
"Kenapa kamu liat saya seperti itu? Naksir?" Gibran memecah keheningan pagi. Pakaian mereka basah oleh hujan semalam yang hampir kering di badan kembali basah oleh embun pagi. Kabut tak begitu tebal. Mereka sudah bisa melihat dengan jelas jejak-jejak rerumputan bekas diinjak dan juga ranting-ranting patah.
"Ah eh itu Kapt--" Guntur terkekeh salah tingkah saat kedapatan sedang memandangi Gibran yang tengah berdiri di balik pohon dengan posisi siap siaga. Mereka tengah dalam operasi pengejaran orang bersenjata yang menjarah kemah pekerja jalanan.
"Perhatikan sasaran." Ujar Gibran tanpa mengalihkan perhatiannya dari semak belukar di depannya. Sudah sepanjang malam mereka mengintai kawasan tersebut dan akhirnya menemukan jejak para pelaku.
Guntur mengangguk. Meskipun demikian hatinya menghangat saat bisa merasakan sikap mengayomi dari atasannya.
"Terima kasih Kapten."
"Jangan berisik."
Guntur mengangguk. Ia sudah melakukan banyak kesalahan pada Gibran tapi tetap saja lelaki berkarisma itu tidak lantas menyimpan dendam padanya.
"Arah jam dua!"
Ucapan seseorang terdengar di telinga Gibran. Sasaran sepertinya tengah lengah.
"Dikunci." Gibran berucap sembari membidik sasaran yang tengah mengemas barang di balik sebuah bohon tepat ditengah semak-semak.
Dor!!!
Dor!!!
Dor!!!
Suara-suara tembakan saling berbalas dihutan belantara itu.Gibran dan pasukannya berhasil mengepung lokasi kemah beberapa orang bersenjata yang di duga kuat bagian dari kelompok separatis.
"Target di lumpuhkan." Suara melalui WT menghakhiri ketegangan pagi buta itu.
Gibran dan pasukannya tampak sigap mengamankan lokasi serta tersangka dan membawanya untuk penyelidikan lebih lanjut.
"Kapten."
Gibran baru saja keluar dari lokasi kejadian membawa tas besarnya diikuti oleh Guntur yang tersenyum lebar.
"Ada apa?"
"Ayo makan malam bersama." Gibran menoleh dengan kening terangkat satu membuat Guntur langsung gelagapan.
"Ma-maksud saya makan malam bersama keluarga, kapten. Tolong jangan salah paham." Guntur menyengir salah tingkah sembari menggoyangkan kedua tangannya. Di depannya Gibran menghela nafas pendek. Suasana benar-benar canggung dengan diamnya Gibran. Akan lebih mudah jika sang kapten meneriakinya atau mengucapkan hal menyebalkan lainnya.
"Terima kasih kapten sudah memberikan kesempatan kedua untuk kami. Saya sangat--"
"Tolong gunakan kata yang mudah saya mengerti." Potong Gibran menggelengkan kepala. Ia menunduk untuk menali sepatunya yang terlepas.
Guntur mengangguk, "maksud saya, terima kasih bapak tidak melaporkan kejadian di gudang." suara Guntur mengecil diakhir kalimatnya.
Gibran diam. Ekspresinya tidak bisa di tebak.
"Saya tidak akan berbaik hati jika itu terjadi pada istri saya."
Guntur mengangguk, "Maafkan saya, kapten. Terima kasih." ia benar-benar menyesal telah melakukan rencana buruk dengan menyembunyikan tiga butir peluru hanya untuk menyulitkan Gibran. Cemburu sudah membutakan hatinya. Seharusnya bagian Sabrina adalah tanggungjawabnya bukan malah menyalahkan orang lain akan kelalaiannya dalam memperhatikan sang istri.
Gibran menegakkan badan, menepuk bahu Guntur yang berdiri dengan kepala tertunduk di depannya lalu tanpa kata meninggalkan tempat itu untuk segera menemui kekasihnya.
***
"Hiks Om Giiii cepat pulaaaang." Di bawah pohon mangga tepat di belakang dipan bambu yang dibuat Gibran, Nadia sesunggukkan. Ini sudah lewat siang hari tapi belum ada juga kabar dari pos mengenai keadaan pasukan yang di pimpin oleh suaminya.
"Dek, ayah kok belum balik juga, ibu takut hiks-" Nadia mengusap perutnya yang di lapisi oleh baju kaos milik Gibran yang kebesaran di badannya. "Om Giiiiiii pulaaaang hiks--Nad kangen hiks." Nadia mengusap pipi basahnya dengan lengan bajunya.
