
Nadia menatap datar Lalita yang duduk di depannya dengan tatapan sengit. Kepalanya ia sandarkan di pundak Gibran yang tampak berbicara serius dengan Papa dan pengacara keluarga Lalita. Topik utamanya tentu saja mengenai masalah yang disebabkan Lalita yang sedang ditangani kepolisian. Pengacara Gaudia Group ternyata sudah melayangkan tuntutan balik pada Lalita dan itu sama sekali tidak menguntungkan bagi Lalita dan perusahaan keluarganya. Gaudia Group akan melakukan apapun untuk menjaga Nadia sebagai pemilik sah perusahaan raksasa itu.
"Kami sangat berharap masalah ini masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kami sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini." Papa Lalita berucap penuh sesal. Tentu saja selain tuntutan balik dari pihak Nadia, perusahaan mereka juga terancam bangkrut jika kehilangan kesempatan memenangkan proyek hotel Navia yang sudah hampir di genggaman tangan mereka. Tinggal dua pesaing lagi dan perusahaan mereka akan kembali bangkit. Sayang sekali putri semata wayangnya membuat masalah dengan orang yang salah, Bos Gaudia Group. Andai saja mereka tahu lebih awal bahwa orang yang mereka tuntut itu adalah Bos Gaudia, maka mereka bisa mencegah semua ini menjadi lebih buruk.
Gibran tersenyum datar, "Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi, kami akan menghadapinya sesuai hukum yang berlaku di negri ini."
Papa Lalita menunduk. Gibran memang bukan orang yang mudah diajak berbicara. Selain tidak banyak bicara, pemimpin sementara Gaudia ini juga selalu to the point. Keterusterangannya itulah yang membuat orang-orang tak memiliki celah untuk bernegosiasi. Gunawan tahu maksud Gibran menyindir mereka yang melaporkan Nadia atas tindakan kekerasan tanpa berpikir akibatnya bisa berbuntut panjang dengan pelaporan balik dari pihak terlapor. Dan sialnya ia hanya mempercayai omongan anaknya Lalita tanpa tahu kejadian sebenarnya. Sekarang mereka harus menerima balasannya karena ternyata mereka mencari masalah dengan pewaris tahta Gaudia Group. Siapa yang menyangka gadis b*doh dan kasar yang sering diceritakan oleh putrinya adalah penentu masa depan perusahaannya. B*doh sekali.
"Kami berniat baik, mengharap kerendahan hati dari Bapak dan Ibu agar mau memaafkan putri kami." Papa Lalita menoleh penuh harap pada Nadia yang tampak acuh tak acuh, "Sungguh kami sangat menyesalinya."
Nadia manggut-manggut. Menyeseli setelah bangkrut, boleh juga. Senyum sinis tersungging di wajah cantiknya. Papa Lalita dari tampangnya saja sudah terlihat seorang penjilat ulung, sayang sekali ia harus gagal karena menghadapi Omnya yang terkenal sulit untuk di goyahkan.
"Saya tidak melihat ada yang menyesal disini." Sindir Nadia pada Lalita yang bukannya datang untuk menyelesaikan masalah yang ada malah mengajaknya ribut. Lihat saja tatapan sengit itu. Hari ini mantannya orion itu tidak memakai kacamatanya dan Nadia akui kecantikan si cewek pintar itu memang luar biasa jika saja di barengi dengan kecantikan hatinya. Bahkan saat papanya sedang memohon-mohon pada Gibran dan dirinya sekarang, cewek di depannya ini masih juga bersikap angkuh. Tidak masalah, Nadia suka yang seperti ini.
Papa Lalita melirik pada putrinya dengan penuh peringatan. Lalita yang menyadari tatapan itu menghela nafas jengah. Dari gesturenya saja sudah jelas ia menolak ide 'menjilat' ini.
"Sorry." Ujarnya ogah-ogahan. Lalita bahkan tak mau repot-repot menatap Nadia yang memasang senyum miring.
"Saya tidak menerima permintaan maaf semacam ini." Ucap Nadia meluruskan punggungnya. Gibran yang duduk disampingnya hanya mengamati. Sepertinya suaminya itu membiarkannya memutuskan hal ini seorang diri.
