
Air sungai mengalir deras. Lumpur akibat longsor membuat warna air berubah keruh kekuningan. Nadia mengusap keringat yang membanjiri wajahnya. Kepalanya tiba-tiba pusing melihat aliran air yang begitu deras.
"Ayo, Bu."
"Iya, Pak. Bentar." Nadia menggigit bibirnya panik. Kakinya ragu untuk melangkah. Bayangan akan badannya yang diseret banjir masih menjadi momok menakutkan untuknya tapi tidak ada jalan lain lagi, hanya dengan melewati tali satu ini mereka bisa menyebrang.
"Lo mau lewat apa mau nongkrong sih? Lama bangat." Lalita berujar tak berperasaan. Ia mulai kesal melihat Nadia yang belum juga menyebrang sementara dibelakangnya masih banyak yang mengantri.
"Lo duluan aja." Ujar Nadia menyingkir kebelakang. Ia butuh menyiapkan mentalnya agar bisa melewati tali satu itu dengan selamat.
"Jangan takut Nadia, talinya aman kok." Wati menghampiri Nadia memberinya minum "Minum dulu biar tenang."
Nadia menepis botol itu, "Gue panik bukan haus." ucapnya ketus.
Wati meringis menatap botol di tangannya, mau bagaimana lagi Nadia memang jutek dari dulu.
"Kalian kenapa masih disini? Buruan menyebrang!" Orion si Ketua Panitia memceklis setiap peserta maupun panitia yang sudah berhasil lolos. Pakaiannya penuh lumpur setelah bekerja membantu pembuatan jembatan. Cowok itu tidak bisa mengganti pakaian karena semua barang bawaan mereka tidak sempat diselamatkan saat banjir datang menyapu semuanya dalam sekejap mata.
"Nadia tidak berani menyebrang, Kak." Wati si mulut ember menjawab.
"APASIH WATI!" Tegur Nadia kesal pada Wati. Kenapa juga harus bilang sama Orion semua hal tentangnnya. Menyebalkan. Nadia melipat tangan kesal. Coba ada Gibran, ia tak perlu susah begini. Laki-laki itu sejak selesai makan siang sudah tidak di tempat pengungsian karena harus memeriksa persiapan pembuatan jembatan untuk memperbaiki jembatan runtuh yang memutus akses daerah itu.
"Lo nyebrang." Ujar Orion pada Wati yang masih setia menemani Nadia. Hanya mereka bertiga yang tersisa di tempat itu dan seorang tentara yang membantu penyebrangan para mahasiswa yang sudah menyelesaikan kegiatan sosial, juga para warga yang ingin mengungsi ke kampung sebelah.
"Tapi Nad--"
"Ada gue." Ujar Orion membuat Nadia mengernyit tak suka. Apaan sih orang ini.
"Titip Nadia ya Kak." Wati tersenyum hangat yang bukannya membuat Nadia tersentuh akan perhatiannya malah muak. Ia bukan barang yang bisa dititip-titipkan begitu saja.
"Gak usah. Gue bisa sendiri." Tolak Nadia. Malas saja berurusan sama Orion yang mepet-mepet tak jelas padanya. "Gue peringatin ya, jangan dekat-dekat gue." Nadia memperingatkan Orion yang hendak menuntunnya ke tali penyebrangan menyusul Wati.
Orion tersenyum kecil, "Galak bangat Dek."
Nadia mendelik tak suka, "Dih malas bangat gue jadi adek lo."
Orion bukannya tersinggung malah makin melebarkan senyumnya. Fix, kesurupan.
"Lo lucu Nad."
"Jadi gue harus Ha Ha Ha gitu?!" Ujarnya Sewot. Tak mau berlama-lama meladeni Orion, Nadia kembali mengumpulkan keberaniannya. Astaga, kenapa harus sekarang sih sifat pengecutnya eksis. Airnya pasti sangat dalam. Nadia terus menebak-nebak dalam kepalanya.
"Sama gu--"
"JANGAN PEGANG GUE!" Nadia menghempaskan tangan Orion yang menyentuh pergelangannya, "HARAM!" lanjutnya melotot.
Orion meringis. Meskipun marah-marah kenapa Nadia masih tetap manis sih?! Dasar Orion bucin. Orion menertawai dirinya sendiri. Parah, Yon.
"Biar gak jatoh Nad." Terang Orion, khawatir melihat Nadia gemetar yang membuat talinya juga ikut bergetar.