Sesiangan ini makanan belum menyentuh perutnya. Ia tidak bisa menelan apapun seolah ada biji kedondong yang nyangkut di tenggorokannya. Setelah sejam menemani Sabrina menangisi ungkapan cintanya yang belum tersampaikan, kedua persit muda itu kemudian menuju pos untuk mendapatkan informasi tentang keadaan suami mereka tapi sayangnya belum ada kabar pasti yang mereka dapatkan sehingga harus pulang dengan perasaan yang sama, khawatir.
Nadia menyerukkan kepalanya diantara lipatan lututnya. Ia belum berhenti menangis dan hebatnya lagi airmatanya seolah tidak ada habis-habisnya turun.Ia tak pernah menduga sebelumnya bahwa menikahi seorang prajurit akan seperti ini rasanya, khawatir, khawatir, dan khawatir.
"Om Giiiiii jangan tinggalin Nad ya. Kasian Nad sendiri disini, hiks. Kalau Om pergi, Nad sama siapa hiks. Ya Allah balikin Om Gi nya Nad, jaga Om Gi nya Nad, hiks. O-om hiks--"
"Nad--"
Nadia menghentikan tangisnya. Ia menggelengkan kepala, dirinya bahkan bisa mendengar suara Omnya sekarang, "Ya Allah, Nad bisa denger suara Om Gi, hiks. Nad beneran rindu, hiks."
"Nadia--"
"Hiks." Nadia menyusut air hidungnya. Suara Gibran lagi. Senyum miris terbit di ujung bibirnya. "Ya Allah, jaga Om nya Nad, Nadia takut Om Nad kenapa-kenapa, hiks." Nadia melanjutkan monolognya.
"Nadia sayang"
"Hah?" Nadia mendongak lalu menoleh kebelakang, di depannya sosok yang ia rindukan tengah tersenyum tipis padanya kearahnya, "O-om Giiii?" Nadia berdiri lalu berlari menghambur dalam pelukan Gibran "Om Giiiiiiii hiks"
Grep!
Gibran menangkap Nadia yang berlari memeluknya.
"Om giiiiiiii" Nadia menangis dengan suara teredam di dada bidang Gibran "Oooom Giiiii."sebut Nadia berkali-kali.
Gibran tersenyum lembut, memeluk tubuh kecil yang tengah menangis itu. "Om pulang." Ucapnya lirih. Di kecupnya rambut Nadia dengan penuh perasaan. "Lama ya nunggunya?"
"Banget, hiks."
"Om sudah pulang. Jangan menangis lagi." Gibran mengusap rambut Nadia dengan lembut. Perasaan lega dan rindunya pada gadis kecilnya itu akhirnya terbayar. Berada dalam hutan dengan keberadaan musuh yang siap memuntahkan peluru kearah mereka membuat ia rindu istri kecilnya itu. Gibran tak pernah takut akan kematian, ia hanya takut membuat Nadianya sedih dengan meninggalkan gadis itu seorang diri di dunia ini.
"Om gak apa-apa kan? Gak luka kan? Gak sakit kan? Gak--"
Gibran menahan Nadia yang kelimpungan mengecek kondisinya. Dirangkumnya pipi mulus itu dengan kedua tangan besarnya. "Calm down. Om gak apa-apa." Ucapnya lembut sembari menyarangkan kecupan singkat nan dalam di bibir merah Nadia.
Mendengar hal itu Nadia malah semakin kencang menangis, "Om lamaaaa." tangisannya teredalam dalam dekapan Gibran. Ucapan syukur tak berhenti di ucapkannya dalam hati akan kembalinya Gibran disisinya.
"Om jangan pergi lagi. Nad takut." Nadia mendongak dengan wajah basah dan mata berkaca-kaca. "Jangan ya Om, kasian Nad dan adek bayi nanti siapa yang jaga."
Gibran mengangguk, "Iya. Ayo masuk. Panas di luar." Di bawanya Nadia masuk dalam rumah kecil mereka.
"Semalam berani sendiri?"
"Enggak tapi kan harus diberaniin, kan istri tentara."
"Masya Allah makin pintar Nadia." Puji Gibran mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Nadia, sekali lagi dikecupnya pelipis sang istri.
"Kan kata Om harus gitu." Ucap Nadia.
Gibran mengacak rambut Nadia, "Iya. Om buka sepatu dulu."
Nadia menggeleng. Ia nyaman duduk di pangkuan Gibran yang baru saja mengistrahatkan badannya di kursi kayu di ruang tamu. Kedua tangan Nadia membelit leher Gibran, menyembunyikan wajahnya disana.