"Terserah."
"Emang."
Nadia menatap Papa Lalita dengan kening terangkat satu. See? Kelakuan anak kesayangan anda tuan Gunawan.
"LALITA!" Tegur Gunawan tak habis pikir dengan sikap anaknya yang tidak mendengarkan arahannya. Padahal sebelum ke kediaman Nadia, dia sudah briefing mengenai apa yang harus Lalita lakukan. Intinya minta maaf dan menyesal. Pura-pura pun tak masalah asal bisa meyakinkan Nadia tapi anak manjanya ini malah bertindak sebaliknya.
Lalita memberenggut kesal, helaan nafasnya terdengar berat dah tentu saja sebal setengah mati. Mengemis pada si b*doh Nadia tak pernah masuk dalam bucket list nya. Astagaaaaa teman-temannya pasti akan meledeknya jika mengetahui hal ini.
"Gue minta maaf. Gue bener-bener nyesel udah ngomong kasar soal bonyok lo. Gu-gue gak sengaja."
Nadia mencibir, Gak sengaja? Cih!
"Gak. Gue gak mau maafin lo." Ujar Nadia santai. Ia tidak butuh maaf lalita karena ia tahu maaf yang terucap tidak benar-benar datang dari dalam hatinya.
"Tolong Bu Nadia. Maafkan anak saya." Papa Lalita menimpali. Ia tidak sabar lagi dengan semua ini. Lalita sama sekali tak menolong, "Apa yang harus kami lakukan agar Bu Nadia mau memaafkan anak saya? Saya siap melakukan apapun termasuk bersujud di---"
"PAH!" lalita memotong cepat. Tak suka mendengar omongan papanya yang begitu merendahkan dirinya, "Papah apa-apaan sih?Nad--" Suara Lalita bergetar, papanya mau bersujud pada si b*doh Nadia? "Gue minta maaf. Lo mau gue lakuin apa supaya bisa maafin gue dan menghentikan semua ini? Lo mau gue sujud nyium kaki lo? Kal--"
"Keren juga sih kayaknya. Tapi kaki gue gak sudi ditempelin sama bibir lo yang suka nyampah." Sela Nadia sama sekali tak tersentuh dengan permohonan maaf Lalita. Ia bisa melihat wajah kesal Lalita mendengar omongannya tapi bisa apa cewek pintar itu disituasi ini. Heh!
"Gue gak butuh maaf lo apalagi lo sembah sujud di kaki gue. Mending lo banyak-banyakin sujud sama Tuhan siapa tau aja kesombongan lo yang selangit itu bisa membumi dengan seringnya lo sujud. Gue cuma mau lo beresin semua kekacauan ini gimana pun caranya. Semakin cepat lo beresin, semakin cepat juga masalah ini kelar."
"Gue harus apa?" Tanya Lalita greget. Nadia benar-benar mempermainkannya.
Nadia mengedikkan bahu, "Gak tau. Lo kan pinter tuh, pikirin aja sendiri. Gue cuma mau terima beresnya aja." Jawab Nadia tersenyum super tipis. Ia melirik Gibran, ingin tahu reaksi laki-laki itu akan keputusannya, mungkin dia sudah keterlaluan atau bagaimana tapi saat melihat Gibran santai menikmati jus buatan bibik, Nadia tahu bahwa keputusannya sudah tepat.
***
Gibran menciumi rambut Nadia yang selalu lembut dan menyenangkan di indra penciumannya. Nadia merapatkan badannya yang tak berbusana pada Gibran yang sama-sama keadaannya dengan dia. Jam tiga subuh setelah menunaikan solat malam bersama keduanya melanjutkan ibadah yang tak kalah nikmat lainnya sembari menunggu solat subuh.
"Om, ini gak apa-apa gak pake pengaman? Kalau Pia punya adik gimana?" Nadia mengangkat kepalanya, menumpu kedua tangannya di dada tel*njang Gibran, tak menyadari efek dari kedua bisulnya yang menempel di kulit lelaki itu kembali mengaduk-ngaduk kewarasan Gibran yang imannya hanya setebal kulit bawang saat diatas ranjang bersamanya.