"Mending gue jatoh daripada di pegang sama lo." ucapnya, panas dingin melihat air yang mengalir di bawah kakinya. Nadia menoleh pada seorang tentara salah satu anggota suaminya, "Pak, Kapten Gibran lama ya baliknya?"
"Sepertinya masih lama, Bu. Kapten harus memeriksa kebutuhan pengerjaan jembatan. Bagaimana bu? Ada yang bisa saya bantu?"
Gue takut nyebrang. Jawab Nadia dalam hati.
"Tidak, Pak. Cuma nanyain aja." Ucap Nadia menutupi kekalutannya. Ia tidak boleh manja disaat-saat seperti ini. Gibran sudah lelah dengan pekerjaannya, jangan lagi ditambah dengan mengurusi dirinya.
"Dia takut menyebrang, Pak." Orion menimpali keduanya. Nadia manyun, ternyata bukan saja Wati si bibir tukang lapor, tapi Orion juga. Cocok lah kalau dipasangin jadi pasangan lambe lurah.
Tentara itu menggoyang-goyangkan tali sebagai responnya akan ucapan Orion "Insya Allah aman, Bu. Kapten Gibran sendiri yang pastikan tadi." Jelasnya tersenyum menenangkan.
"Iya, Pak. Percaya kok." Nadia mengusap wajahnya berkali-kali. Ya Allah, bismillah. Nadia melakukan pijakan pertama, satu tali lainnya terbentang sebagai pegangan.
"Nadia?"
Nadia yang sedang berkonsentrasi pada tali pegangannya menoleh keasal suara. Didepannya, di ujung tali Gibran berdiri menunggungu.
"Jepit talinya diketiak kamu." Teriaknya memberi arahan. Nadia yang melihat kehadiran Gibran melupakan setengah ketakutannya. Ada Gibran bersamanya, ia tidak akan apa-apa.
"Tutup mata, cukup dengarkan suara saya." Gibran terus memberi pengarahan dan Nadia tanpa banyak protes langsung melakukan sesuai yang diinstruksikan sang suami.
"Pelan-pelan."
Nadia berjalan perlahan. Suara aliran sungai yang deras membuat bulu kuduknya merinding. Bayangan itu kembali, Nadia panik hingga membuat tali bergoyang tak terkontrol. Semua orang berteriak panik.
"Nadiaaa tetap tenang. Jangan dengarkan apapun cukup dengar suaraku." Gibran diujung tali was-was melihat Nadia yang ngos-ngosan dan pucat. Akan sangat berbahaya jika sampai istrinya itu pingsan. Bisa-bisa Nadia jatuh dan-- Gibran menjauh dari tali satu memastikan ujung tumpuan tali menahan kuat bobot orang yang melewatinya. Setelah yakin terpasang kuat, Gibran mengikat badannya dengan tali penyelamat lalu berjalan dengan tanpa kesulitan diatas satu tali. Semua mata takjub dibuatnya. Dengungan Wow mengudara mengiringi Gibran membawa sang istri menyebrang.
Nadia yang tadinya menutup mata perlahan membuka matanya menyadari kehadiran seseorang yang tak lain adalah Gibran berjarakan satu langkah di depannya.
"Pegangin Nad." Cicit Nadia mengulurkan tangannya namun Gibran tak menyambutnya.
"Lawan ketakutan Nad." Ujarnya kejam membuat Nadia tak habis pikir. Bukannya laki-laki itu datang menjemputnya layaknya superhero, kenapa malah dibiarkan?!
"Saya di depan kamu." Ujar Gibran lagi sembari melangkah mundur sedang Nadia tak punya pilihan selain melangkah perlahan. Gibran jelas tak sedang ingin memanjakannya sekarang.
"Nad takut." Ujar Nadia tak berani melihat kebawah. Wajahnya pucat berharap Gibran mau mengulurkan tangan untuknya.
"Nad harus bisa sendiri. Saya tidak akan selamanya ada saat Nad butuh." Gibran berujar serius. Nadia kesal mendengarnya tapi mau gimana lagi, memang sekejam itu Gibran mengajarinya tentang bertahan hidup. Akhirnya dengan menguatkan hati dan kepercayaan penuh pada dirinya ia mulai melangkah lagi dengan hati-hati. Kedua ketiaknya menjepit tali pegangan sehingga tali tersebut tidak bergerak menjauh dari badannya.
"Saya menunggumu." Ujar Gibran dan Nadia baru menyadari laki-laki itu sudah kembali disebrang menunggunya yang masih berjuang. Kejam, hiks.