"Nad mau kayak gini." Ujarnya ngeyel.
"Baju saya basah. Nanti Nad gak nyaman."
"Gak mau." Nadia menggeleng, semakin merapatkan belitannya di leher Gibran menghirup wangi keringat dan parfum yang tertinggal di pakaian suaminya itu. Bagi Nadia tidak ada wangi lain yang mampu mengalahkan wangi campuran keringat Omnya setelah berkegiatan di luar rumah. Sebut saja dia aneh tapi begitulah kebenarannya.
Gibran mengusap punggung Nadia lembut membiarkan gadis kecilnya itu menuntaskan rindunya.
Kruuuuukkk...
"Nad belum makan?" Tanya gibran setelah bunyi perut Nadia memecah sunyi di ruang tamu berdinding semi permanen itu.
Nadia mengangguk, "Gak bisa makan." ujarnya lirih.
"Makan dulu." Gibran melerai tautan tangan Nadia di lehernya.
"Nad gak laper."
"Om mau kemana?" Tanya Nadia saat melihat Gibran berdiri dari kursi.
"Kamu harus makan." Jawab Gibran sembari melepas sepatunya.
Nadia langsung berdiri saat melihat Gibran berjalan menuju dapur. Ia menahan lengan suaminya, "Nad ambil sendiri. Om duduk aja. Istrahat." ujarnya menyadari sikapnya yang tidak dewasa. Harusnya ia mengurus Gibran yang kelelahan bukannya membuat laki-laki itu mengurusi dirinya.
"Sekalian saya juga."
"Om belum makan? Sejak kapan? Gak mungkin dari kemarin kan?" Todong Nadia yang jelas sekali tidak terima kalau Om kesayangannya berlelah-lelah tanpa menyentuh makanan.
Gibran terkekeh, mengacak rambut Nadia "Udah, siapin ya. Om mau mandi dulu." lalu meninggalkan Nadia ke kamar mandi.
Nadia yang ditinggal sendiri hanya bisa menghela nafas lelah. Emang dasar prajurit ya, gak butuh makan apa gimana? Dumelnya dalam hati.
"Nad, airnya siapa yang ambilin?" Kepala Gibran muncul dari pintu kamar mandi.
Nadia yang sedang mengambil nasi dari dalam panci menoleh, ia menyengir lebar, "Nad ambil sendiri Om."
"Ck. Kan saya bilang, minta anak-anak yang ambilin. Bahaya."
"Seember aja Om, gak banyak-banyak."
"Seember atau setetes tetap aja tidak boleh. Keras kepala."
BAM!!!
Nadia tersentak saat Gibran membanting pintu kamar mandi.
"Lebay bangat." Nyinyir Nadia lalu melanjutkan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Ia menghela nafas saat membuka tudung saji dan menyadari bahwa tidak ada masakan apapun selain nasi sisa pagi tadi.
"Kenapa?" Gibran keluar kamar mandi hanya mengenakan celana lorengnya, sepertinya lelaki tampannya Nadia itu mau mengambil air di sumur.
"Cuma ada nasi." Ucap Nadia pelan. Wajahnya muram karena lagi-lagi tidak bisa menjadi istri yang bisa diandalkan.
"Gak apa-apa. Mana nasinya?"
Nadia menunjuk sepiring nasi dingin di depannya. Tanpa sadar airmatanya turun, "Maafin Nad. Nad gak bisa jadi istri yang baik untuk Om, hiks." setelah banyak hal yang terjadi, Nadia makin merasa kurang menjadi seorang istri. Seberapun usahanya tetap saja ia tidak bisa menjadi yang seharusnya melayani dan merawat suami dengan baik.
"Maafin Nad, Om. Nad pengen jadi istri yang baik tapi gak pernah berhasil. Nad--hiks."
"Nadia sudah paling baik. Jangan menangis. Saya tidak suka melihatnya." Gibran menarik sang istri dalam pelukannya memberikan kenyamanan untuk Nadia yang akhir-akhir ini kadar sensifitasnya meningkat berkali-kali lipat. Mungkin selanjutnya dia harus bertanya pada dokter mengenai hormon ibu hamil.
"Om gak akan ninggalin Nad, kan? Nad janji akan belajar lagi buat jadi istri paling baik untuk Om."
"Iya. Om tahu. Sini biar Om yang siapin makanan. Nad duduk saja."
"Tapi Om--"
Gibran mengusap rambut Nadia, membawanya duduk diatas kursi kayu "Tunggu disini." lalu si tentara dengan badan toples itu memulai aksinya menyiapak bumbu untuk menggoreng nasi.