"Y-ya tidak apa-apa." Ucap Gibran sedikit kesulitan menahan dirinya. Nadia adalah godaan yang tak pernah bisa ia menangkan.
"Ish! Masa gak apa-apa. Nanti ngurusnya gimana? Om sih enak-enak aja, Nad nih yang repot harus ny*suin mana Om ikut-ikutan ambil jatah lagi." Nadia mengerucutkan bibirnya yang malah membuat Gibran gemas dan menempelkan bibirnya cepat.
"Saya suka, mau gimana lagi." Gibran terkekeh, mencubit pipi Nadia gemas. Tak akan pernah habis keinginannya untuk menyentuh Nadia, gadis manjanya ini terlalu sayang untuk dia lewatkan. Gibran cukup terkesan dengan kemampuannya menahan diri selama ini. Bayangkan saja melihat Nadia tumbuh dan berkembang dibawah pengawasannya. Tahu kali pertama menstru*si wanita muda dalam pelukannya ini bahkan ia juga orang yang pertama membelikan Nadia br* ketika Nadia tumbuh menjadi seorang remaja. Gibran masih ingat betul saat itu ia sedang libur dua minggu setelah tugas dari Aceh, pagi-pagi buta Nadia menyeruduk masuk ke kamarnya dengan tangis besar sembari memegangi piyamanya yang tak terkancing. Gibran sampai di buat bingung karena Nadia tak berhenti menangis dan setiap ia bertanya tangisnya makin besar. Sampai kemudian gadis kecil itu lelah dan mengutarakan kepanikannya.
Flashback On
"Om Giiii--hiks, Nad kanker-- huaaaaa"
Gibran yang bingung menjadi syok. Kanker? Kanker apa? Dokter keluarga tak mengatakan apa-apa padanya. Gibran masih menelaah betul kalimat Nadia kecil sebelum kemudian gadis itu merentangkan bajunya menunjukkan d*danya yang masih pucuk baru berkembang dihadapannya.
"Liat Om! Ininya Nad bengkak. Sakit---hiks. Nad bentar lagi mati ya Om? Hiksss Om Giiiii." Tangis pedih Nadia bukannya membuat Gibran terserang pilu, ia malah prihatin dan kasihan.
Gibran menipiskan bibirnya bingung, astaga, itu seharusnya wajar tapi Nadia yang tak memiliki Ibu yang bisa mengajarinya banyak hal bahwa perlahan seiring bertambahnya usia, bentuk badannya juga akan berubah.
"Nad, sudah, jangan menangis." Gibran mengusap rambut awut-awutan Nadia.
Nadia kecil menggeleng keras, "Gak bisaaaa. Nad mau nangis ajaaa--huaaa."
Grap!!!
"Kan-- Kalau disentuh gini sakit Ooooom-- Huaaaaaa!!!"
Gibran menarik tangannya pelan dari d*da Nadia. Gadis kecil itu dengan polosnya mengambil tangan kanan Gibran dan meletakkannya di d*danya yang mulai berkembang.
"Kayak bisul tapi gak ada matanya--hiks. Ini kan-kanker kan Om? Nad nyusul Bunda dan Ayah ya? Trus Om Gi sama siapa??" Nadia masih juga melanjutkan imajinasi liarnya. Sementara di sisi lain Gibran mulai kebingungan memikirkan cara bagaimana menjelaskan semuanya pada Nadia mengenai materi penting ini. Dan akhirnya setelah bertanya melalui mbah google si serba tahu, Gibran pagi itu juga pergi ke toko buku membeli buku-buku referensi mendidik anak remaja dan berikutnya mulai menjelaskan pada Nadia hal-hal penting lainnya termasuk bagian-bagian tubuhnya yang tidak boleh ditunjukan atau disentuh oleh orang lain.
Flashback Off.
"Om? Om kok ngelamun sih?" Sentak Nadia manyun.
Gibran yang terserat kenangan masa tersentak tak kentara belum lagi dengan posisi Nadia saat ini yang membuat ia kesulitan bernafas. Dengan santainya gadis cantiknya itu duduk diatas perutnya tentu saja tanpa sehelai pakaian. Hanya ada selimut mereka yang melerot sebatas pinggangnya yang tak membantu sama sekali.