Gibran berdiri diujung tali memperhatikan Nadia yang berjalan pelan tapi pasti mencapai ujung tali. Sebenarnya ia sangat mengkawatirkan sang istri tapi ia perlu melakukan ini agar Nadia mampu bertahan meski tanpa dirinya disampingnya.
Senyum ngeri Nadia mulai melembut saat langkahnya semakin dekat dengan ujung tali. Didepannya Gibran menunggu dengan wajah serius namun sigap jika dibutuhkan seolah sedang mengajari bayi kecilnya belajar jalan.
Hap!
Nadia melompat keatas tanah lalu menyengir lebar, "Nad bisa." ucap bangga menatap Gibran yang mengacak puncak kepalanya.
"Iya, kamu bisa." Ujar lelaki itu lega. Ia boleh saja mencintai istrinya dengan sangat tapi membiarkan Nadia lemah dan bergantung padanya bukanlah tujuannya. Nadia harus mampu sendiri. Perasaan 'terlalu' terkadang membuat ia lupa bahwa Nadia adalah seorang pribadi bukan hanya istri dari Kapten, Nadia harus tumbuh dan berkembang diatas kekuatannya sendiri.
"Nad pikir Om bakalan rela mati untuk Nad. Eh ternyata Nad mau mati aja saking takutnya malah dibiarin." Keluh Nadia tak sungguh-sungguh. Ia tahu Gibran tak berniat membiarkannya celaka karena saat banjir malam itu, lelakinya bahkan tak memikirkan keselamatannya sendiri.
Gibran tersenyum kecil, lagi dan lagi mengacak rambut istrinya. Ia memang rela mati untuk Nadia tapi ia tidak akan membiarkan Nadia menggantungkan hidupnya pada manusia fana seperti dirinya. Nadia perlu belajar mengandalkan dirinya sendiri dan Tuhan.
***
"Piaaaaaa Assalamualaikum sayangnya Ibuuuuuu" Nadia berlari kecil masuk dalam rumahnya tidak memperdulikan lantai kotor karena jejak lumpur yang di tinggalkan sepatunya.
"Bik, Pia mana?" Tanyanya saat mendapati bibik tengah menyiapkan makan malam di meja makan.
"Tidur, Non."
"Oh ok."
Nadia yang baru akan naik tangga menoleh, "Ya?"
Bibik tersenyum tak enak. Ia memperhatikan pakaian Nadia dari ujung kaki ke ujung kepala, "Itu sendalnya gak dilepas dulu?"
Nadia menunduk dan--- " Ops, sorry. Nad lupa." ia menyengir tak enak pada Bibik.
"Tidak apa-apa Non." Ujar Bibi tersenyum lembut. Sosok wanita yang sudah hampir lima puluh itu memang bisa dibilang lebih dari seorang ART karena Bibiklah selama ini yang mengurus Nadia saat ia kehilangan orangtuanya. "Non langsung mandi ya baru setelah itu temui nona kecil." lanjut Bibik mengingatkan.
Nadia mengangguk. Lalu setelah melepas sendal gunungnya ia berjinjit naik ke lantai dua. Bibik tersenyum haru menatap punggung majikannya. Andai Syakila masih hidup, ia pasti akan bangga melihat putrinya tumbuh menjadi gadis yang baik hati.
Nadia membuka pintu kamar dan langsung manyun mendapati kekosongan disana. Ia tahu Gibran tidak akan pulang malam ini tapi tetap saja rasanya menyebalkan sendiri dalam kamar seluas ini. Ia berjalan menuju pintu penghubung dan mengintip apa yang dilakukan bayi gembulnya. Senyum keibuannya terulas saat mendapati Pia menggeliat. Lucunya anak ibu.
Nadia menutup kembali pintu itu dengan pelan agar tak membangunkan Navia. Kemudian ia masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mandi Nadia mengambil salah satu kemeja Gibran untuk dipakainya. Kemeja putih itu hanya dikancingkan dua paling bawah dan dua kancing atasnya dibiarkan begitu saja. Nadia menatap bayangannya sendiri di depan cermin, baju itu menenggelamkan badannya. Tapi tak apa, dengan begini ia bisa menghirup wangi Gibran dan merasakan seperti dipeluk laki-laki itu. Ah, ia sangat merindukan suaminya. Padahal baru sehari saja tapi mungkin karena lelah, Nadia berharap bisa tidur dalam dekapan suaminya malam ini. Nadia menghembuskan nafas kasar lalu pergi ke kamar putrinya. Mau bagaimana lagi, tugas suaminya sebagai abdi negara mengharuskannya untuk berada di garda terdepan dalam membantu negara mengatasi masalahnya.