"Om--"
"Hum?"
"Om--"
"Umm?"
"Nad boleh meluk Om gak?"
Gibran menoleh dengan kening mengerut, "Meluk? Tumben minta izin." senyum tipis tersungging di wajah kakunya.
"Soalnya Nad udah banyak meluk hari ini. Nad meluknya dari belakang kok Om, tenang aja."
Gibran terkekeh, "Lain kali gak usah izin. Saya milik kam-- ck, hati-hati." Tegur Gibran saat Nadia tanpa berpikir panjang langsung memeluk Gibran dari belakang.
"Om hangat. Nad suka." Akunya tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya.
"Peluk saja. Tangan jangan kemana-mana." Tahan Gibran saat tangan mungil Nadia mengusap perut kotak Gibran dari belakang.
"Ok." Nadia mengangguk cepat. Ia tak mengambil risiko Gibran menyuruhnya jauh-jauh. Untuk ukuran lelaki yang sudah on the way empat puluh tahun, badan Gibran terlalu terawat dengan bentuknya yang sempurna untunglah lelaki sempurna itu sudah dimiliki, jika tidak, entah berapa banyak korban halu diluaran sana.
"Om--"
"Apa lagi?"
"Kok jawabnya gitu sih? Gak seneng Nad panggilin? Iya?" Nadia cemberut, padahal cuma manggil tapi jawabnya ngegas gitu, dasar kulkas tiga pintu untung sayang.
Gibran menghela nafas berat, "Ada apa Nadia sayang, hum?"
"Gak jadi. Nad males ngomong." Tangannya mengerat dengan sesekali bibir meraih itu menciumi punggung polos Gibran.
"Gak bau keringat Nad?"
"Enggak. Wangi gini."
"Om gak mandi sehari semalam." Jelas Gibran berharap istri kecilnya itu menghentikan kegiatan menyebalkannya mengusik ketenangan seorang Gibran Al Fateh. Apa anak ini lupa kalau yang ia hadapi ini sedang ingin-inginnya memperbaiki mood raja hutannya menjadi mood Om-om manisnya.
"Gak apa-apa. Nad suka."
Cup.
"Hehe, sedikit aja Om." Nadia mengangkat jari V nya saat Gibran menoleh kebelakang dengan tatapan hitam kelamnya.
"Gak lapar?"
"Laper."
"Kalau gitu jangan mancing."
Nadia menggeleng cepat, "Tangan Nad bersih."
Gibran mengangguk, melanjutkan memotong bawang dan juga beberapa bahan dapur lainnya. "Otak kamu?"
"Bersih juga." Ucap Nadia cepat.
"Trus tangan kamu ngapain sentuh-sentuh ****** saya?"
"Eh?" Nadia melepaskan tangannya cepat yang tidak sadar menyentuh dada rata Omnya. Dia nyusu seharian juga gue gak protes, lah cuma megang doang udah disewotin. Cibir Nadia dalam hati.
"Jangan nakal. Awasi tangan kamu kalau tidak mau terlambat makan."
"PELIT!!! Cuma megang gak sengaja doang. Apa kabar Nad yang Om ubek-ubek setiap malam?! Kempes!" Ujar Nadia sewot. Dasar laki-laki. Di pukulnya punggung Gibran dengan tinjuan kecil bertubi-tubi. "NYEBELIN!"
Gibran menutup telingannya dengan tangan saat Nadia berteriak di telingannya. Tapi tak lama, seringai mulai muncul di bibir merah tak tersentuh nikotin.
"Semalam Nad libur. Berarti Om bisa dapat double hari ini." kekehnya yang langsung mendapat timpukan bukan hanya di punggungnya namun di seluruh badannya. Ini yang selalu Nadia rindukan saat Gibran jauh, tertawa bersama dan saling menggoda.
"Makasih Om kembali dengan selamat." Nadia kembali memeluk Gibran setelah puas memukuli laki-laki itu. Kesyukurannya karena diberi kesempatan bertemu lagi tak akan pernah ada habisnya. Bagi orang lain mungkin ia berlebihan tapi hanya mereka yang pernah kehilangan yang bisa mengerti bagaimana mengerikannya perasaan kehilangan dan kesepian itu.
"Saya kembali." Ucap Gibran sembari mengambil tangan Nadia yang membelit punggungnya lalu menciumnya.
Sejauh apapun kaki membawanya, ia akan selalu kembali pada Nadianya sebab gadis kecil itu adalah hadiah Tuhan untuk dirinya.
***
Yeeeeeeeeee I am back. Maaaf lama... 🤗🤗🤗