"Gimana?" Tuntut Nadia yang sama sekali tak diketahui Gibran arah pembicaraannya.
"Gimana apanya?"
"Ish!"
Plak!
"Makanya kalau Nad ngomong di dengerin."
Gibran mengelus dadanya yang ditabok Nadia. Tatapannya jatuh menyusuri bibir, rambut awut-awutan, leher jenjang dan dua bisul yang tak bisa disebut bisul lagi sekarang yang terus-terusan menggodanya dengan hal-hal menyenangkan yang bisa ia lakukan pada keduanya. Jika dulu ia mengajari Nadia untuk tidak mengizinkan siapapun menyentuhnya, sekarang dirinya malah bisa lebih dari sekedar menyentuhnya.
"OM?"
"Hm?"
"Dengar." Suara Gibran terdengat berat dan serak.
Nadia menghebuskan nafas kasar, tatapannya menyipit pada Gibran yang tak bergeming. Kenapa lagi orang ini? Kurang puas apa gimana?
"Nad tuh nanya. Yang Nad lakuin tadi udah benar apa gimana?"
"Sudah benar." Jawab Gibran kalem. Nadia tak menyadari fokus Gibran sudah tidak pada obrolan mereka melainkan pada--
"Ya kali aja Nad kejam atau aphmppppph" Nadia terdorong kebelakang saat Gibran tiba-tiba bangun dan membungkam mulutnya dengan bibirnya. Ciumannya sama liarnya dengan yang pertama tadi. Nadia mengalungkan tangannya di leher Gibran memberi akses bebas pada laki-laki itu untuk kembali menyentuh setiap inci kulitnya.
"Eunghhhhh." Nadia tak bisa menahan lenguhannya saat bibir Gibran kini berpindah menangkup d*danya dengan mulut basahnya, menggigit, mengecup dan menc*cap tanpa menyisakan seinci pun salah satu area sensitif Nadia itu hingga menciptakan lenguhan-lenguhan tak tertahankan yang lolos dari bibir Nadia. Sejenak pikiran nakal terlintas di kepala Gibran, ternyata ada kegiatan yang menyenangkan yang bisa mereka lakukan bersama sambil menunggu beduk subuh di mesjid kompleks berbunyi.
"Eunghhh-- Oomhhh N-Nadhhh---"
"Shhhhhhhht!!! Diem, nanti Pia denger." Gibran menahan tangan Nadia diatas kepalanya.
Nadia menggelengkan kepala menahan rasa nikmat yang tak pernah gagal Gibran berikan hingga membuat ia menengadah ketika Gibran bergerak semakin cepat. Jutaan kupu-kupu yang selalu mendiami perutnya lagi-lagi berterbangan saat Gibran menghentak kuat. Kepala Nadia terkulai lemas setelah mendapatkan pelepasannya begitupun Gibran yang kini menyeruk, mengecup bahu polosnya berkali-kali.
"Terima kasih, sayang."
Nadia yang masih kelelahan mengangkat tangannya yang sudah dilepaskan oleh Gibran dan mengusap leher belakang Gibran yang berpeluh, "Untuk apa?"
"Terima kasih karena sudah tumbuh dan berkembang dengan sempurna."
"Hah?"
Gibran terkekeh pelan. Ia mengecup pipi Nadia gemas. Bahkan saat berpeluh pun Nadia tetap memiliki wangi yang menyenangkan, "Nope." Ucapnya, lagi dan lagi menghujani wajah Nadia dengan banyak kecupan ringan. Tidak sia-sia ia mengurusi Nadia sejak bayi. Pada akhirnya semua yang ada pada wanita muda dalam pelukannya ini adalah miliknya. Ah, ya, Wanita. Ia harus berlatih sekarang untuk tidak lagi menyebut Nadia sebagai gadis kecil karena nyatanya tidak ada gadis kecil yang bisa memberikan pengalaman luar biasa dalam kehidupan s*xnya sebagaimana yang Nadia selalu berikan padanya.
Tak berselang lama, suara tangis di kamar sebelah mulai terdengar. Pia sepertinya ada firasat kalau jatah sarapannya sudah dihabiskan oleh sang ayah.
Pia sayang, Pia malang.