"Eh, Pianya Ibu bangun." Nadia mengecup kening Pia yang mengerjap-ngerjapkan mata melihat Ibunya. "Tau ya kalau Ibu udah balik, hm? Sini sama Ibu." Ia mengangkat Navia dari box bayinya lalu menimang-nimangnya. Navia tampak senang sekali dengan kehadiran sang Ibu. Ia berceloteh mengucapakan bahaya bayi yang hanya dimengerti oleh Tuhan.
"Kangen ya Dek? Ibu kangen bangat. Bobo sama Ibu ya malam ini." Nadia mengecup ujung hidung Pia membuat bayi gembul itu bergerak makin aktif. Nadia lantas membawa Pia ke kamarnya tak lupa perlengkapan susu karena Nadia mulai melatih Pia lepas ASI.
Nadia baik diatas ranjang sembari menimang Pia. "Hari ini main apa sama bibik? Gak nangis kan ya?!" Bayi gembulnya itu mulai tenang mendengar Nadia berbicara. Nadia selalu mengajak Pia bicara, menanyakan bayi itu kegiatannya meskipun sebenarnya Pia tidak bisa menjawab. Hanya saja Nadia perlu merangsang pertumbuhan bayi gembulnya itu. Ia bahkan secara khusus mengikuti kelas parenting dan memasukan Pia di kelas-kelas bayi demi memberikan yang terbaik untuk Pia dimasa pertumbuhannya. Nadia sadar Gibran tak bisa memberikan waktu lebih walaupun lelaki itu juga selalu mengusahakan family time untuk mengurus Pia dalam sehari atau menemani Nadia bercerita.
Nadia tersenyum senang melihat Pia perlahan memejamkan matanya. Rasa haru menyeruak saat membayangkan dirinya tak pulang selamanya karena bencana banjir malam itu. Ia tidak akan bisa lagi memeluk Pianya. Bagaimana dengan Pia? Siapa yang akan mengurus Pia jika terjadi sesuatu dengannya? Hidup tanpa Ibu itu sangat tidak enak, ia sudah merasakannya. Kehilangan Ibu sama seperti kehilangan pegangan hidup apalagi diusia yang begitu muda. Apalagi jika Gibran memutuskan menikah lagi dan Pia mendapatkan seorang Ibu tiri yang hanya mencintai ayahnya. Memikirkannya saja membuat Nadia bergidik ngeri.
"Maafkan ibu ya Nak." Nadia mengecup kening Pia menyalurkan semua cinta yang ia punya untuk bayi itu.
Setelah memastikan Pia tidur, pelan-pelan ia membaringkannya di tengah kasur lalu mengambil guling sebagai penahannya. "Good night my Pia." Kecupan selamat malam ia berikan dikedua pipi gembul sang putri. Lalu kemudian ikut berbaring sambil menatap Pia yang terlelap. "Terima kasih sudah hadir dalam hidup Ibu dan Ayah."
.
.
Nadia terbangun dari tidurnya karena merasakan ranjangnya bergerak. Sejak memiliki Pia, ia memang lebih sensitif akan gerakan dan bunyi-bunyian karena sebagai Ibu yang memiliki bayi kecil, tidurnya tidak boleh terlalu lelap. Ia sering terbangun tengah malam untuk mengganti popok Navia dan tak jarang harus begadang sepanjang malam untuk menjaga Navia yang belum bisa membedakan siang dan malan. Barulah usia Pia memasuki enam bulan ia bisa menikmati tidurnya lebih nyaman terlebih karena Gibran banyak membantunya.
"Om?" Nadia mengucek matanya agar melihat lebih jelas sosok yang kini memeluknya erat.
"Saya bangunin kamu ya?" Gibran mencium pelipis Nadia sedang tangannya memeluk erat perut rampingnya.
Nadia menggeliat dan menghadap sang suami menyisakan jarak wajah mereka yang begitu dekat, "Katanya gak pulang." Ujar Nadia dengan suara serak. Tangan kirinya menyusup memeluk Gibran.
"Ada tim lain yang gantiin." Terang Gibran menyeruk menghirup aroma segar yang menguar dari rambut tebal sang istri. Nadia mengangkat sedikit wajahnya hingga bibirnya menempel dibibir Gibran.
