah
AleksisMark : 🙄
GendisMahesa : Gue kabur aja lagi gimana? Nad pasti masih mau nampung gue. Kali ini gue ganti kewarganegaraan.
AleksisMark : 🙄
SandraDara : 🙄
Nadia yang membaca pesan-pesan itu semakin membelalak saat menscroll kebawah-bawah lagi. Satu fakta mencengangkan membuatnya meneguk saliva susah payah.
"Gendis sama Om Dewa mau nikah?"
"Kenapa?"
Nadia mendongak, "Eh, ini Om--" Nadia menunjukan layar hpnya tentang chat mereka "Om tau mereka mau nikah?"
Gibran yang baru selesai memesan tiket duduk disamping Nadia sembari membuka tutup botol untuk istrinya itu.
"Nad kan mau pipis tadi bukan minum." Tolak Nadia saat Gibran menyodorkannya minuman.
Gibran menarik tangannya lalu meneguk sendiri minuman itu.
"Saya juga baru tau." Ucap Gibran setelah menenggak setengah dari isi botol.
"Kasian bangat Gendis harus dapetin om-om seribet om dewa." Nadia menggumam lirih. Sudah banyak berita yang ia lewatkan dari baru beberapa minggu setelah kaburnya Gendis ke tempat mereka sekarang malah mau menikah? Astaga hidup macam apa itu.
"Dewa baik, bertanggungjawab dan yang pasti seiman itu yang paling penting." Ujar Gibran sembari mengambil alih gendongan Pia "Bentar lagi take off. Jangan lama di kamar mandi."
Nadia mengangguk, "Nitip ya." Nadia meletakkan hpnya disamping Gibran yang sudah menunjukkan peringatan merah di bagian ikon baterai. Laki-laki itu lantas mengeluarkan charger dari dalam tas kecilnya lalu beranjak mencari tempat colokan.
"Disini aja."
Saat Gibran tengah mencari setiap sudut tempat colokan yang sayangnya sudah terisi penuh, ia dibuat kaget dengan kemunculan manusia berbulu yang sejak keberangkatan mereka dari bandara distrik sudah membuat kesabarannya mencapai ubun-ubun.
"No, thanks." Tolak Gibran tanpa pikir panjang. Lagi pula masih dua puluh persenan, bisalah di nonaktifkan untuk sementara waktu.
"It's okey, aku udah selesai." Bule dengan semangat pantang mundur yang patut diberi tepuk tangan. Hebat juga.
Gibran menggeleng, lalu tanpa mengucapkan apapun menjauh dari tempat itu meninggalkan si pilot gila yang masih menatapnya penuh cinta. Sungguh menggelikan.
Getaran di hpnya menandakan sebuah panggilan masuk. Nama Komandan cabang Cendrawasih tertera jelas disana, paman Valeria. Ada apa?
"Selamat siang, Ndan." Sapa Gibran menempelkan benda pipih mikiknya di telinga, mendegarkan baik-baik ucapan Komandannya di balik telpon.
"Siap, laksanakan." Dan kalimat terakhir itu tertangkap jelas di telinga Nadia yang baru kembali dari toilet.
"Siapa?" Tanya Nadia penasaran. Kalau akhri kalimat semacam itu, sudah barang tentu ada perintah sebelumnya.
Gibran menurunkan hpnya memasukkannya kembali dalam tas kecilnya. Ia menggapai siku Nadia dan mengajaknya untuk duduk.
"Siapa?" Ulang Nadia yang mulai tak nyaman dengan ekspresi tenang milik Gibran. Sudah pasti ada sesuatu.
Gibran diam sejenak, ia menghela nafas pendek, "Ada tugas mendadak. Saya--" Gibran menatap Pia yang terlelap dalam gendongannya dengan ekspresi tak terbaca "Saya hanya bisa sampai disini."
"Gilak. Gak mau!" Nadia menghempaskan tangan Gibran yang hendak menyentuh bahunya. Lagi? Nadia menggelang kuat, wajahnya mengeras "Om udah janji ya mau nganterin sampe rumah." Nadia berujar tak terima. Bukankah semena-mena mempekerjakan seseorang yang sedang mengambil cuti?
"Maaf tapi--"
"GAK! JANGAN MAAF-MAAF AJA SAMA NAD." Teriak Nadia kesal. Ia tak peduli jika sekarang menjadi tontonan orang-orang karena lelaki ini sudah sangat keterlaluan.
"Nad--" Gibran hendak meraih pergelangan tangan Nadia namun istrinya itu langsung menepisnya kasar.
"Obat-obat harus diantar, Nad. Mereka butuh saya."
"Terus Nad dan Pia?" Nadia menatap Gibran berkaca-kaca. Kenapa ia dan Pia tidak dimasukkan dalam prioritas? "Kami juga butuh, Om." airmata Nadia meleleh di pipi.
"Maaf saya--"
"Jangan kayak gini, Om. Jahat bangat tau nggak, hiks." Nadia menghapus airmatanya dengan punggung tangan sedikit kasar. Ia kesal, sedih, karena lagi-lagi harus menjadi urutan kesekian.
Gibran menghela nafas pendek, "Saya hubungi Komandan dulu untuk negosiasi."
"Gak usah. Om pergi aja." Ujar Nadia dingin. Meskipun enggan mengakuinya, Nadia tahu Gibran pasti menentang nuraninya jika memutuskan untuk mengantar mereka. Pengumuman keberangkatan pesawat sudah terdengar diseluruh sudut ruang tunggu.
"Ayo, Pia. Kita harus pergi sekarang." Nadia mengambil alih Pia dengan hati-hati. Airmatanya belum juga berhenti mengalir. Kekesalannya sudah sangat memuncak tapi apalah dayanya.
"Nad saya akan--"
"Gak usah. Kami jalan dulu." Potong Nadia cepat. Ia mengambil tangan Gibran dan menciumnya singkat.
Gibran yang merasakan kemawarahan dan kekecewaan Nadia terhadapnya tak bisa berbuat banyak. Ia tahu janjinya pada Nadia sangat penting untuk dia tepati tapi obat-obat yang harus diantarnya juga penting, ini tentang nyawa orang dan juga tanggungjawabnya terhadap sumpah prajuritnya.
"Maafkan saya." Gibran meraup Nadia dalam pelukannya, mencium kening sang istri begitu dalam. Selanjutnya Pia yang menggeliat dalam rengkuhan Ibunya. "Maafin ayah ya, Dek. Sampai ketemu di rumah." dikecupnya tangan mungil pia lalu pipi bayi kecilnya itu. "Kalian hati-hati. Kabari kalau sudah sampai di tempat transit."
Nadia mengangguk samar. Ia mengambil tiket di tangan Gibran lalu tanpa pamit langsung meninggalkan laki-laki itu yang tak bisa berbuat apa-apa. Ia tau, lagi-lagi ia mematahkan hati Nadia dengan keingkarannya.
Maafkan saya Nadia, Pia.
***