***
Nadia meringis melihat warna keunguan di lehernya. Jejak-jejak Gibran di badannya ia samarkan dengan bedak tabur tapi masih juga nampak. Toilet kampus menjadi pilihannya untuk merapikan penampilannya. Ia sengaja menambahkan aksen syal dilehernya meskipun harus terlihat seperti orang yang buta fashion karena nyatanya tidak ada yang memakai syal di musim panas seperti dirinya sekarang.
"Nadia."
"Hm."
"Saya boleh titip absen?"
Nadia melirik Wati melalui cermin, tumben sekali cewek patuh aturan ini mau menitip absen.
"Mau kemana lo? Gue gak mau. Nambah-nambahin dosa gue aja lo." Tolak Nadia tanpa pikir panjang.
"Please, sekali ini saja. Bos saya sedang keluar kota. Perginya mendadak jadi saya yang diminta jaga toko. Kalau tidak ada yang jaga itu artinya saya tidak akan dapat gaji bulan ini. Kalau saya tidak gajian berarti saya tidak bisa mencukupi bayaran uang semester dan kalau--"
"Shhhhhht! Udah. Oke." Nadia menatap Wati sengit, "Berisik bangat."
Wati menyengir lebar, "Terima kasih Nadiaaaaaa."
"Eh! Jangan meluk-meluk!" Nadia melipir ke dinding menghindari Wati yang menghambur memeluknya, "Yang boleh meluk gue cuma Om Gi dan Pia. Lo gak boleh." ujarnya memperingatkan.
Wati mengangguk semangat, "Siap, Ibu kapten!"
"Dih!"
"Terima kasih ya Nadia baik. Saya pergi dulu. Bye!" Wati melambaikan tangan semangat meninggalkan Nadia yang masih menatap waspada padanya.
"Gue emang baik." Nadia tersenyum jumawa memandangi dirinya melalui cermin besar, "Duh, Om Gi pake nyosor lagi." Omelnya kembali sebal melihat keadaan lehernya. Sebenarnya dibagian d*danya tak lebih baik tapi karena spot itu tidak terlihat, Nadia tak perlu khawatir. Lain kali ia akan meminta Gibran mencari tempat lain kalau ingin meninggalkan jejak.
Drt... Drt... Drt...
"Ck, siapa sih? Ribut bangat." Nadia merogoh hp dalam tas kuliahnya dan melihat pesan masuk dalam grup kelasnya.
THE NEXT BILL GATES 🤑
Ketua tingkat : Kuliah pindah ke senayan. Titik kumpul gerbang kampus. Pakai Almamater.
Hanya pesan ketua tingkat yang Nadia baca karena pesan-pesan berikutnya hanya ada balasan-balasan dari mahasiswa lain yang sama sekali tidak penting untuk Nadia. By the way tentang Almamater, untung sekali ia sempat membaca pesan ketua tingkat pagi tadi. Meski malas, ia tetap membawa almamaternya. Kata Gibran Almamaternya tidak seberat bumi jadi bisalah dibawa-bawa.
Nadia menghela nafas pendek, "Tau gini gue ikut Om gi aja." Ia memasukan kembali hp dalam tasnya. Setelah mengecek penampilannya, Nadia keluar.
"NADIA!"
Nadia menoleh, keningnya mengerut melihat wajah sumringah tak biasa Orion berlari menghampirinya.
"Ada apa?"
"Lo ikut kan?"
"Ikut apa?"
Orion menunjuk ikat kepalanya yang bertuliskan, 'Rakyat Menggugat.'
"Apaan?" Nadia belum paham juga. Orion memang tampil beda hari ini--Ah sepertinya semua orang. Nadia melihat sekitarnya dimana semua orang mengenakan almamater sembari memegang beberapa kertas dengan berbagai tulisan dan coretan.
"Demo."
"HAH DEMO?????"
***
Gaeeeees maaf yeees lamaaaa... Author sekarang mulai kerja jd sesempatnya mengupload.
Selamat membaca. 😅
Maklumi heuredang heuredangnya Om Gi dan Nad. Pasangan halal emang gitu 👉👈
Oh ya, tungguin Nadia di senayan ya. Semoga aja gak kena marah Om Gi 🙈