Cup.
"Makasih udah rela-relain pulang ke rumah padahal bisa tidur di kantor."
"Hm." Gibran menggumam lalu merapatkan dekapannya merasakan hangat badan sang istri. Satu tangannya mengelus-elus punggung Nadia. Gibran tersenyum licik saat merasakan tangannya tak mendapat penghalang sama sekali dari kemeja miliknya di badan sang istri. "Nad tidak pakai dalaman?"
"Hm?"
Belum sempat Nadia mencerna ucapan Gibran, ia langsung terkesiap saat puncak dadanya disentuh ringan oleh ujung telunjuk Gibran. Bukan sentuhan yang intens namun berhasil membuatnya meremang.
"A-ada Pia." Cicit Nadia kala tangan Gibran kini masuk dalam kemejanya, menyentuh perutnya juga lekukan dibawah dadanya.
Gibran menurunkan wajahnya hingga bibirnya berjarak satu senti dengan bibir Nadia sampai-sampai Nadia bisa merasakan terpaan hangat nafas lelaki itu. Wangi hutan basah dan Nadia suka. "Kalau Nad tidak bersuara, Pia tidak akan bangun." Bisiknya seduktif. Lalu sejurus kemudian Nadia hanya bisa menutup mulutnya sendiri saat tiba-tiba tangan hangat Gibran menyentuh dadanya.
"Nghh Om--" Nadia menahan lenguhannya saat Gibran mulai nakal memainkannya.
"Shhhhtttt jangan ribut."
Gimana gue gak ribut bambankkk, lo nyentuhnya udah kayak nemu squyshi. Nadia membantin.
"Di sofa, okey?" Tawar Nadia sembari memegang pergelangan tangan laki-laki itu menahan kegilaannya. Bisa rusak perkembangan Pia kalau dipertontonkan adegan dewasa, ya walaupun bayi gembul ini tidak paham sih.
"Boleh?"
Nadia memutar bola mata jengah. Gimana gak boleh, situ udah on fire. Omelnya dalam hati. Yah sebenarnya Nadia senang juga, memangnya siapa yang bisa menolak kenikmatan?
"Om udah tegang gini, mau gimana lagi." Nadia jelas bisa merasakan bukti gairah lelaki itu. Kelebihan hormon laki-laki dan efek aktifitas fisik sepertinya berperan banyak dalam meningkatkan gairah Gibran. Apalagi diumurnya yang sekarang, laki-laki tengah dalam masa bersemangatnya. Nadia paham, sangat paham jadi-- ayoook aja.
"Tidak capek?"
Nadia sebenarnya merasa sedikit lelah tapi ia tidak tega harus membiarkan Gibran mengguyur kepalanya lagi dengan es batu tengah malam begini untuk meredam semangatnya.
"Sedikit tapi gak apa-apa."
"Yakin?"
Nadia mulai bete, yang mulai siapa, yang banyak nanya siapa. "Kalau gak ma--"
"Mau."
Nadia sampai terbengong dengan jawaban cepat Gibran. Laki-laki itu menatapnya berbinar tampak seperti anak kecil yang kesenangan akan diajak berlibur.
"Gendong." Nadia mengulurkan tangannya manja. Tanpa menunggu lama, Gibran mengangkat Nadia yang langsung melingkarkan kaki jenjangnya di pinggangnya.
Oke, satu malam yang panas untuk Om Gi tak kalah panaaas.
***
Panas ya sayyy...
Maklumin ya say, lelaki kebanyakan hormon.
Btw epribadiiiih oke nih ya, author emang rada nyebelin karena masih banyak cerita di works yang belum kelar tapi mau gimana lagi, author kepikiran buat cerita baru. Apalagi Nad Dan Om Gi udah mau tutup lapak jadi yah begitulaaah hihihi.
cek ombak dulu yuuuuk... Mau kenalin nih orang-orangnya.
Kenalin yok,
Galenka Ganendra Pramodya si manis yang jarang ngomong. Yah biasalah setipe dengan Om Gi yang untungnya dia gak ganas say terkecuali pada sang adik, gege. hum galaknya paraaaah ampe bikin si gege pen mati aja udaah.
Nah, Ini Gala Galenia Pramodya yang biasa di panggil gege adik perempuan satu-satunya si Galen. Anak baik-baik. Kesayangan guru-guru dan juga teman-temannya. Cita-citanya pengen jadi cowok biar disayang Mas galen.
😁